INGO By Natsuki no Fuyu-hime
Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Hurt/Comfort . Mystery . Adventure
Pairing : SasuFem!Naru . ItaFem!Kyuu
Warning :: Gaje, OOC, EYD berantakan, alur kecepatan tinggi dan emang disengaja, ancur tingkat dewa, susah dimengerti, jelek, TYPO, FemNaru, FemKyuu, aneh, judul tak sesuai dengan isi cerita, de el el. Apa bila tidak berkenan dihati silahkan KELUAR dari fic ini terimakasih.
Summary :: Banjir dahsyat telah menerjang kota pinggir laut, Konoha. Simpul ombak terlepas, Naruto keluar dari teluk untuk mencari bantuan. Dan jauh di dasar laut, sesosok monster menggeliat bangun dari tidurnya. Menurut legenda bangsa Mer, hanya darah campuran yang bisa menyelamatkan mereka. Keselamatan Ingo tergantung pada Sasuke! / Buih nafas terakhirnya lolos begitu saja dari bibirnya dan mengambang kepermukaan sebelum kesadarannya menghilang.
.
.
~o~o~ Gelombang Besar ~o~o~
.
Sudah lewat dari tujuh hari setelah kejadian Itachi berbicara dengan lebah, Sasuke sama sekali tidak ada ke teluk karena larangan Itachi. Entahlah, namun yang pasti Itachi takut terjadi apa-apa pada adiknya itu. Instingnya mengatakan akan ada hal yang buruk akan datang beberapa waktu lagi, dan sejauh ini instingnya tidak pernah salah, jadi sebisa mungkin Itachi menjauhkan Sasuke dari teluk atau yang lebih tepatnya lautan, Ingo. Dan selama itu juga Itachi memutuskan untuk tidur dikamar adiknya dengan alasan kamarnya berantakan dan ia mulai tidak nyaman, menghiraukan teriakan Sasuke yang protes menyuruhnya membersihkan kamarnya sendiri.
Seperti malam ini, lagi-lagi pekikan frustasi Sasuke terdengar untuk sekian kalinya dari arah kamar pemuda itu.
"Menjauhlah dari tempat tidurku Chi!" bentak Sasuke melihat Itachi yang dengan seenak perutnya tidur tengkurap diatas tempat tidur dengan bedcover berwarna crem pucat yang dapat diketahui sebagai tempat tidur milik Uchiha Sasuke. Namun respon Itachi sangatlah tidak memuaskan Sasuke, Itachi hanya meliriknya sekilas sebelum detik selanjutnya ia membaca buku yang ia letakan didekat bantal. Sial apa maunya orang ini? pikir Sasuke menggeram marah.
"Oh, ayolah Sasuke." Mulai Itachi, tidak tega juga ia melihat adiknya yang sefrustasi itu meski ia tahu bahwa sumber frustasi Sasuke berasal dari dirinya. Mendudukkan dirinya diatas tempat tidur milik Sasuke, Itachi menatap Sasuke dengan tatapan memelas yang sangat dibuat-buat. "Bukankah aku sudah mengatakannya? Kamarku berantakan, dan aku tidak nyaman tidur disana. Jadi biarkan kakak mu yang tampan ini tidur disini ya?!"
Ok, Sasuke tahu perkataan Itachi itu sudah termasuk pemaksaan. Lihat saja tanda seru yang bersarang pada perkataan orang itu yang tidak disembunyikan sedikitpun, ingin rasanya ia melempar kakaknya itu ke kawah gunung merapi seperti berita yang sedang heboh baru-baru ini atau mungkin ke lautan segitiga bermuda. Tapi ngomong-ngomong tentang laut, sudah berapa lama ia tidak pernah mengunjungi Ingo? Ia merindukan warna lautan yang sangat biru, ia merindukan rasa asin air laut ketika tidak sengaja masuk ke dalam mulutnya, ia bahkan merindukan keseruan bermain arus dengan Naruto. Apakah gadis itu merindukannya?
Mengenyahkan pikiran itu sejenak, Sasuke menatap Itachi kembali dengan tatapan terganasnya. "Jujur Chi, kau aneh belakangan ini." katanya. "Sepanjang umurku mengenalmu, kau tidak pernah sedikitpun mengeluh tentang kamarmu yang berantakan seperti habis diterjang badai itu, kupikir kau sudah terbiasa dengan keadaan itu."
Itachi diam saja sebagai respon, seakan meminta Sasuke melanjutkan perkataannya. Mendudukan dirinya pada kursi belajar yang berada didekatnya, Sasuke balas menatap Itachi dengan kilat kebingungan yang tidak terlalu kentara. "Apa yang kau sembunyikan dariku?"
Setelah tiga puluh detik terlewati dengan diamnya Itachi. Itachi akhirnya menyerah. "Aku hanya merasa akan ada hal buruk yang datang." Katanya sediki gelisah seperti saat pertama kalinya Sasuke bertanya tenang Ingo, ketika adik kecilnya itu mengetahui rahasia yang ia simpan.
"Kau mengetahuinya dari mana Chi?"
"Insting." Singkat, padat, dan sangat mengundang tanda tanya dari Sasuke. Menghela nafas seakan mengatakan Sasuke adalah orang teridiot di dunia karena tidak percaya, Itachi menatap Sasuke balik. "Kau tahukan instingku tidak pernah salah, seperti insting ikan lele yang dapat meprediksikan gempa. Kau mengerti maksudku bukan?"
Menggelangkan kepalanya singkat, Sasuke hanya bisa menghembuskan nafasnya menatap Itachi. "Lalu, hal buruk apa yang akan terjadi?" menjeda perkataannya Sasuke membenarkan posisi duduknya yang mulai tidak nyaman. "Apa banjir akan menghantam rumah kita? Apa Naruto akan keluar dari teluk dan berenang ke arah kita?" tantang Sasuke dengan senyum miring terpangpang diwajahnya.
"..."
Lagi-lagi Itachi diam tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Sedangkan Sasuke tetap menatap Itachi yang mulai merebahkan dirinya dengan posisi terlentang dan menatap lurus kearah langit-langit kamar seakan-akan ia bisa membuat sebuah lubang besar disana hanya dengan menatapnya saja. Lima menit berlalu dengan keheningan yang dibuat. Itachi yang tetap menatap langit-langit dan Sasuke yang sabar menanti jawaban Itachi.
"Entahlah," Mulai Itachi masih menatap langit-langit kamar tanpa menatap Sasuke, melirik lewat sudut matanya Itachi tahu bahwa Sasuke sedang menghembuskan nafas kasar –kesal. "Tapi, aku yakin sekali kalau akan ada hal yang buruk." Lanjutnya menganti gaya berbaringnya menjadi menyamping membelakangi Sasuke. "Benar-benar buruk." Lirihnya namun masih bisa didengar Sasuke.
"Sasu, Itachi! Makan malam siap!"
Dan keadaan canggung itu diselamatkan oleh teriakan Kushina dari lantai bawah. Kali ini Minato tidak ikut makan malam bersama karena ia harus berada di pelabuhan untuk melakukan sesuatu tentang penyelamannya, dan Sasuke sama sekali tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya. Selama makan malam itu, Kushina jadi sangat banyak bicara, entahlah atau mungkin itu hanya perasaan Sasuke semata?
'Kau tak ingin ke Ingo?'
Lagi-lagi bisikan dari kepalanya terdengar, bisikan itu semakin jelas ia dengar akhir-akhir ini. bujuk rayu yang menyuruhnya untuk datang ke Ingo. Omongan Kushina yang membicarakan sesuatu di tempat kerjanyapun sama sekali tidak didengarnya. Kembali perasaan sesak seakan-akan tempat yang ia pijak semakin menghimpitnya Sasuke rasakan, perasaan saat ia berada didalam pondok Tsunade. Namun kali ini lebih sesak dan menyakitkan. Dengan keringat dingin yang mengucur di pelipisnya, Sasuke bangkit dari tempatnya duduk dan mengambil segelas air serta garam dari laci dapur.
"Sasu, jangan menaruh garam dalam airmu. Tidak sehat!" Peringat Kushina melihat putranya mencampur air dengan dua atau mungkin empat sendok garam. Bahkan untuk masakanpun tidak memerlukan garam sebanyak itu. Apa yang terjadi pada putranya? Pikir Kushina khawatir.
Sasuke menghiarukan peringatan Kushina dan meminum air garam itu dengan rakus. Seteguk,dua teguk, hingga air dalam gelas bening itu habis tidak tersisa tapi perasaan sesaknya masih belum teratasi. Mengambil air lagi, dan kali ini lebih banyak Sasuke terus mencampurnya dengan garam lalu meminumnya dengan tergesa-gesa. Hingga tiga gelas air garam yang ia minum berhasil mengatasi rasa sesaknya.
"Sasuke, kau kenapa sayang? Jangan minum air garam terlalu banyak tidak sehat." Ujar Kushina lagi mengambil gelas berisi setengah air garam dari tangan Sasuke dan membuangnya ke washtafel. Setelahnya ibu dari Uchiha bersaudara itu menyuruh Sasuke duduk dan melanjutkan makan malamnya kembali.
Keadaan ruang makan menjadi hening seketika. Hanya suara dentingan alat makan saja yang terdengar. Namun tiba-tiba saja lampu gantung yang berada diatas meja makan mereka bergerak-gerak dengan liar, sup yang berada didalam mangkuk bergetar dan sebagaian tumpah keatas taplak meja. Dengan situasi itu mereka bisa menyimpulkan apa yang terjadi, hanya orang bodoh yang tidak menyadari bahwa saat itu tengah terjadi gempa.
"Cepat keluar dari rumah!" suruh Kushina menggiring kedua anaknya untuk keluar rumah. Keadaan diluar sangat heboh, para tetangga yang nampaknya juga sedang makan malam tampak berhamburan keluar rumah dan berdiam dipinggir jalan sambil bertanya-tanya satu dengan yang lain.
"Kelihatannya, insting ikan lelemu benar-benar terjadi Chi." Bisik Sasuke pada kakaknya yang nampak menatap kearah langit selatannya yang menuju kearah pantai, setidaknya itu yang Sasuke pikirkan.
"Bukan Sasuke." Bantah Itachi tanpa menoleh kearah Sasuke. Pandangannya masih mengarah kearah selatan dimana tampak banyak burung camar yang terbang menjauhi arah laut. Walau samar karena pengaruh jarak yang sangat jauh, Itachi dapat melihat awan-awan hitam terbentuk ditengah laut. "Ini baru awalnya." Lanjutnya dengan suara rendah menyerupai bisikan seperti suara Tsunade namun lebih berat.
.
Para petinggi kaum Mer berenang dengan kecepatan penuh menuju sebuah palungan yang sangat dalam ditengah laut, mereka semua melawan arus ikan-ikan bonito dan tuna yang berenang menjauhi palung tersebut. Meski keadaan laut saat itu sangat gelap, namun para petinggi kaum Mer dapat melihat didalam kegelapa dengan bantuan ikan lentera. Mereka berhenti sekitar dua puluh meter dari palung Mariana yang mempunyai kedalaman lebih dari sepuluh ribu meter itu untuk menghindari tersedotnya mereka kedalam pusaran air yang sangat kuat dari palung itu. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi didalam palung itu hingga terjadinya pusaran air.
"Ku-nii, apa yang terjadi?" Naruto berenang mendekati Kurama yang nampak memperhatikan buih-buih pusaran air yang menuju kearah permukaan laut. "Kurama-nii!"
Menoleh ke arah adiknya yang berteriak memanggilnya, Kurama menatap Naruto tajam. "Diam disini, aku harus memastikan sesuatu diatas sana!" perintah mutlak dari Kurama sebelum pemuda bersurai merah itu berenang menuju ke arah permukaan.
"Jangan mengikuti Kurama, Naru!" Kyuubi yang berada dibelakang menarik lengan Naruto ketika gadis itu hendak mengikuti Kurama yang semakin menjauh menuju ke arah permukaan laut. "Dia tahu apa yang ia lakukan."
"Tapi Ku-nii bisa dalam bahaya Kyuu-nee!"
Kurama terus berenang menuju ke arah permukaan, meski ia tahu bahwa Naruto hendak mengikutinya dan tengah menghawatirkannya. Menoleh ke arah palungan, Kurama melihat bahwa pusaran air itu semakin lama semakin membesar dan semakin kuat untuk menarik segalanya. Karang dan beberapa ikan yang berada didekat pusaran dalam radius dua meter tersedot habis. Jika semakin lama seperti ini, semuanya bisa tersedot kedalam pusaran air itu.
"Puah!"
Kurama muncul dipermukaan air laut walau dadanya terasa sesak, panas seakan-akan ada tangan besi yang mencengkram paru-parunya. Menghiraukan rasa sesaknya, Kurama menatap angin puting beliung yang tercipta diatas pusaran air dari palungan. Awan hitam sudah memenuhi langit, ditambah dengan hujan badai serta kilat-kilat yang menyambar. Ini bisa menjadi pertanda buruk.
"Sial, Kraken mengincar simpul ombak." Gumam Kurama memutuskan untuk kembali menyelam memperingati kaum Mer untuk mencari tempat berlindung. Tapi kelihatannya tidak perlu. ketika ia menyelam kembali, ia melihat beberapa petinggi kaum Mer sudah pergi, memperingati kaum Mer yang lain untuk mencari tempat berlindung sementara, sedangkan sisanya tetap di sana mencari cara untuk menghentikan pusaran.
"Naruto, cepat pergi. Peringati semua kaum Mer yang lainnya, dan peringati juga Sasuke serta orang itu." katanya cepat tanpa membiarkan Naruto ataupun Kyuubi bertanya barang sedetikpun. Matanya masih berkilat tajam, ia tahu yang terjadi di dalam palung itu. Tempat itu adalah pusat dari simpul ombak, biasanya hanya mengambil sedikit air laut lalu menyemprotnya dengan kuat menghasilkan ombak-ombak besar atau pun kecil tergantung dengan cuaca. Bila palung itu mengambil begitu banyak air, kemungkinan besar akan terjadi gelombang besar yang mampu melewati berbatasan Ingo. Dan yang paling mungkin terjadi, daratan akan tergenang air. Dengan kata lain banjir.
"Apa? Bagaimana caraku mempringati mereka?" Naruto membantah panik, raut wajahnya sangat jelas memunjukan bahwa ia takut untuk pergi ke daratan dan jauh dari Ingo. "Kau tidak mungkin menyuruhku untuk ke daratankan Ku?!"
Kurama tampak jengah sendiri, ingin sekali rasanya ia memukul kepala adik bungsunya itu dengan kerang yang berada didekatnya ini. Tapi kalau ia lakukan, kecil kemungkinan Kyuubi; kembarannya akan melemparnya ke dalam palung Mariana dan membiarkannya tersedot kedalam palung itu. Menghembuskan nafas kasar, Kurama menatap Naruto serius.
"Dengar-"
Jeritan para petinggi kaum Mer memotong perkataan Kurama. Disana terlihat palung Mariana sudah menghentikan aksi menyedot air secara besar-besaran. Beberapa buih mengambang keatas permukaan sebelum sebuah gelombang besar keluar dari palung. Ombak setinggi lima belas meter terbentuk dipermukaan air laut, menuju lurus tepat kearah daratan. Kurama tahu bahwa sekarang, semua telah terlambat.
"Ubah rencana, kau segera jemput mereka berdua kemari! SEKARANG!"
.
:: INGO ::
.
Matahari bersinar sangat terik hari ini. Sejak gempa kemarin sore, Itachi terus menempel pada Sasuke kemanapun, oke garis bawahi kata kemanapun karena faktanya memang begitu. Ke kamar, dapur, halaman, hingga ke kamar kecil Itachi masih setia mengekori Sasuke layaknya anjing penjaga. Entah apa yang ada didalam pikiran Uchiha sulung itu.
"Itachi bisakah kau meninggalkanku sendiri?" Sasuke mendesis berbahaya. Hei, selalu dibuntuti kakakmu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan bukan? Paling tidak ia butuh yang namanya privacy.
"Eh? Memang kenapa?" Itachi balik bertanya. "Bukankah bagus kalau kakak selalu berada didekat adiknya." Lanjutnya, mengambil potongan kecil lemon cake dan menjejalkannya kedalam mulut. Cake buatan Kushina hari ini sangat enak, walau ada rasa asam dari buah lemon nya.
"Kau mengangguku kau tahu?"
Mengendikan bahunya acuh, Itachi kembali melanjutkan acara makannya dan menganti-ganti saluran chanel yang ada sedang ditayangkan pada televisi di hadapannya yang kebanyakan tengah menyiarkan berita mengenai gempa kemarin. Sasuke yang lelah menghadapi kelakuan Itachipun memutuskan untuk pergi dari ruang keluarga, sebelum berita yang Itachi tonton menarik perhatiannya.
"Dari penjelasan para ahli yang kami dengar, gempa kemarin sangat berpontensi untuk terjadi tsunami susulan. Para nelayan yang kemarin melautpun terancam karena kondisi laut yang sangat menghawatirkan."
Kameramen yang bersama dengan repoter wanita itu menyoroti keadaan tragis para nelayan beserta kapal mereka. Di layar kaca televisi di ruangan itu, Sasuke dapat melihat seorang repoter wanita yang tengah memberitakan tentang keadaan laut hari itu. Dari yang Sasuke lihat, banyak sekali nelayan yang pulang dengan kapal ikan mereka yang mengalami kerusakan parah.
Pik
"Hei! Kenapa kau matikan!" protes Sasuke cukup keras, tidak terima karena tayangan yang sedang ia tonton di matikan tiba-tiba. Ia masih sangat penasaran mengenai kondisi kemarin. Kabarnya ia dengar saking besarnya gempa yang berasal dari tengah laut itu, sebuah toko di kota ada yang hancur rata dengan tanah.
"Kau tidak boleh menonton itu," balas Itachi menatap Sasuke serius. "Kau lebih pantas menonton film seperti, ayah ikan badut yang mencari anaknya ke Sydney dan melawan beberapa ekor hiu. Atau mungkin peri-peri kecil yang bertugas untuk menganti musim di dataran utama."
Ctak
Beberapa pembuluh darah berkumpul di dahi Sasuke setelah mendengar penuturan kakaknya itu. Bolehkah, untuk sekali saja. Bolehkah ia memukul wajah kakaknya yang menyebalkan itu? dan apa-apaan dengan wajah serius itu? Jangan bilang kalau Itachi benar-benar masih menganggapnya bocah. Cih tidak bisa dibiarkan. Dia sudah berusia lima belas tahun, bisakah kakaknya itu berhenti menganggap dirinya anak kecil? Sasuke frustasi sendiri dengan opini-opini yang tidak diketahui kebenarannya.
Kushina memanggil, mengembalikan Sasuke ke alam nyata. Di lihatnya Itachi yang sudah berdiri dan berjalan menuju kearah dapur.
"Itachi, bisa bantu kaa-san." Suara Kushina terdengar untuk pertama kalinya ketika Sasuke memasuki dapur. Beberapa kotak dengan ukuran sedang terlihat tertumpuk di sekita dapur. "Sasuke juga, bantu Itachi membawa barang-barang ini ke gudang ya!"
Menghela nafas pasrah, Sasuke berjalan menuju kotak-kotak itu ada membawanya ke arah gudang. Sebenarnya, gudang itu berbentuk sangat kecil. Dulu, dulu sekali ketika Sasuke masih kecil, Sasuke sering menjadikan gudang ini sebagai tempat bersembunyi dari apapun. Ya, apapun. Dari, Kushina, Itachi, dan teman-temannya. Dan hanya Fugakulah yang tahu bahwa ia sering bersembunyi di gudang ini. Tapi sekarang sudah berbeda, gudang tua itu sudah penuh sesak dengan barang lain sehingga sudah tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi disana.
"Kaa-san, kenapa barang-barangnya dipindahkan ke sana?" pertanyaan Itachi membuyarkan lamunan Sasuke.
"Yah, hanya ingin saja. Gudang itukan kedap air." Kushina menjawab dengan senyum kecil, setelahnya pergi meninggalkan Sasuke dan Itachi yang kebingungan.
"Sudahlah, ayo masuk. Ibu buatkan pai apple lo!"
Ting Tong
Suara bel berbunyi. Setelah meletakan potongan pai apple diatas piring Sasuke dan Itachi, Kushina segera beranjak menuju kearah pintu depan. Suara tawa terdengar dari arah pintu, dan Sasuke yakin suara itu milik si penyelam Minato. Itachi tampak menikmati painya dengan tenang tanpa melirik Sasuke sedikitpun, pikirannya menerawang.
"Hai, anak-anak!" Minato menyapa dengan ramah dan Itachi tersenyum antusias, sedang Sasuke mendengus tidak suka dengan kehadiran pria itu. "Bagaimana hari kalian? Ku dengar dari Kushina kalau kalian sudah jarang pergi ke teluk?" katanya dengan suara khawatir yang kentara.
"Em, entahlah." Itachi membalas cepat. "Lagi pula, hari masih terlalu panas untuk pergi ke teluk. Meski musim panas akan berakhir sebentar lagi." Lanjutnya dan menjejalkan potongan pai terkahir ke dalam mulutnya.
"Oo, begitukah? Padahal aku kira kau atau mungkin Sasuke ada berenang di laut beberapa hari lalu." Minato berkata sambil mengelus dagunya.
Sasuke tersentak kaget, tapi ia tetap diam sambil memakan painya. Sedikitpun tidak berminat untuk ikut menimpali perkataan Minato. Hah, terlalu panas katanya? Jelas-jelas mereka tidak ke teluk karena rasa paranoid Itachi yang mempunyai insting seperti lele itu. Meneguk airnya dengan cepat, Sasuke berdiri dan meninggalkan dapur tanpa mengindahkan panggilan Kushina, ia malas berlama-lama disana dan disisa hari itu Sasuke memutuskan untuk menonton acara yang bahkan sangat dihindarinya agar Minato tidak mengganggunya.
Awalnya ia mengira bahwa Minato akan bertahan beberapa saat saja, tapi perkiraannya salah. Orang itu bertahan di rumahnya hingga sore, dan itu membuat Sasuke tambah kesal ketika Kushina dengan santainya meminta Minato untuk makan malam di rumah mereka.
.
.
Sasuke tidak tahu apa yang terjadi, seingatnya begitu selesai makan malam ia segera beranjak ke kamarnya dan tidur. Tapi yang pasti, begitu ia membuka matanya ia melihat bahwa sekelilingnya terdapat air. Kamarnya tergenang air hingga menyentuh atap dengan beberapa bendanya yang mengapung-apung kesana kemari, dari kaca jendelanya ia jelas melihat air juga mengenangi rumah-rumah tetangganya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Seakan lupa caranya berenang, Sasuke mengapai-gapai air yang menggenanginya menuju ke arah jendela yang masih tertutup. Pikirannya seakan kosong, ia sudah hampir kehabisan nafas sedang jendelanya tidak mau terbuka. Buih nafas terakhirnya lolos begitu saja dari bibirnya dan mengambang kepermukaan sebelum kesadarannya menghilang. Apakah ia akan mati sekarang?
Prang
Suara pecahan kaca terdengar ditelinga Sasuke walau samar. Minato berenang mendekati Sasuke setelah memecahkan kaca jendela dan menghindari pecahan kaca yang ia pukul menggunakan batu. Diraihnya tubuh Sasuke yang lemas karena kehabisan nafas dan segera membawanya keluar melewati jendela.
Puah
"Kau baik-baik saja?" Minato bertanya sambil membawa tubuh Sasuke menuju kearah atap rumah yang tida digenangi air. Disana sudah ada Itachi yang menatap Sasuke khawatir.
"Sasuke!"
"Dia tidak apa-apa," sela Minato cepat. Matanya mematap banjir dihadapannya mencari sosok Kushina walau air sedikit keruh. "Tetap disini. Aku akan mencari ibu kalian." Lanjutnya cepat sebelum menceburkan dirinya kembali kedalam air dan menyelam.
Itachi menatap tempat Minato menghilang. Sedikit tidaknya ia berharap agar Minato selamat dan menemukan ibunya dengan segera, agar ia bisa mengucapkan rasa terima kasihnya pada pria itu yang telah menyelamatkan mereka. Itachi tak habis pikir, kenapa bencana seperti ini selalu datang tiba-tiba? Padahal langit masih gelap, dan sebagian orang telah tertidur. Saat banjir ini terjadi, Itachi, Minato dan Kushina tengah menonton film di ruang tengah dan Sasuke sudah beranjak ke kamarnya.
Sungguh tidak terduga.
"Uhuk, uhuk, Itachi."
Itachi segera memusatkan matanya kearah Sasuke yang kini tengah terbatu-batuk, adiknya itu kelihatannya terlalu banyak menelan air saat tenggelam tadi. Bahkan langit masih sangat gelap dan banjir juga semakin lama semakin meninggi, nyaris menengelamkan atap yang menjadi tempat mereka berlindung. Rasa gelisah mulai melingkupi hati Itachi, selain fakta bahwa Minato dan Kushina belum kembali ke tempat mereka, Itachi takut air banjir ini akan menyeret dirinya dan Sasuke menjauh.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut dengan menepuk-nepuk pelan punggung Sasuke.
"Hm, begitulah." Balas Sasuke lemah. "Chi, sebenarnya apa yang terjadi?" lanjutnya memandang Itachi dengan sorot mata tidak mengerti.
"Entahlah, semua terjadi begitu saja." Balasnya dengan lirih. Manik kelamnya menatap kesegala penjuru, dan berhenti menatap seonggok kayu yang terapung menjauhi mereka. "Apa itu?"
Puah
Tiba-tiba saja sesuatu berwarna pirang muncul. Itachi sudah melebarkan senyumnya, ia menyangka bahwa Minato telah kembali. Tapi perkiraannya salah. Sosok yang keluar dari air itu adalah Naruto. Surai pirang panjangnya terlihat kusut, lebih kusut dari biasanya, wajahnya juga terlihat tegang. Belum sempat ia membuka mulut untuk bertanya, gadis itu sudah menyerobot duluan. Berdiri diatas atap walau kakinya masih tergenang air.
"Akhirnya aku menemukan kalian." Ujarnya menghela nafas lega. Berenang keluar teluk meskipun dalam keadaan banjir tidak serta merta membuatnya nyaman, terlalu banyak penghalang. Seperti rumah-rumah, dan pepohonan yang hampir ditabraknya tadi. "Ayo cepat, Ingo membutuhkan bantuan kalian!" lanjutnya sebelum kembali menyelam meninggalkan Itachi dan Sasuke yang saling pandang kebingungan.
.
.
Keadaan kota Konoha yang terendam banjir terlihat buruk. Beberapa ikan yang ikut terseret dari lautan lepas tampak berenang kesana kemari menghindari rumah-rumah dan pepohonan. Satu hal yang telintas dipikiran Sasuke, kota Konoha sudah seperti kota Atlantis yang hilang. Benar-benar suram.
Naruto gadis pirang itu masih berenang melawan arus dengan Itachi yang memeluk lengannya. Biar bagaimanapun, unsur Tanah Itachi lebih dominan dibandingkan dengan unsur Ingonya. Walaupun ia masih bisa bernafas di dalam Ingo, ia tetap harus berdekatan dengan salah seorang kaum Mer agar ia bisa bernafas dengan baik. Tidak seperti Sasuke yang sejak terakhir kali ke Ingo sudah bisa berenang sesuka hati.
"Naruto, apa yang sebenarnya terjadi?" Itachi bertanya untuk yang kesekian kalinya.
Tapi lagi-lagi Naruto masih tidak menjawab, melirikpun tidak. Sejak tadi pula Sasuke sudah berusaha untuk mengintip isi pikiran Naruto, tapi gadis itu membentengi pikirannya dengan tembok besar yang sangat susah untuk ditembus. Mereka melewati beberapa mobil yang mengambang ke arah mereka sebelum akhirnya berenang diatas jalan setapak menuju teluk.
Penyu hijau berenang melewati mereka, Sasuke dan Itachi bahkan tidak bisa menahan decak kagum mereka ketika melihat dua batu yang bisanya mereka lewati –dicelah batunya itu sudah penuh berisi ikan-ikan dan sinar matahari yang baru terbit menambah nilai lebih untuk keindahnya. Mereka terus berenang melewati batu karang itu dan langsung disambut dengan pasir pantai yang bertebaran dalam air itu, dan untuk pertama kalinya Sasuke merasa takut untuk pergi ke Ingo.
"Simpul Ombak telah terlepas." Ujar Naruto menatap Itachi dan Sasuke bergiliran. "Banjir ini terjadi karena hal itu, kami butuh bantuan kalian. Seseorang yang berada ditengah mengetahui segalanya, itu yang tercantum pada legenda kami." Lanjutnya agak lirih.
"Tunggu, Simpul Ombak? Bisakah kau menjelaskan apa itu?"
"Kalian akan mengerti nanti." Dengan sekali gerak Naruto meraih tangan Sasuke untuk memasuki arus yang sangat kuat yang akan mengantar mereka dengan cepat ke tengah laut. Menghadapi peperangan kasat mata melawan legenda yang paling ditakuti oleh bangsa Mer.
Kraken telah bangkit.
.
.
TBC
.
A/N : Yeah... I know, I know. Chap kali ini menurut Natsu sedikit –sangat pendek. Habis kalau dipaksakan nyelipin beberapa scane yang Natsu pikirkan, kesannya malah jadi dibuat-buat *Cengengesan. Tapi Natsu janji Chap depan akan diperpanjang lagi, itupun kalau masih ada yang mau membacanya #Gampared.
Hari senin kenapa cepat sekali datangnya ya?
Oya, sebelum itu. Natsu mau mengucapkan Happy Birthday Uchiha Sasuke-kun! #telatwoi.
Ok, sekarang Natsu akan membalas review yang Natsu dapat, jadi tanpa berbasa-basa lagi yuk mari,
.
Indah605 : Minato? Tidak, di fic ini Minato hanya penyelam biasa yang tidak mengetahui apapun tentang Mer ataupun Ingo. Pria biasa yang dimusuhi oleh Sasuke tanpa sebab #Plak. Terima kasih atas reviewnya, ini lanjutnannya semoga suka ya.
tanoyuka0307 : Hmmm, bagaimana ya? Natsu masih bingung, nanti Sasuke tinggal di Ingo selamanya atau tidak ya? Karna biar bagaimanapun ia kan sayang ibunya, jadi dia pasti tidak mau meninggalkan Kushina seperti kejadian Fugaku itu. Mungkin tanayuka0307 bisa kasih Natsu saran untuk itu? Tidak, Minato tidak sadar kalau yang dia lihat itu betulan Sasuke. Dia cuma mengira melihat kelompok ikan yang mirip Sasuke. Ini sudah lanjutannya, semoga suka dan terima kasih atas reviewnya.
Uzumaki Prince Dobe-Nii : Terima kasih atas reviewnya. Ini lanjutannya, semoga suka ya.
f3 vaNrydiaz : Ini lanjutannya, semoga suka ya. Tenang saja ini bakal Natsu lanjut terus kok, tapi maaf kalau akan lama updatenya karena kedepannya Natsu akan sibuk di DuTa (Dunia NyaTa). Terima kasih sudah me-review.
.
Ok itu saja, Arigatou gozaimasu untuk teman-teman yang sudah mau membaca, Reviews, Favs, Follows, atau hanya sekedar mampir. Review?
Next Chapter : Ramalan
