Sebuah belaian lembut di surai rambutku membuatku sedikit terganggu namun rasa aman dan nyaman membuatku membalikkan badan lebih menempel kepada seseoran yang membelaiku. Perlu waktu yang cukup lama hingga mata bisa menyesuaikan diri dengan cahaya terang disekitarku.

Ruangan bernuansa serba putih, the pure white room, menyapa mataku dan membuatku takjud dengan dekorasinya. Aku pun memakai pakaian putih begitu pula dengan seseorang yang membelaiku.

"Wake up sleeping beauty." Suara itu membuatku tersentak dan mendongak, menatap mata familiar yang selalu kuharapkan untuk menatapku penuh kasih sayang dan perhatian, Luhan. "Tidurmu nyenyak?"

"Luhan?" tanyaku tidak percaya, bagaimana caranya dia disini bersamaku? Diatas ranjang, membelaiku dan memanggilku dengan sayang?

"Tidurmu terlalu lama, aku takut kau tidak akan bangun." Ujarnya sedikit bersedih, ia mengeratkan rangkulannya. Aku bahkan tak sadar tangannya mengitari pinggangku dan dadanya adalah bantalan kepalaku. "Jangan pergi eoh. Aku tak bisa hidup jika kau pergi meninggalkanku."

"Aku akan pergi kemana kalau kau memelukku seerat ini." Balasku menjawab celotehannya meskipun banyak pertanyaan berputar diotakku. Salah satunya, sejak kapan dia se-loving ini padaku?

"Aku menyayangimu. Kumohon bangunlah!"

"Aku sudah bangun." Jawabku lagi, kenapa sepertinya dia tidak mendengarku.

"Maafkan aku."

"Untuk apa kau minta maaf?" seperti merespon pertanyaanku, Luhan menurunkan kepalanya sejajar dengan wajahku dan mengambil tanganku, mengecup punggung tanganku lama. Rasanya wajahku memerah dengan semua sikap manisnya itu. Ia membuka matanya, menatapku intens dan membawa punggung tanganku menempel pipinya.

"Maafkan aku. Aku memang brengsek. Tapi kumohon, untukmu, aku akan berubah. Aku akan meninggalkan semua perilaku burukku." Ujarnya, air matanya terlihat menggenang dan akhirnya jatuh menuruni pipinya.

Tanganku yang bebas menghapus air mata itu dan balas membelai wajahnya. "Terimakasih, Luhan ah. Kau memang yang terbaik."

"Maafkan aku."

"Berhentilah meminta maaf, kau tak mempunyai salah apapun"

"Maafkan aku."

"Luhan, kau tidak salah apapun."

"Maafkan aku." Suaranya semakin lirih. "Maafkan aku."

Tidak tahan dengan rengekan permintaan maafnya, aku bangkit dan menatapnya sedikit terganggu dengan hal itu. "Kau tidak salah apapun! Untuk apa kau meminta maaf?"

Ia ikut bangkit dan kembali mensejajarkan wajah kami sebelum kecupan lembut mendarat di bibirku. Kya! Rasanya seperti terbang ke langit ketujuh dan mendarat di pelukan malaikat. Meskipun sedikit asin karena air matanya ikut menempel dibibirnya tapi setidaknya aku mendapatkan ciuman yang bahkan tak pernah kumimpikan.

Luhan menjauhkan wajahnya dan membuatku kembali sadar, tangannya menangkup sebelah pipiku dan raut wajah penyesalan yang teramat dalam. "Maafkan aku." Ulangnya lagi, sebal juga mendengarnya. "Maafkan aku karena tidak mempedulikan perasaanmu." Lanjutan kalimatnya membuatku terkejut.

"Maafkan aku karena berpura-pura tidak mengetahuinya. Maafkan aku karena aku mengetahui kalau kau mencintaiku sejak awal. Maafkan aku karena tidak meresponmu, seharusnya aku tidak membiarkan perasaanmu menjadi berlarut-larut. Sekarang aku sadar, aku juga merasakan hal yang sama denganmu Sehun-ah. Awalnya kupikir hanya rasa tertarik seperti biasanya yang terjadi dengan pria dan wanita lain. Tapi, akhirnya aku menyadarinya. Aku mencintaimu, Sehun-ah. Kumohon, maafkan aku. Aku akan menjadi kekasih yang baik untukmu. Aku akan membahagiakanmu. Aku akan melindungimu. Aku akan berhenti menjadi brengsek untukmu, Sehun-ah."

Pernyataannya membuatku kaget juga terenyuh, kenapa tidak sejak awal atau lebih cepat Luhan-ah? Kau tahu tiga bulan itu waktu yang cukup lama untukku bersedih dan terlalu lama untukmu menyadari perasaanmu.

"Kau tidak perlu minta maaf, Luhan. Karena bagaimana pun kau tak bisa menjadi bersalah dimataku." Ucapku sembari menepuk pipinya pelan.

"Kumohon, Sehun-ah."

"Apa lagi yang kau minta, Luhan?" aku menatapnya bingung. Air matanya tak kunjung berhenti.

"Kumohon Sehun-ah,"

"Please, ini sudah terlalu lama untukmu tertidur." Tertidur? Aku tidak sedang tertidur, Luhan. "Please, wake up sleeping beauty. Jangan mendiamiku dengan cara seperti ini."

"Apa maksudmu Luhan-ah?" aku mulai takut dengan ucapannya. Seakan-akan aku sedang tertidur dan dia hanya berbicara sendiri.

"Bangun sayang. Biarkan aku mendengarkan celotehanmu lagi, biarkan aku melihatmu bertingkah aneh lagi di depanku. Jangan lakukan ini padaku." Tanganku yang terulur perlahan jatuh dan Luhan, ia menundukkan kepalanya dan mulai menahan isakkannya di hadapanku.

Rasa takut mulai menyergapku, perlahan-lahan memori terakhirku kembali. Aku kembali di gang sempit itu bersama Baekhyun, Taeyeon, Luhan dan Kyungsoo hyung. Aku menatap diriku sendiri menarik pria yang menodongkan pisau ke Baekhyun dan memelintir tangannya tapi dalam hitungan detik pria itu membantingku dan menendang kepalaku.

Luhan dan Kyungsoo hyung yang masih terpaku pada dua pria untuk memborgolnya terkejut dan berlari kearahku. Diriku yang lain terbangun dengan adrenalin memuncak ketika pria itu hampir mendapatkan kepala Baekhyun, namun aku segera menariknya lagi dan hanya menyebabkan sedikit goresan di leher Baekhyun. Sementara aku menatap diriku sendiri tertusuk tepat di bawah leherku dan berikutnya tembakan dilepaskan oleh Luhan hyung tepat di dahi penusukku.

Memoriku memudar diikuti teriakan histeris Luhan yang memangkuku di gang sempit, kembali menatap Luhan yang masih terisak namun duduk membelakangiku. Membelai surai seseorang yang terbaring bagai mayat yang di sokong oksigen dan alat deteksi detak jantung. Kakiku terasa berat untuk mendekati ranjang itu, skenario terburuk menghampiriku dan terbukti ketika aku melihat diriku sendiri terbaring disana.

Air mataku mulai menggenang, tidak lama kemudian, aku tidak bisa menahan isak tangisku. Aku terjatuh tepat di sisi Luhan dan mulai menangis bersamanya. Aku tidak menyangka keputusanku menolong Baekhyun bisa membuatku berakhir seperti ini. Tangisanku lebih mengarah kepada penyesalan.

Kenapa harus dengan cara ini aku mendengar pengakuannya? Tidakkah aku bisa mendapatkan dengan cara normal? Berkencan? Bertengkar di jalan atau hal konyol lainnya? Kenapa harus ketika aku berada diantara dua dunia seperti ini?

Tangisanku berhenti lebih dulu dibanding Luhan, ia masih menangis cukup lama sebelum berhenti dan hanya membelai rambutku. Aku hanya menatap wajahnya yang tampan kini terlihat menyedihkan di ujung ranjang. Bahkan aku tak bisa menyentuh tubuhku sendiri.

"Luhan," panggilan dari Kyungsoo hyung diambang pintu membuatnya menoleh. Kyungsoo hyung mendekati ranjangku dan menatapku sesaat sebelum beralih pada rekan kerjanya. "Ketua memanggilmu."

Luhan hanya mengangguk, bangkit dari kursinya dan mengecupku singkat dikening. Ia berjalan menuju pintu sebelum akhirnya Kyungsoo hyung menghentikannya. "Luhan, aku tahu ini menggelikan."

"Apa?"

"I used to say this about you to Sehun. Kau tahu bagaimana dokter mengatakan tentang Se..."

"Tidak, jangan paksa aku untuk melakukannya. Kau tahu aku orang yang brengsek, bukan? Kau tahu bagaimana sikapku terhadap yang lain. Kumohon jangan menyuruhku untuk beralih, adikmu satu-satunya yang bisa menghentikanku untuk menjadi brengsek. Tapi untuk yang lain, aku akan tetap menjadi pria brengsek." Desisnya sembari menutup pintu dengan keras.

Kyungsoo hyung menutup matanya dan mendesah panjang dan dalam, lalu beralih menatapku dengan sedih. "Kau dengarkan? Kalau begitu bangun, kau sudah terlalu lama menjadi 'sleeping beauty'. Kau akhirnya mendapatkan apa yang kau mau selama 3 bulan, tapi kenapa harus dengan cara ini, Sehunnie?"

Aku juga tidak mau kalau memakai cara ini, hyung. Tapi apa aku bisa mengatur nasib dan takdir. Aku bukan Tuhan dan berhenti bicara seolah aku yang salah. Aku tidak menyalahkan Baekhyun hyung yang mengirim takdir ini, sejujurnya aku tidak menyesal menolongnya karena kalau tidak mungkin dia yang berakhir seperti ini atau dibawah tanah.

"Aku harus mengatakan kalau kau kejam, Hunnie. Penantian, celotehan, racauan, rewelan, kesedihanmu selama tiga bulan tidak sebanding dengan yang kau berikan ini selama sebulan." Aku koma sudah sebulan. Aku kuat sekali tidur. "Kesakitan yang kau berikan pada Luhan tidak bisa kau bayangkan. Aku cukup bersyukur Luhan masih menjadi brengsek dalam kategori baik dengan membedakan masalahmu dengan masalah penjagaan Baekhyun."

"Bagaimana bisa bocah 18 tahun sepertimu menghancurkan kehidupan pria 27 tahun dalam semalam?" desis Kyungsoo hyung kesal. "Bagaimana bisa aku memiliki adik selemah dirimu? Bagaimana bisa kau menggantikan ayah menjadi ketua nanti? Jangan buat aku yang menggantikan ayah, Sehunnie. Jangan buat aku melakukan pekerjaan yang bukan gayaku."

Setidaknya aku tahu sekarang, aku kandidat apa sebetulnya? Meskipun tidak secara spesifik tahu pekerjaan apa yang bukan gaya Kyungsoo hyung. Yang jelas bukan meneruskan perusahaan ayah yang seperti selama ini kuketahui.

"Aku menyayangimu, Sehun. Sungguh, sangat menyayangimu. Tapi jika kau terus terbaring seperti ini, aku sungguh membencimu. Bangun, adik kecilku yang manis. Ayah, ibu, Luhan, bahkan aku merindukan kerewelanmu, Sehun. Kumohon bangunlah."

Baru kali ini, seumur hidupku aku melihat Kyungsoo hyung menangis. Bahkan ketika ayah mengusirnya karena kesalahan yang tidak kuketahui, ia tidak menangis dan mengangkat kopernya dengan dagu yang terangkat tinggi. Aku baru sadar, kalau aku adalah kelemahan banyak orang.

Ponsel Kyungsoo hyung berdering, ia menghapus air matanya dan mangatur suaranya sebelum mengangkat telponnya dan berjalan keluar kamar.

Kini aku menatap tubuhku yang masih bernafas dengan sengit. "Kau disini, tubuhku. Aku disini, rohmu. Kenapa kita tidak bersatu dan bangun?" omelku sebal, kesal, marah dan sedih menjadi satu. "Apa yang harus kulakukan agar aku bangun?"

"Tidak ada." Sebuah suara menjawabku. Membuatku menoleh ke arah jendela, menatap seorang sosok jangkung tinggi dengan rambut seperti sangkar burung namun terlihat tetap tampan. "Tidak ada karena yang memutuskan kau bisa kembali hidup atau tidak hanyalah Tuhan."

"Siapa kau dan bagaimana kau bisa melihatku? Bukankah aku roh?"

"Aku juga roh, hanya penghuni yang lebih lama darimu di kamar sebelah dan ngomong-ngomong, namaku Park Chanyeol." Ia memperkenalkan diri dengan senyuman lebar seperti orang bodoh.