RAZIQAGANN
Present
The Way
.
.
.
Chapter 3 : Fuoco Side
"Kau masuk Fuoco. Nanti lain hari aku akan bertemu lagi denganmu." Dusta Billy tersenyum pahit kemudian mendorong pelan Jungkook keluar dari pintu lain menuju tahap tes selanjutnya.
Jungkook menatap Billy bingung, ia menahan tubuhnya kala di dorong Billy untuk keluar ruangan. Remaja bersurai hitam itu menghadap Billy. "Katakan yang sebenarnya paman." kemudian pria berambut blonde itu mendengus. Membuat embun dari mulutnya.
"Kau Fuoco… Cavello, Armonioso, Onesto, dan Cuidado."
Jungkook memajukan langkahnya dengan masih memasang wajah bingung yang kini bertambah satu stadium dalam skala besar. Raut wajah Billy kemudian mengecut seketika. "Ini sangat langka, Kook."
"Mereka menyebutnya Mescolare."
"Bukankah hanya ada lima faksi? Mescolare? Dan apalagi itu?" Kilatan mata Jungkook kini terlihat jelas. Sebuah rasa penasaran dan ingin tahunya kini kembali lagi meracuni darah mudanya. Mengoyak tubuh bagian dalam, dan membumbung di kepalanya.
"Kau tak boleh memberi tahu siapapun!"
Suara serak baritone Billy kini mengintimidasi Jungkook, serasa kerongkongannya tercekik. Ia mencoba mengeluarkan suara untuk kesekian kalinya bertanya.
"Dan… Kudengar ada upacara pelantikan faksi besok pagi setelah tes ini berlangsung. Jadi, apa yang harus ku pilih saat upacara itu? Seharusnya aku mempelajari sesuatu. Bukankah tujuan tes ini untuk membantuku memilih faksi saat upacar pemilihan berlangsung?"
"Tes ini tidak berjalan padamu. Tidak berfungsi."
Billy memeluk Jungkook erat, seakan pemuda beriris hitam coklat itu adalah anaknya yang akan siap di eksekusi mati dalam kurun waktu yang dekat. Kemudian mengelus lembut rambut hitam milik Jungkook.
"Kau harus yakin dengan pilihanmu."
Kemudian pria hampir empat puluh tahun itu mendorong Jungkook dengan paksa lewat pintu belakang. Jungkook hanya pasrah dan menatap nanar pintu yang telah mengluarkannya. Ia mengusap kepalanya, cukup terasa pening. Seolah dunia berputar lebih hebat dari biasanya. Seolah dia akan terhembuskan ke antariksa.
Jungkook menautkan langkah kaki-kainya pada keramik, raut wajahnya masam seperti belimbing. Dia mengangkat tangan kanan mungilnya. Melambai pada tiga remaja lainnya yang sedang sibuk mengobrol mempererat tali persahabatan.
Tiga remaja tadi sontak menoleh. Mendapati sang muda yang baru saja keluar dari tes simulasi.
"Bagaimana hasilnya, Kook?"
Suara baritone milik sang kakak membuat yang di tanya menjawab, "Nanti juga kau tahu."
Kemudian mereka saling mempertemukan dua tubuh yang ideal itu dalam sebuah pelukan hangat. Pelukan ang selalu di lanjuti dengan ciuman manis di pipi sang adik. Benda berwarna cherry muda lembut itu mengusap permukaan pipi Jungkook, yang membuat Jungkook berdecak. "Aku malu kak. Ada banyak orang, cih." Jungkook menunjuk Suga dan Rebecca yang tengah sibuk berdeham di dunia mereka.
Saat mereka sibuk memamerkan kedekatan mereka sebagai kak beradik, suara serak bass-baritone dari gedung social terdengar lagi.
"Semua di harapkan memasuki ruang upacara pemilihan. Upacara pemilihan akan segera dilaksanakan beberapa menit lagi. Semua di harapkan memasuki ruang upacara pemilihan. Terima kasih."
Suara itu di akhiri dengan dengungan kecil microfon. Selang beberapa detik setelah pengumuman itu terdengar, para kadet kini memasuki ruangan upacara pemilihan, lebih tepatnya upacara perpisahan.
"Sistem faksi adalah sebuah kehidupan, yang tersusun dari lima faksi, kau tahu pasti kelima faksi itu. Satu-satu agar sistem faksi ini bertahan adalah masing-masing dari kalian menmpati faksi yang tepat sesuai kepribadian kalian. Masa depan, tergantung pada mereka yang tahu mana tempat yang sesuai itu mereka."
Suara lembut dari seorang wanita bernama Park Chorong ini mengintimidasi tiap kadet. Semua kadet bertepuk tangah riuh kala sang pemegang kekuasaan tertinggi pada faksi Cavello. Kemudian dilanjutkan dengan intisari acara ini, pemilihan faksi.
Satu perastu kadet di undang kedepan dan memilih faksi dengan cara menjatuhkan cairan biru yang sudah di bagikan pada kadet ke nama-nama faksi yang sudah di jejerkan pada meja pemilihan.
"Kim Taehyung."
Suara bass dari panitia itu kini seperti memerintah Taehyung untuk berjalan menuju panggung memilih faksi. Dengan sangat hati-hati Taehyung menjatuhkan cairan biru itu di atas sebuah papan nama salah satu faksi, Fuoco. Jungkook tersenyum bangga, tepat sasaran. Kakaknya ternyata juga memilih faksi Fuoco seperti dirinya.
Tapi, tunggu…
Bukan kah tujuan Taehyung dan Jungkook adalah kembali ke jamannya? Kembali merasakan hangatnya kasih sayang Mom and Dad? Atau semua itu kini sirna kala mereka memasuki dunia baru? Memasuki masa depan yang tak pernah terpikirkan mereka bahwa mereka kini hidup di lingkup kota yang di halangi tembok raksasa yang menjulang?
Jawabannya adalah iya. Taehyung dan Jungkook sangat merindukan rumah bernuansa gothic milik keluarga mereka. Merindukan pasta dan puding Yorkshire buatan Ibu. Tapi… rasa ingin tahu mereka kini membuat dua kakak beradik ini tetap singgah di masa depan. Ingin merasakan hidup dalam faksi yang katanya adalah kehidupan terdamai sejagad raya.
Kini Jungkook, Taehyung, Suga, dan Rebecca adalah faksi Fuoco. Faksi yang berisi para pemuda-pemudi yang gagah perkasa dan pemberani. Penjaga kota dan seorang polisi bagi kota besar ini.
Upacara pemilihan faksi tadi berakhir dengan haru biru. Empat remaja tadi kini sudah membaur dengan Fuoco lain. Bukan membaur dengan kata arti mereka mulai kenalan. Hanya saja mereka kini sudah berbagi tempat dan berlari bersama menuju sebuah jalan laying kereta. Hentakan kaki-kaki itu menghujam tiap permukaan saat mereka sibuk berdansa dengan lainnya. Meliuk seperti merak yang tengah menari dengan alunan musik jazz.
Manik mata pemuda surai hitam kini membulat sempurna kala teman-teman seperjuangan yang baru saja bergabung dengan faksi ini memanjat tiang-tiang yang langsung terhubung pada jalan layang kereta itu. Tangannya tertaut pada besi, kemudian di lanjutkan dengan gerakan kakinya yang mulai menempel dan memanjat pada dinding tiang. Siluet sang kakak di atasnya membuatnya bahagia. Membuat segalanya yang ia sesali kini sirna kala sang surai mentari menghadap ke arahnya dan tersenyum.
Beberapa orang kini sudah berdiri di tepi jalan menunggu sesuatu, Jungkook adalah orang dengan barisan paling kiri. Setelah beberapa detik menunggu, semua rekan-rekan barunya kini berlari ke arah kanan. Kemudian satu kereta dengan pintu tertutup sudah berjalan menghampiri mereka. Pemuda surai hitam itu terlihat bangga karena sudah berhasil ke tepian jalanan di jalan layang ini tanpa bantuan. Saat kereta itu melintas di tepat hadapannya, manic matanya membulat, ia tersentak.
Jungkook masih terbengong dengan keadaan ini, kemudian lamunannya pecah kala ia di seret Taehyung untuk segera berlari atau ia akan tertinggal.
Sepertinya para senior-senior itu memulai semuanya dengan cukup baik. Lihat saja, mereka sudah menempel pada dinding kereta untuk membukakan pintu pada para junior mereka. Hampir semuanya kini sudah melompat memasuki kereta. Kini tinggal seorang Jungkook saja yang masih terengah dan berlari mengejar kereta yang kini tinggal sedikit lagi tepi jalanan terputus.
Dan kemudian kakinya ia siapkan untuk sebuah tolakan untuk melompat kea rah Taehyung yang sudah siap siaga mengulurkan tangannya untuk membantu adiknya memasuki gerbong kereta itu.
Dan kemudian satu tolakan ia lakukan dengan kuat hingga tubuhnya melayang tinggi mengudara di tangkap kakaknya. Ia nyengir kemudia memasuki gerbong kereta dengan Taehyung.
"Sekarang kau sangat pemberani ya."
Itu bukanlah pujian, namun itu adalah sebuah ejekan ringan untuk Jungkook. Remaja beriris coklat hitam itu mendecih, "Hah, terima kasih." Kemudian di barengi dengan suara tawa dari Taehyung yang dilanjutkan dengan senggolan Suga.
"Kalian ini, sangat mesra, kikiki." Suara Suga kini menderu di indera pengengaran dua kakak beradik itu. Jungkook mengumpat pelan, kemudian Taehyung menyeringai.
"Kan Jungkook memang pacarku sekaligus adikku, ya 'kan Kook? Ahahaha."
Sebuah ayunan tangan cukup keras menjitak kepala mentari milik Taehyung, pemuda itu nyengir. "Yakk kau!" kemudian tanpa izin Taehyung memluk adiknya dengan erat di hdapan Suga yang memerah seketika.
"Hentikan itu, ahaha." Rebecca menginterupsi.
"Bersiaplah!"
Senior pria berumur antara 21 hingga 22 itu memerintah. Taehyung dan kawan-kawan mengintip dari pintu lain yang terbuka. Mencoba melihat apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Matanya membulat kala mendapati beberapa senior melompat ke arah gedung bercat merah marun pudar.
"Mereka melompat!" suara Taehyung seakan sebuah mantra pengajak agar lainnya ikut menonton.
"Mereka mencoba membunuh kita." tawa Suga yang kemudian di senggol oleh Jungkook.
Anak-anak baru seangkatan dengan Jungkook satu-persatu mulai meninggalkan gerbong kereta ke atap gedung dengan melompat. Kini tinggal Taehyung dan Jungkook seorang di karenakan Rebecca dan si blonde sudah melompat duluan tanpa sepengetahuan mereka.
"Bersama?"
"Ya!"
"WOAAA."
Teriakan kagum mereka terdengar kala kaki mereka berhasil bertolak dan tubuh mereka terbang bak burung kemudian jatuh kea tap gedung. Bukannya kesakitan mereka malah tertawa seperti orang yang si gelitiki. Rambut mereka kini tak lagi rapi seperti pertama kali menginjakan kaki ke Chicago masa depan ini.
"Baik, dengarkan!"
Suara seorang senior membuat kerumunan orang baru itu berkumpul ke sisi gedung. Kemudian memperkenalkan dirinya dengan gaya gagah dan sok keren, tapi wajahnya terlihat cukup mengerikan dengan luka goresan pisau terjahit dari pipi kanan bawah ke atas.
"Hai, aku Namjoon, Nam. Aku adalah salah satu pemimpin kalian."
Kemudian semuanya terlihat mengangguk dan mata mereka seperti menggerayangi tubuh atletis Nam yang cukup terawatt. Rambutnya berwarna pirang, irisnya terlihat berwarna violet gelap, atau mungkin itu hanya soft flens?
"Jika kalian ingin menjadi Fuoco sesungguhnya, ini adalah jalan masuknya.. namun jika kalian tidak berani melompat. Kalian bukanlah orang yang kita cari, bukan seorang Fuoco."
Mereka mengangguk saat Nam menunjuk kea rah bawah di belakangnya.
"Kami membutuhkan seorang First Jumper, pelompat pertama?"
Manik mata Nam kini setengah menggerayangi para anak baru, mencoba memilih atau salah satu dari mereka memutuskan untuk melompat duluan. Jungkook memangdang semuanya kala tak ada seorangpun yang merespon pertanyaan Nam. Ia mengangkat tangannya.
"Aku."
Kemudian Jungkook di persilahkan untuk menaiki tepi gedung untuk bersiap melompat pada gedung yang lebih kecil de bawahnya yang pada atap gedungnya bolong. Ia bersiap, kemudian mengudara dengan sangat elok. Nafasnya memburu kala badannya melayang terjun cepat kea rah lubang gedung yang gelap itu.
Kemudian tubuhnya terpantul saat memasuki gelapnya gedung yang berlubang tadi. Oh, ternyata ada jaring-jaringnya. Jungkook masih tak percaya dengan apa yang barusan ia perbuat. Kemudian ia dia bantu seorang pemuda yang lebih tua dari Jungkook. Sekiranya, pemuda tampan itu berumur 19 atau 20 tahunan. Wajahnya begitu tampan. Hampir mirip dengan Taehyung namun dia lebih tampan. Rambutnya berwarna hitam seperti milik Jungkook. Tubuhnya berisi, berkulit putih tak sepucat kakaknya.
Setelah hampir beberapa menit lamanya para Fuoco baru ini udah terkumpul manis di samping jarring-jaring yang menagkup mereka saat terjun bebas ke gedung berlubang tadi. Kini pemuda berperawakan sangar bernama Nam tadi memperkenalkan teman seangkatan yang juga seorang pemegang nilai terbaik saat tahun kemarin. Pemuda yang menolong Jungkook berdiri dari jarring-jaring tadi. Pemuda tampan yang mirip Kakaknya sendiri, namun ia rasa lebih mani dan berkharisma sang pemuda berambut hitam seperti miliknya itu.
"Tak usah buang waktu. Namaku Joseph Ludwig, panggil saja V. Lebih mudah."
Semua bergeming mendengar suara bass berat beribawa itu, senyum menyungging di dudut kanan bibir V. Jungkook merasakan sebuah tamparan panas mendarat kepipinya kala mata mereka bertemu dalam satu detik. Remaja bersurai hitam manis itu menggeleng. Disampingnya sudah berdiri Kakaknya dan dua teman kenalannya hari ini.
Waktu berjalan cepat, hingga mereka sudah melewati tempat pelatihan, tempat mandi pria-wanita yang tergabung yang hanya dibatasi kain tipis berwarna abu-abu, dan kini berdiri di ruang istirahat yang mana ada banyak kamar yang satu kamar diisi dua orang, campuran maupun anak baru dan anak-anak yang sudah mahir.
"Silahkan cek kamar kalian, dan berusahalah akrab dengan lainnya, teruatama roommate kalian masing-masing. Aku juga tak sabar akan tidur dengan siapa tahun ini."
Kerumunan manusia tadi kini mengecek kamar-kamar bernomor yang disamping pintunya terdapat sebuah papan berwarna putih yang ternodai tinta hitam bertuliskan pasangan kamar itu. Dan Taehyung berdiri mematung kala ia melewati nomor lima belas yang bertuliskan namanya bukan dengan nama sang adik, melainkan dengan pemuda bernama, Byun Baekhyun.
Taehyung mengernyitkan dahinya, kemudian ia melambaikan tangan kepada sang adik yang tengah mengecek kamar bertuliskan namanya.
"Apa kau kamar ini?"
Taehyung menoleh kala suara ringan lembut menyapa telinganya masuk. Matanya menyipit memfokuskan pandangannya pada pemuda yang tingginya tak berbeda darinya. Remaja putih berambut coklat keemasan dengan iris berwarna biru kecoklatan.
"Ya. Dan, kau?"
"Aku? Aku juga penghuni kamar ini, kita roommate? Ahahaha, oh ya, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Byun Baekhyun, namamu?" Pemuda mungil itu tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya… dan juga lipatan bibir cherry-nya yang sangat menggoda. Taehyung menghela nafas mencoba menahan nafsu melumat yang sering ia lakukan kala adik kecilnya tertidur pulas. Sungguh, ia tipikal cowok yang tidak bisa menahan nafsunya jika melihat sesuatu yang membangunkan senjata dibalik celananya.
"Kim-kim Taehyung, Baek."
Senyum anehnya menempel dan membuat seorang mungil di hadapannya terkekeh menjitak Taehyung, ia mememluk Taheyung pelan. "Semoga kita menjadi teman ya? Ahaha."
Langkah kaki berbalut jeans abu-abu itu bergumul menapaki tiap lantai keramik yang kini menjadi alas ruangan. Mencari-cari namanya yang kini masih tak terlihat hingga nomor memasuki tiga puluh lima. Dan tada! Baru saja ia akan menyerah mencari. Malah tubuhnya menabrak seorang yang taka sing baginya. "Maaf."
V mengangguk, pemuda tampan itu masih membekas diingatan Jungkook. Bagaimana ia berbicara, bagaimana keringatnya mengucur membasahi dada dan perutnya yang membuat remaja polos di depannya itu tercekat melihat V menyeka tiap cucuran keringat yang membuatnya menggoda dan terlihat begitu… seksi.
"Namamu Jungkook?"
Jungkook memerah sempurna kala suara bass V menginterupsi dirinya yang sedaritadi bengong. Ia semakin ge-er bagaimana sang tampan berkharisma di depannya kini mengetahui namanya yang cukup asing. "Bagaimana kau tahu namaku?"
"Lihat, namamu dan namaku ada di papan kamar ini. Hai, roommate baruku."
JDERR!
Tanpa disangka pergelangan tangan V mengalung di leher putih Jungkook. Jungkook berusaha sekuat mungkin menarik nafas dan mengaturnya agar tak terlihat gugup. Kemudian dua pemuda berbeda umur itu memasuki ruangan dengan kasur bertingkat. Kamar mereka.
.
.
.
Haihai, maaf chapter ini sedikit terlamat dan cukup mengecewakan dikarenakan lebaran dan banyak acara huhuhu. Enjoy!
