"Kenapa kau terlihat bagitu kesal?"

Tidak menggubris si koki yang dengan seenaknya duduk dan berbicara di sebelah nya ia menoleh ke arah lain
"...saat orang berbicara denganmu menghadaplah ke lawan bicaramu" si koki itu memutar paksa tubuh zoro ke arahnya "aku berbicara denganmu zoro"
"...aku tidak ingin berbicara denganmu"
Melirik kearah yang lain ia berusaha manjauhkan wajahnya "menyingkirlah cook"
Si pirang itu terlihat kecewa dengan reaksi dingin zoro dan menjauhkan tangannya dari pipi yang masih hangat itu "kau tahu, yang lainnya sangat khawatir dengan keadaanmu"
"..aku tahu"
"Jangan salahkan chopper melarangmu latihan"
"Kau tidak perlu mengatakannya"
"...dia hanya melakukan perannya sebagai dokter kapal kita"
Si pirang itu masih saja mengoceh membuat zoro akhirnya menaikkan volumenya "sanji, aku tahu" katanya tanpa sadar "kau tidak perlu mengatakan semua itu" bahkan dia tidak sadar telah memanggil nama si koki
"...zoro?" seketika itu juga muka sanji memerah. Ini bukan saatnya untuk membuat wajah senang hanya karena di panggil dengan nama, tapi tetap saja ia tidak bisa menahan senyumnya

Si koki membuat wajah aneh lagi di depannya. Bahkan dia yang sedang bad mood pun juga ingin tertawa melihatnya, tapi ia menahannya entah kenapa tapi demi harga diri.
"Jangan membuat wajah seperti itu" tegurnya sambil menghela nafas "kau juga bukan?, seharusnya kau melakukan peranmu dengan baik"
"Aku?"
"Kau koki bukan ?, bukan tempatmu untuk menemaniku atau merawatku bahkan mengatakan sesuatu seperti itu"

Wajah bodoh itu berubah menjadi wajah kebingungan
"Ada apa ?"
"Tidak, tidak biasanya kau menanggapiku dengan baik...kau tahu mengobrol pada umumnya"
"Maa...aku terluka kau ingat?...aku tidak akan menyulut api"
"Maka karna itu cepatlah pulih"

Jika mereka yang biasanya. Mereka akan saling mengejek satu sama lain dan mulai berdebatan sampai terdebgar dari bawah dan di saat seperti itu biasanya bocah itu datang.

"apa?...ternyata Zoro mulai membaik huh"

Baru saja dipikirkan bocah bertopi jerami itu datang dan melompat memeluk Zoro "pagi ini kau menunjukkan wajah yang sangat menakutkan "

"Luffy, lukaku belum sembuh benar" tegurnya "kau terlalu keras" tapi ia tidak memBerontak. Bukan karena ia terluka tapi pendekar pedang itu membiarkannya

"aah, benar juga" Luffy melepaskannya "jadi, sejak kapan kalian menjadi akrab ?"

"a,akrab?" wajah mereka berdua memerah kemana-mana secara bersamaan "a,apa kami terlihat seperti itu?"tanya Sanji

"jangan bercanda, ini hanya karena aku belum pulih sepenuhnya" sangkal Zoro "jadi, apa yang membuatmu kemari ?"

"aah!..Sanji makan" mintanya ingat tujuan semula

"...kau baru saja makan cemilan bukan ?"

"tapi aku masih lapar "

...jika kalian akan berdebat mengenai hal bodoh, keluar sana aku ingin tidur "

...

Setelah petualangan berat di Thiller Back dan menemukan pemusi yang selalu diinginkan mereka bisa berlayar santai hari ini.

Si pengecut Usopp dan Nami dapat menikmati liburan mereka dari hal-hal yang berbahaya tapi Luffy dan Brook tidak sabar menantikan petualangan selanjutnya, semenjak tengkorak itu adalah anggota baru dan tidak memiliki Nakama dalam waktu yang sangat lama.

Nakama huh...

Sanji melirik tengkorak yang sibuk membantu yang lainnya dengan kikuk

Berbeda dengan pendekar pedang itu...waktu itu, ia bahkan tidak mempercayai siapapun kecuali Luffy

Ia duduk di anak tangga, sambil merokok ia mengamati teman-temannya yang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Pandangannya berhenti ke Zoro dan Luffy yang sedang berdebat mengenai sesuatu yang sangat bodoh, bisa melihat wajah si pendekar pedang membuatnya begitu tenang .

Aku jadi ingat pertengkaranku dengan si bodoh itu

Xxx

Entah sejak aku kapan aku mempunyai perasaan seperti ini terhadapnya. Kupikir selama ini aku menyukai Nami-san tapi...melihat Marimo itu tersenyum membuat hatiku saki dan berdebar terutama jika senyuman itu untukku. Meski hampir semua ditunjukkan untuk Luffy.

Aku menyukainya tapi, ada satuhal yang paling kubenci darinya

Terlalu memaksakan diri demi harga dirinya, membuat yang lainnya khawatir apalagi aku, hanya memikirkan Luffy, dan yang paling utama adalah..dia tidak pernah membiarkan siapapun mengetahui dirinya lebih jauh lagi.

Itu yang paling kubenci

Selain hanya memikirkan Luffy, dia tidak membiarkan siapapun mendekatinya meski bocah itu, juga...

Setelah keluar dari Arlong Park. Keadaan Zoro semakin baik setelah di tangani dokter tua dari desa Nami. Ia bertingkah seperti tidak ada apa-apa dengan dirinya meski itu di depan orang yang mengetahui keadaanya yang sebenarnya. Sanji, si koki itu mempergokinya saat ia membungkuk memegangi dadanya dengan wajah kesakitan dan pucat. Segera si pirang itu menaruh makanannya dan berlari menghampiri dengan wajah cemas. Tapi apa yang diterima si koki ?

"kau baik-baik saja ?" tanyanya memeluk Zoro yang hampir jatuh "apa lukamu masih sakit ?"

"...aku baik-baik saja " jawabnya terengah-engah "jangan pedulikan aku" mundur selangkah menjauh

"aku akan memanggil Nami-san " si koki itu berpikir kalau Zoro tidak menyukainya maka karna itu ia mengalah sambil berpikir kalau Nami akan lebih baik mengatasinya

"tidak perlu" tolak si pendekar pedang menahannya "ini hanya berdenyut, bukan masalah besar "

"tidak masalah katamu ?, setidaknya biarkan Nami-san memeriksanya "

"aku baik-baik saja "

"kenapa tidak ?—"

"ini bukan urusanmu " sela Zoro dengan tatapan tajam seolah sedang melihat musuh lalu mendorong Sanji menjauh dengan kasar membuat tenaganya langsung habis dan menjatuhkan katana putihnya

"lihat,lukamu itu bukan luka hampir mati" tegurnya lagi sambil memungut katana tersebut

"diam !" Zoro menaikkan nadanya ""sudah kubilang ini bukan urusanu "

"..." si pirang itu mengigit rokoknya mulai kesal dengan sikap yang diberikan olh Zoro, masih memegang erat katana putih Zoro ia menatap pendekr pedang itu dengan tajam. Tidak hanya si Marimo itu yang bisa marah

"kemarikan" minta Zoro mengulurkan tangan untuk katana

Kehabisan kesabaran Sanji melempar katana putih itu dengan kasar "jangan berbicara denganku sekarang " katanya pergi dengan langkah kesal "aku sangat membencimu saat kau seperti ini "

"..."

"mati sana" umpatnya menoleh sekali lagi sebelum menghilang di belokan

Tidak hanya hari itu. Sampai sekarangpun ia juga masih seperti itu, apalagi saat kami semua hilang ingatan

Benar juga

Tidak hanya dia yang melupakan semuanya tapi..aku juga melupakannya

Aku benar-benar berterima kasih pada Robin-chan

Meski ingatannya sudah kembali dia masih menatap kami seperti hewan buas

Malam itu juga. Pendekar pedang itu masih bergadang bersama alat-alat latihannya yang berat, meski dengan keadaan seperti itu ia masih berlatih. Ada batasan untuk bertekad apa Zoro tahu itu?

Biasanya ia yang menganggkat barbel=barbel raksasa dengan ini terengah-engah hanya karena beberapa hitungan

"lihat, kau masih belum pulih"Si koki itu datang lagi menjenguk

"bukannya kau tidak ingin berbicara denganku ?"

"aku bisa berbicara padamu jika aku mau " balasnya sambil melempar puntung rokok ke laut"kenapa tidak kau beristirahat ?"

"beristirahat ?" Zoro tidak menoleh sepenuhnya ke belakang "diamlah" katanya dengan wajah menakutkan "kenapa juga aku harus mendengarkanmu ?"

"bukannya aku memintamu untuk berhenti melakukan ini?" Sanji juga memakai wajah yang seram sebegai balasan "aku bukan musuhmu atau sejenisnya"

"dengan wajah seperti itu ?" kali ini ia tersenyum sadis "apa kau tidak ingat ? kita bukan tipe orang yang bisa di satukan...kita tidak akan pernah menjadi akrab "

Itu yang dikatannya

Tapi, berkat kebodohan kapten...kelihatannya kebodohan itu juga menular. Tidak lebih tepatnya berkat Luffy ia agak melembut dibanding pertama kali ia bertemu dengannya.

Agak menyakitkan memang. bukan aku yang merubahnya...tapi selama ia bisa mengerti betapa berharganya dirinya...

Betapa berharga dirinya

Untuk bisa menyelamatkan nyawa semuanya

Dengan nekat mengorbankan diri untuk semuanya, tidak untuk Luffy. Lalu berakhir mengambang di dunia kematian dan kehidupan ?

Jangnn bercanda!

Sampai kapan dia akan membuatku khawatir ?

Zoro...

Bersambung...