Apakah kalian pernah mendengar ini atau bahkan merasakannya?
Seribu kebaikan akan kalah terhadap sebuah kesalahan.
Kepercayaan sebesar apapun akan jatuh terhadap pengkhianatan walaupun hanya sekali. Siapapun tidak ingin dikhianati bukan?
Lucunya, semua manusia mengeluh karena itu.
Mereka tidak ingin untuk dilihat hanya dari sebuah kesalahan, mereka sudah bekerja keras untuk menciptakan seribu kebaikan. Tetapi mereka juga memakai sistem ini untuk menilai seseorang dari sebuah kesalahan dan tidak memperdulikan kebaikan yang telah diperbuat.
Itu lucu, kau tahu? Ia menolak, tetapi dirinya sendiri pun juga menggunakannya terhadap orang lain.
Tetapi mirisnya, kalimat itu sendiri ada benarnya.
Mengapa usaha kita dalam menciptakan seribu kebaikan akan sia-sia hanya karena satu kesalahan yang entah disengaja atau hanya sebuah kecelakaan?
Namun sebenarnya, tidak ada yang sungguh-sungguh benar diantara menerima apa yang ada bahkan tidak perduli sama sekali, berjaga-jaga karena takut hal yang sama akan terjadi, atau yang lebih parah menjauhi manusia yang telah melakukan pengkhianatan atau sebuah kesalahan tersebut. Semua itu pilihan. Tergantung bagaimana orang itu mengambil tindakan yang menurutnya benar.
Sekali lagi, siapapun tidak ada yang ingin dikhianati.
Mana yang mengarah ke tindakan kalian? Opsi pertama, kedua, atau yang ketiga?
Jika itu Uchiha Sakura, menurutmu mana yang gadis itu pilih?
(WARN!) Terinspirasi dari beberapa fiksi. Tetapi tenang, alur masih milik saya karena saya hanya terinspirasi.
Keseluruhan karakter bukan milik saya, SasuSaku dan karakter yang bermain dalam fiksi ini hanya milik Masashi Kishimoto semata.
.
.
.
Chapter 3: Sebuah Jawaban
.
.
.
Pemuda itu ingat betul ketika dengan tiba-tiba gadis itu terjatuh ke dalam pelukannya yang ia lakukan secara refleks. Tangannya bergerak begitu saja dan menangkap gadis merah muda yang hampir mencium basahnya aspal. Bahkan payung yang ia genggam untuk melindungi gadis itu dari tumpahan air hujan terjatuh begitu saja dan membiarkan pemuda beriris gelap itu ikut merasakan dinginnya air hujan yang dirasakan gadis yang tidak sadarkan diri dalam dekapannya.
Apakah Sasuke tetap tanpa ekspresi ketika menghadapi hal itu?
Tentu saja jawabannya adalah tidak. Siapapun yang melihatnya pasti akan berpikir ke berbagai hal yang akan berujung sama.
Pemuda itu mengkhawatirkan gadis yang berada dalam dekapannya.
"Mengapa kau bertindak bodoh seperti ini, Sakura?"
Dan itu merupakan pertanyaan terbesar Uchiha Sasuke.
Istrinya adalah seorang dokter yang begitu disegani. Lantas mengapa gadis itu malah mengguyur dirinya di bawah tumpahan air yang jelas-jelas akan membuat kesehatan tubuhnya menurun? Dan itu dilakukan secara sengaja.
Satu lagi tindakan Uchiha Sakura yang tidak dapat diproses dalam akalnya.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada istrinya?
Ia membutuhkan jawabannya. Dan ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tetapi tetap saja. Ia juga telah sadar satu hal dari kejadian yang menimpa istrinya.
Sejauh ini ia belum mengenal betul istrinya dari A sampai ke Z. Yang pemuda itu tahu hanyalah istrinya begitu mirip dengan dirinya. Sebuah kebetulan yang membuatnya sedikit tertegun.
Sebuah kebetulan, ya?
"Cepatlah sembuh."
Dan malam itu ditutup oleh kecupan singkat yang Uchiha Sasuke berikan pada kening milik Uchiha Sakura yang sedang terlelap dalam tidurnya di kamar mereka.
.
Gadis bersurai merah muda itu melenguh pelan kala secercah cahaya mencoba untuk membuatnya terbangun dari alam mimpinya. Perlahan, kelopak mata dengan bulu mata yang lentik itu terbuka, menampilkan iris klorofilnya yang begitu indah dipandang.
Tunggu.
Sejak kapan ia berada di tempat yang sangat familiar untuknya itu?
Ah, ya. Gadis itu baru ingat sekarang. Mungkin suaminya yang membawanya pulang ke rumah kemarin saat tidak sadarkan diri.
Dan lagi,
Suatu benda yang sangat asing yang berada pada pinggangnya mengganggu pikirannya sejak ia terbangun tadi. Uchiha Sakura menoleh pelan, mencari tahu apa yang sedang terjadi pagi hari itu.
Sakura melihatnya. Wajah rupawan yang terlihat sangat damai itu terlihat dalam pandangannya. Ah, kau tidak akan menyangka jika Uchiha Sasuke akan memeluk istrinya selama mereka tertidur semalam. Bukankah Uchiha Sasuke sangat romantis? Tidak, jangan bercanda. Hanya memeluk istrinya bukan berarti seorang Uchiha Sasuke adalah orang yang romantis.
Namun, hal ini merupakan yang pertama kali Sakura rasakan setelah sebulan mereka menjadi sepasang suami-istri.
Memandangnya cukup lama, ekspresi Sakura tiba-tiba saja berubah dalam sekejap. Kesedihan? Amarah? Atau... ketakutan? Atau mungkin ketiganya?
Kalau saja pemuda itu tidak hadir lagi dalam hidupnya dan membuat ingatan itu terputar kembali, kehidupannya yang sekarang masih sangatlah damai. Ia tidak perlu memikirkan apa yang sudah menjadi masa lalu, ia tidak perlu mengingat kembali kalau dulu gadis itu sangatlah lemah.
Yang sekarang ada dalam pikiran Sakura hanyalah satu. Apakah suaminya akan takut setelah tahu kebenarannya? Ara, tidak mungkin bukan? Sasuke bukanlah orang yang penakut. Dan masa lalunya bukanlah hal yang akan membuat Uchiha Sasuke takut pada dirinya. Sama sekali bukan.
Hanya saja, Sakura hanya takut jika Uchiha Sasuke akan bersikap tidak wajar terhadapnya. Terlebih lagi jika pemuda itu akan menjaga jarak padanya. Alasannya? Entahlah? Sakura tidak begitu yakin. Ia hanya takut tanpa alasan yang pasti.
"Shimatta, aku lupa. Bukankah ini hari senin?"
Sakura menggeleng pelan. Dengan perlahan ia melepaskan lengan suaminya yang memeluk erat pinggangnya. Dan ketika gadis itu akan berdiri, sesuatu menariknya kembali ke atas kasur. Telapak tangan yang berukuran lebih besar daripada milik Sakura sudah menyentuh keningnya dari belakang.
"Dengar, aku ingin kau istirahat hari ini. Jadi, jangan coba-coba berpikir untuk pergi bekerja."
"Tunggu, kau tidak berhak melarangku bekerja, Sasuke-ku−"
"Aku memiliki hak karena aku suamimu, Sakura. Anggap saja hukuman karena kau sudah bertindak bodoh kemarin dan mencelakai dirimu sendiri."
"T-tapi bagaimana dengan pasienku? Mereka membutuhkan−"
"Rumah sakit ayahmu tidak hanya memiliki satu orang pekerja. Tidak bisakah kau diam dan tidak melawan?"
Sakura mendengus. Lalu apa yang ia harus lakukan kalau ia bahkan tidak diperbolehkan bekerja? Berbaring di atas kasur sepanjang hari? Jangan bercanda. Ya, mungkin ia akan kabur ke rumah sakit saat suaminya berangkat bekerja nanti. Sakura pasti akan melakukannya demi pekerjaannya.
"Aku akan bekerja di rumah dan memastikan dirimu tidak kabur hanya demi pekerjaan. Kau mengerti?"
Apa Uchiha Sasuke seorang cenayang? Apa baru saja pemuda itu membaca jalan pikirnya? Cih, baru pertama kalinya ia merasa kalau suaminya begitu protective padanya seperti ini.
"Kau berlebihan. Lagipula aku sudah tidak demam lagi."
Pemuda itu menghela nafas. Apa yang dikatakan oleh Sakura memang benar, setidaknya ia sudah mengeceknya tadi. Bahkan telapak tangan besar milik Sasuke masih menempel dengan nyaman di kening milik Sakura. Tetapi tetap saja, ada keinginan lain yang menyuruh Uchiha Sasuke untuk menahan istrinya agar tetap di rumah.
Sebuah keinginan yang ia tidak tahu bagaimana harus mengartikannya.
"Sudahlah, jangan melawan."
Telapak tangannya turun. Kembali memeluk tubuh ramping Sakura seperti saat mereka terlelap sebelumnya. Entah bagaimana harus mengungkapkannya, rasanya nyaman sekali ketika pemuda itu memeluk istrinya seperti itu. Perasaan aneh juga menggelora dalam ruang hatinya. Namun pemuda itu menyukainya.
"Hei."
"Hn?"
"Tidakkah kau lapar? Aku sangat lapar."
Dan adegan yang sangat jarang terjadi di dalam rumah itu pun berakhir begitu saja. Cih. Bisa-bisanya gadis itu.
"Baiklah, aku akan membuat sarapan."
Yah, tidak perlu ditanya lagi bukan? Jika kalian penasaran mengapa Uchiha Sasuke tiba-tiba menawarkan diri untuk membuat sarapan, jawabannya adalah karena ia ahli. Jika dalam matematika nilai a sama dengan nilai b, maka itu juga berlaku pada pasangan serupa tapi tak sama itu.
Uchiha Sasuke sama dengan Uchiha Sakura.
Sesuatu yang tidak mungkin namun benar adanya.
Sudahlah.
Pemuda dengan model rambut yang sangat jarang itu menyibakkan selimut yang menyelimuti keduanya. Dengan beralaskan sandal rumah, Sasuke berjalan ke arah dapur yang biasa digunakan oleh istrinya untuk menyiapkan segala macam hidangan untuk mereka.
Rasanya sudah lama sekali ia tidak memegang peralatan dapur. Yeah, selama ini ia tinggal sendiri dan terpisah dari keluarga besarnya. Alasannya sangat klise. Ia hanya ingin mandiri dan hidup tenang. Maka dari itu ia pun diharuskan untuk dapat menangani semuanya sendiri. Termasuk menangani urusan perutnya.
Ngomong-ngomong, rasanya ia ingat suatu hal. Pemuda itu terdiam ditengah-tengah acara memasaknya.
Istrinya agak berubah. Apakah itu dampak kejadian kemarin yang ia tidak ketahui?
Tidak, tidak. Kalian juga pasti merasakannya.
Uchiha Sakura sedikit memiliki emosi dari sebelumnya.
Jarang sekali Uchiha Sakura membantah atau berkata hal yang tidak berguna walau itu kepada suaminya sendiri.
Tidakkah kalian penasaran?
Ah, maaf. Kalian pasti sudah sangat penasaran, ehehe.
Lagipula Uchiha Sasuke memiliki beberapa misi penting hari ini. Itulah mengapa ia meliburkan diri. Dan memastikan agar Sakura tetap berada di rumah adalah salah satu alasan dan juga keinginannya.
Ah, bagaimana bisa gadis itu mengontrol pikirannya dan membuat pemuda itu bingung setengah mati?
Ini tidak baik.
"Sasuke-kun?"
Ya, tidak baik. Seharusnya pekerjaan adalah nomor satu baginya. Hanya pekerjaan. Dan tidak ada yang lainnya. Ya, seharusnya begitu.
"Sasuke-kun!"
"Hn?" pemuda raven itu melirik ke arah gadis merah muda yang tiba-tiba saja berada di hadapannya. Sebuah meja mini bar memisahkan keduanya.
"Kau akan menghancurkan masakannya jika melamun seperti itu."
Benar, ia melupakan acara memasaknya. Lagi-lagi penyebabnya karena Uchiha Sakura yang memenuhi kepalanya. Uchiha Sasuke menghela nafasnya.
Kapan semua ini berakhir?
.
Banyak rahasia di dunia ini yang sebaiknya tidak diketahui.
Dan terkadang setelah mengetahuinya kau akan menyesal karena telah berusaha untuk mengungkapkan rahasia tersebut.
Namun, bukankah semuanya memiliki resiko masing-masing?
Jika kau melakukannya karena sebuah keharusan. Maka kau seharusnya siap dengan semua yang akan terjadi setelahnya.
Sama halnya dengan Uchiha Sasuke.
Cepat atau lambat ia harus mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak peduli itu hanyalah hal sepele ataukah sangat berarti besar untuk keduanya.
Uchiha Sasuke akan menerima apapun yang akan terjadi.
Tetapi, benarkah begitu, Uchiha Sasuke?
.
Dan akhirnya sarapan pagi yang tenang seperti biasanya berakhir tanpa percakapan.
Gadis beriris klorofil itu memandang aneh ke arah suaminya. Jujur saja, ia tidak pernah melihat Uchiha Sasuke melakukan kesalahan ketika sedang mengerjakan sesuatu. Apalagi melihat pemuda itu melamun entah memikirkan apa, sama sekali tidak pernah.
"Tidak biasanya kau melamun. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Uchiha Sasuke mengalihkan pandangannya dari piring ke wajah cantik milik Sakura. Ia berdehem pelan.
"Tidak ada."
Dan gadis itu pun tidak lagi menanyakan apapun kepada suaminya. Hanya saja ia paham. Mungkin karena dirinya mirip seperti suaminya. Jika pemuda itu bilang tidak, berarti memang tidak.
"Begitu? Baiklah," Sakura berdiri, salah satu tangannya sudah membawa piring yang ia pakai sebelumnya. Dan sesaat ketika ia hampir menyentuh piring milik Sasuke, tangan pemuda itu malah menahannya.
"Apa?"
"Biar aku saja."
"Tidak. Bisakah kau biarkan aku mengerjakan satu saja pekerjaan rumah? Aku sudah sehat, jangan memanjakan aku seperti ini," klorofilnya menatap tajam. Ia tidak akan peduli jika lawannya adalah iris kelam yang sangat jarang menampakkan sisi kelembutan itu. Selagi itu membuatnya seperti pengangguran, ia akan melawannya.
Poin penting yang sudah bukan lagi sebuah rahasia. Dan Sasuke seharusnya mengetahui hal itu. Karena ia dan gadis itu serupa.
Sakura benci berdiam diri.
Uchiha Sakura mencintai kesibukkan.
"Jangan melawan, Saku−"
Drrtt... Drrrtt...
"−cih."
Dan tangan itu akhirnya melepaskan lengan mulus Sakura, mengambil sebuah benda yang membuatnya mau tidak mau harus mengangkatnya.
Seharusnya Itachi atau ayahnya sudah tahu kalau ia tidak akan pergi ke kantor hari ini. Lalu siapa yang mendadak menelponnya? Apalagi di jam pagi seperti ini.
Hyuuga Neji calling.
Salah satu alis pemuda itu naik. Irisnya menatap datar layar ponsel pintarnya. Bukankah ini terlalu pagi? Lagipula ada urusan apa sampai-sampai seseorang yang tertera pada layar ponselnya harus menghubunginya?
"Moshi-moshi, ada apa? Bukankah kita baru bertemu kemarin?"
"Apa aku mengganggu aktivitas pagimu, Sasuke?"
"Tidak," ucapnya terpotong kala menatap istrinya yang berdiri di depannya dengan lengan baju tergulung. Seperti tahu apa maksud tatapan Sakura untuknya, Sasuke sedikit menjauhkan ponsel pintar miliknya dari telinga dan mulutnya, "Seorang kawan lama."
"Oh?" dan gadis itu kembali meluruskan lengan bajunya sambil berjalan menjauh dari tempat dimana Sasuke berada.
"Jadi, ada urusan apa kau menghubungiku?" tanya Sasuke kepada lawan bicaranya.
Namun memori kejadian kemarin kembali terulang dalam pikiran Sakura. Sebuah kalimat yang Sasuke lontarkan adalah pemicunya. Gadis tu terhenti tiba-tiba.
"Dia teman lamaku, apa kau terkejut?"
"Seorang kawan lama."
Klorofilnya membulat.
"Tidak."
Hanya saja ia tahu. Sakura tahu siapa orang yang sedang menghubungi Sasuke.
"Tidak..."
Dan reaksi Sakura membuat Sasuke harus kembali memandang gadis yang mematung tidak jauh dari tempatnya, "Kau kenapa?"
Tubuhnya menegang. Rasanya seperti kau ketakutan kala ingin memasuki rumah hantu.
Dan Sakura yakin, pemuda yang pernah bermain bersamanya di masa lalu benar-benar ingin menyampaikan semua rahasia miliknya yang terjadi di masa lalu kepada suaminya.
"Sakura?"
"Tidak, aku tidak apa-apa."
Sasuke menaikkan alisnya kembali. Sebelumnya gadis itu mematung dan berkata tidak berulang-ulang, kemudian setelahnya gadis itu malah melengos pergi begitu saja.
Kenapa istrinya menjadi semakin aneh seperti ini?
Kalian tahu mengapa?
"Sasuke, kau mendengarku?"
"Tidak. Jadi kenapa?"
Uchiha Sasuke kembali beralih kepada panggilannya.
"Kau tahu? Kemarin aku bertemu istrimu. Ia semakin cantik dengan kepribadiannya yang dingin seperti dirimu. Tidak seperti dulu."
Dalam diam Uchiha Sasuke mengepal telapak tangannya. Entah mengapa ia sangat tidak suka ketika lawan bicaranya mengatakan kalau istrinya cantik. Dan tunggu, apa maksudnya dulu?
"Apa maksudmu?"
"Aku lupa mengatakannya kemarin. Bagaimana kalau kita bertemu? Kau meliburkan diri bukan? Tidak akan menarik jika membicarakannya melalui ponsel."
Dan panggilannya terputus begitu saja.
.
Pemuda dengan surai cokelat panjang yang terikat di ujung itu menyesap aroma kopi hitam yang baru saja ia pesan.
Di kafe yang sama seperti mereka bertemu kemarin, Sasuke sudah datang dengan berbalut kaos hitam yang dilapisi jas putih. Begitu menemukan sosok yang ia cari, pemuda raven itu segera menghampiri dan duduk tepat di depannya.
"Kau ingin mengatakan apa?"
"Kau tidak ingin memesan dulu, Sasuke?"
"Tidak perlu. Jadi ada apa?" Sasuke menatap tajam iris cokelat milik Hyuuga Neji. Perkataan pemuda cokelat sebelumnya cukup membuatnya ingin menyelesaikan semua yang membebani pikirannya secepatnya.
"Seperti biasa, kau sangat to the point," Neji menaruh cangkir kopi hitamnya di atas meja. Senyumnya tampak meremehkan lawan bicaranya dan itu malah membuat Sasuke memutar bola matanya bosan, "Aku juga ingin menyelesaikan semua ini."
Hyuuga Neji berdehem pelan sebelum memulai ceritanya, "Uchiha Sakura, istrimu, dia seorang gadis yang sangat ceria, dia populer karena keramahannya, namun dia juga gadis yang lugu. Dan dulu dia pernah menjadi kekasihku."
Ya, akhirnya Sasuke mendapatkan sebuah jawaban atas semua pertanyaannya.
"Istrimu menyimpan rapat-rapat rahasianya, termasuk kepadamu. Rahasia kalau aku pernah menjadi kekasihnya, dan juga sebuah kejadian yang membuatnya berubah seratus delapan puluh derajat."
Sasuke tahu alasan mengapa Sakura menjadi berbeda dari sebelumnya. Sasuke tahu apa yang membuat gadis itu begitu stres.
"Dulu ia melihatku sedang mencium gadis lain. Aku ingat bagaimana wajahnya yang cantik menjadi tampak suram ketika melihat adegan itu. Dan keesokkan malamnya aku menemukannya sedang berada di club malam dengan seorang pria."
Jawabannya ada pada pemuda yang duduk dengan santai tanpa ada sedikitpun keresahan.
Semua ini karena pemuda itu.
Pemuda yang bernama Hyuuga Neji.
BRAKK!
.
Bisa dibilang Uchiha Sasuke adalah manusia yang langka.
Ada dua kategori manusia di dunia ini:
Pertama, manusia yang berguna. Dan kedua, manusia yang seperti sampah.
Jika anak gaul zaman sekarang mengatakannya, itu seperti: Pemuda baik hati dengan pemuda bajingan.
Dan sebenarnya ada satu kategori yang sangat jarang terjadi. Yaitu, manusia yang berguna tetapi pernah menjadi sampah.
Dan Uchiha Sasuke masuk ke dalam golongan ketiga. Golongan langka.
Tetapi mengenai masa lalu Uchiha Sakura, pemuda itu akan lebih memilih masuk ke dalam golongan pertama. Kenapa?
Mungkinkah karena kisah miliknya hampir serupa dengan milik gadis bersurai merah muda itu?
Kau tahu bukan apa yang akan Uchiha Sasuke lakukan kepada Uchiha Sakura?
Sebuah rahasia besar milik Uchiha Sakura yang akhirnya terungkap oleh Uchiha Sasuke.
Sebuah rahasia yang seharusnya tidak ada.
.
Tsuzuku
.
Catatan Penulis:
Yo, saya balik lagi. Saya bingung banyak hal buat menentukan kelanjutan dari cerita ini. Sempet buntu juga inspirasi saya. Dan parahnya, karena memasuki bulan puasa, saya jadi tidur pagi dan melek malam. Kehidupan saya terbalik hahaha!
Jadi saya minta maaf yang sebesar-besarnya untuk keanehan yang terjadi. Udah lama malah makin aneh lagi, maafkan saya!
Ngomong-ngomong makasih buat yang udah ngereview, fave, dan follow ataupun silent readers. Saya senang! Yang menggunakan akun silahkan di cek Pmnya ya! Dan yang tidak menggunakan akun akan saya balas di sini~
Guest: Hola, makasih udah mau nunggu~ Btw, padahal saya pikir penulisan saya cukup ngebosenin wkwk~ Saya masih SMA~ Dan... maksudnya tetangga sebelah itu ya artis korea, soalnya korea kan tetanggaan sama jepang. Lagian saya enggak tau detail Exo dan sejenisnya (Cuma sekedar pernah dengar), jadi mungkin cuma kebetulan aja '-' Eh iya, ini udah dilanjut!
Hyuuga Dekita: Hai, hai~ Makasih ya~ Panggil kakak juga boleh wkwk... Saya pasti bakal usaha keras biar cerita ini tetep bagus seperti yang kamu bilang! Btw, ini udah dilanjut!
HpO: Muehe, makasih udah nunggu~ Ini udah dilanjut ya!
Sari: Hai, makasih, pasti dihabisin kok. Ngereviewnya pas banget pas mau diupdate, jadi ini lanjutannya ya!
Sekian dari saya, saya minta maaf atas kekurangannya. Mohon bimbingannya, minna! Sampai jumpa di chapter depan!
Oh iya, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya! 'w')/
Review?
