Maybe,Fight!

Chapter 5

.

.

"When your love in danger. Let him die or you fight for protect."

...

Baekhyun tiba dihutan setelah berdebat dengan supir taxi yang memberinya tumpangan karena ia tidak mau membayar. Dengan terpaksa ia harus menyerahkan arlojinya yang mahal karena supir sialan itu mengatakan akan melaporkan Baekhyun pada polisi.

Setibanya ditenda ia mendapati teman-temannya masih tertidur karena waktu masih menunjukkan pukul 05.45am. Dengan segera Baekhyun mengambil satu set pakaian dari dalam ranselnya dan bergegas membersihkan diri ditempat pemandian umum. Dia tidak tahu mengapa bau asing yang menyengat tercium dari tubuhnya dan itu terasa lengket.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Baekhyun membersihkan dirinya, ia segera pergi mencari Kris dan bersumpah akan menghajarnya.

"Hei kau bastard! Bangun kau!" Baekhyun menghampiri Kris ketika dilihatnya pria blonde itu tengah tertidur disebuah kursi dan menarik kerah kemejanya.

Satu pukulan ia layangkan kewajah tampan Kris dan berhasil membuatnya terbangun dari tidur lelapnya.

"What the h—Baekhyun? Kenapa kau memukulku?" Kris sadar Baekhyun yang memukulnya dan wajahnya terlihat merah padam.

"Kau pikir kenapa?! Apa yang sudah kau lakukan padaku semalam?!"

"Tenanglah Baek. Aku tidak melakukan apapun padamu." Jawab Kris seadanya.

"Kau pikir aku bodoh ha?! Kau memanfaatkanku saat aku tidak sadar kan?!" Baekhyun bersiap melayangkan lagi pukulannya, namun Kris menahannya.

"Kau yang memintaku melakukan semua itu! Kau memohon padaku seperti anak anjing yang kehilangan induknya." Kris mendecakkan lidahnya mengingat Baekhyun yang kacau malam itu.

"Brensek kau! Jadi benar kau memperkosaku?!"

Kris tertawa remeh. "Tsk! Apa maksudmu dengan memperkosamu? Tentu saja tidak, kita melakukannya dengan senang hati karena kau bahkan menikmatinya."

Seseorang dibelakang Baekhyun mengepalkan kedua tangannya.

Tanpa bicara lagi, Baekhyun mengambil balok kayu disebelahnya dan memukul Kris dengan membabi buta. Beberapa murid terbangun dan menyaksikan semua itu dengan tatapan ngeri tanpa berniat untuk menghentikan apa yang Baekhyun lakukan.

Kris memang tidak sehebat Baekhyun dalam urusan bela diri hingga ia terkapar tak berdaya menerima pukulan demi pukulan yang Baekhyun layangkan ketubuhnya.

"Hentikan! Dasar bajingan kau!"

Tao datang dan memukul wajah Baekhyun hingga anak itu tersungkur. Tao kemudian berlutut disebelah Kris dan mengangkat kepalanya lalu ia letakkan di pahanya, memegang tangan Kris dengan erat ketika Kris hampir tak sadarkan diri.

"Kris bangunlah." Ia menepuk pipi Kris, namun Kris benar-benar tak sadarkan diri.

Dengan segera Tao berdiri dan menghampiri Baekhyun. Ia dengan marah mengambil balok kayu yang sempat digunakan Baekhyun untuk memukul Kris kemudian Tao layangkan balok kayu tersebut pada tubuh Baekhyun.

"Akh!" Baekhyun berteriak kesakitan, namun Tao justru semakin memukulnya bertubi-tubi.

"Bagaimana?! Sakit?" Tanyanya penuh ejekan.

Ketika Tao bersiap lagi untuk memukul Baekhyun, sebuah tangan menghentikannya. Dengan segera ia menoleh dan mendapati Chanyeol dengan tatapan tajam. Chanyeol kemudian merebut paksa balok kayu tersebut dan membuangnya ketanah.

Tanpa bicara, tanpa berniat melerai, dan tanpa berniat menolong Baekhyun, Chanyeol pergi. Sedikitpun ia tidak simpati pada Baekhyun dan hanya menatapnya sekilas.

Sebenarnya hatinya sakit dan hancur mendengar semua pembicaraan Baekhyun dan Kris. Dia tidak menyangka apa yang telah Baekhyun lakukan. Memang dirinya tidak tahu pasti siapa yang bersalah antara Baekhyun ataupun Kris, tapi ntahlah. Chanyeol marah saat ini.

Sehun berlari dan menabrak sebelah bahu Chanyeol, tapi anak itu tidak peduli dan menghampiri Baekhyun.

"Baek kau tidak apa-apa?"

Baekhyun tidak menjawab dan Sehun membantunya berdiri.

.

.

.

Akibat perkelahian itu Kris dibawa kerumah sakit dan Baekhyun mendapat hukuman membersihkan sisa-sisa abu dari api unggun para tim. Tentu saja itu terlalu kejam baginya, Baekhyun tidak mau melaksanakan hukuman itu dan menyuruh Sehun juga beberapa murid untuk mengerjakannya.

Malam tiba ketika panggung megah lengkap dengan sebuah Big LCD selesai dipasang. Para panitia penanggung jawab memutuskan mengisi kegiatan malam kedua camping ini untuk bersenang-senang.

Sehun dan Luhan terpilih menjadi MC untuk acara malam ini.

Tidak ada yang menarik. Semua diisi dengan beberapa pertunjukkan band, tarian konyol, drama dan beberapa yang menurut Baekhyun menjijikkan. Sampai pandangan matanya benar-benar fokus ketika Luhan memanggil Chanyeol.

Demi Tuhan Chanyeol? Apa yang akan anak itu lakukan? Baekhyun tentu saja menjadi bersemangat.

"Baiklah kalian semua pasti tidak sabar bukan? Pangeran Yeong-il kita ini sangat berbakat memainkan semua alat musik, bukan begitu Park Chanyeol?" Luhan dengan gaya khas seorang MC bertanya.

"Tidak, tentu tidak semua, hanya beberapa saja seperti drum, gitar dan juga piano."

Seluruh murid bersorak dan memberikan tepuk tangan.

"Baiklah apa yang ingin kau mainkan malam ini? Hm bagaimana jika gitar dan seseorang akan berkolaborasi denganmu?"

Chanyeol mengangguk tanda setuju.

"Siapa yang ingin bernyanyi diiringi petikan gitar pangeran Yeong-Il?"

Semua berseru dan menunjuk diri mereka sendiri, kecuali Baekhyun yang hanya duduk dan melipat tangannya didada.

"Dasar konyol!"

"Bagaiaman jika sang angels voice dari Yeong-Il?"

Kini Sehun angkat bicara.

"Ah benarkah? Siapa itu?" Luhan menanggapi.

"Byun Baekhyun. Naiklah keatas stage."

Dalam hati sebenarnya Luhan kesal, karena seharusnya ia yang ingin berkolaborasi dengan Chanyeol.

"Byun Baekhyun? Apa kau bersedia bernyanyi?"

Semua murid kini diam dan menatap Baekhyun.

"Ayo teman-teman beri dukungan pada angels voice kita. Baekhyun! Baekhyun! Baekhyun!" Sehun memandu teman-temannya agar memberi Baekhyun dukungan. Sebenarnya ia hanya ingin menyenangkan hati Baekhyun, tapi ia tahu cara seperti ini membuatnya mencari mati.

"BAEKHYUN BAEKHYUN BAEKHYUN."

Dan semua murid terus saja meneriakkan nama Baekhyun. Membuat sang pemilik nama tersebut jengah.

"Tsk! Kenapa aku? Bajingan itu!" Tapi Baekhyun tetap melangkahkan kakinya menaiki panggung.

Sesaat pandangan mata Baekhyun dan Chanyeol saling bertemu. Ada rasa senang sekaligus gugup dalam benak Baekhyun.

"Baek ini." Baekhyun menerima sebuah microfon yang Sehun berikan.

Sementara Chanyeol mengambil gitarnya dan duduk dikursi yang telah disediakan.

"Kau bisa bernyanyi?" Tanya Chanyeol begitu dingin ketika Baekhyun baru saja mendaratkan bokongnya dikursi sebelah Chanyeol.

"Tidak." Jawab Baekhyun singkat.

"Lalu kenapa kau disini?"

"Karena aku ingin bernyanyi untukmu." Baekhyun meremas microfon di tangannya.

"Idiot. Kau masih sama."

Baekhyun mendongak mendengar penuturan Chanyeol.

"Kau masih mengingatnya?"

10 tahun yang lalu...

"Ayo siapa lagi yang mau maju kedepan dan bernyanyi atau memainkan alat musik?" Ibu guru itu tersenyum hangat.

Baekhyun kecil hanya menatap teman-temannya satu persatu maju kedepan untuk bernyanyi dan beberapa memainkan alat musik. Baekhyun ingin menangis karena ia sama sekali tidak tahu bagaimana memainkan alat musik dan juga ia tidak bisa bernyanyi. Ia adalah pribadi yang pemalu dan mudah menangis.

"Yang terakhir adalah Baekhyun, ayo sayang kemari." Ibu guru cantik itu menuntun Baekhyun kedepan. "Nah Baekhyunie mau bernyanyi atau memainkan alat musik?"

Baekhyun menatap teman-teman sekelasnya dan matanya mulai berkaca-kaca.

"Apakah Baekhyunie bisa memainkan alat musik?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya sebagai respon pertanyaan dari sang guru.

"Lalu apakah Baekhyunie bisa bernyanyi?"

"Tidak." Jawabnya takut-takut. Baekhyun kecil mengusap airmatanya.

"Lalu Baekhyunie mau melakukan apa?"

Baekhyun diam dan menundukkan kepalanya. Tatapan matanya jatuh pada sepatunya dan tidak berani menatap sang guru.

"Baekkie akan bernyanyi iyakan? Semangat!"

Baekhyun mendongak melihat Chanyeol tersenyum dihadapannya sembari mengepalkan kedua tangannya untuk memberikan semangat pada Baekhyun kecil.

"Benar Baekhyunie akan bernyanyi?" Sekali lagi gurunya bertanya dan kini Baekhyun mengangguk. "Jadi Baekhyunie akan bernyanyi untuk siapa? Ayah, ibu atau teman Baekhyunie?"

"C-Chanyeol." Jawab Baekhyun malu-malu. Semua murid tertawa dan mengejek Baekhyun berpacaran dengan Chanyeol.

"Baiklah, silahkan bernyanyi untuk Chanyeollie."

Baekhyun tidak tahu banyak lagu selain lagu 'tiga beruang' jadi ia bernyanyi lagu tersebut dan teman-temannya menertawakan cara bernyanyinya yang terdengar aneh.

Tidak ingin melanjutkan bernyanyinya karena malu, Baekhyun kecil justru menangis.

"Terakhir kali aku melihatmu bernyanyi, kau mempermalukan dirimu sendiri."

Chanyeol mengejek.

"Sialan. Sekarang aku bisa bernyanyi. Aku yakin itu."

Diam-diam Chanyeol tersenyum.

"Kalau begitu buktikan."

"Mari kita saksikan sang angels voice dan pangeran Yeong-Il berkolaborasi."

Chanyeol mulai memetik senar pada gitarnya, menciptakan sebuah melodi yang indah dan mengalun merdu ditelinga. Baekhyun tahu melodi lagu apa ini jadi pada note ketiga Baekhyun mulai bernyanyi.

Annyeong naege dagawa

Sujubeun hyanggireul angyeo judeon neo

Hai kau melangkah ke arahku

Kau memelukku dengan aroma malu mu

Heuimihan kkumsogeseo

Nuni busidorok banjjakyeosseo

Seolleime nado moreuge

Hanbal dubal nege dagaga

Neoui gyeote nama

Di dalam mimpi yang samar

Kau sangat bersinar begitu mempesona di mataku

Dalam kegembiraan, tanpa sadar aku

melangkah ke arahmu dalam satu

langkah dua langkah

Berdiri di sampingmu

Neoui misoe

Nae maeumi noganaeryeo

Nuni majucheosseul ttaen dugeungeoryeo

Pada senyumanmu, hatiku meleleh

Ketika mata kita bertemu,

Hatiku berdebar

Oh neoui gaseume

Nae misoreul gieokhaejwo

Haruedo myeochbeonssik saenggakhaejwo

Oh neoege hago sippeun geu mal you're beautiful

Oh tolong ingat senyumanku di dalam hatimu

Tolong pikirkan itu di banyak waktu dalam sehari

Oh ungkapan yang ingin aku ucapkan padamu

Kau indah

Chanyeol tercengang menatap Baekhyun. Bagaimana dia kembali menjadi si alter ego yang manis ketika matanya terpejam dan suara bernyanyinya yang begitu merdu. Ia tidak pernah tahu jika selama ini Baekhyun begitu memiliki banyak kemajuan dan kemampuan yang terpendam. Bukan hanya berbakat dalam seni bela diri, Baekhyun juga benar-benar memiliki suara yang sangat merdu.

Chanyeol terhanyut dalam suara Baekhyun yang begitu memikat sehingga membuatnya kembali mengenang masalalu dimana ia pertama kali bertemu Baekhyun.

Gomawo nal mannaseo

Hangyeol gatattateon ni moseubi boyeo

Nareul gidaryeo watteon

Neoui jiteun hyanggi gipeun ullim

Alsueopneun kanghani kkeulim

Neoreul hyanghan naeui du nalgae

Pyeolchyeojugo sipeo

Terimakasih telah bertemu denganku

Aku melihatmu yang tidak pernah berubah sekali

Yang telah menungguku selama ini

Aku sangat mencium aroma kuatmu

Daya tarik yang kuat dan aku tidak bisa mengaturnya

Aku ingin merentangkan kedua

sayapku dan mendekat ke arahmu

'Chanyeol'

Dalam hatinya Baekhyun ingin berteriak betapa ia sangat mencintai pria tinggi dengan senyum konyolnya yang tampak menawan saat ini ketika dalam pangkuaannya terdapat sebuah gitar. Jemari panjang itu dengan lembut memetik senar dan tatapan mata mereka kembali bertemu.

Sungguh hanya Chanyeol yang membuat Baekhyun bertahan dalam kejamnya dunia fana ini. Chanyeol yang membuat Baekhyun bangkit, berdiri, berlari untuk menggapai mimpi dan jatuh dalam pelukannya. Chanyeol yang membuatnya merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta, namun pahit rasanya.

Terimakasih selalu Baekhyun ucapkan padanya dalam hati. Meski Chanyeol tidak membalas cintanya, Baekhyun akan selalu berdiri disampingnya, membantu kapanpun Chanyeol terjatuh. Ia berjanji akan hal itu.

Neoui misoe

Nae maeumi nuganaeryeo

Nuni majuchyeosseulttaen dugeungeoryeo

Pada senyumanmu, hatiku meleleh

Ketika mata kita bertemu,

Hatiku berdebar

Oh neoui bomnale

Nae noraereul deullyeojulke

Haruedo myeochbeonssik saenggakhaejwo

Oh ireohke neoreul saenggakhae

you're beautiful

Oh di musim panasmu, seharusnya

aku membiarkanmu mendengarkan laguku

Tolong pikirkan itu di banyak waktu dalam sehari

Oh aku memikirkanmu dengan begitu

Kau indah

'Baekhyun'

Chanyeol telah bertanya pada hati kecilnya yang terdalam. Ia yakin perasaan aneh yang terus menggelitik diperutnya ketika melihat senyum manis si alter ego adalah perasaan cinta.

Setelah lama terpisah sewaktu sekolah menengah pertama, Chanyeol tidak pernah lagi merasakan jatuh cinta. Sampai hari itu tiba, dimana ia dipertemukan lagi dengan Baekhyun, ia kembali merasakan benih-benih cinta yang mulai tumbuh. Namun ia hanya takut, takut jika suatu saat mereka harus kembali terpisah. Jadi Chanyeol berusaha membuang semua rasa itu dan menjadi seseorang yang seharusnya Baekhyun benci. Namun Baekhyun tidak pernah membencinya, justru sebaliknya, ia selalu ada disaat Chanyeol dalam bahaya dan membutuhkan pertolongannya.

Nareul bankyeojwo

Ddu ddu ddu rururu seolleyeo

Gureum uireul geotneundeut

Geotjimal kachi nan nege dagaga

Hanbal deo

Sambut aku

Dududurururu aku gembira

Seolah-olah aku berjalan di atas awan

Dasi chajaon

Neowa naeui gyejeolle

Gieokhal su ittkenni

Ttu rurururuttu

oh yeh all right

Seperti bohongan, aku bergerak ke

arahmu, satu langkah lagi

Ketika masamu dan aku kembali

Apakah kau bisa mengingatnya

Durururududu

Oh yeah semua benar

'Chanyeol aku senang kau mengingatku pada saat itu. Aku mencintaimu'

Neoreul mannan keol

Haengeunira saenggakhae

Uri dasi mannamyeon malhae jullae

fly to you nae gyeote isseojwo

you're beautiful

Aku berpikir bahwa itu adalah

keberuntungan ketika aku bertemu dengan mu

Ketika kita bertemu lagi

Aku seharusnya memberitahu mu

Terbang padamu

Tolong tinggal di sisiku

Kau indah

( Baekhyun of EXO "Beautiful" OST EXO Next Door )

'Aku sadar kau adalah cinta pertama dan mungkin terakhirku Baekhyun. Maaf atas sikapku selama ini. Aku sadar, aku sungguh mencintaimu.'

Petikan gitar dan nyanyian Baekhyun berhenti. Saat itulah Chanyeol berdiri menghadap Baekhyun dan membelai wajahnya.

Para gadis semakin histeris pangeran mereka menyentuh Baekhyun. Si berandal sekolah yang selama ini mereka tahu, Chanyeol membenci Baekhyun.

Ditengah kebisingan itu, lampu stage dan juga LCD padam.

"C-Chanyeol."

Baekhyun berdiri dari kursinya ketika ia merasakan tangan Chanyeol menarik kedua tangannya untuk berdiri.

Chanyeol tidak akan pernah lagi menghindar dari Baekhyun, ia berjanji pada dirinya sendiri. Tangannya kini berada ditengkuk Baekhyun dan dengan cepat ia memanfaatkan kesempatan untuk menariknya dan mencium Baekhyun.

Terlalu cepat, terlalu mendadak hingga Baekhyun terkejut, namun ia membalas ciuman Chanyeol. Sudah lama sekali ia menginginkan semua ini menjadi nyata dan saat-saat yang ia nantikan tiba, Baekhyun tidak akan menyia-nyiakannya.

Mereka saling melumat satu sama lain, menyalurkan rasa rindu yang telah mereka pendam selama ini.

Tepat saat ciuman itu terlepas, LCD kembali menyala dengan countdown warning.

Semua orang menyaksikan layar besar tersebut termasuk Chanyeol juga Baekhyun.

3...

2...

1...

Chanyeol melepaskan pelukannya pada Baekhyun. Sedangkan Baekhyun sendiri terbelalak tak percaya.

Semua orang terkejut, beberapa diantara mereka mulai saling berbisik dan menatap dengan jijik.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Hasil sebuah rekaman video tentang Baekhyun dan seseorang yang tidak terekpos wajahnya tengah melakukan hal yang tidak senonoh dan panas kini terpampang jelas dan diputar pada layar LCD.

Chanyeol menatap tidak percaya kearah Baekhyun.

"A-aku bisa jelaskan semua ini Yeol."

"Aku tidak pernah menyangka kau—"

"Yeol sungguh! Ini tidak seperti apa yang kau lihat."

"Cukup."

Chanyeol pergi meninggalkan Baekhyun sendiri yang berdiri diatas panggung.

Beberapa murid kini melempari Baekhyun dengan apa yang mereka miliki, seperti kerikil, bekas kaleng minuman, dan juga makanan.

Baekhyun memejamkan matanya dan kedua tangannya terkepal.

"CUKUP! MATIKAN!"

Terdengar suara kepala sekolah yang marah.

Baekhyun berlari mengejar Chanyeol.

.

.

.

"Sudahlah Yeol untuk apa kau peduli pada berandalan itu? Kau lihat sendiri bukan apa yang dia lakukan diluar sana? Menjijikkan sekali." Luhan berbicara sinis.

Chanyeol merebahkan tubuhnya dirumput, matanya menatap kosong kearah langit malam yang tak berbintang. Namun hatinya berdenyut sakit mengingat apa yang dilihatnya. Ia baru saja akan mengatakan apa yang ia rasakan pada Baekhyun, tapi diluar dugaannya semua menjadi seperti ini. Ia tidak tahu haruskah ia marah? Ataukah ini hanya rasa cemburu?

"Hhh" Chanyeol menghela nafas lelahnya.

"Apa kau tidak tertarik padaku?" Luhan ikut merebahkan tubuhnya disamping Chanyeol.

Menatap kearah Luhan, Chanyeol tidak menjawab.

"Kenapa kau tidak menjawabnya."

"Aku tidak tahu Lu."

Luhan berguling dan tubuhnya berada tepat diatas Chanyeol. Tatapannya kecewa. "Kenapa?"

"Apa aku tidak menarik?" Tangannya bermain-main dengan poni rambut Chanyeol. Ntah mengapa Chanyeol tidak menolak apa yang Luhan lakukan.

"Berhenti menggodaku Lu, aku tidak dalam mood yang baik."

"Bagaimana jika aku tidak mau?" Luhan menjilat bibir bawahnya, sedangkan ibu jari tangannya mengusap bibir bawah Chanyeol. "Aku mau ini." Ia mencoba mendekatkan wajahnya pada Chanyeol untuk menciumnya.

Tanpa mereka ketahui, Baekhyun menyaksikan semuanya. Airmatanya terjatuh ketika Baekhyun membalikkan tubuhnya dan berlari.

.

.

.

Maybe,Fight!

...

Sudah lima hari sejak kejadian memalukan itu terjadi pada Baekhyun dan ia mengurung dirinya dikamar. Baekhyun bahkan menolak pergi ke sekolah dan membuat ayahnya murka.

"Buka pintunya Baekhyun!"

"Tidak mau! Aku bilang aku tidak mau sekolah lagi!"

Tak lama setelah Baekhyun menjawab, pintu itu didobrak. Ayah Baekhyun benar-benar telah kehabisan kesabarannya.

"Pergi ke sekolah atau ayah akan mengirimmu ke luar negeri!"

"AKU BILANG AKU TIDAK MAU AYAH!" Baekhyun kembali menarik selimut berniat melanjutkan tidur paginya ketika ayahnya menarik paksa tangannya.

"Bereskan pakaianmu dan aku akan langsung mengirimmu ke Eropa, ke tempat asing yang bahkan sangat mengerikan. Kau pilih sekolah atau Eropa!"

Pada akhirnya Baekhyun menghembuskan nafas kalah dalam perdebatan melawan ayahnya.

"Baik aku akan pergi sekolah."

Baekhyun pergi kekamar mandi dan melepas kaosnya berniat untuk mandi.

Lagi-lagi ia menitikkan airmata mendapati tubuhnya yang memar. Masih teringat jelas ketika ayahnya tahu apa yang terjadi di perkemahan waktu itu, ayah Baekhyun sangat murka dan menghajar Baekhyun habis-habisan. Baekhyun tahu ayahnya pasti malu dengan apa yang sudah ia lakukan, tapi jika waktu dapat diputar kembali, Baekhyun berjanji tidak akan menuruti ajakan Kris ke club malam itu. Lebih dari semua itu, kini yang ada dalam pikiran Baekhyun adalah mampukah ia menghadapi semuanya?

...

Tatapan jijik dari semua murid begitu mengintimidasi setiap langkah kaki Baekhyun. Para murid itu bahkan sudah tidak takut lagi pada Baekhyun, mereka sedikitpun tidak mau membungkukkan badan seperti apa yang selalu mereka lakukan setiap kali berpapasan dengan Baekhyun. Ntah mengapa mulut Baekhyun terasa keram untuk menegur mereka, rasanya tubuhnya menjadi berat dan kaku ketika menatap murid-murid tersebut. Rasanya malu sekali dan tidak ada harganya saat ini.

Ingin sekali Baekhyun memukul wajah mereka yang mulai berbisik, bahkan beberapa berani melemparinya dengan sisa makanan dan yang Baekhyun lakukan hanya menundukkan kepala seperti seorang pecundang.

'Kenapa aku terlihat seperti pecundang sekarang?'

Jalan menuju kelasnya tidak membutuhkan waktu lama, namun langkah demi langkah yang Baekhyun rasakan terasa berjam-jam lamanya hingga ia sampai dikelas.

Tentu saja semua teman-teman sekelasnya menatap aneh kearahnya, tapi Baekhyun tidak memperdulikan semua itu.

Yang menjadi pusat perhatiannya adalah Luhan ada dikelasnya. Bagaimana mungkin siswa dari sekolah lain sekarang ada dikelas Baekhyun dan sedang tertawa dengan orang yang Baekhyun cintai?

Chanyeol menghentikan tawanya dan melirik sekilas kearah Baekhyun ketika ia berjalan melewati mejanya.

'Aku menyesal menuruti ayahku pergi kesekolah dan menyaksikan semua ini. Seharusnya aku pergi ke Eropa dan menjadi pecundang sejati. Dengan begitu aku tidak akan tahu bagaimana rasa sakitnya patah hati.'

"Baek aku senang kau kembali kesekolah." Sehun menyodorkan satu cup kopi kesukaan sahabatnya itu.

"Kenapa anak itu berada dikelas ini?"

Sehun mengikuti arah kemana Baekhyun memandang.

"Maksudmu Luhan? Dia pindah kesini sejak seminggu yang lalu. Mungkin karena si playboy itu. Mereka juga berpacaran."

Hati Baekhyun hancur berkeping-keping mendengar ucapan Sehun.

"P-pacaran?!"

"Kenapa kau terkejut? Bukankah hal seperti itu sudah biasa Chanyeol lakukan? Sebentar lagi pasti mereka akan berakhir setelah bertarung bibir. Bukan begitu?"

Baekhyun meletakkan tasnya dan bergegas pergi meninggalkan kelas.

"Baek? Kau mau kemana? Hei pelajaran pertama akan segera dimulai. Baek!" Sehun berniat mengejar Baekhyun, namun sang guru dengan predikat killernya sudah berada dikelas, jadi ia mengurungkan niatnya.

.

.

.

Baekhyun pergi ketoilet dan mencuci wajahnya ketika pintu terbuka dan Luhan masuk dengan senyum miring diwajahnya.

"Kau terlihat seperti pecundang sekarang." Dia mengejek Baekhyun.

"Tsk! Aku hanya pecundang bukan pencurimu sepertimu."

Luhan matikan kran wastafel dan menatap Baekhyun tajam. "Apa maksudmu berkata seperti itu?"

"Jangan pura-pura bodoh jika otakmu pintar, kau memanipulasi kemenangan di Olimpiade Sains tahun ini bukan? Jangan kau pikir aku tidak tahu."

Wajah Luhan memerah.

"Asal kau tahu Luhan, aku mengetahui semuanya. Kau rela tidur dengan seorang professor agar kau diberi kunci jawaban dari Olimpiade itu kan?" Baekhyun menyeringai.

"Brengsek!" Luhan mendorong tubuh Baekhyun hingga menabrak dinding dan mencengkram kerah seragamnya. "Kau tidak punya bukti dan kau menuduhku! Aku bisa menuntutmu!"

"Tentu saja aku punya bukti, aku bicara fakta bukan omong kosong."

BUAGH

Baekhyun tersungkur ketika Luhan memukul wajahnya, tidak terima Baekhyun balas memukul Luhan.

"Kau tahu Luhan? Professor itu adalah teman ayahku! Dan aku tahu kau juga yang membuatku seperti ini! Dipermalukan atas hal yang tidak pernah ingin aku lakukan! Kau harus kubawa kekantor polisi!"

Baekhyun marah dan mencekik leher Luhan.

Saat itu tiba-tiba saja pintu didobrak, Chanyeol dan beberapa murid berada diambang pintu. Ia melangkah kerah Luhan, kemudian membawanya pergi. Menyisakan Baekhyun dengan wajah tidak percayanya.

.

.

.

Pelajaran telah usai, Baekhyun bergegas pulang dengan menaiki kereta bawah tanah seperti biasa. Namun belum sempat kereta berjalan, dirinya ditarik oleh beberapa siswa dari Yeong-San keluar dari kereta.

Tubuhnya didorong hingga terhempas ketanah dan dipukuli bersama-sama oleh beberapa murid tersebut.

"Stupid bastard!"

Baekhyun berteriak dan mencoba melawan, tapi lagi-lagi kedua tangannya ditahan dan perutnya dipukul berkali-kali hingga ia terbatuk dam mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Ini untuk balas dendamku!" Baekhyun menatap dengan setengah sadar orang di hadapannya dengan nama tag Bang Yongguk. Ketua Yeong-San yang pernah Baekhyun kalahkan beberapa waktu yang lalu.

Baekhyun kembali menerima pukulan pada perutnya dan ia jatuh berlutut. Kakinya tidak kuat menahan lagi dan ia terus terbatuk mengeluarkan darah.

"Bersyukurlah kau bocah karena aku tidak membunuhmu, ayo guys kita tinggalkan bocah ini."

...

Baekhyun melangkahkan kakinya dengan gontai ditepi sungai Han. Dia benar-benar menjadi seorang pecundang sekarang. Airmata menghiasi kedua pipinya.

'Ibu tolong aku. Kembalilah padaku, biarkan aku ikut denganmu. Aku tidak bisa lagi hidup seperti ini.'

"Arghhhh bajingan!" Baekhyun berteriak dan melempar ranselnya kesungai. Beberapa pejalan kaki menatap aneh padanya.

.

.

.

"Kau mau membawaku kemana Yeol?" Luhan bertanya ketika Chanyeol terus berjalan dan mengenggam dengan kuat lengannya hingga meninggalkan bekas merah dipergelangan tangan Luhan. "Yeol?"

"Diam." Jawabnya datar.

Mereka tiba disebuah kantor pusat penyelidikan.

"Apa yang akan kau lakukan?!" Luhan meronta mencoba melepas genggaman Chanyeol, namun sia-sia karena Chanyeol jauh lebih kuat darinya.

Tanpa banyak bicara Chanyeol membawa Luhan masuk.

Luhan membulatkan matanya ketika dilihatnya Tao juga berada disana beserta handycame yang Luhan tahu miliknya.

"Kau harus mempertanggung jawabkan apa yang kau lakukan terhadap Baekhyun Lu." Chanyeol berkata dan Luhan menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Kau menuduhku Yeol?"

"Tidak, semua bukti dan saksi sudah ada disini." Chanyeol memegang kedua bahu Luhan, sedikit meremasnya. "Mulai sekarang hubungan kita berakhir." Setelah itu Chanyeol pergi meninggalkan Luhan tanpa menoleh sedikitpun padanya.

Luhan segera menghampiri Tao yang menundukkan kepalanya saat diintrogasi.

"Tao apa yang kau lakukan? Kau mengakui semuanya?"

"Kau yang bernama Luhan? Duduklah. Kita mulai introgasinya." Seseorang yang Luhan ketahui sebagai seorang detective berkata dengan tegas menyuruhnya duduk.

"Berdasarkan saksi mata kalian berdua terlibat kasus tentang penyebaran video tidak senonoh Kris dan Baekhyun yang sudah kalian rencanakan."

"Itu tidak benar!" Luhan memprotes.

"Saudara Tao menuangkan obat perangsang kepada Kris dan Baekhyun, kemudian menggunakan handycame ini untuk merekam apa yang terjadi."

"Itu benar pak." Ucap Tao santai sambil meminum kopi yang disediakan.

"Tao kau bodoh atau apa?!"

"Luhan mereka akan meringankan hukuman kita jika aku mengakuinya." Ujar Tao begitu polos.

"Dasar idiot!"

"Kau yang idiot! Lagipula aku akan segera kembali pada Kris jika aku mengakui semua ini." Tao tersenyum senang.

"Seharusnya kau tidak menyeretku dalam masalah ini."

"Sumber dari masalah ini adalah kau! Pak berikan dia hukuman yang setimpal, aku hanya disuruh."

"Sudah DIAM!" Sang detective mulai kesal mendengar dua anak SMA itu justru saling menyalahkan satu sama lainnya.

Introgasi tetap berlanjut dan dihiasi dengan adu mulut dari Tao maupun Luhan.

...

Sementara itu, Baekhyun pulang dan mendapati ayahnya tengah bercumbu dengan wanita panggilan. Tak sedikitpun ia terkejut dengan semua itu, karena sejak kepergian ibunya, hal ini menjadi rutinitas baru ayahnya.

"Baekhyun kau—" Melihat Baekhyun yang kacau dan babak belur, ayah Baekhyun bangkit dari duduknya dan bersiap menegur anaknya.

"Jika kau mau mengirimku keluar negeri, kirim aku ke Amerika. Pesankan tiket dan besok aku akan berangkat."

Baekhyun menyela ucapan ayahnya.

'Setidaknya aku bisa mencari ibuku.'

Ayah Baekhyun seketika kehilangan kata-kata dan hanya menatap punggung anaknya yang berjalan menuju tangga.

Baekhyun mengepaki barang-barangnya kedalam koper besar. Setiap pergerakan tangannya, ia teringat Chanyeol. Haruskah ia memberitahu Chanyeol perihal kepergiannya ke Amerika?

Tidak.

Baekhyun ingat terakhir kali melihat Chanyeol, anak itu justru menggandeng tangan Luhan.

Kini airmatanya kembali mengalir.

"Kenapa aku menjadi lemah karena laki-laki yang bahkan tidak pernah menyukaiku? Lalu apa artinya ciuman malam itu jika kau hanya mencintai orang selain diriku!" Baekhyun meneriaki foto dirinya dan Chanyeol saat masih memakai seragam sekolah dasar. Namun kemudian ia meletakkan foto itu kedalam kopernya.

.

.

.

Maybe,Fight!

...

Hari ini Chanyeol sengaja bangun pagi agar ia memiliki waktu untuk berkunjung ketoko bunga milik bibi Jung. Toko langganan ibunya.

"Bibi bunga apa yang harus kuberikan jika aku ingin meminta maaf dan mengatakan jika aku mencintainya?"

Bibi Jung tersenyum mendapati Chanyeol yang datang pagi-pagi dengan senyum cerahnya. Jarang sekali Chanyeol membeli bunga jika tidak ibunya yang menyuruh.

"Bagaimana jika bunga tulip merah dan putih? Merah sebagai tanda cinta dan putih sebagai tanda permohonan maaf?"

"Baiklah berikan aku bunga itu bi." Tanpa ragu Chanyeol menerima saran dari bibi Jung.

"Kau harus mengenalkan kekasihmu padaku Chanyeol-a."

Chanyeol hanya tersenyum menanggapi godaan dari bibi Jung.

"Ini."

Chanyeol menerima bunga tulip berwarna merah dan putih tersebut. "Berapa harganya?"

"Tidak perlu membayar, hari ini gratis untukmu." Bibi Jung mengerlingkan sebelah matanya.

Setelah mengatakan banyak terimakasih Chanyeol dengan cepat berlari menuju stasiun kereta bawah tanah. Pikirannya menerawang jauh tentang ekpresi seperti apa yang akan Baekhyun tunjukkan saat mengetahui ia mencintainya dan memberikan bunga yang ada digenggamannya.

Chanyeol? Baekhyun adalah berandalan sekolah, lalu mengapa ia berpikir untuk menyatakan cintanya dengan bunga tulip? Tidakkah seharusnya ia menyatakan cintanya dengan beradu bela diri? Tentu saja ia ingin menjadi seseorang yang romantis bukan menjadi seorang petarung yang hebat. Ia hanya akan bertarung dengan Baekhyun diranjang.

Chanyeol tertawa membayangkannya.

Biasanya Chanyeol akan melihat Baekhyun yang duduk dengan angkuh dan Sehun yang selalu berada disampingnya memijat tangan Baekhyun ketika dikereta. Namun pagi ini, Chanyeol tidak mendapati Baekhyun dan hanya Sehun yang berada disana dengan raut wajah datar tanpa sesikitpun ekpresi.

"Dimana Baekhyun?"

Sehun mendongak menatap heran kearah Chanyeol.

"Kau tidak tahu?"

"Apa maksudmu? Jangan bertele-tele, dimana dia?"

"Pesawat mungkin."

Jawaban Sehun membuat Chanyeol bingung sekaligus kesal.

"Aku tanya dimana Baekhyun?!"

"Aku juga sudah menjawab, mungkin dia dipesawat karena ia akan ke Amerika dan tinggal disana."

Chanyeol menjatuhkan bunga ditangannya dan segera berlari keluar.

"Hei kau mau kemana?!" Sehun berteriak namun tidak ada respon dari Chanyeol. "Kenapa dia tidak bertanya kemana negara tujuan Baekhyun dan nomor penerbangannya jika ia akan mencarinya? Dasar bodoh." Sehun mengedikkan bahunya dan melanjutkan membaca komik ditangannya.

.

.

.

Berkali-kali Chanyeol menghubungi Baekhyun, namun nomor anak itu tidak bisa dihubungi. Pada akhirnya Chanyeol menghentikan sebuah taxi dan mengatakan pada supir taxi tersebut untuk mengantarkannya ke bandara.

Membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai kebandara dan sepanjang perjalanan Chanyeol tidak berhenti berdoa agar ia dipertemukan dengan Baekhyun.

"Ambil saja kembaliannya." Setelah membayar Chanyeol segera berlari memasuki bandara. Matanya menatap kesana kemari mencari siluet Baekhyun namun tak juga menemukannya.

"Maaf apa pesawat menuju Amerika sudah berangkat?" Ia bertanya di bagian resepsionis.

"Pesawat ke Amerika tujuan mana tuan?"

Chanyeol menggaruk kepalanya. Ia tidak tahu kemana tujuan Baekhyun.

"Tunggu sebentar." Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sehun.

Lucu sekali, Sehun mengangkat telpon Chanyeol dalam dering pertama seakan Sehun sedang menunggu telpon darinya.

"Halo Sehun, Baekhyun ke Amerika tujuan mana?"

"Sudah kuduga kau akan menghubungiku. Dia ke New York tapi—"

Tanpa menunggu lagi Sehun berbicara, Chanyeol mematikan sambungan telponnya.

"New York. Tujuan ke New York."

"Mohon maaf tuan, penerbangan tujuan ke New York sudah berangkat sekitar setengah jam yang lalu dan penerbangan selanjutnya sekitar dua jam dari sekarang."

Chanyeol jatuh terduduk dan tanpa ia sadari airmatanya mengalir. Ia mencengkram dada sebelah kirinya.

"Kenapa? Kenapa sakit sekali rasanya. Baekhyun..."

"Tuan kau tidak apa-apa? Apa kau sakit." Staff wanita itu membantu Chanyeol berdiri dan Chanyeol mengatakan jika ia baik-baik saja.

...

Sepanjang hari ini Chanyeol menghabiskan waktu untuk mengurung diri dikamar. Ia merenungi kepergian Baekhyun.

"Apa rasanya seperti ini Baek? Apa sesakit ini rasanya saat aku mengacuhkanmu?" Ia menyadari arti Baekhyun selama ini. Mencoba membayangkan bagaimana rasa sakit yang Baekhyun alami.

Chanyeol meremas rambutnya frustasi. Diluar sana ibunya terus mengetuk pintu, menyuruhnya untuk makan tapi Chanyeol sedikitpun tak mau menanggapi dan membuat ibunya semakin khawatir.

.

.

.

Maybe,Fight!

...

Malam yang gelap kini berganti pagi, Chanyeol masih tetap terjaga. Matanya membengkak, rambutnya acak-acakkan dan ntah berapa lembar tissue yang ia gunakan untuk mengelap wajahnya yang basah oleh airmata.

Knock

Knock

"Chanyeol buka pintunya sayang? Jangan membuat ibu khawatir."

"..."

"Chanyeol sayang tolong buka! Kalau ada masalah bicara pada ibu nak."

Diluar sana ibunya meremas tangannya sendiri. Takut terjadi sesuatu pada anak semata wayangnya. Pasalnya sejak kemarin hingga pagi ini Chanyeol tetap mengurung diri dikamarnya. Tidak mau bicara dan makan. Tentu saja ibunya menjadi khawatir juga takut. Ini juga kali pertama Chanyeol seperti ini, ibunya bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

"Baekhyunie kau saja yang membujuknya ya? Tolong bibi kali ini saja." Ibu Chanyeol memegang tangan Baekhyun.

"Tapi bi—"

"Tolonglah Baekhyunie sayang."

Tidak tega melihat ibu Chanyeol yang terlihat putus asa, Baekhyun menganggukkan kepalanya.

"Sebenarnya aku buru-buru karena pesawatku akan segera berangkat. Tapi aku tetap harus berpamitan pada Chanyeol. Baiklah, aku akan membujuknya bi."

Benar.

Sebenarnya Baekhyun belum berangkat ke Amerika. Pesawatnya berangkat hari ini dan ia berniat tidak memberitahu Chanyeol. Tapi setelah berpikir berulang kali, hati kecilnya menolak dan memintanya untuk berpamitan pada Chanyeol. Setidaknya ia harus mengucapkan salam perpisahan.

"Chanyeol-a ini aku. Bisakah kau buka pintunya?"

Didalam sana Chanyeol mendongak setelah semalaman hanya menunduk menatap lantai.

'Baru sehari dia pergi, aku sudah berhalusinasi hingga mendengar suaranya.'

"Yeol ayolah aku hanya meminta sedikit waktu untuk bicara."

"Baekhyun?" Chanyeol akhirnya berdiri dan berlari untuk membuka pintu kamarnya.

"K-kau?" Chanyeol sempat tidak percaya, pasalnya yang ia tahu Baekhyun sudah berangkat ke Amerika, lalu fakta jika dihadapannya kini adalah Baekhyun dan ia tidak sedang berhalusinasi membuatnya sulit untuk percaya. Apa ini mimpi ataukah kenyataan?

"Yeol aku akn berangkat ke Amerika hari ini jadi'—"

Chanyeol tidak mendengarkan ucapan Baekhyun dan justru menarik Baekhyun kedalam dekapannya hingga membuat anak itu kesulitan bernafas.

"C-Chan apa yang—"

"Biarkan seperti ini Baek." Chanyeol menjatuhkan airmatanya dan menetes kebahu Baekhyun. Membuat seseorang dalam pelukannya itu kembali dibuat terkejut sekaligus bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya.

"Kau menangis?"

"..."

"Yeol kau menangis?" Baekhyun melepaskan pelukannya dan mendongak menatap wajah Chanyeol yang penuh airmata. Hatinya benar-benar berdenyut sakit melihat Chanyeol menangis. Kerena jujur saja ini kali pertama Baekhyun melihatnya menangis.

Kedua tangan Baekhyun terulur untuk mengusap airmata diwajah Chanyeol. Ia kemudian menangkup wajah anak itu dan mengecup singkat bibirnya. Chanyeol sedikitpun tidak menolak.

"Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa lama-lama, pesawatnya akan segera lepas landas."

Chanyeol mengenggam kedua tangan Baekhyun dengan erat.

"Kau tidak boleh pergi Baek! Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Kumohon jangan tinggalkan aku."

Baekhyun yang semula menunduk kini mendongak menatap tepat pada retina Chanyeol. Ia mencoba mencari kebohongan dari tatapan putus asa Chanyeol, namun yang ia temukan adalah sebuah kesungguhan.

"Tetaplah disini bersamaku Baek. Aku mencintaimu."

"Yeol..."

"Aku sungguh mencintaimu Baekkie."

Pertama kalinya Chanyeol memanggil nama Baekhyun dengan sebutan Baekkie sejak 10tahun yang lalu. Itu adalah nama kecil untuk Baekhyun darinya.

"Yeollie..." Dan sejak 10tahun yang lalu, ini kali pertama Baekhyun kembali memanggil orang yang sangat ia cintai dengan nama kecilnya. Yeollie. "Aku juga sangat mencintaimu." Baekhyun kembali menghamburkan tubuhnya kedalam dekapan Chanyeol. Menghirup aroma tubuh maskulinnya yang sangat ia rindukan selama bertahun-tahun.

Begitupula dengan Chanyeol yang membalas pelukan Baekhyun dengan tidak kalah eratnya.

Sedangkan ibu Chanyeol menatap penuh kebahagiaan kearah dua anak yang sangat beliau sayangi kini bersatu dalam sebuah hangatnya dekapan cinta.

...

"Baekkie..." Chanyeol memainkan poni rambut Baekhyun yang berada didekapannya. Mereka berada diranjang kamar Chanyeol. Kepala Baekhyun berada diatas lengan kiri Chanyeol.

"Ya Yeollie..." Baekhyun memutuskan menghadap kearah Chanyeol yang berbaring disebelahnya.

"Maukah kau berjanji padaku?" Kini tangan Chanyeol membelai lembut pipi Baekhyun. Membuat sang pemilik pipi itu memejamkan kedua matanya menikmati belaian lembutnya.

"Berjanji untuk apa?"

"Berjanjilah kau tidak akan lagi berkelahi untuk menolong ataupun membelaku."

"Kenapa Yeol?"

"Karena mulai sekarang aku akan menjaga diriku sendiri dan juga aku yang akan melindungimu. Asal kau tahu aku sebenarnya tidak sebodoh itu dalam hal bela diri."

"Benarkah? Aku tidak pernah mengataimu bodoh dalam hal bela diri aku tahu kau punya bakat terpendam dalam hal itu." Baekhyun ingat, Chanyeol pernah berada di club beladiri saat mereka masih Sekolah Dasar.

"Dasar sok tau." Chanyeol menyentil dahi Baekhyun dan membuatnya mengeluh jika itu sakit. "Jadi kau mau berjanji?"

"Kau juga harus berjanji padaku."

"Hm janji seperti apa itu?"

"Berjanjilah kau akan berhenti menjadi seorang playboy aku tidak suka itu."

"Aku berjanji padamu Baek. Karena mulai sekarang hanya kau satu-satunya yang boleh memiliki cintaku. Tapi Kau juga harus berjanji. Oke?"

Wajah Baekhyun merona dan memanas mendengar kata-kata manis dari Chanyeol yang kini telah resmi me jadi kekasihnya.

"Aku akan berjanji padamu tapi.." Baekhyun mendudukkan dirinya dan menatap lekat kearah Chanyeol.

"Tapi apa?" Chanyeol mengerutkan keningnya.

"Aku punya satu permintaan, setelah itu aku akan berjanji untuk berhenti berkelahi jika kau mau mengabulkan permintaanku."

"Permintaan apa itu? Tentu saja aku akan mengabulkan apapun untukmu." Chanyeol ikut mendudukkan dirinya dan menghadap Baekhyun.

"Aku minta...Cium aku Yeol."

Wajah Baekhyun merona malu setelah mengatakan itu. Ia benar-benar terobsesi untuk kembali merasakan bibir Chanyeol.

Chanyeol justru terkikik geli atas permintaan Baekhyun.

"Tanpa kau memintapun aku akan menciummu, tidak hanya sekali tapi ribuan kali hingga kau kwalahan." Ia kemudian menyeringai dan menarik Baekhyun mendekat padanya.

Chanyeol meletakkan tangannya didagu Baekhyun dan dengan pelan ia memiringkan wajahnya. Lidahnya ia keluarkan dan menjilat bibir bawah Baekhyun bermaksud untuk menggodanya.

Sebenarnya Baekhyun tipe orang yang agresif dan tidak sabar, jadi ia melingkarkan tangannya disekitar leher Chanyeol dan ikut memiringkan wajahnya untuk meraih bibir Chanyeol.

Tepat sekali.

Chanyeol justru kini yang mulai tergoda, jadi ia menggerakan bibirnya untuk melumat bibir Baekhyun. Kedua mata mereka sama-sama terpejam menikmati ciuman manis namun menggairahkan tersebut. Mereka saling membalas dan mencoba untuk mendominasi lawannya.

Baekhyun melepaskan tautannya ketika ia merasakan tangan Chanyeol yang tidak tinggal diam dan menyusup kedalam kaosnya.

"Aku meminta ciuman bukan hal itu." Ia dengan lucunya memajukan bibirnya dan membuat Chanyeol tertawa gemas melihatnya.

"Kau yang alter ego seperti ini benar-benar menggemaskan Baek. Aku jadi ingin sekali menerkammu. Hawwrrrr." Chanyeol membuat gerakan dengan tangannya seperti singa yang kelaparan dan siap menerkam mangsa.

Baekhyun justru merona dan menjitak kepala Chanyeol.

"Baek aku juga punya satu permintaan dan kau harus mengabulkannya."

Baekhyun merasa atmosfer dalam kamar menjadi panas ketika mendengar ucapan Chanyeol yang disertai sebuah seringaian.

"Permintaan? A-apa itu? Jangan aneh-aneh aku tidak mau!"

"Kau harus mau, aku bahkan menuruti semua permintaanmu."

"Baiklah. Baiklah pacarku tersayang apa yang kau inginkan?"

Chanyeol kembali menyeringai.

"Lets make a cute baby."

"Huh?" Baekhyun tidak mengerti apa yang Chanyeol katakan.

"Ayo kita buat bayi yang lucu Baek."

Setelah mengatakan itu Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun dan menindihnya.

"Yah-yahh apa yang kau lakukan!— hmphh"

Chanyeol kembali menciumnya kemudian menarik selimut putih tebal itu untuk menutup tubuh keduanya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

~END~

Penonton kecewa kaga bisa lihat NCannya CB :v #smirk

Mau sequel atau ga? Gausah ya?

Huft ini chapter paling panjangggg sampai capek ngetiknya LoL

Oke daripada ngegantung, gue kasih tau aja. Luhan sama Tao dihukum karena udah berusaha merusak Baekhyun dan menyebar video porn itu adalah tindakan kriminal LoL

Kris?

Kaga tau nasib naga burik itu. Dia dah dapat tubuh Baekhyun. Yaudah putus dah. Anak nakal kan begitu :v dari awal Kris itu emang mesum jadi apalagi yang ia inginkan dr Baekkie kalau bukan tubuhnya?

ChanBaek lagi bikin baby Jackson sama Jesper. Dohh gue jadi pengen punya anak bgitu. Unyuh. Kiyut. Wkwkwk

Nah waktu Chan telp Sehun dibandara itu, Sehun mau bilangkalau Baekhyun ngubah jadwal penerbangannya tapi telpnya malah langsung Chan matiin.

Ini bulan puasa guys, gue bener2 kaga bisa ngasih NC. Hukumnya dosa kalau sampai ada yang terangsang. Segitu aja dah mengontaminasi mata kalian kan?

Akhirnya selesai juga ini FF. Mau diperpanjang, ripiunya segitu kaya pada ga minat. Jadi gue end in sekalian sesuai janji end di ch 5.

Gue ucapkan banyak TERIMAKASIH buat yang dah bersedia baca, follow, favourite dan review ya :D

Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan, kata2 yang kurang berkenan dan apapun jenis kesalahan itu, gue minta maaf sebesar2nya.

Akhir kata.

Wassalamualaikum .

Annyeong.

#lambai kekamera.

Uji nyali berakhir.

"KEvIN1004L"

Story Line