INGO By Natsuki no Fuyu-hime
Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Hurt/Comfort . Mystery . Adventure
Pairing : SasuFem!Naru . ItaFem!Kyuu . Slight SasuSaku
Warning :: Gaje, OOC, EYD berantakan, alur kecepatan tinggi dan emang disengaja, ancur tingkat dewa, susah dimengerti, jelek, TYPO, FemNaru, FemKyuu, aneh, judul tak sesuai dengan isi cerita, de el el. Apa bila tidak berkenan dihati silahkan KELUAR dari fic ini terimakasih.
Summary :: Duyung adalah dongeng mengenai makhluk setengah ikan dan setengah manusia. Tapi kami bukanlah tokoh fiksi tersebut, kami adalah bangsa Mer yang tinggal di kedalaman Ingo yang kalian sebut dengan Lautan. / "Kakakmu tengah bermain di Ingo." / "Sasuke tinggalkan udara, pasrah, atau kau akan tenggelam."
.
.
~o~o~ Mélange Du Sang ~o~o~
.
"Bagaimana harimu Sasuke?"
Peranyaan yang terkesan basa-basi itu meluncur dengan mulus dari bibir manis Naruto. Sekarang ini, Naruto dan Sasuke sedang berada di Ingo. Setelah lelas bermain arus, sejak tadi mereka berdua membiarkan tubuh mereka terombang-ambing dalam Ingo sambil bermandikan matahari di dekat permukaan matahari, kira-kira 10 meter dari permukaan laut. Sasuke yang mengambang sambil menghadap ke atas -permukaan laut- dan Naruto yang berenang di atasnya sambil berhadapan dengannya.
"Ya, begitulah. Biasa saja." Jawab Sasuke melipat kedua tanggannya dan meletakannya di belakang kepalanya. "Kau tahu, ada sekelompok penyelam yang hendak menyelam di dekat batu karang. Tempat kita sering bermain itu." Lanjutnya meski ia tidak mengerti mengapa ia menceritakan hal itu kepada Naruto.
"Apa? Penyelam! Mereka tidak boleh melakukan itu di Ingo!" desisi Naruto dengan sorot mata yang tajam.
"Memang kenapa mereka tak boleh melakukan itu?" Sasuke mengangkat tangannya menghalau surai pirang Naruto yang bergoyang seperti rumput laut, agar tidak mengenai wajahnya
"Bagi para penyelam itu untuk keperluan ekspedisi. Tapi bagi bangsa Mer, para penyelam adalah mata-mata. Mereka mengintai untuk mengambil segala hal yang ada di Ingo. Itu, itu tidak bisa dibiarkan!"
Gratak Gratak
"Suara apa itu?" tanya Sasuke sambil mengedarkan arah matanya ke seluruh penjuru Ingo. Namun ia hanya melihat beberapa ikan yang berenang tanpa keanehan sedikitpun.
Suara misterius itu semakin lama semakin keras, ketika ia mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto, tampak gadis itu sudah menghilang. Ya, gadis itu meninggalkan Sasuke sendirian terapung di dalam air. Memperhatikan lebih ke atas, dapat ia lihat sesuatu terapung di permukaan Laut. Sebuah kapal, pikir Sasuke.
Kapal itu berhenti tepat di atas dirinya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sesosok bersurai pirang pendek melongok dari samping kapal dan melihat tepat ke dirinya. Lama mereka saling bertatapan hingga Sasuke melihat bahwa orang itu adalah Minato. Minato memutuskan kontak mata di antara mereka dan tampak memanggil-manggil seseorang untuk membawakan sebuah jala yang sangat besar. Sasuke hendak pergi sebelum segerombolan ikan Tuna sirip biru melintas ke arahnya dan membawanya pergi, dan kegelapanpun menyapanya.
"...Suke, Sasuke. Bangun Sasuke!" bisik seseorang.
"Engh, siapa?"
"A, akhirnya kau sadar juga." Naruto mendesah pelan. Mereka masih berada di Ingo, Naruto membaringkan Sasuke di atas batu karang yang sangat besar ketika Sasuke di bawa oleh gerombolan ikan Tuna sirip biru kepadanya. Sedikit merasa bersalah karena sudah meninggalkan pemuda itu.
"Kau, kenapa meninggalkanku? Kau tahu, Minato-san melihatku tadi! Bagaimana kalau ia melaporkannya pada Kaa-san ku? Kau mau kaum Mer di ketahui oleh manusia?" desis Sasuke kesal.
"Di ketahui oleh manusia? Tapi Sasuke, kau mengetahui tentang kaum Mer, dan kau adalah manusia." Ucap Naruto polos, atau sengaja polos karena sejurus kemudian seringai lebar tampak pada wajah manisnya.
Sasuke kicep mendengar perkataan Naruto. Benar juga, ia adalah manusia dan ia mengetahui tentang kaum Mer, walau hanya namanya saja. Tapi paling tidak ia mengetahui tentang Mer dan Ingo, ia mengetahui sesuatu tentang mereka. Ya, aku adalah manusia special, batin Sasuke narsis.
Mendengar pikiran Sasuke, Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan ke narsisan pemuda di hadapannya itu. Berdiri dari tempatnya duduk tadi, Naruto mengulurkan tangannya kepada Sasuke untuk membantu pemuda itu berdiri, atau dalam kasus mereka membantu untuk berenang.
"Ayo, kita ke tempat lain!" Kata gadis itu tersenyum sambil membawa Sasuke memasuki sebuah arus yang ada di dekat mereka.
Namun niat gadis itu terhenti, ketika seekor penyu hijau dengan ukuran yang bisa dibilang lumayan besar menghampiri mereka berdua, tampak di atas tempurung penyu itu terdapat sebuah kertas. Ok, Sasuke memang tidak tahu apa itu benar-benar kertas atau apa, mengingat bila kertas masuk ke dalam air pasti akan langsung hancur tak tersisa.
"Hm,, baiklah katakan pada tetua aku akan segera ke sana setelah mengantarkan pulang bocah udara ini." Naruto berkata kepada penyu hijau itu singkat, membiarkan tatapan bingung Sasuke yang mengarah kepadanya.
"Ada apa?"
"Tidak, kau makhluk udara tidak mungkin mengerti." Balas Naruto dengan suara datar dan mendorong Sasuke memasuki arus diikuti dirinya. "Dan sebaiknya kau ku antar pulang lebih awal." Lanjut gadis itu tanpa sedikitpun menoleh ke arah Sasuke.
Awalnya Sasuke agak bingung dengan perubahan sifat Naruto. Sewaktu-waktu gadis itu bisa sangat ramah, namun semenit kemudia berubah dingin. Bahkan Sasuke pernah menyangka bahwa Naruto itu penderita DID, atau istilah kerennya kepribadia ganda melihat dari sifat gadis itu yang sering berubah-ubah layaknya arus air laut yang tengah ia gunakan untuk pulang ini. Inginnya sih sedikit mengintip isi pikiran gadis pirang disampingnya itu. Tapi tampaknya Naruto sudah memperkirakan hal itu, sehingga ia membatasi pikirannya dengan sebuah tembok besar hingga tidak dapat ditembus oleh Sasuke.
Tanpa terasa, kini mereka berdua telah tiba di depan teluk. Naruto tetap diam sejak tadi, ketika ia hendak berenang meninggalkan Sasuke. Pemuda itu menahan pergelangan tangan Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Berhenti, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang tidak mungkin ku mengerti? Kenapa kau selalu menutupi sesuatu dari ku?" tanya Sasuke beruntun menatap Naruto yang sejak kedatangan penyu hijau itu diam seribu bahasa. "Kau bisa menceritakannya padaku, kita teman ingat?" lanjut Sasuke agak lirih. Ok, ia bersumpah bahwa ini adalah pertama dan terakhir saja ia mengucapkan sebuah kata dengan nada memohon.
"Maaf Sasuke, begitu banyak hal yang harus di rahasiakan. Terkadang, sebuah rahasia harus tetap menjadi sebuah rahasia. Begitu pula dengan sekarang, mungkin suatu saat nanti aku akan bercerita padamu." Dan dengan jawaban yang penuh dengan teka-teki itu, Naruto berenang meninggalakan Sasuke.
Merasa tidak ada gunanya tetap berdiam diri di sana. Sasukepun berenang menuju tepi teluk. Sensasi panas yang membakar paru-parunya kembali ia rasakan, namun tidak sesakit ketika pertama kali keluar dari Ingo. Teriknya matahari yang Sasuke rasakan ketika ia keluar dari Ingo, dan disana ia melihat Itachi, kakaknya tengah menunggu dirinya dengan wajah khawatir miliknya. Tunggu, kenapa ia memasang wajah seperti itu? Seperti ia pergi berhari-hari saja, batin Sasuke.
"Yo, Baka-aniki!"
"Kau kemana saja Sas? Oo, aku tau kau di Ingo bukan? Dan aku yakin kau pasti tidak tau berapa lama kau di Ingo." Itachi menatap Sasuke dengan sorot mata yang tajam, setajam ekor pari yang di keringkan.
"Hah? Memang berapa lama aku pergi? Paling Cuma beberapa jam saja." Balas Sasuke mengingat-ingat. Ia sangat yakin ia tadi pergi ke Ingo pagi-pagi sekali, dan ketika ia kembali hari sudah sesiang ini, jadi tidak mungkin salah bukan?
"Ck, kau tahu? Kau sudah pergi sejak kemarin, Sas. Iya sejak KEMARIN! Kau beruntung karena kemarin Kaa-san menginap di pub dan akan kembali besok pagi." Gerutu Itachi dan berjalan menuju celah batu besar untuk menuju jalan setapak yang sering mereka lalui diikuti Sasuke dari belakang. "Kau tak akan tahu seberapa takutnya aku ketika kau tidak kembali kemarin. Aku takut kau pergi meninggalkanku, meninggalkan Kaa-san, seperti yang Tou-san lakukan." Lanjutnya lirih.
"Tapi Itachi, kau yakin aku pergi selama itu? Kau tidak bercanda bukan?"
"Untuk apa aku bercanda?" potongnya cepat. "Sebelum itu, kita harus ke tebing samping teluk. Semalam aku berkemah disana untuk menunggumu pulang." Itachi membelokan langkahnya menuju ke selatan teluk.
Di samping teluk memang ada tebing yang tidak terlalu curam, dulu Itachi dan Sasuke sering bermain disana bila menunggu Fugaku pulang berlayar. Tempat yang indah untuk menatap matahari terbenam dengan sebuah pohon apel besar yang biasa digunakan sebagai tempat berteduh oleh penduduk sekitar. Memikirkan pohon apel, Sasuke berharap ada buah apel yang matang walau mungkin sangat mustahil mengingat ini masih dipertengahan musim panas yang terik. Tapi intinya adalah ia sangat lapar. Jika memang ia pergi sejak kemarin seperti kata Itachi, itu berati sejak kemarin pula ia belum makan.
Ketika tiba pada tebing yang Itachi maksud, nampak disana sebuah selimut yang ditahan oleh sebuah senter berwana biru dan beberapa baterai agar selimut itu tidak terbang menjauh. Sampah cemilan dan sebuah kotak bekal tergeletak tak jauh dari sana. Kelihatannya fakta mengenai Itachi kemah di tebing ini semalaman memang benar adanya.
"Apa kau masih punya sesuatu untuk dimakan?" Sasuke bertanya dengan suara yang agak pelan, kelihatannya pemuda ini malu mengakui dirinya lapar.
"Hm, masih ada sandwich isi tuna, kau mau?" jawab Itachi agak ragu, adiknya itu tidak menyukai ikan tuna.
Tapi mengingat Sasuke belum makan sejak kemarin, Itachi tidak terkejut lagi ketika melihat adiknya itu mengambil sandwich tanpa komentar dan mulai memakannya dalam diam. Selama adiknya makan, Itachi mulai merapikan selimut, baterai, dan senter lalu memasukannya kedalam tas. Setelah itu ia mengeluarkan sebuah plastik berukuran sedang dan mulai memungguti bukusan makanan ringan yang ia bawa untuk dibuang. Biarpun ia ini malas merapikan kamar, namun menjaga lingkungan adalah hal yang sangat diutamakan olehnya.
"Sudah? Aku mau pulang, badanku rasanya lengket sekali." Sasuke berjalan mendahului Itachi untuk pulang dan tanpa berkata apapun Itachi melangkahkan kakinya dalam diam. Karena kondisi yang terlalu lama di dalam air laut, beberapa kali Sasuke hampir terjatuh hingga ia harus dipapah oleh Itachi hingga tiba di rumah mereka.
"Sasuke kita harus menemui Nyonya Tsunade sekarang. Hari ini juga!" kata Itachi esok hari ketika melihat adiknya -Sasuke- tengah menonton sebuah acara entah apa itu dalam diam. Tanpa bersuara Sasuke hanya menaikan alisnya dengan tampang bertanya. "Pokoknya kita harus ke tempat Nyonya Tsunade. Kau mau ikut bukan? Kita bisa mencari tahu tenang Ingo, atau mengenai Tou-san. Mungkin." Lanjut Itachi lagi dengan memubuhkan kata Tou-san, karena Itachi yakin setelah mendengar kata tersebut Sasuke akan langsung setuju,
"Kau gila? Untuk apa kita kesana? Demi Kami-sama, ini pertengahan musim panas Chi. Kau mau mati gosong untuk menaiki bukit tempat tinggal Tsunade-sama? Kau yakin?"
Atau mungkin tidak.
"Tentu saja aku yakin. Aku harus menanyakan suatu hal mengenai cerita yang sering ayah ceritakan. Ingat cerita mengenai Pemuda yang mencintai Putri Duyung melebihi hidupnya? Aku yakin itu adalah sebuah kenyataan, sebuah fakta yang mungkin bisa membantu kita untuk mencari Tou-san."
"Oh, cerita itu. Mungkin kau benar, aku bahkan hampir melupakan cerita itu." Jawab Sasuke lirih. Mematikan televisi yang menayangkan entah apa itu, Sasuke bangkit dari duduknya. "Ayo kita mencari kebenaran!" serunya mantap walau tampang datarnya itu tidak membantu.
"Heh? Kau yakin tidak mau mati gosong hanya karena ke rumah Nyonya Tsunade?" ejek Itachi menghentikan langkah Sasuke yang hendak membuka pintu depan dan menatapnya dengan tampang datar miliknya. "Ck, lupakan apa yang aku katakan. Ayo cepat sebelum matahari naik semakin tinggi!" kata Itachi dengan suara yang agak meninggi, kesal dengan sikap adiknya itu.
Untuk mempersingkat waktu, mereka berdua menaiki sepedah Itachi untuk mencapai bukit tertinggi yang ada di sebelah selatan kota. Daerah yang penuh dengan pepohonan dan juga ladang anggur itu tampak sangat asri dan sangat hijau. Demi apapun didunia ini, Sasuke sangat membenci warna hijau. Hijau, hanya akan mengingatkannya kepada salah seorang temannya yang selalu berkoar mengenai semangat masa muda atau apalah itu. Menurutnya masih lebih baik warna biru seperti laut, dan ia mulai membayangi kalau pepohonan yang ada di sekelilingnya itu berwarna biru.
Well, sepertinya warna biru hanya cocok untuk laut dan langit saja, batin Sasuke menggelengkan kepalanga kuat-kuat untuk menghilangkan bayangan pohon berwarna biru.
"Sas, kelihatannya kita harus mulai berjalan." Itachi menghentikan sepedahnya dengan tatapan yang masih mengarah ke depan. Mendengar perkataan Itachi itu, Sasuke mengarahkan wajahnya kearah yang sama, kini terlihat sebuah bukit yang agak curam dengan beberapa semak yang mengering di sekeliling jalan setapak yang kelihatannya hanya bisa dilalui oleh satu orang. Dilihat dari jalannya itu, tentu saja akan sangat susah menaikinya dengan sepedah. Terutama bila mengangut beban seperti dirinya ini.
.
:: Natsuki no Fuyu-hime ::
.
"Ck, ingatkan aku kenapa kita harus melakukan ini." geram Sasuke mengusap keringat yang ada di dahinya. Merasa tidak ada gunanya kembali, Sasuke hanya bisa mengomel dalam hati ketika lagi-lagi semak belukar menggores lengannya. Walau tidak sakit, namun rasa perih itu tetap ada. Berbeda dengan Itachi yang kelihatannya baik-baik saja karena mengenakan kemeja berlengan panjang.
"Berhenti mengomel, kita sudah de- ULAR!" jerit Itachi heboh sendiri ketika melihat seekor ular derik tengah berjemur di bawah teriknya matahari dengan melingkarkan tubuhnya membentuk lingkaran di tengah jalan setapak. Sedangkan si ular sendiri hanya mengangkat kepalanya dan menjulur-julurkan lidahnya yang bercabang dua itu dengan suara derik ekornya yang berisik.
Bohong kalau Sasuke bilang dirinya tidak takut. Ular derik terkenal sangat mematikan, sekali kena gigitannya bisa dipastikan akan mengantarkan mereka pada pintu gerbang kematian yang berdaulat, adil, dan tidak makmur. Masa iya mereka mati hanya karena digigit ular? Tidak elite banget, batin Sasuke error.
"Sas, Sas, lakukan sesuatu!" lirih Itachi menjadikan Sasuke tameng seakan ia membiarkan si ular derik menggigit Sasuke duluan. Merasa wilayahnya telah dimasuki oleh orang yang sangat berisik, akhirnya si ular memutuskan untuk meninggalkan tempatnya itu, mengalah. Padahal PW banget, pikir si ular gondok.
Melihat ular derik itu sudah meninggalakan tempatnya. Itachipun keluar dari balik tubuh adiknya. Demi celana pendek Mr. Crab, Itachi sangat takut pada ular. Ya, ia takut pada makhluk satu itu karena dulu dirinya pernah di gigir oleh ular hijau. Untungnya ia cepat ditangani sehingga ia masih bisa hidup di dunia ini walau Sasuke sangat menyayangi hal itu. Setidaknya bila Itachi mati, kamar Itachi akan menjadi miliknya, kira-kira seperti itu pikir Sasuke kala itu.
"Ularnya sudah pergi." Sasuke berkata acuh dan melanjutkan perjalanan mereka.
"Kuso, kenapa ada orang yang mau tinggal di tempat seperti ini?" tanya Itachi agak merendahkan suaranya ketika mereka sudah tiba di depan pondok Tsunade. Sebuah pondok yang menempel pada sebuah batu yang sangat besar itu, tampak mengkilat karena tertimpa cahaya matahari. Berbeda dengan keadaan di jalan setapak yang penuh dengan semak kering, di area pondok Tsunade tampak sangat hijau. Kebun yang tidak terlalu luas itu di penuhi dengan tanaman tropis dan beberapa sayuran seperti wortel dan kentang.
Pintu pondok Tsunade tertutup. Mungkin sang tuan rumah tengah tidak ada di tempat atau mungkin juga tengah keluar rumah untuk membeli sesuatu. Panas matahari yang telah meninggi tampaknya tidak memperbaiki keadaan mereka yang kelelahan menaiki bukit. Pantas saja Tsunade selalu terlihat muda, kalau setiap hari ia harus berolah raga sekeras itu untuk tiba di pondoknya, pikir Sasuke. Teriknya cuaca membuat tenggorokan Sasuke kering, ketika hendak bertanya langkah selanjutnya yang mereka ambil pada Itachi, tampaklah kakaknya itu sudah kenyap entah kemana.
Mendengus keras ketika Sasuke tahu bahwa kakaknya telah meninggalkannya. Tiba-tiba saja, cahaya matahari yang terik di atasnya meredup karena diblokir oleh sesuatu. Ketika Sasuke mendongakakan kepalanya ke arah matahari itu, ia melihat Tsunade dengan pakaian berwarna coklat tanahnya tengah berdiri di diatas bagian bukit yang lebih tinggi sambil membawa sebuah ember.
"Apa yang kau lakukan disini nak?" tanya Tsunade menghampiri Sasuke dengan suaranya yang rendah seperti deru ombak yang menerjang batu karang.
"Pertanyaan yang sama berlaku untukmu Tsuande-sama?"
"Aa, aku tengah mencari madu di pinggir goa yang ada di sana. Apa kau kemari dengan Itachi?"
"Iya, tadinya. Tapi sekarang entah kemana perginya." Sasuke menjawab dengan suara yang nyaris menyerupai bisikkan namun masih dapat didengar oleh Tsunade. Merasa suhu di luar ruang semakin panas, Tsunadepun mengajak Sasuke untuk memasuki pondoknya.
Namun nampaknya Sasuke enggan untuk memasuki pondok itu. Pondok yang terlihat agak besar itu memiliki aura yang tidak mengenakan bagi Sasuke. Terlalu mencengkam, terlalu pekat, seakan tekanan dari segala arah mengarah kepadanya. Ia merasa terjepit hanya karena melihat pondok itu.
Pluk
"Apa yang kau lakukan? Ayo masuk!" ajak Itachi dari arah sampingnya sambil menepuk pundak sebelah kanan Sasuke. Sedikit menaikan alisnya, jelas sekali Sasuke bingung dari mana saja kakaknya itu dan sejak kapan ada disampingnya. "Aku tadi baru dari pancuran disebelah pondok ini." jelas Itachi ketika melihat tatapan Sasuke.
"Pancuran? Darimana kau tahu?"
Itachi menatap Sasuke dengan dahi berkerut, tampak berfikir dan semenit kemudian ia tampak menepuk dahinya merutuki keteledorannya. "Apa aku lupa mengatakan bahwa aku pernah kesini dengan Tou-san sebelumnya?" Sasuke mengangguk. "Dulu aku pernah kesini dengan Tou-san, dan Tou-san lah yang memberi tahukanku bahwa diamping kiri pondok ini ada pancuran untuk minum. Karena aku sudah haus sekali, jadi aku tinggal deh. Hehehe." Lanjut Itachi cengengesan.
"Kalian tidak mau masuk?" suara Tsunade terdengar dari arah pondok. Tanpa banyak bicara, Itachi pun mengikuti langkah Tsunade memasuki pondok dan memberi kode agar Sasuke juga ikut masuk.
Sempit, pikir Sasuke untuk pertama kalinya ketika memasuki pondok yang dari luar terlihat sangat besar itu. Mengapa bisa pondok sebesar itu mempunyai ruangan yang begini sempitnya? Atau itu hanya perasaannya saja? Batin Sasuke bingung. Di tengah-tengah ruangan ada sebuah meja berbentuk lingkaran dengan diameter 1 meter, diatas meja itu ada sesuatu yang di tutup dengan tudung saji dan sebuah teko teh yang sudah usang. Sedangkan di bagian pojok kanan ruangan kelihatannya ada sebuah dapur kecil.
"Duduklah nak!" kata Tsunade membuyarkan lamunan Sasuke yang sejak tadi tidak beranjak dari pintu pondok. Setelah melihat Sasuke duduk di sebelah Itachi, Tsunadepun menuangkan teh untuk Sasuke. "Jadi apa yang ingin kalian tanyakan tentang dongeng itu?"
Apakah Sasuke sudah bercerita mengenai keahlian meramal Tsunade? Kelihatannya hal itu sedang berlaku pada mereka berdua. Tsunade hanya menatap mereka, ketika tidak ada satupun dari Sasuke atau Itachi yang membenarkan perkataan Tsunade. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, atau yang lebih tepatnya Sasuke tengah berperang dengan pikiran dan batinnya.
'Sempit, sesak, bukan begitu, Sasuke?'
'Ingo jauh lebih luas, Kau harus ke Ingo. Sasuke.'
'Di Ingo kau bisa bersenang-senang selamanya, kau harus ke Ingo SEKARANG!'
"Jadi menurutmu itu benar-benar terjadi?" suara Itachi memacah keheningan, mengembalikan kesadaran Sasuke ke kenyataan. Dengan gerakan perlahan Sasuke meminum tehnya membiarkan Itachi yang berbicara, menghiraukan keringat dingin yang menetes pada dahinya entah sejak kapan. Mungkin sejak ia merasa pondok Tsunade itu sangat sempit baginya.
"Sasuke, kau baik-baik saja?" tanya Tsunade tidak menjawab pertanyaan Itachi.
.
Berenang, gadis itu terus berenang melewati bebatuan karang yang menjulang tinggi hingga mencapai permukaan laut. Sebisa mungkin menghindari lubang-lubang yang merupakan sarang belut pada batu karang tersebut, agar tak mengigit jari tangan atau kakinya hingga putus. Melawan arus laut yang semakin menjadi karena sesuatu yang paling ditakutkan telah bangkit, mengamuk untuk meminta kebebasannya. Meraba permukaan sebuah karang yang memiliki ukuran paling besar diantara yang lainnya, Naruto memasuki lubang besar yang ditutupi dengan gangang laut yang lebat itu dalam diamnya. Suara gemuruh orang yang tengah berdebat dapat ia dengar ketika memasuki bagian dalam karang besar itu, terdapat banyak tempat duduk yang terbuat dari batu yang sudah dipenuhi kaum Mer lainnya yang tengah berdebat entah apa. Yang menjadi bagian depan ruangan itu terdapat sebuah batu besar berwarna biru seperti permata.
"Akhirnya kau datang juga fidèle disciple Jiraya." Kata seseorang kaum Mer berbadan tambun menatap dirinya tajam, "Kau muridnya, atau mungkin lebih. Kau pengikutnya. Biarpun kau bukan anak kandungnya, tapi kau adalah penerus Jiraya kelak. Apakah aku salah?" lanjutnya dengan suara yang berdesis berbahaya.
Berenang mendekati orang itu, Naruto menyentu batu berwarna biru bagaikan permata yang dilihatnya pertama kali sebelum berkata, "Tobirama-san, dari perkataanmu itu, tidak ada yang salah. Aku memang fidèle disciple Jiraya-sama, dan akan menjadi penerusnya kelak." Sedikit menghela nafas, Naruto kembali berkata, "Tapi aku yakin bukan hal itu yang akan di bincangkan sekarang bukan?"
Tobirama terdiam sejenak dan menyentuh batu yang sama seperti Naruto sentuh diawal sebelum berkata, "Fidèle discipleI Jiraya, kau memang sangat mirip denganya." Menjeda perkataannya Tobirama membalikan tubuhnya untuk menghadap kepada para bangsa Mer yang sejak tadi hanya mengamati pembicaraan mereka berdua dalam diam. "Bangsa Mer sekalian, seperti yang kita ketahui, Kraken telah bangkit!" kata Tobirama mengundang gumaman ketakutan serta kecemasan dari bangsa Mer.
Memutar matanya bosan, seorang pemuda berambut oranye kemerahan bangkit dari tempat duduknya dan berenang mendekati Naruto, lalu menyentuh batu yang sama seperti Naruto dan Tobirama sebelum berbicara. "Tenanglah bangsa Mer, Kraken memang telah bangkit. Tapi pasti ada cara untuk menidurkannya kembali seperti 100 tahun yang lalu." kata pemuda itu menatap Naruto, dan dibalas dengan anggukan kepala dari Naruto pertanda ia harus melanjutkan perkataannya. "Aku dan adik-adikku, telah menemukan seseorang yang mungkin bisa membantu kita. Seseorang seperti Madara."
"Madara? Maksudmu orang yang menidurkan Kraken 100 tahun lalu?" tanya Tobirama sedikit tersentak mendengar perkataan pemuda bersurai oranye itu dengan tatapan tak percaya.
"Hm, aku dan adik-adikku menemukan generasi Madara. Keturunan langsung dari orang itu, hanya saja," katanya sedikit tidak yakin, menatap Naruto kembali dan mendapatkan anggukan kepala mantap seakan memberi sedikit semangat untuknya berbicara. "Hanya saja dia adalah seorang Mélange Du Sang."
.
"Kau yakin kau baik-baik saja, nak?" tanya Tsunade khawatir melihat Sasuke yang berkeringa sebanyak itu, seakan dia dipanggang di dalam ovel selama berjam-jam. Sedangkan Itachi yang disebelahnya hanya menatap bingung pada Sasuke, apakah pondok Tsunade sepanas itu? pikirnya.
"Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja," ragu melanjutkan perkataannya Sasuke lebih memilih diam dan menundukan kepalanya dalam, seakan lantai marmer pondok Tsunade itu lebih menarik dari pada pembicaraan mereka.
"Kau merasa ruangan ini sempit bukan? Sesak selama ada di pondokku, bukan begitu Sasuke?"
Tidak perlu terkejut lagi, bukankah Sasuke sudah pernah mengatakan bahwa wanita entah berusia berapa tahun didepannya ini bisa meramal masa depan dan masa lalu? Jadi bukan hal yang wow lagi kalau wanita itu sudah mengetahui hal-hal yang akan terjadi kedepannya nanti. Itachi yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menjadi penonton melihat tingkah Tsunade dan Sasuke yang seperti saling menyembunyikan sesuatu.
"Hah, harusnya aku tidak menyembunyikan hal ini lebih lama." Gumam Tsunade dapat didengar oleh baik oleh Itachi yang duduk tepat dihadapan Tsunade. Mengkerutkan keningnya, Itachi hendak membuka mulunya bertanya sebelum sebuah suara mendahului niatnya.
"Apa maksudmu, Tsunade-sama?"
"Seperti Fugaku, kalian mempunyai unsur yang mengikat kalian." Mulai Tsuade menatap Itachi dan Sasuke bergantian, menghembuskan nafas seakan tengah memikirkan sesuatu yang sangat berat Tsunade kembali berkata sambil menatap Sasuke lurus pada mata onyx nya, "Unsur Ingo pada Sasuke lebih kuat dari pada unsur tanahnya. Singkatnya kau memiliki darah Mer."
"Tunggu! Kau mengetahui Mer? Maksudku bangsa Mer?" potong Itachi cepat menatap Tsunade dengan pandangan menyelidik. "Lalu, kalau Sasuke mempunyai unsur Ingo didalam dirinya, apakah aku juga memilikinya? Aku kakaknya bukan?" lanjutnya dengan nada antusias.
Menggelengkan kepalanya, Tsunade berkata dengan suaranya yang rendah nyaris seperti sebuah bisikan, "Tidak! Unsur tanahmu lebih dominan dari pada Ingo, sama seperti Kushina. Tapi kau tetap memiliki darah Mer." Mengambil sepotong kue di bawah tudung saji dan meletakannya ke atas piring kedua orang dihadapannya itu, Tsunade kembali membuka mulutnya. "Tolong ambilkan toples madu dibelakangmu Sasuke."
Menurut, Sasuke membalikan tubuhnya dan melihat toples dengan madu yang mengisi setengahnya di atas meja yang berada dibelakangnya. Ragu, Sasuke berdiri dan mengambil toples itu. dan perasaan itu kembali hadir, perasaan yang terasa seperti paru-parunya di genggam tangan besi membuatnya sesak. Lagi, ia merasa bahwa dinding di ruangan itu seakan menghimpitnya tidak memberikan ruang untuk bergerak sedikitpun, ia inggin berteriak sekeras mungkin namun ia tahan hingga duduk kembali ketempatnya memberikan toples berisi madu pada Tsunade.
Melihat wajah tertekan Sasuke, Tsunade memberika segelas air putih yang sebelumnya ia beri sedikit garam. Sasuke hanya memandang gelas pemberian Tsunade dengan kening berkerut sama halnya dengan Itachi, "Minumlah, paling tidak kau tidak akan tertekan selama berada di pondokku."
Dengan perasaan ragu Sasuke meminum air yang berisi garam itu. Awalnya hanya seteguk, dan ia merasakan sensai yang sangat menyegarkan. Bahkan tadi ketika ia kehausan, teh yang diberikan Tsunade tidak bisa menyegarkan dahaganya, dan dengan rakus ia meminur air pada gelas bening itu hingga kandas tak tersisa.
"Kelihatannya unsur Ingomu sudah mulai kelihatan." Gumam Tsunade melihat Sasuke yang menghabiskan air garam itu dengan rakusnya. Mengalihkan pandangannya ia mencoba untuk berbicara dengan Itachi, "Unsur tanahmu sangat kuat, kelihatannya kau bisa mengantikanku kelak."
"Emm, nyonya Tsunade. Sebenarnya kenapa kau mengatakan bahwa kami mempunyai unsur Ingo dan tanah?" tanya Itachi menatap Tsunade penuh tanya.
"Itu karena kalian adalah Mélange Du Sang." Jawab Tsunade tersenyum kecil.
"Mél- apa tadi?"
"Mélange Du Sang maksudmu darah campuran?" sela Sasuke dengan pandangan kosong seakan tengah menerawang sesuatu, sedangkan Tsunade makin melebarkan senyumnya sambil mengangkat bahu acuh. Berpura-pura misterius walau Sasuke sudah mengetahui artinya, itu bahasa Mer. Sasuke juga tidak mengerti mengapa ia bisa mengetahui artinya, padahal ia hanya pernah belajar beberapa kosa kata saja dengan Naruto. Mungkin unsur Ingonya sudah muncul, biar bagaimanapun juga darah Mer mengalir pada darahnya, pikir Sasuke agak senang.
"Kau mengetahui artinya?" tanya Itachi menatap Sasuke yang hanya dibalas dengan anggukan kepala dari Sasuke. "Jangan bercanda Sasuke, kau tahukan darah tidak bisa dicampur!" lanjutnya agak melotot menatap adik satu-satunya itu.
Plak
Kenapa disaat-saat tertentu Itachi bisa se-baka ini? batin Sasuke menepuk dahinya hingga meninggalkan bekas merah pada dahi mulusnya itu. Sedangkan Tsunade hanya terkekeh pelan mendengar perkataan Itachi. Ow, ia sungguh tidak pernah menyaka bahwa pikiran Itachi bisa selucu itu.
"Haha, nanti kau akan tahu maksudnya Itachi." kata Tsunade berdiri dari tempatnya duduk dan menuju pintu pondok yang menghubungkan ke dunia luar, "Ayo ikut aku. Akan aku tunjukan sesuatu yang keren."
Sasuke dan Itachi saling pandang ketika melihat Tsunade keluar dari pondoknya. Mengobrol lewat mata walau akhirnya mereka malah bingung sendiri. Malas bertatapan mata yang menurutnya tak penting, Sasuke bangkit dari tempatnya duduk, setidaknya lihat sisi positifnya. Ia bisa keluar dari tempat sempit dan sesak seperti pondok Tsunade ini. Memikirkannya saja sudah membuat sudut bibir Sasuke terangkat beberapa centi, tersenyum senang seakan ia telah dipenjara selama bertahun-tahun. Asik dengan pikirannya sendiri, Sasuke tidak menyadari bahwa Itachi telah meninggalkannya.
"Hoi, mau sampai kapan kau berdiri dan tersenyum seperti orang stress disitu?" Itachi menatapnya dari depan pintu pondok dengan pandangan bosan, menyentakan Sasuke dari pikirannya yang kacau. "Cepatlah, kasihan nyonya Tsunade menunggu!" lanjutnya berjalan meninggalakan pintu pondok.
Mendengus akan sikap semena-mena kakaknya itu, Sasuke akhirnya mengikuti arah perginya Tsunade dibelakang Itachi mengingat jalan yang ditempuh oleh mereka bertiga adalah jalan setapak. Sama seperti jalan yang mereka lalui untuk mencapai rumah Tsunade, jalan setapak itu juga penuh dengan semak belukar yang kering akibat panasnya terik matahari dipertengahan musim panas ini dan jangan lupa jeritan-jeritan histeris Itachi ketika melihat ular-ular derik yang sedang berjemur. Setelah sesi jejeritan yang hampir membuat telinga Sasuke berdenging keras, mereka tiba disebuah mulut goa yang sangat luas. Ditengah-tengah mulut goa ada sesuatu berbentuk kotak, tidak ada lima kotak yang berjejer rapi di mulut goa itu.
"Untuk apa kita kemari nyonya Tsunade?"
"Itachi, coba kau bicara dengan lebah-lebah itu." suruh Tsunade menatap lurus pada kotak-kotak itu, tidak menunjuk, hanya menatapnya.
"Untuk apa kau menyuruh Aniki bicara dengan lebah itu?" Sasuke menunjuk kotak yang merupakan sarang lebah itu, dan sedetik kemudian lebah-lebah yang tadinya tenang mulai berdengug marah dan terbang berputar-putar diatas mulut goa itu, sesekali ada yang terbang mengarah Sasuke namun terhempas seakan Sasuke memiliki sebuah pelindung disekitar tubuhnya.
"Jangan menunjuk mereka seperti itu," desisi Tsunade tidak senang dengan perbuatan Sasuke. Melangkahkan kakinya ia mengisyaratkan Itachi agar datang mengikutinya mendekati sarang lebah. "Mereka tidak suka di tunjuk, itu sama saja merendahkan hasil kerja keras mereka. Mereka tersinggung." Lanjutnya entah berkata pada Sasuke atau Itachi, atau mungkin kepada keduanya.
Semenit, lima menit, terlewati dengan cepat. Dari sudut matanya, Sasuke melihat Itachi masih bercakap-cakap dengan lebah dalam kotak itu. Tsunade masih disamping Itachi sesekali nampak ikut dalam pembicaraan Itachi dan para lebah, entahlah ia tak yakin apakah lebah-lebah itu bisa diajak berkomunikasi karena sejak tadi Sasuke hanya mendengar suara gemuruh kepakan sayap para lebah, sangat berisik. Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya Itachi mengehentikan percakapan itu dan menghampiri Sasuke dengan wajah yang cerah.
"Apa yang kau bicarakan dengan lebah-lebah itu?" mulai Sasuke menatap para lebah dan Tsunade yang masih mengobrol.
"Ternyata mereka sangat menyenangkan," jawab Itachi tidak nyambung setelahnya menatap Sasuke dengan bola mata yang berbinar. "Kau tahu-"
"Tidak aku tidak tahu apapun." Potong Sasuke cepat dengan tampang bosannya.
"Ck, kau ini." decak Itachi kesal akan kelakuan Sasuke, "Kau tahu, mereka bisa meramal nasib masa depan!" lanjutnya melupakan kekesalannya pada Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya mengangkat sebelah alis matanya tampak tak tertarik sediktpun. Kalau mereka bisa meramal apa hebatnya? Bukankah Tsunade juga bisa melakukannya, pikir Sasuke sinis.
"Tadi aku bertanya kepada mereka mengenai Tou-san," kata Itachi menjeda perkataannya ingin melihat reaksi dari Sasuke. Dan benar saja,mendengar kata Tou-san tak ayal membuat Sasuke menatap Itachi dengan raut wajah penasaran. "Mereka bilang ada kemungkinan Tou-san berada di Ingo mengingat unsur domianan Tou-san adalah Ingo."
.
.
TBC
.
A/N : Hwaaa, chap 3 selesai. Apa ini termasuk update kilat? #Gampared
Natsu hanya ingin membuat jalan cerita yang berbeda. Jadi agak susah untuk mencari alur cerita agar nyambung, tidak membosankan, dan menoton. Natsu hanya ingin membuat sesuatu yang susah ditebak, berbeda dari cerita yang lain. Tapi, kelihatannya Natsu kurang berbakat deh. Hiks.. hiks.. sedihnya. Dan kelihatannya Natsu akan lama update karena sekolah sebentar lagi akan dimulai. Yey, sekolah baru, seragam baru, kakak OSIS baru *q* #Ditendang.
Kira-kira seragam Natsu sudah selesai dijahit belum ya? #CurCol
Tapi sebelumnya Natsu akan membalas review yang Natsu dapat, jadi tanpa berbasa-basa lagi yuk mari,
.
Uzumaki Prince Dobe-Nii : Iya, darah campuran dalam fic Natsu ini maksudnya mempunyai semacam unsur atau elemen. Tapi disini hanya ada dua macam unsur, tanah dan Ingo (Laut). Sasuke manusia seutuhnya kok, cuma unsurnya saja yang kecampur. MinaKushi? Yup, mereka bukan ortu Naru, biar beda gitu ceritanya #Plak. Terima kasih atas review nya, ini sudah lanjut semoga suka ya.
margareta310 : Terima kasih atas reveiw nya. Ini sudah lanjut, semoga suka ya.
Indah605 : Yup, kakak beradik itu memang darah campuran. Di fic Natsu ini, Kushina itu memang ibu kandung Uchiha bersaudara kok. Mengenai Mikoto, ia punya peran sendiri tapi masih jadi rahasia. Tunggu saja penjelasan di chap berikutnya. Terima kasih sudah mereview dan semangatnya, ini lanjutannya semoga suka ya.
hanazawa kay : Sama-sama, ini lanjutannya semoga suka ya.
SNlop : Hehehe iya-ya, jujur setelah baca review SNlop, Natsu langsung mikir apa ya bedanya isi batin dengan isi pikiran? Wong, sama-sama kata yang tidak diucapkan kok #Plak. Tapi marilah kita menganggap, bahwa isi batin itu berasal dari hati yang paling dalam dan isi pikiran itu dari kepala, biar ada perbedaannya gitu #Gampared. Terima kasih sudah mereview , ini sudah lanjut semoga suka ya.
Riv : Benarkah? Kalau My Girlfriend is a Gumiho sih, Natsu tahu. Tapi kalau Grimm, Natsu kurang tahu #Cengengesan. Maaf Mimato itu maksudnya Minato atau Mikoto? Kalau Kushina bukan bangsa Mer, dia bahkan tidak tahu apapun mengenai laut dan Tsunade juga bukan bangsa Mer. Tsunade adalah penjaga, nanti ada ceritanya dia menjadi penjaga apa tunggu saja di chap berikutnya. Ya, bagi Naruto ciuman itu hanya ritual beda dengan ciuman tanda kasih sayang (baca: cinta), jadi tentu saja ia juga pernah ciuman(ritual) dengan orang lain, tapi orang itu masih jadi rahasia, Riv mau menebak mungkin #Plak.
Mengenai Kushian bekerja di Pub itu, Natsu pernah baca sebuah artikel mengenai Pub di Inggris. Mereka hanya menyediakan minuman beralkohol, non-alkohol dan beberapa makanan. Setiap musim pertandingan bola dunia, mereka bisanya memasang layar lebar untuk menonton bola. Pokoknya kesannya seperti cafe tapi dengan pengunjung berusia 18 tahun ke atas. Kebanyakan pub ramah, tempat yang aman tetapi minoritas bisa gaduh. Tempat yang cocok untuk janda seperti Kushina untuk bekerja bukan? #DilemparWajan
.
.
Ok itu saja, Arigatou gozaimasu untuk teman-teman yang sudah mau membaca, Reviews, Favs, Follows, atau hanya sekedar mampir. Review?
Next Chapter : Gelombang Besar
