Seluruh tubuhku terasa sakit dan bertambah sakit ketika rasa panas menyebar keseluruh tubuhku dengan cepat. Mataku terbuka dan aku bisa melihat wajah Kyuhyun yang tersenyum sadis kepadaku. Nafasku pendek dan cepat, masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungku saja tak bisa membantu rasa sesak yang ada. Bahkan jantungku berdegup kencang dan semakin sakit setiap detaknya.
Bunyi bip cepat dari monitor EKG juga membenarkan keadaanku. Rasanya sakit ini seakan bisa membuatku lompat dari ranjang dan menerkam wajah menyebalkan tepat di depanku ini. Aku menatap lurus ketika Kyuhyun menaiki ranjang dan berbaring disampingku.
Keadaan Luhan dan Baekhyun jauh dari kata baik, mereka terluka parah dengan darah mengering di wajah mereka masing-masing. Terikat di kursi menatapku dengan sedih. Apa yang dipikirkan ayah dan Yifan ketika mengirim mereka kemari dengan keadaan yang jauh dari baik?
"Kim Sehun," panggilannya membuatku melirik sinis. "Namaku Cho Kyuhyun, selamat datang di rumahku." Aku tak menjawabnya karena tenggorokanku kering dan aku meringis menahan sakit. Ia menegakan tubuhnya dan meraih kantung infusku yang menggantung tinggi di sampingnya. "Luhan, Baekhyun, dimana rancangan biocellnya?"
"Kami tidak tahu, Luhan dan aku tidak tahu dimana rancangannya disembunyikan." Ucap Baekhyun yang menatap ngeri ke arahku dan Kyuhyun. Tiba-tiba saja rasa sakit masuk melalui jarum infus membuatku berteriak dan meronta sebelum seseorang menahan tubuhku.
"Hentikan!" teriak Baekhyun, aku menatap kearah mereka. Luhan menundukkan kepalanya dan aku bisa mendengar gemertak suara giginya ketika teriakanku mereda.
"Apa yang harus kuhentikan, Baekhyun? Aku bahkan tak menyentuh rambutnya sesenti pun." Tanya Kyuhyun dengan jenaka.
"Sehun bahkan tidak tahu siapa aku, dia kehilangan ingatannya Kyuhyun-ssi," ujar Baekhyun dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. "Dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan hal ini."
"Kau salah, Baekhyun-ah" jawab Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan menarik tubuhku untuk bersandar di dadanya. "Kim Sehun, putra Kim Junmyeon, kepala NIS* sekarang. Kandidat terbaik untuk deretan ketua NIS selanjutnya. Punya pengaruh yang bahkan tidak disadarinya terlebih lagi," ia menarik daguku sehingga kepalaku menengadah dan menatap mata kejinya langsung. "kekasih dari Xi Luhan, ketua fungsionalis NIS dan agen terbaik."
Kyuhyun turun dari ranjangku, menghempas punggungku kembali keranjang dengan kasar, ringisanku kembali keluar. "Kau pikir orang-orang yang menjagamu hanya agen biasa Baekhyun-ah. Kepala Sekolah EXO, Kevin Li, nama asli Wu Yifan, kode nama Kris. Dia yang terbaik untuk agen lapangan, seorang analis elit, wajahnya yang tampan bisa digunakan untuk mengorek informasi, aktor yang luar biasa, penembak jitu dengan tingkat ketepatan 93% dan salah satu anggota dewan."
"Murid nerd EXO, Cho Ji Soo, nama asli Kim Kyungsoo, kode nama D.O. Ketua tim riset dan pengembangan senjata NIS, tim elit analis, kakak dari Kim Sehun dan putra dari Kim Junmyeon, dan juga agen lapangan."
"Kekasihmu di sekolah, Zhang Ju Li, nama asli Xi Luhan, kode nama Lu Xi. Ketua fungsionalis NIS, salah seorang dewan juga, ahli teknologi dan kandidat terbesar untuk posisi pimpinan pusat." Ujar Kyuhyun mengoceh seperti sedang membaca kertas profil tak kasat mata. Matanya menatap licik Luhan yang sedang tertunduk. Ia berjalan mendekatinya dan memaksa wajah Luhan untuk menatapnya. "Kau adalah agen terbaik dari yang terbaik, tidak punya perasaan, bertangan dingin, ancaman untuk semua pemegang kekuasaan NIS, tak ada yang bisa mengalahkanmu sampai akhirnya aku menemukan kelemahanmu. Kelemahan yang semua pria miliki tapi kau tak bisa menyembunyikannya dengan benar. Aku tak menyangka kau membiarkan Kim Sehun membawa plakat besar namamu ditubuhnya tanpa penjagaan."
Dia menampik wajah Luhan dan kembali mendekatiku, senyumannya membuatku bergidik ngeri. Aku tak bisa membaca cara pikirannya dan hal itu membuatku? Dia orang kedua setelah Luhan yang tak bisa kuprediksi. Hal ini membuatku semakin takut dan rasa takut itu membuatku semakin kesakitan.
Jemari panjangnya membuka masker oksigen, membuatku semakin sesak nafas karena paksokan oksigenku dihalangi. Ia membelai rambut dan wajahku, dari dahi turun ke hidung dan mengusap bibirku secara sensual. Setelah itu, aku tahu apa yang akan dilakukannya padaku.
"Bukankah kekasihmu ini sangat sempurna, Luhannie?" ujarnya, aku melirik Luhan yang kini terlihat tegang. Sepertinya bukan hanya aku yang tahu kemana jalan pikiran Kyuhyun sekarang. Terlebih lagi, ia memberi isyarat pada semua orang untuk keluar dan menutup pintu.
Gerak-geriknya yang menaiki ranjang semakin membuatku was-was. Kedua tangannya menangkup wajahku dan mengikuti garis wajahku.
"Jangan sentuh dia!" Luhan mendesis marah, terlebih lagi bibirnya telah melumat bibirku dan tangannya mulai bermain di belahan kakiku.
Tangisanku pecah ketika ia meremas milikku, gerakannya terhenti tapi tangannya masih tetap berada disana. Ia memelukku dan menepuk-nepuk punggungku, seperti mencoba menenangkan tapi tangannya yang lain, tetap bergerak, memberikan sentuhan lembut dan menekan-nekan.
"Aku takkan menyentuh seseorang kecuali ia menyukai sentuhanku. Kau beruntung Xi Luhan, Kim Sehun tidak menyukai sentuhanku." Ucapnya dan menghempaskan kepalaku ke kepala ranjang. Namun naasnya ujung dahiku membentur bingkai besi ranjang hingga seketika pandanganku menggelap.
Aku kembali terbangun, masih diruangan yang sama tapi hanya ada Baekhyun. Aku menangkap pandangan Baekhyun yang penuh penyesalan, aku hanya balas menatapnya. Entahlah ekspresi apa yang terpampang di wajahku. Aku tertidur dengan posisi miring dan meringkuk, membuat selang infusku menusukku lebih dalam dan mengalami pendarahan.
"Sehun-ah, kau harus menarik infusmu. Jika tidak, aliran darahmu akan tersumbat." Ucap Baekhyun yang juga menyadari keadaanku. "Tarik jarumnya bersamaan kau menekan lubang jarumnya."
"Sakit." Ringisku, ketika mencobanya. Tidak hanya tempat jarum infusku tapi seluruh badanku terasa sakit terutama bagian kepala dan jantungku yang terus berdegup kencang. Aku berhasil menariknya, beberapa percikan darah mengotori wajah, pakaian dan ranjangku. Tapi aku tak bisa terus berbaring disini.
Tangan kiriku tetap menekan luka bekas infusku ditangan kanan seraya melepaskan kabel-kabel yang terhubung di dadaku.
"Sehun, apa yang kau lakukan? Tetap di ranjangmu." Ucapnya khawatir atau kalut aku tak bisa membedakanya. Aku tetap tidak peduli dan mencoba turun dari ranjangku. Tentu saja, aku terjatuh karena kakiku tidak kuat menopang tubuhku. Setelah aku mencoba mengumpulkan kekuatan aku berjalan tertatih ke arah Baekhyun dan mencoba melepaskannya.
Tapi sialnya dia terborgol, kukira ia hanya terikat oleh tali tambang karena ada tali yang mengikat sempurna dirinya ke kursi. Akhirnya aku hanya mencoba melepaskan tali tambang itu darinya. Tanpa disangka-sangka, setelah tali lepas darinya. Baekhyun bisa melepaskan borgol itu dari pergelangan tangannya.
"Trik lama dan menyakitkan," ujarnya merendah. Memang trik yang menyakitkan ketika aku melihatnya memutar engsel jempolnya agar lingkar borgol semakin longgar untuknya bebas dan mengembalikan lagi engselnya.
Ia segera memeriksa keadaanku. "Kau punya riwayat penyakit?" tanyanya singkat.
"Sepsis." Ucapku lirih.
"Oh shit!" makinya rendah. "Kau harus segera mendapat perawatan." Tambahnya lagi, ketika melihat memar di dahi, lengan, betis, dan leherku. "Tunggulah disini."
Aku tidak tahu apa yang dikerjakannya. Aku hanya menurutinya terbaring di lantai yang dingin, aku juga tak bisa berbuat banyak selain menahan ringisanku. Tapi setelah berjam-jam lamanya aku terbaring, aku bisa mendengar banyak letusan dari senapan beruntun dan juga kaca jendela di belakangku pecah serta melukai punggungku.
Sepertinya Baekhyun melakukan kegaduhan dan memanggil bantuan. Aku hanya tersenyum tipis dengan pemikiran bahwa semuanya akan selesai. Tapi pikiran bahagiaku langsung sirna ketika melihat sol sepatu asing mendekatiku.
Kyuhyun menarikku berdiri dan memukul wajahku hingga aku tersungkur. "Aku tidak menyangka ini semua hanya jebakan. Dan kau adalah alat pelacak untuk jebakan ini." Makinya sebal dan menendang perutku berulang kali hingga aku memuntah sedikit darah. Ia menempelkan ujung pistol yang dingin ke pelipisku. "Aku sudah sedikit curiga saat anak buahku menculikmu dengan mudahnya. Mereka seperti membiarkanmu diculik."
Yeah, kalau kenyataan itu keluar dari mulutmu yang tertipu, aku juga percaya. Kemudian Ia menarikku berdiri dengan menjambak rambutku dan menghempaskanku ke ranjang. Ia menunduk kebawah, meraih sesuatu dan membawanya tepat ke depan mataku. Alat sebesar kancing baju yang berkedip lemah berwarna merah. GPS?
"Kau pern ah mendengar pepatah, kalau kau harus mengerjakan semuanya sendirian agar hasilnya memuaskan." Tatapannya membuatku takut hingga aku tak bisa menjawabnya. Aku meringsut menjauhinya. Tapi dengan kasar ia menarikku hingga berada di tepi ranjang.
Tangannya menjelajahi wajah dan membuka satu kancing teratas pakaian rumah sakitku. Tangannya yang lain memenjarakanku hingga aku tak mampu bergerak. Aku hanya bisa memejamkan mata saat bibirnya menyentuh bibirku dan turun mengikuti garis rahangku dan berhenti tepat didadaku dan menjilat kecil.
"Aku menyesal tidak menyentuh tubuhmu selagi bisa, tapi kini kau harus mati, Kim Sehun." Ia mundur selangkah dan mengacungkan pistol itu tepat di pelipisku. "ah, kuberi dua pilihan." Sialan! Sepertinya pria ini selalu berubah pikiran. "Hidup selalu punya pilihan, Sehunnie. Kau akan ikut aku atau kau memilih timah panas ini bersarang di kepalamu?"
Aku tidak suka kedua pilihannya dan juga aku tidak mau mati. Masa depanku masih panjang, bahkan aku masih tergantung pada ibuku. Tapi aku juga tidak menyukai pilihan mengikutinya, aku hanya akan menjadi pemuas seks-nya.
Suara gaduh dengan diikuti kokangan senjata terdengar sangat jelas berada di depan pintu. Kyuhyun tertawa keras, terdengar seperti seorang maniak dan berhenti ketika pintu terpental terbuka. Mereka memasang bom hanya untuk membuka pintu?
Luhan dan Baekhyun ada di dalam rombongan bersenjata itu. Baekhyun terlihat terluka tapi masih bisa berdiri dengan senjata laras panjang ditangannya sementara Luhan, dia terluka parah tapi matanya terlihat menatap nyalang ke arah Kyuhyun yang masih setia menodongkan senjatanya.
"Tawaran ditarik, Sehunnie. Aku tidak mati sendirian." Ujarnya singkat sembari menarik pelatuk.
"Henti..." suara tembakan telah dilepaskan dan Kyuhyun jatuh kearahku dan perlahan merosot kebawah.
"Luhan! Kita masih memerlukannya." Teriakan Baekhyun memberitahuku bahwa yang menembak Kyuhyun adalah Luhan sendiri tapi mataku masih terfokus menatap mata Kyuhyun. Sorot mata yang sangat kukenal. Sorot matanya, sama seperti sorot mataku ketika pertama kali melihat Luhan.
Dia...Kyuhyun menyukaiku?
Sorot mata itu masih bernyawa, ia tersenyum dan mengucapkan kalimat yang sama namun tanpa suara sebelum kembali mengacungkan pistol itu dan menarik pelatuknya ke arahku. Peluru itu tidak tepat mengenai kepalaku namun bersarang di bahuku. Rasa panas, perih dan sakit menyerang satu titik tersebut sebelum memancing seluruh saraf sakit di tubuhku.
Aku terbaring di ranjangku sembari menahan aliran darah di bahuku dan melihat sinar dalam mata Kyuhyun perlahan menghilang. Aku turut berduka cita untuknya, tapi itu tidak bertahan lama. Suara Luhan yang memanggil namaku berulang kali, membuatku menatap wajahnya yang berada tepat di atasku. Ia menahan aliran darah di bahuku yang tertembak, tapi rasa sakit berubah menjadi rasa kebas disekujur tubuh.
Tubuhku sudah tidak bisa menahan rasa yang menderaku selama ini. Aku tidak bisa lagi fokus mendengarkan perintah Luhan untuk tetap bertahan dan mendengarkan suaranya. Aku hanya ingin tidur, tidur yang lama dan panjang. Tidur untuk selamanya.
