Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : THE OMEGA
©LONGLIVE AUTHOR
Sakura telah sampai di X mansion, dia seperti orang linglung tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Setiap dia lewat benda-benda di sekelilingnya bergetar.
"Sakura-chan, kau dari man..."
Bahkan dia tidak menggubris siapapun.
Sakura berhenti di pintu ruangan Profesor Sarutobi. Pintu itu masih sama baginya, mengkilat, kokoh dan tak tertembus. Seperti pikiran Profesor Sarutobi yang tidak bisa dia ketahui.
"Profesor Sarutobi, aku tahu semuanya. Buka pintunya jika kau tidak mau aku menghancurkannya." Ujar Sakura, dia sudah malas berteriak-teriak di depan ruangan itu lagi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama kenop pintu itu bergerak dan berputar. Pintu itu terbuka. Ruangan bergaya klasik itu begitu hangat. Jendela mewah itu terbuka lebar sehingga angin sepoi bisa masuk menggoyangkan helaian rambut Sakura.
Terlihat Profesor Sarutobi duduk di salah satu sisi ruangan dengan beberapa cangkir teh disana. Rupanya tidak hanya ada Profesor Sarutobi disana, tapi Kakashi juga berada disana duduk di salah satu sofa panjang. Sakura melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan. Tanpa di perintah pintunya menutup sendiri.
"Duduklah Sakura, aku sudah menantimu." Ujar Profesor Sarutobi. Sakura menuruti apa kata sang Profesor. Dia duduk disalah satu sofa tak jauh dari Kakashi. Pria berambut perak itu memperhatikan Sakura dengan awas. Sepertinya Profesor Sarutobi sudah bilang pada Kakashi kalau Sakura telah mengikutinya ke Kantor Dewan.
Benda-benda di sekeliling Sakura mulai bergetar lagi. Sakura sudah mengontrol emosinya sedemikian rupa namun tetap saja. Kemampuannya terlalu kuat. Cangkir-cangkir dan rak-rak buku mulai berderak tak beraturan.
Secangkir teh hangat terbang ke arah Sakura.
"Minumlah Sakura, itu akan membuatmu menjadi lebih baik." Ujar Profesor Sarutobi hangat. Suaranya begitu lembut seolah berbicara pada cucunya sendiri.
Sakura memandangi cangkirnya tanpa ekspresi dia tidak meminumnya.
"Cukup basa-basinya kau tahu apa tujuanku kemari." Kata Sakura.
"Oh ya, aku tahu. Tapi aku tidak mau perbincangan kita ini menjadi perbincangan yang menegangkan." ujar Profesor Sarutobi.
"Sakura tenangkan dirimu, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Kakashi angkat bicara. Ia memperhatikan benda-benda yang bergetar disekeliling mereka.
"Bagaimana aku bisa tenang, kalian telah menyembunyikan hal begitu besar dariku."Suara Sakura agak meninggi.
"Bukan seperti..."
"Cukup Kakashi, ini adalah urusanku dan Sakura. Aku ingin kau diam dan menyimak kata-kataku." Potong Profesor Sarutobi.
Sakura masih enunggu penjelasan dari Profesor Sarutobi. Berbanding terbalik wajahnya Profesor Sarutobi yang sangat tenang.
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu Sakura, asalkan kau membuat semua barang-barangku dan benda-benda diluar sana berhenti bergerak." Ujar Profesor Sarutobi. Ternyata tidak hanya barang-barang yang berada di ruangan Profesor Sarutobi yang bergerak-gerak namun benda-benda yang berada diluar ruangan juga ikut bergetar bahkan air kolam di taman terangkat melawan gravitasi bumi.
Sakura menarik napas panjang. Meski sulit dia harus menahannya sebisa mungkin. Untuk spersekian detik matanya berkilat lalu semua barang-barang serta benda-benda yang berada diluar terjatuh dan berhenti bergerak.
"Aku mengerti apa yang kau pikirkan Sakura, jadi aku mohon untuk tidak memotong pembicaraanku." Kata Profesor Sarutobi.
Hening kemudian, Sakura dan Kakashi sudah siapa dengan semua penjelasan yang akan diberikan oleh Profesor Sarutobi.
"Sakura, kesalahan terbesarmu adalah tidak mengenal dirimu sendiri," ujar Profesor Sarutobi.
"Ada alasan kenapa pada malam itu rumahmu diserang dan kedua orang tuamu dibunuh. Ada alasan kenapa selama lima tahun terakhir kau dicari oleh semua mutan, dan ada alasan kenapa malam itu aku menemuimu," Profesor Sarutobi menghela napas. " Semua itu tidak terjadi secara kebetulan."
"Belasan tahun yang lalu, aku dan semua mutan yang bisa merasakan hawa mutan yang lain mengetahui kalau delapan belas tahun yang lalu saat dini hari seorang mutan lahir kedunia ini, dan mutan itu adalah kau Sakura. Hanya satu banding satu milyar yang mempunyai anugerah sepertimu,"
"Dan di hari pertama kau menyadari kemampuan psikokinesismu, dihari itulah mutan-mutan yang mempunyai niat jahat mencarimu. Kau adalah mutan kelas Omega," Sakura mencoba untuk mencerna penjelasan Profesor Sarutobi dengan susah payah. "Akan ku jelaskan lebih rinci lagi, setiap mutan memiliki kemapuan yang berbeda-beda dan mutan-mutan itu di bagi menurut tingkatan kemampuan mereka, karena pada dasarnya mutan itu sama. Kemampuan para mutan tercipta karena adanya gen-X di dalam tubuh mereka sehingga memungkinkan kita mempunyai kekuatan untuk mengendalikan suatu materi tertentu."
"Aku adalah mutan dengan kelas Alpha, selama ini tidak ada yang melebihi kelas Alpha oleh karena itu para Mutan kelas Alpha disebut juga 'First class'. Mutan kelas Alpha hanya ada ada sepuluh persen dari semua mutan di seluruh dunia, semua mutan kelas Alpha mempunyai kemampuan yang tinggi. Yang kedua adalah kelas Beta, dan salah satu contohnya Kakashi adalah mutan kelas Beta dan hampir semua anggota X-Men adalah kelas Beta. Setelah itu adalah Gamma, Delta, dan Epilson. Itu semua adalah klasifikasi mutan," jelas Profesor Sarutobi.
"Lalu apa kau tahu dimana tempatmu Sakura?," tanya Profesor Sarutobi. Sakura tak bergeming. "Kau adalah Omega, tingkatan paling tinggi dalam klasifikasi mutan. Kelas Omega adalah klasifikasi paling langka."
Sakura hampir menduganya tapi ia tidak mengira kalau dia sekuat itu, bahkan dia tidak percaya sama sekali. Satu pernyataan dari Profesor Sarutobi yang selalu ia nantikan ternyata telah menamparnya begitu keras.
"Profesor apa tidak..."
"Tidak Kakashi, Sakura harus mengetahui semuanya aku tidak mau mengulangi kesalahanku di masa lalu. Sakura harus tahu siapa dirinya yang sesungguhnya." Kata Profesor Sarutobi tenang namun tetap tegas.
"Sakura, kelas Omega adalah mutan yang mampu mengontrol semua materi dan energi sehingga potensinya tak terbatas. Itulah alasan semua orang memperebutkanmu, dan alasan kenapa aku mencarimu selama bertahun-tahun. Untuk menyelamatkanmu dari mereka semua. Percayalah Sakura kali ini aku tidak akan menutup pikiranku lagi, aku sudah terlalu lelah untuk itu. Mereka menginginkanmu untuk kepentingan mereka masing-masing." Kata Profesor Sarutobi panjang lebar.
Ya, Sakura tidak menyangkal itu. Profesor Sarutobi jujur disetiap kalimatnya.
"Lalu apa benar kau mengendalikanku? Apa benar kau mengontrol pikiranku?" tanya Sakura parau.
Profesor Sarutobi terdiam beberapa saat.
"Ya, Sakura aku selama ini telah mengendalikan pikiranmu. Ada satu yang harus kau ketahui, kau memiliki dua kesadaran yang berbeda. Yang satu adalah Sakura yang ku kenal selama ini dan Sakura yang bisa mengendalikan dirimu sendiri. Sementara yang lain adalah Sakura yang tidak bisa mengendalikan dirinya, dirimu yang lain adalah mahluk ganas yang sedang menunggu untuk lepas dari kerangkeng dan siap mengamuk kapan saja dan mahluk itulah yang disebut dengan Phoenix," Sakura tidak mampu berkata-kata saat ini.
"Maka dari itu mereka membuat Phoenix project, mereka berencana untuk mengendalikan alam bawah sadarmu dan menjadikanmu senjata negara. Memang benar aku yang memisahkan dan memblokir alam sadar dan alam bawah sadarmu saat pertama kali kau dibawa kemari, tapi mereka salah jika mereka pikir aku bisa mengendalikanmu sepenuhnya. Aku hanya bisa melakukan sampai sana, tidak lebih. Potensimu terlalu kuat, jadi aku menyembunyikan kenyataan kalau kau adalah mutan kelas Omega dari Dewan."
Tanpa aba-aba semua benda yang ada di ruangan itu bergerak, tidak hanya di ruangan itu semua benda yang berada di X-Mansion tiba-tiba saja hilang kendali. Sakura mulai kehilangan kontrol atas emosinya sendiri. Dia belum siap dengan segala pernyataan ini.
"Profesor..." panggil Kakashi panik.
Profesor Sarutobi menatap mata hijau Sakura yang lama-lama mulai menghitam, mencoba meyakinnya dan menyadarkannya kembali.
'Sakura tenangkan dirimu, tetaplah bersama kami. Jangan sampai kau dikendalikan oleh Phoenix!'
'Kenapa kau menyembunyikannya dariku?'
'Aku menunggu waktu yang tepat sampai kau siap mendengar semuanya.'
Bukannya berhenti semua benda-benda di seluruh X-Mansion semakin bergerak tak beraturan membuat semua orang panik.
'Dengarkan aku Sakura, seseorang ditentukan benar atau salah bukan darimana dia berasal atau masa lalunya tapi apa yang pilihannya dan apa yang dia perjuangkan, tanyakan pada dirimu sendiri Sakura! Apa yang kau pilih? Apa yang selama ini kau perjuangkan? Apa yang kau cintai dan apa yang kau banggakan?'
Sakura mulai mendapatkan fokusnya kembali dan semua barang mulai melambat meski masih bergerak-gerak lemah.
'Apa yang membuatmu bertahan Sakura? Ini bukan tentang siapa dirimu dan darimana asal mu, tapi ini tentang apa yang kau pilih?'
Seketika itu semua benda yang bergerak kini berhenti.
"Pilihan?" tanya Sakura lemah.
"Ya pilihan Sakura, apa yang kau pilih? Menjadi Sakura? Atau menjadi Phoenix?" kata Profesor Sarutobi.
"Aku tahu ini sangat berat untukmu mengetahui kenyatannya, tapi kau harus tahu siapa kau yang sebenarnya."
"Kau adalah Mutan kelas Omega kedua yang aku lihat setelah Madara Uchiha." Ucap Profesor Sarutobi.
"Uchiha?" tanya Sakura.
"Ya, dia adalah kakek buyut Sasuke Uchiha, Mutan kelas Omega mempunyai kemampuan yang lebih dari Mutan manapun didunia ini. Namun sayang Uchiha Madara mati ketika dia masih sangat muda. Dia mati ditangan dirinya sendiri. Kau harus menyadari sebarapa besar kekuatanmu, Sakura?" Kata Profesor Sarutobi.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Sakura pasrah.
"Kau harus sangat berhati-hati, bukan hanya Orochimaru dan Dewan yang sedang mengincarmu tapi juga Akatsuki." Ujar Profesor Sarutobi.
"Siapa itu Akatsuki?"
"Mereka juga adalah kumpulan mutan yang sedang mengincar mutan-mutan kelas-kelas tinggi untuk dikendalikan. Mereka menyadari kemampuan Psikokinesismu. Seharusnya kau menyadarinya saat kau membaca buku yang ku berikan." Kata Profesor Sarutobi. Dia menggerakkan kursi rodanya dan mengambil sebuah buku dengan sampul berwarna hijau yang ternyata itu adalah buku yang Sakura dapatkan dari perpustakaan Konoha.
"Ini adalah bahan Thesisku saat mendapatkan gelar Profeesor. Akulah yang menyusun buku ini dan sudah melakukan riset yang sangat lama. Seharusnya kau menyadarinya kalau kemampuan psikokinesismu itu mencakup seluruh kemampuan mutan. Apa kau tidak bertanya-tanya kenapa kau bisa mengubah air menjadi es sementara kau adalah seorang telepath?"
Ya, Sakura ingat, dan dia memang bertanya-tanya kenapa dia bisa melakukan. Tenten bilang kalau dia memiliki kemampuan ganda tapi Sakura tidak yakin kalau itu adalah penjelasan yang tepat.
"Itu karena kau memiliki tiap-tiap dari semua jenis kemampuan Psikokinesis. Itulah kemampuan dari Mutan kelas Omega." Sambung Profesor Sarutobi.
Penjelasan itu menunjukan berarti dia bisa memanipulasi segala jenis material hidup atau mati.
"Pasti ada kelemahannyakan? Apa itu?" tanya Sakura tiba-tiba.
Hening, Kakashipun menunggu jawaban dari Profesor Sarutobi.
"Semakin kau menggunakannya, psikismu akan semakin terganggu, tubuhmu akan semakin rusak, dan jika kau tidak bisa mengendalikannya kau akan membahayakan semua orang, tidak hanya orang-orang yang kau sayangi tapi...juga semua orang."
"Aku berharap banyak darimu Sakura. Maafkan aku karena aku sudah menyembunyikan banyak hal darimu tapi, ini demi kebaikanmu." Kata Profesor Sarutobi.
Hening, masing-masing dari mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan, ini adalah keadaan yang sangat rumit. Rasanya hati Sakura membeku tiba-tiba, dia lumpuh seketika dan rasanya tidak bisa melakukan apapun.
"Berhati-hatilah dengan Orochimaru dan juga Uchiha Itachi dari Akatsuki, mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya." Kata Profesor Sarutobi.
"Aku tahu," ujar Sakura menghela napas berat. "maaf karena aku bersikap kasar, aku tidak tahu soal ini. Aku benar-benar minta maaf."
"Jangan membebani dirimu sendiri Sakura, dunia belum kiamat. Kau hanya perlu lebih kuat lagi." Kata Kakashi menyemangati.
"Aku tahu."
Sakura bangkit dari kursinya dan melenggang pergi dari ruangan itu dengan lemah.
Rasa lelah terpatri jelas di wajah sang Profesor, kerutan di wajahnya terlihat menegang seakan dia sudah melakukan hal yang sangat melelahkan. Sang Profesor menghela napas sejenak lalu menyandarkan punggungnya lemah.
"Aku sangat kasihan padanya, kekuatan semesta terkurung di dalam tubuh rapuhnya." Ujar Profesor Sarutobi.
"Apa mungkin Sakura bisa mengendalikan kekuatannya sendiri?" tanya Kakashi.
"Semuanya tergantung pada Sakura sendiri, kalau dia tidak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri dia akan berakhir seperti Madara Uchiha."
Dua pria itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Lakukan yang terbaik untuk ku Kakashi, karena tidak selamanya aku berada disini." Ujar sang Profesor tiba-tiba
"Apa maksudmu Profesor?"
Matahari sudah hampir tenggelam dan udara dingin sudah begitu menusuk tulang, entah berapa lama Sakura berdiam diri di taman belakang sendirian. Kulitnya sudah dingin dan dia masih tidak mau beranjak pergi dari tempat itu. Halaman itu begitu sepi sehingga suara anginpun terdengar jelas. Sakura masih terus mengumpat dalam diamnya.
"Sial..."
"Sial..."
"Sial..."
Rerumputan dan beberapa tanaman lainnya bergoyang-goyang, bukan karena angin yang begitu kencang sehingga menggerakan rerumputan, tapi karena Sakura yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri.
Srek...
Seseorang datang.
"Disini rupanya." Ujar suara dingin itu. Sasuke Uchiha.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun." Kata Sakura.
"Memangnya kau siapa menyuruhku seperti itu." Balas Sasuke. Sakura membuang napas malas, dia tahu kalau pembicaraan ini tak akan ada habisnya. Sakura tak habis pikir kenapa Sasuke selalu muncul dihadapannya.
Sasuke berjalan ke arah bangku taman yang diduduki Sakura dan ikut duduk disana. Dia duduk tanpa ada beban seolah hanya datang untuk menikmati pemandangan saat matahri tenggelam.
"Umpatanmu begitu keras sehingga begitu mengganggu." Kata Sasuke. Hati Sakura sedikit mencelos, dia bahkan tidak menyadari sejak kapan Sasuke berdiri disana.
"Sudah ku bilang kan? Tidak ada yang istimewa darimu," katanya Sasuke mendengus " yang kulihat hanya perempuan yang sedang mengumpat tentang betapa menyedihkan hidupnya."
Sakura benar-benar tersindir atas perkataanya tapi apa daya semua yang dikatakannya itu benar.
"Kau sama saja seperti yang lainnya, cerewet, cengeng, keras kepala..."
"Hentikan Sasuke." Potong Sakura.
"pemarah,sombong, sama sekali tidak ada yang istimewa, bahkan kau terlalu naif untuk menangis."
"Cukup Sasuke!" teriak Sakura marah.
"Cih, atau apa? Melemparkan sesuatu padaku? Atau mau menyerangku seperti kau menyerang Kakashi?" balas Sasuke.
"Apa maumu? Sasuke! Dengarkan aku, aku tidak peduli dengan apa yang kau pikirkan tentangku ! Aku tidak peduli kalau aku tidak istimewa, karena aku sama sekali TIDAK INGIN SEPERTI INI!" Jerit Sakura sudah tidak tahan.
"Hal yang paling aku inginkan adalah menjadi orang biasa tanpa keistimewaan apapun, kau tidak tahu apa-apa tentangku, aku tidak ingin menjadi orang kaya, aku tidak ingin menjadi orang penting, yang aku inginkan hanya menjadi gadis biasa, bersekolah, mempunyai teman, menghabiskan masa remajaku, pelukan, ciuman. Aku menginginkan semua itu!" teriak Sakura, matanya memancarkan berbagai emosi yang kompleks. Sedih, marah, takut, tertekan.
"Aku ingin ada orang yang memarahiku ketika aku salah, aku ingin ada memelukku ketika aku sedih, aku ingin melanggar peraturan, aku selalu memimpikan itu Sasuke. Setiap malam aku selalu bertanya apakah aku akan mengalami kehidupan seperti itu suatu saat nanti?" tanya Sakura lemah. "tapi nyatanya apa? AKU ADALAH SEORANG MUTAN YANG DIINCAR OLEH SEMUA ORANG ! Semuanya hanya menganggapku sebagai senjata, aku hanya mahluk berbahaya, AKU ADALAH MUTAN OMEGA ! HA HA!" Sakura berdiri didepan Sasuke. Sakura tertawa sedih seolah yang ia ucapkan barusan hanya guyonan belaka, dia tidak tahan dengan semuanya dan menumpahkan segala emosinya pada Sasuke.
"Aku sudah muak hidup seperti ini, bergantung pada setitik harapan. Aku sudah lelah berpura-pura kuat." Sakura memegangi kepalanya yang rasanya sudah mau pecah.
"Sial !" umpatnya. Sakura berhasil menyembunyikan airmatanya dari Sasuke dengan helaian rambut kusutnya. Dia sudah tidak peduli apa yang Sasuke pikirkan tentangnya. Dia hanya ingin meledak sejadi-jadinya. Sakura tidak tahu harus marah pada siapa, ia tidak tahu harus takut pada siapa, ia tidak tahu harus menopang pada siapa. Ia merasa hidup sebagai selongsong kosong.
Tak lama kemudia Sakura merasakan sebuah tangan menyentuh lengannya dan menariknya pada sebuah pelukan. Detik kemudian dia sadar kalau Sasuke sedang memeluknya. Hangat dan menenangkan. Tanpa disadari Sakura membalas pelukan itu dengan erat, logikanya berjalan tapi otaknya tidak mau berpikir apapun saat ini. Dia membutuhkannya.
"Hidup kita memang tidak mudah, tapi terus mengeluh tidak mengubah apapun." Ujar Sasuke dingin dan begitu hangat disaat yang bersamaan.
"Kalau kau terus seperti ini berarti kau hanya orang tolol dan tidak pantas untuk mendapatkan apapun." Sakura terisak dalam pelukan Sasuke.
"Aku kira kau adalah salah satu yang paling kuat, ternyata kau cuma perempuan biasa." Kata Sasuke, pemuda dingin itu mengelus lembut punggung Sakura, mencoba menenangkannya. Sementara itu Sakura juga menatap kilas balik masa lalu Sasuke dengan mudahnya. Sakura melihat kalau seluruh keluarga Sasuke juga dibunuh saat dia berumur tujuh tahun. Sakura bisa melihat kalau ternyata yang membantai seluruh keluarganya Sasuke adalah kakaknya sendiri. Uchiha Itachi.
Sekarang Sakura bisa mengerti kenapa Sasuke bisa sekuat ini, dia mengerti kalau bahkan Sasuke pernah berada diposisinya. Muak dengan hidupnya sendiri, tapi Sasuke bertahan, dia bisa jauh lebih kuat.
"Aku merasa sangat kecil," isak Sakura "Aku tidak tahu apakah aku harus takut pada orang lain atau pada diriku sendiri? Bahkan saat aku tidak melakukan apapun aku berbahaya untuk kalian semua."
"Jangan menyerah pada dirimu sendiri, jangan membohongi dirimu sendiri." Ucap Sasuke.
Beberapa menit berlalu langit sudah gelap, Sasuke sengaja membiarkan Sakura menumpahkan semua emosinya. Membiarkan bahunya basah oleh air mata Sakura. Menjadi penopangnya disaat Sakura hampir ambruk.
"Sakura lihat aku!" Kata Sasuke melepaskan pelukannya. "Kau memang tidak istimewa, tapi jadilah kuat! Jangan biarkan kekuatanmu mengendalikanmu!"
"Bagaimana jika tidak bisa?" tanya Sakura lirih, sebenarnya Sasuke sendiri bingung harus menjawab apa.
"Berjanjilah untuk menyelamatkanku jika itu terjadi," kata Sakura "...sekalipun harus mengambil nyawaku."
Hati Sasuke mencelos, apa maksudnyaitu?
"Tenangkan dirimu!" Sasuke melepaskan tangannya dari Sakura dan berlalu pergi meninggalkan Sakura sendirian.
Seketika itu dia merasa hampa, kehangatan itu datang dan hilang dengan sekejap. Sekarang perasaannya jauh lebih baik. Sasuke benar-benar datang disaat yang tepat. Meski kata-katanya dingin dan tajam tapi itu sangat membantu Sakura. Membuatnya berpikir jernih. Matanya yang kelam itu begitu meyakinkan seolah berkata 'semuanya akan baik-baik saja'.
"Kenapa sulit sekali membaca dirimu Sasuke?"
A/N : Ini chapter yang lumayang panjang guys, but makasih buat apresiasinya. Kayaknya fans Sasusaku udah ga sabar jadi dikeluarin sekarang aja, disini saya ingin memberikan kesan yang tetep cool buat Sasuke. Dia bisa meyakinkan Sakura dengan caranya sendiri. kedekatan mereka itu lebih dari sekedar hubungan fisik, ya saya menilai Sasuke seperti itu sih. So thanks, mungkin jika ada saran untuk chapter depan silahkan di post, dan saya mungkin akan update seminggu sekali atau dua minggu sekali, jadi keep review, follow, and fav :) salam Author.
