Maybe,Fight!
.
.
.
Chapter 4
...
"When your love in danger, let him die or you fight for protect!"
Hingar bingar suasana club malam masih terasa asing bagi retina Baekhyun. Meskipun ia tergolong murid nakal pembuat onar, setidaknya ia tidak pernah sekalipun pergi ketempat seperti yang ia pijak saat ini.
Dentuman musik yang memekakkan telinga, manusia-manusia yang tidak tahu akan apa itu rasa malu dengan berciuman disetiap kesempatan, para gadis dengan gaun ketat dan terbuka, juga mereka yang mabuk-mabukkan. Baekhyun merinding melihatnya. Dia benar-benar membenci hal-hal kotor seperti ini.
"Sayang duduklah." Kris memegang kedua bahu Baekhyun dan mendudukkannya disofa merah yang ada didalam club.
"Kau mau pesan minuman?"
"Aku mau jus." Jawaban Baekhyun mendapat kekehan dari Kris.
"Come on babe, kita sedang berada di club night tidak ada jus dalam bersenang-senang. OKE? Kau mau vodka, wine atau whiskey ? Atau kau mau yang lain?" Tawar Kris.
"Aku tidak minum."
'Bajingan ini menyebalkan sekali'
"Baiklah, kalau begitu akan kupesankan kopi untukmu, tunggulah disini."
"Hei! Kau bisa memesannya dari pelayan bukan?"
"Tidak Baek, kita harus memesannya dari bartender disana." Kris menunjuk seorang bartender yang berdiri dibalik meja bar tengah mengocok minuman yang kemudian dituang kedalam gelas."Tidak seperti di restaurant kau bisa menjentikkan jari dan para pelayan siap melayani. Disini berbeda."
Baekhyun mengedikkan bahu acuh ketika Kris bangkit dari duduknya dan berjalan kearah meja bar.
Sembari menunggu Kris kembali, Baekhyun menyulut sebatang rokok yang ia ambil dari bungkus rokok milik Kris. Lagi pula merokok itu tidak dilarang bukan? Setidaknya selama ini belum ada yang melarang Baekhyun untuk merokok. Kecuali jika ia meminum minuman keras, seseorang pernah melarangnya untuk tidak sekalipun menyentuh apapun yang dapat membuatnya mabuk.
Tanpa disadari senyuman terlukis di wajahnya mengingat seseorang tersebut.
.
.
.
Chanyeol berjalan kearah dimana timnya berkumpul; mereka semua menunggu anggota yang belum hadir.
"Ayo kita berangkat."
"Tapi Baekhyun dan Luhan belum datang." Salah satu anggota merespon Chanyeol.
"Luhan sedang dalam pengobatan, Baekhyun tidak akan ikut. Ayo kita pergi."
"Chanyeol!"
Baru saja Chanyeol ingin melangkah, sebuah suara merdu memanggilnya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati Luhan yang terengah penuh peluh yang mengalir dari kedua pelipisnya.
"Luhan kenapa kau disini? Bagaimana dengan perutmu?"
"Aku tidak apa-apa Yeol. Belum terlambat untuk bergabung 'kan?"
"Tentu saja belum, tapi benar perutmu sudah tidak apa-apa?" Chanyeol memastikan Luhan benar-benar sembuh dan mampu bergabung dengan timnya.
"Tentu saja Yeol. Aku sudah tidak apa-apa, ayo kita berangkat." Tentu saja Luhan tidak apa-apa, karena memang ia tidak sakit.
Mereka semua bergegas mencari kayu bakar untuk membuat api unggun yang akan digunakan untuk memanggang ikan malam ini. Dalam kepalanya Chanyeol masih menahan kesabaran. Disaat semua orang harus bersusah mencari kayu, Baekhyun justru tidak membantu mereka.
'Dimana sebenarnya anak itu?'
Sebenarnya Chanyeol tidak mengerti perasaan macam apa yang ia rasakan akhir-akhir ini terhadap Baekhyun. Ntah mengapa Baekhyun selalu saja berhasil menelusup kedalam pikiran dan mengusik ketenangannya.
"Chanyeol! Hai!"
Luhan mengibaskan kedua tangannya didepan wajah Chanyeol dan membuat Chanyeol tersadar dari lamunannya.
"Ah..oh ada apa Luhan?"
"Kau melamun, apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada." Chanyeol tersenyum dan merangkul bahu Luhan.
Seluruh anggota kini berpencar guna mencari kayu agar segera terkumpul banyak. Luhan selalu menempel pada Chanyeol dan Chanyeol sama sekali tidak keberatan tentang hal itu. Tangan keduanya bertautan sepanjang perjalanan.
Berkat perkemahan ini Chanyeol mengenal Luhan. Si murid cerdas dan populer dari sekolah Yeong-Gu. Luhan sangat pandai bermain baseball; yang mana itu adalah olahraga kesukaan Chanyeol sewaktu duduk di sekolah dasar. Chanyeol juga baru mengetahui jika Luhan adalah saudara dari Minseok.
.
.
.
"Apa ada Americano Latte?" Kris bertanya pada bartender selagi ia menghindari wanita seksi yang mencoba meraba tubuhnya.
"Tentu, anda mau tuan?"
"Ya, berikan satu untukku dan juga aku mau sebotol wine dan segelas sex on the beach"
Selagi sang bertender menyiapkan pesanan yang Kris inginkan, wanita seksi itu masih saja menempel padanya.
"Sendirian tampan?" Tangan wanita itu benar-benar tidak bisa diam dengan bermain kancing kemeja Kris.
"Aku kemari dengan pacarku, jadi tolong singkirkan tanganmu sebelum pacarku mengamuk."
"Ouww terlihat menyeramkan." Wanita itu mengedipkan sebelah matanya sebeum kemudian pergi setelah mendengar ancaman dari Kris.
"Permisi tuan, ini pesananmu."
Kris membalikkan tubuhnya menghadap sang bartender. Keningnya mengerut. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya wajahmu tidak asing untukku."
Bartender itu tertawa. "Banyak orang diSeoul yang memiliki wajah sama, mungkin anda salah tuan. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya."
Kris mengangguk. Mengambil pesanannya dan berjalan kearah dimana Baekhyun berada.
Tanpa Kris ketahui bartender itu menyeringai. "Kau sungguh tidak mengenaliku Kris? Tsk!"
...
Baekhyun mulai jengah ketika Kris datang dengan segelas; ntahlah yang jelas Baekhyun tahu itu adalah minuman keras, sedangkan tangan lainnya memegang secangkir kopi yang langsung Baekhyun rebut begitu saja. Kerongkongannya kering dan membutuhkan air jadi tanpa butuh waktu lama Baekhyun segera meneguk habis kopinya hingga tersedak dan batuk.
"Pelan-pelan Baek." Kris tiba-tiba saja duduk disebelah Baekhyun dan merangkul bahunya. Membuat yang kecil tidak nyaman dan mencoba menjauhkan dirinya.
Melihat Baekhyun yang tidak nyaman, Kris hanya mengedikkan bahu dan meminum minumannya dengan santai.
Tidak seperti biasanya Baekhyun terlihat amat sangat gelisah, bahkan keringat mulai membentuk bintik-bintik disekitar pelipisnya. Ntah mengapa udara terasa panas dan membuat tubuhnya gerah. Terlihat sangat jelas ketika Baekhyun melepas blazzer dan kancing seragamnya. "Kenapa panas sekali disini?"
"Aku tidak merasakannya, apa kau sakit Baek?" Kris menggunakan punggung tangannya untuk mengecek kening Baekhyun, apa anak itu demam ataukah tidak. Mengejutkan sekali ketika Baekhyun bahkan tidak menolak.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya ketika ia merasakan semakin lama tubuhnya semakin merasa gerah dan oh shit dia berusaha keras menutup area selangkangannya yang mulai mengeras.
"Akh-" Baekhyun menutup mulutnya sendiri ketika suaranya terasa aneh. Dia mendesah.
"Hm?" Kris tidak terlalu mendengar desahan Baekhyun karena dentuman musik yang semakin menggila begitu keras.
"Ak- aku harus ke toilet." Dengan cepat Baekhyun berdiri dan berjalan terburu ke toilet.
"Sial kenapa kepalaku sakit seperti ini!"
Sesampainya ditoilet, Baekhyun segera bersandar pada pintu karena kepalanya semakin berat dan tubuhnya mulai lemas akibat ereksinya. Ia kemudian merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya.
Dalam kepekatannnya hanya ada satu nama yang ia andalkan. Park Chanyeol.
Dengan cepat Baekhyun mendial nomor Chanyeol, namun sialnya nomor tersebut berada diluar jangkauan. Ia tak punya banyak waktu karena kepalanya semakin sakit. Tangannya dengan cepat mengetik pesan yang ia kirim ke nomor Chanyeol.
Karena jujur saja satu-satunya nomor oranglain; selain keluarganya yang ia simpan dikontak ponselnya hanya nomor Park Chanyeol. Nomor Sehun yang merupakan sahabat dekatnyapun tak ia simpan. Ntah Baekhyun bodoh atau anti sosial, disaat keadaan darurat seperti ini ia baru menyadari betapa berharganya sebuah nomor ponsel.
"Baek kau tidak apa-apa?!" Terdengar suara Kris dari luar pintu dan Baekhyun sudah tak kuat untuk sekedar berdiri.
"Sial apa yang harus kulakukan?" Ia memandang selangkanganya sendiri yang semakin membengkak sedangkan keringat dingin semakin deras mengalir.
"BAEKHYUN!"
Oke sekarang Baekhyun menyerah. Hasratnya tidak mampu lagi ia tahan. Dia butuh pelampiasan, apapun itu asal gerah dan rasa aneh ditubuhnya menghilang. Ia berdiri disisi lain dan membiarkan Kris masuk.
Jujur saja Baekhyun tidak pernah merasakan hasratnya seliar ini dan sialnya ia bahkan tidak tahu bagaimana mengatasi suatu ereksi yang menyiksa seperti saat ini.
"Kau tidak apa-apa Baek?"
Mata Baekhyun mulai buram menahan hasratnya, samar-samar ia melihat Kris yang membuka kemejanya.
"Baek kenapa aku juga merasa panas? Sebelumnya tidak karena di ballroom ada AC. Tapi ini panas sekali."
Tubuh Baekhyun merosot. Kakinya sudah tidak mampu berdiri dan menopang tubuhnya. Ia mendongak menatap Kris seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. "K-Kris tolong aku." Suara Baekhyun terdengar berat dan memohon.
.
.
.
Seluruh tim berhasil mengumpulkan setumpuk kayu bakar dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Para anggota Chanyeol tengah menyusun dengan rapi kayu-kayunya untuk dijadikan api unggun nantinya, sedangkan Chanyeol sendiri tengah sibuk membersihkan ikan segar yang akan digunakan untuk makan malam.
Ponsel dalam sakunya berdering menandakan pesan yang diterima.
"Luhan bisa kau ambilkan ponsel disaku celananku dan bacakan pesannya?" Tangan Chanyeol kotor dan bau amis. Jadi ia meminta bantuan Luhan yang ia pikir tangannya bersih karena sedari tadi Luhan tidak melakukan apapun selain memandangi Chanyeol. Luhan memang tidak membantu Chanyeol karena Chanyeol sendiri yang melarangnya.
"Tentu saja, kemari." Luhan mengambil ponsel dari saku celana Chanyeol dengan senyum yang mengembang, namun seketika senyumnya menghilang menatap layar ponsel Chanyeol.
One new message
From: Si Monster Baekhyun
0102706xxx
Aku tidak tahu mengapa aku seperti ini, tapi Chanyeol datanglah ke club didekat hutan. Kurasa aku membutuhkan bantuanmu. Kumohon datanglah...
Dengan cepat Luhan membuka pesan tersebut dan membacanya dalam diam. Dalam hati ia tertawa meski mulutnya diam dan wajahnya yang tidak menunjukkan ekpresi apapun.
"Siapa itu Lu? Apa dari ibuku?"
"Bukan, hanya pesan dari operator, biar kuhapus saja oke? Lagipula tidak penting."
Dengan cepat Luhan menghapus pesan dari Baekhyun. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun apalagi rasa peduli. Baekhyun dalam kesulitan atau tidak, dia tidak perlu meminta bantuan oranglain karena manusia seperti dirinya tidak sepantasnya diberikan bantuan, pikir Luhan.
"Baiklah, kukira itu ibuku." Mengedikkan bahunya, Chanyeol melanjutkan pekerjaannya membersihkan ikan, tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun terhadap Luhan.
Sedangkan Luhan menatap ponsel Chanyeol dengan penuh arti. Ia mengingat apa yang sudah ia rencanakan beberapa menit yang lalu.
...
15 menit sebelum Luhan memutuskan untuk bergabung dengan Chanyeol ia tanpa sengaja melihat Kris dan juga Baekhyun tengah bertengkar. Sungguh sangat menarik perhatiannya.
Berdiri dibelakang pohon besar dan mulai menguping apa yang sedang mereka berdua debatkan.
"Kenapa kau selalu menggunakan Chanyeol untuk mengancamku?"
"Karena aku tahu kau sangat menyukainya dan aku cemburu tentang semua itu. Sekarang kau pilih yang mana, menuruti keinginanku atau melihat Chanyeol hancur?"
Luhan nyaris terjungkal ketika mengetahui Kris kekasih Baekhyun. Seingatnya Kris adalah kekasih Huang Zitao adik kelasnya disekolah. Ini sedikit membuatnya bingung karena ada dua kemungkinan. Pertama, Kris selingkuh dengan Baekhyun atau Kris dan Tao sudah mengakhiri hubungan keduanya? Benar-benar lebih menarik ketika Baekhyun ternyata menyukai Chanyeol dan menerima Kris karena suatu ancaman. Wow. Luhan berdecak kagum memikirkan bagaimana murid berbdal bisa jatuh cinta. Namun kemudian Luhan sadar, pesona Chanyeol memang sulit ditolak.
Ntah mengapa ide licik sangat mudah bersarang diotaknya. Luhan segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tao!"
"Ya Luhan? Ada apa kawan?"
Terdengar jawaban dari seberang telepon.
"Dimana kau? Aku tidak melihatmu sejak sore tadi."
"Aku di club dekat hutan, kau mau kemari? Disini sangat menyenangkan!"
"Apa kau bersama kekasihmu?" Luhan melihat Kris menggenggam tangan Baekhyun didepan sana.
"Maksudmu Kris? Kami sudah putus sejak lama, kau tahu dia menyukai berandal Yeong-Il dan berpacaran dengannya."
"Ah maafkan aku, jadi kau sudah tahu itu? Aku dengar Kris dan Baekhyun akan ke club didekat hutan juga, kau mau melakukan sesuatu untuk seseorang yang sudah merebut Kris darimu Tao?"
Terdengar suara tawa sebelum Tao mulai menjawab.
"Apa yang bisa kulakukan? Jika mampu pasti akan kulakukan asal jangan menyuruhku membunuh seseorang."
Luhan tertawa.
"Tentu saja tidak. Kau bisa mempermalukan berandalan itu untuk membalaskan sakit hatimu. Bagaimana?"
"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku masih sangat mencintai Kris."
Terjadi percakapan panjang dan rahasia diantara Luhan maupun Tao. Bagaimana Luhan yang memiliki rencana licik dan mempengaruhi Tao.
"Oke Luhan kau tidak perlu khawatir, serahkan saja semua padaku dan kita nikmati pembalasan dendam kita bersama."
"Tentu, lakukan yang terbaik Tao-ah"
...
"Luhan?" Chanyeol menepuk bahu Luhan dan berhasil membuat Luhan tersadar dari lamunannya.
"Kau mengejutkanku Yeol."
"Kau terus saja tersenyum memandangi ponselku, apa yang menarik?"
Luhan mengusap tengkuknya. "Tidak ada, hanya saja wallpaper ponselmu lucu."
Chanyeol mengangguk dan berfikir dimana letak kelucuan dari sebuah gambar mobil sport yang menjadi wallpaper di ponselnya.
.
.
.
Ntah bagaimana ini semua terjadi, Kris maupun Baekhyun sama-sama kacau. Baekhyun yang duduk diatas wastafel dengan kemeja yang sudah terlepas seluruh kancingnya, lalu Kris yang berdiri didepannya tanpa seragam yang melekat ditubuh maskulinnya. Mereka berdua terlibat dalam sebuah ciuman panas penuh nafsu. Namun tanpa mereka ketahui sebuah handy came menyala dan merekam apa yang mereka berdua lakukan.
Semua terasa hitam pekat. Separuh dari diri Baekhyun berusaha menolak, namun separuh lagi menerima setiap sentuhan yang Kris berikan. Tubuhnya terasa melayang diudara dan ia kesulitan untuk menghentikannya.
'Tidak! Ini salah! Tidak seharusnya aku seperti ini!'
Baekhyun dengan kuat mendorong tubuh Kris hingga lelaki itu terjerambab.
"Ashh punggungku sakit. Sayangku apa yang kau lakukan?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ereksinya masih berlanjut dan benda diantara selangkangannya semakin membesar.
Matanya yang semakin tidak bisa melihat jelas menatap Kris; yang mana wajah Kris justru terlihat seperti wajah Chanyeol karena pengaruh obat perangsang yang sepertinya memiliki takaran dosis tinggi. Baekhyun melompat turun dan menerjang tubuh Kris.
Dia terlalu ingin mencoba bagaimana rasa bibir seseorang yang sangat ia cintai. Bibir Chanyeol yang selalu ia impikan untuk melumat bibirnya sendiri. Alam bawah sadar Baekhyun semakin liar berfantasi. Bibir yang saat ini ia kecap adalah bibir Kris, namun Baekhyun melihat dan merasakan itu bibir Chanyeol.
Kamera handy came masih menyala dengan seseorang yang terus menyeringai memegangnya.
'Setelah ini kau akan berharap bumi menelanmu Baekhyun!'
.
.
.
"Aww shh."
"Kenapa Yeol? Jarimu berdarah, astaga!"
Menyadari darah yang mengalir dari jari telunjuk Chanyeol, Luhan segera menarik tangannya dan masukkannya kemulut. Membuat Chanyeol tercengang dengan apa yang Luhan lakukan. Ia ingin bertanya namun mulutnya memilih bungkam.
"Apa itu sakit?"
Chanyeol menggeleng.
"Kenapa kau ceroboh sekali?"
"Aku hanya berusaha membersihkan bagian mulut ikannya tapi ternyata pisaunya mengenai jariku."
'Perasaanku tiba-tiba tidak enak.'
"Kau harus berhati-hati. Tunggu sebentar, aku ambilkan plester Yeol."
Sementara Luhan pergi mengambil plester, Chanyeol sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi Baekhyun. Satu-satunya yang menganggu pikirannya sejak tadi hanya Baekhyun. Dia tidak mampu membohongi dirinya sendiri jika dia tidak khawatir dengan Baekhyun.
Nomornya tidak dapat dihubungi dan membuat Chanyeol semakin frustasi.
"Apa kau mengkhawatirkan sesuatu? Kau terlihat sangat gelisah." Luhan duduk bersila dan merekatkan plester yang dibawanya pada jari Chanyeol.
"Apa kau mengkhawatirkan berandalan itu?" Bertanya tanpa mengalihkan pandangannya, Luhan tak menyadari raut wajah Chanyeol yang berubah.
"Namanya Baekhyun Lu," Ada rasa tidak terima dalam benak Chanyeol ketika Baekhyun disebut berandalan, meski faktanya memang Baekhyun seorang berandal sekolah.
"Untuk apa kau mengkhawatirkan bajingan seperti Baekhyun? Apa kalian berpacaran?" Jari telunjuk Luhan menunjuk wajah Chanyeol, seolah Chanyeol adalah pencuri yang tertangkap basah dan tengah di introgasi.
Dengan segera Chanyeol menyingkirkan jari Luhan yang semakin dekat dan menyentuh ujung hidungnya. "Kau ini sembarangan saja, aku tidak khawatir ataupun berpacaran dengan Baekhyun. HaHa aneh sekali tuduhanmu Lu."
Meski gugup namun Chanyeol berhasil menutupi semua itu dengan tawa konyol andalannya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, bukankah dia sedang bersenang-senang?"
Oops Luhan menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Darimana kau tahu?"
Terlihat berpikir dan Luhan mulai gugup mencari alasan. Mulut bodohnya yang kelewatan itu tidak bisa dijaga hingga ia keceplosan mengatan semua itu.
"Eum..maksudku.."
'Sial apa yang harus kukatakan?!'
Tidak mungkin Luhan mengatakanBaekhyun mengirim SMS dan mengatakan dia berada di club dan membutuhkan bantuan Chanyeol. Hell, siapa yang akan mengatakan hal itu, semua rencana yang sudah Luhan rangkai sedemikian rupa akan gagal begitu saja jika Chanyeol sampai pergi ke club, lalu menyelamatkan Baekhyun.
Tidak.
Tidak.
Dan TIDAK.
Luhan menggelengkan kepalanya. Untuk itu ia harus mencari alasan yang logis agar Chanyeol tidak curiga.
"Bukankah Baekhyun tidak suka bersusah? Buktinya dia tidak mau ikut mencari kayu bakar, bukankah itu berarti dia sedang bersenang-senang sekarang? Kemana dia? Kenapa tidak membantu kita? Bukan begitu Yeol?"
"Hm kau benar Lu, dia pasti sedang bersenang-senang."
Luhan menghela nafas lega.
'Hampir saja.'
"Chanyeol-a!"
Chanyeol maupun Luhan saling menoleh kearah belakang ketika suara melengking memanggil nama salah satu diantara keduanya.
Jongdae datang dengan senyum cerah menghiasi wajahnya. "Syukurlah aku menemukanmu Yeol!"
"Aku kira kau tidak datang karna seharian ini aku sama sekali tidak melihat batang hidungmu." Canda Chanyeol yang langsung menerima pukulan pada bahunya dari Jongdae.
"Aku tidak satu tim denganmu dan aku terlambat datang. Tapi ngomong-ngomong siapa dia, kalian tidak sedang berkencan bukan?" Jongdae melirik Luhan yang merona dan Chanyeol yang mengusap belakang tengkuknya.
"Ah dia Luhan, teman setimku. Dia dari sekolah Yeong-Gu dan Luhan ini Jongdae dia sahabat juga teman sekelasku."
"Halo aku Jongdae, senang bertemu denganmu Luhan?" Jongdae tampak mencoba mengingat sesuatu. "Astaga! Bukankah kau Luhan si juara pertama Olimpiade Sains tahun ini?"
Luhan terlihat terkejut, namun sedetik kemudian ia tersenyum pada Jongdae. "Benar. Aku Luhan, senang bertemu denganmu juga Jongdae-ssi"
"Jangan terlalu formal. Panggil saja Jongdae."
"Baiklah Jongdae."
Saling berjabat tangan dan tersenyum satu sama lain hingga lupa akan kehadiran sosok lain diantara keduanya.
Chanyeol berdeham untuk menyadarkan akan kehadirannya yang terabaikan.
"Ahem! Kim Jongdae sebenarnya apa yang membuatmu datang kemari?"
Chanyeol bertanya karena memang ia ingin tahu tujuan Jongdae. Jika mereka tidak satu tim itu berarti Jongdae memiliki maksud dan tujuan saat datang mencarinya.
"Apa kalian satu tim dengan Baekhyun?"
Chanyeol dan Luhan mengangguk.
"Kenapa kau mencari Baekhyun?" Luhan ikut bertanya. Ia hanya ingin tahu mengapa semua orang mencari berandalan itu.
"Aku tidak mencarinya, hanya saja Kris pergi bersamanya sejak satu jam yang lalu dan mereka belum kembali. Padahal Kris salah satu panitia penanggung jawab di perkemahan ini dan saat ini kami membutuhkannya."
"Lalu kenapa kau kemari?" Chanyeol masih terlihat santai namun tidak dengan hatinya ketika mendengar Kris bersama Baekhyun. Kris itu mesum. Chanyeol tahu itu dan dia sangat mengkhawatikan Baekhyun, apalai ini adalah hutan. Tempat asing yang bahkan semua murid belum ketahui seluk beluknya.
'Apa mereka tersesat?'
"Hei Park, aku pikir jika disini ada Baekhyun aku bisa bertanya dimana Kris. Tapi karena Baekhyun juga tidak disini, itu berarti mereka belum juga kembali."
"Bukankah mereka sepasang kekasih? Mungkun saja mereka sedang melakukan sesuatu yang membutuhkan privasi." Luhan menyeringai.
Sedangkan Jongdae menjentikkan jarinya. "Benar kau, kenapa tidak terpikir olehku hem."
Sementara itu Chanyeol tenggelam dalam lamunannya. Mengingat kembali jika Baekhyun takut Kris melakukan sesuatu yang tidak Baekhyun inginkan ketika mereka hanya berdua. Baekhyun pernah mengatakan itu pada Chanyeol. Lalu fakta jika saat ini mereka berdua tengah pergi; dimana Chanyeol tidak mengetahui dimana mereka berada, membuat Chanyeol semakin dihadang rasa was-was.
.
.
.
Maybe,Fight!
...
Mentari pagi bersinar begitu terang disertai suara kicauan burung yang indah. Baekhyun menggeliat tidak nyaman ketika bias sang surya menerpa wajahnya.
Kedua kelopak matanya terbuka. Kemudian menyipit ketika ia merasa asing dengan tempat yang ia pijak saat ini. Dengan sigap Baekhyun mendudukkan dirinya dan menatap bingung pada tubuh polosnya.
"Apa yang terjadi?!" Dia bertanya ntah pada siapa karena ia sendirian diruang yang tampak seperti sebuah hotel. Itu adalah ruang VVIP.
Semakin keras Baekhyun berusaha mengingat apa yang terjadi, maka kepalanya semakin merasa pusing, begitupula dengan perutnya yang merasa mual dan juga tubuh bagian bawahnya terasa begitu nyeri. Dia sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi setelah ia minum dan pergi ketoilet karena merasa sesuatu yang tidak beres terjadi semalam.
Satu nama yang Baekhyun ingat. Ia segera melompat turun dan memakai pakaiannya.
.
.
.
Pagi itu sebelum para murid bangun, Luhan menerima pesan dari Tao. Diam-diam ia pergi untuk menemuinya.
"Bagaimana?"
"Dapat!" Jawab Tao dengan bangga. Ia kemudian menyerahkan sebuah handy came pada Luhan.
Dengan cepat Luhan mengecek hasil rekaman video yang Tao tunjukkan. Sudut bibirnya terangkat keatas menciptakan sebuah seringaian. "Bagus Tao, kau mensensor wajah Kris itu akan membuat Baekhyun menahan malu sendiri."
"Tentu saja, kau pikir aku akan mempermalukan orang yang kucintai? BIG NO!"
"Byun Baekhyun kau harus tahu bagaimana rasanya dipermalukan dihadapan umum seperti apa yang kau lakukan pada saudaraku!" Luhan menatap tajam rekaman itu dan meremas dengan kuat handycame ditangannya.
To Be Continue...
Gatau dah chapter ini ancurrrrrr banget. Ngblank gt tiba2.
Sebenarnya ini vers rombak, versi pertama yg nguping itu CY dan yang rape Baek itu Hanbin CS buat balas dendam. Tapi ntah kenapa gue jadiin Luhan yg nguping dan dia jd dalang atas semua yg terjadi pada Baekhyun. Hemm next chap bakalan jadi "Si Malang Baekhyun" LoL.
Gimana ya cara Luhan nyebar itu rekaman buat malu2in Baek?
Itu thor lewat LINE aja atau BBM ga rempong kan?
Hah? Iklan mahal lho ya LoL
Ntar Luhan punya cara sendiri gmana nyebarinnya dan bikin Baek malu semalu malunya. Kira2 gmana hayoo?
Next chap juga Chanyeol harus protect Baek. Selama ini Baek terus yang protect dia, kapan sih dia sadar perasaannya dan menyelamatkan Baek dari lubang hitam(?) Kehidupannya.
Udah ye gue banyak bacot keknya. BIG THANKS buat yang selalu review, Foll and Fav.
Bentar lagi puasa guys jadi gue ga akan kasih 'ehem ehem' ya. OKE.
