Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : THE OMEGA
©LONGLIVE AUTHOR
Chapter 8
Maka keesokan harinya latihan pun dimulai secara rutin. Kini mereka tidak hanya berlatih di dalam ruang simulasi, tapi mereka juga memakai halaman belakang sekolah yang luas, karena Naruto selalu protes kalau dia bosan latihan di ruang simulasi. Akibat dari sesi latihan yang ditingkatkan ini mereka jadi lebih sering bertemu. Setiap pagi kini mereka selau berolah raga bersama mengitari halaman X-Mansion yang luas. Sakura sangat menyukai hal ini tapi dia juga membencinya di saat yang bersamaan.
"Ayo...Sakura !" teriak Sai pada hari ketiga mereka berolah raga bersama. Yang paling semangat adalah Naruto. Dia berlari membabi buta seperti orang yang dikejar polisi. Sedangkan Sakura, dia sangat malas berlari, dia tidak suka berlari.
"Ayolah, semangat Sakura-chan!" Teriak Naruto diputarannya yang ketiga.
"Dia berlari seperti setan!" Ujar Chouji yang sedang asyik makan snack.
"Yeah! Berikan aku itu." Sakura merebut snack milik Chouji.
###
Sesekali Sakura bisa melihat kalau sedang Naruto menantang Sasuke untuk berlomba mengitari X-Mansion, dan dia tak habis pikir kalau Sasuke menerima tantangannya itu.
"Aku pikir Sasuke tidak akan tahan dengan Naruto." Kata Sakura.
"Yang benar saja, mereka itu bersahabat dari kecil. Jangan heran kalau mereka sering bertengkar karena itu cara mereka menunjukan...—mungkin kasih sayang." Jawab Shikamaru malas.
"Ou, persahabatan yang menyilaukan." Balas Sakura.
Untuk beberapa kali latihan Sakura sengaja tidak mengikutinya tapi hanya memperhatikan mereka dari pinggir. Sementara itu Kakashi berada disampingnya untuk menjelaskan semuanya pada Sakura kerena disini Sakura lah yang paling awam dengan kekuatan mereka semua. Jadi Sakura sering berdiri diam bersama Kakashi dan mendengarkan penjelasan ini itu dari Kakashi.
Hari itu mereka semua mengadakan duel satu lawan satu.
"Neji memiliki bola mata yang bernama Byakugan. Mata itu bisa melihat berkilo-kilo meter menembus benda padat dan juga bisa melihat semua jaringan yang ada dalam tubuh manusia, begitu juga dengan Hinata karena mereka memang mempunyai Gen yang sama." Jelas Kakashi ketika mereka sedang memperhatikan Neji sedang bertarung dengan Hinata.
"Tapi dari yang kulihat Neji lebih cekatan daripada Hinata, padahal mereka mempunyai kemampuan yang sama." Komentar Sakura.
"Itu karena Neji mampu mengembangkan kekuatannya dan itulah yang membuatnya lebih hebat daripada Hinata. Selain itu dia adalah petarung jarak dekat dia bisa menghentikan organ-organ vital dengan mudah dalam pertarungan jarak dekat. Kecepatannya tidak bisa dilihat oleh kasat mata."
Setelah itu mereka melihat pertarungan Shikamaru dan Shino.
"Shikamaru mempunyai kemampuan untuk memanipulasi bayangan. Dia juga telah mengembangkan kemampuannya itu dengan sangat baik. IQ nya diatas dua ratus dan dia adalah ahli strategi yang sangat luar biasa. Tapi kelemahannya adalah dia tidak bisa menggunakan kekuatannya jika tidak ada bayangan dan kemampuannya ada batas waktunya. Lalu Shino kemampuannya adalah mengendalikan serangga. Itu bisa sangat mematikan apalagi jika dia bertarung di alam terbuka, dia bisa mengendalikan ratusan ribu serangga. Tapi dia tidak bisa melakukan itu dalam ruang terisolasi tanpa membawa serangga dari luar."
"Baiklah, yang pertama aku tidak akan pernah main catur dengan Shikamaru karena aku pasti akan kalah dan yang kedua aku suka pada kacamata Shino. Itu membuatnya menjadi lebih misterius...ha..ha.." Sakura nyengir dan dibalas oleh tatapan sebal dari Kakashi.
"Oke, bisa kita lanjut." Sakura tersenyum.
Peretarungan selanjutnya adalah pertarungan Rock Lee dan Sai.
"Monter macam apa itu?" Tanya Sakura saat melihat seekor Harimau berkepala tiga muncul begitu saja dia arena pertarungan.
"Itu adalah monster yang dibuat oleh Sai. Dia bisa menghidupkan sebuah gambar dan membuatnya menjadi nyata lalu dia menggunakan gambarannya itu menjadi senjata untuk melawan musuh, tapi kelemahannya adalah dia membutuhkan media untuk membuat gambarnya. Sedangkan Rock Lee dia bisa lebih cepat dari Neji dan siapapun yang ada disini. Dia mampu menahan beban yang berat. Apa kau lihat sepatunya?" Sakura mengangguk " sepatu itu dimodifikasi untuk latihannya. Sepatu itu ditambah sebuah beban yang berat, mungkin beberapa kilogram. Yang pasti kau tidak akan bisa berjalan jika menggunakan sepatu itu. Jadi kau bisa kau bayangkan secepat apa dia jika melepaskan sepatunya?"
Sakura dibuat melongo dengan penjelasan dari Kakashi.
"Rambutnya Lee sangat—Kau tahu? Mirip dengan Bruce Lee dan ... ya ampun aku tidak bisa berkomentar apapun."
Mereka beralih ke pertarungan selanjutnya, yaitu pertarungan antara Chouji dan Kiba.
"Baiklah, untuk Kiba dia bisa berbicara dengan binatang dan bisa berubah menjadi anjing. Dia bersahabat dengan baik anjingnya, namanya Akamaru. Dia bisa menjadi mata-mata dan alat pencari jejak yang hebat. Lalu Chouji dia mempunyai kemampuan untuk memperbesar anggota tubuhnya dan dia juga bisa menjadi raksasa dalam waktu sekejap."
Lalu kemudian pertarungan Tenten dan Ino.
"Tenten mempunyai kemampuan Technopath dia adalah ahli senjata kita. Dia bisa memainkan senjata apapun dengan sangat lihai bahkan senjata yang belum pernah dia pegang. Dia bisa memperbaiki segala jenis senjata. Lalu Ino dia memiliki kemampuan untuk menstransfer jiwa. Dia bisa mengendalikan penuh sebuah materi hidup seperti manusia dan binatang, tapi kelemahannya adalah saat dia mentransfer jiwa tubuhya tidak sadarkan diri. Maka dari itu dia harus selalu mempunyai partner."
Sampailah mereka pada pertarungan terakhir. Yaitu pertarungan Naruto dan Sasuke. Pertarungan mereka begitu sengit sehingga membuat arena pertarungan menjadi berantakan.
"Apa kau yakin mereka tidak akan apa-apa?" tanya Sakura sedikit khawatir karena mereka menyerang dengan niat membunuh satu sama lain.
"Jangan khawatir, tidak ada yang lebih mengerti Sasuke selain Naruto dan juga sebaliknya." Jawab Kakashi.
"Apa mereka sungguh sedekat itu?" tanya Sakura, "Maksudku—mereka tidak..."
"Tentu saja tidak, mereka memang sudah seperti saudara sejak kecil ya rasa senasib sepenanggungan kurasa." Ujar Kakashi tegas.
"Naruto bisa memanipulasi udara, dia bisa membuat sebuah pusaran angin yang besar atau pusaran angin kecil dengan daya tekanan yang besar. Dia telah mengembangkan kemampuannya dengan sangat pesat. Tidak hanya itu dia bisa melipat gandakan kekuatannya berkali-kali lipat. Lalu dia mempunyai gen yang langka hanya ada beberapa di seuruh dunia. Dia itu unik, dia mempunyai kepribadian ganda." Jelas Kakashi.
"Kepribadian? Apa maksudmu?" tanya Sakura.
"Ya, semacam bipolar, dia mempunyai dua kesadaran. Satu sisi kita bisa melihat Naruto yang sekarang dan yang lainnya adalah Naruto yang tidak bisa dikendalikan, kami menyebutnya Kyuubi. Profesor Sarutobi menekan Kyuubi dalam tubuh Naruto agar membuat Kyuubi tidak bisa mengendalikan tubuh Naruto. Kyuubi akan bereaksi saat Naruto dalam keadaan marah, sedih, atau kecewa. Kyuubi akan bereaksi saat emosinya tidak stabil dan itu akan membuatnya tidak terkendali dan saat itu terjadi kita tidak tahu apakah itu Naruto atau Kyuubi yang sedang mengendalikan tubuhnya—dan Sakura ku harap kau tidak menceritakan ini pada orang lain."
"Ya, tidak masalah. Tapi apa dia pernah hilang kendali sebelumnya?" tanyanya lagi.
"Beberapa kali, tapi untunglah itu bisa diatasi." Mereka terdiam sejenak dan memperhatikan pertarungannya lagi.
"Lalu jika berbicara tentang Sasuke. Bisa dibilang kalau kemampuannya setara dengan Naruto. Dia bisa memanipulasi api dan listrik. Dia juga bisa memperbesar daya serangnya berkali-kali lipat seperti Naruto. Lalu satu lagi yang istimewa dari Uchiha ini. Dia memiliki mata yang spesial bernama Sharingan," Sakura memperhatikan kedua mata Sasuke yang sudah berubah warna menjadi semerah darah. "Mata itu memang tidak bisa melihat menembus dinding seperti yang dimiliki Neji tapi mata itu bisa melihat gerakan cepat dan juga bisa membuat sebuah ilusi dan juga bisa dipakai menyerang." Ujar Kakashi.
"Ilusi? Maksudmu memanipulasi pikiran, seperti yang kulakukan?" tanya Sakura.
"Ya kira-kira begitu, tapi bedanya dia hanya bisa melakukan itu jika dia mengaktifkan Sharingan. Tanpa mata itu dia tidak bisa, dan mata itu bisa di ganti, jika mata itu diambil dan yang mengambilnya mencangkokan mata itu pada dirinya sendiri maka kemampuan mata itu akan di miliki oleh pemilik yang baru."
"Aku tidak tahu hal itu bisa dilakukan." Kata Sakura.
"Ya, kekuatan dari tubuh manusia. Tapi kau tidak perlu cemas, Sasuke belum sampai ke tahap itu. Dia masih mengembangkannya tapi dia belum sempurna. Karena itu dia sangat ingin mengalahkan seseorang—kakaknya."
"Kakaknya?"
"Ya, ceritanya panjang. Aku tidak perlu menceritakannya sekarang. Lihat pertarungannya sudah selesai." Ujar Kakashi. Sakura tahu Kakashi sedang mengalihkan pembicaraan.
Kakashi dan Sakura turun ke arena latihan dan terlihat murid yang lain sedang beristirahat karena kelelahan. Apalagi Sasuke dan Naruto yang sudah babak belur.
"Bagaimana? Latihannya menyenangkan?" tanya Kakashi tersenyum inosen.
"Kau menyiksa kami." Ketus Naruto.
"Ya, kurasa kau memang benar-benar menyiksa mereka." Tambah Sakura yang berdiri disebelah Kakashi.
"Kenapa kau masih disini Sakura? Pergilah kesana sekarang giliranmu." Kata Kakashi tiba-tiba.
"Apa? Apa maksudmu? Aku kan tidak ikut pertarungan ini?" ujar Sakura kaget.
"Ya, dan sekarang kau ikut. Pergilah ketengah arena." Titah Kakashi.
Sakura menatap Kakashi tajam dan sebal. Tapi Sakura menuruti perintah Kakashi. Diapun kini berdiri disalah satu sisi arena.
"Baiklah, sekarang dimana lawanku?" teriak Sakura.
Kakashi berjalan ke sisilain arena pertarungan.
"Lawanmu disini." Kakashi memasang posisi siap bertarung dan membuka mata kirinya yang selama ini dia tutup. Seketika tampak bola mata merah yang sama seperti yang dimiliki Sasuke. Sedangkan disisi lain Sakura ternganga tidak percaya.
"Apa kau berniat membunuhku? Dan—hey kau tidak bilang kau juga punya mata itu!" teriak Sakura sebal.
"Apa jadinya kalau aku memberitahu kemampuanku pada lawanku?" ujar Kakashi tersenyum tanpa dosa. Maka apa boleh buat, Sakura menegakan badannya dan berteriak pada Kakashi dengan nada menantang.
"Baiklah! Apalagi yang kau tunggu?!" Sakura mengacungkan tangannya menantang.
"Whoa, aku tidak tahu ternyata kau pemarah juga." Komentar Kakashi.
"Yeah, banyak yang kau tidak tahu tentang aku. Sekarang ayo mulai."
Tak lama sebuah kilatan putih menyerag Sakura entah dari mana. Hampir saja kilatan itu mengenai wajah Sakura dan membuatnya terjatuh.
"Apa kau gila? Apa kau benar-benar berniat untuk membunuhku?" Teriak Sakura.
"Sudahlah jangan banyak bicara, sekarang lawan aku atau lebih baik kau lari saja." Kakashi berbicara seolah itu adalah pembicaraan yang enteng.
Sekali lagi Kakashi memunculkan sebuah kilatan putih dari tangannya dan melemparkannya pada Sakura. Untung gadis itu bisa menghindarinya, kilatan itu membuat ledakan yang sangat keras memekakkan telinga, itu adalah listrik yang mempunyai daya Volt sama dengan petir. Sakura sadar dia harus segera bertindak, Kakashi sedang tidak main-main dengan kata-katanya. Maka Sakurapun memegang pelipisnya dan berusaha untuk mengetahui apa yang ada dipikiran Kakashi, namun Kakashi terus menyerangnya sehingga menyebabkan Sakura tidak bisa berkonsenterasi.
"Pelajaran pertama adalah bertahan, Sakura! Mana pertahananmu, sejak tadi kau hanya menghindar!" Manusia berambut perak itu berteriak dari ujung arena. Ya, Sakura harus bertahan. Lalu gadis itu menutup matanya. Mencoba merasakan kekuatannya. Saat Sakura membuka matanya kilatan itu datang lagi, kali ini Sakura tidak menghindar namun dia mengangkat tangannya dan berkonsentrasi penuh dan berhasil. Kilatan petir itu tidak mengenainya akan tetapi terbelah menjadi dua dan melewati dirinya. Sakura menyeringai senang.
"Bagus, yang kedua adalah menyerang. Sekarang kita lihat bagaimana caramu menyerang?" Semakin lama kata-kata Kakashi semakin meremehkan seakan Sakura tidak bisa melakukan apapun dan itu membuat Sakura marah.
"Ayo Sakura? Hanya segitu kekuatanmu?" Ujarnya lagi.
Sakura tidak tahan, dia terbawa emosi. Maka Sakurapun berlari ke arah Kakashi dia bisa dengan mudah menahan semua serangan petir dari Kakashi hanya dengan mengangkat tangan kirinya. Dia masih terus berlari dan tidak ada lagi Sakura yang ramah , wajahnya menjadi dingin dan penuh amarah seperti pertama kali ia dibawa kesini.
Sakura mengarahkan tangan kanannya pada Kakashi dan jemarinya seakan menggenggam Kakashi. Di saat yang bersamaan tubuh Kakashi terangkat dari lantai beton itu. Dia terangkat beberapa meter dari tanah seiring dengan tangan Sakura yang terus terangkat lalu tak lama kemudian Sakura membanting tangan kanannya yang membuat Kakashi terjatuh ke tanah dengan bunyi berdebam keras.
"Ugh.." Kakashi sedikit mengerang tapi dia mampu berdiri kembali. Pekik kaget dari sisi arena terdengar. Anggota X-Men yang lain memperhatikan pertarungan itu dengan serius.
Kakashi kembali melayangkan petir pada Sakura namun tak diduga Sakura menerima serangan itu, menahannya, lalu melemparkannya kembali pada Kakashi. Dengan terpaksa Kakashi harus menghindarinya. Sepertinya bahu dan kaki Kakashi terkilir akibat dijatuhkan dari ketinggian tadi membuat Kakashi tidak bisa berdiri. Lalu Sakura berjalan kembali ke arah Kakashi. Sakura mengangkat kedua tangannya, dia menutup matanya mencoba berkonsentrasi, dan setelah sepersekian detik semua kaca yang ada di ruangan itu pecah dengan bunyi yang sangat kencang.
Tapi tidak sampai situ. Pecahan-pecahan kaca itu melayang diketinggian beberapa meter dan mengarah pada Kakashi. Ribuan pecahan kaca itu mengarah pada Kakashi dan siap meluncur kapanpun ketika Sakura mengarahkan tangannya. Sementara itu anggota X-Men yang lain sudah panik. Naruto hendak berlari ke tengah-tengah arena namun di tahan oleh Sasuke.
"Ini pertarungan mereka." Sasuke menatap lekat-lekat Sakura. Dia juga berharap kalau Sakura tidak benar-benar mau menyerang Kakashi.
'Sakura, cukup!'
Seolah baru tersadar, Sakura menegadah ke langit-langit dan menatap ribuan kaca yang melayang dan mengarah pada Kakashi.
"Ya...ampun." Sakura menurunkan tangannya seketika ribuan pecahan kaca itu terjatuh namun pecahan-pecahan itu berubah menjadi debu sebelum mereka menyentuh tanah.
"Ya, ampun. Maafkan aku, apa kau tidak apa-apa? Maafkan aku.." Sakura berlari kearah Kakashi dia tampak sangat menyesal bukan main.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Kakashi tersenyum tulus.
"Kemari biar kubantu." Dengan cekatan Naruto dan Lee membantu Kakashi berdiri dan membopongnya menuju rumah sakit.
"Oh tidak, apa yang sudah kulakukan?" Dia menyentuh kepalanya pening.
"Sakura, hidungmu berdarah.." gumam Chouji.
"Apa?" Sakura menyentuh hidungnya dan benar saja hidungnya memang mengeluarkan darah. Lalu tak lama kemudian dia jatuh pingsan.
"Sakura?" semuanya berteriak panik.
"Sudah, biar aku yang membawanya." Sasuke meraih tubuh mungil Sakura dan dengan sekali tarikan Sasuke sudah bisa mengangkat Sakura dengan mudah. Lalu ia menyusul Kakashi, Naruto, dan Chouji.
"Ya, ampun aku tidak percaya kalau Sasuke melakukan itu." Celetuk Rock Lee.
Setengah jam kemudian Sakura terbangun dirumah sakit untuk kedua kalinya. Sakura mencoba mengingat kembali kenapa dia bisa sampai pingsan karena sampai saat ini dia masih merasakan pening dikepalanya.
"Apa kau sudah baikan?" tanya seseorang. Sakura menoleh dan mendapati Kakashi yang sedang duduk di ranjang yang lain.
"Ya, ampun. Bagaimana keadaanmu?" Sakura bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ranjang Kakashi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau malah balik bertanya." Ujar Kakashi tersenyum.
"Berhentilah mengerecoki ku! Bagaimana keadaanmu?" tanya Sakura kesal.
"Haha..baiklah..baiklah. Aku tidak apa-apa hanya sedikit terkilir di bahu dan pergelangan kaki." Jawab Kakashi. Seketika itu Sakura bernapas lega.
"Jangan pernah lakukan itu lagi!" ujar Sakura dengan penekanan disetiap katanya.
"Kenapa?" tanya Kakashi.
"Jangan...kubilang jangan ya, jangan!" tegas Sakura.
"Ya, tapi kau tidak memberitahuku kenapa?" tanya Kakashi lagi dengan nada sedikit mempermainkan. Sakura tampak berpikir sejenak.
"Itu berbahaya, aku tidak mau siapapun disini melakukan itu lagi. Kurasa lebih baik aku tidak ikut latihan bersama kalian." Ujar Sakura.
"Kau mulai lagi Sakura," kata Kakashi.
"Aku tidak mulai, tapi aku tidak mau ada yang terluka karena aku, dan sekarang lihat kenyataannya kau terluka karena aku. Aku sudah pernah hampir...membunuh seseorang," ujar Sakura dengan terpaksa "dan sekarang aku hampir membunuhmu."
"Tapi..."
"Kau tidak mengerti, kau tidak tahu aku. Dalam keaadaan seperti itu aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, aku bisa membunuh siapapun dalam keadaan seperti itu—tunggu apa kau sengaja membuatku marah? " Ujar Sakura setengah berteriak.
"Ya, aku memang sengaja. Aku ingin melihat sejauh kemampuanmu secara langsung." Jawab Kakashi jujur.
"Jangan lakukan itu lagi!" Sakura terdengar sangat serius.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, akan kuturuti. Tapi ingat Sakura kalau konsenterasi yang sempurna adalah diantara kemarahan dan ketenangan." Pria itu menghela napas. " Lalu apa yang menyebabkanmu pingsan? Kau datang begitu aku sampai disini. Sasuke membawamu kemari." Jelas Kakashi.
Sakura mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sebelum pingsan.
"Entahlah, kepalaku tiba-tiba saja sangat berat dan sangat sakit dan hidungku berdarah, lalu aku pingsan." Jawab Sakura.
Kini Kakashi juga tampak berpikir.
"Kurasa kau harus berbicara pada Profesor Sarutobi." Saran Kakashi.
"Akan kupertimbangkan, tapi sebelum itu biar ku tebus kesalahanku dulu." Tangan Sakura mendekati pergelangan kaki kanan Kakashi.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Kakashi, wajahnya tampak sedikit ngeri.
"Tenang saja, aku sudah pernah melakukan ini beberapa kali pada diriku sendiri. Rasanya mungkin akan sedikit sakit," Tangan Sakura melayang beberapa senti dari pergelangan Kakashi. "Tulangnya bergeser."
"Tungg..."
Krak!
"Ugh.."
Kakashi meringis kesakitan, sesuatu terdengar berkeretak seperti bunyi tulang saat Sakura menggerakan jemarinya.
"Nah, sekarang sudah beres mungkin akan lebih baik setelah satu jam. Percayalah itu sangat manjur." Ujar Sakura.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kakashi.
"Aku memperbaiki tulangmu, aku menggesernya lagi. Mana bahumu biar ku betulkan." Tawar Sakura.
"Ah...T-tidak perlu. Bahuku tidak begitu sakit. Lebih baik kau berkonsultasi dengan Profesor Sarutobi."
"Ya, Kau benar."
Tak lama kemudan Sakura meninggalkan rumah sakit dan hendak menemui Profesor Saruto, begitu ia sampai Sakura langsung mengetuk pintu ruangan Sang Profesor.
"Profesor, permisi bolehkah aku bicara dengan mu?" Tak ada yang menjawab.
"Profesor apa kau didalam?" Masih tidak ada yang menjawab. Sakura sedikit heran. Tidak biasanya Profesor Sarutobi seperti ini. Sakura menyentuh permukaan pintu dan menutup matanya sejenak mencoba merasakan keberadaan Profesor Saruto. Setelah beberapa detik Sakura kembali mebuka matanya.
"Profesor aku tahu kau didalam. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Masih tidak ada jawaban. Sakura merasa kalau Profesor sedang tidak mau berbicara dengannya.
'ada apa?' pikir Sakura dalam hati. Sakura berkonsentrasi mencoba memasuku pikiran Profesor Sarutobi, tapi seperti sebelumnya tidak bisa Profesor Sarutobi selalu menutup pikirannya dari Sakura. Semakin Sakura mencoba semakin berat rasanya. Semakin Sakura mencoba menembus pikiran Profesor Sarutobi kepalanya semakin sakit.
"Baiklah, aku akan datang lagi nanti."
Technopath : seseorang yang bisa mengendalikan barang-barang elektronik ( memperbaiki, mempelajari, dan membuat)
Psikometri : Menatap kilas balik ( masa lalu) suatu benda/ materi.
