Kalau dipikir-pikir kau hanya orang asing dihidupku, tapi kenapa kau bisa menghancurkan hidup dengan jentikan jari? Hidupku menjadi berantakan, bahkan seluruh nilai-nilai bagus yang bisa kudapatkan karena otak jeniusku tanpa belajar sama sekali mengalami terjun payung.

Hanya karena seorang Xi Luhan.

Xi luhan yang bahkan mungkin tak mengingat seorang Kim Sehun hadir di dunia ini.

"Oh Shit" pekik Jongdae dan Jongin yang bersamaan membuatku menoleh ke sumbernya. Dan baru kusadari aku sudah berada di aula. Kini aku bahkan tak bisa fokus dengan sekitarku. Aku hanya mengikuti dua bocah yang mengeretku kemana pun mereka mau.

"Bagaimana bisa kencan buta Sehun jadi kepala sekolah kita yang baru?" desis Jongin mencengkram kerah kemeja Jongdae yang sama shock dengannya.

Aku mengikuti arah pandangan Jongdae dan tanpa sengaja mengeluar komentar singkat. "Oh..."

"What the hell?" seru Jongin dan Jongdae tak percaya.

"Dia kencan butamu seminggu yang lalu."

"Itu sebabnya aku tidak melanjutkan kencan buta itu." Jawabku singkat dan melirik ponselku sekilas. Satu jam waktu yang terlewatkan tanpa mengetahuinya. Screw you, Xi Luhan. Jika aku tidak bisa bersamamu setidaknya menghilanglah dari hidupku.

"Kau tahu dia akan jadi kepala sekolah?" sepertinya Jongdae yang bertanya dari suaranya yang melengking tapi dalam bisikan.

"Saat aku mengenalkan diriku masih bersekolah di EXO High School dia langsung memutuskan untuk tidak melanjutkan kencannya."

"Bagaimana bisa? Bukankah dia menjadi kepala sekolah karena menggantikan kepala sekolah lama yang kecelakaan Jum'at lalu."

Sepertinya aku salah bicara, mereka seharusnya tidak tahu. Apa yang harus kukatakan? "Itu hanya skenario supaya tidak terjadi kekacauan di bagian guru." Tiba-tiba itu yang terlontar dari mulut bisaku, yang sedikit memutar balikkan kenyataan.

"Benarkah?" sahut Jongdae seraya memincingkan matanya tidak yakin.

"Mungkin." Balasku kikuk.

"Masuk akal juga...Maksudku beberapa guru sudah tidak menyukai kepemimpinan kepala sekolah yang lama." Timpal Jongin menyakinkan kebohongan yang bahkan aku tidak yakin akan termakan. Yah setidaknya aku tidak akan dihukum oleh Kyungsoo hyung karena membocorkan posisi Yifan hyung.

Dan saat itu juga, sosok Luhan terlihat dalam jangkauan mataku. Oh Tuhan... andai aku bisa pindah sekolah saat ini juga atau setidaknya tidak masuk selama Luhan masih berada di sekolah. Tapi, itu sama saja membuatku drop out. Mengingat perkataan Kyungsoo hyung beberapa malam yang lalu saat aku merengek untuk dipindahkan.

Tugas mereka saat ini tidak diketahui untuk beberapa lama, keadaan Baekhyun masih terancam jika diketahui. Sekarang aku tahu kalau Baekhyun ternyata putra Menteri Pertahanan yang selamat dari kecelakaan beberapa bulan yang lalu.

Aku memang mengingat sebuah berita tentang kecelakaan putra Menteri Pertahanan tapi dalam berita itu sang Putra – Baekhyun – dinyatakan meninggal. Kenapa Baekhyun harus disembunyikan? Itu yang masih dirahasiakan oleh Kyungsoo hyung, dia bilang itu bukan urusanku. Dan memang bukan urusanku. Urusanku hanya Xi Luhan yang bahkan tak menganggapku ada.

Ibu kenapa putramu ini harus mengalami cinta yang sulit untuk cinta pertamanya? Kenapa hal ini terjadi padaku? Tidakkah Tuhan bisa memberikan cinta pertama yang mudah untuk didapatkan dan dilupakan? Kenapa harus Xi Luhan yang menjadi cinta pertamaku selama 18 tahun ini? Tidakkah cinta pertamaku terlalu terlambat? Jongin jatuh cinta pertamanya saat dia 10 tahun, Jongdae 12 tahun kenapa aku harus berumur 18 tahun untuk tahu bahwa rasanya jatuh cinta itu sakit!

'Kau tahu kenapa banyak orang yang mengatakan cinta pertama itu sulit dilupakan? Itu karena mendapatkannya juga sangat susah.' Kalimat Jongin kembali teringat di kepalaku, rasanya aku ingin menonjok wajah tampannya sekarang juga, kebetulan juga dia sedang duduk disampingku. Tapi rasanya tolol sekali memukul temanmu hanya karena cintamu bertepuk setengah tangan.

I hate my self! Why it has to be him?

"Kau baik-baik saja, Sehun?"

Suara itu, suara Luhan. Aku menoleh dengan cepat dan menyadari bahwa aku berada di toilet lantai dua. Hanya berdua dengannya. Jangan tanya bagaimana aku bisa disini bersamanya? Aku bahkan tak sadar sudah berada di toilet.

"Akhir-akhir ini kau selalu terlihat melamun. Kau punya masalah?" Punya! Masalahku itu dirimu. Kau tidak menyadari sikap-sikapku ditambah lagi Kyungsoo hyung tidak menyukai kenyataan kalau aku menyukaimu.

"Hei kau melamun lagi!" Aku tidak melamun, aku menatap wajahmu yang tanpa cela itu. "Aku bisa mendengarkan ceritamu, jika kau mau berbagi. Mungkin aku bisa menolongmu."

Bagaimana aku bisa bercerita padamu kalau aku mencintaimu? Aku tidak punya keberanian itu ditambah lagi posisimu yang sedang menyamar.

"Sehun kenapa kau menangis, eoh?" aku dibuat terkejut dengan sikapnya. Tangannya yang lembut menangkup wajahku dan kedua ibu jarinya mengusap pipiku yang telah basah tanpa kusadari. "Katakan saja. Aku bisa menyimpan rahasia rapat-rapat jika kau ingin aku menyimpannya."

Aku menggeleng lemah dan melepas kedua tangannya dengan enggan. "Tidak, aku baik-baik saja." Tidak, aku sangat tidak baik! "Hyung, ada toilet untuk siswa kelas tiga di atas. Kenapa kau perlu turun ke bawah?"

"Oh, itu..." ucapnya terdengar tidak rela untuk mengalihkan topik. "Aku dan D.O sepakat untuk membuat toilet lantai dua sebagai tempat pertemuan. Setidaknya hal itu tidak terlalu mencolok perhatian untuk murid kelas satu naik ke lantai tiga hanya untuk memakai toilet atau sebaliknya lagi pula naik turun tangga juga melelahkan dan kami juga hanya bisa berkomunikasi secara langsung selama pelajaran berlangsung. Itupun juga tidak terlalu lama."

"Oh...kalau begitu aku kembali ke kelas, hyung." Ujarku pelan dan tidak tertarik, dengan langkah berat aku meninggalkan tempat itu. Dan cukup terkejut ketika mendapati Kyungsoo hyung bersandar di samping pintu masuk melirikku dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

Tidak ada yang bisa diucapkan, aku hanya melewatinya tanpa nyawa kembali ke kelasku yang ramai. Aku menghempaskan diriku ke kursi keras disamping Jongin dan langsung menelungsupkan wajahku di lipatkan tanganku. "Nanti malam biar aku yang turun." Ujarku pelan namun masih bisa terdengar oleh Jongin dan Jongdae.

"Biar Jongdae saja yang turun ke jalanan. Kau istirahat saja." Tolak Jongin yang terdengar khawatir. Aku tidak butuh simpati kalau kalian tidak bisa membuatnya menjadi empati. "Kau punya kantung mata tebal yang mengerikan."

"Tidak punya pun , dia tetap tidak memperhatikanku." Balasku jutek, "Aku turun malam ini, itu keputusan bulat, titik."

Matahari rasanya bergulir dengan lambat hari ini, aku tidak pulang ke rumah dan langsung ke rumah Jongin. Aku punya pakaian yang sengaja kutinggal disana lengkap dengan peralatan tidur jika aku menginap. Rumahnya tidak berbeda jauh dari rumahku, sepi karena orangtua yang sering berpergian tapi perbedaannya tidak ada Kyungsoo hyung yang bisa-bisa pulang lewat jendela kamarku dilantai dua dengan memasang muka garang dan mematikannya.

Tidak, karena Jongin anak tunggal yang berarti dia tidak akan diganggu oleh kakak yang menyebalkan dari kecil. Kadar menyebalkan Kyungsoo hyung meningkat 50% semenjak ia menentang perasaanku yang bahkan belum ku utarakan.

"Sehun-aaaahhh..." teriakan dari beberapa pembalap jalanan wanita membuatku kembali tersadar kalau aku sudah berada di daerah race wars. "Minum?" tanyanya sembari menawarkan sebotol cairan menyengat yang sudah lama tidak kusentuh.

Dengan senyuman menawan aku menerimanya dan mulai terlarut dengan dunia malam yang sebenarnya. Sudah beberapa malam aku melewatkan hal seperti ini, hari ini aku hanya ingin bebas dan melupakan Luhan sejenak.

Jongdae dan Jongin bahkan sudah tak terlihat kembali, mungkin mereka sudah bermain dengan beberapa wanita dan memulai perlombaan. Ntahlah, aku tidak peduli. Aku hanya akan minum malam ini. Tidak peduli lagi dengan keputusan untuk turun ke pertandingan nanti. Aku masih punya pikiran untuk tidak menyetir di bawah pengaruh alkohol, setidaknya aku belum mau mati konyol.

Kepalaku mulai terasa sakit ditambah lagi suara memekakan dari music yang diputar DJ yang bahkan tidak bisa mengkomposisi lagu. Entah sudah berapa botol yang kuminum, aku kini tidak merasakan rasa sakit dan menyesakkan di dadaku. Rasanya amat sangat lega sekali.

Oh shit, aku perlu pergi dari tempat ini. Lagunya semakin membuat kepalaku sakit. Akan kusuruh Jongin memecatnya besok pagi dan memastikannya tidak diterima dimana-mana. Permainan DJ-nya payah. Kenapa juga Jongin memakainya sebagai DJ?

"Sehun?"

Oh God, kenapa aku harus mendengar suaranya bahkan ditempat ini. Aku sudah tidak berada disekolah ataupun di toilet. Kenapa aku harus mendengar suaranya. Kim Sehun, kau benar-benar sudah jatuh kedalam pesonanya. Kini kau bahkan berhalusinasi kalau dia ada dihadapanmu.

"Sehun! Kau mabuk?" tanya halusinasiku.

"Apa kau tolol? Kau pikir aku mabuk? Tentu saja tidak, aku sadar 100% tolol." Balasku mulai memakinya dan tiba-tiba ada rasa sakit menyerang bokongku. Sejak kapan aku berada dilantai?

"Sehun, kau mabuk." Kenapa dia tiba-tiba terdengar marah?

"Apa pedulimu?" teriakku mencoba melepas rangkulannya yang mencoba membawaku pergi. "Pergi! Kau hanya halusinasi! Kau pria tolol, bodoh, tidak peka dan membuatku muak. Kenapa kau ada dimana-mana?"

"Berhenti mengoceh Sehun."

"Jangan mendesis seperti ular. Lepaskan aku! Kau mau bawa aku kemana? Aku membencimu! Aku membencimu!" Aku terus meronta ketika halusinasi Luhan itu seperti memenjarakanku dalam rangkulannya dan mencoba menyeretku pergi dari surga dunia dan pengalih perhatian terbaikku.

"Ow!" dia menjerit kesakitan ketika sikuku mengenai wajahnya. Rontaanku langsung terhenti dan menatapnya bersalah.

"Maaf, aku tak bermaksud menyakitimu. Aku minta maaf." Racauku sambil mengusap wajahnya penuh penyesalan. "Maafkan aku.."

"Sehun! Berhenti menangis! Kau tidak melukaiku. Aish, tingkahnya semakin aneh kalau mabuk." Ibu, ayah! Ternyata sikapku selama ini dianggap aneh olehnya. Pantas saja dia tidak menganggapku. Hyung, kenapa kau tak bilang kalau sikapku kepadanya itu aneh. "Sehun, kenapa tangisanmu semakin keras?"

Aku tidak tahu kemana dia menyeretku. Aku hanya bisa menangis karena ternyata sikapku dianggap aneh olehnya. Aku memang bukan ahli dalam urusan cinta tapi mengapa tingkahku harus menjadi aneh. Aku tidak tahu seberapa lama aku menangis dan kemana ia membawaku bersamanya? Yang kutahu, tubuhku menjadi lemas dan mataku menjadi perih dan berat.