Rasa mual yang teramat sangat berhasil membuatku tersadar, hingga tiba-tiba saja sebuah baskom telah disodorkan di hadapanku bersama dengan tepukan menenangkan di punggungku. "Muntahkan saja." Suara itu milik Kyungsoo hyung. "Setelah ini kau harus sarapan."
Aku mengikutinya dan memuntah seluruh isi perutku. Setelah itu aku menyadari, aku tidak berada dikamarku ataupun kamar Jongin. Ini tempat asing dengan belasan kasur tingkat.
"Ini kamp pelatihan, kalau kau bingung." Ujarnya menjelaskan.
"Kenapa aku disini? Bukankah aku semalam di race wars?"
"Luhan membawamu kesini karena tidak tahu rumah kita." Luhan? Bagaimana ceritanya Luhan ada di race wars. "Tenang saja, kau tidak mengungkapkan isi hatimu karena kau terlalu fokus menangisi perasaanmu dan jatuh pingsan. Kenapa kau selalu pingsan atau tertidur setelah menangis?"
"Aku menangis? Kenapa? Dan bagaimana Luhan ada di race wars?"
"Kau tidak mengingat apapun?" aku hanya menggeleng. "Kau mabuk?" Terimakasih Tuhan aku tidak mengoceh tentang perasaanku. Setidaknya aku hanya harus menanggung malu karena mabuk dihadapannya. Bukan karena aku mencintainya.
Kyungsoo hyung membantuku berdiri dan mengikutinya melalui koridor-koridor gelap dan mengerikan menuju kantin yang terasa sangat jauh. Belum terhitung teriakan-teriakan yang entah berasal dari hantu atau manusia. Jika aku adalah kandidat untuk hal seperti ini, aku akan lebih memilih menggantung leherku di langit-langit.
Ketika Kyungsoo hyung membukakan pintu dan menarikku untuk berjalan di depannya untuk mengantri mengambil makanan, aku bisa merasakan puluhan pasang mata menatap kami dan perubahan tatapan Kyungsoo hyung yang mendingin beberapa minus derajat celcius.
Kami tidak berbicara sepatah kata pun sampai Kyungsoo hyung menggiringku duduk di meja yang hanya beberapa orang makan disana. Tanpa suara aku menyendok makanan yang sangat tidak enak itu kemulutku.
"Makan saja dan jangan mengomel." Sela Kyungsoo hyung tepat ketika aku akan protes. Dengan setengah hati aku mengambil makanan itu sedikit-sedikit. Aku tak mau berakhir disini kapanpun jika waktu kandidat-kandidatan itu datang.
"Aw...bahkan cara makannya saja sangat imut." Ucapan itu berhasil membuatku menoleh kesumbernya dan menemukan seorang pria atletis menatapku mengejek atau mengejek Kyungsoo hyung yang sudah melemparkan mata lasernya.
"Makan saja makananmu. Apa kau lupa peraturan saat makan, hah?" suara Yifan menceletuk dari jauh seraya melemparkan tatapan dingin dan berjalan menuju meja kami.
"Dia Yifan, rekan kerjaku..."
"Dia sudah tahu D.O ah" sela Yifan sambil mengedip genit kearahku, aku hanya tersenyum jahil membalasnya.
"Kalian sudah mengenal satu sama lain?" kini Luhan yang bergabung di meja kami, membuat perasaanku yang baik-baik saja menjadi bergejolak.
"Hm, dia mantan kencan butaku." Aku, Kyungsoo hyung dan Luhan seketika berhenti ketika Yifan mengatakannya dengan santai. Tidakkah ia tahu kalimat itu sangat sensitif untukku? Tentu saja dia tidak tahu. Atau semua pria di kamp pelatihan memang tidak peka untuk urusan seperti ini.
"Hyung..." panggilku pelan kepada Kyungsoo hyung yang langsung memberi isyarat untuk diam.
"Aku turut berduka cita jika kau sampai melakukannya sejauh itu." Ucapnya penuh sarkasme bercampur simpati tak tulus.
"Ada yang salah dengan adikmu, D.O ya" sambung Luhan.
"Berhenti bicara, Luhan. Kau hanya membuat keadaannya semakin memburuk." Sela Kyungsoo hyung yang mendapatkan tatapan bingung dari Yifan dan Luhan yang tentunya tidak tahu kalau memang suaranya saja sudah membuat dunia kacau balau. Tapi Kyungsoo hyung hanya berfokus pada makanannya meskipun bicara padaku secara tersirat didepan kedua orang itu.
"Kau hanya sakit hati kalau terus mencintainya. Percayalah padaku, aku mengenalnya sejak awal dan dia brengsek. Kau masih terlalu dini untuk tahu yang sebenarnya." Aku sejujurnya tak mengerti, begitu pula dengan Luhan dan Yifan yang pastinya buta total. Tapi aku tidak bisa begitu saja menyetujuinya atau percaya. Jika memang Luhan kategori brengsek, aku harus melihat buktinya. "Kalau kau tidak menghabiskan makananmu, aku akan mengantarmu pulang sekarang."
Aku tidak peduli dengan makanan ini, meskipun di kamp kau harus menghabiskan makanan. Tapi aku bukan peserta kamp dan tidak terikat dengan peraturannya. Yang kupedulikan hanya kalimat Kyungsoo hyung yang mengusik hatiku. Sebrengsek apakah Luhan hingga Kyungsoo hyung tidak menyetujui perasaanku dan menentangnya?
"Sehun," sentuhan dilengan menyadarkanku kalau aku kembali melamun dengan menunduk. Kyungsoo hyung telah menghilang, mungkin keluar bersiap-siap sedangkan Yifan menatapku khawatir sementara Luhan yang menyadarkanku. "Aku tidak tahu masalah apa yang kau hadapi? Tapi jika Kyungsoo bilang dia tidak baik untukmu, sebaiknya kau menuruti perkataan hyungmu."
Desahan panjang keluar dari bibirku, aku tertawa keras mendengar ucapannya. Yang disinggung Kyungsoo hyung itu kau, Xi Luhan. Kau mengatakannya seakan kau setuju dirimu itu sesungguhnya benar-benar brengsek. Aku menatapnya dengan genangan disudut mataku. "Entahlah, aku belum pernah melihatnya menjadi brengsek." ujarku sembari bangkit dan meninggalkan kantin.
Sebenarnya masih ada setengah jam lagi untukku bersiap-siap berangkat sekolah, meskipun aku terlambat, siapa yang mau menegurku? Tapi ketika aku kembali ke rumah. Tidak ada orang sama sekali. Sepertinya ibu dan ayah pergi terburu-buru karena makanan di meja makan masih tergeletak begitu saja.
Dengan malas aku mulai membersihkan meja makan, perasaanku campur aduk dengan perkataan Kyungsoo hyung. Aku mengerti jika Kyungsoo hyung tidak ingin adiknya terluka karena sahabatnya yang menurutnya brengsek. Aku tidak akan menampik kalau aku sedikit menyetujui Kyungsoo hyung karena bagaimana juga ia lebih lama mengenal Luhan. Tapi aku juga tidak bisa membohongi hatiku sendiri.
Sebrengsek apapun seseorang yang kau cintai, dia akan tetap terlihat baik dimatamu.
Akhirnya aku memutuskan untuk keluar sendirian, mengingat Jongin dan Jongdae yang masih disekolah. Aku bisa saja memanggil mereka untuk bolos tapi rasanya aku akan menjadi teman yang jahat jika mengajak sahabatku untuk mendengar keterpurukanku.
Udara pagi menjelang siang masih terasa segar di sekitar taman kota. Anak-anak kecil yang bermain dihadapanku mau tidak mau membuatku tersenyum melihat tingkah lugu mereka. Aku membiarkan isi kepalaku kosong memandang pasukan pembuat onar itu membuat guru penjaga mereka kewalahan hingga sebuah tepukan di bahuku membuatku menoleh.
Baekhyun hyung dengan seorang wanita disisinya yang terlihat sangat lengket tanpa melakukan skinship. "Apa yang kau lakukan disini?"tanyanya dengan senyuman yang sangat lebar. "Kau bolos juga."
Ia duduk disebelahku sembari mendorongku untuk memberikan tempat untuk wanita itu. Menyadari mataku tak lepas dari wanita itu, Baekhyun menyadari kebingunganku. "Kekasihku diluar sekolah."
"Baekhyun – ssi," tegur wanita itu yang terlihat kaget dengan kejujuran Baekhyun.
"Its okay, dia adik Kim Kyungsoo dan sudah tahu posisiku." Balasnya mencoba menenangkan wanita itu. "Dan apa yang kau lakukan disini? Melamun seperti orang bodoh." Aku hanya mencoba tersenyum namun yang terpampang malah ringisan kecil. "Luhan hyung?" tebaknya, aku mengangguk kecil.
"Dia malah menganggap semua sikapku sebagai keanehan dan dia semakin menganggapku aneh ketika semalam ia menemukanku mabuk." Ujarku pelan, mencoba memulai sesi curahan hati. "Aku cukup bersyukur aku tidak meracau tentang perasaanku. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya jika hal itu terjadi."
"Aku malah mengharapkan kau mengoceh saat mabuk." Perkataannya membuatku tersentak dan menatapnya bingung. "Dengan begitu ia akan merespon, bagaimana pun Luhan hyung sudah dewasa. Ia pasti tidak akan membiarkan seseorang yang mempunyai perasaan padanya terkatung-katung."
"Jika ini Xi Luhan yang kalian bicarakan? Aku tidak yakin," wanita itu tiba-tiba bersuara. "Namaku Taeyeon, kau bisa memanggilku noona. Kalian bicara tentang Xi Luhan,bukan?"
"Dia benar-benar brengsek?" tanyaku.
Dia mengeryitkan alisnya heran. "Kau sudah tahu dan masih menyukainya. Kurasa kau benar-benar cinta buta kepadanya." Jawabannya membuatku membatu. Jadi benar dia brengsek, tapi kenapa aku masih tidak percaya. "Xi Luhan dikenal dengan kemampuannya untuk merayu saat melakukan misi. Ia bisa menakhlukan wanita ataupun pria dengan mudah tapi dengan mudah pula ia membunuh mereka untuk menghilangkan saksi mata atau bukti."
"Tapi sifatnya itu tidak hanya untuk dunia kami, dia juga melakukannya dalam dunia pribadinya." Tambahnya sedih. "Kau tak seharusnya jatuh dalam pesonanya. Dia benar-benar brengsek secara teknis maupun harfiah."
"Tapi..." aku tak mampu melanjutkan kalimatku. Rasanya percuma juga membela pria yang bahkan tidak tahu kalau aku menyukainya dan terlebih lagi dia memang benar-benar brengsek.
"Aku tahu kau mencintainya. Tapi ini saran dari seseorang yang sudah mengenal Luhan sejak lama, berhentilah mengejarnya atau mencintainya. Jika kau bukan adik D.O, mungkin saja hidupmu sudah hancur sejak seminggu yang lalu."
Aku mendengus meremehkan ucapannya tanpa dia campur tangan secara langsung terhadap hidupku. "Aku sudah berantakan lebih dari seminggu, noona."
"Err, Sehun." Dia menghentikan kalimatnya dan berbalik ke Taeyeon, sedikit kesal. "Kenapa kau harus memberitahu Sehun di depanku? Sekarang aku tidak bisa memandang Luhan hyung dengan sama lagi. Dia sedikit membuatku takut sekarang." Taeyeon hanya mengedikan bahunya, tidak peduli dan Baekhyun kembali menoleh padaku. "Aku setuju dengan Taeyeon noona, berhenti mencintainya. Cari pria lain, suruh teman-temanmu mencari teman kencan untukmu,"
"Aku berakhir ditinggalkan oleh hampir seluruh teman kencanku ketika berulang kali memanggil nama mereka dengan Luhan." Sahutku malas sembari mengingat seluruh kencan butaku.
"Aku sayangnya sedang bersembunyi, jika tidak aku akan mengantarmu menemui teman-temanku."
"Aku tidak yakin, mungkin mereka akan kembali meninggalkanku karena nama Luhan."
"Sehunn.." ujar Baekhyun sedikit merajuk tapi sebelum Baekhyun kembali melanjutkan kalimatnya. Taeyeon segera menariknya pergi, meninggalkanku dengan wajah bengongku.
Tidak yakin dengan apa yang mungkin sedang terjadi, aku mencoba untuk tak acuh dan berjalan mengikuti jalan setapak yang memutari taman hingga kaki lelah dan kerongkongan keringku berteriak minta di basahi.
Setelah memesan bubble tea di sebuah cafe, pesan dari Jongin menyambangi ponselku. Dia memintaku untuk datang ke rumahnya. Dengan emoticon red devil, mungkin dia akan menginterogasi karena menghilang dari race wars dan tidak hadir di sekolah.
Sembari membalas pesan Jongin dengan alasan tidak masuk akal yang semakin memancing kadar kemarahan Jongin dan Jongdae yang pastinya sedang duduk disampingnya menungguku membalas pesan mereka, aku menuju mobilku yang terparkir di balik cafe ini.
Malas memutari pertokoan, aku memutuskan melewati jalan belakang cafe. Jalanan ini memang biasa kulewati karena aku sering memarkir mobil bertolak belakang dari cafe yang menjual bubble tea. Namun ketika hampir melewati perempatan dari 4 bangunan sebuah tong sampah melayang begitu saja mengenai pergelangan tanganku yang menggenggam ponsel hingga terlempar.
Sepertinya pergelangan tanganku cedera, rasanya begitu sakit bahkan aku tak bisa menggerakkannya. Mencoba tidak peduli dengan rasa sakitnya, aku mengalihkan perhatian dan menemukan Taeyeon dan Baekhyun sedang berkelahi dengan 4 orang pria.
Taeyeon dan Baekhyun terlihat terkekung dan tak bisa lari keluar dari gang. Tentu saja aku tak bisa membiarkan orang yang kukenal berakhir babak belur atau lebih parah lagi – karena ini Baekhyun, putra Menteri Pertahanan yang sembunyi serta Taeyeon yang notabene adalah bodyguard tidak bisa berbuat banyak – mungkin saja dibunuh dan pergi begitu saja.
Tidak, tentu saja tidak. Aku berlari mendekati mereka dan memberikan beberapa tendangan kepada 2 pria yang sedang lengah karena berpikir mangsa mereka sudah tidak mampu berbuat banyak. Serangan mendadak itu digunakan Baekhyun melumpuh satu musuh sementara Taeyeon segera menghajar balik 2 pria yang menargetkan Baekhyun.
Aku masih berkutat pada satu pria karena ilmu beladiriku memang tak sehebat Jongin yang bahkan hanya petarung jalanan. Butuh beberapa menit sebelum aku berhasil menghajar kepala pria yang bertarung denganku hingga ia tidak bisa bangkit lagi dan berlari membantu Taeyeon yang mulai kewalahan melawan 2 orang sendirian.
Baekhyun terlihat baik-baik saja, terbukti dia sedikit bermain dengan lawannya baru melumpuhkannya. Sekarang hanya tersisa 2 orang yang kulawan bersama Taeyeon, tidak perlu waktu lama suara kokangan senjata terdengar dengan dibuktikannya datangnya Kyungsoo hyung dan Luhan di ujung jalan.
Dua pria itu segera membatu, membuatku menyingkir dan merapat kedinding bersama Baekhyun. Dalam keadaan seperti ini pun, aku masih melihat Luhan dan terpesona. Terlebih lagi, dia terlihat manly mengenakan vessel anti peluru dan sebuah senjata ditodongkan ke dua pria itu sembari berjalan dengan waspada bersama Kyungsoo hyung yang terlihat biasa saja – biasanya aku memuji Kyungsoo hyung dalam hati ketika melihat ia memamerkan kemampuan di rumah – yang berjalan dibelakangnya.
Beberapa senjata laras panjang mengarah ke dua orang pria itu dari atas bangunan ketika aku mendongak dan memperhatikan kalau Yifan ada di atas sana memperhatikan kami semua. Aku sedikit tersentak ketika Baekhyun menarikku keluar dari lingkungan sana bersama Taeyeon yang berjalan tertatih. Pasti dia terluka saat melawan dua orang sendirian.
Kami melewati pria yang kulawan tadi, ia tidak bergerak membuatku sedikit tenang. Namun ia tiba-tiba bangun dengan menodongkan pisau yang digunakannya untuk melawanku tadi ke arah Baekhyun. Dengan keterkejutan ditambah refleks yang payah aku menarik tangan pria itu dan memelintirnya, namun posisiku diubah begitu mudah hingga aku terbanting ke tanah.
Suara denging tiba-tiba menyerang telingaku hingga aku memejamkan mata, ketika aku membukanya, pria itu sudah kembali mengacungkan pisau itu ke Baekhyun. Dengan menahan rasa sakit belakang kepala dan punggungku, aku menarik kerah baju pria itu. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, yang kutahu ada percikan darah dari balik leherku dan suara tembakan dilepaskan hingga pria itu jatuh terkulai begitu saja dihadapanku.
Tiba-tiba saja pandangan mataku mulai mengabur, dan sepertinya Baekhyun menjerit histeris namun suaranya terdengar tidak jelas. Kakiku terasa lemas hingga aku mengalah dan mulai menjatuhkan diriku. Tapi Luhan dan Kyungsoo hyung menangkapku dari belakang, memanggil namaku seperti kaset rusak, memintaku untuk bertahan.
Tapi bertahan dari apa? Aku tidak tahu dan hanya memandang wajah Luhan yang terlihat khawatir. Wajahnya tetap tampan dan mempesona meskipun mengerutkan dahinya seperti itu, aku tetap memandangnya sebelum mataku terasa berat dan menutup.
