Duyung, makhluk mitologi yang diceritakan memiliki tubuh separuh manusia dan separuh ikan.

Dikisahkan bahwa duyung ini mempunyai paras yang rupawan dan sangat suka berjemur di pinggir pantai atau di atas batu karang yang curam, mereka memiliki suara yang sangat merdu untuk menarik para pelaut agar memasuki kawasan bebatuan karang dan menemui ajal mereka.

Namun yang pasti, bocah berusia 10 tahun ini mengetahui satu hal. Duyung hanyalah dongeng yang tidak nyata. Hanya kisah yang diceritakan dari mulut kemulut dengan tambahan bumbu-bumbu di sana-sini.

Uchiha Sasuke tidak pernah mempercayai makhluk mitos itu. Ya, setidaknya belum.

"Tou-san, apa Tou-san percaya dengan duyung?" tanya Sasuke suatu hari ketika ia dan ayahnya, Fugaku, pergi berlayar di laut lepas seperti kegiatan yang sering mereka lakukan ketika akhir pekan datang, dengan kapal yang Fugaku namai Peggy Gordon. Aneh memang, tapi itulah ayahnya. Terlalu mencintai lautan seakan lautan adalah separuh hidupnya.

Dibandingkan kakaknya, Itachi, Sasuke jauh lebih dekat dengan ayahnya itu. Setiap akhir pekan mereka pasti akan mengunjungi laut, entah hanya untuk berjemur di pinggir teluk sambil mencari kepiting laba-laba atau berlayar seperti saat ini.

"Hmm, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya sang ayah bingung.

"Ya, hanya ingin mendengar pendapat ayah saja."

"Kalau menurut ayah, duyung itu memang ada. Jauh di luar sana, mereka tengah melindungi diri agar tidak ditemukan oleh para manusia yang egois ini, Sasuke."

Mendengar penuturan ayahnya, Sasuke hanya bisa mengkerutkan dahinya dengan tatapan yang seolah berkata, 'Ayah bercandakan?'

"Kau masih terlalu kecil untuk memikirkannya Sasuke. Memang tidak ada bukti nyata mengenai makhluk itu, namun hal itu tidak ada sangkut pautnya untuk niatmu mempercayai bahwa duyung itu ada atau tidak. Namun yang pasti Tou-san percaya bahwa duyung itu nyata."

Setelah perkataan panjang Fugaku itu, Sasuke tenggelam dalam pikirannya dan menciptakan keheningan di antara mereka berdua. Menatap Fugaku, Sasukepun membuka mulutnya untuk menanyakan satu hal lagi, pertanyaan yang menurutnya gila. Namun sekali lagi, Sasuke ingin mendengar pendapat Fugaku,

"Apa, Tou-san mau menjadi duyung?"

"Tentu saja, pasti akan sangat menyenangkan kalau kita bisa berenang sebebasnya di lautan yang indah ini dan menangkap banyak ikan mackerel atau sarden bukan?" kata Fugaku santai disertai tawa renyahnya.

.

.

INGO By Natsuki no Fuyu-hime

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Hurt/Comfort . Mystery . Adventure

Pairing : SasuFem!Naru . ItaFem!Kyuu . Slight SasuSaku

Warning :: Gaje, OOC, EYD berantakan, alur kecepatan tinggi dan emang disengaja, ancur tingkat dewa, susah dimengerti, jelek, TYPO, FemNaru, FemKyuu, aneh, judul tak sesuai dengan isi cerita, de el el. Apa bila tidak berkenan dihati silahkan KELUAR dari fic ini terimakasih.

Summary :: Duyung adalah dongeng mengenai makhluk setengah ikan dan setengah manusia. Tapi kami bukanlah tokoh fiksi tersebut, kami adalah bangsa Mer yang tinggal di kedalaman Ingo yang kalian sebut dengan Lautan. / "Kakakmu tengah bermain di Ingo." / "Sasuke tinggalkan udara, pasrah, atau kau akan tenggelam."

.

.

~o~o~ The Mer ~o~o~

.

5 Tahun Kemudian

Siang itu sangat terik, bahkan lebih mirip bulan Juni dari pada Oktober. Disebuah rumah di sebuah kota dekat pantai nampak ramai didatangi oleh orang-orang berbaju orange-hitam yang dapat dipastikan adalah penjaga pantai dan beberpa polisi. Kabar mengenai hilangnya Uchiha Fugaku telah menyebar begitu cepat di kota itu.

Rasanya Sasuke masih tidak percaya. Seakan baru beberapa menit lalu ayahnya itu bercakap-cakap dengannya lalu semenit kemudian, dia dinyatakan hilang di tengah lautan. Tapi apa mau dikata? Penjaga pantai dihadapannya ini telah menemukan Peggy Gordon hancur berantakan karena menghantam batu karang yang ada 100 meter disebelah utara pelabuhan. Dan entah kabar baik atau buruk, jasad Fugaku masih belum ditemukan sehingga anggapan bahwa Fugaku masihlah hidup. Sehingga saat ini Fugaku masih dalam status missing.

Tapi itu hanya memerlukan beberapa waktu sehingga status ayah berubah menjadi meninggal, pikir Sasuke gusar.

Sejak sejam yang lalu, Sasuke, Itachi dan ibunya -Kushina- telah diintrogasi mengenai hidup Fugaku sehari-hari yang sejujurnya Sasuke tidak mengerti apa hubungannya kehidupan Fugaku dengan menghilangnya Fugaku sekarang ini. Bahkan sudah tiga kali Kushina pingsan sejak awal datangnya para Penjaga Pantai.

"Tentu saja, pasti akan sangat menyenangkan kalau kita bisa berenang sebebasnya di lautan yang indah ini dan menangkap banyak ikan mackerel atau sarden bukan?"

Tiba-tiba ingatan mengenai 5 tahun yang lalu berputar di otak pemuda berusia 15 tahun itu. Tidak mungkin bukan ayahnya itu benar-benar menjadi duyung? Sasuke bahkan berani bertaruh bahwa terakhir kali Sasuke bertemu dengan Fugaku, ayahnya itu masih mempunyai 2 kaki tanpa sisik ikan sedikitpun. Membayangkan kaki Fugaku ada sisiknya saja Sasuke sudah ingin tertawa rasanya.

"Baiklah, mungkin data ini saja sudah cukup untuk kita melanjutkan pencarian tuan Uchiha Fugaku. Untuk selanjutnya percayakan pada kami, jika Kami-sama masih berkehendak Fugaku pasti dapat ditemukan. Permisi."

Setelah itu satu persatu Penjaga pantai dan polisi itupun kembali untuk melanjutkan pencarian. Kira-kira saat itu waktu menunjukan tepat jam 3 sore. Dan matahari sudah tidak terlalu terik, mungkin waktu yang tepat untuk berjalan-jalan di teluk kalau saja kejadian ini tidak ada, pikir Sasuke menghela nafas pelan.

"Kaa-san, apa Kaa-san bai-"

"Tak apa Itachi, Kaa-san baik-baik saja, jangan khawatir." Potong Kushina cepat dan melangkahkan kedua kakinya dengan lemas menuju kamarnya dan Fugaku lalu menutup pintu itu dengan bunyi brak kecil.

"Sudahlah Aniki, Kaa-san mungkin ingin sendiri dulu." kata Sasuke dan memasuki kamarnya yang ada di lantai atas rumah itu.

Sejak hari itu, pencarian terus dilakukan hingga dua hari kemudian pencarian dihentikan dan Fugaku dinyatakan meninggal. Dalam koran pagi Konoha, kota kecil di pinggir pantai itu, mengatakan bahwa Fugaku meninggal karena ketika ia berlayar dengan Peggy Gordon tiba-tiba cuaca mendadak buruk sehingga menghempaskan kapal Fugaku ke arah batu karang. Namun semua orang tahu, bahwa pada hari menghilangnya Fugaku, cuaca nampak baik-baik saja tidak ada badai atau semacamnya.

Sedangkan kabar yang beredar dari mulut kemulut, mengatakan bahwa mungkin saja Fugaku saat itu tengah berenang kerena suatu hal di dekat kapal dan terseret arus yang kuat sehingga menjauhi kapal dan mati tenggelam sehingga Peggy Gordon terbawa arus lain dan hancur mengenai tebing tempat ditemukannya bangkai kapal tersebut.

Lain lagi kakaknya, Itachi mengatakan bahwa ayah mereka memang terbawa arus dan mungkin terdampar di sebuah pulau dekat daerah berlayarnya Fugaku. Yang menjadi pertanyaannya adalah, dimana Fugaku berlayar saat itu?

"Mungkin saja Fugaku-kun pergi karena ia memiliki musuh dan membiarkan kapalnya berlayar tanpa arah sehingga membentur tebing bukan?" kata Kurenai bergosip kepada ibu-ibu lainnya di sebuah Mini Market.

"Iya ya, mungkin saja." Jawab ibu-ibu lainnya, dan acara bergosip merekapun terhenti ketika melihat Sasuke memasuki Mini Market tanpa menunjukan ekspresi berarti, bersikap seolah-olah ia tidak mendengar perkataan para ibu-ibu pengosip itu dan membiarkan mereka pergi keluar Mini Market.

"Huh, pemikiran lucu." Gumam Sasuke sambil memilih beberapa bahan makanan yang di suruh ibunya dan membayar ke kasir.

Setelah menyerahkan belanjaan yang disuruh Kushina, Sasukepun mengurung diri di kamarnya sambi menulis kemungkinan-kemungkinan penyebab kematian Fugaku. Di atas kertas yang sejak 15 menit ia tulis itu sudah berderet beberapa kata yang sangat rapi,

Ayah berlayar dan tiba-tiba badai menerjang kapalnya.

Ayah berenang di sekitar Peggy Gordon dan terbawa arus kuat.

Ayah terjatuh dari kapal dan terbawa arus hingga terdampar di pulau antah beranta.

Ayah meninggalkan Peggy Gordon dan membiarkannya terbawa arus.

Melihat tulisan tanggannya lagi Sasuke memutuskan untuk mencoret nomor satu, karena ia yakin betul saat itu cuaca sangat cerah dan sangat cocok untuk berlayar. Jadi, kemungkinan kematian Fugaku tinggal nomor dua, tiga, dan empat. Tapi kelihatannya ia harus mencoret nomor empat juga karena kemungkinan Fugaku membiarkan Peggy Gordon terbawa arus adalah sangat kecil. Ayahnya itu sangat mencintai Peggy Gordon selayaknya anaknya sendiri. Jadi tinggal nomor dua dan tiga.

"Hah, kepalaku benar-benar sakit." Gumam Sasuke merebahkan tubuhnya pada tempat tidur dengan bedcover berwarna biru dongkernya.

Tok tok tok

"Sasu-chan, makan malam sudah siap!" panggil ibunya dari balik pintu.

"Hn, sebentar lagi Sasu kesana!"

"Baiklah, jangan lama-lama ya. Itachi sudah sangat kelaparan." Setelah itu samar-samar terdengar suara langkah kaki yang menjauhi kamarnya.

Bangun dari tidurnya, Sasukepun merapikan kembali meja yang ia gunakan untuk menulis sejak pulang berbelanja tadi dan meninggalkan kamarnya menuju meja makan dan berharap agar Itachi tidak memakan habis sup tomatnya, mengingat apabila Itachi kelaparan, kayu yang dicampur dengan krimpun akan di makannya juga. Berlebihan? Menurut Sasuke tidak.

"Kau lama sekali otoutou, aku sudah kelaparan sekali!"

Suara Itachi yang pertama kali di dengar Sasuke ketika ia baru memasuki dapur yang merangkap sebagai ruang makan juga. Melihat beberapa makanan yang tersaji di sana, Sasuke dapat menyimpulkan bahwa ibunya sudah sedikit merelakan kematian Fugaku. Ngomong-ngomong mengenai kematian, Sasuke ingat bahwa besok siang akan di adakan upacara kematian Fugaku tanpa acara penguburan karena jasad Fugaku yang tidak ditemukan. Jadi hanya mendoakan saja dan penghiburan bagi keluarga.

Keesokan harinya seperti perkiraan Sasuke, banyak warga kota Konoha yang datang untuk ikut serta berdoa di gereja tua yang lumayan besar yang berada di tengah-tengah kota itu. Dimana-mana terdengar suara isak tangis dari keluarga terdekat mereka. Itachi yang disebelahnya sejak tadi hanya bisa menenangkan Kushina yang menangis sesegukan. Pendeta yang ada di altar hanya bisa berkotbah mengenai kehidupan yang akan diterima Fugaku yang dikenal sebagai pria baik akan sangat tenang di sorga.

Tiba-tiba saat di pertengah acara, Sasuke melihat Senju Tsunade wanita yang kata kebanyakan orang sudah berusia lebih dari seratus tahun namun masih mempunyai wajah layaknya wanita berusia dua puluhan. Dengan pakaiannya yang berwarna coklat tanah wanita itu memasuki gereja.

"Untuk apa wanita itu kesini?"

"Ku dengar ia cukup dekat dengan mendiang Fugaku."

"Wanita penyihir sepertinya harusnya tidak datang kemari."

Dan bisikan-bisikan tak enak lainnya. Namun Tsunade tidak menanggapi dan hanya menggangap bisikan mereka itu angin lalu. Melangkah dengan langkahnya yang tegap, Tsunadepun mendekati Sasuke yang saat itu juga memperhatikannya.

"Aku mengenal Fugaku sejak dulu, dia adalah pria yang baik. Apa kau yakin bahwa Fugaku telah meninggal?" mulai Tsunade dengan suara lemahnya yang rendah seakan hanya dirinya yang dapat mendengar perkataannya itu. Bahkan wanita tua itu tidak mengatakan 'mendiang Fugaku' ataupun 'beliau' seakan-akan ayahnya masih hidup.

"Apa maksud anda?"

"Ketahuilah Sasuke, hal yang kau anggap tak pernah ada karena tidak adanya bukti tidak bisa membuatmu berhenti percaya."

Setelah mengatakan itu Tsunade membungkukkan tubuhnya sedikit dan pergi meninggalkan gereja dengan pandangan heran orang-orang dan pandangan datar Sasuke, sedetik kemudian bibir Sasuke agak terangkat membentuk sebuah senyuman.

"Ya, akupun percaya bahwa Tou-san masih hidup."

.

~ Natsuki no Fuyu-hime ~

.

Bulan berganti dan kini terik matahari yang panas pada bulan Juni telah menyapa dunia. Pagi itu, Sasuke dengan sedikit tergesa mengenakan sepatu kets berwarna biru dongker dengan garis hitam miliknya, kemeja putih yang ia kenakan sedikit basah karena keringat yang membasahi tubuhnya. Sedikit membersihkan celana jeans selututnya, Sasuke berdiri dari tempatnya duduk.

"Kaa-san, aku ke teluk dulu mencari Itachi!" seru Sasuke dan tanpa menunggu jawaban iapun berlari menuju jalan utama yang akan membawanya ke teluk.

Sasuke melewati jalan kecil yang merupakan jalan pintas ke teluk, sedikit berhati-hati ketika melewati beberapa semak Cranberry agar tak melukainya. Berjalan dengan pelan agar tak terjatuh saat menuruni bebatuan licin yang akan mengantarnya langsung ke mulut teluk, lalu melewati dua buah baru karang yang agak besar walau samar-samar tercium bau amis ikan yang biasanya terdampar pada karang tersebut saat air laut pasang.

Oshiete yo oshiete yo sono shikumi wo || Katakan padaku, katakan padaku bagaimana cara kerjanya

Boku no naka ni dareka iru no? || Seseorang yang ada di dalam diriku?

Kowareta kowareta yo kono sekai de|| Di sini dalam kehancuran, dunia kehancuran

kimi ga warau nanimo miezu ni || Kau tertawa tanpa melihatnya sedikitpun

Ketika memasuki kawasan teluk, Sasuke yakin betul bahwa ia mendengar suara orang bernyanyi. Namun ketika ia menoleh ke segala penjuru teluk ia tidak mendapati orang lain di sana. Hanya ada bebatuan karang yang besar di sebelah kanan teluk dan pasir putih, serta lautan yang tenang. Lalu siapa yang bernyanyi? Batin Sasuke penasaran.

Suara itu begitu lembut, begitu indah dan sangat penuh perasaan seakan lagu itu menyiratkan isi hati si penyanyi.

Kowareta boku nante sa iki o tomete || Tiap aku hancur, aku menahan napas

Hodokenai mou hodokenai yo shinjitsu sae FREEZE|| Tak terpisahkan, tak bisa lagi dipisahkan, bahkan sebenarnya telah MEMBEKU

Kowaseru kowasenai kurueru kuruenai || Aku hancur, tak terhancurkan, gila, tak bisa kehilangan kewarasanku

Anata o mitsuketa yureta || Aku menemukanmu, dan aku gemetar

"Dibalik batu karang!" kata Sasuke dan iapun berlari mengarah ke batu karang yang ada di sebelah kanannya dan lagi-lagi melewati celah yang agak lebar di antara bebatuan itu.

Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis yang kelihatannya seumuran dengannya, dengan gaun terusan berwarna putih tengah duduk di atas pasir putih sambil bermain dengan kepiting laba-laba yang ada didekatnya. Sesekali menatap kedepan, ke lautan lepas seakan sedang menunggu sesuatu.

Terpesona

Ya, Sasuke begitu terpesona melihat gadis bersurai pirang itu. Gaun putihnya agak berkibar tertiup angin ketika ia berdiri dari duduknya dan sedikit demi sedikit mendekati laut. Merendam kaki telanjangnya yang terdapat dua buah gelang emas yang agak tebal. Berjalan semakin dalam kearah laut tanpa berhenti bernyanyi.

Tunggu? APA?

"Woi! Kau mau bunuh diri hah?" bentak Sasuke menghentikan gerak gadis bersurai pirang itu. Sedikit menoleh, akhirnya Sasuke dapat melihat iris biru sejernih langit menatapnya dengan kerutan di dahi.

"Hm? Siapa yang mau bunuh diri?" tanya gadis itu berjalan mendekati Sasuke yang memang ada dipinggir teluk.

"Kaulah! Untuk apa kau berjalan ketengah laut kalau tidak untuk bunuh diri?" desis Sasuke merasa bahwa gadis yang didepannya ini benar-benar bodoh. Benar-benar, apa begitu putus asanya dia sampai mau bunuh diri? Pikir Sasuke.

"Aku tidak putus asa asal kau tau saja."

Kaget, Sasuke begitu kaget dengan penuturan gadis bersurai pirang didepannya. Gadis itu menjawab pertanyaan yang ada dipikirannya dengan tenang. Padahal jelas-jelas tadi gadis itu hendak mengakhiri hidupnya. Bagaimana kalau ada arus yang menariknya? Sasuke yakin apabila itu terjadi, gadis didepannya ini hanya tinggal nama saja, itupun kalau ia mengetahui nama gadis didepannya itu.

"Apa kau yang bernama Uchiha Sasuke?" tanya gadis itu, membuyarkan lamunan Sasuke.

"Ya, dan darimana kau mengetahui namaku? Aku yakin, seyakin-yakinnya bahwa kita tidak pernah bertemu sebelumnya."

"Tentu saja aku tahu, Tachi-nii sering menceritakanmu. Perkenalkan namaku Naruto, dozo yoroshiku ne!" jawab gadis yang mengaku bernama Naruto itu dengan semangat.

"Tachi-nii? Maksudmu Itachi? Dimana dia sekarang?" tanya Sasuke beruntun sambil menolehkan wajahnya ke kiri dan kanan, berharap dapat menemukan kakaknya itu.

"Kakakmu tengah bermain di Ingo." Jawab Naruto sambil duduk di pasir putih didekat Sasuke berdiri. Gadis pirang ini yakin, Sasuke akan banyak bertanya dan akan memakan waktu yang lama.

"Hah? Dimana?" tanya Sasuke mengerutkan kedua dahinya.

"Di Ingo. Kami menyebutnya Ingo dan kalian menyebutnya Lautan, ya seperti itulah."

Ingo, kami menyebutnya Ingo dan kalian menyebutnya Lautan. Perkataan Naruto kembali mengiang di kepala Sasuke. Ingo berati Lautan. Itachi tengah bermain di Ingo, itu berati ia bermain di Lautan. Itachi, Lautan.

Tunggu, Itachi? Bermain di Lautan? Maksudnya di dalam Laut?

"Ya, kakakmu bermain di Ingo, di Lautan. Lebih tepatnya di dalam Laut bersama kedua kakakku." Kata Naruto menjawab pertanyaan yang ada di pikiran Sasuke.

Sedikit memicingkan matanya, Sasuke mendudukkan dirinya di sebelah gadis bersurai pirang itu tanpa mengalihkan pandangannya barang sedetikpun. Mengabaiakan celananya yang akan basah ketika terkena ombak yang menerpa pinggir teluk itu. Bahkan menghiraukan tatapan burung camar yang sejak tadi memandangnya seakan-akan dirinya adalah ikan yang terpisah dari rombongannya.

"Kau... bisa membaca pikiranku? Siapa yang kau sebut kami? Dan mengapa Itachi bermain di dalam lautan, apa ia menaiki kapal bersama kakakmu?"

"Wow, wow, wow, santai saja. Kau membuatku bingung dengan pertanyaan beruntunmu. Dan ya, aku bisa membaca pikiranmu selama kau tidak membatasinya." Jawab Naruto sambil mengangkat bahunya cuek, seakan-akan hal itu sudah biasa terjadi.

"Aku, adalah bangsa Mer atau Mens, terserah kau mau memanggilnya apa. Dan aku tinggal di Ingo, Lautan."

"Kau bercanda? Kau tidak bisa tinggal di Lautan. Kau bukan duyung! Dan kau jelas-jelas manusia!" sanggah Sasuke cepat dengan suara yang agak meninggi.

"Tidak, tidak. Kami memang bukan duyung, makhluk mitologi yang tidak dapat diyakini kebenarannya itu. Kami adalah Mer atau Mens. Meski kita sama, namun yang pasti aku bukan manusia." Balas Naruto tenang.

"Heh, dan matahari ada dua." Desis Sasuke.

"Baiklah kalau kau tak percaya. Aku mau kembali." Jawab Naruto berdiri dari duduknya. Ketika kakinya hendak mendekati Laut, lagi-lagi Sasuke menghentikan langkahnya dengan menahan tanganya yang bebas.

"Kau benar-benar tinggal di Lautan?"

"Ya, tentu saja. Dan asal kau tahu, kita sebenarnya mempunyai kesamaan. Jika kau tenggelam di air, kami bangsa Mer bisa tenggelam juga di udara. Jadi aku harus segera ke Lautan sebelum nafasku habis. Kalau kau mau, aku bisa mengantarkan kau ke kakakmu." Kata Naruto tersenyum teduh.

Lama Sasuke berfikir mengenai ajakan Naruto itu, pikirannya mengatakan bahwa itu mustahil. Namun hatinya percaya bahwa Ingo itu ada. Mungkin saja ia bisa bertemu dengan Fugaku. Ya, siapa tahu Fugaku diselamatkan oleh bangsa Mer. Mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mencari tahu apakah Fugaku masih hidup atau tidak. Lagipula, Itachi sudah sering ke Ingo, dan ia masih baik-baik saja hingga saat ini.

Baiklah Sasuke sudah menetapkan.

"Aku ikut!"

.

.

Di sinilah mereka sekarang. Di dalam Lautan yang berwarna biru kehijauan dengan terumbu karang yang sangat indah beberapa meter di bawah mereka dan beberapa rumput laut yang tumbuh dengan ukuran yang sangat panjang. Indah, namun Sasuke tidak yakin dapat bertahan di bawah sini. Disini airnya terlalu dingin karena tidak tertimpa sinar matahari yang hangat. Mungkin kalau mereka berenang agak di permukaan air laut pasti akan sangat hangat. Sedikit heran dengan kecepatan berenang Naruto yang sudah menyamai ikan di laut, Sasuke sekarang yakin bahwa gadis ini memang bangsa Mer atau apalah itu, Sasuke tidak ingat.

Menyelam, Sasuke yakin mereka sudah sangat lama menyelam dan nafasnya tak akan tahan untuk beberapa lama lagi. Ia sudah sampai dibatasnya, Sasuke sudah ingin pergi ke permukaan dan menghirup udara segar.

'Apa aku akan mati tenggelam seperti ini?'

"Sasuke lupakan udara. Biarkan Ingo masuk ke dalam dirimu."

Samar-samar Sasuke mendengar suara lembut Naruto.

"Pasrah Sasuke, lupakan udara." Suruh Naruto lagi.

Bagaimana mau pasrah, batin Sasuke geram. Bagaimana mungkin Ingo mau masuk ke dalam dirinya, bagaimana caranya. Biar bagaimanapun ia adalah manusia. Udara adalah kehidupannya, bagaimana caranya melupakan udara?

"Sasuke tinggalkan udara, pasrah, atau kau akan tenggelam!" Suruh Naruto lagi menahan tangan Sasuke yang sudah lemas agar tak tertarik arus menjauhinya.

Pasrah, perlahan-lahan mata Sasuke tertutup. Ia pasrah, semakin lama bayangan mengenai dunia udara seperti rumah, sekolah, ibunya, teman-temannya tertutupi kabut dan menjauh dari pikirannya namun tidak menghilang, ia pasrah. Pasrah, membiarkan Ingo masuk kedalam tubuhnya. Membiarkan air memasuki mulut dan hidungnya.

Perlahan-lahan rasa sesak di paru-paru Sasuke agak berkurang, oksigen mengalir dengan baik ke paru-parunya itu. Lengannya yang ditahan Naruto, mulai membalas menggengam pergelangan tangan gadis bersurai pirang itu. Matanya yang tadinya berkunang-kunang mulai fokus dan terlihatlah wajah khawatir Naruto dengan surai pirangnya yang bergerak tak beraturan seperti rumput laut.

"Aku, aku bisa bernafas!" kata Sasuke tak percaya.

"Hah, baguslah kau bisa menerima Ingo dengan baik. Tidak seperti orang-orang yang tenggelam di perairan ini, mereka tidak mau mendengarkan suruhan kita. Kalau saja mereka mendengar perkataan kami, mereka pasti masih bisa hidup." Kata Naruto agak menghembuskan nafas pelan.

"Baiklah, sekarang kau sudah boleh melepaskan peganganmu pada lengaku." Suruh Naruto tersenyum.

Namun, hanya gelengan kepala Sasuke yang ia dapat. Sasuke masih tidak yakin untuk melepaskan genggaman pada lengan gadis itu, ia takut apabila melepaskan genggamannya maka ia akan tenggelam. Ia hanya sesuatu yang tidak seharusnya ada di Lautan ini, apa yang mungkin terjadi apa bila ia melepaskan pegangan pada lengan Naruto mungkin ia akan tertarik arus dan tak akan bisa pulang ke rumah. Memikirkan hal itu, lagi-lagi perasaan sesak pada paru-parunya kembali.

"Jangan pernah memikirkan udara ketika di Ingo Sasuke." Suruh Naruto ketika membaca pikiran Sasuke.

"Baiklah. Lalu, dimana Itachi?" tanya Sasuke berusaha mengalihkan pikirannya dari udara.

"Ia ada di sekitar sini, tadinya. Tapi ia sudah pergi bersama lumba-lumba."

Apa? Kakaknya tadi ada disini? Kenapa ia tak menghampirinya? Apa Ingo begitu menyenangkan hingga ia lupa padanya? Pikir Sasuke mengira-ngira.

"Sasuke cepat kesini!" tarik Naruto cepat ke arah bebatuan karang yang ada di dekatnya untuk bersembunyi.

"Ada apa?"

"Sttt, ada hiu. Meski bangsa Mer hidup di Lautan juga, tapi hiu juga dapat memakan kami. Seperti harimau yang dapat memakan manusia di duniamu." Jelas Naruto dengan mata yang awas akan sekelilingnya, setelah itu ia keluar dari tempat mereka bersembunyi. "Kelihatannya hiu-hiu itu sudah pergi." Lanjutnya.

"Bagaimana dengan Itachi?" tanya Sasuke agak cemas dengan keadaan kakak satu-satunya itu. Ya, walau Itachi itu suka memakan makannanya tanpa izin, tapi Sasuke sangat menyayangi kakak satu-satunya itu.

"Tenang saja, Ku-nii orang yang sangat waspada dan Kyuu-nee adalah orang yang paling hebat mencari tempat bersembunyi. Secara tak langsung, kakakmu sudah di jaga oleh orang yang hebat di Ingo." Jawab Naruto sambil membusungkan dadanya, mungkin bangga kepada kedua kakaknya itu.

"Kau tahu, kau adalah orang ter-PD yang pernah aku temui."

"Dan orang ter-PD ini adalah orang yang dapat melindungi nyawa mu selama di Ingo." Balas Naruto sambil mengedipkan sebelah matanya jahil.

Sasuke benci untuk mengakuinya, hanya saja gadis bersurai pirang ini benar. Hanya ia orang yang dapat melindunginya selama di Ingo, Lautan yang tidak pernah dilihat olehnya, walau ia sering menyelam. Hanya saja jarak menyelamnya dengan gadis ini sangat berbeda. Mungkin saja Naruto dapat menyelam ke Dasar Laut yang paling dalam, batin Sasuke ngeri.

"Sasuke ayo kita memasuki arus itu, pasti akan sangat menyenangkan." Ajak Naruto menunjuk arus yang tampak berputar dengan buih-buih yang ada tidak jauh dari mereka.

"Apa itu aman?" tanya Sasuke ragu-ragu. Hei, ia bukannya takut, hanya saja bila kita tak bisa menguasai arus, salah-salah kita malah terlempar ke batu karang. Masih mending kalau ia cuma patah tulang, kalau ia langsung mati ditempat? Belum berperang sudah tertembak mati dong.

"Tenang saja, aku dan anak-anak Mer lainnya sering bermain arus kok. Dan asal kau tahu, aku ini adalah orang yang paling jago menaklukkan arus."

Setelah itu mereka bermain dengan beberapa arus yang sering Naruto naiki. Menyenangkan, rasanya seperti Roller Coaster yang melaju dengan cepat. Apa Itachi sering bermain arus seperti ini? Awas saja dia, tidak pernah ajak-ajak kalau ada tempat semenyenangkan gini, batin Sasuke agak kesal dengan kakaknya yang menyembunyikan tempat hebat seperti Ingo.

Ketika mereka keluar dari arus yang baru mereka naiki, nampak dari sebelah barat dua ekor lumba-lumba hidung botol yang berenang mendatangi mereka dan nampak bercakap-cakap dengan Naruto. Mungkin saja gadis bersurai pirang itu mengerti bahasa lumba-lumba. Suara lumba-lumba itu begitu melengking layaknya suara kaset yang rusak, mungkin lebih keras yang membuat telinga Sasuke agak berdenging.

"Mereka bilang, kakakmu sudah keluar dari Ingo." Kata Naruto sambil menatap kepergian lumba-lumba.

"Di sudah pulang?"

"Ya, dan sebaiknya kau juga pulang sekarang. Ayo! Arus itu akan mengantarkakn kita sampai ke depan teluk!" ajak Naruto dan untuk kesekian kalinya mereka menaiki arus yang akan mengantarkan Sasuke pulang.

Setelah beberapa menit mereka menaiki arus, Sasuke dan Naruto sudah tiba di dekat teluk tempat mereka bertemu tadi. Namun gerak Sasuke terhenti sebelum ia mau mendekati tepi teluk.

"Err, bagaimana ya mengatakannya?" tanya Naruto pada dirinya sendiri sambil menggaruk pipi tannya.

"Kau mau mengatakan apa sih?"

"Eh, itu. Saat kau keluar dari Ingo, mungkin kau akan merasakan sesak seperti saat kau memasuki Ingo. Ya itu saja sih yang mau aku katakan, agar kau tak kaget dengan perasaan sesak saat keluar Ingo. Baiklah sampai jumpa lagi!"

Dan benar saja, ketika Sasuke keluar dari Lautan, perasaan paru-parunya yang sesak seperti digenggam oleh tangan besi kembali ia rasakan. Namun tidak untuk waktu yang lama, oksigen sudah mengalir dengan teratur ke paru-parunya. Naruto, gadis pirang itu sudah pergi sejak tadi.

Sedikit menyisir surai revennya yang agak kusut seperti rumput laut, Sasuke menyusuri teluk untuk pulang kerumah. Agak terkejut ketika mengetahui bahwa hari sudah sangat sore. Mungkin waktu Ingo berbeda dengan waktu dunianya, pikir Sasuke menyimpulkan.

"Kau baru darimana Sasuke?" tanya sebuah suara rendah hampir mendesis yang sangat Sasuke kenali ketika ia menyusuri jalan yang penuh dengan semak Cranberry.

"Aa, Tsunade-san. Aku baru dari teluk, habis berenang."

"Apa kau selalu berenang dengan baju lengkapmu? Atau kau baru pulang dari tempat yang tidak terduga?" tanya wanita itu mengintimidasi.

"Apa mak-"

"Kalau kau memang habis berenang, kenapa rona Ingo begitu nampak di wajahmu nak?"

.

.

TBC

.

A/N : Halooo, kali ini Natsu membawakan Fic yang berdasarkan legenda putri duyung atau Mermaid. Memang belum ada bukti nyata mengenai makhluk ini, hanya saja kelihatannya seru membuat sebuah Fic yang bertemakan laut. Dan mungkin Natsu akan update fic ini setiap sebulan sekali bila tak ada halangan. Natsu ingin membuat Fic yang mencantum flora dan fauna laut. Natsu membuat Fic ini setelah membaca novel yang memiliki judul yang sama, 'INGO' karya Helen Dunmore, tapi tenang saja, Fic Natsu ini tidak akan mirip kok dengan novelnya, hanya mengambil beberapa hal intinya saja.

Ok itu saja, arigatou gozaimasu untuk teman-teman yang sudah mau membaca atau hanya sekedar mampir. Review?