Wajah dungu guru dihadapanku membuatku risih, ia sudah berdiri melongo disamping kursiku hampir satu setengah menit. Tapi tidak hanya itu, satu kelas menatapku persis seperti guru ini. Bahkan Jongdae dan Jongin yang mengaku sahabatku dan terus mengunjungiku di rumah sakit. Apa aku melakukan hal yang salah?

"Kim Sehun," ujar guru itu akhirnya sadar dengan tingkah bodoh. "Ini cukup mengejutkan!" dan berlalu ke depan, "aku perlu waktu sebentar, anak-anak." Timpalnya dan kembali dengan wajah dungunya.

Aku menoleh kearah Jongdae dan Jongin yang masih terpaku sama bodohnya dengan yang lain lalu mengayunkan tanganku diwajah keduanya. "Apa aku melakukan kesalahan?"

Jongin menggeleng kaku, "Tidak, hanya saja.." ucapnya menggantung di udara. "Kau tak pernah sesopan ini pada siapa pun kecuali orangtuamu." Apa hanya itu? Aku tak pernah bersikap sopan? Sebenarnya diriku seperti apa? Aku jatuh cinta pada pria tampan yang misterius, cinta yang termasuk buta. Aku tak pernah bersikap sopan. Lalu apa setelah ini? Aku suka minuman alkohol dan kebut-kebutan di jalanan tengah malam.

Sudah seminggu aku terlepas dari penjara bernama rumah sakit, banyak hal yang dilakukan oleh keluargaku dan sahabatku untuk memancing memoriku. Namun tak satu pun berhasil dan tak satu pun ingatan yang menghampiri. Aku merasa putus asa, terlebih lagi jika aku seperti tertinggal dalam lubang dalam dan gelap. Tidak tahu apa pun, menunggu kematian untuk datang.

Pelajaran berlalu terlalu lambat, membuat hampir tertidur di kelas namun suara bel menyelamatkanku. Jongdae dan Jongin segera menyeretku ketempat kami biasanya menghabiskan jam istirahat dan ternyata hanya pinggir lapangan yang rindang.

Banyak murid yang menghabiskan waktunya hanya untuk duduk-duduk menyantap makanan ringan mereka dan yang lain memilih untuk bermain bola. Bisa kulihat dengan jelas beberapa murid terlihat enggan melewati tempat kami apa lagi duduk dengan kami. Padahal kerindangan pohon tempatku bersandar cukup lebar tapi aku akhirnya mengetahui ketika seorang siswa perempuan nerd terpaksa melewati kami untuk keluar dari lapangan ini. Jongdae dan Jongin adalah penguasa sekolah yang suka mem-bully. Anehnya, aku merasa bahwa itu hal yang normal. Sepertinya aku juga sama seperti mereka, penguasa sekolah yang semena-mena terlebih lagi aku baru tahu Jongin adalah pemilik sekolah ini.

Aku mengikuti pergerakan gadis nerd itu keluar dari lapangan setelah lolos dari Jongin dan Jongdae. Pandanganku langsung beralih ketika gadis itu berpapasan dengan Luhan yang membawa dua kaleng minuman soda di tangannya.

Tanpa pikir panjang aku langsung mengejarnya dan menghentikan langkahnya. Ia terlihat kaget namun tersenyum canggung ke arahku. Kenapa harus senyuman canggung yang kuterima darinya? Apa dia tidak mengharapkan kehadiranku?

"Sehunnie, apa yang kau lakukan?" bisiknya, wajahnya menghadap lurus kearahku tapi matanya memperhatikan sekitar. "Tempat ini terlalu ramai. Apa Kyungsoo tidak menjelaskan tugas kami disini?"

Oh, ya, benar. Aku lupa soal itu. Aku hanya bisa menyengir kuda ke arahnya. Aku hanya seketika merindukannya dan hanya ingin menyapanya. "Maaf, aku lupa. Aku hanya ingin menyapamu." Ujarku seraya memberi jalan padanya. "Pura-pura saja percakapan kita sudah selesai." Suaraku terdengar jelas kecewa, dan ia menangkap hal itu.

"Sehunnie, aku harap kau mengingat penjelasan yang diberi Kyungsoo kalau kau terluka karena ikut campur masalah ini. Kau kehilangan ingatanmu karena pekerjaan kami. Kenyataan bahwa pihak musuh kini mengenali wajahmu sebagai orang yang menggagalkan rencana mereka, tidak memberikan dampak yang positif." Ujarnya kini terdengar marah. "Aku tahu perasaanmu, tapi kini kami harus menggandakan penjagaan untukmu juga. Karena itu, jangan bertingkah bodoh dengan menghampiriku seperti ini. Semua dinding mempunyai telinga, Sehunnie."

"Maafkan aku." Ujarku menundukkan wajahku. "Aku hanya ingin menyapamu, karena hanya disekolah aku bisa melihatmu. Kyungsoo hyung bahkan ibu melarangmu untuk menemuiku. Aku hanya ingin melihatmu dari dekat. Maafkan aku, jika aku membuat pekerjaanmu menjadi lebih susah."

"Sehunnie," panggilnya dengan suara yang melembut. "Aku tak bermaksud untuk marah padamu. Aku juga merasakan hal itu. Tapi...ketika pekerjaan ini selesai, aku mengerti maksud Kyungsoo dan ibumu. Mereka hanya mencoba melindungimu dari pria yang memiliki stempel brengsek di dahinya."

"Aku..."

"Maafkan aku," sebuah suara menyela ucapanku. Kami berdua menoleh dan mendapati Baekhyun menatap kami dengan penyesalan. "Tapi D.O memperhatikan dari jendela perpustakaan," sontak aku dan Luhan menoleh ke gedung perpustakaan yang memang berada tepat di samping kami dan aku langsung bisa merasakan tatapan mematikannya mengarah ke kami. "Dia menyuruhku untuk membawa Luhan pergi dan juga karena beberapa mata penasaran murid lain."

Aku mendesah panjang dan hanya bisa memasang wajah tertekuk ketika Baekhyun mengucapkan permintaan maaf sementara Luhan menatapku dengan sedih sebelum kembali ke lantai tiga, dimana kelas mereka berada.

Ketika Luhan dan Baekhyun sudah menjauh, Jongdae dan Jongin mendatangiku dan merangkul bahu seperti memberi kekuatan.

"Ternyata meskipun kau hilang ingatan, hati tidak pernah bisa membohongi." Ucapan Jongdae membuatku menoleh kearahnya dengan bingung. Apa mereka tahu aku menyukai Luhan? "Sehun-ah, kami berdua saksi matamu ketika kau jatuh cinta pada pandangan pertama padanya." Tambahnya, seperti bisa membaca pikiranku.

Jongin menyeretku ke bangku terdekat setelah mengusir beberapa murid yang menempatinya. Aku hanya bisa kasihan pada mereka karena aku juga perlu duduk untuk mendengarkan penjelasan yang sepertinya akan berlangsung lama.

"Sehun-ah," mulai Jongin sedikit ragu. "Aku akan mengatakan hal ini lagi padamu, karena kau hilang ingatan. Berhentilah mencintainya." Aku bisa merasakan anggukan semangat kepala Jongdae dibelakangku. "Kami sudah menyelidikinya. Dia bukanlah pria yang baik."

"Dia adalah pemain cinta yang ulung. Hampir seluruh wanita dan pria yang bekerja di dunia malam mengenalnya." Jelas Jongdae dengan wajah turut berduka citanya. "termasuk ditidurinya. Beberapa bahkan tidak pernah terlihat lagi setelah menghabiskan malam bersamanya."

"Dia punya kehidupan gelap yang misterius." Sahut Jongin menyetujui. Kalau itu semua sudah kuketahui, kalian terlambat selangkah dalam memberi tahu informasi itu. Dan aku lebih tahu, kehidupan gelap yang misterius apa yang Luhan jalani. Hanya saja, masih banyak yang belum kuketahui tentangnya. Tapi bagaimana pun, sebanyak apapun noda di kertas putihnya, aku masih mencintainya.

Dan disinilah aku ketika malam menjelang pagi, ketika ibuku tidak mengetahui dimana aku berada, disini di arena bernama Race Wars dan aku kembali tahu bahwa aku memang bukan anak baik. Anak nakal yang suka menakan pedal gas dalam-dalam dan berenang dalam lautan minuman memabukkan.

Aku merasa tempat ini memang familiar, tapi aku tidak nyaman berada disini. Jongdae dan Jongin sudah menghilang di tengah lautan mobil dan manusia, meninggalkan sendirian disini seperti anak kecil yang tersesat.

Malas terlalu lama ditempat ini, aku berjalan menjauhi area pertandingan. Berjalan kaki, karena aku berangkat kesini dengan mobil Jongin sementara sahabatku itu entah ada dimana. Aku berjalan cukup jauh hingga ke pertokoan yang telah tutup mengingat sekarang hampir jam 1 pagi. Aku menimang-nimang ponsel ditanganku, haruskan aku menelpon Kyungsoo hyung untuk mengantarku pulang atau menelpon ibuku untuk menjemputku.

Tapi yang kudengar dari Jongin dan Jongdae, orangtuaku tidak terlalu pusing dengan kenyataan bahwa aku sering tidak pulang. Mereka bahkan tahu putra mereka yang masih dibawah umur sudah mengkonsumsi alkohol dan ikut pertandingan mobil ilegal. Aku tidak tahu harus merasa senang karena memiliki orangtua yang membebaskan atau sedih karena mereka sepertinya tidak terlalu peduli padaku.

Kecuali – kembali dari perkataan Jongin – ketika aku mengalami kecelakaan atau hal buruk sebangsanya mereka baru akan datang dan mengurusku. Namun ketika aku mulai bisa melakukan semuanya sendiri – seperti sekarang – mereka akan melepaskanku seperti anjing liar.

Kakiku mulai terasa lelah hingga aku berhenti untuk duduk di pembatas jalan. Jalanan terlalu sepi untuk menemukan taksi yang mungkin sudah tidak ada sementara rumahku masih sangat jauh. Apa aku harus menelpon Jongin dan meminta untuk diantar pulang? Tapi aku tidak yakin dia akan menjawab ponselnya karena suara musik disana bahkan membuat jantung berdetak sakit.

Aku kembali berjalan sembari menikmati langit dan angin malam. Bisa dipastikan besok aku memilih untuk tidak sekolah. Kakiku akan bengkak dan aku butuh tidur seharian untuk membalas dendam malam ini.

Tapi langkahku terhenti dengan perasaan jijik ketika sepasang kekasih mencumbu satu sama lain di tempat terbuka. Sang pria sudah mengerayangi bokong dan paha dalam sang wanita sementara wanita itu mendesah terlalu keras saat belahan dadanya yang sudah terekspos dicumbu mesra oleh pasanganya.

Kenapa aku harus melewati hal seperti ini di jalanan umum? Mau tidak mau aku harus melewatinya. Dengan malas aku menaikan hoodie jaketku dan berjalan melewatinya. Namun baru beberapa langkah melewati pasangan itu, suara letusan teredam membuatku menoleh.

Pria itu menembak leher wanita itu dan menjatuhkannya tanpa perasaan. Aku hanya bisa terpaku melihatnya. Pria itu meludah di samping mayat wanita itu, mengusap bibirnya dengan ekspresi jijik yang teramat sangat. Bingkai wajah samping pria itu membuatku tertegun, wajah yang sangat kukenali bahkan sangat kukagumi. Xi Luhan.

Darah wanita itu mulai membentuk genangan dan menyentuh sol sepatunya. Ia yang menyadari langsung mengelap sepatu dengan mengoleskannya di baju wanita itu. Sembari membersihkan sepatunya, Luhan mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.

"Sudah kukerjakan. Ambil mayatnya sebelum orang lain melihatnya. Dan jangan buat aku melakukan pekerjaan ilegal." Ucapnya dan menutup telponnya. Saat itu ia baru menoleh ke arahku dan menyadari keberadaanku.

Wajahnya cukup terkejut namun tidak sepertiku. Aku bahkan tidak bisa menggerakan kakiku ketika ia perlahan mendekatiku. Ketika ia berdiri dihadapanku dan akan menyentuh wajahku, aku baru tersentak dan mundur ke belakang.

Dengan kecewa ia menurunkan tangannya yang terulur dan menatapku memelas. "Jangan menangis, Sehun-ah. Kumohon." Ujarnya, aku bahkan tak sadar telah menangis. "Kumohon, jangan buat aku seperti seorang penjahat, setidaknya jangan terhadapmu."

Ia menipiskan jarak dan menangkup wajahku yang menegang. Aku tidak tahu, aku menangis karena melihatnya membunuh orang atau karena melihatnya mencumbu wanita itu sebelum membunuhnya. Aku terlalu linglung bahkan untuk berpikir. Kakiku yang sudah sakit karena berjalan terlalu jauh akhirnya kalah karena shock diikuti oleh kesadaranku.