INGO By Natsuki no Fuyu-hime
Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Hurt/Comfort . Mystery . Adventure
Pairing : SasuFem!Naru . ItaFem!Kyuu . Slight SasuSaku
Warning :: Gaje, OOC, EYD berantakan, alur kecepatan tinggi dan emang disengaja, ancur tingkat dewa, susah dimengerti, jelek, TYPO, FemNaru, FemKyuu, aneh, judul tak sesuai dengan isi cerita, de el el. Apa bila tidak berkenan dihati silahkan KELUAR dari fic ini terimakasih.
Summary :: Duyung adalah dongeng mengenai makhluk setengah ikan dan setengah manusia. Tapi kami bukanlah tokoh fiksi tersebut, kami adalah bangsa Mer yang tinggal di kedalaman Ingo yang kalian sebut dengan Lautan. / "... kenapa rona Ingo begitu nampak di wajahmu nak?" / "Hontou? kau seorang penyelam Minato-san?"
.
.
~o~o~ Penyelam dan Ciuman? ~o~o~
.
"Kalau kau memang habis berenang, kenapa rona Ingo begitu nampak di wajahmu nak?"
Kaget, ya Sasuke akui perkataan Tsunade itu begitu mengejutkannya. Banyak yang mengatakan bahwa wanita di depannya ini dapat meramalkan masa depan dan masa lalu, sehingga tak banyak dari warga Konoha yang berkonsultasi pada Tsunade ketika sudah mengalami jalan buntu. Namun Sasuke masih tak percaya bahwa Tsunade dapat mengetahui tentang Ingo. Apapun yang terjadi wanita gila itu tidak boleh mengetahui sesuatu tentang Ingo terutama Naruto, tekad Sasuke dalam hati.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti Tsunade-san."
"Tidak, tidak. Jelas-jelas kau mengerti tentang hal yang kubicarakan. Kau berada di Ingo seharian inikan nak? Bahkan kakakmu pun mempunyai rona Ingo di wajahnya walau samar. Tapi kau, rona Ingo begitu nampak pada wajahmu." Jawab Tsunade dengan suara rendahnya. "Kapan-kapan datanglah ke pondokku bersama Itachi."
Setelah undangan itu ia ucapkan, Tsunadepun berbalik dan berjalan menjauhi Sasuke yang masih menatapnya bingung. Menyadari hari semakin sore, Sasukepun melanjutkan perjalanan pulangnya menghiraukan kejadian yang beberapa menit terjadi.
Lampu-lampu dipinggir jalan utama yang menghubungkan jalan pintas menuju teluk yang Sasuke lalui sudah menyala dengan sempurna, beberapa mobil berlalu lalang menuju rumah masing-masing. Langitpun sudah berubah total menjadi hitam pekat dengan taburan bintang yang sangat cantik. Menghiraukan bajunya yang basah dan hawa dingin yang menerpanya, pikiran Sasuke terus melayang-layang mengenai Ingo, seakan-akan memang Ingolah rumahnya. Memikirkan betapa dinginnya air Lautan itu pada malam hari, seberapa asinya air itu, apakan asinnya sama seperti saat pagi hari? Dan disisa perjalanan pulang itu, pikiran Sasuke masih melayang-layang entah kemana.
"Tadaima!" ucap Sasuke agak pelan ketika memasuki rumahnya.
"Okaeri. Ya ampun, darimana saja kau Sasuke? Dan kenapa bajumu basah begitu?" tanya Kushina dari dapur ketika melihat putra bungsunya itu melewati dapur menuju tangga yang memang bersebelahan dengan ruangan itu.
"Hn, aku baru pulang dari teluk bersama teman-teman." Bohong Sasuke. "Kaa-san, apa Itachi sudah pulang?"
"Iya, dia sudah pulang sejak siang tadi dan mengurung diri di kamarnya. Cepat mandi dan panggil Itachi, makan malam sudah hampir siap."
Mendengar suruhan Kushina, Sasuke hanya mengangguk sekilas lalu menuju kamarnya. Namun sebelum itu ia mendatangi kamar Itachi, ada beberapa hal yang ingin ia pastikan terlebih dahulu. Mengenai Ingo, para kaum Mer, dan masalah Tsunade yang juga mengetahui tentang Ingo. Pokoknya ia harus berunding dahulu pada kakaknya itu dan mencari cara untuk menyembunyikan Ingo, pikir Sasuke.
Tok, tok, tok
Setelah mengetuk pintu berbahan kayu mahoni itu, tak ada jawaban apapun dari dalam kamar Itachi. Sedikit kesal Sasuke mengetuk pintu mahoni itu sekali lagi, namun hasilnya tetap nihil. Dengan sisa kesabarannya, akhirnya Sasuke menggedor pintu Itachi dengan kakinya, dan berhasil! Itachi akhirnya merenspon ketukan yang bisa dibilang tidak pelan itu dengan suara bruk dan langkah kaki yang sepertinya berlari ke arah pintu.
Kriett
"Oh, kau Sas. Sudah pulang?" tanya si pemilik kamar berbasa-basi. Nampak wajah sayu khas orang baru bangun tidur di wajah tampan Itachi.
"Hn, ada yang mau aku tanyakan Aniki!"
"Hmm, sebaiknya bicarakan dikamar ku. Tapi jangan mengeluh begitu masuk ya!" peringat Itachi dan membuka pintu lebar-lebar agar Sasuke dapat masuk.
Dan pemandangan yang menurut Sasuke wow itu terpampang dengan jelasnya. Baju-baju bertebaran dimana-mana, buku-buku tergeletak di pojok ruangan dengan debu yang menempel, dan ya ampun! Bagaimana mungkin Itachi bisa tahan dengan kamar yang baunya mengalahkan bunga Refflesia Arnoldi ini? Saraf pembau orang ini pasti sudah rusak, batin Sasuke mengernyitkan dahinya jijik.
"Kapan, terakhir kali kau membersihkan kamarmu Chi?"
"Emmm, dua bulan lalu? Entahlah aku sudah lupa. Jadi, kau mau menanyakan apa?" tanya Itachi mengingatkan. Dengan hati-hati Sasuke berjalan menuju kursi yang ada di dekatnya supaya tak menginjak benda-benda Itachi.
"Maaf kalau kursimu basah, aku baru habis berenang dan belum sempat ganti baju." Ujar Sasuke dan dibalas anggukan maklum Itachi yang duduk di atas tempat tidurnya. "Jadi, kemana saja kau sejak pagi? Aku mencarimu ke teluk dan tidak menemukanmu dimanapun."
"Aaa, itu, aku. Aku pergi bersama temanku, ya temanku. Kenapa kau bertanya?" tanya Itachi balik dengan nada sedikit bergetar, melihat kegelisahan Itachi tak urungnya membuat Sasuke menarik bibirnya keatas membentuk sebuah seringai misterius.
"Ooo, pergi kemana? Apa kau menyelam sampai aku tidak menemukanmu? Apa kau pergi ke," jeda sejenak. Sasuke mengantung perkataannya dan makin memperlebar seringai kejinya melihat Itachi makin gelisah dari tempatnya duduk, "Ke Ingo?" lanjutnya.
Skat mat,
Itachi terlihat membulatkan matanya. Mungkin kalau bisa, sejak tadi mata beriris onyxnya itu sudah keluar dari matanya. Duduknya makin gelisah dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya, Sasuke akui, kakaknya itu tidaklah panda berbohong ataupun menutupi emosinya seperti Kushina. Tidak seperti dirinya dan Fugaku yang dapat menyembunyikan segala sesuatu dari orang lain dengan baik.
"In-Ingo? Hahaha kau mengada-ada Sas, memang apa itu Ingo? Aku tidak tahu." Jawab Itachi cepat disertai tawa garing miliknya.
"Ingo, kaum Mer menyebutnya Ingo. Kita menyebutnya Lautan, apa aku salah Itachi-nii?" tanya Sasuke mengulangi perkataan Naruto tadi pagi dengan seringai yang makin lebar.
"Kau-kau mengetahuinya?"
"Tentu saja, dan kau sedikit mengecewakan ku. Bagaimana mungkin kau merahasiakan tempat hebat itu Chi? Tapi kata Kaa-san kau sudah pulang sejak tadi siang, bagaimana bisa? Maksudku, saat kau keluar dari Ingo, lumba-lumba memberi tahukan Naruto dan kamipun segera kembali. Tapi mengapa aku bisa sampai di teluk pada sore hari?" Sasuke bertanya dengan cepat, menatap Itachi dengan tatapan bingungnya.
"Entahlah Sasuke, kau ingat waktu aku pulang saat subuh beberapa hari lalu? Padahal saat itu aku merasa baru beberapa jam di Ingo.. Kelihatannya waktu Ingo dan waktu kita itu berbeda. Semacam dunia pararel mungkin." Simpul Itachi sambil merilekskan tubuhnya. Paling tidak ia tidak harus berbohong lagi dengan Sasuke.
"Itachi, apa Tsunade mengetahui tentang Ingo?"
Dan pertanyaan Sasuke membuat Itachi agak tercengang.
"Apa maksdumu? Tapi menurutku Tsunade memang mengetahui suatu hal tentang Ingo. Bukankah orang-orang bilang ia sudah hidup sangat lama?"
"Hmm, baiklah aku akan mengganti baju mungkin juga mandi. Sebaiknya kau duluan ke dapur, makan malam sudah siap." Kata Sasuke beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati pintu, membuka pintu lebar-lebar Sasuke menoleh sejenak sebelum menutup pintu mahoni itu kembali.
Setelah sampai di kamarnya, Sasuke segera membuka kemeja serta celananya yang basah di kamar mandi yang memang ada di kamarnya. Menyalakan shower dan membiarkan air membilas air asin yang menempel di tubuhnya, lagi-lagi pikiran Sasuke melayang-layang ke Ingo.
Rasanya ia ingin pergi lagi ke Ingo. Bahkan rasanya ia mendengar deru ombak yang seakan memanggilnya dari sini, tapi mana mungkin. Rumahnya bisa dikatakan sangat jauh dari teluk. Mengenyahkan pikirannya itu, Sasuke mempercepat gerak mandinya. Melilitkan handuk pada pinggangnya, iapun keluar dari kamar mandi membiarkan tetesan air dari rambutnya yang lepek membasahi karpet kamarnya.
Setelah mengenakan pakaiannya dengan cepat dan mengeringkan rambutnya, Sasuke keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur yang sudah di tempati Itachi dan Kushina. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang pria bersurai pirang tengah duduk di bangku yang seharusnya diduduki oleh Fugaku tengah berbincang dengan Itachi. Merasa dipandangi, pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum ketika melihat Sasuke.
"Aa, Sasuke-kun! Kenalkan ini teman Kaa-san, Minato." Kata Kushina mengenalkan Minato, pria bersurai pirang itu.
"Hn. Uchiha Sasuke, yoroshiku onegaishimasu."
Setelah mengucapkan perkataan singkat itu, Sasuke segera menduduki tempat duduknya. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin Kushina membiarkan orang asing menduduki tempat Fugaku. Dan kelihatannya mulai hari ini, Minato harus terbiasa dengan aura permusuhan dari Uchiha bungsu ini.
"Ngomong-ngomong, Minato ini seorang penyelam. Bukankah kalian menyukai laut? Mungkin saja kalian mau menjadi seorang penyelam." Kata Kushina meletakan panci sup berukuran sedang di tengah-tengah meja makan di ruangan itu. Bau menyengat dari sup sudah lebih dari cukup untuk membuat Sasuke lapar, mengingat dari tadi pagi ia tidak ada memakan sesuatu selain meminum air laut yang asin.
"Hontou? Kau seorang penyelam Minto-san?" tanya Itachi nampak antusias.
"Em, kalau kau mau kau bisa ikut dengan ku untuk menyelam di dekat batu karang yang ada di sebelah timur pelabuhan," jawab Minato tersenyum menanggapi semangat Itachi. "Besok siang aku dan teman-temanku akan pergi untuk mengecek tempat itu. Datanglah kalau kalian bisa."
"Hum, aku pasti datang. Bagaimana dengamun Sasuke?" pertanyaan diajukan Itachi kepada Sasuke, mengalihkan pandangannya pada pemuda berambut reven yang sejak tadi hanya diam saja.
"Tidak, aku akan ke teluk besok." Jawab Sasuke singkat dan memasukan sesendok besar penuh nasi kedalam mulutnya, agak mengernyitkan dahinya ketika merasakan rasa panas dari nasi di dalam mulutnya itu.
"Apa? Ke teluk lagi? Apa kau tidak bosan ke teluk terus Sasuke-kun? Mungkin kau bisa menambah wawasan dengan ikut menyelam bersama Minato." Kata Kushina nampak tidak setuju dengan keinginan Uchiha bungsu yang ingin ke teluk.
"Tapi aku tidak tertarik. Lebih menyenangkan pergi berlayar bersama Tou-san dengan Peggy Gordon." Jawab Sasuke menghentikan acara makannya dan membawa mangkuk nasi, piring berisi ikan dan mangkuk supnya pergi menuju kamarnya. Setidaknya dengan makan di sana, Sasuke bisa makan dengan tenang.
"Sasuke-kun! Aa anak itu, maaf atas sikapnya." Kushina tersenyum canggung dan hanya di tanggapi dengan anggukan maklum Minato. Dan makan malam di meja itupun berlanjut dengan keadaan hening, tidak ada yang berniat memulai percakapan dimeja itu. Tanpa Kushina serta Minato sadari, Itachi hanya menatap kepergian adiknya dengan tampang datar. Entah apa yang ia pikirkan.
.
:: Natsuki no Fuyu-hime ::
.
Malam berlalu dengan cepat, libur musim panaspun masih berlanjut. Pagi-pagi sekali Kushina sudah pergi bekerja pada pub dekat kota, mungkin ia akan bertemu dengan pria siapalah namanya Sasuke tidak peduli. Itachi sejak tadi sudah meninggalkannya untuk pergi ke sekolah, mengingat hari ini ia mendapat giliran untuk memberi makan kelinci di sekolahnya, meninggalkan Sasuke sendirian di rumah dengan setumpuk pekerjaan. Dan pagi itu Sasuke mulai dengan menyapu halaman, mencuci pakaian yang nantinya akan dijemur oleh Itachi dan mengepel lantai rumahnya.
Kira-kira saat itu pukul sembilan pagi, saat Sasuke menyelesaikan pekerjaannya. Dengan kaos hitam yang dibalut dengan jaket tanpa lengan berwarna biru mudanya serta celana panjang berwarna hitam Sasukepun keluar dari rumahnya tidak lupa menutup pintunya. Tidak perlu mengkunci pintu karena kawasan rumah Sasuke termasuk aman, mengingat kota yang ditinggalinya itu adalah kota kecil. Seperti ayahnya bilang, di kota ini mereka semua saling kenal jadi jangan heran kalau setiap mereka keluar rumah akan ada orang-orang yang menyapa. Dan tujuannya kali ini adalah teluk, tentu saja untuk bertemu dengan Naruto dan menjelajahi Ingo.
"Sasuke-kun~~" panggil sebuah suara ketika Sasuke hendak memasuki jalan kecil yang merupakan jalan pintas menuju teluk yang sering ia lewati.
"Sasuke-kun mau kemana?" tanya orang itu.
"Hn, bukan urusanmu Haruno." Jawab Sasuke mendengus kasar pada gadis bersurai pink yang memanggilnya tadi.
"Mou, Sasuke-kun kok begitu sih? Aaa, Sasuke-kun mau ke teluk ya? Aku ikut ya!" dan dimulailah rajukan Sakura, gadis bersurai pink cerah itu.
"..."
Tanpa menoleh ke arah Sakura, Sasuke kembali melanjutkan jalannya menuju teluk. Namun lagi-lagi perjalanannya di hentikan ketika mendengar suara teman-tamannya. Ada Shikamaru si muka pemalas, Kiba beserta Akamaru anjingnya, Tayuya, Anko, dan Neji, dapat Sasuke lihat mereka semua membawa alat pancing dan jaring. Mau memancing? Batin Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Yo, Sasuke. Mau ke teluk ya? Kami ikut ya, hari ini cerah sekali untuk memancing." Sapa Kiba dan disertai gongongan Akamaru yang menyetujui perkataan Kiba.
"Hn? Bukankah hari ini kau kebagian tugas piket membersihkan kelas ya Inuzuka?" tanya Sasuke mengingatkan.
"Hehehe, aku malas, biar saja yang lain yang membersihkannya."
"Bukankah kau memang tidak mau mengerjakannya?"
"Gah, kau tak asik Tayuya!"
Percakapan merekapun berlanjut sambil berjalan menuju teluk, menghiraukan keberadaan Sakura. Bukannya mereka sombong atau pilih-pilih teman, hanya saja mereka memang tidak menyukai gadis itu. Sakura mempunyai suatu kelompok di sekolahnya dan selalu menindas orang-orang lemah dan orang yang mendekati Sasuke, bahkan Anko pun pernah ditindasnya saat ia mengetahui bahwa Anko sering bermain dengan Sasuke.
Seperti biasa, mereka akan melewati semak-semak cranberry dan berjalan melalui bebatuan yang lincin. Lalu mereka akan melewati celah dua buah batu satu-persatu mengingat jalannya terlalu kecil. Setelahnya merekapun sampai pada teluk yang berpasir putih.
Dengan segera mereka menyiapkan alat pancing dengan sesekali di iringi canda tawa khas anak-anak, sampai-sampai mereka tidak menyadari pemuda bersurai reven itu menjauh dan berjalan menuju celah batu karang besar yang ada di sisi teluk. Hanya gadis bermarga Haruno yang memperhatikannya dengan tatapan bingung ketika melihat Sasuke berjalan memasuki celah pada batu itu.
"Kau disini Naruto?" tanya Sasuke ketika keluar dari celah batu menuju tempat bertemunya dengan gadis bersurai pirang untuk yang pertamakalinya.
"Aaa, kau kesini lagi Sasuke? Mana Itachi? sejak tadi Kurama mencarinya." Tanya Naruto berdiri dari duduknya dan membersihkan pasir yang menempel pada gaun terusannya yang berwarna putih.
"Hn, dia masih harus memberi makan kelinci di sekolah."
"Oo, dan kelihatannya kau tidak sendirian ya kesini?" tanya Naruto ketika mendengar suara tawa dari teman-teman Sasuke dari balik batu karang.
"Ya, mereka memang selalu begitu. Hmm, Naruto bukankah kau mengatakan kau bisa membaca pikiran orang lain?" tanya Sasuke dan dibalas dengan anggukan kepala Naruto. "Bisakah aku juga membaca pikiran orang lain sepertimu?"
Sedikit memiringkan kepalanya, Naruto tampak berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sasuke itu. "Tidak, kau tidak bisa walaupun kau berdarah campuran. Tapi kau mungkin bisa membagi pikiranmu denganku bila kau merasa tidak adil bahwa aku membaca pikiranmu seperti sekarang."
Sasuke agak tersentak ketika mengetahui gadis didepannya ini lagi-lagi membaca pikirannya. Ya, ia merasa tidak adil bahwa hanya gadis ini saja yang bisa membaca pikirannya, sehingga gadis bermanikkan sapphire itu mengetahui semua rahasianya sedangkan ia tidak mengetahuai apapun mengenai Naruto. Mungkin berbagi pikiran dengan Naruto tidak ada salahnya, pikir Sasuke.
"Bagaimana caranya membagi pikiran denganmu?" tanya Sasuke tak menyadari seringai kecil pada bibir ranum Naruto.
Tanpa berkata apapun kedua tangan Naruto tampak terangkat dan menarik jaket bagian depan Sasuke sampai Sasuke menunduk ke arahnya. Dan adegan selanjutnya tidak pernah Sasuke bayangkan, bahwa gadis yang memiliki tinggi sebatas lehernya itu menciumnya, tepat dibibir. Sedikit terlena karena ciuman itu, Sasukepun membalas ciuman Naruto dengan sedikit agresif, tidak menyadari bahwa sepasang mata emerald melihat kejadian itu. Hingga mereka kehabisan nafas dan saling melepaskan tautan bibir mereka.
"Hah, hah, kau sudah menelannya?" tanya Naruto lirih dengan nafas terengah-rengah.
"Hah, hah, apa maksudmu?" tanya Sasuke balik dengan wajah yang agak merona. Bukankah mereka hanya berciuman? Untuk apa mereka berciuman? Jangan bilang kalau gadis didepannya ini menyukainya, pikir Sasuke sehingga wajahnya tambah merona.
Siapa yang tidak senang kalau disukai gadis semanis Naruto? Ingatlah kawan, bahwa Sasuke juga seorang pemuda yang mulai memunculkan rasa tertariknya pada seseorang, dan itu adalah hal yang wajar.
[ Baka! Mana mungkin aku menyukaimu. Lebih baik menyukai burung camar daripada kau. ]
"Hah? Kenapa rasanya aku mendengar suaramu di pikiranku?" tanya Sasuke sambil menepuk-nepuk telinga kanannya pelan seakan-akan kemasukan air.
"Itu suara pikiranku, kelihatannya kau sudah menelan sedikit darahku. Kita juga bisa bertelepati kau tau? Hebat bukan!" jawab Naruto menyombongkan diri sambil menunjukan cengirannya. "Dan kelihatannya ada yang melihat kegiatan kita barusan Sasuke." Lanjut Naruto sambil menunjuk ke satu titik di belakang Sasuke.
Membalikan tubuhnya, Sasuke dapat melihat Sakura tengah menutup mulutnya dengan air mata yang siap meluncur dan wajah merah yang menahan amarahnya. Dengan cepat Sasuke menutup tubuh mungil Naruto agar tidak terkena amukan Sakura. Anko yang hanya bermain dengannya saja, tangannya dibuat terkilir. Apalagi gadis pirang dibelakangnya ini yang ketahuan berciuman dengannya?
"Sa-Sasuke-kun. Kenapa kau tega begitu? Hiks," pertanyaanpun meluncur dengan mulusnya dari bibir Sakura sebelum ia berbalik dan meninggalkan Sasuke dan Naruto di belakangnya.
"Hei Haruno, kau kenapa?" tanya Neji ketika melihat Sakura keluar dari celah batu di sebelah teluk dengan wajah memerah dan air mata yang membasahi wajahnya.
Tanpa menoleh sedikitpun, Sakura meninggalakan teluk dengan segudang tanda tanya di kepala Neji dan yang lainnya. Bahkan Sikamaru yang sering tertidurpun dibuatnya penasaran dengan hal yang membuat Sakura menangis. Pasti ada hubungannya dengan Sasuke, batin mereka kompak.
Kembali ke Sasuke dan Naruto. Tampak Sasuke tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, sedangkan Naruto hanya memutar matanya malas melihat adegan picisan itu. O ayolah, itu hanya ciuman biasa. Naruto yakin Sasuke dan gadis pink yang ia kira adalah pacar Sasuke pasti sudah sering melakukannya. Bukannya ia menyukai Sasuke atau mau merebut Sasuke. Hanya saja, memang begitulah caranya untuk berbagi pikiran dengan kaum Mer. Harus menelan darah yang bercampur dengan saliva di rongga mulut.
"Kau tidak mau mengejarnya?" tanya Naruto pada akhiranya.
"Eh? Oo, tidak. Untuk apa, dia bukan siapa-siapaku kok." Jawab Sasuke santai walau agak tersentak diawalnya.
Namun sedetik kemudian wajahnya kembali merona merah ketika mengingat kegiatan yang mereka lakukan tadi. Dia, Uchiha Sasuke putra bungsu Fugaku dan Kushina telah mendapatkan ciuman pertamanya dengan seorang gadis Mer yang bahkan baru dikenalnya kemarin. Kaa-san ternyata anakmu sungguh hebat, batin Sasuke senyam senyum sendiri. Naruto yang melihatnya hanya mengangkat alisnya bingung.
"Kau kenapa?"
"Aaa, tidak. Hanya mengingat sesuatu yang menyenangkan." Jawab Sasuke menutup wajahnya dengan sebelah tangan agar rona pipinya sedikit tertutupi.
"Sasuke! Kau dimana?!"
Panggil sebuah suara. Kelihatannya teman-temannya itu sudah menyadari bahwa Sasuke sudah tidak ada di dekat mereka. Salah sendiri terlalu asik memancing tanpa menyadari bahwa salah seorang temannya sudah menghilang. Melihat jam tangannya Sasuke melihat waktu sudah menunjukkan waktu jam 12 siang. Cepat sekali waktu berlalu, pikir Sasuke.
"Kelihatannya mereka sudah mengetahui kau hilang." Perkataan Naruto menyadarkan Sasuke kembali dari lamunannya.
"Hn, dan kelihatannya aku harus kembali. Apa kita bisa bertelepati saat aku kembali kerumah?" tanya Sasuke memasukan tangan kirinya kedalam kantung celana panjangnya.
"Mana mungkin, kau hanya bisa menggunakan telepati itu disaat kau berada di Ingo dan dalam jarak 1 kilometer saja."
"Oh, begitu. Aku harus kembali mungkin Itachi sudah pulang."
Dan setelah mengatakan hal itu Naruto hanya menganggukan kepalanya singkat dan meninggalkan Sasuke untuk kembali ke Ingo. Sedangkan Sasuke kembali ketempat teman-temannya yang mencarinya. Sedikit berbasa-basi merekapun sepakat untuk kembali dengan membawa beberapa ikan dan sotong yang tertangkap di dalam ember berukuran sedang yang mereka bawa ke teluk tadi.
Sasuke tiba dirumahnya bersamaan dengan keluarnya Itachi yang hendak menjemur pakaian yang Sasuke cuci tadi pagi. Namun ia tidak sendiri, tampak disebelah Itachi, sesosok pria berambut pirang tengah bercakap-cakap denganya. Sedikit mendengus Sasuke memasuki rumah tanpa menghiraukan panggilan Itachi dan dengan segera mengurung diri di dalam kamarnya.
Beberapa saat kemudian Sasuke kembali keluar dari kamarnya menuju dapur dan disana ia melihat Itachi yang tengah meminum airnya, sedikit tersedak ketika melihat kedatangan Sasuke yang tiba-tiba.
"Uhuk, kau mengagetkan ku Sas."
"Hn, mana orang itu?" tanya Sasuke tak menghiraukan Itachi yang tersedak dan duduk pada kursi meja makan.
"Orang itu? Maksudmu Minato-san?" Tanya Itachi memastikan dan dibalas anggukan Sasuke. Meletakan gelas bening berisi setengah air di atas meja, Itachi membalikan tubuhnya menatap Sasuke. "Dia baru saja pergi, katanya ia mau melihat-lihat keadaan laut."
"Oo, baguslah dia tidak lama-lama disini." Jawab Sasuke santai tidak mengindahkan tatapan tajam Itachi. "Ngomong-ngomong, kau mau kemana berpakaian rapi begitu?" lanjutnya mengalihkan topik pembicaraan tentang Mintao.
"Aku mau ke pelabuhan, kau mau ikut?"
Mendengus sebal, Sasukepun meninggalkan Itachi tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan Itachi. Untuk apa ia ke pelabuhan? Seperti ia mau saja bertemu dengan orang yang dengan seenaknya menempati kursi Fugaku. Tanpa Sasuke sadari, ia berjalan menuju kebun yang ada di belakang rumahnya.
Kebun yang tidak luas memang, tapi banyak ditumbuhi berbagai macam tumbuhan yang di tanam Fugaku dan Itachi dulu. Melihat banyaknya rumput liar, Sasuke berfikir membersihkan kebun tidak ada salahnya untuk mengenang Fugaku. Setidaknya ketika ayahnya pulang nanti, ia akan senang melihat tumbuhannya terawat tanpa rumput liar di sekelilingnya, pikir Sasuke tersenyum kecil.
"Tidak, kau tidak bisa walaupun kau berdarahcampuran. Tapi kau mungkin bisa membagi pikiranmu denganku bila kau merasa tidak adil bahwa aku membaca pikiranmu seperti sekarang."
Darah campuran? Apa maksudnya?, pikir Sasuke ditengah-tengah kesibukannya membersihkan kebun belakang.
Ingo, kau memang penuh misteri, pikir Sasuke menerawang menatap langit cerah di atas kepalanya.
.
.
TBC
.
.
A/N : Huwaaa, nanda sora? #teriak histeris.
Hehehe, sebenarnya Natsu bingung juga mau buat interaksi antara Sasuke with his friends #Halah sok Inggris. Padahal maunya membuat chap ini lebih panjang lagi, tapi idenya buntu ditengah jalan dan akhirnya berakhir seperti ini #Plak. So, bagaimana minna? Cukup memuaskan atau sangat mengecewakan?
Sorekara, hari ini pengumuman kelulusan SMP kan? Bagaimana? Natsu udah liat, dan yah nilainya lumayanlah #Pundung. Paling tidak Natsu bisa diterima di SMK yang memang sudah lama jadi incaran Natsu. Walau jauh dari rumah, tapi itulah yang menjadi tantangannya #Cie elah
Sebelumnya Natsu akan membalas review yang Natsu dapat, jadi tanpa berbasa-basa lagi yuk mari,
.
chika kyuchan : Arigatou senang rasanya ada yang menyukai fic abal Natsu ini. Hidup dan matinya Fugaku akan jelas pada beberapa chapter kedepannya, tidak seru rasanya kalau Natsu bocorin sekarang #Plak. Ini sudah dilanjut semoga suka ya.
Indah605 : Salam kenal juga Indah-san. Arigatou karena ficnya dibilang keren. Tsunade bukan bangsa Mer, hanya saja ia mempunyai kaitan erat dengan Ingo. Bisa dibilang ia adalah seorang penjaga, penjaga apa masih dirahasiakan #plak. Ini sudah Natsu lanjut semoga suka ya.
Uzumaki Prince Dobe-Nii : Arigatou untuk review nya Uzumaki-san. Rona Ingo itu, ya bisa dibilang aura. Jadi aura Ingo Sasuke begitu kelihatan, makanya Tsunade bisa tahu kalau Sasuke habis dari Ingo. Seperti perkataan(?) lumba-lumba [Chapter 1], Itachi sudah pulang. Jadi dia sudah dirumah lebih dulu dari pada Sasuke. Ini sudah lanjut semoga suka ya.
seryl chapter : Arigatou ficnya dibilang seru. Ini sudah lanjut semoga suka ya.
A-Drei chapter : Arigatou atas review nya. Bagian awalnya mirip banget? Emang sengaja karena bagian awalnya itu adalah pokok ceritanya #kagakkreaktif. Niat awalnya memang mau buat gak Fem!Naru mirip seperti Faro. Apa lagi Natsu sangat suka karakter Faro, kyaa #FGmode. Tapi Natsu mikir lagi, mungkin keren kalau yang jadi pihak misteriusnya itu perempuan seperti kakaknya Faro, si Elvira.
SNlop : Arigatou untuk review nya. Ini sudah Natsu lanjut, tapi mungkin akan lambat update. Semoga suka ya.
hanazawa kay : Arigatou atas review nya. Haha, iya sama-sama maaf kalau ficnya abal Hanazawa-san. Ini sudah Natsu lanjut, moga suka ya.
UzumakiDesy : Arigatou ficnya dibilang keren. Ini sudah lanjut moga suka ya.
.
Ok itu saja, Arigatou gozaimasu untuk teman-teman yang sudah mau membaca, Reviews, Favs, Follows, atau hanya sekedar mampir. Review?
Next Chapter : Mélange Du Sang
