aku seneng banget deh baca review, ada yang sampe buat akun ffn cuma buat review,
aku bakalan ceritain ke RedApple, pasti dia seneng banget ffnya banyak yang suka.
oke selamat menikmati chap ini ya
RnR
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
FOLLOW, FAV, REVIEW PLEASE
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chap 16
Kyungsoo membaringkan tubuhnya diatas kasur, badannya sedikit lelah namun ia merasa sedikit lebih baik sekarang. Jang Jaeyeol yang dikenalnya begitu baik karena bersedia menemaninya berkeliling beberapa tempat bagus di Daegu. Mereka juga beberapa hari ini sering makan bersama di restorannya atau di restoran lain atas usulan Jang Jaeyeol yang lebih mengenal Daegu. Kyungsoo merogoh saku blazernya dan mengeluarkan ponselnya. Saat menggeser layar datar untuk membuka locked screen wajah pria tampan yang sedang memejamkan matanya diatas kasur muncul sebagai wallpaper. Wajah Kim Jongin saat tertidur yang diambil secara diam-diam oleh Kyungsoo. Kyungsoo mengelus layar itu pelan, rasa rindu yang menyesakkan muncul kembali membuat matanya berkaca-kaca. Aku menyukaimu baby girl suara sexy yang begitu familiar terasa membisikinya kau yang pertama mendengarnya dariku, baby girl.
"Nappeun neo, jinja nappeun namja," Kyungsoo terisak memeluk ponselnya, menaruh layar itu di dadanya. "Bogosieppo…oppa,"
Fall Fall Fall, scattering apart
Fall Fall Fall, falling
Because of you, I'm becoming ruined
I wanna stop, I don't want you anymore
I can't do it, this sucks
Please don't give me any excuses
You can't do this to me
"Bagaimana ini baby," Kyungsoo berbaring menyamping, menekuk kakinya persis seperti janin didalam rahim. Ia memeluk perutnya erat dengan air mata yang telah menetes. Ia begitu merindukan Jongin hingga rasanya begitu sesak. Tapi Jongin bahkan tidak menghubunginya setelah pesan yang ia kirim sebelum mereka berpisah. Kyungsoo sudah terisak, inilah yang ia benci ketika ia hanya sendiri. Maka pikirannya akan membawa dirinya pada setiap masa yang telah dihabiskan bersama Jongin. Membuatnya mengingat segala hal telah mereka bagi bersama.
All of the things you said are like a mask
It hides the truth and rips me apart
It pierces me, I'm going crazy, I hate this
Take it all away, I hate you
But you're my everything
Kyungsoo merasakan getaran didadanya dimana ponselnya ia dekap dengan begitu erat. Tanpa menghapus air matanya Kyungsoo memandang layar ponsel yang menunjukkan sebuah pesan masuk dari Heechul. Kyungsoopun membuka pesan tersebut dan membacanya.
From : Heechul oppa
Jika kau marah pada Jongin jangan acuhkan oppa T.T
Kau dimana? Bagaimana keadaanmu Kyungie?...
Kyungsoo menghapus sisa air matanya, ia rasa ia tidak perlu mengabaikan Heechul terus-menerus hanya karena ia memiliki hubungan dengan Jongin. Kyungsoo hanya belum siap Heechul bertanya ini dan itu. Ia khawatir apakah Jongin bercerita tentang kehamilannya pada Heechul. Maka msekipun sedikit ragu, Kyungsoo membalas pesan Heechul.
To : Heechul oppa
Aku baik-baik saja oppa
Tidak perlu mengkhawatirkanku ^^
Kyungsoo menambahkan ikon smile meskipun pada kenyataannya saat ini ia sulit untuk tersenyum. Namun ia perlu meyakinkan Heechul kalau ia baik-baik saja.
From : Heechul oppa
OHMYGOD akhirnya kau membalas pesan oppa
Kau tahu oppa sudah salah meracik minuman sedari tadi
Hanya karena kau mengabaikan oppa
Kau benar baik-baik saja?...
Kyungsoo tersenyum membaca isi pesan Heechul yang sarat akan kelegaan karena akhirnya Kyungsoo berhenti mengacuhkannya.
To : Heechul oppa
Aku tidak punya alasan untuk tidak baik-baik saja oppa
Masalahku dan Jongin-ssi tidak perlu diambil pusing ^^
Kyungsoo agak kaget karena Heechul membalas dengan sangat cepat setelah ia membalas pesannya barusan.
From : Heechul oppa
Apa maksudmu dengan 'Masalahku dan Jongin-ssi tidak perlu diambil pusing'
Dan apa-apaan itu ikon smile, oppa tahu kau sedang sedih dan kecewa pada si Kim-Shit-Jongin
Dengarkan oppa, kau tidak sendirian Kyungie, kau memiliki oppa
Kandunganmu….baik-baik saja?
Kyungsoo sukses menitikkan air mata kembali saat ia membaca pertanyaan terakhir Heechul. Ia tidak berharap Heechul mengetahuinya. Setidaknya ia tidak ingin Heechul mengasihaninya. Ia tidak ingin siapapun mengasihaninya saat ini. Kyungsoo tidak membalas pesan tersebut. Dan kamar itu kembali terisi oleh suara isakan Kyungsoo. Apa yang harus aku lakukan batinnya bagaimana aku menghadapi keluarga Chanyeol setelah ini, bagaimana ini baby?... Kyungsoo mengelus perutnya. Ibu membutuhkan ayahmu…tapi ia bahkan tidak menginginkan kita….
"Aku membencimu oppa…aku membencimu…." tapi kau juga mencintainya suara didalam kepalanya menyela. Kyungsoo menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku membencimu…aku membencimu Kim Jongin…" lirihnya.
.
.
Choi Minho telah menyiapkan reservasi disebuah hotel yang letaknya tidak jauh dari Daegu Inn milik Choi Siwon. Tempat dimana kini Kyungsoo berada. Maka setelah mendarat di Korea Minho pun segera membawa Jongin dan Krystal ke hotel tersebut.
"Kau bisa kembali ke kamarmu Minho, kita bertemu besok pagi di restoran," Minho mengangguk dan membungkuk sopan. Jongin menatap Krystal yang masih berdiri dihadapannya memegang erat kopernya. Jongin menepuk bahunya lembut menenangkan. "Semuanya akan baik-baik saja, percayalah Krystal-ah jika kau tidak bicara padanya maka masalah diantara kalian tidak akan selesai," Krystal menghela nafas pelan.
"Aku tahu," lirihnya. Jongin mengusuk puncak kepala Krystal.
"Masuklah ke kamarmu dan beristirahat, perjalanan 8 jam bukanlah waktu yang singkat dan kau pasti lelah,"
"Ya, terima kasih Jongin-ah."
"Sampai bertemu besok pagi," Krystal mengangguk dan berbalik menuju kamarnya tepat disamping kamar Jongin. Jongin tidak membawa banyak perbekalan pakaian. Ia tidak bisa berfikir dengan benar. Yang ia ingat hanyalah ia harus membawa dompet, handphone, paspor dan juga ipadnya. Selebihnya ia hanya ingat memasukkan pakaian dalam, kaos, dan dua buah kemeja entah itu cukup atau tidak untuknya selama berada disini. Tapi itu tidak penting, karena yang lebih penting adalah bertemu dengan Kyungsoo secepatnya dan menyelesaikan segala permasalahan serta kekacauan yang telah ia perbuat. Jongin mengusap layar ponselnya dan tersenyum pada sosok cantik nan imut didalam layar ponsel tersebut. "Kuharap…kau masih menyisihkan waktumu untuk menungguku datang baby… kau dan bayi kita," ya, bayinya dan Kyungsoo, bayi mereka. Setelah berhari-hari dilema dan galau akhirnya ia bisa tersenyum begitu mengingat tentang kehamilan Kyungsoo. Namun Jongin harus bersiap untuk menghadapi hari esok, bersiap bertemu dengan gadisnya. Karena terkadang kenyataan bisa saja tak sesuai dengan harapan.
.
.
Choi Siwon sama sekali tidak memiliki firasat apapun pagi itu ketika menjejakkan kakinya di Daegu Inn. Ia bermaksud untuk mengunjungi Kyungsoo pagi ini dan mengajaknya sarapan bersama. Sambil melangkahkan kaki kedalam gedung Daegu Inn ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan seseorang yang ia perhatikan sering mengikuti kemanapun ia dan Kyungsoo pergi. Ia menyeringai karena akhirnya Kim Jongin menyadari pendekatan yang dilakukannya pada Do Kyungsoo.
"Sajangnim," langkahnya terhenti saat ia sampai di lobi dan menoleh kearah resepsionis yang membungkuk sopan padanya.
"Ada apa Gaeun-ssi?"
"Ada tamu yang menunggu sajangnim," Choi Siwon menaikkan alisnya. Seingatnya ia tidak memiliki janji dengan siapapun, ia bahkan tidak memberitahukan siapapun kalau ia akan datang pagi ini kemari. Meskipun hal ini sudah mejadi rutinitasnya belakangan ini. Bolak-balik Seoul-Daegu hanya untuk menemui gadis Kim Jongin. Demi melancarkan misinya mendekati Do Kyungsoo hingga sosok bodyguard yang selalu mengawasi Kyungsoo diam-diam itu muncul.
"Tamu, tapi aku…"
"Choi Siwon-ssi!" sebuah suara yang asing membuat Choi Siwon menoleh dan mendapati sosok Kim Jongin berdiri hanya berjarak beberapa meter darinya. Jongin tersenyum ramah namun penuh ancaman. Choi Siwon sempat terkejut namun ia balas menyeringai sambil menegakkan dagunya. Ternyata umpannya termakan oleh Kim Jongin. Namun seriangaiannya menghilang saat seorang wanita yang sangat dikenalinya muncul dari belakang tubuh Jongin.
"Krystal!" gumamnya. Krystal memandangnya dengan tatapan penuh antisipasi, menunggu apa yang akan dikatakan atau dilakukan Choi Siwon. Namun Jongin melangkah lebih dulu kearahnya diikuti oleh Krystal dibelakangnya.
"Long time no see," ucap Jongin. "Kau punya waktu untuk berbincang denganku, cuaca pagi ini sangat cerah untuk dinikmati bersama sambil menikmati secangkir kopi," Choi Siwon tidak menjawab, ia mengalihkan pandangannya pada Krystal yang justru mengalihkan pandangannya tidak mau menatapnya.
.
.
Kim Jongin, Choi Siwon dan Jung Krystal kini tengah duduk bersama tanpa saling berbicara karena pelayan kini tengah menaruh pesanan mereka diatas meja. Jongin mengucapkan terima kasih pada pelayan sebagai sopan santun. Ia meraih cangkirnya dan menyeruput kopi dengan gayanya yang elegan. Mengintip dari balik cangkir berukuran sedang itu bagaimana Choi Siwon memberikan tatapan yang begitu intens pada Krystal dan Krystal yang mencoba menghindari tatapan itu.
"Ehem!" Jongin berdehem sambil menaruh cangkir diatas tatakan dan duduk tegap namun menyilangkan kakinya dengan gaya yang begitu maskulin khas Kim Jongin.
"Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Choi Siwon masih mencoba bersikap ramah meskipun saat ini ia memiliki begitu banyak pertanyaan dikepalanya bagaimana Krystal bisa lepas dari pengawasan Lee kwangsoo dan berakhir di Seoul.
"Pada siapa kau bertanya lebih tepatnya?" tanya Jongin. Choi Siwon akhirnya mengalihkan pandangannya pada Jongin.
"Kau dan juga kekasihku," tekannya pada kata 'kekasihku'.
"Aku datang untuk menjemput gadisku," jawab Jongin tenang. "Gadis yang sering kau dekati belakangan ini," Choi Siwon mendengus. Ia memasang seringaian menyebalkan sambil bersedekap.
"Bagaimana rasanya melihat gadis milikmu didekati oleh lelaki lain?" Jongin balas mendengus.
"Aku memberi peringatan padamu Choi Siwon-ssi," jawabnya tenang namun penuh ancaman. "Jangan pernah mendekati milikku,"
"Aku akan mengatakan hal yang sama padamu," kali ini Jongin yang memasang seringaian menyebalkan dan mengedikkan bahunya remeh.
"Kau mungkin telah mencari tahu tentang masa laluku dan Krystal kekasihmu, namun kutegaskan kepadamu bahwa hubungan yang terjalin diantara aku dan Krystal hanyalah pertemanan dan rekan kerja," ujarnya menegaskan. "Aku tidak memiliki ketertarikan apapun lagi pada Krystal melebihi dari itu maka kutekankan padamu jangan mendekati gadisku hanya karena kau berfikir aku mendekati wanitamu Choi Siwon-ssi!" Krystal memejamkan matanya pelan. Ia telah salah langkah dan egois dengan membawa Jongin kedalam masalahnya. Jongin benar, ia seharusnya membicarakan semuanya pada Choi Siwon bukannya menjadi Jongin tameng. Jongin mengalihkan tatapannya pada Krystal, memberikan senyuman penyemangat.
"Selesaikanlah masalah diantara kalian berdua karena aku juga harus menyelesaikan masalahku sendiri," Jongin bangkit dari kursinya. Menepuk bahu Krystal lembut sebagai penyemangat lalu berjalan meninggalkan sepasang kekasih yang tampak menjadi canggung satu sama lainnya.
.
.
Kim Jongin berdiri didepan pintu kamar dimana gadis yang sangat ingin ia temui saat ini berada. Ia telah menanyakan keberadaan kamar inap Kyungsoo lewat resepsionis sebelumnya. Jongin bahkan dengan sekenanya mengatakan bahwa ia diberikan izin oleh Choi Siwon untuk memakai master card untuk memasuki kamar itu. Seorang pegawai menemani Jongin dan membukakan pintu menggunakan master card.
"Terima kasih," ucap Jongin padanya. Jongin menghembuskan nafasnya pelan, jantungnya berdetak kencang. Rasanya sudah sangat lama ia tidak melihat Kyungsoo meskipun sebenarnya barulah hitungan hari. Namun saat ini rasa rindu dihatinya begitu membuncah dan siap untuk diluapkan. Jongin melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang terlihat gelap karena sepertinya lampu tidak dinyalakan. Jongin meraba dinding untuk menemukan saklar. Dan ia menemukannya.
Klikk ! begitu saklar dinyalakan ia mencoba membiasakan matanya dengan cahaya yang berbondong-bondong memasuki celah retina mata. Jongin menyipitkan mata untuk memandang sosok bertubuh mungil yang meringkuk diatas kasur persis seperti janin. Langkahnya terasa berat dengan jantung yang berdetak kencang sejak tadi. Wajah gadis yang begitu ia rindukan itu tertutupi oleh rambutnya hingga ia tidak bisa memandangnya. Jongin berlutut dilantai dengan tangan menapak pelan diatas kasur. Tangannya perlahan mendekat menyentuh helaian rambut yang menutupi wajah gadis yang begitu ia rindukan itu.
"Eungh!" Kyungsoo sedikit gelisah merasakan sentuhan diwajahnya saat Jongin mengelus lembut pipi kenyalnya. Namun Jongin bisa merasakan kesat bekas air mata menodai pipi putih itu. Matanya seketika meredup. Kyungsoo menangis, apa ia menangisinya, menangisi segala perbuatan buruknya selama ini. Jongin bangkit dan menaiki tempat tidur pelan-pelan dan membaringkan tubuhnya disamping Kyungsoo yang tertidur menyamping.
"Baby girl," bisiknya lembut sambil mengelus pipi Kyungsoo, merasakan jejak air mata yang membuatnya semakin merasa bersalah. Kyungsoo menggeliat kecil dan beringsut mendekat kedada Jongin. Jongin terkejut namun ia tersenyum dan menarik Kyungsoo mendekat. Ia merasa hatinya bergetar mendapati Kyungsoo mengenalinya bahkan didalam tidurnya.
"Oppa~" lirih Kyungsoo, jemarinya mencengkram kemeja Jongin. "Oppa~"
"Ya sayang, ini oppa," tubuh mungil itu masuk kedalam pelukan Jongin. Ia mengecupi puncak kepala Kyungsoo dengan lembut.
"Oppa, bogosieppo," Jongin mengeratkan pelukannya dengan perasaan hangat luar biasa. Ia rasanya bisa menitikkan air matanya kapan saja. Betapa gadis mungilnya ini memiliki perasaan yang begitu besar padanya. Dan ia telah bodoh menyia-nyiakannya begitu saja. Jongin terkejut saat mendengar isakan Kyungsoo. "Bogosieppo…bogosieppo…"
"Oppa disini sayang, ayo buka matamu dan lihatlah oppa disini," Jongin menunduk, mendaratkan kecupan lembut pada kedua mata Kyungsoo yang mengeluarkan air mata. Kyungsoo terkejut, badannya menegang, bahkan disaat ia berada dialam bawah sadarnya ia mengenali bagaimana sentuhan dan ciuman milik Jongin. Kyungsoo mengeratkan rematannya pada kemeja Jongin. Hidungnya berada tepat didagu Jongin dan ia bisa mencium aroma aftershave yang biasa dipakai Jongin. Ia takut, gelisah namun berharap bahwa ini bukanlah mimpi. Dengan rematan yang semakin kencang pada kemeja Jongin yang kini sudah berubah menjadi kusut Kyungsoo perlahan membuka kedua matanya yang terasa basah dan perih. Samar sekali ia mencium aroma tubuh yang familiar dan begitu ia rindukan, dan matanya menangkap kemeja berwarna navy yang juga tidak asing oleh pandangannya. Tangan Kyungsoo melepas rematannya dan perlahan menyentuh dagu Jongin dengan takut-takut seakan jika ia menyentuhnya maka seketika sosok itu akan menghilang. Matanya bergerak pada bibir apel yang selalu bisa membuatnya lemas jika bibir itu melumat bibirnya dan menciumnya begitu mesra. Mata bulat yang basah itu mengerjap-ngerjap pelan saat kini pandanganya bersirobok dengan mata lelaki tampan yang begitu ia rindukan. Yang namanya ia sebut didalam tangis rindunya.
"Op..pa," lirihnya. Bibir Jongin mendekat pada bibir mungil Kyungsoo dan berbisik mesra membuat bulu kuduk Kyungsoo merinding.
"Nado bogosieppo," sebuah lumatan menutup ucapan rindu Kyungsoo yang tersampaikan.
.
.
It goes round & round, why do I keep coming back
I go down & down, at this point, I'm just a fool
Whatever I do, I can't help it
It's definitely my heart, my feelings but why don't they listen to me
I'm just talking to myself again, talking to myself again
Choi Siwon memandangi wanita cantik yang selama setahun ini telah menjadi kekasihnya itu dengan seksama. Matanya menatap bibir yang tengah bicara dengan suara yang pelan mengungkapkan apa yang selama ini rasakan. Apa yang selalu ia pendam sendiri. Ia merasa dunianya berhenti dan seakan ada yang menekan tombol muting untuk menghentikan suara disekitar mereka dan hanya suara Krystallah yang bisa ia dengar.
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita oppa," ucap Krystal pelan, pandangannya yang sedari ditundukkan perlahan berani menatap mata Choi Siwon. "Aku mencoba untuk memahamimu, memaklumi sikapmu padaku tetapi aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku bukan wanita yang tepat untukmu oppa, maafkan aku," tanpa sadar Krystal menitikkan air matanya. Jangan fikir ia tidak sedih ketika memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dan Choi Siwon. Selama ini ia mencoba bertahan dengan sikap posesif Choi Siwon namun Choi Siwon tidak mencoba sebaliknya, mengerti apa yang Krystal inginkan. Dan Krystal sudah merasa cukup dengan semua perasaan lelah yang ia pendam itu. Ia tidak ingin mereka saling menyakiti satu sama lainnya lebih jauh lagi. Maka sebaiknya diakhiri selagi mereka belum melangkah terlalu jauh.
"Krystal-ah.."
"Ini juga tidak mudah untukku oppa, tapi kumohon kali ini saja, jebal," mata itu kembali menitikkan air matanya. "Cobalah mengerti perasaanku, jika kita meneruskannya dengan sikapmu yang seperti ini maka kita akan menyakiti satu sama lain. Aku tidak bisa bertahan lebih dari ini, maafkan aku oppa," Krystal melepaskan sebuah cincin dijari manisnya. Itu bukan cincin pertunangan melainkan cincin perayaan hari jadi mereka yang ke 100. Dan Krystal tidak bisa menyimpan itu lagi setelah hubungan mereka berakhir.
"Krystal-ah, kau…" Krystal menggeleng memohon agar Choi Siwon tidak memulai lagi dengan segala argumentasinya.
"Terima kasih untuk segalanya oppa, maafkan aku," ia menggeser cincin tersebut kearah Choi Siwon diatas meja. "Aku bukan wanita yang tepat untukmu," setelah berkata begitu Krystal menghapus air matanya dan beranjak dari kursinya meninggalkan Choi Siwon yang terdiam, terpaku pada cincin yang bergeming diatas meja.
I need you girl
Why am I in love alone, why am I hurting alone
I need you girl
Why do I keep needing you when I know I'll get hurt?
.
.
Kyungsoo nyaris tidak bisa bernafas ketika menyadari sosok yang kini tengah memeluk dan mencium bibirnya begitu lembut adalah Kim Jongin. Pria yang begitu ia cintai, begitu ia rindukan. Namun Kyungsoo merasa ada yang salah disini, kenapa Jongin ada disini.
"Hmp…lep..pash.." Kyungsoo memberontak mencoba melepaskan diri dari ciuman dan pelukan Jongin begitu menyadari keberadaan pria yang membuatnya begitu menderita rindu dan sakit hati selama beberapa hari ini.
"Baby, ini aku, hei…".
"Lepas, menjauh dariku, pergi," Jongin tersentak ketika Kyungsoo mendorongnya menjauh dengan kalimat usiran yang membuatnya tercengang.
"Baby, ini aku…".
"Karena itu kau maka menjauh dariku," Kyungsoo memeluk dirinya sendiri, mencoba melindungi dirinya dari Jongin. Ia tidak ingin terlihat lemah akan siksaan sensual Jongin terhadapnya. Kyungsoo merinding mengingat bagaimana sentuhan Jongin ditubuhnya dan juga ciumannya dibibirnya yang masih terasa basah. Demi tuhan ia merindukan itu namun ia tidak akan menyerahkan dirinya pada Jongin setelah apa yang Jongin lakukan padanya. Jongin berlutut diatas kasur mencoba perlahan mendekati Kyungsoo. "Tetap ditempatmu tuan Kim, jangan berani mendekat!" pekiknya kalap membuat Jongin merasa dirinya begitu buruk hingga Kyungsoo yang selalu berlaku manis menjadi takut berdekatan dengannya.
"Baby, jangan begini, aku…"
"Aku bukan babymu, kita tidak lagi terikat kontrak," Kyungsoo menggelengkan kepalanya masih memeluk dirinya sendiri. Jongin tidak akan membiarkan ini, maka ia mendekat kearah Kyungsoo dan menariknya kedalam pelukannya tidak peduli Kyungsoo memberontak. "Lepaskan aku, jangan menyentuhku, lepaskan, lep…psh..kan.." suara Kyungsoo teredam didada Jongin saking eratnya Jongin memeluknya.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan pernah Do Kyungsoo, tidak akan pernah," jawabnya tegas namun ia mengecupi puncak kepala Kyungsoo dan mengelus punggung Kyungsoo lembut karena perlahan Kyungsoo menghentikan gerakan memberontaknya. "Kau harus mendengarkan aku baby, ada banyal hal yang…harus kujelaskan padam..mu," Jongin merasa perutnya bergejolak. Dan itu membuat Kyungsoo juga turut merasakan Jongin yang bergerak tidak nyaman dan melepas pelukannya secara tiba-tiba lalu berlari menuju ke kamar mandi. Kyungsoo masih terdiam ditempatnya, bingung dengan perubahan sikap Jongin itu. Ada apa dengan Jongin, itulah pikirnya. Hingga ia mendengar suara Jongin yang tengah muntah didalam kamar mandi. Semarah apapun ia pada Jongin namun kakinya membawa ia bergerak kearah kamar mandi dan berdiri didepan pintu. Menatap punggung Jongin yang membungkuk diatas wastafel.
"Huekk… hkk..huekk!" Kyungsoo menggigit bibir berbentuk hatinya bingung, haruskah ia menghampiri Jongin. Suara air keran terdengar, Jongin membersihkan bibirnya dengan air. Memandang pantulan wajahnya dicermin yang dalam sekejap berubah menjadi pucat. Ia berbalik dan mendapati Kyungsoo didepan pintu memandangnya dengan was-was. Jongin tersenyum dan berjalan mendekatinya. Membawa tubuh lemasnya bersandar pada tubuh Kyungsoo dalam sebuah pelukan. Ia memeluk Kyungsoo dan membawanya berjalan mundur keluar dari kamar mandi. Kyungsoo tidak berontak kali ini. Ia membiarkana Jongin memeluknya dan mendudukkannya dipinggir kasur. Namun Jongin berpindah duduk bersila dilantai dengan kepala direbahkan dipaha Kyungsoo. Ia menarik Kyungsoo mendekat hingga perut Kyungsoo menyentuh hidungnya. Jongin memeluk pinggang Kyungsoo erat dan memberikan kecupan-kecupan lembut pada perut yang tertutupi oleh t-shirt Kyungsoo itu dengan gemas. Kyungsoo menutup mulutnya dengan tangan. Terkejut dan merasa terharu karena Jongin tengah menciumi perutnya, dimana janin yang ia kandung berada. Jongin menggesekkan hidungnya pada perut Kyungsoo membuat simungil merasa geli. Jongin merebahkan kepalanya diatas paha Kyungsoo dan mengusap-ngusap pipinya disana. Mengecupi paha yang berbalut hotpants itu dengan mesra seakan-akan ia memuja Kyungsoo dengan sepenuh hatinya.
"Aku begitu bodoh," ucapnya sambil menatap perut Kyungsoo. Ia mengelus lembut perut itu dengan tangannya. "Apa yang salah dengan memiliki anak dari gadis yang kucintai?" Jongin mendongak dengan pandangan sendu penuh rasa menyesal pada Kyungsoo. Mata itu berkaca-kaca, membuat Kyungsoo tak kuasa untuk menahan tangannya dan mengelus puncak kepala Jongin.
"Aku selalu terpaku pada masa lalu percintaanku yang buruk tanpa menghiraukan perasaanku sendiri terhadapmu," ujarnya. " Perasaan khawatir dipermainkan dan dimanipulasi membutakanku takut hingga aku menyakitimu begitu dalam, menyakiti calon bayi kita," Kyungsoo sukses menitikkan air mata saat Jongin menyebut 'calon bayi kita'.
"Aku seharusnya menjadi pria yang paling berbahagia karena memiliki gadis yang melimpahiku dengan kasih sayang dan cinta yang begitu besar dan tulus sepertimu, tetapi aku justru mengacaukan keadaan dan membiarkan kau pergi begitu saja meninggalkanku," ujarnya. "Seharusnya aku mengejarmu, mencarimu dan membawamu kembali kepelukanku. Namun aku terlalu arogan dan egois hingga tanpa kusadari itu juga menyakiti diriku sendiri," Jongin mencium telapak tangan Kyungsoo yang menangkup pipinya. Ia tidak sadar sejak kapan air matanya luruh dan Kyungsoo menghapusnya lembut dengan jemari lentiknya.
"Aniya oppa…" Jongin menggeleng. Ia menghujamkan kecupan-kecupan manis ditelapak tangan Kyungsoo lalu membawanya kedalam genggamannya dan menempatkannya didadanya. Jongin menunduk dengan menggenggam tangan Kyungsoo didadanya.
"Maafkan aku baby, aku mencintaimu, maafkan kebodohanku," Kyungsoo menunduk dan menjatuhkan kecupaan dalam dipuncak kepala Jongin. Kyungsoo memerosotkan tubuhnya hingga ia juga berada dilantai. Kyungsoo melingkarkan kedua kakinya dipinggang Jongin dan melepaskan tangannya dari genggaman Jongin. Ia menangkup pipi lelaki yang begitu ia cintai itu.
"Nado Saranghae, oppa," bibir berbentuk hati milik Kyungsoo mengecup bibir Jongin dengan lembut, mengeratkan lingkaran kakinya pada pinggang Jongin hingga kini ia berada diatas pangkuan lelaki yang turut melingkarkan kedua tangananya memeluk tubuh mungil itu. Jongin memiringkan kepalanya, melumat bibir bawah Kyungsoo sementara Kyungsoo melumat bibir atasnya. Kyungsoo meremat rambut belakang Jongin. Jongin menjulurkan lidahnya menjilat bibir bawah Kyungsoo saat simungil melepaskan bibir mereka perlahan untuk mengirup oksigen. Kyungsoo melenguh dan mencengkran bahu Jongin lembut. Mata mereka bertatapan dan senyuman perlahan muncul disudut-sudut bibir yang memerah dan basah.
"Aku berjanji tidak akan pernah membiarkanmu pergi, maka jangan pernah mengatakan selama tinggal lagi baby girl," ujarnya lembut. " I need you baby girl, you complete me," Kyungsoo mengangguk dengan senyuman cantiknya yang begitu menggemaskan. Ia menyenderkan kepalanya dibahu Jongin, mengecup lembut leher Jongin.
"Jangan pernah melepaskan aku lagi oppa," bisiknya lembut dan malu-malu. Jongin memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah Kyungsoo saking gemasnya.
"Never."
End ?...
apa ini end aja ya sampe sini? gimana menurut reader,
aku rada bingung di chap depan penjabaran anak mereka dan lain lain, aku minta masukan dan semangat dong
hehehehe
huuuuuu nyebelin, udah ke sekolah tapi 12154kaisoo gak dateng, nyebelin,
males jadinya buat besok sekolah terus ketemu dia.
do'ain ya besok bagi rapot semoga hasilnya memuaskan,
sama seneng banget deh banyak banget moment chanbaek, ya walaupun ini ff Kaisoo tapi tetep aku Chanbaek Shipper
oh ya aku mau beli buku exo salah gaul doain ya, cepet dikirim hehehehe
oke deh sekian dulu cuap cuapnya
pay pay ;)
