Tiga hari terbaring dengan mata terpejam tapi tidak tertidur mungkin adalah kegiatan paling membosankan yang pernah aku alami. Tapi selama tiga hari pula, Luhan tak pernah menjengukku. Tak ada suara ataupun pergerakan yang menandakan bahwa Luhan mengunjungi.

Seperti kata Tao – aku tidak tahu dia itu siapa, yang jelas ia dekat dengan ibuku dan juga Yifan – aku terbius total untuk tiga sampai empat hari dan hari ketiga menjelang empat pun aku tak dapat menggerakkan tubuhku.

Aku haus, lapar dan rasanya sangat tidak nyaman terbaring dengan posisi ini terus menerus secara sadar. Punggung gatal dan rasa gatal itu terus memburuk. Dengan keadaan seperti ini sama saja tubuhku bisa tidak beristirahat total.

Tao mencoba mengajakku berbicara, ia mencoba untuk memancing reaksiku terhadap rasa sakit tapi aku yang tak bisa mengendalikan tubuhku hanya bisa menjerit sakit dalam hati ketika ia mukul lututku dengan palu khusus.

Acap kali ia melakukannya, seluruh tubuhku kembali sakit. Ini adalah penyebab dari Sepsis sialanku, infeksi darah. Aku mendengar Tao mengeluh kalau bius yang mengenaiku semakin memburukkan penyakit Sepsisku pada ibu. Muncul memar dan ruam di daerah infeksi membuat Tao harus bekerja maksimal membersihkan dan menyuntikkan antibiotik.

Hari pertama aku dalam keadaan 'koma', Tao menyuntikkan langsung antibiotik ke lenganku. Aku mengalami temporary hemofili yang membuat ibuku kalut. Hari kedua, Tao menyuntikkan antibiotik ke infusku yang ternyata sangat sakit dan membuat tubuhku terbakar dan suhu tubuhku yang mencapai 420 sampai hari ketiga membuat Tao sendiri kalut. Hari ini dia belum melakukan suntikan yang membuatku mengerang kesakitan dalam hati.

"D.O-ya." Suara Tao memanggil kode nama kakakku dengan ceria.

"Bagaimana dengan adikku?"

"Masih seperti biasa, belum ada tanda-tanda akan sadar." Jelas Tao bersedih dari suaranya. "Kudengar dari rumor kalau adikmu dan Luhan menjalin hubungan? Oh my god, so its true? Bagaimana ketua menanggapinya, sebagai seorang ayah?"

"Sedikit tidak menyukainya tapi masih profesional untuk bersikap seperti seorang agen. Bagaimana pun Luhan adalah yang paling terbaik dari yang terbaik." Ujar Kyungsoo sepertinya ia yang sedang membelai rambutku. "Kau tahu kan kalau Sehun itu kandidat? Karena penyakit Sepsisnya tawaran kandidat itu ditarik. Para dewan sedikit kecewa karena dari kecil, sebenarnya Sehun lah yang paling mencolok. Dia sangat jeli dan berkualitas untuk menjadi analis, kemampuan beladirinya juga sudah bagus hanya sedikit di poles dia bisa mengalahkanmu dibawah satu menit."

Tao tertawa, "Yak! Tidak mungkin? Aku yang paling hebat dari seluruh ilmuwan. Lalu?"

Kyungsoo tertawa ringan, melanjutkan bicaranya. "Sepertinya para dewan masih akan merekrut Sehun terlebih lagi dia sudah melalui hal seperti ini tanpa pengenalan."

"Luhan?"

"Ini yang menjadi bagian paling mengejutkan dari jalan pikir para dewan. Aku memang tahu jika tak ada Sepsis yang menghalangi Sehun. Dalam 8 tahun lagi, kemungkinan besar Sehun yang akan menjadi ketua menggantikan ayahku. Dan hubungan Sehun-Luhan sangat didukung, Sehun otak dan Luhan otot. Hubungan mereka akan mengikat Luhan dan tak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Aku perlu memberi tahumu sesuatu, D.O-ya. Aku belum memberitahu ibumu karena keadaan mentalnya belum stabil tapi setidaknya salah satu anggota keluarga harus tahu." Ucapan Tao membuatku menjadi sangat tegang. Aku mendengar suara tirai ditutup serta pintu dikunci sebelum derap langkah berhenti tepat disampingku.

"Aku...kurasa kuberitahu dulu tentang Luhan"

"Apa lagi yang dilakukan pria itu?" jawab Kyungsoo terdengar malas.

"Dua malam yang lalu, saat aku pulang dari tugas jaga, aku melihat Luhan babak belur dibawa mobil van yang biasa menyetok sayuran kantin kita." Mendengar kabar mengejutkan itu, aku berhasil menggerakkan telunjukku. "Ayahmu, Yifan ge mereka hanya menonton dari sisi lain." Suara derit kursi dan desah panjang milik Kyungsoo memberitahuku bahwa kakinya memilih menyerah. "Dan yang paling membuatku terkejut, klienmu, putra Menteri Pertahanan itu, dia ikut memasuki mobil van itu."

"Jangan bercanda, Tao-ie?"

"Apa aku terlihat bercanda?" keheningan melanda kamarku, hanya ada deru nafas entah milik siapa. "Dan ini soal Sehun," kalimat Tao kembali membuatku memperhatikanya. "Keadaannya dengan Sepsis sendiri sudah buruk, D.O-ya. Dan peluru yang masuk kedalam tubuhnya, peluru itu dirancang khusus."

"Khusus?"

"Peluru itu dibuat memanjang dan ramping, membuatnya saat ditembak takkan memercikkan darah , lebih simple-nya menyumbat pembuluh darah untuk sementara dan tidak akan membuat yang tertembak menyadarinya, itu sedikit menjelaskan bagaimana ibumu dan Sehun tidak menyadari telah tertembak. Peluru itu akan melepaskan katupnya ketika terguncang sedikit saja – saat itu ibumu membawa Sehun menggunakan mobil jadi mudah saja katupnya terbuka dari guncangan suspensi mobil – membiarkan cairan bius itu perlahan dibawa oleh aliran darah."

"Kau mau mengatakan ada seseorang yang menginginkan Sehun?"

"Soal ada yang meninginkan Sehun, ibumu sendiri sudah tahu. Pertanyaannya siapa? Dan apa yang diinginkan dari Sehun? Tapi..." kalimat menggantung Tao membuatku menahan nafasku. "sepertinya pihak yang meninginkan Sehun tidak mengetahui tentang penyakit Sepsis yang diderita Sehun. Jika iya, mereka tidak akan menggunakan tipe bius seberbahaya ini."

"Apa maksudmu bahaya?" seru Kyungsoo yang tidak bisa menahan emosinya.

"Jika Sehun tidak bangun dalam 4 x 24 jam, aku harus mengganti status koma Sehun menjadi kematian medis." Hela nafas panjang terdengar menyedihkan, aku tidak tahu siapa yang mengeluarkan suara seperti itu. Tapi, hey, aku belum mati. Aku hanya belum bisa menggerakan tubuhku, aku mendengarkan kalian membicarakanku tepat didepan wajahku sendiri.

"Ada apa dengan takdirmu dan Luhan, Hunnie?" aku bisa merasakan Kyungsoo bertanya tepat di depan wajahku dan tangannya membelai rambut. "Atau karena kau terlahir di keluarga yang salah, hmm?"

"Aku tidak bisa menyakinkanmu kalau Luhan baik-baik saja. Aku tidak bisa melakukannya jika hal itu berkaitan dengan ayah, kalau kau tahu, kau mungkin akan membenci ayahmu. Kalau dia, aku bisa menjamin kalau dia adalah pria paling kejam yang pernah kutemui. Itu sebabnya aku tak kembali ke rumah dan terus melihatnya, Hunnie."

Entahlah hyung, aku tidak tahu. Kepalaku tiba-tiba saja sakit. Keluarlah, biarkan aku beristirahat.

Seperti mendengar permintaanku, Tao dan Kyungsoo keluar dari kamarku dan membiarkan terlarut dalam pikiranku sendiri. Meskipun aku ingin tertidur dan mataku terperjam, aku tak bisa terlelap. Aku bisa merasakan keadaan berubah menjadi hening, memberitahuku bahwa malam menjelang pagi. Hanya sesekali derap langkah para penjaga berpatroli.

Tapi sebuah kunjungan aneh membuat darahku berdesir takut. Siapa yang mengunjungiku di dini hari, mencurigakan. Kecurigaanku menjadi terbukti, beberapa orang itu mendorong ranjangku beserta tabung oksigenku, mengendap-endap keluar dari ruanganku.

Rasa takut membuatku bernafas lebih cepat dan membuatku merasa sesak. Dan mendorong ranjangku keluar, terasa dari angin malam yang membuatku langsung menggigil dibuatnya, masuk kedalam sebuah mobil panjang berbau obat-obatan. Ambulan.

Aku tidak tahu sudah berapa lama mobil ini membawaku menjauhi tempatku sebelumnya, hingga mobil berhenti dan ranjangku kembali di dorong. "Dia Kim Sehun?"

"Iya, Tuanku. Tak ada yang perlu di khawatirkan, kami menculiknya tanpa seorang penjaga menyadarinya." Jawab suara asing yang menakutkan.

"Bagus, ikut aku." Titahnya, dan ranjangku kembali di dorong seraya alat pedeteksi jantung disematkan kepadaku. Aku tak memerlukan pendeteksi jantung karena aku tidak punya masalah jantung tetapi ketika orang-orang memasang padaku, jelas mereka punya sebuah tujuan.

Aku memasuki sebuah ruangan dan isak tangis seseorang langsung menyapa gendang telingaku. "Oh ayolah, Baekhyunie. Jangan menjadi anak yang cengeng, ayahmu sedang berusaha melacakmu sayang." Ucap orang asing dengan nada manis yang membuatku jengkel dengan sendirinya. "Kau merindukan Yeollie? Tenang saja, dia ada diruangan yang aman."

"Kalau dipikir-pikir, kenapa aku harus selalu menculik pasien koma hanya untuk berurusan dengan kalian berdua." Ujarnya menimbang-nimbang. "Apa dia masih hidup?"

"Iya, tuan. Dia hanya pingsan." Aku koma, bodoh! But...kurasa bukan aku yang dimaksud.

"Bangunkan dia, aku punya hadiah besar untuknya." Tak lama kemudian, geraman rendah dari suara familiar membuatku berdegup kencang. "Nah, nah, nah, Luhannie. Kau sudah sadar? Coba kau liat siapa yang kubawa?"

Ranjang bagian kepalaku terasa terangkat dan aku menjadi seperti terduduk. "Kau merindukan kekasihmu, Kim Sehun, bukan?" sebuah jemari membelai sisi wajahku dengan lembut, hal itu membuatku merinding.

"Sehun tidak ada hubungannya dengan biocell itu, Kyuhyun." Ucapan Baekhyun membuatku mengetahui nama penyiksa mereka. "Sehun tidak tahu apa-apa. Dia bahkan kehilangan ingatannya karena salah satu anak buahmu."

"Sehunnie memang tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu apa-apa karena Luhan yang menyembunyikan rancangannya." Jelasnya dengan suara merdunya tapi membuatku kesal sendiri. "Luhannie, Sehunnie disini sedang dalam keadaan koma, kau tahu? Menurut dokter yang menanganinya, jika dalam 4 x 24 jam ia tidak sadar, statusnya akan menjadi kematian medis. Kau tahu makna kematian medis, hmm? Ia sudah mati dalam ilmu medis."

"Aku tak melihat kemungkinannya untuk kembali sadar, jadi, katakan padaku dimana rancangannya atau kekasihmu akan menemui kematian lebih cepat, er, 10 jam dari batas waktunya."

"Aku tak melihat alasan untukku memberi tahumu." Suara Luhan membuatku sedikit bersenang karena mendengarnya berarti ia masih hidup. "Percuma kau mengancamku dengan Sehun. Seperti yang kau bilang, Sehun sudah mati secara medis. Kematian yang cepat bukanlah hal buruk untuknya."

"Aw, kau kekasih yang dingin Luhannie. Bagaimana kalau Sehun mendengarnya." Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku yang lama-kelamaan terasa panas. Kyuhyun sialan, aku bahkan belum melihat wajahmu dan sudah sangat membencimu.

"Satu pertanyaan sederhana, Xi Luhan. Dimana rancangannya?" tak ada jawaban, membuatku menunggu apa yang akan dilakukannya padaku. "Ah, sikapmu membuatku berubah pikiran. Bangunkan dia."

"Kau gila?" teriakan Baekhyun membuatku takut. "Apa yang kau lakukan? Suntikan adrenalin?*"

"Ya." Jawaban singkat Kyuhyun nan santai membuatku sangat takut.

"Luhan, suntikan adrenalin hanya akan menyiksa Sehun lebih lanjut. Kematiannya akan disebabkan oleh kegagalan jantung bekerja." Bujuk Baekhyun yang terdengar kalut. "Kalau kau mau Sehun mati bukan begini caranya. Setidaknya jangan biarkan Sehun mati dengan menderita."

"Ya, Luhan. Dengarkan klienmu, Baekhyun. Jelas ia tahu apa itu suntikan adrenalin?"

"Aku tidak punya pilihan, Baekhyun. Pengorbanan satu orang akan menyelematkan semuanya" suara Luhan terdengar putus asa. Aku tertegun mendengarnya tapi jika kematianku yang menyakitkan bisa menyelamatkan semua orang. Kenapa tidak?

Aku tahu Luhan dihadapi pilihan yang berat. Aku tidak membencinya. Tapi aku tetap memiliki hati untuk merasa sakit hati dengan kata-katanya. Setidaknya, harapanku, ia akan lebih memilihku daripada kliennya, Baekhyun.

"Suntikan." Titah Kyuhyun.

"Hentikan!" Pekik Luhan, aku bisa memabayang senyuman lebar dari telinga ke telinga yang mengerikan diwajah Kyuhyun.

"Kau berubah pikiran? Baiklah aku menunggu." Ucap Kyuhyun tenang. Namun tak ada lanjutan dari Luhan. Bahkan aku penasaran dimana ia menyembunyikan rancangan biocell keparat itu. "Kau membuatku kecewa Luhan?"

"Jangan." Pekikan Luhan, membuatku tersentak membuka mata bersamaan dengan cairan panas yang mengalir ke tubuhku.