Aku mulai bertanya, apakah aku harus memulai paragraf baru dari sejak aku terbangun? Namun memang seperti itu, bagaimana manusia memulai harinya di pagi hari. Tidak ada seorangpun insan yang bisa memulai kisahnya tanpa sadar dari dunia mimpi. Tak satu pun, termasuk diriku.

Aku terbangun di ranjang besar berwarna biru, jelas saja bukan kamarku karena aku hanya punya single bed berwarna hijau. Hanya butuh waktu sebentar hingga ingatan semalam kembali terbayang dan membuatku terlonjak.

Sebuah kamar yang terlalu polos dan bertolak belakang membuatku tidak bisa mengenali kepribadian pemilik kamar ini. Sebuah kepribadian yang misterius yang menempati kamar ini. Kepribadian yang membuat segalanya menjadi sederhana, terlalu sederhana hingga membuatku takut. Kepribadian seseorang yang tidak mempunyai kepribadian sejatinya.

Jika semalam aku pingsan di hadapan Luhan, kemungkinan besar dia yang membawaku kesini. Jika ia yang membawaku, maka kamar ini miliknya.

Bayangan darah, wanita yang dalam hitungan detik kehilangan hidupnya, dan lubang menganga hinggap di kepalaku. Aku mulai takut, aku takut jika aku akan bernasib sama dengannya. Bukankah awalnya Luhan mencumbunya dan kini ia berada di alam baka. Apakah aku akan bernasib sama sepertinya.

"Kau takut padaku?" kepalaku langsung menoleh ke sumber suara. Disana Luhan bersandar lemas menatapku yang meringkuk di kasurnya, aku tidak bisa membaca ekspresinya. Dan itu membuatku semakin takut. Entah ekspresi sedih, marah, kecewa atau benci.

Dia berjalan mendekatiku dan duduk tepat dihadapanku. Ia menipiskan jarak diantara bibir kami, tapi aku langsung menoleh membuatnya menghentikan aktivitasnya. "Kau takut padaku." Ia mengubah pertanyaannya menjadi pernyataan. "Apa kau tak mencintaiku lagi?" aku tak menjawabnya atau lebih tepat tak bisa menjawabnya karena lidahku kelu.

Dengan gerakan singkat kini aku sudah berada dibawahnya. Matanya menatap nyalang ke arahku dan nafasnya menderu keras, menahan amarahnya. "Kau tak mencintaiku?" jujur sikapnya membuatku semakin takut.

Ia menubrukkan bibirnya kepadaku, memaksaku untuk membuka mulut dan mengeksplorasi milikku. Aku hanya bisa memejamkan mata, bukan menikmatinya atau pun takut. Entahlah aku tak bisa berpikir jernih. Namun kegiatannya berhenti, ia menjauhkan wajahnya dan matanya menyiratkan kesedihan terdalam.

"Kau tak mencintaiku." Lagi-lagi dia kembali membuat pernyataan. Ia tertawa, tawa yang membuatku takut. Ia meletakkan tubuhnya disampingku, menopang wajahnya dengan tanganya dan tangan yang lain membelai wajahku. "Kenapa?" tanyanya sedih. "Apa karena aku membunuh seorang wanita setelah mempermainkannya?"

Aku tak menjawab, aku hanya menatap matanya yang perlahan berubah kecewa. Kini aku mengerti, aku tak perlu melihatnya secara utuh, aku hanya perlu melihat matanya untuk tahu kepribadiannya. Dia hanya terlalu sering menjadi orang lain sampai tidak tahu, siapa sebenarnya dirinya.

"Kenapa kau tak menjawabku, Sehun-ah? Apakah aku monster dimatamu sekarang? Benar begitukan?" ujarnya dengan suara serak. "Atau karena kau kehilangan ingatan, perasaanmu juga menghilang."

"Aku sungguh mencintaimu, Sehun-ah. Kumohon maafkan aku."

Kalimat itu, aku sepertinya pernah mendengarnya. Tapi dimana? Apa dia pernah melakukan kesalahan hingga mengucapkan hal yang sama sebelum peristiwa yang menimpaku?

"Maafkan aku, aku memang brengsek. Tapi aku bisa berubah untukmu."

'Maafkan aku. Aku memang brengsek. Tapi kumohon, untukmu, aku akan berubah.'

Rasa sakit dikepalaku menyerang, sebuah ingatan dimana ia meminta maaf padaku. Namun aku hanya bisa melihat punggungnya. Rasa sakitnya bertambah parah ketika semua ingatan di mulai saat aku melihatnya bagaikan dewa yunani di coffee shop hingga terakhir kali ia memelukku saat aku tertusuk. Semuanya kembali, aku mengingat semua.

"Sehun-ah, Sehun-ah, Sehun-ah!" pandanganku kembali fokus mendengar panggilannya, kini aku sudah berada di lantai dipangkuannya. Keadaan sekitarku terlihat berantakan bahkan aku bisa melihat sobekan besar di seprai miliknya. "Sehun-ah, kita kerumah sakit sekarang juga."

Aku menghentikan gerakan tangannya yang meraih ponsel dan menggeleng pelan. Aku mencoba menegakkan dudukku dan bersandar di bahunya. Kepalaku masih terasa sakit dan suara denging membuatku sulit fokus. "Aku tidak mau kembali ke rumah sakit. Aku tidak mau."

"Tetaplah seperti ini dan peluk aku." Pintaku lirih, namun ia segera menurutinya. "Aku tidak mau melihatmu mencumbu orang lain, tidak jika kau lakukan didepanku. Atau aku akan membunuhmu dan yang cumbu. Aku bisa memastikannya." Pelukannya semakin erat dan aku bisa merasakan kecupan di perpotongan leherku. "Dan Luhan, kau tidak perlu bertanya apakah aku mencintaimu. Kau sudah tahu jawabannya."

"Yeah, i know." Ucap pelan.

Kami berada dalam posisi itu cukup lama hingga Luhan membopongku meniduri ranjang setelah ia merapikannya sedikit. Ia ingin beranjak pergi, namun aku menahannya. Aku tidak perlu apapun saat ini, meskipun perut berteriak minta diisi. Aku hanya perlu merasakan pelukannya hingga sakit kepalaku menghilang.

Namun pelukan itu berubah menjadi kecupan dalam, intim dan rangkulan berubah menjadi remasan panas. Aku tidak tahu bagaimana aku sudah berakhir tanpa sehelai pun benang dan menikmati permainan yang diberikan Luhan. Kepalaku masih sakit dan aku tidak bisa fokus pada apapun namun ketika ia memasuki permainan inti, aku hanya ingin semua ini tidak cepat berakhir karena rasa panas, perih namun nikmat ini membuatku menjadi kecanduan.

Ia masih berada didalamku ketika permainan berhenti, matahari sudah mulai meninggi tapi tak satupun dari kami ingin beranjak dari posisi nyaman ini. Belaian, semua kecupan dan sentuhannya membuatku ingin lagi dan lagi. Dan ia bisa memberikan semuanya bahkan seisi dunia. Aku hanya menginginkannya, atau aku hanya mengingingkan perlakuan ini karena pengalih perhatian dari rasa sakit yang kualami sedari tadi.

Tapi, kegiatan kami harus terhenti karena ponselnya berdering. Mau tidak mau kami harus melepaskan seluruh kontak fisik kami. Ia memakai jubah mandinya dan menerima telpon sementara aku menghempaskan kepalaku ke bantal saat rasa sakit kian terasa kuat. Rasa sakit dibawah sana juga tidak membantu, rasanya perih tapi seperti kehilangan sesuatu. Mungkin mulai sekarang aku akan berubah menjadi mesum karena Luhan.

Aku memunguti pakaian dan berjalan ke kamar mandi, membilas tubuhku, menghilangkan semua rasa lengket dan memakai pakaianku lagi. Namun pandanganku mulai mengabur dan rasa lengket dan panas mengalir dari pangkal hidungku.

Tidak perlu waktu lama ketika aku menyadari bahwa aku mulai mimisan, membuatku terduduk di kloset dan menahan serta menghapus darahnya dengan tisu. Kepalaku semakin berat dan terasa kebas sekarang, aku sudah tidak bisa menahannya sama sekali.

"Luhan," aku mulai memanggil namanya berulang kali. Keseimbanganku bahkan untuk duduk pun sudah menghilang dan membuatku membentur lantai kamar mandi yang dingin. Kesadaranku mulai menghilang sementara derap langkah terdengar semakin dekat juga samar.