Maybe, Fight!

Chapter 2

"When your love in danger. Let him die or you fight for protect!"

...

Mendengar pintu toilet yang dibuka dengan kerasnya membuat Baekhyun serta Chanyeol menoleh kearah sumber suara.

"Apa yang kau lakukan pada pacarku?!"

Seorang siswa tinggi dengan rambut pirangnya berdiri diambang pintu menatap penuh selidik kearah Chanyeol. Chanyeol tahu siapa siswa itu, dia tak pernah ingin bermain api dengannya atau nyawanya akan melayang ditangan kekarnya.

Segera ia menjauhkan tubuhnya dari Baekhyun dan melangkah melewati siswa tinggi tersebut tanpa menjawabnya.

"Apa dia menyakitimu?"

"Tidak." Jawab Baekhyun singkat tanpa minat.

"Lalu?"

"Kenapa kau bisa berada di sekolahku?" Bukan menjawab, Baekhyun justru melempar balik sebuah pertanyaan.

"Aku dengar sekolahmu dan sekolah Yeong-San bertempur, sayang sekali kau tidak memberitahu diriku." Siswa pirang itu menanggapi pertanyaan Baekhyun.

"Untuk apa aku memberitahumu?" Baekhyun menatap siswa pirang itu dari cermin besar di depannya.

"Tentu saja aku akan membantumu menghabisi mereka semua, aku ini pacar yang baik bukan?" Siswa pirang itu kini memeluk pinggang Baekhyun dan meletakkan kepalanya dibahu Baekhyun.

"Kris lepaskan, sebaiknya kembalilah ke sekolahmu." Baekhyun mencoba melepaskan pelukan siswa pirang yang di panggilnya Kris itu dari pinggangnya, namun Kris justru membalikkan tubuh Baekhyun agar menghadapnya dan memaksa mencium bibir Baekhyun.

Baekhyun dalam mood buruk setelah perkelahian berapa menit lalu, dia dengan geram menjambak rambut Kris dan ciuman mereka terlepas.

"Hei baby...ada apa denganmu? Tidak biasanya kau menolak ciumanku." Kris tidak marah, ia hanya sedikit kesal jika permintaannya ditolak oleh kekasihnya. Meski faktanya Baekhyun tak pernah ingin berpacaran dengan pria blonde keturunan Chinesse-Kanadian seperti Kris, namun karena Kris selalu mengancam akan menghabisi Chanyeol jika Baekhyun menolaknya, maka dengan terpaksa Baekhyun mengalah.

Baekhyun juga sebenarnya sangat membenci orang-orang mesum semacam Kris yang tidak tahu tempat jika hasratnya sudah liar.

"Kumohon kembalilah ke sekolahmu, aku benar-benar tidak ingin melakukannya hari ini. Mengertilah Kris."

Apa mau dikata, jika Baekhyun mengatakan tidak maka selamanya tidak. Kris mendengus kesal, ia hanya mencium pipi kanan Baekhyun sebelum kemudian pergi meninggalkannya.

Yang dicium dengan kasar mencuci wajahnya yang perih menjadi semakin perih. Ntah mengapa Baekhyun tak sudi diperlakukan seperti itu, mungkin hanya Chanyeol yang akan ia biarkan menyentuhnya, meski faktanya ia sudah ditolak sebelum menyatakan cinta pada si playboy itu.

...

Hari ini kabar membahagiakan datang dari kepala sekolah. Beliau mengatakan bahwa Yeong Group akan melakukan camping besar-besaran untuk merayakan hari ulangtahun berdirinya tiga sekolah besar tersebut. Para murid Yeong-Il—Sekolah Chanyeol dan Baekhyun, Yeong-San—sekolah Choi Hanbin yang pernah berkelahi dengan sekolah Baekhyun dan Yeong-Gu—sekolah Kris pacar Baekhyun. Dengan total kurang lebih limaribu murid akan dijadikan satu dalam perkemahan kali ini. Semua murid besemangat kecuali Baekhyun yang terlihat sama sekali tidak tertarik.

Chanyeol dan kedua sahabatnya justru saling melirik.

"Kita taruhan!" Ujarnya dengan semangat.

"Jika salah satu dari kalian berhasil mengencani murid populer dari Yeong-Gu di perkemahan ini akan ku traktir kalian makan sepuasnya selama seminggu." Chanyeol tersenyum lebar dan meletakkan tangannya diatas meja.

Para murid dari sekolah Yeong-Gu rata-rata adalah pindahan dari beberapa negara, seperti Jepang, Kanada, China, bahkan Amerika. Itu mengapa banyak murid populer yang tampan dan juga cantik yang banyak di incar oleh murid dari sekolah lain.

"Aku setuju." Jongdae mengulurkan telapak tangannya diatas telapak tangan Chanyeol tanda menyetujujui. "Aku akan berikan bebek plastik kesayanganku."

"Maaf aku tidak tertarik dengan barang murahan tuan Kim Jongdae." Chanyeol pura-pura mengejek, ia tahu Jongdae sangat mencintai bebek plastik berwarna ungunya.

"Kalau begitu siapapun yang berhasil mengencani murid populer dari sekolah itu akan mendapat traktiran makan gratis selama seminggu, bagaimana?" Jongdae mengusulkan ide yang dirasa adil.

"Aku baru saja mengatakan itu bodoh!" Chanyeol berkata sarkastik.

"Bagaimana denganmu Jongin?" Chanyeol kemudian bertanya pada Jongin yang hanya diam saja sejak diberitahu perkemahan tersebut.

"Sepertinya aku tidak bisa ikut perkemahan ini, aku harus menjaga ibuku yang sakit."

Chanyeol menepuk pelan punggung Jongin dan Jongdae memeluknya, memberi ketenangan bahwa semua akan baik-baik saja.

...

Baekhyun melangkahkan kakinya dengan malas memasuki rumah besar kediaman keluarganya. Baekhyun sebenarnya lebih nyaman pergi ke tempat lain daripada kerumahnya sendiri, ntah mengapa setelah kakinya menapaki rumah besar itu, semua terasa hampa disiang dan malam hari. Kemudian pada pagi hari akan ramai dengan adu mulut kedua orangtuanya yang tak pernah akur.

Melihat mobil mewah ayahnya yang terparkir dipekarangan rumah, Baekhyun tahu ayahnya pasti tak dikantor. Ia mendesah lelah, wajahnya penuh luka lebam, Baekhyun tak akan selamat dari rentetan pertanyaan ayahnya tentang mengapa ia berkelahi lagi. Jadi Baekhyun memutar arah menjauh dari rumahnya, sebaiknya ia pulang malam saat ayahnya tak dirumah, dengan begitu Baekhyun bisa menghindari introgasi dari ayahnya.

...

"Semoga kencanmu berhasil!"

Jongdae melambaikan tangannya sedangkan Jongin membuat kepalan 'fighting!' dengan tangan kanannya.

Chanyeol membuat tanda 'Oke' dengan tangannya saat sudah berada jauh dari kedua sahabatnya. Sebelum pulang mereka sedikit berbincang tentang siapa yang akan Chanyeol kencani. Jongin menyarankan Wendy, gadis yang pernah menolak Jongin sewaktu SMP. Lalu Jongdae menyarankan Krystal, si gadis sexy idaman pria dari sekolah Yeong-Gu. Chanyeol menolak keduanya, ia sendiri memiliki incaran seorang siswa, ia mengatakan bosan berpacaran dengan gadis beberapa minggu terakhir ini. Jadi target Chanyeol selanjutnya adalah seorang siswa yang kini berjalan beberapa meter di depannya.

"Kyungsoo!" Chanyeol dengan seenaknya menaruh tangan dibahu siswa bermata bulat dengan bibir tebal yang membentuk sebuah tanda hati jika tersenyum itu. "Kau pulang sendirian?"

Siswa itu mengangguk. Namanya Do Kyungsoo, ia adalah ketua kelas dikelas Chanyeol. Tubuhnya mungil dan pendek, namun wajahnya manis. Siswa yang terkenal pendiam dan juga tegas itu ternyata malu-malu jika ditatap sedekat itu oleh Chanyeol.

"Apa kau suka film horror?" Chanyeol hanya sedikit berbasa-basi, tangannya merogoh saku celana dimana dua buah tiket berada dalam sakunya.

"Ya aku menyukainya."

"Mau menonton denganku sore ini?"

Pertanyaan Chanyeol membuat Kyungsoo menghentikan langkah kakinya. Mata bulatnya menatap tak percaya pada si pangeran sekolah. Ayolah Kyungsoo benar-benar terjerat pesonanya meski dia tahu orang macam apa Park Chanyeol itu.

"Menonton denganmu?"

Chanyeol mengeluarkan dua tiket dari saku celananya dan menggoyangkannya di depan wajah Kyungsoo. "Aku dapat tiket ini gratis, sayang sekali jika tidak digunakan. Bagaimana hm?"

Kyungsoo mengangguk tersenyum, memperlihatkan bibir seksinya yang berwarna merah muda. Membuat Chanyeol harus menelan ludahnya karena bibir itu sangat menggiurkan.

"Kalau begitu ayo berangkat, filmnya akan dimulai setengah jam lagi." Chanyeol menggenggam tangan Kyungsoo dan membuatnya merona. Dia berhasil mendapatkannya. Diam-diam Chanyeol tersenyum menang dalam hatinya.

...

Baekhyun menendang apapun yang ada sepanjang perjalanannya yang tak tentu arah. Penampilannya sangat buruk, blazzer sekolahnya ia lepas dan disampirkan dibahunya, seragam putih sekolahnya kotor dengan tanah yang menempel dibeberapa bagian akibat perkelahiannya dengan siswa Yeong-San, dua kancing teratas seragamnya bahkan ia biarkan terbuka , rambutnya kusut dan acak-acakan, untung saja Baekhyun memakai topi lidah warna merah kesayangannya, setidaknya ia tak terlihat seperti gelandangan yang tinggal dijalanan.

Baekhyun meneguk habis tetes terakhir minuman soda kaleng dari tangannya itu sebelum kemudian bungkusnya ia lempar dengan asal kesembarang arah. Dia tak tahu jika kaleng tersebut tepat mengenai kepala seorang pria yang sedang bermesraan dengan kekasihnya.

"Hei kau! Tunggu!"

Baekhyun menoleh kearah kanan dimana seorang pria berbadan kekar dan tinggi menunjuk dirinya dengan kaleng soda.

"Oh shit!"

Dia berlari dengan cepat ketika pria itu memasang wajah berang dan mengejarnya.

Sungguh Baekhyun terlalu lelah hari ini, tubuhnya benar-benar lemas setelah perkelahian di sekolahnya.

"Ya! Bajingan jangan lari!"

Pria itu berteriak dan melempar kaleng soda itu pada Baekhyun namun berhasil dihindari olehnya.

"Sial! Aku harus berlari kemana?!" Frustasi karena menemukan jalan buntu, Baekhyun menyerah seharusnya ia tak usah berlari, cukup meminta maaf dan semua selesai, tapi hal konyol semacam itu tentu saja bukan gaya Baekhyun. Ia tak akan sudi meminta maaf.

Baekhyun mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat yang menurutnya asing. Tidak ada jalan lagi, tidak ada tempat bersembunyi, satu-satunya jalan keluar adalah ia harus melawan pria tinggi yang berlari semakin dekat kearahnya atau memanjat tembok tinggi yang sudah berlumut di hadapannya. Tentu Baekhyun tak akan mampu, karena ia bukanlah spiderman yang memiliki perekat pada kakinya untuk memanjat tembok.

"Dasar bocah! Beraninya kau membuatku kesal ha?!"

Baekhyun semakin tersudut, dia melangkah mundur hingga tubuhnya menempel pada tembok di belakangnya.

"Mau lari kemana lagi?! Mati kau!" Pria itu merenggangkan tubuhnya hingga otot-otot kekarnya tercetak jelas disetiap lekuk tubuh maskulinnya.

Baekhyun menelan ludah berkali-kali. Namun sikapnya masih tenang. Ia kemudian teringat benda sakralnya, yaitu tongkat baseball yang selalu ia bawa kemanapun didalam ranselnya.

Dengan menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan melalui mulut, Baekhyun menggunakan jurus andalannya yang ia sebut pukulan maut. "Kemari kau! Raksasa jelek!"

Pria itu semakin geram mendapat hinaan dari Baekhyun, dengan sekali pukulan pria itu berhasil membuat tubuh mungil Baekhyun limbung, namun Baekhyun dengan sigap kembali berdiri dan memukul kepala pria itu dengan tongkat baseballnya. Tapi pria itu tak merasa kesakitan, dengan secepat kilat pria itu mencengkram kerah seragam Baekhyun dan mengangkatnya dengan satu tangan.

"Bocah sepertimu mau bermain-main denganku ha?"

Baekhyun merasa semakin tercekik ketika tubuhnya diangkat semakin tinggi, bahkan ia mulai terbatuk-batuk tanpa mampu mengeluarkan suaranya. Tubuhnya memang benar-benar lemas, namun setidaknya masih ada sisa tenaga yang ia miliki.

Dengan bekal ilmu taekwondonya Baekhyun melakukan beberapa aksi hingga ia berhasil lepas dari kungkungan pria itu. Ia kemudian menendang gundukan diantara selangkangan pria tersebut hingga pemiliknya kesakitan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur, Baekhyun segera mengambil tongkat baseballnya yang terjatuh sebelum kemudian berlari dengan penuh kemenangan. Bahkan ia sempat menjulurkan lidah dan menggoyangkan bokongnya untuk mengejek.

Sebenarnya Baekhyun bisa saja menghabisi pria bajingan itu, namun Baekhyun benar-benar tak ingin menguras sisa tenaganya, jadi ia membiarkan pria itu selamat.

...

Chanyeol dan Kyungsoo akhirnya sampai digedung bioskop setelah menempuh perjalanan kurang lebih limabelas menit dengan bus. Mereka membeli dua kaleng soda, satu cup popcorn berukuran jumbo dan beberapa snack sebelum mulai menonton.

Segera keduanya masuk kedalam studio dimana film yang ingin mereka tonton akan diputar. Chanyeol memilih tempat dibagian paling belakang, tapi Kyungsoo memaksa ingin duduk ditengah, sebagai pria yang baik Chanyeol menyetujuinya.

Pandangan Kyungsoo fokus pada layar lebar didepan sana yang menampilkan sebuah film horror berjudul 'Dont Click' sembari memakan popcorn. Berbeda dengan Chanyeol, ia justru memandangi wajah Kyungso yang duduk di sampingnya.

Dilihat dari samping seperti itu, membuat Kyungsoo nampak seksi meski dalam cahaya yang minim. Kulit lehernya putih bersih, bibir tebalnya yang menggoda dan wajah polos seperti anak-anak itu berhasil membuat Chanyeol berulang kali menelan ludah.

Tatapan Chanyeol penuh hasrat, namun Kyungsoo bahkan tak menyadarinya, ia terlalu menikmati film yang di tontonnya. Kyungsoo menolehkan kepalanya kesamping ketika tangan kiri Chanyeol melingkar di pundaknya. Dengan pipi yang memerah Kyungsoo tersenyum.

"Kyung..." Panggil Chanyeol dengan suara beratnya.

...

Setelah dirasa pria kekar itu tak lagi mengejar, Baekhyun bertumpu pada kakinya. Nafasnya memburu dan keringat mengalir dari kedua pelipisnya. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada pohon rindang di belakangnya. Untung saja Baekhyun masih memiliki simpanan minuman soda dalam ranselnya, jadi dalam keadaan seperti ini ia tak perlu repot-repot mencari minuman.

Hampir saja Baekhyun memejamkan matanya karena lelah, namun mendengar suara tawa seseorang yang familiar, Baekhyun segera membuka lebar-lebar kedua mata sipitnya.

"Tsk! Dia bertingkah lagi." Baekhyun segera berdiri tegak dan mengikuti dua orang yang sangat dikenalnya. Diam-diam ia mencoba menguping apa yang tengah dua orang itu bicarakan hingga keduanya tertawa dengan riang. Tapi ia tak mampu menangkap jelas selain suara tawa berat dan suara cempreng kedua orang tersebut.

Baekhyun berkacak pinggang melihat dua orang itu memasuki gedung bioskop. Jadi benar tebakannya, kedua orang itu sedang berkencan.

Baekhyun ikut mengantri membeli tiket film horror. Sebenarnya dia tidak suka menonton film hantu. Jujur saja sikapnya yang nakal tidak sama dengan hatinya, dia takut dengan hal-hal ghaib seperti itu, Baekhyun lebih memilih menonton kartun ataupun drama yang romantis daripada harus ketakutan dan tidak bisa tidur semalaman setelah menonton horror. Tapi rasa penasarannya mengalah rasa takut Baekhyun, jadi ia tetap membeli tiket film horror dan memasuki studio yang sebelumnya telah dimasuki Chanyeol dan Kyungsoo —dua orang yang sejak tadi Baekhyun ikuti.

Baekhyun duduk tepat dibelakang Chanyeol dan Kyungsoo. Ia menutup kupingnya ketika film mulai diputar, tak mau mendengar suara hantu ataupun efek musik yang tegang, sedangkan matanya terus saja mengawasi gerak-gerik dua orang yang duduk di depannya.

"Kyung..." Baekhyun membuka matanya yang sempat ia tutup ketika sang hantu muncul dilayar, mendengar Chanyeol memanggil Kyungsoo.

"Oh ap—" Sebelum selesai menjawab, bibir Chanyeol telah menempel dibibir Kyungsoo. Perlahan bibir yang saling menempel itu saling melumat satu sama lain.

Baekhyun mengepalkan kedua tangannya, ia bahkan tak menyangka si pendiam dan polos seperti Kyungsoo terpikat oleh Chanyeol. Dengan wajah kesal dan masam Baekhyun meninggalkan studio.

Seharusnya ia tak perlu penasaran dengan apa yang Chanyeol akan lakukan bersama Kyungsoo, tak seharusnya ia melihat ciuman yang membuatnya terluka seperti saat ini.

"Ciuman itu bahkan lebih menyeramkan daripada film horror!" Baekhyun mengumpat sendiri ketika ia sampai dipintu keluar gedung bioskop tersebut.

Tangannya merogoh saku celana dan menemukan sebatang rokok yang hampir patah dibagian tengah. Dengan asal ia merebut pematik seseorang yang juga ingin menyulut rokok; kebetulan orang tersebut lewat dihadapan Baekhyun.

"Maaf." Sadar atas sikapnya, Baekhyun meminta maaf dan orang tersebut hanya mampu menggelengkan kepalanya kemudian pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Baekhyun selamat, ia pikir orang tersebut baik, seandainya orang itu pemarah, sudah pasti Baekhyun akan dihajar.

Tepat pukul delapan malam, Baekhyun sampai dirumah. Lampu ruang utama telah dipadamkan, Baekhyun berspekulasi jika ayahnya tidak dirumah; biasanya ayah Baekhyun selalu pergi saat malam dan pulang menjelang pagi. Namun baru beberap langkah ia memasuki ruang utama rumahnya, lampu yang semula padam tiba-tiba menyala. Baekhyun terkejut mendapati ayahnya tengah melipat tangan didada dan berjalan kearahnya.

"A..ayah—"

"Duduk!" Ayahnya menyuruh Baekhyun duduk dan Baekhyun menurutinya. Ia kemudian mengikuti ayahnya yang duduk disofa.

Baekhyun hanya mampu menundukkan kepala menghindari tatapan murka sang ayah yang duduk didepannya.

"Siapa yang menyuruhmu berkelahi lagi! Haruskah ayah mengirimmu keluar negeri?" Ayah Baekhyun berbicara dengan tenang namun penuh penekanan. Bagaimanapun ini bukan kali pertama ayah Baekhyun menegur anaknya. Baekhyun berulang kali membuat masalah, berkelahi menjadi rutinitas kesehariannya. Begitupula dengan ayahnya yang lelah melihat sifat anaknya yang berandal.

"Ayah mereka yang memulai!" Baekhyun membela dirinya, namun ayahnya memasang wajah tak percaya dan tersenyum miring. Siapa yang akan percaya pada anak berandal yang sangat nakal dan pembuat masalah seperti Baekhyun. Ayahnya tak akan percaya semudah itu.

"Kau sama seperti ibumu yang tak pernah bisa berubah!"

"Kenapa ayah mengalihkan topik pembicaraan! Jangan bawa-bawa ibu." Baekhyun sangat tidak suka jika orang yang tidak terlibat suatu masalah harus terkena imbasnya. Sama seperti ibunya yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang dibuat Baekhyun, jadi ia tidak suka ketika ayahnya harus menyeret ibu Baekhyun kedalam semua ini.

Belum sempat ayah Baekhyun memberikan jawaban, sebuah suara high heels dan tawa seseorang mengalihkan perhatian dua orang yang sempat terlibat adu mulut.

Ibunya datang dengan seorang pria yang Baekhyun tidak pernah lihat sebelumnya. Baekhyun menganga tak percaya begitupula dengan sang ayah.

"Ibu apa yang kau—" Baekhyun memandang penampilan ibunya yang terlampau seksi dengan pakaian terbuka. Gaunnya sangat ketat memperlihatkan lekuk tubuh seksinya, kakinya yang jenjang, paha putih mulus dan juga belahan dadanya yang sedikit terekpos. Baekhyun menggelengkan kepalanya. Sungguh ini kali pertama ia melihat ibunya yang berpenampilan seperti wanita murahan.

Faktanya memang seperti itu, Baekhyun saja yang terlalu sibuk untuk sekedar memperhatikan keseharian ibunya.

"Dasar jalang kau!" Terlalu terkejut akan penampilan ibunya, Baekhyun tak sadar jika ayahnya sudah berdiri tepat dihadapan sang ibu dan pria asing disebelahnya. Setelah mengatakan kata yang tak pantas di ucapkan oleh seorang suami, ayah Baekhyun menampar istrinya.

"Pengecut!" Pria asing disamping ibu Baekhyun tak terima jika seorang perempuan ditampar oleh seorang lelaki, jadi pria dengan perut buncitnya itu balas memukul ayah Baekhyun. Ayahnya yang tidak terima kembali membalas dan mereka terlibat perkelahian. Baekhyun yang sudah sangat lelahpun tidak tahu harus melakukan apa.

"Cukup!" Akhirnya kesabaran ibu Baekhyun sampai pada batasnya dan ia berteriak untuk menyita dua pria yang saling beradu pukulan.

"Sekarang juga aku minta cerai! Aku muak dengan sikapmu!" Setelah berkata seperti itu, ibu Baekhyun bergegas menaiki tangga dan Baekhyun mengikutinya.

"Ibu apa yang kau lakukan!" Baekhyun frustasi melihat ibunya mengambil koper besar, memasukkan barang-barang dan juga pakaiannya.

"Ibu akan pergi sayang."

"Kemana?"

"Kemana saja asal jauh dari ayahmu."

Baekhyun jatuh terduduk dilantai. Ibunya akan pergi, lalu apa yang harus ia lakukan? Mengikuti ibunya adalah pilihan yang terbaik daripada harus tetap tinggal dengan ayahnya, setidaknya ibunya tak pernah marah-marah seperti ayahnya.

"Aku ikut..." Ucapnya dengan lirih.

Ibunya menghampiri dan memeluknya sebentar, menghapus airmata yang ntah sejak kapan mengalir dari kedua mata Baekhyun.

"Maafkan ibu sayang, tapi ibu akan ke Amerika dengan calon suami ibu yang ada dibawah sana, ibu tidak bisa mengajakmu."

Baekhyun mendongak memandang tak percaya ibunya.

"K-kau tega meninggalkanku disini?" Tanya Baekhyun putus asa.

"Ada ayahmu sayang, ibu janji akan sering menelepon dan mengirim uang untukmu."

"Yeonhee...!" Suara seseorang yang Baekhyun yakini adalah suara calon suami baru ibunya terdengar menggema dari lantai bawah.

"Ya! Aku datang tunggu sebentar!"

Sekali lagi ibunya memeluk Baekhyun.

"Sayang jaga dirimu baik-baik, kau harus tumbuh besar dan kuat, jangan jadi pengecut seperti ayahmu, kau mengerti?" Baekhyun mengangguk dan sebuah kecupan dikening adalah salam perpisahan yang ibunya berikan sebelum kaki-kaki cantik jenjangnya itu membawanya melangkah pergi meninggalkan Baekhyun, ayahnya, rumah ini dan juga meninggalkan Korea. Katakan selamat tinggal padanya Baekhyun.

Hampir setengah jam berlalu, namun Baekhyun masih terduduk dilantai dengan lutut kaki yang ditekuk dan kepalanya yang ia tenggelamkan disana. Menangisi ibunya hingga mata sipitnya membengkak.

Baekhyun benar-benar lelah hari ini, berkelahi dengan siswa Yeong-San, lalu dengan pria kekar yang tak sengaja ia lempar dengan kaleng soda, melihat ciuman seseorang yang dicintainya, dimarahi ayahnya dan terakhir ditinggalkan ibunya ke Amerika.

Amerika! Baekhyun segera menegakkan kepalanya, buru-buru ia turun kelantai bawah. Berekpektasi jika ibunya masih berada disana, namun ternyata ia salah. Ibunya sudah pergi beberapa menit yang lalu, sedangkan ayahnya kini mabuk dan menyumpah serapahi istrinya yang kabur.

Baekhyun keluar dari rumahnya dan berlari disepanjang jalanan malam yang gelap sambil terus memanggil ibunya. Ia hanya ingin terus berteriak dan berharap ibunya kembali. Marah, sakit, sesalnya menumpuk menjadi satu. Hingga akhirnya ia hanya mampu berlutut dan menangis sekeras yang ia ingin. Beberapa pejalan kaki yang kebetulan lewat menatap iba padanya, bahkan ada yang menawarkan Baekhyun untuk bercerita namun Baekhyun malah memukulnya.

Berjalan dengan tertatih dan berkali-kali kehilangan keseimbangan tubuhnya, langkah kaki Baekhyun membawanya kesebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari rumahnya. Ntah mengapa tangannya ingin sekali mengetuk pintu rumah tersebut dan menghambur kedalam pelukan seseorang yang mungkin tak akan sudi melihatnya. Tapi Baekhyun adalah seseorang yang agresif dan dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, tangannya mengetuk beberapa kali pintu rumah tersebut. Tak lama pintu dibuka dan seseorang muncul dari balik pintu.

"Kau—"

"Biarkan aku menginap disini." Pinta Baekhyun dengan suara nyaris tak terdengar.

"Apa-apaan kau, pergi saja kerumah Sehun sahabatmu atau Kris pacarmu itu." Orang didepannya menyilangkan tangan dan menyenderkan tubuhnya pada daun pintu, memperhatikan penampilan Baekhyun yang tidak biasa. Kacau dan menyedihkan.

"Baiklah jika tidak boleh." Pasrah Baekhyun. Ia kemudian membalikkan tubuhnya hendak pergi, namun pergelangan tangannya dicekal. Baekhyun tersenyum tipis.

"Masuklah, tidak seperti biasanya, hari ini kau tampak menyedihkan Baek."

Baekhyun menyeringai. "Kau benar Park Chanyeol."

...

"Apa kau sudah makan?"

Chanyeol bertanya ketika mereka berada diruang tamu rumah Chanyeol dan Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Siapa sayang?" Suara wanita paruh baya terdengar dari arah dapur rumah Chanyeol.

"Temanku bu."

Tidak berapa lama ibu Chanyeol datang dengan senyum ramahnya. "Jarang sekali kau membawa teman, oh siapa namamu anak manis."

"Aku Baekhyun..." Baekhyun membungkuk memberi salam dan tersenyum canggung pada ibu Chanyeol.

"Baekhyun... Lalu apa yang terjadi dengan pakaianmu?" Tanya ibu Chanyeol setelah mengoreksi penampilan Baekhyun yang sangat kacau.

Baekhyun tak kunjung menjawab dan hanya terus menunduk, jadi Chanyeol angkat bicara.

"Dia..."

Dia barusaja berkelahi.

Chanyeol ingin mengatakan itu tapi tidak jadi.

"Dia kenapa?"

"Sudahlah, bukankah ibu sedang memasak? Aku lapar bu..." Chanyeol mengalihkan topik pembicaraan dan membuat ibunya menepuk dahinya sendiri.

"Kau benar, astaga ibu lupa. Kalau begitu antar Baekhyun untuk mandi dan pinjamkan bajumu sayang." Chanyeol mengangguk paham dan ibunya pergi ke dapur untuk menyelesaikan memasaknya.

"Ikut aku." Chanyeol berdiri dari duduknya dan Baekhyun mendongak untuk menatapnya, membuat Chanyeol menghela nafas berat. "Kau mau bersihkan dirimu atau tidak?"

Baekhyun tidak menjawab, justru ia menggerutu dan patuh mengikuti Chanyeol dibelakang.

Pintu berwarna putih itu dibuka, Baekhyun yakin itu adalah kamar Chanyeol. Kamarnya tidak terlalu besar seperti kamar miliknya, hanya ada springbed king size, lemari berukuran dua meter, meja belajar disebelah jendela kaca, sofa santai dan juga sebuah ruangan yang Baekhyun prediksi sebagai kamar mandi.

Chanyeol berjalan kearah lemarinya dan melemparkan pada Baekhyun sebuah handuk putih yang ia dapat dari lemari tersebut.

"Mandilah dulu akan kusiapkan pakaian gantinya, setelah itu turun dan kita makan malam."

Chanyeol membalikkan tubuhnya untuk melihat Baekhyun yang sejak tadi tak mau bicara, biasanya disekolah anak itu selalu kasar, tapi hari ini Baekhyun berbeda, ia tampak murung dan tidak bersemangat, tapi ternyata Baekhyun sudah masuk kekamar mandi dan Chanyeol hanya mampu menggelengkan kepalanya.

Karena ini musim dingin dan Chanyeol tidak memiliki penghangat ruangan, jadi ia mengambil sebuah celana panjang, undearwear juga sweater lembut berwarna marun, kemudian ia letakkan diranjang tempat tidur sebelum akhirnya ia turun kelantai bawah menunggu makan malam.

Baekhyun merasa tubuhnya menjadi lebih segar setelah mandi. Ia mengintip dari balik pintu sebelum memutuskan keluar dan mendapati satu set pakaian diatas ranjang yang disiapkan Chanyeol. Cepat-cepat ia mengambil dan memakainya. Setidaknya Chanyeol bukanlah pria mesum yang akan meminjamkan kemeja putih kebesaran tanpa celana seperti di film dam drama yang pernah Baekhyun tonton. Tapi tetap saja, sweater itu kebesaran ditubuh mungilnya, dibagian lengan tangan bahkan terlalu panjang, jadi Baekhyun melepas sweater tersebut dan mengambil pakaian lain dari lemari Chanyeol tanpa izin dari pemiliknya.

Semua baju yang Chanyeol miliki berukuran besar dan tidak ada yang pas ditubuh mungil Baekhyun. Setelah hampir mengekplorasi seluruh lemari, Baekhyun akhirnya mengambil kaos tipis berwarna putih yang berukuran paling kecil diantara pakaian yang Chanyeol miliki lainnya. Meskipun kaos tersebut lumayan memperlihatkan lekuk tubuh Baekhyun karena kaos tersebut transparan dan juga bagian bahunya yang terlihat. Berulang kali Baekhyun harus menarik bagian kerahnya yang melorot dan mengekpos sebelah bahunya.

"Baekhyunee?!" Suara ibu Chanyeol menggema dari lantai bawah. "Makan malam sudah siap."

"Aku datang bibi!"

Baekhyun dengan cepat merapikan kembali isi lemari Chanyeol dan berlari ke lantai dasar.

Dengan canggung Baekhyun berjalan dan duduk disamping Chanyeol yang tengah mengunyah makanan.

"Uhuk!" Chanyeol terbatuk ketika sadar akan penampilan Baekhyun.

"Apa yang kau pakai? Kenapa tidak memakai sweaternya?" Chanyeol mengalihkan pandangannya dari tubuh Baekhyun. Ayolah meski anak berandalan itu suka berkelahi dan taekwondo tapi tubuhnya sama sekali tidak atlethic. Bahkan tubuh Baekhyun lebih menggoda daripada wanita. Kulitnya halus dan putih bersih.

"Baju itu terlalu besar, lagipula aku tak bisa tidur dengan pakaian seperti itu, aku nyaman dengan semua ini."

"Terserah kau saja." Chanyeol melanjutkan makannya.

Ibu Chanyeol datang membawa sup yang sangat harum, membuat Baekhyun bersemangat untuk makan. Baekhyun tidak makan sejak pagi, jadi ia sangat lapar.

"Baekhyunnie ayo makan sayang, kau bisa memakan apapun yang kau mau." Ibu Chanyeol membantu Baekhyun mengambil makanan kedalam piringnya, sedangkan Baekhyun mulai memakan makanan yang di ambilkan ibu Chanyeol dengan penuh semangat hingga ia tersedak dan terbatuk.

"Pelan-pelan, kau ini sedang makan bukan sedang berkelahi." Chanyeol menepuk-nepuk punggung Baekhyun membantunya menghilangkan rasa sakit sedangkan ibu Chanyeol yang juga terkejut mengambilkan air minum untuknya. Benar-benar ibu yang perhatian dan keluarga yang harmonis.

"Aku lapar bodoh!" Baekhyun melirik sinis kearah Chanyeol dan membuat ibu Chanyeol tertawa.

"Kalian benar-benar menggemaskan, ah apa Baekhyunnie akan menginap?"

Tanya ibu Chanyeol bersemangat. Ntah mengapa nyonya Park sangat menyukai kepribadian Baekhyun yang acuh pada Chanyeol, itu mengingatkannya pada seseorang dimasa lalunya.

"Apa bibi mengijinkanku menginap?" Tanya Baekhyun hati-hati.

"Tentu saja sayang, kau bisa tidur dikamar Chanyeol." Nyonya Park melirik Chanyeol yang sedang menatap protes kearah ibunya. "Tapi apa kau sudah bilang pada orangtuamu kau akan menginap disini?"

Pertanyaan terakhir nyonya Park membuat Baekhyun menghentikan makannya, binar matanya kini meredup dan berubah menjadi tatapan sedih.

"Bibi bolehkah aku permisi sebentar ke toilet?"

Nyonya Park menyadari perubahan sikap Baekhyun dan merasa bersalah, ia mengangguk dan memandang iba Baekhyun yang berjalan pelan kearah kamar Chanyeol.

"Apa ibu salah bicara?" Tanya nyonya Park pada anaknya.

"Tidak bu, Baekhyun memang seperti itu sifatnya."

Chanyeol selesai makan namun hampir limabelas menit berlalu, Baekhyun belum menampakkan batang hidungnya. Jadi Chanyeol meminta ibunya untuk membereskan saja sisa makan malam itu dan ia membawa nampan berisi makanan kekamar untuk diberikan pada Baekhyun.

"Baekhyun..." Chanyeol dengan pelan membuka pintu kamarnya dan mendapati Baekhyun yang tertidur disofa. Ia meletakkan nampan berisi makanan tersebut dan mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Baekhyun yang pucat karena dingin.

"Kau menyedihkan sekali ByunBaek, ada apa denganmu." Chanyeol memandangi wajah damai Baekhyun ketika tertidur. Wajahnya tampak seperti seorang malaikat tenang dan damai. Berbeda dengan wajah garang seperti iblis ketika Baekhyun tengah berkelahi.

Tangan besar Chanyeol menyibakkan poni rambut yang menutup dahi Baekhyun. Mengamati beberapa luka lebam yang ada dan sebuah luka goresan disana. Ia kemudian mengambil plester berwarna merah muda yang ia miliki dan menempelkannya pada luka didahi Baekhyun. Chanyeol terkikik melihat betapa lucunya Baekhyun dengan plester hellokitty tersebut. Tunggu saja hingga Baekhyun terbangun dan menyadari perbuatan Chanyeol hingga wajah tampan Chanyeol itu akan dipukul oleh sang berandal sekolah.

Chanyeol berjalan kearah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya yang lelah untuk mengarungi mimpi.

Diam-diam Baekhyun tersenyum. Ia sebenarnya belum tertidur dan hanya memejamkan mata. Ia meraba keningnya; dimana plester yang Chanyeol tempelkan disana. Tentu saja Baekhyun tidak tahu jika plester tersebut berwarna merah muda dengan motif hellokitty, jika ia tahu sudah ia lepas plester tersebut dan menendang pantat sialan Chanyeol yang kini tidur memunggunginya.

.

.

.

To Be Continue..

A/N:

Buat reader yang sudah membaca terimakasih sebanyak-banyaknya. Mungkin chapter 3 bakalan lama update nya karena gue bakalan mulai kerja keras meraih kesuksesan. #curhat

Jadi keep review biar gue semangat nulisnya :D

Sempet shock ada author kece yang review, kakak dandelionleon makasih ya :D jarang2 ada author sekeren kamu mau review FF absurd begini.

Thanks a lot for

byvn88 | Baek Channa | winter park chanchan | ochabyun | guest Parklili | PandaNotes | GitaPark Hanna Byun276 | libra. pw5 | deux22 | astribaekyeol | kKaMjbBang | Ahn Sunyoung