silahkan baca Chap ini ya,
sebenernya aku masih kesel sama ****, kan ini ff aku remake buat dia, tapi mau gimana ya masa aku ngeberhentiin ini gitu aja, kan gak mungkin ya.
jadi karena aku sangat sayang sama readers semua aku publis ini sekarang hehehehehe.
RnR
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
FOLLOW, FAV AND REVIEW PLEASE
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NO BASH
.
.
.
.
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
Dihari Minggu yang cerah Jongin mengadakan acara berkumpul keluarga, mungkin tidak disertai dengan kedua keluarga besar mereka. Tapi kehadiran Nichkhun dan Tiffany yang telah resmi menikah, juga Heechul yang selalu cerewet dan protektif pada istrinya Kyungsoo, Krystal yang tidak lagi menjadi objek cemburu Kyungsoo namun berbalik menjadi sosok kakak bagi Kyungsoo, tak lupa juga Chanyeol yang sedang dalam kunjungannya ke Manhattan dan kali ini ia menginap dirumah Jongin karena Kyungsoo memaksa. Hal yang membuat Jongin kesal adalah Kyungsoo sangat senang menempeli Chanyeol.
"Sayang, berhentilah menempeli lelaki lain disaat suamimu ada didekatmu," Jongin menarik lembut tubuh Kyungsoo agar mendekat padanya. Dan mengajak ia duduk di kursi.
"Kenapa, aku kan merindukan Chanyeol, oppaaaaaaaaa lagipula aku suka melihat Chanyeol dengan rambut barunya," Chanyeol cengegesan sedang Jongin mendengus. Chanyeol mengganti warna rambutnya menjadi warna silver. Menurut Kyungsoo itu keren seperti tokoh-tokoh manga namun menurut Jongin itu menggelikan dan aneh.
"Selera anak muda memang aneh-aneh ya," komen Krystal. Sore itu mereka mengadakan pesta barbeque, Jongin, Nichkhun dan Heechul tampak asyik memanggang sementara para wanita menyiapkan cemilan buah. Kyungsoo ingin turut membantu namun kebiasaan barunya jika sudah duduk maka ia malas berdiri.
"Chanyeol akan mengikuti kompetisi Rap di New York jadi dia sengaja mengganti warna rambutnya agar terlihat lebih keren," ujar Kyungsoo.
"Benar-benar anak muda, kau tahu berada diantara Kyungsoo dan Chanyeol membuatku seperti sudah sangat tua," gerutu Krystal sambil membuang daun strawberry dan menyodorkannya pada si ibu hamil.
"Gomawo eonni," ucap Kyungsoo dan Krystal tersenyum.
"Kau benar, padahal rentang usia diantara kita hanya 6 tahunan," timpal Jongin.
"Tetap saja ada perbedaankan, enam tahun itu rentang yang cukup besar," sahut Chanyeol sambil mencomot daging diatas panggangan.
"Makanya, kau harus sepertiku," sahut Heechul. "Memilih pekerjaan dengan tingkat stress yang tidak terlalu tinggi dan juga memiliki pergaulan luas tidak hanya mencakup pada orang berdasi namun juga yang memakai snapback,"
"Majayeo hyung," Chanyeol dan Heechul saling toss dan dihadiahi lengosan oleh Jongin. Krystal bangkit dari duduknya dan menghampiri panggangan. Memeriksa apakan mereka memanggang daging dengan benar karena terakhir kali Chanyeol ikut berpartisipasi diacara barbeque tiga bulan lalu ia menggosongkan hampir setengah kilo daging.
Pukk..pukk..pukk
"Kemampuanmu memanggang daging sudah lebih baik adeul-ah," ledek Kyungsoo sambil menepuk bahu Chanyeol.
"Isshh tentu saja eomma," Chanyeol membalas membuat perempatan siku-siku muncul dikepala Krystal. Tanpa segan Krystal mencubit pinggang Chanyeol. "Akk yak eomma, sakittt, Kyungsooieee eomma mencubitku," kadunya.
"Yakk kenapa mengadu pada istri orang hahh!" seru Jongin. Kyungsoo menoleh sambil mengunyah anggur kali ini.
"Makanya jangan membuat Krystal eonni marah, kau suka sekali sih menjahili Krystal eonni," Chanyeol mencebikkan bibirnya sok imut. Kyungsoo sebenarnya gemas namun ia tidak menunjukkannya justru menepuk mulut Chanyeol pelan dengan telapak tangannya.
"Jangan sok imut dasar bocah kelebihan tinggi," Chanyeol mendelik sebal dan memalingkan mukanya.
"Kalian berdua ini jangan terlalu sering bertengkar, nanti berjodoh," Nickhun membuka suara. Diangguki oleh Tiffany yang telah resmi menjadi istri Mr Buck ini sejak 5 bulan lalu dan kini tengah hamil 3 bulan.
"Benar, seperti saudara sepupuku di Korea dan tetangganya yang selalu bertengkar, kau ingat dengan Jessica dan Donghae honey?" Nichkhun mengangguk.
"Chanyeol terlalu kecil untukku, dia masih labil dan sangat menyebalkan," jawab Krystal sekenanya sambil kembali duduk ditempatnya tepat disebelah Kyungsoo.
"Yakk eomma, aku bukan anak kecil! Lagian juga siapa yang suka dengan nenek sihir, aku kan sudah punya Baekhyun di Seoul" protes Chanyeol.
"oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Baekhyun, Yeol?" tanya Kyungsoo.
"baik Kyung, bahkan dia akan ikut ke New York untuk lomba menyanyi, kau tau kan suaranya sangat merdu, dan itu yang membuatku jatuh cinta padanya" jelas Chanyeol sambil membayangkan wajah sang kekasih yang jauh di Seoul.
"ah benarkah? Titip salam ya jika kau kembali ke Seoul, dan jangan lupa ajak dia kemari" sahut Jongin.
"iya, akhhh~ aku jadi merindukannya" rengek Chanyeol.
.
.
Kyungsoo mengelus perutnya yang terasa penuh, selain karena kehamilan juga karena sedari tadi ia tidak berhenti ngemil buah. Semenjak hamil ia sangat suka makan buah. Selain itu ia juga tidak diperbolehkan makan makanan yang dipanggang jadilah ia hanya menikmati salad, buah dan beberapa masakan yang disiapkan oleh Mrs Hans untuk melengkapi acara barbeque hari ini.
"Kau lelah sayang?" tanya Jongin sambil menghampiri Kyungsoo yang duduk disofa ruang keluarga setelah mengantar para tamu untuk pulang kedepan pintu rumah mereka.
"Sedikit, kurasa aku tidak bisa bangun oppa, perutku…terasa.. begitu full."
"Jelas saja, Nyonya Kim yang seksi ini tidak berhenti memakan buah dan salad sedari tadi, tapi itu bagus untuk bayi-bayi kita," Jongin mengecup hidung Kyungsoo gemas lalu mengecup perut buncitnya.
"Yakk, jangan bermesraan didepan pria yang jauh dari kekasihnya," tegur Chanyeol yang muncul dari dapur dengan sebuah apel ditangannya.
"Bilang saja kau iri, makanya ajak kekasihmu," Jongin mendengus. Ia menaiki tangga menuju ke kamarnya dilantai dua sementara Chanyeol menoleh kearah Kyungsoo yang meringis.
"Eungh…sshh."
"Sayang, ada apa, ada yang sakit?" Kyungsoo tidak menjawab, karena tiba-tiba saja ia seperti merasakan tendangan diperutnya.
"Eungh…bayinya menendang," lirihnya.
"Benarkah, dimana, disebelah mana?" Jongin yang excited meraba perut Kyungsoo mencoba merasakan dimana bayinya menendang. Tapi tiba-tiba Kyungsoo memegang pergelangan tangan Jongin dan meremasnya. "Sayang, kau kenapa?"
"Ini sakit, oppa perutku…sakit."
"Ap..apa, sayang kau mau melahirkan, oh my god!" Jongin mulai panik, bagaimana tidak. Ini seharusnya belum waktunya Kyungsoo melahirkan. Menurut perkiraan Go Ara, Kyungsoo akan melahirkan sekitar 14 hari lagi.
"Akhh.. oppaaa!" pekik Kyungsoo karena ia merasa perutnya seperti dililit sakitnya bukan main.
"Oh god, sabar sayang, tarik nafas, lepaskan, perlahan-CHANYEOL TURURN- ulangi lagi sayang," tuntun Jongin sambil mengatur posisi Kyungsoo agar ia bisa mengangkat tubuh mungil berisi itu. Jongin harus akui kalau tubuh istrinya memang berat saat dimasa kehamilan ini namun ia tidak akan membiarkan Kyungsoo digendong lelaki lain. Dari arah tangga Chanyeol berlari karena terkejut dan semakin kaget begitu melihat Kyungsoo merintih didalam pelukan Jongin.
"Ap..Jongin hyung..Kyung..?" Chanyeol sampai bingung memilih kata.
"Cepat ambil kunci mobilku, kita ke rumah sakit," Chanyeol mengangguk, mengambil kunci mobil dinakas dan segera belari keluar diikuti Jongin yang berjalan agak cepat namun tetap memperhatikan langkahnya karena tidak ingin istri dan bayinya terjatuh. "Kau tahu lokasi rumah sakitnya Yeol, kalau tidak tahu pasang GPSnya, St Xaverius Hospital," Chanyeol mengangguk, agak bingung dan gugup namun ia berusaha mengatur GPS dengan benar sementara dibelakang Jongin mencoba menenangkan Kyungsoo yang tidak berhenti meringis kesakitan.
"Sakit..oppa.." Jongin mendekap Kyungsoo dan mengecupi puncak kepalanya.
"Tahan sebentar ya sayang, kita dalam perjalanan, kumohon bertahanlah sedikit lagi ya," Jongin mengelus punggung Kyungsoo lembut. Sementara tangan kanannya mengelus perut Kyungsoo mencoba menenangkan bayinya didalam sana. "Sabar ya baby boys, sebentar saja, kasihan mommy," Kyungsoo menggenggam pergelangan tangan Jongin mencoba menahan rasa sakit yang menderanya. Sementara di kursi kemudi Chanyeol berkonsentrasi untuk berkendara dengan benar sesuai dengan GPS yang telah ia pasang. Sesekali ia melirik spion untuk mengecek keadaan Kyungsoo. Semoga kami sampai dirumah sakit tepat waktu mohonnya dalam hati.
.
.
Heechul melangkah cepat menuju ke ruang persalinan dimana Chanyeol dan Jongin berada. Tadi Jongin menyempatkan untuk menelpon Heechul yang berada di klub untuk bekerja dan Heechul tanpa pikir panjang langsung datang menyusul. Tak lama setelah Heechul, Krystal muncul juga.
"Bagaimana Kyungsoo?" tanya Krystal.
"Masih didalam, ia sedang ditangani dokter Go," Chanyeol yang menjawab karena Jongin duduk terdiam di bangku tunggu, dengan tangan saling menggenggam seperti sedang berdoa. Karena kenyataannya Jongin memang sedang berdoa saat ini.
Ckleek! Pintu ruang persalinan terbuka menampakkan sosok seorang suster dan ia mengedarkan pandangan membuat Jongin yang langsung berdiri begitu pintu terbuka, Heechul, Krystal dan Chanyeol penasaran.
"Yang mana suami dari nyonya Kim?"
"Saya," Jongin maju.
"Nyonya Kim meminta anda masuk," tanpa berfikir dua kali Jongin masuk bersama suster, suster memberikan pakaian steril dan meminta Jongin untuk mencuci tangannya. Setelahnya ia mengikuti masuk kedalam ruang persalinan, dimana istrinya berada dikelilingi suster dan juga seorang dokter yang ia kenali meskipun memakai penutup masker. Jongin melihat Go Ara mengangguk kearahnya.
"Oppa," lirih Kyungsoo mengulurkan tangannya. Jongin menggapai tangan itu dan menggenggamnya erat. Ia mengecup kening Kyungsoo lembut dan menyeka anak rambutnya yang lengket karena keringat.
"Oppa disini sayang, mari kita sambut anak-anak kita bersama hmm," Jongin memberikan senyuman penyemangat, mengecup genggaman tangan mereka. Kyungsoo tersenyum, disela rasa sakit yang menderanya ia begitu bahagia saat ini. Detik-detik menjelang kelahiran bayinya, lelaki yang ia cintai, suaminya ada disini menemaninya.
"Kita akan memulai sekarang Kyungsoo," Go Ara mulai member aba-aba untuk Kyungsoo melakukan dorongan dengan mengedan. Kyungsoo menggenggam erat tangan Jongin hingga rasanya tangan Jongin kebas. Namun Jongin tidak menghiraukannya karena pada saat ini istrinya tengah berjuang untuk melahirkan kedua bayi mereka, bayi kembar mereka. "Tarik nafas…keluarkan perlahan, dorong kembali Kyungsoo!"
"Ngghh…hhh…!" Kyungsoo sekuat tenaga mengedan agar bisa membantu mendorong bayinya keluar.
"Lakukan sedikit lagi Kyungsoo, kepalanya sudah kelihatan!" mata Jongin membola, ia mendekatkan bibirnya pada telinga Kyungsoo.
"Ayo sayang, kau bisa, mari kita lahirkan bayi kita, sedikit lagi" bisiknya.
"Nnghh…akkhhh!" pekikan Kyungsoo terpecah bersahutan dengan suara bayi yang terdengar memenuhi ruang bersalin. Jongin terdiam, terpana akan suara dan sosok mungil yang dibawa Go Ara dalam gendongan tangannya. Go Ara menoleh kearahnya dan mengangguk. Jongin bisa menebak kalau Go Ara tersenyum dibalik maskernya. Go Ara menyerahkan bayi tersebut pada suster. Namun perjuangan Kyungsoo belum selesai karena ia kembali berjengit merasakan seperti merasakan tendangan diperutnya. Sibayi yang satunya tidak sabar untuk menyusul sang kakak untuk melihat dunia. Jongin mengusap dahi Kyungsoo, kembali mengeratkan genggaman mereka.
"Sedikit lagi sayang, bayi bungsu kita juga ingin melihat dunia seperti hyungnya," Kyungsoo mengangguk. Dan Go Ara kembali ke posisinya.
"Tarik nafas…dorong sekarang Kyungsoo," Kyungsoo melengkungkan tubuhnya, mengedan dengan begitu keras hingga rasanya tenaganya sudah terkuras habis. Jongin menopang punggung Kyungsoo membantunya.
"Akkhh…oppa…nnhh!"
"Sedikit lagi Kyungsoo, ini tidak sesulit yang tadi, aku sudah melihat kepalanya, dorong lebih keras!"
"Sayang, sedikit lagi, lihat ia sudah tidak sabar untuk keluar," Jongin merasa tangannya mati rasa saat Kyungsoo mengencangkan genggamannya dan pekikan yang tiada habisnya. Namun semuanya sepadan dengan lengkingan bayi yang terdengar setelahnya. Kali ini lebih kencang, Jongin sudah menitikkan air matanya. Memandang bayinya yang masih merah dibawa oleh suster untuk dibersihkan. Ia memeluk Kyungsoo dan mengecupi puncak kepalanya. Kyungsoo sudah tidak memiliki tenaga lagi, ia begitu lemas antara sadar dan tidak sadar dipelukan Jongin. " Terima kasih, terima kasih Kim Kyungsoo, kau memberikan kebahagiaan yang begitu besar untukku," jemari Kyungsoo yang begitu lemas mengelus jemari Jongin didalam genggaman mereka. Bibirnya membentuk senyuman hati kecil dengan titik air mata mengalir disudut matanya.
"Terima kasih kembali daddy," bisikya lembut. Dan Jongin tidak kuasa untuk tidak memeluk erat tubuh mungil itu.
"Kim" panggil Go Ara. "Aku tidak ingin mengacaukan momen kalian, tapi Kyungsoo akan dibersihkan dulu dan kau bisa melihat bayi-bayimu yang tampan," Jongin menangkup wajah Kyungsoo masih dengan jejak air mata di pipinya.
"Jangan menangis daddy, baby boys menunggu untuk disapa oleh daddynya," ucapnya pelan. Jongin mengecup bibir Kyungsoo lembut.
"Aku akan kembali sayang," Kyungsoo mengagguk. Para suster bergerak begitu Jongin menjauh dari ranjang, tersenyum kecil sebelum mengikuti Go Ara untuk melihat bayinya. Tangan Jongin gemetar menapaki ujung keranjang bayinya. Didalamnya terbaring dua sosok mungil yang begitu menggemaskan. Begitu bersih, polos dan bersinar dimata Jongin layaknya malaikat surga. Air mata kembali menetes dari mata Jongin. Go Ara menepuk punggungnya.
"Congratulation Kim, mereka begitu menggemaskan seperti istri mungilmu," Jongin mengangguk membenarkan. Dan Go Ara memutuskan untuk meninggalkan Jongin untuk menikmati momennya bersama kedua bayinya. Jongin tidak bisa menahan air mata yang terus saja mengalir. Air mata bahagia dan penyesalan mengingat ia pernah kecewa ketika mengetahui bahwa ia akan memiliki bayi. Keegoisan dan keangkuhan yang hampir saja membuatnya kehilangan momen berharga menyaksikan bayinya terlahir kedunia. Jongin menunduk dan mengecup lembut dahi lembut kedua bayinya dengan bibir gemetar. Gugup untuk pertama kalinya mengecup bayi mungilnya. Jongin masih menunduk dan menatap penuh kasih sayang pada kedua bayinya.
"Selamat datang anak-anak daddy!" bisiknya lembut.
.
.
Semua orang yang berada diruang kamar inap Kyungsoo mengulum senyuman mereka melihat keluarga kecil yang tengah asyik bersama kedua bayi kembar mereka. Kim Jongin dan Kim Kyungsoo yang menggendong kedua bayi mereka bersama dengan Jongin yang mendudukkan diri dipinggir ranjang Kyungsoo.
"Aku tidak menyangka kalau akhirnya aku melihat Jongin berkeluarga," Heechul membuka suara.
"Aku juga, kupikir sampai aku memiliki anak nantinya aku masih akan mengurusi woman's contract untuknya," timpal Nichkhun ditimpali tawa renyah Heechul. Keduanya duduk berdekatan jadi pembicaraan mereka tidak terdengar Kyungsoo, Luhan dan Chanyeol yang berada di sisi lain.
"Bagaimana rasanya noona?" tanya Chanyeol membuat Krystal menoleh.
"Apa?"
"Melihat mantan kekasihmu memiliki anak dan begitu bahagia dengan keluarganya," Chanyeol menatap kearah Jongin dan Kyungsoo. Krystal tersenyum ikut menoleh kearah mereka.
"Aku turut bahagia," jawabnya. "Jongin adalah bagian dari masa laluku, saat ini dia adalah temanku dan seorang teman akan ikut berbahagia melihat temannya bahagia." Chanyeol mengangguk setuju lalu menyikut lengan Luhan disebelah kirinya.
"Hmm.. apa?" Chanyeol dan Luhan memang saling kenal, karena ia sering menginap di apartemen Kyungsoo jika berkunjung ke Manhattan dan Luhan adalah tetangga Kyungsoo.
"Kapan noona akan menyusul Kyungsoo," Luhan mencubit gemas lengan Chanyeol yang meringis.
"Jangan bawel,"
"Ishh noona kan hobby berganti pasangan, hati-hati noona nanti… "Luhan buru-buru membungkam mulut Chanyeol dan nyengir kearah Krystal yang geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Heechul melangkah mendekati ranjang membuat keluarga kecil Kim tersadar kalau mereka terlalu asik dengan dunia mereka.
"Kalian mengacuhkan tamu," Heechul pura-pura merajuk.
"Oppa, mianhae," Kyungsoo memasang wajah memelasnya. Heechul mengusuk gemas puncak kepala Kyungsoo.
"Aigoo~ aku berharap simungil ini sama menggemaskan seperti ibunya, siapa namanya yang didalam gendongan mommy ini hmm?" tanya Heechul dengan telunjuk menjawil pipi simungil Kim dengan lembut.
"Yang digendongan Kyungsoo Kim Taeoh," Jongin yang menjawab.
"My little Taeoh," gemas Kyungsoo mengelus hidung mancung bayinya dengan ujung hidungnya.
"Yang digendongan hyung?" tanya Chanyeol sembari ikut mendekat kearah ranjang.
"Ini Kim Jongsoo,"
"Siapa yang lahir lebih dulu, Jongsoo atau Taeoh?" tanya Tiffany ikut mendekat bersama Nichkhun.
"Taeoh lahir lebih dulu, tapi ia lebih mungil dibanding Jongsoo,"
"Jongsoo lebih mirip dengan Kyungsoo," komen Luhan saat ia sudah berada disebelah Jongin.
"Benar, Taeoh mirip dengan Jongin," angguk Krystal yang menghampiri Kyungsoo. "Kelopak mata Jongsoo lebih menonjol ketimbang Taeoh, mirip dengan Kyungsoo yang matanya bulat."
"Eonni benar, Taeoh lebih mirip Jongin oppa," Kyungsoo tersenyum lalu menoleh kearah Jongin.
"Tidak masalah mereka akan mirip aku ataupun Kyungsoo, selama mereka terlahir dan bertumbuh dengan sehat," jawab Jongin.
"Whoaa daebak, daddy Jongin jadi lebih bijaksana," goda Chanyeol, Jongin mendelik sesaat namun akhirnya ikut nyengir. Ia mengalihkan kembali tatapannya pada putra mungilnya yang begitu mirip dengan Kyungsoo itu. Benar-benar lucu dan menggemaskan, sangat mirip seperti ibunya.
"Oh iya, ayahmu dan Yaejin noona akan tiba di Manhattan siang ini bersama dengan Joonmyeon-ssi dan Yixing-ssi," Nichkhun memberitahukan.
"Ya, terima kasih sudah membantuku mengurusi semuanya Nick," Nichkhun mengangguk. Dan satu persatu dari tamu merekapun mengucapkan selamat tinggal. Krystal akan kembali ke Paris sore ini dan ia memeluk Kyungsoo begitu erat. Merasa kedekatan mereka begitu menyenangkan, Krystal merasa kembali memiliki keluarga. Karena keluarganya kini menetap di Jepang sangat sulit untuk bolak-balik Jepang.
"Eonni akan merindukanmu dan juga bayi-bayi mungil ini,"
"Datanglah berkunjung kapanpun eonni sempat," jawab Kyungsoo dan Krystal mengangguk.
"Hati-hati di perjalanan dan jangan lupa jaga kesehatanmu, chingu-ya," sahut Jongin dengan cengiran dan Krystal mengangguk. Kyungsoo tidak lagi cemburu pada Krystal. Ia tahu dengan sangat jika Jongin begitu mencintainya dan Krystal hanyalah masa lalu Jongin. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
"Aku pamit ya," ucapnya dan Krystallah yang keluar paling terakhir dari kamar inap Kyungsoo meninggalkan sepasang suami istri dan bayi kembar mereka itu. Jongin sudah tidak menggendong Jongsoo karena si mungil sudah terlelap dikeranjang tidurnya. Sedangkan Kyungsoo masih menggedong Taeoh.
"Boleh aku menggendong Taeoh?" Kyungsoo mengangguk dan memberikan bayi mungilnya pada Jongin. Namun baru saja Jongin membenarkan letak gendongannya suara bayi terdengar memenuhi ruangan. Taeoh menangis begitu kencang mengejutkan Jongin. Dan Kyungsoo dengan cepat meraihnya kembali .
"Cupp..cup..cup…ssshh… ini mommy sayang, jangan menangis lagi," begitu ajaib karena tangisnya berhenti dan menggeliat nyaman dipelukan Kyungsoo. Sepertinya Taeoh tidak mau dipisahkan dari ibunya. Tangis bayi lain terdengar memenuhi ruangan, sepertinya Jongsoo yang terkejut mendengar suara Taeoh ikut menangis. Maka Jongin bergegas menuju keranjang Jongsoo dan mengangkatnya dalam gendongan.
"Aigoo, ada apa hmm, appa disini, jangan menangis jagoan kecil," Jongin menimang bayinya dengan lembut. Kyungsoo memandang haru melihat suaminya yang biasanya disibukkan dengan urusan kantor dan berhubungan dengan berkas-berkas kini tampak begitu luwes dan menikmati waktu berkualitasnya menjadi seorang ayah. Jongin menoleh kearah Kyungsoo dan mendapati istrinya tersenyum begitu manis dan cantik dengan bibir berbentuk hatinya, Kyungsoo layaknya bidadari surga yang bersinar tengah mengendong malaikat mungil dipelukannya. Jongin mendekat dan mendudukkan dirinya kembali disamping ranjang Kyungsoo.
"Aku tahu kau akan bosan, tapi seumur hidupku aku akan mengatakannya untuk meyakinkan dirimu bahwa kau dan kini Jongsoo juga Taeoh adalah hal paling membahagiakan yang pernah dianugerahkan tuhan untukku," ucap Jongin lembut dengan tatapan memuja dan sarat akan kasih sayang. " Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri pernah menolakmu dan kedua bayi kita, aku…" Kyungsoo membungkam bibir Jongin dengan kecupa lembut yang mengejutkan suaminya itu.
"Aku tidak pernah menyesal dipertemukan denganmu, semua kebahagiaan yang oppa berikan padaku telah menghapus rasa sakit itu oppa," ujarnya lembut. "Rasa sakit itu adalah bagian dari ujian untuk menguji sejauh mana kita mampu bertahan dalam hubungan kita, terima kasih telah kembali padaku dan tidak melepasku pergi," Jongin menggeleng.
"Tidak sayang, terima kasih…karena kau memiliki cinta dan kasih sayang begitu besar untukku, aku berjanji akan berusaha sekuat tenagaku memberikan kebahagiaan untukmu, Jongsoo dan Taeoh."
"Terima kasih daddy," ucap Kyungsoo, menyenderkan kepalanya pada bahu Jongin. "Aku mencintaimu,"
"I love you more."
I love you so much that I could risk my everything
I'll promise you that I'll care for you
Even if time passes and everything changes
Even if the world ends, my love
You are my luck, I can't avoid it
Every day I'm so lucky
I want to confess my hidden heart, I love you
End
gimana iniiiiiiiiii? pada suka gak?
aku mau tanya dong, ini ff kelar sampe sini aja apa mau di tambahin chap lagi,
aku sih bisa bisa aja nambahin karena emang udah dapet izin dari author RedAplee hehehehehe
abis chat biasa.
jadi mau di tambah satu chap apa gak usah?
mohon dijawab ya readers hehehee
kalo cuma dikit yang minta kayanya aku gak bersemangat buat nambahin.
jadi kalo banyak see you next chap, tapi kalo dikit ya
sampai jumpa di ff selanjutnya.
pay pay :)
