"If you're afraid of losing, just get stronger.
If You're afraid of not being able to protect your friends, swear to get stronger until you can protect them.
If you're afraid of hollow inside you, just get stronger until you can crush him.
If you don't want to listen others, then, hold your chin up and yell those words to yourself.
That's the kind of man you have been in my heart, Ichigo !"
( Kuchiki Rukia )
.
.
.
"Can I keep up with it? The speed of the world without you in it?"
( Ichigo Kurosaki )
Melodi
By : VQ
Disclaimer : Tite Kubo
Inspired from a song,
Rambu no Melody
SID
Gedung-gedung tinggi yang menempel erat di atas permukaan tanah Karakura Town itu tampak sunyi senyap. Seiring waktu, cahaya lampu-lampu terbias oleh mentari yang bertengger di bawah sepotong tirai malam yang turun dan perlahan menampakkan sebuah tirai baru serupa nyala api biru yang nampak di langit-fajar.
Seorang pemuda bersurai jingga terbangun dari pembaringannya di pagi ini. Ia menguap dan merentangkan kedua tangan kekarnya menjadi lurus seperti garis. Kedua mata musim gugurnya tampak mekar dari dua kelopak yang menutupinya, memancarkan kilau mentari yang masuk lewat kaca perantara tipis yang terpasang di antara dinding kamar.
Ichigo menyibakkan selimut yang menutupi setengah bagian badannya. Ia menurunkan kaki jenjangnya dari ranjang dan melangkah kearah ambang jendela yang masih terjaga dari malam. Sayup-sayup terdengar alunan melodi Swan Lake Ballet berasal dari ruang tamu yang merayu-rayu di setiap sudut hunian Kurosaki. Ichigo mengetahuinya dengan pasti, siapa yang telah memutar musik semacam itu. Kalau bukan adiknya, Yuzu.
Seutas senyum menghiasi wajah tampannya. Pemuda itu sangat bersyukur masih bisa menghirup udara segar di pagi ini. Pasalnya, seminggu yang lalu atau mungkin karena beberapa tahun yang lalu hidupnya seperti di renggut oleh sesuatu. Ia berjuang mati-matian untuk menyelamatkan tiga dunia dengan segenap kemampuannya sebagai Shinigami pengganti.
Hueco Mundo, Soul Society dan Dunia manusia,
Disana Ichigo berjuang bersama teman-teman dan beberapa orang lainnya. Terus berusaha melewati hari dengan-Tak ada apapun, kecuali-kegelapan dan pertikaian yang terlihat.
Mengalahkan para Hollow, menyelamatkan roh-roh gentayangan, dan meng -konsohnya ke Soul Society memang bukan hal yang mudah. Apalagi dengan berbagai penyerangan pada teman-temannya, Ichigo tentu tidak akan membiarkan mereka terluka barang satu senti pun.
Tapi kali ini, Ichigo merasa sedikit tenang untuk menghadapi hari-harinya di Bumi. Kini tak ada lagi ancaman dari pasukan Espada,Bount,Mod Soul, XCUTION dan Quincy. Karena berkat keyakinan dan tekadnya untuk terus berjuang melindungi orang sebanyak-banyaknya, pasukan-pasukan itu bisa di kalahkan dengan mudah.
Ya, itu karena tekad. Tapi, Ichigo sepertinya melupakan sesuatu. Sesuatu yang ada sebelum tekad kuatnya muncul.
Lalu apa? Atau mungkin lebih tepatnya siapa?
Seketika, pandangan Ichigo terfokus pada cahaya putih bulat yang semu di langit biru.
-Rukia. Namanya.
Seseorang yang mengorbankan diri untuk menyelamatkan keluarganya,
Seseorang yang telah mengubah hidupnya,
Seseorang yang menghentikan penderitaannya,
Dan satu lagi, dia adalah seseorang yang menumbuhkan tekadnya. Dengan mengatakan bahwa, Ichigo adalah pria yang ada dalam hatinya.
Seakan benda buatan Tuhan itu adalah hidupnya, tanpa beban tangan Ichigo terulur, ia mencoba untuk menggenggam dengan kuat cahaya semu itu dalam telapak tangannya dan tak pernah berniat untuk melepaskannya.
Ya, ini bagaikan sepasang taring baru untuknya. Dan ini adalah era baru. Artinya, kehidupan normal Ichigo akan kembali sepenuhnya. Itulah hal yang membuatnya bahagia.
Ichigo menghela nafas dalam-dalam, mengikuti simfoni indah hidupnya. Senyumnya masih mengembang. Namun, sesaat kemudian posisi badannya kembali ke semula saat mata Topaz nya menangkap bayangan kupu-kupu ekor hitam yang melewati kepalanya tanpa dosa.
"Selamat pagi, Ichigo !"
Ichigo membelalakkan hatinya dan menoleh sumber suara di belakangnya. Ternyata, seorang gadis Shinigami berambut hitam dan bermanik amethyst besar tengah tersenyum manis kearahnya.
Ichigo pun ikut tersenyum,
"Selamat pagi, Rukia".
\( ٥▔0▔)/
Ichigo dan Rukia tampak takjub menatap pemandangan alam ciptaan Tuhan dari jendela itu. Menatap sinar mentari dan merasakan bau harum musim panas. Bersama-sama saling berdampingan dengan jati diri mereka yang seharusnya berbeda.
Ichigo mengalihkan pandangannya kearah Rukia, yang menyamping dan masih sibuk dengan tatapannya sendiri. Dengan hati-hati, Ichigo membuka pembicaraan,
"Ada masalah apa, Rukia?"
"Tidak," gadis itu menghela nafas, "Aku datang untuk mengucapkan salam perpisahan." lanjutnya datar.
Ichigo terbelalak, "Apa? Bukankah tugasmu masih berlaku?"
Rukia tertawa pelan, "Perintah bisa selalu berubah, Ichigo."
Ichigo terdiam. Dia menyadarinya. Pemuda itu mengembalikan pandangannya dan menutup mata. Mencoba menatap kembali isi hatinya yang gelap. Entah perasaan apa yang tengah merasukinya. Entah kenapa Ichigo tidak ingin mendengar Rukia berkata tentang perpisahan lagi kali ini.
"Kenapa bisa begitu? Kenapa begitu terburu-buru?", Dengan pandangan kosong, Ichigo bertanya.
Ichigo tidak mendengar jawaban. Namun, saat ia menoleh kearah Rukia, gadis itu juga tengah menatapnya. Sebelum akhirnya Rukia tertawa juga,
"Hahaha !. Sebenarnya ada apa denganmu, Ichigo? Tidak biasanya kau berkata seperti itu. Kita 'kan sebelumnya juga sering berpisah. Kau aneh sekali !" ujar Rukia panjang lebar.
Ichigo membungkam. Begitu juga dengan Rukia yang kemudian diam dan mengalihkan pandangan.
Tiba-tiba angin berhembus pelan namun pasti. Menggerakkan sesuatu yang di laluinya tanpa beban. Begitupun dengan surai hitam milik Rukia. Ichigo bisa melihatnya dengan jelas daripada sebelumnya. Rukia tetap cantik, seperti biasa. Namun saat melihat bibir ranum itu tersenyum manis, entah kenapa juga Ichigo menganggapnya cantik luar biasa walaupun lengkungan itu tidak tertuju padanya.
Rukia. Satu nama yang akan selalu Ichigo ingat sampai kapanpun. Bagaimana cara mereka berjuang bersama, berjalan dan merangkul erat kelemahan mereka yang-Ichigo tahu-tak terkalahkan.
Ichigo juga tahu, apa itu kehidupan. Sisi lain dari perjuangan di dalamnya akan selalu ada. Itulah yang di sebut hambatan. Titik atas dan bawah, seperti roda. Terus berputar pada porosnya. Tapi, saat bersama gadis itu, ia bisa melewati roda kehidupan itu dengan mudah.
Rukia. Gadis yang telah menghentikan 'hujan'nya. Gadis yang akan selalu ada dalam hatinya.
Pemuda itu tak pernah mengerti. Kehidupan Ichigo yang awalnya hanya sekedar manusia indigo biasa sampai akhirnya ia bertemu dengan Rukia, seseorang yang selalu ingin Ichigo lindungi sampai sekarang ini.
Tak peduli pukulan, tendangan, atau kata-kata tajam sekalipun yang akan Rukia berikan, jika itu adalah satu-satunya keajaiban bagi Ichigo yang notabene selalu melarikan diri dari masa depan dan mengalah pada rasa sakit, ia akan rela menelan semuanya dan tetap berjalan.
Daripada menunggu keajaiban yang lain, Ichigo akan menghancurkan musuh-musuh yang menyerang mental payahnya yang tak percaya pada diri sendiri. Ichigo telah bersumpah untuk melindunginya dulu. Bisakah gadis itu lebih lama tinggal disini?.
Pemuda itu tak peduli akan waktu. Mereka akan selalu tertawa bahagia sepenuh hati. Hanya karena satu hal, yaitu Rukia. Meski itu saat ia terpuruk sekalipun. Disaat Rukia ada, disana tidak akan ada ketakutan lagi, 'kan?
Lalu, jika sekarang mereka berpisah karena satu tempat yang jauh, siapakah yang akan menggambarkan impian Ichigo-atau lebih tepatnya ; impian mereka?.
Ichigo mengepalkan tangannya berusaha menggenggam hati yang tak pernah ia jangkau. Seakan terus berusaha untuk mengumpulkan semua yang pernah ia lihat dan rasakan saat bersama Rukia dan membawanya,
Disini-dihatinya.
Kepalan tangan itu berubah. Perlahan menyentuh bahu Rukia dan sedikit memaksanya untuk saling berhadapan.
Sentuhan itu membuat jantung Ichigo berdetak kencang. Pemuda itu menunduk. Tak peduli Rukia akan menatapnya lebih aneh atau tidak. Ia hanya perlu merasakannya.
Ichigo tidak ingin Rukia pergi. Pemuda itu tidak ingin berpisah lagi, Ichigo tak mau kehilangannya lagi, Ichigo mencintainya. Ya, benar. Sekarang ia merasakannya, Ichigo mencintai Rukia lebih dari apapun.
Ia menegakkan parasnya. Mereka saling menatap. Ichigo mencoba memberanikan diri untuk mengatakan semuanya pada pemilik amethyst yang indah itu.
"Rukia," panggil pemuda itu lirih, "Kurasa aku ... Kurasa aku ... ,"
Ichigo meraih bahu Rukia. Mendekapnya dalam pelukan dan nafas memburu.
"Kurasa aku, tak bisa mengikuti laju dunia ini tanpamu !. Kumohon jangan pergi dariku !"
Seorang manusia dan Shinigami tengah berpelukan dalam diam. Ichigo memang tidak menyampaikan semua perasaannya pada Rukia. Tapi, ia sangat berharap kalau gadis itu bisa mengerti.
Beberapa menit kemudian pelukan itu merenggang. Rukia lepas dari genggamannya.
"Hentikan, Baka!. Kau pikir, aku ini manusia yang bisa meninggalkanmu begitu saja?," Gadis itu mengepalkan tangan kanan, meletakkannya di depan dada, "Aku ini seorang Shinigami. Jadi, mana mungkin kau bisa lepas dari pengawasanku !,"
Ichigo terbelalak mendengar kata-kata Rukia. Ia terkejut sekaligus bahagia. Itu berarti, Rukia tidak akan pernah pergi meninggalkannya dengan cepat. Intinya, gadis itu telah membalas perasaannya. Ichigo pun tersenyum.
"Ah !"
Rukia meraih kedua tangan besar Ichigo, menggenggamnya dan meletakkannya di atas dada, dibawah dagunya,
"Kau harus tau ini. Aku berjuang untukmu, agar kau bisa terus mengikuti laju dunia ini." ucap gadis itu, mantap.
Gadis itu tersenyum. Ichigo merengkuhnya sekali lagi dengan kepastian. Begitu dalam beberapa saat. Namun, waktu mereka nampaknya memang telah habis untuk hari ini. Sebuah Senkaimon muncul dan terbuka. Uap perpisahan pun menyembul darinya. Dan seekor kupu-kupu neraka berputar-putar menanti tuannya.
"Ini perpisahan, Ichigo." Rukia melepaskan pelukannya lagi.
"Ya."
Rukia membalikkan badannya, "Jika kau merindukanku, datanglah ke Soul Society !"
Rukia berucap sambil terus berjalan ke hadapan pintu, menyisakan langkahnya yang terhenti. Kemudian, menoleh kearah Ichigo sekali lagi sebelum perpisahan mereka benar-benar berakhir.
Mereka saling menatap dan memberikan senyuman satu sama lain. Rukia melangkah, kupu-kupu itu mengikutinya. Pintu Senkaimon pun tertutup dan perlahan menghilang.
Ichigo menggumam, menyampaikan kata-kata yang tersisa, "Dan ... Jika kau merindukanku, datanglah ke Dunia manusia."
(づ ̄o)づ
Ichigo terpaku di ruangannya. Menatap tembok kosong tanpa motif dimana tempat pintu Senkaimon itu muncul dan menghilang.
"Onii -chan, asagohan ga dekimashita yo !" Sayup-sayup Yuzu memanggil Ichigo dari bawah, memperingatinya kalau sarapan sudah siap.
"H-hai !" sahut Ichigo.
\( ‾o‾ )/
Ichigo melangkah di setiap petak tangga dengan hati-hati. Sekarang, daun telinganya mendengar dengan jelas melodi dari lagu yang masih di putar Yuzu. Tapi, pemuda itu tak peduli. Yang terpenting baginya adalah, hari ini ia mendapatkan kebahagian. Ikatan yang lebih kuat dari sebuah melodi tarian liar yang bergema tiada henti.
FIN
Huahh, Oneshoot Ichiruki lagi. VQ mohon maaf kalau kata-katanya super lebay apalagi jika pairing ini membosankan kalian. VQ hanya mau publish fanfic ini yang udah sejak kemarin-kemarin ada di kartu memori. (^bahasa mana itu?). Terus VQ juga berusaha untuk memasukkan lirik lagu SID itu ke dalam fanfic ini. Dan yah, kata-kata nya juga super duper lebay. Ya udah, itu aja. Mind to RnR? :D
