Kegauhan cukup jelas terdengar, beberapa suara terdengar saling menghujat satu sama lain dan hanya sebuah suara yang menahan isakannya. Aku hanya bisa terdiam ketika mencoba membuka mataku yang sangat susah terbuka. Awalnya aku tak bisa melihat apapun karena tertutup oleh kabut putih yang tebal namun perlahan kabut itu membudar.
Tubuhku kaku dan terbaring di sebuah ruangan dengan empat orang berdiri memungguiku di kaki ranjang, aku tak bisa melihat mereka. Hingga seorang wanita dengan perawakan keibuan yang kental menoleh ke arahku. Dialah yang menangis.
"Sehun-ah!" teriak wanita itu dan menghampiriku disisi kananku dan membelai wajahku sayang. "syukurlah kau sudah sadar." Aku menatapnya bingung, aku ingin bersuara namun tak terdengar apapun. "Myeon-ah, panggil dokter." Serunya kesalah seorang pria.
Tidak butuh lama seorang dokter dan suster datang. Mereka memeriksaku dan membantuku untuk minum dan menuju sudut ruangan memperhatikanku. Perlahan tenggorokanku tidak terlalu kering dan bisa mengeluarkan suara.
Wanita itu terus menerus membelai dan menatap wajahku penuh sayang, aku juga menatapnya dan menerima perlakuannya. Aku seperti mengenal wanita sangat lama tapi aku tidak bisa mengingatnya. "Anda siapa?"
Mungkin aku menyakitinya, yah, dia terlihat sangat mengenal dan menyayangiku tapi, aku tak bisa mengingat satu pun orang di ruangan ini. Sepertinya dia hampir mengalami serangan jantung saat aku mengatakannya. Tiba-tiba saja ia kembali menangis, membuatku tambah bingung.
"Sehun-ah, ini ibu sayang." Ujarnya terbata-bata karena tangisannya. "Apa kau tak mengingat ibu, hmm?"
Aku menggeleng pelan dan mengalihkan pandangan kearah tiga pria lain yang menatapku sedih. Seseorang yang sangat tampan terlihat lebih menderita di banding yang lain. Siapa mereka? Kenapa aku tak bisa mengingat satu pun kenanganku. "Siapa Sehun?"
Tangisan wanita yang mengaku ibuku semakin kencang, hingga seorang pria yang memanggil dokter tadi menariknya kedalam pelukan dan keluar dari ruangan. Tinggal dua orang pria itu mencoba mendekatiku namun suster dan dokter itu sudah berada disisi ranjangku lagi dan menyuntikan sebuah cairan melalui selang ditanganku.
"Beristirahatlah," ucap dokter itu menenangkan. "Kau punya waktu banyak untuk perlahan memahami semuanya." Dokter dan suster itu meninggalkan kami bertiga. Membuatku menatap mereka bingung. Aku merasa mereka sangat dekat denganku tapi aku tidak tahu mereka siapa.
"Siapa?" tanyaku berjuang disela-sela rasa kantuk yang menyerang.
Pria bertubuh mungil lebih dulu mendekatiku dan menggenggam tanganku yang bebas dari selang. "Sehun-ah, namamu Kim Sehun." Yah, rasanya nama itu memang milikku. Tidak terasa ganjil dan mengganggu. Terasa seperti rumah. "Aku Kim Kyungsoo, kakakmu."
"Kakak? Aku punya kakak?" dia mengangguk, terlihat samar karena aku merasa sangat mengantuk dan mengalihkan pandangan ke pria yang satu lagi. "Kau?"
"Kau tidak mengingatku, Sehunnie?" tanyanya dengan suara tercekat, genangan air mata menumpuk disudut matanya, tidak perlu waktu lama untuk bendungan itu hancur.
Entahlah, dia membuatku memiliki perasaan yang campur aduk dan membuatku sesak. Bahagia, marah, sedih, sakit hati, rindu semuanya ada. Hanya ada dua kata yang terlintas dibenakku ketika melihatnya. "Rusa," dia tersenyum mendengarnya. "Brengsek." Senyumannya langsung menghilang.
Tapi senyuman itu kembali untuk beberapa saat, sebelum aku menyerah mempertahankan mataku untuk tetap terbuka. "Ya aku Xi Luhan yang brengsek." Aku mendengarnya berbicara dan sebuah sentuhan kecil di bibirku sebelum benar-benar terlelap.
Aku kembali membuka mataku dan menemukan wanita, ibuku, menungguku tersadar. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur dan berapa lama ia menungguiku. Yang kutahu, matahari sudah sangat tinggi di langit sana.
Ibu – rasanya canggung sekali memanggilnya – membantuku untuk duduk dan minum sebelum menanyakan aku sesuatu yang kuinginkan. Aku hanya menggeleng karena tenggorokanku terasa pahit.
"Ibu," dia tersenyum sumringah ketika mendengarku memanggilnya dengan sebutan itu. Mau tidak mau aku juga ikut tersenyum. "Bagaimana aku bisa disini? Kenapa aku tak mengingat apapun? Apa yang terjadi?"
Senyumannya berubah menjadi pahit. Ia mengelus surai rambutku dan mengecup keningku lembut. "Sehun sayang, kau mengalami kecelakaan dan lupa ingatan." Sedikit menjelaskan keadaan tapi tidak memenuhi rasa penasaranku.
"Kenapa aku kecelakaan?"
Ia mendesah berat. "Sangat panjang untuk dijelaskan, kau punya banyak waktu untuk perlahan memulihkan ingatan dan mempelajari semuanya. Kau anak yang pintar, Sehunnie. Yang perlu kau tahu, kau baik-baik saja sekarang. Ibu disini dan akan melindungimu."
Ibu menolak untuk menceritakan semuanya, aku hanya bisa menurutinya. Mungkin terlalu berat untuk menceritakan semuanya. Aku bisa bertanya pada Kyungsoo atau rusa...Kenapa aku jadi merindukan pria rusa itu?
Aku ingin meminta ibu untuk memanggil pria tampan yang bersama Kyungsoo hyung – rasanya memang dia kakakku, rasanya nyaman memanggilnya hyung – untuk menemuiku. Aku... aku ingin bertemu dengannya sekarang juga.
"Ibu," dia hanya bergumam pelan sembari menyuapi bubur tanpa rasa itu ke mulutku. "Apa aku mempunyai hubungan khusus dengan pria rusa itu?" gerakannya terhenti, menatapku kaget dan berubah menjadi senyuman pahit, lagi.
"Rusa? Yah, itu memang arti namanya? Ternyata kau menghubungkannya dengan hewan hingga kau tidak melupakannya. Kenapa kau tidak menghubungkan ibu dengan Unicorn sehingga kau tidak melupakan ibu. Kau tahu, ibu sangat menyukai Unicorn!" Racaunya kesal, aku hanya meringis mendengarnya mengomel. Tapi aku juga merindukan suara omelannya. "Namanya Luhan, dia rekan kerja kakakmu."
"Apa aku..."
"Kau menyukainya, Hunnie." Desahnya panjang sembari menyuapkan sesendok besar bubur kemulutku. "Ibu juga baru mengetahuinya dari kakakmu saat pertama kali kau masuk rumah sakit. Dari sekian pria atau wanita di dunia ini kenapa kau harus menyukainya, Hunnie?"
Kalimatnya, membuat suara Kyungsoo terngiang di kepalaku. Aku pernah mendengarnya mengucapkan hal yang sama dengan ibu? Ada apa? Kenapa mereka tidak menyukai Luhan? Apa dia pria bren...
'Dia brengsek, Sehun-ah. Kau tak seharusnya mencintainya'
"Apa dia tidak baik?" tanyaku, mencoba menahan rasa sakit di kepalaku.
"Sehun-ah, kau baik-baik saja?" seru ibuku ketika melihat ekspresiku yang terlihat buruk, mungkin saja. Rasa sakitnya semakin parah, kepalaku terasa seperti dipukul ribuan palu tak kasat mata dan ruangan berputar. "Sehun-ah, dokter sebentar lagi kesini sayang. Bertahanlah."
"Apa dia bukan pria yang baik?" tanyaku lagi, kali ini sedikit berteriak mencoba menanggulangi suara denging yang menyakitkan telinga.
"Sehun-ah,"
"Jawab aku! Ibu!" rasa sakitnya semakin menjadi, aku mulai menjambak rambutku sendiri dan dari sudut mata aku bisa melihat gerombolan dokter dan suster masuk ke kamarku dan menahan tubuhku yang meronta ingin dilepaskan. Mereka sama sekali tidak membantu, kepalaku sakit dan hanya dengan memukul atau menjambaknya rasa sakitnya sedikit berkurang.
Aku terus meronta, mendorong beberapa suster yang mencoba menyuntikkan cairan lewat selang infusku. Aku ingin pergi, mereka malah semakin menyakitiku. "PERGI! LEPASKAN AKU!" teriakanku seperti tidak terdengar oleh mereka. Kini aku semakin dekat dengan pinggiran ranjang, hanya butuh menurunkan kakiku dan aku bisa pergi dari tempat ini.
Tapi kakiku seperti batu, aku langsung terjatuh dari ranjang dan percikan darah menempel di wajahku. Selang infusku lepas secara paksa dan membuat darahku mengucur seperti air terjun. Rasa sakit itu semakin membuatku ingin membenturkan kepalaku.
Baru saja, aku ingin menghempaskan kepalaku di lantai marmer yang dingin sebuah tangan menghentikanku dan mengunci pergerakanku dari belakang. Aku masih meronta hingga suaranya perlahan menenangkanku.
"Abaikan rasa sakitnya, Sehun-ah." Ujarnya lembut, tepat di telingaku ia membisikannya dari belakang. Suaranya, suara Luhan. "Ketika kau mengabaikannya, rasa sakit itu hanya menjadi kebas."
"Sakit, sakit." Ulangku berulang kali, mencoba tidak peduli denganya tapi dia tetap mengulang suara itu hingga seorang suster menyuntikan cairannya dari lenganku. Perlahan rasa sakitnya menghilang dan tubuhku melemas. Aku tidak bisa merasakan apapun kecuali aku bisa melihat semuanya.
Dengan lembut ia menggotongku kembali keranjang, dan kulihat ibuku masih di ruangan ini, hanya saja ia kembali menangis dan membelai rambutku. Luhan beralih ke sisi lain ketika suster menghentikan pendarahan di lenganku. Aku hanya menatapnya tidak peduli dengan keadaan sekitar. Hanya dengan melihatnya, duniaku menjadi tenang dan rasa sakit di seluruh tubuh terasa menghilang.
Ibuku perlahan mundur meninggalkan ruangan dibantu oleh Luhan yang membantunya, ikut meninggalkanku sendirian di tengah dokter dan suster-suster yang terlihat mengerikan sekarang. Tapi, mereka kembali membuatku kembali ke dunia mimpi.
Aku tidak tahu berapa lama aku kembali tertidur, yang jelas aku kembali terbangun ke esokan harinya. Kyungsoo ada di ruangan ini, menatap ke arah luar melalui jendela dengan ponsel bertengger manis di telinganya. Ia belum menyadari aku terbangun, kesempatan itu kugunakan untuk mendengarkan pembicaraannya.
"Pekerjaan Luhan masih bagus, dia masih bersikap profesional selama menjaga Baekhyun di sekolah. Tidak. Kau gila, itu yang kutakutkan. Dia pria yang tak pernah bisa ditebak. Aku bahkan tak bisa membaca sikap dan ekspresinya. Kau tahu aku adalah analis, hal seperti ini yang membuatku semakin takut. Yak! Kenyataan adikku menyukainya hampir mengirimku ke jurang saat menyetir. Sehun bukan tipe yang akan menyerah terhadap sesuatu jika ia sudah menetapkan hatinya. Kau tidak mendengar kalimatku barusan? Baru menetapkan hatinya saja dia tidak akan menyerah, Sehun, posisinya sudah memberikan hatinya."
"Berhentilah bicara, Kris. Kau membuat kepalaku bertambah pusing. Aku tahu kau lebih tua, tapi aku tidak memanggilmu Yifan. Jadi, aku tak perlu menggunakan tata bahasa itu padamu. Terserah. Hmm, Luhan?"
"Tidak hanya kau yang kaget. Aku hampir terkena serangan jantung dengan kenyataan kalau dia serius dengan Sehun. Aku sudah bilang tadi. Jangan memutar kalimat, bahasamu berantakan. Aku tahu dia serius bersamaan dengan Sehun masuk rumah sakit dua bulan yang lalu. Aku tidak punya kewajiban untuk memberitahumu soal ini. Kita memang berteman, tapi aku tak punya kewajiban untuk melapor hal yang berurusan dengan keluargaku." Kyungsoo tertawa lepas. "Bukankah julukanku SatanSoo? Aku akan menghukum junior yang mengatakan itu sejak tahun lalu kalau aku tahu siapa."
"Jadi apanya? Aku tidak bisa berbuat banyak, ini masalah hati, sayang. Itu hanya sarkasme. Jangan bawa Jongin kemasalah ini. Hey, hey, hey?! Kau juga suka berondong panda itu juga kan?" saat itu ia menoleh untuk melihatku dan menyadari bahwa aku sudah tersadar. "Sudah hyung. Iya aku baru saja memanggilmu hyung. Sehun sadar. Oh. Bye!"
"Yifan hyung titip salam untukmu." Aku menautkan alisku bingung. "Kau juga mengenal Yifan hyung. Dia kepala sekolah sementaramu, ngomong-ngomong."
"Sementara?"
Kyungsoo menghela napas panjang. "Kau harus belajar memperhatikan sekitar mulai sekarang, Hunnie. Kami tak bisa terus-terusan menjelaskan segala sesuatu karena hal itu butuh seumur hidupmu. Karena itu, kau harus bisa menemukan potongan memori perlahan-lahan. Setuju?"
Aku hanya mengangguk, karena tidak disuruh pun aku harus menemukannya. Living in these clueless world make me like a moron.
"Aku akan meminta sarapan diantar oleh suster karena setelah itu kau punya latihan menggerakkan kakimu." Aku menunggunya selesai menelpon suster sebelum menanyakan hal yang lain.
"Jadi, aku benar-benar menyukai Luhan?" gerakan Kyungsoo terhenti untuk sesaat sebelum melempar ekspresi bingung. "Kenapa hyung dan ibu tidak menyetujui hubungan kami?"
Kyungsoo menghela napas panjang dan menarik kursi mendekati ranjangku. "Ini akan menjadi cerita yang panjang. Kau siap mendengarnya?"
