Masa depanku sepertinya akan penuh dengan rumah sakit mulai sekarang. Beberapa hari yang lalu aku baru pulang dari rumah sakit setelah dokter yang menanganiku mengatakan aku mengindap Sepsis*. Aku ingin tertawa keras-keras saat itu, aku baru saja selesai bercinta dengan Luhan. Mendapatkan kembali ingatanku lalu mimisan deras dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Kini aku hanya bisa terbaring di ranjang ditemani Jongin yang sedang menjengukku tanpa bisa bergerak. Seluruh tubuhku sakit jika digerakkan membuatku hanya bisa diam membatu. Meskipun Jongin datang menjengukku, ia malah ikut berbaring di sampingku dan memainkan ponselnya.
"Apa kau mau disini dan memainkan ponselmu sampai malam?" tanyaku jengkel, seharusnya dia menghiburku, mengajakku mengobrol bukan mendiamiku dan sibuk dengan gadgetnya.
"Kau mau aku mengoceh apa?" tanyanya balik tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya dan tersenyum disela-sela kegiatannya.
"Apa kau gila? Tersenyum sendiri. Dimana Jongdae?"
"Kencan dengan guru tembem itu."
"What?!" seruku yang langsung meringis sakit karena menggerakkan tubuh bagian atasku. "Sejak kapan Jongdae berhasil mendapatkan Minseok songsaem?"
"Selama kau koma, kami tetap melanjutkan hidup." ujarnya, namun gerakan tangannya terhenti dan menoleh ke arahku bingung. "Tunggu dulu, seingatku aku tak pernah menceritakan guru temben yang ditaksir Jongdae adalah Minseok songsaem. Sehun-ah, apa kau...?"
"Ya, ingatanku sudah kembali." Jawabku malas, "Aku dibawa kerumah sakit karena selain Sepsis sialan itu, kepalaku sakit berat karena ingatanku sudah kembali. Jangan bilang pada siapapun ingatanku kembali."
"Kenapa?"
"Aku hanya mengikuti permainan keluargaku." Ujarku sedikit sedih. "Penyebab aku kehilangan ingatan cukup tragis bagi keluargaku. Mereka ingin aku terus melupakannya dan menanamkan ingatan baru."
"Tapi bukankah kau kehilangan ingatan karena kecelakaan. Setidaknya itu yang dikatakan orangtuamu pada pihak sekolah." Oceh Jongin, kini mulai memancing percakapan. Aku kembali meringis sakit ketika mencoba untuk meninggikan kepalaku. Jongin segera membantuku dengan bersandar pada kepala kasur.
Aku menatap Jongin lama, mencoba menimbang apa seharusnya aku memberitahunya atau tidak? Jongin bisa menutup mulutnya rapat-rapat, ia adalah penjaga rahasia yang ulung. Tapi mungkin ia akan memberitahu Jongdae yang juga berada dalam lingkaran dalam pertemanan kami. Tapi apakah Jongdae bisa menutup mulut?
Pikiranku buyar ketika dua buah suara saling sahut menyahut dalam volume yang keras dan jelas tidak dalam keadaan bersahabat. Aku hanya bisa mendesah panjang ketika keingintahuan Jongin membuatnya melompat dari ranjang dan berlari tanpa suara mendekati sumber kegaduhan tersebut. Dia adalah bocah dengan rasa ingin tahu yang tinggi, terlebih suara yang sedang berteriak satu sama lain terdengar sangat familiar, bahkan untukknya.
Menahan rasa sakit yang mendera disekujur tubuhku, aku bangkit sembari mengeratkan sweater ditubuhku dan berjalan menuju tangga dan ikut berhenti disamping Jongin yang kini membulatkan matanya.
Ia pasti terkejut melihat Kyungsoo tidak dalam pakaian sekolah, tidak berpernampilan nerd – malah modis, karena Kyungsoo sendiri adalah pecinta fashion – sedang bertengkar dengan Luhan, pria yang kukejar selama ini dan tak pernah tergapai olehku dimatanya.
"Ini...apa yang sedang terjadi?" bisiknya padaku, mencoba tetap tidak mengganggu pertengkaran yang terjadi.
"Akan kujelaskan semuanya," ucapku, kini tidak ada pilihan selain membongkar semuanya. "Nanti." Tambahku ketika aku mendengar pertengkaran mereka melibatkan namaku.
"Berhenti mengelak, Xi Luhan." Ucap Kyungsoo menunjuk wajah Luhan dengan nafas menderu. "Aku tahu apa yang kau lakukan pada Sehun? Jangan mencoba membodohiku, aku melihat semuanya di tubuh Sehun."
Apa yang ada ditubuhku? Aku hanya menggeleng tanda bingung kepada Jongin yang melirikku semakin penasaran. "Sehun masih dibawah umur dan kau menidurinya." Oh shit, aku ingin sekali menonjok wajah Jongin yang memasang wajah yang tidak bersahabat. Luhan hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang tak bisa dibaca, lagi-lagi dia terlihat misterius.
"Aku tahu semua yang kulakukan salah, D.O-ya." Dia mengucapkannya dengan nada dalam dan berat. "Tapi bukan keinginanku untuk jatuh cinta pada adikmu, bukan aku yang memutuskan siapa yang berhasil memerangkapku. Kau pasti tahu bagaimana rasanya karena kau menyukai anak pemilik sekolah juga?"
"Jangan bawa-bawa Kim Jongin dalam hal ini, Luhan." Seru Kyungsoo semakin marah. Aku menoleh Jongin yang kini seperti patung. Kurasa ia juga tidak tahu dengan keadaannya jika terkait dengan Kyungsoo. "Setidaknya aku tidak melakukan hal illegal karena memaksa bocah dibawah umur untuk menjadi pemuas seks."
"Aku tidak menjadikan Sehun pemuas seks, aku tahu Sehun masih dibawah umur dan seharus aku tidak melakukan seks padanya. Tapi Sehun bukan pemuas seks. Dia...aku... kau tahu maksudku."
"Hal ini tidak membenarkan apa yang kau lakukan padanya." Ujar Kyungsoo masih menitik-beratkan apa yang terjadi malam, tidak juga kami melakukan pagi hari itu. "Tapi, aku tidak mempercayaimu Xi Luhan."
"Jika soal aku pria brengsek. Aku tahu aku memang brengsek, tapi aku benar-benar serius terhadap Sehun, D.O-ya!" kini Luhan menjerit frustasi. Mungkin ia sudah lelah dengan embel-embel brengsek yang mengikutinya kemana pun ia pergi.
"Kau memang brengsek, Luhan." Jawab Kyungsoo penuh keyakinan, oh ayolah hyung! Bisakah kau memberinya kesempatan dan biarkan aku yang menentukan dan menjalaninya? "Malam sebelum pagi hari kau membawa Sehun ke rumah sakit, aku tahu kau membunuh seorang mata-mata wanita." Ingatanku kembali ke memori buruk penuh darah dan senjata ditangan Luhan, aku bisa merasakan kakiku melemah dan membuat Jongin langsung menahan tubuhku.
"Apa yang kau bicarakan?" elak Luhan, berbohong. Mencoba menghindari kenyataan yang memang terjadi.
"Berhentilah berbohong Luhan. Jika seperti ini bagaimana mungkin aku merelakan adikku bersamamu?" ujar Kyungsoo penuh sarkasme. "Aku yang mengurus berkas-berkas pembunuhanmu, kau harus bersyukur karena aku membakar berkas-berkas itu karena bukti mengarahkan Sehun sebagai saksimu."
"D.O-ya, aku..." Luhan yang kehilangan kata-katanya membuatku merasa lemas dan jatuh terduduk. Jika Kyungsoo tidak membakar berkas apapun itu, apa yang akan terjadi padanya dan juga aku?
"Kau melakukan pembunuhan illegal dari perintah seseorang, bukan? Ternyata seseorang itu tidak percaya 100% padamu dan membuatmu di awasi. 2 hari yang lalu aku menangkap pria yang mengawasimu malam itu. Kau tahu apa yang kudengar darinya? Aku tahu bahkan bisa membayangkan bagaimana kau merayu lalu membunuh wanita itu dan menyadari Sehun menonton semuanya. Bagaimana aku percaya kau tidak menjadikan Sehun pemuas seks-mu setelah, yeah, mungkin adegan percumbuan yang dilihat Sehun?"
"Biar kutegaskan sekali lagi, Kim Kyungsoo." Kini Luhan memanggilnya tanpa kode namanya. Itu berarti ia tidak sedang berbicara sebagai rekan kerja. "Setelah kau tahu semuanya, yeah, aku mengakui aku melakukan pembunuhan itu. Tapi untuk Sehun? Tidak. Aku mencintai Sehun dengan tulus dan adikmu bukan pemuas seks-ku. Aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak ucapanku. But i meant it."
Kedua orang itu tidak kembali saling berteriak atau memaki untuk berkelanjutan. Mereka hanya menatap satu sama lain dengan nyalang, membuat darahku berdesir takut. Ini mengerikan! Kakakku yang galak tidak menyetujui hubunganku dengan pria tampan nan kejam yang kusukai.
Mereka saling menatap satu sama lain dengan pandangan nyalang hingga ibuku dan Yifan masuk dan menatap keduanya bingung. Ibu dan Yifan menangkap keberadaanku yang terduduk lemas dalam rangkulan Jongin yang mungkin bertanya dalam kebingungannya. Mungkin beribu spekulasi berputar dalam otak dangkalnya.
"Oh Seriously?" seru Yifan tak percaya. "Kalian? Dua orang yang lulus verifikasi tertinggi tapi tidak menyadari ada bocah bahan pembicaraan kalian yang mungkin mendengarkan sedari tadi." Sontak Kyungsoo dan Luhan menoleh ke ujung tangga dimana aku masih duduk terpaku. Aku tidak bisa bergerak selain karena informasi mengejutkan juga karena seluruh ototku memang sakit.
"Jongin-ah," ucap ibuku lembut. "Bisakah kau membantu Sehun kembali ke kamarnya?"
"Ne, Yixing-eommunim." Jawab Jongin patuh dan segera membantuku berdiri, berjalan menuju kamarku. Tapi bisa kudengar samar-samar ucapan ibuku yang ingin berbicara dengan Luhan empat mata serta desahan panjang dan dalam dari kekasih hatiku.
Luhan-ah, maafkan aku. Karena aku kau harus menghadapi dua orang keluarga dengan tingkat kegalakkan yang mengerikan
Kini aku yang mendesah panjang dan dalam ketika mendapati wajah serius Jongin yang menuntut penjelasan dari percakapan dua orang tadi. Akhirnya aku menjelaskan semuanya, pekerjaan kakakku, apa yang dilakukan Kyungsoo dan Luhan disekolah bahkan kenyataan bahwa Baekhyun adalah putra Menteri Pertahanan yang dipalsukan kematiannya.
"Jadi kau tahu dari awal dan ikut membohongiku?"
"Tidak, aku tidak tahu apapun dan mempelajari semuanya perlahan-lahan. Sekarang karena kau tahu segalanya, bisakah kau tutup mulut?" Jongin mengangguk pasrah. "Dan soal ingatanku, juga tetap kau rahasiakan. Aku memilih untuk tetap berpura-pura hilang ingatan karena dengan itu, jika sesuatu terjadi, aku takkan memiliki kesulitan."
"Ya, aku akan tutup mulut. Bahkan aku takkan memberitahu Jongdae. Rahasia sebesar ini, jika Jongdae ikut tahu. Maka seluruh dunia akan mengetahuinya." Aku hanya bisa tertawa hambar mengetahui hal yang akan terjadi jika Jongdae dengan mulut besarnya tahu. "Aku pulang, aku perlu berendam di air garam untuk menenangkan pikiranku."
"Jangan air garam, Jongin-ah. Please, mandilah dengan susu. Setidaknya kulitmu akan cerah."
Ia menatapku dengan jengkel. "Bitch please, lihatlah kulitmu yang terlalu pucat semakin pucat dengan penyakit-penyakitmu. Sekarang aku tahu darimana Sepsis-mu berasal tanpa menjadi dokter."
"What?"
"Sehun-ah, kau tertusuk di pertemuan saraf leher dan saraf di tulang punggung. Kekakuan ototmu itu berasal dari salah satu saraf yang terluka karena terpotong pisau tidak hiegenis yang mengandung kuman, virus dan mikroorganisme yang menjadi sumber Sepsis-mu."
"Yeah, whatever jerk." Balasku sebal dengan sikap sok tahunya. "Say the one aren't pass the biology class."
"Kita murid kelas sosial, Sehun-ah. Tidak ada kelas biologi." Balasnya dan langsung menghilang dari balik pintu kamarku. Senyumanku atas lelucon garingnya seketika menghilang karena kembali teringat dengan percakapan Kyungsoo dan Luhan.
Kepalaku terasa berat dan kembali sakit karena informasi yang masuk secara spontan. Aku memposisikan diriku untuk memasuki dunia mimpi. Namun mimpiku adalah mimpi buruk dengan suara letusan senjata dan banyak genangan darah di sekitar kakiku hingga suara ibuku memanggil namaku berulang membangunkanku.
"Ibu?"
"Hunnie-ah, kau bisa bangun." Aku mengangguk meskipun seluruh tubuhku terasa sangat sakit karena ekspresi wajahnya yang terlihat was-was. "Kita harus pergi."
Note :
*Sepsis penyakit infeksi darah, mengalami modifikasi untuk kepentingan cerita ini.
