Sebelumnya saya mengambil banyak unsure pada novel atau film Divergent pada chapter ini. Mungkin saya bisa dikatakan plagiat karena tidak mendapatkan izin dari mbak Veronica Roth sang penulis Divergent series. Saya hanya akan mengubah nama faksi, tetapti masih sama isinya dengan faksi milik asli. Saya mohon maaf

.

.

OOC's

Typo

Dll

.

.

Author : Raziqagann

Present

The Way

Chapter 2 : The Mescolare

Taehyung dan Jungkook mengikuti arah kaki Gerald melangkah memasuki gudang lusuh tempat mereka datang pertama kali. Ruang ini seperti terisolasi. Cukup luas untuk ukuran gudang. Ruang gelap dipenuhi debu dan kain-kain lusuh menutupi benda-benda.

Gerald menghentikan langkah dua pemuda bersurai tak sama itu. Kemudian menoleh menatap mereka, "Sebentar. Mesin waktu yang kubuat. Bukankah sudah disita oleh pemerintah?"

Jelas, Taehyung dan Jungkook saling berpandangan. Menikmati alunan detik yang serasa menunggu jawaban mereka. Kemudian menggeleng bersamaan, "Entah."

"Tapi..."

Kini sang Kakak maju selangkah mendekati Gerald, membuka mulutnya, bertanya, "Apa maksud anda dengan disita?"

Pria berusia lebih dari 40 tahun itu mengernyit, kemudian mencoba menjelaskan. "Sebab, saat percobaan pertama. Manusia yang kukirim ke masa depan. Tak kunjung kembali."

DEG!

Jungkook membulatkan matanya sempurna. Dengan kata lain, mereka juga tak bisa kembali ke tahun asal mereka. Secara garis besar, ia dan sang Kakak, akan selamanya tak pernah bisa kembali ke masa depan. Menikmati puding Yorkshire dan pasta buatan Ibu. Bermain bola dan berenang bersama Ayah. Mungkin tak akan pernah ia rasakan. Lagi.

Benih kristal cair menghujami kulit halus pipi Jungkook. Ia merutuki kenakalannya dan sifat keingin tahuan sang Kakak yang terlalu tinggi. Bocah surai hitam itu mulai terisak.

Saat sedang asyik berdebat satu sama lain. Taehyung dan Gerald mendapati indera pendengaran mereka merasakan sebuah melodi isakan yang absurd. Mereka bersamaan menoleh ke arah Jungkook.

"Hei Jungkook. Kenapa?"

Sang pemuda bersurai mentari itu merangkul adiknya cemas. Tak ada yang lebih menyakitkan ketimbang ditinggalkan keluarganya, dan melihat keluarga mereka menangis.

Jungkook berusaha bersuara, walaupun suaranya terdengar parau dan serak sempurna. Ia masih mencoba.

"Dengan kata lain. Kita tak bisa kembali kak!"

Taehyung juga sudah berpendapat begitu sejak tadi. Bagaimana ia dan sang adik pulang kerumah disambut pelukan dan nasehat kedua orang tua tersayangnya, Taehyung masih memikirkan itu.

"Aku juga tidak tahu Koo—"

"Aku akan memperbaikinya!"

Potong pemilik suara baritone yang sedaritadi bingung berkata apa. Kini ia mulai dengan peralatan-peralatan miliknya.

Jungkook, Taehyung, dan keluarga kecil Gerald kini tengah makan siang di ruang makan mereka. Istri Herald yang mendengar penjelasan dari Gerald hanya menggeleng dan merutuki kecerobohan suaminya. Seharusnya ia tak pernah membuat mesin waktu itu.

Kemudian selang beberapa menit kemudian. Mereka bertiga kini sudah berada di gudang lagi. Memulai semuanya untuk kembali ke masa depan. Persiapan sudah matang, semuanya sudah teratur menuju tahun 2015.

Namun pada kenyataannya...

Itu semua hanya mimpi.

Saat setelah Jungkook menekan tombol 'Future' dan berdoa akan kembali merasakan hangatnya sebuah keluarga kecil. Namun itu kini hanya mimpi.

Mereka terdampar jauh dari tahun 2015. Mereka terjebak dalam sebuah repetisi yang sama. Memasuki mesin waktu, berguncang, keluar, dan tak seperti keinginan.

Saat langkah kaki mereka berdua keluar dari bilik kapsul, mereka melewati beberapa kain penutup yang mungkin sengaja untuk menutup kapsul sialan itu.

Namun malangnya. Setelah keluar dari kapsul itu. Harapan mereka pulang merasakan puding Yorkshire buatan Ibu kini sirna dengan tidak adanya gudang tempat mereka pertama kali memasuki kapsul—mesin waktu—itu.

Lutut Jungkook terasa tak kuat untuk berdiri, melihat itu. Taehyung mendekap erat tubuh Jungkook ke pelukannya. Berharap ini hanya sebuah ilusi dan kemudian mereka kembali lagi ke peradabannya.

Saat tengah di landa rasa gundah gulana terbesar dalam hidup mereka. Sebuah suara besar menggema di seluruh kota, ya kota. Mereka terjebak pada masa depan yang melampau jauh dari 2015.

Suara besar tadi menggema mengumumkan sesuatu, Taehyung mencoba mendengarkan suara itu.

"Semua warga kota Chicago, diharapkan untuk segera mendaftar ujian faksi semester ini. Pendaftaran akan dimulai sejak pengumuman ini terdengar. Silahkan mendaftar pada gedung sosial. Terima kasih."

Suara baritone khas terdengar dari tengah kota, mereka berdua bergegas berlari melewati beton-beton membentuk dinding kecil itu. Kemudian manik mata mereka menangkap sebuah kerumunan manusia dalam skala besar di tengah kota. Tepatnya di gedung sosial.

Tanpa izin, seseorang menyeret mereka dengan kedua tangannya. Sebuah tangan mungil lembut berwarna putih pasir. Karena bingung, Jungkook bersuara. "Nona, apa yang kau lakukan?"

Seseorang yang menyeret duo kakak beradik ini adalah gadis belia berkisar 16 tahunan itu menoleh, "Eh?"

Manik matanya membulat sempurna, menambah bingung dua kaka beradik ini. Kemudian gadis belia itu menunduk. "Eh, ano. Aku salah orang hehe." ucapnya sembari menggaruk tengkuknya yang tak terlihat gatal.

"Sekalian kenalan. Rebecca Patt, kalian?"

Sang surai mentari hanya mengedikkan bahu, kemudian tersenyum manis

"Aku Kim Tehyung, ini adikku Kim Jungkook." mereka saling menautkan tangan, kemudian gadis itu kembali menyeret mereka untuk mendaftar faksi.

Setelah menulis biodata pribadi. Mereka bertiga disuruh petuga memasuki ruangan tes. Dengan antrean yang lumayan panjang. Tapi ternyata itu bukan antrean untuk tes, melainkan antre makan siang. Ya, disini siang.

Terdapat lebih dari lima puluh ruangan. Yang membuat antrean cukup terkendali. Mereka bertiga memutuskan untuk antre di nomor 25, Rebecca dahulu, Jungkook, kemudian Taehyung.

"Hai! Rebecca!"

Entah keberapa kalinya indera pendengaran Taehyung dan lainnya menangkap suara lain. Saat menoleh, suara itu bersumber pada pria blonde dengan tatanan rapi dan terlihat... Tampan.

"Suga! Godd, kau kucari-cari. Sampe aku salah nyeret orang lagi."

Nampaknya Rebecca dekat dengan pemuda yang dipanggilnya Suga. Lihat saja tangan mungilnya saat berayun menjitak kepala blonde pemilik nama Suga.

"Heheh. Maaf, teman barumu eoh?"

Pemuda pucat yang lebih pucat dari Taehyung itu menunjuk ke arah Taehyung dan Jungkook. Kemudian dua kakak beradik itu menunduk. "Hai!"

"Oh, iyaya. Suga Anderson, kalian?"

"Aku Kim Taehyung, ini adikku Kim Jungkook." Ketiga kalinya ini ia berkenalan dengan orang asing yang mungkin akan menjadi teman mereka, menemani mereka untuk sebuah perjalnan panjang, dan mengirim mereka kembali ke jaman mereka.

Saat sibuk mengobrol sambil menunggu antrean, penjelasan setiap 20 menit ini terdengar untuk ketiga kalinya pada pagi ini.

"Setiap orang yang mengikuti ujian akan memperoleh hasil yang berbeda, yaitu faksi. Faksi dibedakan menjadi lima. Pertama, Cavello adalah faksi bagi orang-orang jenius. Kedua, Armonioso adalah faksi bagi orang-orang ramah, baik, dan harmonis. Ketiga, Onesto adalah faksi bagi orang-orang jujur. Keempat, Fuoco adalah faksi bagi orang-orang kuat dan pemberani. Kelima, Cuidado adalah faksi bagi orang-orang berhati baik, suka menolong tanpa pamrih. Terima kasih."

Suara baritone yang berasal dari atap-atap atau entah darimana itu terdengar seperti peringatan.

Saat antrean nomor 25 sudah mulai menyurut dan kini adalah giliran Jungkook untuk memulai tes, tes yang menentukan ia akan masuk dalam faksi apa, tes dimana seseorang akan di pisahkan dari keluarganya.

Taehyung, Suga, dan Rebecca member semangat kecil pada adik kecil mereka, kemudian Jungkook menghikang di ambang pintu.

"Hai."

Suara seseorang memecah lamunan Jungkook yang tampak bingung, seorang pria berumur hampir 40 dengan brewok tipis rapi, kulit putih pasir, dan mata biru azure yang membuat tiap orang akan jatuh pada pesona miliknya. Pria itu terlihat ramah dalam balutan sweater abu-abu.

"Namamu?"

Remaja mungil itu menoleh, kemudian tersenyum manis, "Jungkook."

"Namamu bagus, panggil saja aku paman Billy oke? Duduklah." perintahnya untuk duduk pada sebuah kursi yang punggung kursinyasedikit tertidur, atau kursi 110 derajat. Kemudian pria yang bernama asli Billy itu menuangkan cairan berwarna biru pada gelas berbentuk silinder kecil. Kemudian mengulurkannya pada si surai hitam yang sedang sibuk melamun ria.

"Minum, hati-hati."

Jungkook meminum pelan cairan biru yang di ulurkan Billy tadi. Awalnya agak ragu dengan apa cairan itu. Namun, setelah penjelasan Billy bahwa cairan itu adalah syarat utama untuk tes ini ia langsung menegaknya.

Kemudian rasa pening menyelimuti kepalanya, seperti ingin tidur dan berbaring santai. Tak lama ia tertidur, kemudian ia terbangun dengan keadaan ruang yang dihuninya dengan Billy kini hanya ia huni, sendirian. Jungkook berdiri, melangkahkan kaki mendekati cermin yang tertempel di dinding yang semula tiada kini ada.

Hanya ada dirinya dan tampilan refleksi dirinya di cermin. Jungkook mengetuk pelan cermin itu, yang tak di sangkanya, cermin itu pecah perlahan mulai dari sudut awal ia sentuh kemudian menjalar kebagian lainnya. Yang kemudian jatuh berkeping-keping memekakan telinganya. Belum sempat ia menutup telinga. Manik matanya membulat menangkap refleksi dirinya tadi keluar perlahan dari cermin mencekik dirinya. Tanpa melawan ia mundur sebelum cekikan itu semakin keras.

Langkah kakinya mundur, kemudian menatap tembok. Refleksi dirinya kini sudah keluar di dunia nyata. Membuat tenggorokannya tercekat. Dan sedetik kemudian ia mengerjap kala refleksi dirinya berlari sekencang kuda menubruk tubuh Jungkook. Yang kemudian, tubuh refleksi dirinya hancur berkeping-keping seperti keramik. Tak ada rasa sakit sedikitpun yang membuat tubuhnya luka.

Tanpa rasa takut, remaja beriris hitam coklat itu menyorot matanya ke setiap ruangan. Ruangan ini semakin lebar. Seperti sebuah parkiran basement. Suara dari pikirannya kini memerintah pelan, seperti suara… Billy.

Di depannya ada beberapa daging, pisau, dan palu.

"Pilihlah Kook?!"

"Untuk apa? Billy? Kau dimana?"

"Cepatlah pilih!"

"AAAAAA."

Jeritan melodi Jungkook memekikan telinganya sendiri. Seekor anjing bulldog sedang berdiri di depannya dengan raut wajah lapar. Oh, beberapa benda tadi adalah umpan atau senjata untuk melawan bulldog ternyata. Setelah hampir beberapa saat Jungkook dan bulldog itu saling memandang. Kini ada seorang bocah manis sedang mengemut permen di sebelah bulldog. Bocah itu nampaknya tak sadar jika ada bulldog, bahkan bulldog itu kini focus pada bocah di sampingnya.

Bocah bersurai pirang dengan mata azure muda itu berlari kala bulldog mengejar bocah itu dengan sangat antusias. Bocah itu membuang permennya dan berteriak mengundang papa mama-nya. Tak kuasa melihat itu. Jungkook berlari mengejar bulldog itu dan langsung menubruknya ke lantai.

Kemudia bulldog itu lenyap kala Jungkook berhasil menubruknya dengan satu tubrukan. Kini lantai tadi seperti air. Jungkook tenggelam kebawah dan tiba-tiba saja ia sudah duduk di bangku tadi.

Ia mengecek keadaan, tak ada apapun dan siapapun. Tetapi setelah beberapa ia menutup matanya. Indera pendengarannya menangkap suara yang taka sing baginya. Bocah surai hitam itu terbangun. Kemudian ia menoleh ke kanan. Mendapati sesosok wanita yang ia sayangi dan banggakan.

"Mom!"

Ia berdiri dan memeluk seonggok wanita yang berbalut dress panjang berwarna abu-abu.

"Ya ada apa, Kook?"

Sang wanita itu mengusap pelan rambut Jungkook. Jungkook mempererat pelukannya. Seperti tak ingin keluar dari sini. "Aku merindukanmu Mom, aku telah bersalah mengajak Kakak untuk bermain petak umpet dan malah terdampar di masa lalu dan masa depan. Apa aku masih pantas untuk di lindungi Kakak, Mom?"

Ibunya hanya tersenyum kemudian mengelupas menjadi kupasan-kupasan dan menghilang. Jungkook kemudian berlri mengejar kupasan-kupasan itu menembus dinding dan kemudian terduduk lagi di kursi tadi.

Semua tadi hanya simulasi tes penentu faksi yang paling mutlak.

Manik mata Billy membesar seketika. Pupilnya mengecil. Dan ia menggeleng. Ia cepat-cepat menyuruh Jungkook berdiri dan meninggalkan ruangan ini ke ruangan selanjutnya. Jungkook bingung. Paman yang tadi ramah kini menjadi sesuatu yang lain.

"Apa hasilnya paman?"

"Orang tuamu faksi mana?"

Jungkook mengernyit, ia lupa memberi tahu bahwa ia datang dari masa lalu.

"Begini paman. Paman mau percaya atau tidak. Tapi.. Jungkook datang dari masa lalu bersama Kakak Jungkook yang sebentar lagi akan masuk ke ruang tes ini. Aku menemukan kapsul di gudang rumahku pada tahun 2015. Dan ini tahun berapa? Sudah sangat lama bukan. Paman, aku kesini sebenarnya bukan untuk mendaftar faksi. Tapi untuk cari tahu bagaimana caraku keluar dari masa depan ini."

Billy menganga spontan mendengar penjelasan sang bocah d hadapannya. Ia hanya mengangguk karena ia tahu bahwa Jungkook juga memiliki faksi Onesto, faksi para orang jujur.

"Kau masuk Fuoco. Nanti lain hari aku akan bertemu lagi denganmu." Dusta Billy tersenyum pahit kemudian mendorong pelan Jungkook keluar dari pintu lain menuju tahap tes selanjutnya.

Sebenarnya Jungkook memiliki kelima faksi dalam tubuhnya, bahkan kelima faksi tersebut bisa saja sembingan satu antara lainnya. Campuran dan kelima faksi itu di sebut… Mescolare.

TBC.

.

.

Maaf jika banyak kesamaan dengan seri pertama Divergent. Saya bisa dikatan plagiat memang, karena saya belum mengantongi izin dari sang pencipta yaitu Veronica Roth.

.

.

Review please!? Gak enak lho di silent reader-in orang