Baekhyun ingin bermain baseball namun teman-temannya mengejek dan mengatakan tubuhnya yang pendek tidak cocok untuk ikut bergabung. Saat itu usianya baru tujuh tahun, dia mudah menangis. Namun seorang teman baru dikelasnya berbeda, ia tak pernah sekalipun mengejek Baekhyun, bahkan dengan senang hati ia memberikan satu tongkat baseballnya untuk Baekhyun.

"Aku Park Chanyeol, siapa namamu?" Chanyeol dengan malu-malu mengulurkan tangannya pada Baekhyun kecil.

"Aku Byun Baekhyun."

"Mulai sekarang kita akan bermain baseball bersama Baekhyun..."

Maybe,Fight!

Chapter 3

"When your love in danger. Let him die or you fight for protect!"

...

"Chanyeol..."

Bola mata Baekhyun bergerak gelisah dibalik kelopak matanya yang tertutup.

"Ya ada apa Baek?"

"Park Chanyeeollllll..." Baekhyun merengek dan mengulurkan kedua lengannya seperti minta digendong sedangkan kakinya menendang-nendang sandaran sofa.

"Cepatlah bangun Byun Baekhyun!"

"Tidak mau...Ayo bermain baseball."

Dalam tidurnya Baekhyun tengah bermimpi sedang berada disebuah lapangan baseball yang luas bersama Chanyeol kecilnya.

"Cepat bangun atau akan kusiram tubuhmu dengan air!" Chanyeol berkacak pinggang menatap Baekhyun yang masih tertidur namun berbicara seolah dia sedang ingin bermain.

"Sudahku bilang tidak mau, gendong~" Baekhyun kembali merajuk, masih dengan matanya yang terpejam.

"Baiklah jika itu maumu." Chanyeol menyeringai dan segera menarik tangan Baekhyun, kemudian menggendong tubuhnya dan menjatuhkannya kelantai.

Bokong Baekhyun mendarat dengan sempurna kelantai dan membuatnya kesakitan.

"Sialan kau! Apa yang kau lakukan disini!" Baekhyun mengusap bokongnya yang nyeri akibat ulah Chanyeol sebelum kemudian mata sipit yang semula terpejam kini terbuka lebar menatap sekelilingnya. "Dimana aku?" Ia kemudian mendongak menatap seseorang didepannya yang sedang menatap tajam kearah dirinya dengan tangan yang terlipat didada.

"Bangun! Sudah siang dan cepatlah pulang."

Baekhyun ingat, semalam ia tidur dirumah Chanyeol sampai pagi ini. Ia mengusap wajahnya mengingat itu semua.

Melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi membuat Baekhyun kebingungan. "Kau tidak ke sekolah?"

"Ingatanmu sangat buruk, tidakkah kau menerima pesan dari wali kelas hari ini semua murid akan berangkat camping pukul sepuluh nanti, sekarang pulanglah dan bersiap-siap." Chanyeol melempar seragam putih Baekhyun yang ntah sejak kapan telah dicuci, karena seragam yang semula sangat kotor itu sekarang menjadi putih bersih.

"Darimana kutahu, ponsel saja aku tak membawanya." Protes Baekhyun mengingat kembali kejadian semalam saat ia berlari-lari dijalanan dan berakhir mengetuk pintu rumah Chanyeol.

"Itu urusanmu Baek." Chanyeol menggelengkan kepalanya menatap si alter ego orang di depannya. Bagaimana bisa, Baekhyun disekolah sangat berbeda dengan Baekhyun semalam dan pagi ini. Baekhyun yang menyeramkan bisa berubah menjadi Baekhyun yang lucu dan menggemaskan?

Benarkah Chanyeol mengakui semua itu? Sepertinya, tidak. Meskipun faktanya Baekhyun benar-benar terlihat menggemaskan saat sedang merengek, tapi Chanyeol tak akan mengatakan itu. Karena Baekhyun yang merengek dan menggemaskam akan segera berubah menjadi Baekhyun si monster sekolah yang menyeramkan.

Chanyeol mengusir Baekhyun begitu saja bahkan sebelum Baekhyun sempat mencuci wajah ataupun sekedar mengucapkan terimakasih pada nyonya Park dan membuat Baekhyun menggerutu di sepanjang perjalanan menuju rumahnya.

Sebenarnya Baekhyun tak ingin pulang, ia ingin tinggal saja dirumah Chanyeol tapi itu tidak mungkin. Chanyeol tak akan membiarkannya begitu saja. Lagipula siapa dirinya? Baekhyun bahkan bukan siapa-siapa untuk Chanyeol. Teman bukan, sahabat bukan, pacarpun bukan. Lalu apa? Hanya seonggok berandalan sekolah dimata Chanyeol?

Tiba di rumahnya, Baekhyun dikejutkan dengan seorang wanita dengan penampilan yang berantakan keluar dari pintu utama rumahnya. "Siapa kau?"

"Hai.. Pangeran."

Baekhyun berdecih menatap wanita tersebut. Dari penampilannya saja Baekhyun tahu wanita itu seorang wanita panggilan yang disewa oleh ayahnya.

"Dadamu itu jelek sekali noona, tidak pantas dengan pakaian terbuka." Baekhyun berkata sinis dan membanting pintu utama rumahnya. Ia kesal dan marah atas hal menjijikkan yang ayahnya lakukan.

Baekhyun menyiapkan keperluan campingnya untuk tiga hari kedepan. Tubuhnya terasa lengket karena belum sempat ia bersihkan, jadi Baekhyun bergegas ke kamar mandi. Ia berdiri didepan kaca wastafel dan menatap wajahnya dimana luka lebamnya hampir menghilang. Sayang sekali wajah mulusnya harus menerima pukulan beberapa kali.

Baekhyun kemudian teringat, semalam Chanyeol memperhatikannya dan menempel plester di keningnya. Baekhyun menyibakkan poni yang menutup hampir seluruh keningnya dan terkejut mendapati plester merah muda dengan motif hellokitty.

"Ya! Dasar bajingan itu!" Dengan geram ia melepas plesternya dan meremas dengan gemas. Rencananya Baekhyun tidak akan melepas plester 'spesial' itu hingga seminggu kedepan, namun melihat plester cantik yang menempel, Baekhyun mengurungkan niatnya.

"Akan kutendang bokongmu Dobi sialan!"

.

.

.

Hari ini Chanyeol tak henti-hentinya bersiul sepanjang perjalanan menuju sekolah. Wajahnya nampak sangat ceria tanpa beban, namun itu tidak bertahan lama. Wajah yang semula penuh senyuman kini berubah menjadi tegang ketika berhadapan dengan kapten basket dari sekolah Yeong-Gu, tepatnya itu adalah Kris.

"Wassup dude!"

Dengan modal tekat, mental dan kepercayaan dirinya, Chanyeol menyapa dengan canggung. Bagaimanapun Chanyeol tidak pernah dekat dengan Kris, setiap berpapasan dengannya, pria bule itu selalu saja mencari masalah.

"Tsk! Hei bung tak perlu basa-basi langsung saja pada intinya, kemarin apa yang kau lakukan dengan 'kesayangan'ku?"

Aura hitam mulai muncul disekitar Chanyeol. Tentu saja Chanyeol tidak bodoh untuk tidak mengetahui siapa yang Kris maksud dengan 'kesayangan'ku. Dia tahu itu adalah Baekhyun.

"Ahahaha"

Tawa Chanyeol sangat dibuat-buat untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia sedikit menepuk seragam Kris, berpura-pura menghilangkan debu disana dan Kris menatap tak suka padanya.

"aku tidak melakukan apapun, kemarin Baekhyun memberitahuku jika pacarnya yang sangat tampan dan keren berhasil memenangkan tournament basket kali ini, bukan begitu Kris?"

Bohong Chanyeol.

Setidaknya jika Chanyeol mengatakan tentang bagaimana Baekhyun memuji pria bule itu, Kris akan luluh dan percaya jika pacarnya mengatakan itu. Walau sebenarnya tidak sama sekali. Ia kemudian hanya menepuk bahu Chanyeol,

"Berhati-hatilah dengan nyawamu." dan berjalan menjauh.

Chanyeol menghembuskan nafas lega yang ia tahan karena gugup. Tanpa Chanyeol sadari sepasang mata sipit mengawasi dirinya dan tangannya terkepal.

...

Baekhyun menjatuhkan dengan kasar ranselnya, membuat Sehun yang bermalas-malasan meletakkan kepala dimeja terkejut.

"Astaga Baek, kukira kau tidak ikut berkemah?"

Baekhyun tidak menjawab, tatapan tajam mata sipitnya tertuju pada siswa mungil bermata bulat yang duduk di depannya. Do Kyungsoo.

"Baek—"

"Diamlah Oh Sehun."

Baru saja Baekhyun ingin memejamkan mata untuk menghilangkan emosinya, tiba-tiba suara dari microfon sekolah mengejutkannya.

"Perhatian bagi seluruh murid Yeong-Il Senior High School harap segera datang keluar gedung sekolah menuju bus pariwisata yang telah di sediakan. Sekian terimakasih."

Seluruh murid saling berhamburan keluar, begitupula dengan Baekhyun. Sehun yang melihat Baekhyun tidak seperti biasanya hanya mampu diam dan dengan sukarela membawakan ranselnya.

Banyak bis pariwisata yang terparkir didepan sekolah Yeong-Il dan masing-masing telah diberi label untuk setiap anggota.

Bersyukur Baekhyun, Sehun, dan Chanyeol menjadi satu tim. Tanpa berpikir dua kali Baekhyun segera menaiki bis yang terdapat lebel namanya.

Baekhyun yang melihat Chanyeol duduk sendiripun tersenyum puas, ia mengisyaratkan Sehun untuk duduk dan ia akan duduk dengan Chanyeol.

"Hei baby!"

Barusaja Baekhyun akan mendaratkan bokong seksinya disebelah Chanyeol, Kris datang dan merangkul bahunya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Wajah Baekhyun seketika kembali masam.

"Tempramentalmu itu tinggi sekali. Ngomong-ngomong kita satu tim Baek!"

Baekhyun menatap tak percaya pada Kris. Ia kemudian berlari keluar dan mengecek label daftar tim sekali lagi. Benar saja, tiga sekolah dijadikan satu dan Baekhyun berada satu tim dengan Kris.

"Cabut nyawaku sekarang!"

"Bersabarlah dan Tuhan akan mencabutnya."

Baekhyun menoleh kearah sumber suara. Dibelakangnya berdiri seorang siswa dari sekolah Yeong-Gu dengan nama tag Lu Han.

Melirik tajam kearahnya, Baekhyun memilih diam dan masuk kembali kedalam bus daripada memukul wajah siswa cantik itu tanpa alasan.

Tempat disebelah Chanyeol belum terisi namun Kris sudah lebih dulu menarik tangan Baekhyun untuk duduk disebelahnya dan membiarkan siswa yang Baekhyun ketahui bernama Luhan beberapa detik yang lalu kini duduk disamping Chanyeol.

Jongin tidak bisa mengikuti camping, jadi Chanyeol menunggu Jongdae untuk datang, tapi melihat seseorang; itu bukan Jongdae yang duduk disebelahnya, Chanyeol melepas earphone yang semula bertengger dikedua sisi telinganya.

"Oh kau murid Yeong-Gu?" Chanyeol menatap murid mungil dan berwajah bagai malaikat yang kini duduk di sebelahnya.

"Ah... ya, aku Luhan." Siswa yang bernama Luhan itu tersenyum ramah menanggapi Chanyeol.

"Aku Chanyeol. Park Chanyeol." Dan mereka mulai berbincang-bincang.

Membuat Baekhyun yang duduk dibelakang keduanya, memasang wajah masam.

Bus mulai melaju, semua murid bersorak dengan gembira. Tentu saja terkecuali Baekhyun yang sama sekali tidak mau menunjukkan sedikit senyumnya.

Kris tertidur dibahu Baekhyun, membuatnya berulang kali harus mendorong kepala Kris agar terangkat dari bahunya. Namun Kris yang Baekhyun anggap mesum itu justru memeluk erat pinggang Baekhyun dan menyamankan kepalanya diatas bahu kanan Baekhyun. Selama itu pula Baekhyun mengumpat kasar dalam hatinya.

...

Setelah memakan waktu hampir 4 jam, mereka sampai disebuah pantai dengan pasir putih yang sangat indah. Seluruh murid berlarian mendekati ombak begitupula dengan Baekhyun.

Jika ada hal yang membuat stress, maka pantai adalah obatnya. Itu pendapat Baekhyun.

Deburan ombak, angin sepoi-sepoi, panas matahari yang hangat dengan paduan air, udara dan pemandangan asrinya membuat siapapun menjadikan pantai sebagai tempat refreshing. Tak dipungkiri, Baekhyun sangat menyukai pantai.

Kris dan Sehun mengikuti Baekhyun yang berlarian seperti anak kecil.

Sedangkan Chanyeol dan Luhan kini saling bermain air.

"Apa kita akan berkemah disini? Yang benar saja dipantai!" Sehun berteriak kesal. Ia membenci pantai sebenarnya.

"Tentu saja tidak, misi kita adalah membuat api unggun dimalam yang dingin dan diantara angin." Kris menjawabnya dan lagi-lagi Sehun hanya mampu mendengus kesal.

"Lalu dimana?"

"Tentu saja dihutan, bodoh!" Kris memukul kepala Sehun dengan kertas catatan dari kepala sekolah yang dibawanya. Selain menjadi kapten basket disekolahnya, Kris juga memiliki tanggung jawab yang diserahkan oleh kepala sekolah untuk acara perkemahan kali ini.

...

"Chanyeol! Kau membuat seragamku basah!" Luhan berpura-pura kesal saat Chanyeol menyipratkan air kearahnya dan membuat seragam Luhan basah.

"Maafkan aku...aku..tidak sengaja." Sesal Chanyeol dan mendekati Luhan.

"Hahaha" Luhan justru tertawa melihat respon Chanyeol yang penuh rasa bersalah. Ia sebenarnya hanya bercanda.

Luhan kemudian membalas menyipratkan air kearah Chanyeol dan mendorong tubuh Chanyeol hingga terjerambab kedalam air dan seluruh pakaian Chanyeol basah. Ia berlari dan membuat Chanyeol mengejarnya.

Baekhyun menatap bengis kearah keduanya. Seperti banteng yang siap diadu dalam perlombaan.

Sebuah ide buruk tiba-tiba muncul dari otaknya.

Ketika Luhan melewatinya, Baekhyun segera menjulurkan kaki kanannya dan membuat Luhan terjatuh. Ia kemudian berjalan menjauh dan berpura-pura tidak ada yang terjadi.

'Rasakan itu!' Dalam hati Baekhyun tertawa terbahak.

Chanyeol yang melihat Luhan terjatuh segera berlari untuk menolongnya. "Kau tidak apa-apa?"

"Shh..sakit." Luhan memperlihatkan pada Chanyeol kedua lengan tangannya yang tergores oleh pasir. "Siapa siswa itu? Dia membuatku jatuh! Ini perih Yeol..."

Chanyeol mengulurkan tangan untuk membantu Luhan berdiri, namun Luhan ternyata sangat pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

"Pergelangan kakiku sakit dan sepertinya aku tidak mampu berjalan."

Dengan khawatir akhirnya Chanyeol memeriksa pergelangan kaki Luhan, namun tidak ada tanda-tanda luka ataupun bengkak. Chanyeol tetap menawarkan punggungnya untuk menggendong Luhan dan Luhan tersenyum puas.

Sedangkan ditempat lain Baekhyun merutuki kecerobohannya. "Sial! Kenapa dia pandai dalam hal modus!"

"Siapa sayang?"

Kris muncul dan mengagetkan Baekhyun.

"Pergi sana! Jangan mengikutiku!"

"Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan berdua dengan pacarku, benarkan? Kemarilah kita bersenang-senang."

Baekhyun semakin kesal sekarang.

Maybe,Fight!

.

.

.

Senja kuning berubah menjadi jingga, matahari perlahan tenggelam dan malam akan segera datang. Seluruh murid kini berada dihutan khusus untuk perkemahan. Tenda para tim sudah diberdirikan dengan rapi. Masing-masing tim memiliki 12 anggota gabungan dari 3 sekolah.

Mungkin Baekhyun harus kembali bersyukur karena berada satu tim dengan Chanyeol tanpa Kris. Setidaknya kesempatan untuk mendekati Chanyeol tanpa halangan dari sang kekasih; atau mungkin tidak? Karena Luhan juga berada satu tim dengannya dan terus saja menempel seperti benalu pada Chanyeol.

"Kenapa kau hanya berdiri saja tanpa membantu ha? Kau pikir kau ini raja?" Luhan datang menghampiri Baekhyun yang bermalas-malasan dengan bermain gadget.

"Tentu saja aku raja sekolah." Baekhyun dengan bangga menjawab.

Luhan melirik nama tag diseragam Baekhyun dan berdecak heran. "Jadi kau yang bernama Byun Baekhyun? Anak pemilik Yeong Group, siberandalan sekolah yang membully temannya hingga bunuh diri eh?"

"Apa maksudmu bicara seperti itu? Kau merendahkanku atau kau ingin beradu ilmu bela diri denganku?" Dengan sombongnya Baekhyun bersikap angkuh dan melipat kedua tangannya didada.

"Lagi pula bukan hanya aku yang membully, lalu kenapa Kau hanya menuduhku?"

"Aku tidak menuduhmu, aku punya bukti! Kau seorang pembunuh Baekhyun!"

"Atas dasar apa sekarang kau menuduhku pembunuh hah?!"

"Aku adalah sepupu Minseok, sebelum kepergiannya, Minseok mengatakan padaku jika kau membuatnya hampir gila karena kejahilanmu padanya." Luhan mengambil ponsel dari saku blazzernya. "Lihat ini."

Segera Baekhyun merebut ponsel tersebut dan membaca obrolan SNS Luhan dengan Minseok. Ia kemudian tertawa melihatnya. "Dengar tuan putri Luhan, kau tidak bisa menuduhku pembunuh hanya karena hal ini."

"Ah benarkah? Tapi setidaknya kau adalah dalang dari kematian Minseok!"

Dengan marah Luhan mencengkeram kerah seragam Baekhyun.

"Dengar! Aku akan membalas perbuatanmu pada Minseok!"

Satu pukulan Luhan layangkan diperut Baekhyun dan membuat Baekhyun terbatuk.

Tidak ingin menjadi pengecut Baekhyun balas memukul wajah Luhan, namun Luhan mampu menghindarinya sehingga membuat Baekhyun hanya meninju udara kosong.

Luhan tertawa, namun sedetik kemudian ia tiba-tiba terjatuh dengan raut wajah kesakitan.

Sedangkan Baekhyun dibuat bingung, ia sama sekali tidak memukul Luhan, lalu kenapa anak itu justru kesakitan?

"Baekhyun! Apa yang kau lakukan!" Chanyeol tiba-tiba datang dan membantu Luhan.

Sekarang Baekhyun tahu mengapa Luhan melakukan itu, ia hanya berakting dan menarik perhatian Chanyeol.

"Akting yang bagus!" Baekhyun memasang wajah ingin muntah melihat Luhan yang masih saja berpura-pura kesakitan.

"Tidak bisakah sekali saja kau tidak membuat masalah?!"

"Tanya padanya, aku atau dia yang membuat masalah!" Baekhyun memilih duduk dan tidak lagi menggubris keduanya.

"Luhan kau tidak apa-apa?" Tanya Chanyeol khawatir.

"Perutku sakit sekali, d-dia.. memukulku."

"Apa kau bilang!" Kini Baekhyun tidak bisa lagi bersabar. Emosinya tersulut atas kebohongan Luhan. Jelas-jelas dirinya yang Luhan pukul dan saat ini perutnya kesakitan, tapi justru Luhan memutar balikkan fakta.

"Aku akan membantumu, kita bisa meminta tim medis untuk mengobatinya." Chanyeol dengan segera menggendong tubuh Luhan.

Baekhyun bersumpah, ia melihat seringaian puas Luhan yang ditujukan untuknya.

"Lagi-lagi dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Menjengkelkan!"

Perutnya sakit. Sungguh pukulan Luhan benar-benar kuat. Bukankah seharusnya Baekhyun yang butuh pertolongan? Bukankah seharusnya Baekhyun yang ada dalam gendongan pangeran sekolah? Persetan dengan semua itu, Chanyeol mungkin tidak akan pernah sudi melakukannya.

...

Seperti yang telah Kris katakan sebelumnya, masing-masing tim malam ini diberikan sebuah misi untuk membuat api unggun. Ia memberitahukan agar masing-masing tim mencari kayu bakar, membuat api unggun untuk membakar ikan yang akan di jadikan makan malam. Kris juga mengatakan jika tema perkemahan mereka adalah bertahan dialam bebas. Jadi mereka tidak boleh membeli makanan ataupun memakan makanan yang mereka bawa dari rumah.

...

Chanyeol barusaja keluar dari tenda tim medis ketika ia berpapasan dengan Kyungsoo.

"Aku ingin bicara padamu."

"Bicara saja." Chanyeol mengacuhkan Kyungsoo.

"Ciuman kemarin itu..." Kyungsoo gugup ketika Chanyeol menatap tajam dirinya. Seharusnya ia sadar tak seharusnya ia mengatakan ini tapi Kyungsoo benar-benar membutuhkan kepastian dari Chanyeol. "Kau—"

"Lupakan ciuman itu, lagipula aku tidak serius dengan semua itu. Jadi mulai sekarang jangan ingat-ingat lagi. Oke?"

Kedua tangan Kyungsoo terkepal.

"Bajingan kau," ia kemudian menampar pipi Chanyeol dan pergi dengan airmata yang mengalir dikedua pipinya. Ia tahu sejak awal seperti apa itu Chanyeol, lalu mengapa ia tidak mampu menahan hasratnya? Seharusnya ia sadar bahwa Chanyeol hanya mempermainkan dirinya. Sekarang ia harus rela di campakkan setelah ciuman pertamanya Chanyeol ambil.

Tak ingin memikirkan apa yang baru saja terjadi, Chanyeol bergabung dengan timnya untuk mencari kayu bakar.

Luhan masih berada dalam tahap pengobatan, jadi Chanyeol tidak mengijinkan Luhan untuk bergabung. Ia mengkhawatirkan Luhan, walau faktanya Luhan sama sekali tidak terluka.

Tak lama Chanyeol menemukan timnya tengah berkumpul melakukan diskusi, namun Kris ada disana. Seingat Chanyeol Kris tidak berada satu tim dengannya, lalu mengapa ada Kris? Satu-satunya yang terlintas dikepala Chanyeol adalah karena Baekhyun ada dalam timnya dan Baekhyun adalah pacar Kris. Cukup masuk akal. Lalu bukankah ini saatnya seluruh tim bekerja mengumpulkan kayu bakar dan bukan untuk berpacaran. Chanyeol berdecak kesal jadinya.

...

"Sudahku bilang, aku tidak mau satu tim denganmu Kris!" Baekhyun dengan kasar menghempas tangan kekasihnya. Wajahnya merah padam menahan amarah.

"Kenapa baby? Kau tidak perlu bersusah mencari kayu bakar dan melakukan hal konyol seperti membakar ikan dengan api unggun, kita bisa pergi club didekat hutan ini, kau yakin menolak tawaranku hm?"

"Memang kenapa?! Aku suka melakukannya, melakukan semua ini bukanlah hal konyol! Jangan menentangku atau hubungan kita berakhir!"

Baekhyun berteriak dan seluruh anggota tim kini memandang dirinya dan Kris.

Kris yang tahu kemana arah pembicaraan Baekhyun segera menarik tangannya dan membawa Baekhyun menjauh dari para tim yang ada disana.

"Lepas atau kita putus!"

Kris menghentikan langkahnya ketika Baekhyun meronta sepanjang perjalanan.

"Coba saja kalau kau mau Baek dan lihat apa yang akan terjadi pada Chanyeol." Kris tersenyum miring melihat ekpresi pucat diwajah Baekhyun.

"Kenapa kau selalu menggunakan Chanyeol untuk mengancamku?"

"Karena aku tahu kau sangat menyukainya dan aku cemburu tentang semua itu. Sekarang kau pilih yang mana, menuruti keinginanku atau melihat Chanyeol hancur?"

Diam. Baekhyun tak mampu lagi berkutik jika Chanyeol sudah diseret kedalam masalah diantara dirinya dan Kris. Terkadang ia menyesal mengapa harus dirinya yang terlibat dan menjadi kekasih Kris? Mengapa harus dirinya pula yang jatuh dalam pesona Chanyeol? Dan mengapa cintanya bertepuk sebelah tangan hingga mempersulit perjalanan sepenggal kisah percintaannya. Baekhyun kadang berharap agar Tuhan mencabut nyawanya, karena ia sungguh lelah memikul beban hidupnya sendirian.

"Ikutlah denganku dan kita akan bersenang-senang sayang." Kris menggenggam tangan Baekhyun tanpa penolakan dari kekasihnya itu.

Mereka berjalan menuju sebuah mobil; ntah sejak kapan ada mobil mewah terparkir diarea hutan. Seingat Baekhyun mereka semua datang dengan bus dan dilarang menggunakan kendaraan pribadi.

Tidak peduli tentang semua itu, Baekhyun hanya menurut dan duduk diam disamping Kris yang siap mengemudi.

Sementara ditempat lain seseorang mendengar percakapan keduanya dari balik pohon besar.

.

.

.

To

Be

Continue...

Siapakah orang yang menguping KrisBaek(?)

Hallo gue datang bawa chapter 3 Maybe,Fight! Setelah perjalanan jauh yang sangat melelahkan dan membuat gue menyesal :(

FF ini bakalan END di CH 5 mungkin ya. Keep support me to writing the next chapter with your review. Thanks you so much

Terimakasih untuk yang sudah follow,favourite dan review.