Mata besar dan bengis itu menatapku dari kejauhan lebih tepatnya dari atap sekolah. Kalau kau bertanya bagaimana aku bisa tahu? Jawabannya, aku sudah hidup dengannya sejak aku kecil. Perasaan diawasi dan hawa dingin disekitar tengkukku mudah kurasakan ketika kakakku marah padaku.

Ya, dia sangat marah. Sudah sebulan berlalu dari hari pertama dia masuk ke sekolah ini. Semuanya baik-baik saja dalam kategori sandiwara di sekolah. Aku berpura-pura tidak mengenalnya bahkan ketika Jongin mem-bully-nya.

Tidak, dia tidak marah karena aku tidak menolongnya karena menjadi korban pem-bully-an Jongin. Pem-bully-an itu tidak ada apa-apanya dengan latihan yang dilakukannya di kamp militer – katanya – dan Jongin masih memikirkan reputasi sekolahnya jika ada berita tersebar dengan Headline majalah gosip "Seorang Siswa Mati di Tangan Pangeran Sekolah". Tidak, Jongin masih memiliki beberapa persen kepintaran yang diwarisi ibunya.

Dan apa yang dilakukannya di atap sekolah? Pertama atap sekolah memang tempat teraman dan perkumpulan para nerd di sekolah. Kedua tempat itu adalah tempat paling strategis untuk pengawasan.

Kembali ke topik, Kyungsoo hyung marah karena sikapku. Sikapku yang sangat-sangat berbeda 180 derajat di luar sekolah hanya dan hanya jika dihadapan Luhan – rekan kerjanya yang kutaksir –, Kyungsoo hyung menyadari perasaanku dan ia marah. Karena aku tak seharusnya menyukai Luhan, ntah alasan apa yang membuatnya melarangku.

Untuk yang kutaksir, mungkin Luhan itu bodoh atau tidak peka atau dia hanya menganggapku sebagai adik – itu adalah kemungkinan terakhir yang kuharapkan darinya – rekan kerjanya. Bahkan Baekhyun – dia klien Luhan dan Kyungsoo hyung dan menjadi pacar pura-pura Luhan untuk melindunginya dari ancaman yang tidak kuketahui – tahu kalau aku menyukai kekasih palsunya, dia sih mendukung dengan sedikit mencomblangiku diluar sekolah. Didalam sekolah, Luhan mutlak miliknya.

Disini aku terduduk di pinggir lapangan dengan sekaleng soda ditanganku yang bahkan rasa sodanya telah menghilang, hanya menonton Jongin dan Jongdae menggoda adik dan kakak kelas cantik atau membully murid nerd sebangsa Kyungsoo hyung.

Mataku hanya terfokus ke arah Luhan dan Baekhyun yang sedang duduk manis fokus pada buku-buku ditangannya, diseberang lain lapangan. Hubungan kekasih palsu mereka sangat realistis, mereka hanya duduk disana, bicara sepatah dua patah – dari gerak bibir mereka – tersenyum untuk satu sama lain tanpa skinship tapi terlihat sederhana, manis, dan mesra.

Oh Tuhan – aku sudah kehilangan hitungan sejak bulan lalu menyebut Nya – aku ingin diposisi Baekhyun hyung. Kapan tugas melindungi Baekhyun hyung selesai dan aku akan menyatakan isi hatiku.

Semakin lama, sedetik pun aku tak bisa melupakannya. Hatiku terus berlari mengejarnya, mengulurkan tangan kearahnya, bersikap manis, imut, manja bahkan melakukan hal bodoh hanya untuk mendapatkan perhatiannya tapi kenapa kau tak mengambil uluran tanganku?

Semakin lama aku semakin lelah, tapi perasaanku semakin kuat. Aku tak bisa terus menerus mengejarnya tapi aku juga tak bisa meninggalkannya.

Aku mencintaimu Luhan hyung.

Ini hanya halusinasiku atau memang tepat ketika aku menyatakan isi hatiku dalam hati, ia menoleh. Seperti mendengar ucapanku ia tersenyum. Tapi hanya sekedar tersenyum sebelum kembali fokus perhatian kepada Baekhyun.

Gah! Lebih baik kau tak perlu menoleh dan tersenyum padaku seperti tadi Luhan. Aku mulai menepuk dadaku keras-keras dan mengalihkan pandanganku darinya. Mataku mulai memanas, kenapa aku menjadi cengeng setelah mengenalnya dan aku paling membenci kenyataan bahwa aku lemah karenanya.

"Berhenti mencintainya Sehun." Ucapan Jongin membuatku menoleh kearahnya. "Kau hanya akan terus menyakiti dirimu."

Aku mendengus sebal terlebih lagi Jongdae melempar pandangan kasihan padaku. "Kalau aku bisa berhenti, aku tak perlu semenderita ini, bodoh."

Jongdae mendekat, wajah jeleknya hanya berjarak beberapa senti dari wajah tampanku. "Bagaimana kalau kau mulai kencan buta?" ide yang cukup cemerlang keluar dari otak Jongdae yang hampir tidak pernah terpakai "Aku bisa mengaturnya untukmu?"

Aku lelah, aku tak bisa terus mengejarnya dan terlebih lagi aku putus asa. "Baiklah" jawabku.

Dan disinilah aku, di sebuah restoran. Tempat yang kupilih secara acak karena tak bisa memikirkan tempat lain selain coffee shop. Aku menunggu kencan butaku di sudut ruangan sementara Jongin dan Jongdae duduk sangat jauh mengintaiku.

Aku tidak terlalu memerhatikan pintu masuk hingga cukup terkejut ketika seorang pria tinggi dengan rambut pirang yang sangat cocok dengan wajahnya yang bergaris tegas dan tampan menyamakanku dengan sebuah foto.

"Kau menunggu teman kencan bukan?" aku hanya mengangguk sedikit takjub dengan pria yang beratus-ratus kali lebih tampan dari Luhan sendiri. Ia duduk menyilangkan kaki dengan angkuh tapi menawan. Ia memesan kopi terlebih dahulu, dan kini aku harus kembali terpesona dengan suara dalamnya.

Ia menatapku dalam-dalam dan kami saling menatap dalam diam, hingga kopinya datang seakan mempelajari profil wajah masing-masing. "Kau anak bungsu?" aku mengangguk dan mulai menilainya dari atas dan bawah. Mempertimbangkan latar belakangnya dan segala yang berhubungan dengannya.

"Kau mencari kekasih yang bisa bermanja denganmu?" tanyaku sedikit senang, tidak heran dia menanyai posisiku dalam keluarga. Dia mengangguk pelan sembari menyesap kopi pahitnya. "Well, kalau kita cocok. Jangan khawatir, aku kekasih paling manja yang bisa kau temui."

Dia tertawa renyah. "Kau punya penglihatan yang tajam. Aku Yifan. 26 tahun."

"Sehun, 18 tahun." Umur bukan penghalang, Luhan saja 27 tahun.

"Kau masih sekolah?" di terlihat kaget namun merubah sikapnya menjadi lebih lunak. "Apa aku akan menjadi pedo?"

"Jangan khawatir, wajahku cukup tua untuk ukuran murid SMA. Tidak ada yang tahu kalau kau akan memacari anak dibawah umur." Aku merasa nyaman berbicara dengannya. Tidak seperti tampangnya yang dingin dan kaku. Dia cukup easy going dan tahu bagaimana harus bersikap dengan berbeda golongan. Dia pintar, tampan, atletis dan yang paling penting, pelarian yang terbaik.

Yifan kembali tertawa, "Kau benar. Aku bahkan tidak tahu kau murid SMA tadinya. Kau bersekolah dimana?"

"EXO High School." Wajahnya berubah drastis. Dan itu membuatku was-was. "Ada yang salah?"

Kini ia tertawa kaku, merasa tidak yakin dengan apa yang akan diutarakannya. "Aku akan menjadi kepala sekolahmu mulai minggu depan" kini aku menyemburkan bubble tea-ku dan tersedak parah.

Keadaan menjadi canggung, aku menundukkan kepalaku berpura-pura sibuk dengan pakaianku yang basah. "Kalau kau tidak nyaman, mungkin kau bisa melupakan kenyataan bahwa kita pernah bertemu di tempat ini sebagai teman kencan." Aku tahu maksudnya dan harus menyetujuinya. Rasanya aneh kalau menjalin hubungan dengan kepala sekolah sendiri, sekarang aku benar-benar merasa menjadi korban pedofilia.

"Yeah, kupikir kita bisa menyimpulkan kalau kita tidak cocok." Timpalku setidaknya harus ada yang memberi kesimpulan dari pertemuan kita. "Senang bertemu denganmu, pak." Canggung sekali mengucapkan kata itu.

Dia kembali tertawa kaku, "Ya, Sehun. Siapa nama lengkapmu?"

"Kim Sehun," aku berharap dia akan membantu nilaiku karena rasa bersalahnya. Tapi perubahan ekspresi wajahnya yang semakin kelam membuat harapanku pupus.

"Kim Sehun?" ulangnya menekankan kembali namaku seakan tidak percaya. "Kim Sehun?" aku mengangguk kembali was-was. "Oh my god!" desahnya panjang.

"Bisa kau memberi tahuku? Rasanya aku tertangkap dalam masalah besar" tanyaku kini yang memiliki perasaan kalut.

"Adik Kim Kyungsoo?" tanyanya lagi dengan ringisan ragu. Pertanyaannya seperti menghempaskanku ke lapisan bumi paling bawah.

Aku menyandarkan punggungku dan menatapnya tidak percaya. "Wah!" desahku kecewa bercampur kesal jika nama kakakku dibawa. Kenapa rasanya aku sangat terkenal dikalangan teman-temannya. "Kau partner kerjanya juga? Kau tahu, aku mulai membenci kakakku sendiri. Ini bukan pertama kalinya aku tertipu. Apa namamu benar-benar Yifan?"

"Yifan nama asliku. Kris kode namaku. Kevin nanti adalah kepala sekolahmu." Jelasnya sedikit terdengar bersalah.

Kris? Bukankah dia yang menginkanku menjadi kandidat? Ini kesempatanku."Kau tahu, ini sedikit menggelikan untukku? Aku pernah mencuri dengar dari pembicaraan Luhan dan Kyungsoo hyung kalau kau menginginkanku sebagai kandidat. Kandidat apa? Dan apa kau tak mengenaliku sebagai adik Kyungsoo dari awal kau melihat fotoku?"

Lagi-lagi wajahnya berubah. "Tidak baik mencuri dengar, Sehunnie. Aku tidak akan memberitahu kau kandidat apa, ini belum waktunya." Aku mengerang kesal. Hey, ini hidupku kenapa aku bahkan tidak tahu apa yang menantiku. "Dan soal aku tidak mengenalmu, memang aku tak mengenalmu. Aku bahkan tidak melihat profilmu sebagai kandidat. Kau hanya sangat terkenal di kalangan kami." Senyumannya sangat mencurigakan.

"Terkenal?" kupikir hanya aku yang merasa aku terkelan di kalangan mereka.

"D.O, kode nama kakakmu, dia sangat menyanyangimu. Dia bahkan menyerang satu angkatan kami dengan mata lesernya," aku tertawa, memang Kyungsoo hyung punya mata leser yang menakutkan. "ketika kami menemukan fotomu di lokernya. Dia sangat protektif padamu, karena itu kau mulai terkenal sebagai bahan godaan D.O"

"Apa karena aku terkenal disana, aku menjadi kandidat?" aku berhasil memancing Yifan, tapi dia cukup jeli dan langsung menghentikan ocehannya.

"Aku tidak tahu dengan jelas. Yang kutahu hanya ketua sudah melirikmu sebelum kami mengetahui fotomu dari loker D.O" kini aku mulai tertarik dengan permasalahan kandidat membingungkan ini. Kandidat apa aku ini? Yang jelas aku bukan kandidat untuk memiliki pekerjaan yang sama dengan Kyungsoo hyung.

"Apa mereka temanmu?" tanya Yifan menunjuk meja Jongdae dan Jongin dengan dagunya. Aku mengangguk tak acuh. "Jelaskan kepada mereka sebelum senin depan mereka terkejut."

"Aku justru bingung tidak mendengar perubahan kepala sekolah mulai minggu depan." Ujarku berhasil menarik perhatiannya. "Salah satu dari mereka, Jongin, adalah anak pemilik sekolah."

"Ah..skenario-nya, kepala sekolah yang sekarang kecelakaan Jumat besok. Aku hanya menggantikannya untuk sementara."

"Kau tahu Yifan hyung," dia tersenyum mendengar panggilanku untuknya. "Aku sangat membenci drama." Aku bangkit dan menunduk memberi hormat namun sebelum aku melangkah pergi, senyuman sedihnya berhasil menghentikanku.

"Apa salah satu dari kami telah menyakitimu?" tanyanya sendu dan pasti ekspresiku telah menjawab pertanyaannya. "Aku meminta maaf sebagai perwakilannya."

"Kau tidak perlu meminta maaf. Karena dari segi mana pun, tetap aku yang salah." Balasku dan pergi.