Setiap manusia memiliki masa lalu masing-masing. Entah itu baik untuk selalu diingat, atau buruk yang bahkan dapat membuat beberapa dari mereka merasa trauma.

Begitu pula dengan Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura.

Apa kau tahu kalau kepribadian seseorang dapat terbentuk karena sesuatu hal yang telah terjadi?

Misal saja ketika seseorang terbully di masa lalu dan menjadi orang yang kuat di masa yang akan datang dan sebagainya.

Apa Uchiha Sasuke atau Uchiha Sakura juga termasuk ke dalam seseorang yang memiliki masa lalu yang membuat keduanya trauma?

Hm, entahlah? Aku pun tidak begitu yakin.

Dan ketika hujan akan turun, apa yang seharusnya orang-orang lakukan? Berdiam di dalam ruangan dengan segelas coklat panas dan memperhatikan cairan-cairan yang tumpah dan menghujani permukaan bumi, atau berlari dengan membawa sebuah payung dibawah derasnya hujan yang mengguyur untuk melakukan sesuatu?

Mana yang akan kau pilih?

Opsi pertama?

Ataukah opsi kedua?

(WARN!) Terinspirasi dari beberapa fiksi. Tetapi tenang, alur masih milik saya karena saya hanya terinspirasi.

Keseluruhan karakter bukan milik saya, SasuSaku dan karakter yang bermain dalam fiksi ini hanya milik Masashi Kishimoto semata.

.

.

.

Chapter 2: Hujan dan Secercah Masa Lalu

.

.

.

Gadis bersurai senada dengan bunga yang melambangkan negara kelahirannya itu terdiam sambil membaca buku tebal di bawah sinar matahari yang sedikit terhalangi atap rumahnya itu.

Hari minggu. Dimana ia tidak dapat melakukan apapun. Dan ia begitu membenci disaat tangannya gatal dan tidak memiliki sesuatu untuk dikerjakan. Hei, jika kalian mengatakan kalau ia dapat membereskan rumah, pergi berbelanja bersama teman, atau semacamnya yang biasa dilakukan oleh gadis biasanya. Sakura menolak.

Jelas. Untuk hal yang pertama, Sakura hanya tinggal berdua dengan suaminya. Dan itu tidak akan membuat rumahnya seperti kapal pecah dan memaksanya untuk melakukan kegiatan bersih-bersih, apalagi jika ia dan suaminya bukanlah orang yang suka berada di rumah dan membuat rumah sedikit berantakan.

Untuk hal yang kedua, ia bukanlah tipe gadis yang suka menghambur-hamburkan uangnya. Entah itu uangnya sendiri atau uang yang diberikan suaminya untuknya. Dan teman? Katakanlah bahwa Sakura sangat menolak manusia yang bernama teman itu masuk ke dalam kehidupan pribadinya kalau bukan karena pekerjaan.

Dan beginilah jadinya, ia hanya menghabiskan waktu liburnya dibawah terik matahari di belakang rumahnya dengan suguhan jus jeruk dengan empat batu es.

Ah, ngomong-ngomong, kemanakah suaminya kini berada?

Uchiha Sakura menutup benda dengan tebal sekitar tujuh sentimeter itu dan meletakkannya di atas meja yang berada tepat di sampingnya.

Benar juga, ia belum melihat keberadaan suaminya semenjak ia membuka kedua matanya. Bukan bermaksud rindu, khawatir, atau penasaran. Sakura hanya merasa tidak biasa karena tidak diberitahu sebelum pemuda itu ingin meninggalkan rumah mereka. Ya, sesuatu yang wajar. Gadis itu sudah menjalani statusnya bersama sang suami selama sebulan lebih walau dengan keadaan yang begitu sangat datar.

Selingkuh? Ara, bahkan ia tidak peduli jika suaminya akan membawa gadis lain ke dalam rumah mereka. Dan jika hal itu terjadi itu akan berdampak pada Sasuke yang akan mencoreng nama baiknya sendiri.

Sasuke ataupun Sakura hanya cinta pada sesuatu yang bernama pekerjaan. Tidak mungkin sosok manusia yang berbeda jenis dapat merayu mereka dengan mudah.

Mereka benar-benar pasangan tidak wajar. Sangat tidak wajar.

Drrttt... Drrrttt...

Getaran dari ponsel pintarnya yang berada di atas meja yang sama dengan gelan dan juga bukunya itu mengalihkan perhatiannya. Sebuah panggilan masuk dengan nomor yang tidak tercantum di dalam kontaknya tertera di layar tersebut. Sakura mengernyit.

Dengan cepat gadis itu mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut, "Moshi-moshi?"

"Aa, apa kabarmu, Uchiha Sakura?"

Dan detik berikutnya panggilan tersebut dimatikan dari pihak Sakura. Gadis yang kini membuka sedikit mulutnya karena tidak percaya.

.

.

.

Pemuda bersurai raven itu melihat ke seluruh ruangan, namun nihil. Ia tidak dapat menemukan sesosok gadis yang sebulan ini sudah menemaninya di dalam rumah. Yang ia tahu ia hanya pergi selama kurang lebih tiga jam untuk bertemu teman lama.

Bukan bermaksud tidak ingin memberitahu, Sasuke hanya tidak ingin gadis itu terbangun hanya karena dirinya yang ingin pergi untuk beberapa saat. Tetapi saat sampai rumah ia malah tidak menemukan gadis itu dimanapun, bahkan memberi kabar juga tidak. Dan entah mengapa ia sedikit menyesal.

Heh? Uchiha Sasuke dapat menyesal sekarang?

Bercanda. Lupakan.

Namun, satu hal yang ia tahu. Sebuah gelas dengan batu es yang masih berbentuk padat itu menandakan bahwa pemiliknya baru saja pergi dalam keadaan terburu-buru karena suatu urusan. Pemuda itu ingat betul bahwa gadis bersurai tidak biasa itu sangat bertanggungjawab. Yah, walaupun hanya sebuah gelas kosong dengan batu es yang masih berbentuk yang tergeletak manis di atas meja bersama sebuah buku yang menemani harinya.

Apa sesuatu itu terlalu serius sampai membuat Sakura melupakan hal kecil semacam gelas kosong? Bahkan operasi dadakan karena pengalihan tugas tidak dapat membuat Sakura meninggalkan tanggung jawab utamanya.

Sasuke menghela nafasnya.

Sebaiknya ia mendinginkan kepalanya. Lagipula mengapa ia berlebihan seperti ini hanya karena gadis yang menyandang status sebagai istrinya? Apa karena ia mengemban tugas sebagai suaminya? Sasuke tidak terlalu mengerti.

Pemuda itu menggulung kemeja biru mudanya hingga ke siku sambil menyusuri tangga dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Setidaknya di ruang itulah ia dapat menenangkan pikirannya dari berbagai macam hal yang membuat kepalanya terasa penuh.

Sedikit melirik dari tempatnya berada. Segelas coklat sedang dalam proses disebuah teko yang berada di balik punggung tegap pemuda bermarga Uchiha itu.

Mengapa teriknya matahari kini menghilang dan tergantikan oleh kumpulan awan berwarna abu-abu yang siap menghujani bumi begitu saja? Kemana secercah cahaya yang membuatnya ingin sekali merasakan dinginnya AC di rumahnya?

"Apa kau baik-baik saja, Sakura?"

.

.

.

"Kau... Kenapa kau ada di sini?" gadis yang biasa dipanggil Sakura itu bertanya dengan nada datar. Walaupun siapapun tahu kalau ada sedikit keraguan dari pertanyaan. Gadis itu merasa takut.

Seseorang− tepatnya seorang pemuda yang kini dengan tenang menikmati secangkir kopi hitam itu menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan.

Bahkan dengan Sasuke, Sakura tidak akan setakut ini. Ketenangannya tidak akan runtuh semudah ini. Bagaimana ia bisa?

"Kita baru saja bertemu. Sekitar tujuh tahun kita tidak pernah lagi berhubungan. Kenapa kau terlalu terburu-buru, Sakura? Apa kau tidak merindukan aku?"

"Cih. Rindu? Bagaimana bisa aku rindu dengan pemuda sialan sepertimu?" telapak tangan Sakura mengepal dibalik meja. Hah, sesungguhnya kenapa ia harus bertemu pemuda itu sekali lagi? Apa tuhan sedang mengujinya karena tidak harmonis dengan suaminya? Tsk.

"Oh, ayolah. Kenapa kau malah menjadi dingin seperti suamimu si Uchiha Sasuke itu? Ah, maaf. Aku ingat, aku yang telah membuatmu menjadi manusia seperti dia."

Gadis itu mendelik, emosinya sudah tidak dapat ia tahan lagi.

"Kau, apa yang kau mau−

.

−Hyuuga Neji?"

.

Siapa yang akan menyangka jika harta karun yang sudah terpendam sangat lama harus kembali terbuka dan kembali menyayat perasaan yang telah sengaja dibekukan?

Siapa dari kalian yang dengan senang hati merasakan kembali salah satu kepahitan yang berasal dari masa lalu?

Jikalau ada, aku akan menyebut kalian sebagai masochist.

Benar. Masa lalu membuat siapapun menjadi orang yang lebih berguna dari sebelumnya.

Sama halnya dengan Uchiha Sakura.

Bahkan ia menjadi manusia yang sangat berguna menyaingi Uchiha Sasuke.

Tidakkah kalian penasaran bagaimana Sakura dapat memiliki sesuatu yang hampir sama dengan suaminya, Uchiha Sasuke?

Semua yang berada di dalam dunia ini bukanlah kebetulan semata. Tuhan telah mengatur alur dari setiap masing-masing manusia yang hidup di dalamnya. Yang artinya, tidak ada yang namanya kebetulan. Mungkin jika kebetulan itu terjadi, yang sebenarnya terjadi adalah takdir.

Pemuda yang berasal dari masa lalu, akan bermain dalam alur perjalanan kehidupan pasangan Uchiha.

Apa yang akan Uchiha Sasuke pilih? Opsi pertama ataukah opsi yang kedua?

Apakah satu hati dengan dua orang yang berbeda namun memiliki banyak kesamaan hanyalah kebetulan belaka?

Bagaimana menurut kalian?

.

Sudah berkali-kali rasanya Sasuke mencoba menghubungi Sakura. Namun tidak ada satupun balasan yang ia dapatkan. Rintik-rintik air yang jatuh dari langit juga sudah mulai mengguyur kotanya. Bahkan segelas coklat panas sudah siap menemani dirinya ditengah hujan yang sedang turun. Kenapa Sakura lama sekali?

Pemuda itu juga tampak tidak habis pikir tentang gadis yang tidak bisa dihubungi itu. Apa yang harus ia lakukan?

Bukan dengan arti pemuda itu khawatir, mungkin. Hanya saja hari ini adalah hari minggu. Hari dimana gadis itu tidak akan pergi kemana pun kecuali kalau ada panggilan dari rumah sakit yang meminta bantuannya.

Entah mengapa, Sasuke sudah paham tentang istrinya walau dalam sebulan.

Jadi hal semacam gadis itu tidak meninggalkan pesan kepadanya hanya untuk memastikan keberadaan dirinya adalah sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi. Kecuali hari ini tentunya.

Kau tahu? Walaupun mereka sama-sama pendiam dan membuat suasana selalu hening, mereka selalu punya cara untuk menyampaikan apa yang sedang terjadi walau tanpa komunikasi secara langsung.

Dan Sakura selalu mengerjakan tugasnya dengan baik. Sebagai seorang istri ia tidak pernah tidak memberi tahu kepada Sasuke kemana pun ia pergi.

.

"Aku hanya ingin bertemu dengan mantan kekasihku saja, tidak lebih," ucap pemuda dengan surai coklatnya yang panjang dan terawat itu. Hyuuga Neji dengan tenang meminum kembali kopi hitam miliknya.

Apakah kalian pernah memikirkan hal ini sebelumnya? Siapa yang akan menyangka kalau Uchiha Sakura pernah memiliki seorang kekasih?

Gadis itu mendengus geli.

"Aku tidak pernah ingat kalau kita pernah melakukan sebuah hubungan sebelumnya. Aku tidak akan pernah menganggapnya ada, lebih tepatnya."

Gadis itu menatap pemandangan yang berada di luar jendela cafe tersebut. Hujan telah turun beberapa saat yang lalu.

Rasanya sangat menjijikan hanya untuk sekedar menatap pemuda yang pernah singgah dihatinya itu. Ingatan yang menyakitkan pasti akan kembali muncul dan membuat pertahanannya runtuh. Ia sangat tidak ingin.

"Apakah kau bahagia bersama si Uchiha itu?"

"Setidaknya lebih baik darimu. Kenapa kau selalu membawa dia ke dalam percakapanmu?" Sakura mulai jengah. Ia sadar, pemuda bernama Neji itu selalu membawa-bawa nama suaminya.

"Dia teman lamaku, apa kau terkejut?"

Seperti yang Neji duga, emerald itu terkejut. Gadis itu bahkan sampai mengalihkan pandangannya dari hujan hanya untuk menatap dirinya.

Lalu mengapa? Apa kalian tahu mengapa Sakura dapat terkejut hingga menunjukkan dirinya yang berbeda?

"Mungkin menyenangkan jika aku menceritakan masa lalu kita kapada pangeran es itu. Kau setuju denganku 'kan, Sakura?"

"Tidak... Kumohon, jangan..."

.

Sudah tidak sabar, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk menerobos hujan yang sedang deras-derasnya menghujani daerahnya.

Yang artinya, Sasuke memilih untuk terjun langsung dan mencari seorang gadis yang menjadi tanggung jawabnya dibanding menyesap aroma segelas coklat panas yang dapat menghangatkannya. Pemuda itu memilih opsi kedua walaupun agak berbeda dari jalan yang selama ini ia ambil.

Entah mengapa, ia merasa tidak mungkin hanya menunggu balasan atau kepulangan Sakura ke rumah. Ia harus melakukan sesuatu. Dan hatinya pun bergerak untuk mencari keberadaan gadis itu.

Dari dalam mobilnya, Uchiha Sasuke tidak pernah melepaskan fokusnya dari pandangan di luar jendela walau agak buram karena embun dan rintik-rintik hujan.

Ia tahu, mencari secara acak seperti ini akan menghabiskan waktu yang sangat lama. Tapi dibandingkan hanya berdiam diri sambil menunggu ketidak-pastian, Sasuke menolak.

Ia suami dari gadis itu, sudah merupakan tanggung jawabnya untuk melindungi istrinya. Setidaknya itu yang ia tahu mengenai tugas dari seorang suami.

Ya, semua ini karena tugas.

Sasuke menghela nafasnya kasar. Sudah setengah jam ia mencari dan hasilnya nihil. Haruskah setelah Sakura ditemukan ia langsung memasangkan GPS agar ketika gadis itu menghilang seperti layaknya sekarang ia tidak perlu repot-repot berputar-putar ke beberapa tempat tanpa kepastian seperti ini.

"Kau tidak biasanya."

.

Sakura tertunduk. Tidak memperdulikan derasnya hujan yang mengguyur seluruh tubuhnya. Kemeja putih dengan corak lingkaran hitam kecil yang menghiasai kemejanya itu tampak basah secara keseluruhan.

Sudah berapa lama ia berlari?

Sudah berapa lama ia tidak merasakan hal yang semacam ini lagi?

Ya, dulu Sakura pernah melakukannya. Sama persis dengan yang terjadi hari ini.

Gadis itu merutuki dirinya sendiri dibawah dinginnya air yang mengguyur. Seharusnya ia tidak pergi. Seharusnya ia tidak perduli akan ancaman yang diberikan oleh pemuda sialan bernama Neji itu kepadanya melalui pesan singkat. Seharusnya... Ia tetap bersikap seperti biasanya. Bersikap seperti seorang gadis yang kuat.

Pemuda cantik itu memang selalu bisa membuatnya di luar kontrol.

Kenapa juga ia harus menurut?

Ini membuatnya seperti melihat ke dalam masa lalu. Masa yang tidak akan pernah ia akui keberadaannya. Sakura membencinya. Sakura membenci pemuda itu.

Tiupan angin tak membuatnya beranjak dari tempatnya dan pulang ke rumah untuk menghangatkan diri.

Bukan tidak ingin. Tetapi ia tidak bisa.

Sakura tidak bisa jika suaminya menemukan ia sedang terjebak dalam masa lalu. Ia pasti akan seperti orang yang berbeda, ia yakin.

Huh, lagi-lagi.

"Setidaknya sampai air mata sialan ini berhenti, aku akan pulang."

Gadis itu mendongakkan wajahnya. Membiarkan wajah cantiknya diguyur langsung dan membiarkan air hujan mengalir dan terus membasahi dirinya. Anggap saja ini hukuman untuknya. Ia tidak perduli kalaupun ia adalah seorang dokter. Ia harus menerima hukuman.

"Sakura!"

Gadis itu jelas mendengar panggilan untuk dirinya. Tanpa menoleh ia mengenali suara ini. Suara yang akhir-akhir ini menemani kehidupannya. Suara yang mungkin akan selalu ia ingat sampai mati nanti.

Dan gadis itu terkejut kala menyadarinya.

Itu adalah suara pemuda yang sudah menjadi suaminya semenjak sebulan yang lalu.

Bagaimana bisa?

Pemuda yang kini sudah memayungi gadis dengan pakaian basah yang memperlihatkan cetakan tubuhnya itu memberikan ekspresi yang Sakura sulit artikan. Apa pemuda itu marah?

"Sa-sasuke-kun? Kenapa... ada di sini?" tanyanya dengan suara bergetar. Bibirnya sudah memutih. Bahkan tubuhnya menggigil hebat.

"Kenapa kau basah seperti ini− Hei! Sakura!"

Dan gadis itu telah jatuh dalam pelukan seorang pangeran dalam keadaan tidak sadarkan diri.

.

Perasaan.

Kau tahu apa saja kan? Semacam perasaan bahagia ataupun sedih, dan masih banyak lagi.

Setiap manusia memiliki perasaan. Hanya saja tidak semua manusia dapat dengan baik menunjukkan bagaimana menyampaikan perasaannya mereka. Tetapi kekuatan perasaan itu sangatlah kuat. Entah bagaimana pemiliknya menyampaikannya.

Manusia yang memiliki sebuah tembok besar yang membentang kokoh bahkan dapat hancur karena memiliki sesuatu yang dinamakan perasaan. Contohnya saja sepasang suami-istri yang memiliki kesamaan dalam berbagai hal termasuk pertahanan hatinya.

Semakin lama mereka tenggelam dalam alur drama yang dibuat walaupun mengikuti arus, semakin lama juga tembok pertahanan mereka akan terkikis oleh waktu yang melaluinya.

Mereka itu serasi.

Bagaimana bisa tembok dengan tembok dapat hancur hanya karena tembok lainnya?

Bisakah kalian bayangkan?

Secara tidak sadar, mereka telah masuk ke dalam satu dunia yang sama.

.

Tsuzuku

.

Catatan Penulis:

Aloha, saya kembali dengan chapter terbaru. Err, pasti ada yang kurang? Ini masih pembukaan, makanya rasa begini(?) Saya juga lagi mabok belajar saat proses pembuatan. Maaf atas basa-basi dalam ceritanya. Saya banyak naruh clue di sana-sini biar saya ingat/? Saya hanya berusaha sebisa saya, dan maafkan atas kelamaan update. UAS dan remedial menjebak saya.

Btw, soal orang ketiga−si Neji−Saya tidak bermaksud membuatnya terlihat jahat. Saya juga fansnya neji kok. Tapi kalau pemainnya dijadikan baik semua tidak akan ada rintangannya kan?

Ah iya, terima kasih yang sudah mereview; Rachel-Chan Uchiharuno Hime, Hanna Hoshiko, Aprilia Putri 120401, dan blueviorosetta. (Mohon tengok PM sebagai balasan). Yang sudah ngefavo; Rachel-Chan Uchiharuno Hime, nuniisurya26, nariezka, Aprilia Putri 120401, dan blueviorosetta. Ataupun ngefollow ff ini; shintaiffah, nuniisurya26, nariezka, Aprilia Putri 120401, dan blueviorosetta. Saya juga sangat berterima kasih pada reader-tachi yang sudah berkenan mampir diff ini.

Muehe, sekian dari saya. Mohon bimbingan dan bantuannya lagi!

Sampai jumpa lain waktu~