Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : THE OMEGA
©LONGLIVE AUTHOR
Chapter 12
'Sakura...'
'Sakura...'
'Siapa itu? Siapa?'
'Sakura...'
'Siapa itu? Siapa kau?'
'Sakura...'
'SAKURA..!'
Sakura terbangun dari tidurnya. Peluh membasahi sekujur tubuhnya.
"Siapa?" gumam Sakura. Gadis itu tahu kalau yang barusan bukan sekedar mimpi biasa tapi memang ada yang sedang mempermainkannya. Gadis itu menutup matanya, mencoba berkonsentrasi kalau-kalau ada sesutau yang salah.
Tik...tik...tik...
Sakura merasa ada hawa mutan lain yang tidak dia kenal disini. Namun tak ada siapapun diruangan itu. Dia merasakan hawa mutan dengan kelas yang tinggi. Sangat tipis, hampir tidak terasa tapi ada, Sakura yakin sekali ada mutan lain disini, disuatu tempat di X mansion. Maka iapun bergegas turun dari tempat tidur. Dengan perlahan dia meninggalkan kamarnya. Perasaannya tidak enak, dia tahu ada kalau orang itu bukanlah mutan sembarangan.
Sakura berjalan di koridor X mansion yang sepi. Dia terus berjalan, dan memang sepertinya mutan itu menuntunnya ke suatu tempat.
"Siapa kau? Aku tahu kau berada disini! Keluar!" ujar Sakura tegas. Tidak ada jawaban, Sakura terus berjalan hingga ia sampai di satu koridor yang belum pernah ia datangai seblumnya. Koridor itu tidak seperti koridor biasanya. Tak ada perabot disana dan koridor itu hanya satu arah. Tepat diujungnya terdapat sebuah pintu besi bundar yang kokoh. Sakura mendekati pintu itu dan merabanya, dia belum pernah melihat pintu ini sebelumnya. Kalau dia tebak mungkin ini adalah ruangan yang dipakai oleh Profesor Sarutobi tapi dia tidak tahu apa yang ada didalam sana. Jemari Sakura menyentuh permukaan pintu.
'Sakura...'
Deg!
Ada seseorang didalam, Sakura tahu itu. Ada orang yang sengaja menuntunnya kemari. Sakura mengarahkan tangannya ke permukaan pintu. Tanpa perlu usaha yang berarti pintu itu terbuka dengan sendirinya. Sakura berlari masuk ke dalam ruangan itu siap untuk menyerang, tapi alangkah herannya dia karena tidak ada siapapun disana.
Ruangan itu terkesan sangat aneh, karena ruangan itu berbentuk bundar atau lebih tepatnya Sakura merasa kalau dia sedang berada di dalam sebuah dalam bola raksasa, dindingnya terbuat dari plasma perak seperti di ruang simulasi latihan, pintu besi itu tertutup dengan sendirinya. Ia berdiri di atas sebuah lantai yang menggantung dari pintu masuk sampai tepat ke tengah ruangan itu. Sakura memajukan kakinya selangkah ruangan itu berubah menjadi terang benderang. Gadis semakin merasa dengan ruangan ini, dia tidak tahu sama sekali ruangan apa ini.
Sakura menutup matanya, dia masih merasakan hawa mutan itu. Tapi sangat tipis, namun disaat yang bersamaan juga begitu dekat. Sakura harus selalu waspada bisa saja mutan itu menyerang tiba-tiba. Tepat ditengah ruangan terdapat sebuah meja kecil dan ada sebuah benda. Sakura mendekati benda itu, terlihat benda itu seperti sebuah helm yang tidak biasa. Ada beberapa kabel yang tersambung disana. Sakura yakin kalau benda ini dipakai oleh Profesor Sarutobi.
Sakura sedikit tidak mengerti, sedari tadi dia mendengar namanya dipanggil terus menerus. Dia dituntun kemari seolah ingin menunjukan ruangan ini, benda ini. Dengan ragu Sakura mengambil benda itu dan memasangkannya sendiri ke kepalanya. Sakura sendiri tidak tahu kenapa, tapi begitu benda itu menyentuh kepalanya tiba-tiba saja kepalanya serasa berputar cepat.
Semuanya menjadi samar dan ruangan plasma itu berubah menjadi sebuah pusaran ruang dan waktu. Sakura merasa kalau dia sedang berada ditengah tengah galaksi dengan ribuan bintang disekelilingnya. Bintang-bintang itu berwarna merah dan putih. Tunggu—mereka bukanlah kumpulan bintang, tapi mereka adalah manusia. Yang putih adalah orang biasa dan yang merah adalah mutan. Semua bergerak cepat seperti ia sedang menonton film dari sebuah layar besar.
Sakura bisa melihatnya, ia bisa melihat orang-orang atau tepatnya seluruh manusia di bumi ini sedang melakukan aktifitas mereka. Sepertinya alat ini semaca transmitter yang menghubungkan Sakura dengan seluruh manusia di muka bumi ini. Ia melihatnya dengan jelas, seorang anak kecil yang sedang belajar, seorang pria dewasa yang sedang minum di bar, bahkan dia melihat Naruto yang sedang tertidur pulas. Ini adalah alat yang menghubungkan pikiran Sakura dengan semua orang.
Namun tak lama kemudian dia melihat wajah seseorang, wajah pucat dengan senyum yang menyeramkan. Rambutnya panjang dan pupil matanya hanya membentuk garis seperti ular. Ekspresinya menunjukan dia sangat bahagia sekali, Sakura melihat kalau dia sedang memimpin sekelompok besar mutan menuju suatu tempat. Orang itu adalah Orochimaru, dialah Orochimaru dan dia sedang memimpin sekelompok mutan itu menuju . . . X mansion?
Mata Sakura terbelalak. Ini tidak mungkin!
'Aku datang, Dear...'
Suara itu, tidak mungkin. Dia mendengar Orochimaru berbicara padanya. Ini tidak beres. Sakura segera melepaskan benda itu dan berlari keluar dari ruangan. Begitu pintu terbuka dia menemukan Profesor Sarutobi berada di depan ruangan itu.
"Profesor...dia datang!" Ujar Sakura dengan wajah panik.
"Aku tahu, kita harus membangunkan yang lain dan membawa mereka pergi dari sini." Balas Profesor.
Sakura memejamkan matanya dan memfokuskan pikirannya pada semua orang yang sedang terlelap di kamar mereka masing-masing.
'Bangun ! Semuanya bangun, Orochimaru telah menyerang kita, dia menuju kemari...BANGUN !'
Tap...tap...tap
Seketika itu terdengar suara seseorang berlari. Kakashilah yang pertama datang dan menyadari panggilan Sakura.
"Ada apa?" tanya Kakashi.
"Kita akan diserang, evakuasi semua murid!" titah Profesor Sarutobi. Kakashi sebenarnya sedikit bingung tapi melihat dua mutan didepannya dengan wajah seserius itu Kakashi tahu ini bukanlah main-main atau simulasi belaka. Maka Kakashi segera berlari dan terlihat dalam sekejap muncul Kakashi-Kakashi yang lain dan menyebar ke seluruh X mansion.
"Kita harus melindungi X mansion Profesor !"
Tanpa menunggu lama Sakura dan Profesor Sarutobi bergegas menyusuri koridor hendak menuju halaman depan X mansion.
DUARRRR!
Terdengar suara ledakan di halaman depan. Sesampainya mereka di halaman depan mereka langsung di sambut oleh sekelompok mutan.
"Aku pulang." Ujar pemimpin mereka.
Dia adalah Orochimaru, pria itu benar-benar persis dengan yang Sakura lihat. Matanya begitu menyeramkan, wajahnya yang pucat dan senyumnya yang licik. Ia rasa cukup membuat seseorang untuk pingsan karena ketakutan. Aura jahatnya begitu kentara.
Tak lama kemudian yang lainnya mulai berdatangan.
"Dia benar-benar datang..." kata Kakashi dengan nada tertahan.
"Orochimaru, brengsek!" teriak Naruto masih mengenakan kaus tidurnya.
"Semuanya sudah aman?" tanya Profesor Sarutobi.
"Ya, Tenten dan Ino sedang mengevakuasi semuanya." Jawab Neji.
Pandangan mereka tidak lepas dari gerombolan mutan garang di depan mereka, terutama Sakura dan Profesor Sarutobi. Mereka harus sangat berhati-hati pada Orochimaru yang sekarang mempunyai kemampuan telekinesis dan bisa menyerang siapa saja sekarang oleh karena itu Sakura dan Profesor Sarutobi harus selalu melindungi mereka semua.
"Senang rasanya kembali ke rumah, bagaimana kabarmu...guru Sarutobi?" ujar mulut dingin Orochimaru.
Beberapa orang dari mereka terkejut mendengar Orochimaru memanggil Profesor Sarutobi dengan sebutan guru.
"Untuk apa kau kembali Orochimaru?" tanya Profesor Sarutobi.
" Kau sudah tahu jawabannya Profesor, untuk apa kau bertanya lagi?" kata Orochomaru "Aku kemari untuk mengambil apa yang ku inginkan." Matanya melirik ke arah Sakura.
"Sayang sekali, tapi tidak ada yang bisa kau bawa disini, lebih baik kau pergi saja!" bentak Sakura.
"Sepertinya lidahmu lebih tajam daripada kekuatanmu, bocah!"
Mereka saling bertatapan menunggu apa yang akan terjadi.
"Sudah kuduga, aku harus memakai cara kekerasan...KABUTO!"
Seketika semua mutan itu mencoba menerobos masuk kedalam X-Mansion. Mereka sengaja agar memisahkan para X-Men agar Orochimaru bisa mendapatkan Sakura.
Kabuto melesat ke arah Kakashi dan terjadi pertarungan sengit diantara mereka, Kabuto adalah mutan kelas Alpha yang lebih tinggi dari Kakashi, belum lagi dia juga salah satu percobaan terbaik Orochimaru. Terlihat Kakashi sedikit kerepotan melawan Kabuto.
Sementara itu seorang pria tinggi besar memunculkan tulang dari punggungnya yang tampak seperti tulang belakang yang panjang dan dia menjadikannya sebagai pedang. Pria berambut putih itu mengarahkan pedangnya pada Lee dan juga Naruto.
"BRENGSEK KALIAN !" Teriak Naruto marah.
Disisi lain Sasuke sedang berusaha untuk mengalahkan tiga mutan yang menyerangnya secara bersamaan, salah satunya berbadan besar seperti beruang.
"JANGAN SAMPAI MEREKA MASUK!" teriak Sasuke.
Neji yang mendengar teriakan Sasuke dengan segera berlari ke depan bangunan dan mengulurkan tangannya. Seketika itu sebuah perisai seperti benteng tembus pandang menghalangi semua mutan itu masuk. Mereka akan kesakitan saat menyentuh perisai yang dibuat Neji. Namun jumlah mereka terlalu banyak, selang beberapa menit perisai itu melemah. Sebagian dari mereka ternyata memiliki kekuatan yang begitu besar sehingga mereka berusaha menghancurkan perisai itu.
"Sakura, bantu Neji." Kata Profesor Sarutobi. Ya, Sakura bisa melihat perisai itu mulai retak tapi dia merasa tidak bisa meninggalkan Profesor Sarutobi sendirian dia mempunyai perasaan yang tidak enak.
"Tapi, Prof.."
"Pergilah, aku tidak apa-apa."
Sakura pun beranjak ke tempat Neji berada. Neji menatapnya seolah berkata 'Aku butuh bantuan'. Sakura mengangguk. Dia mengangkat tangannya matanya berkilat keemasan dan seketika itu mereka yang menyentuh perisainya hancur begitu saja menjadi abu. Banyak mutan dari pihak Orochimaru yang mati.
"Kau datang disaat yang tepat!" Ujar Neji penuh arti.
"Tetap waspada!" kata Sakura.
Di pihak lain, Profesor Sarutobi dan Orochimaru masih berhadapan sementara mutan-mutan itu menyerang.
Profesor Sarutobi mencoba memasuki pikiran Orochimaru, seharusnya tidak ada yang bisa menutup pikirannya dari Profesor Sarutobi. Tapi ternyata pikiran Orochimaru tidak bisa ditembus.
"Tidak bisa Profesor, aku mempunyai orang-orang yang melindungiku. Kemapuan kita setara sekarang." Ejeknya.
Ternyata tepat disamping Orochimaru ada seorang laki-laku yang melindungi Orochimaru dari Profesor Sarutobi. Dia memblokir pikiran Profesor Sarutobi sehingga tidak bisa mempengaruhi Orochimaru.
"Kenapa Profesor? Kau ingin menyerang muridmu sendiri?" tanya Orochimaru.
"Kau salah jika mau memanfaatkan Sakura, tubuhmu akan hancur jika mencoba untuk memakainya jadi lebih baik kau jangan main-main Orochimaru!" Ujar Profesor Sarutobi tegas.
"Ha..ha..ha...Profesor, kau masih menganggapku bocah kecil yang kehilangan orang tuanya." Balas Orochimaru.
Sekali lagi Profesor Sarutobi mencoba untuk memasuki pikiran Orochimaru namun ternyata perisai dari mutan yang melindungi Orochimaru jauh lebih kuat. Profesor Sarutobi tahu itu sia-sia, jadi dia mengarahkan ekor matanya pada sebuah pot besar disalah satu sudut halaman yang sekarang sudah porak poranda. Seketika pot besar itu melesat cepat menuju Orochimaru. Benar dugaan Profesor Sarutobi perisai itu memang melindungi Orochimaru dari pikiran Profesor Sarutobi tapi tidak bisa melindunginya dari benda padat. Pot besar itu tepat mengenai laki-laki yang melindungi Orochimaru.
Tapi sayangnya sebelum Profesor Sarutobi masuk kedalam pikiran Orochimaru, mantan muridnya itu sudah mendahuluinya.
"Profesor, aku sangat senang bertemu denganmu lagi."
Tiba-tiba sosok Orochimaru berubah menjadi seorang laki-laki kecil berwajah pucat yang tampan. Anak kecil itu berwajah polos dan berwibawa disaat yang bersamaan. Siapapun yang melihatnya pasti akan langsung menyukainya.
"Orochimaru?" gumam Profesor Sarutobi sangat pelan, dia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ya, ini aku. Apa Profesor lupa denganku? Aku murid kesayanganmu." Katanya.
Ya, Orochimaru sedang memanipulasi pikirannya, dia berubah menjadi Orochimaru kecil ketika dia masih murid Profesor Sarutobi. Profesor Sarutobi sadar betul akan hal itu. Dia sekarang berusaha untuk menutup pikirannya dari Orochimaru.
Lalu tak lama kemudia sosok itu menjadi tiga orang, Orochimaru, seorang anak laki-laki berambut putih dengan garis merah melintang di kedua sisi wajahnya yang sedang tersenyum lebar, dan satu lagi seorang gadis kecil berambut pirang yang berseri-seri. Mereka bertiga sedang tertawa lepas tanpa beban.
"Tidak..." bisik Profesor Sarutobi.
Profesor Sarutobi mencoba menepis pengaruh dari Orochimaru.
Tiba-tiba sebuah kenangan berputar di kepala pria tua itu. Orochimaru kecil telah menjadi Orochimaru dewasa. Mereka sedang berada di sebuah ruangan.
"Apa kau gila Orochimaru? Kenapa kau melakukan semua ini?" teriak seorang pemuda tinggi besar berambut putih.
"Kau tidak mengerti apapun Jiraiya!" balas Orochimaru dingin.
"Tidak tahu! Kau selalu menjawab seperti itu. Apa kau tahu yang kau lakukan ini salah?! Apa kau pikir dengan membuat eksperimen seperti itu kau akan dipandang oleh dewan?!, kau akan membuat kekacauan dimana-mana." Balas Jiraiya.
"Tsunade?" Orochimaru meminta dukungan.
"Tidak sesederhana itu, yang kau lakukan menyimpang." Balas Tsunade tanpa menatap wajah rekannya itu.
"Profesor?" ia beralih pada Profesor Sarutobi.
Sang Profesor hanya menatap langit malam, tanpa menjawab sepatah kata pun dari pertanyaan Orochimaru.
"Cih!" Ia mendecih kesal.
"Sudah kuduga kejeniusanku tidak pernah dihargai disini. Kalian menggap semua yang aku lakukan itu salah!" teriak Orochimaru.
"Orochimaru, aku memang pernah mengatakan kalau kau adalah yang paling istimewa, tapi kau salah dalam mengartikan keistimewaan mu. Yang kau lakukan itu tidak seharusnya dilakukan. Semua eksperimen mu akan menimbulkan kekacauan yang besar dikemudian hari." Jelas Profesor Sarutobi.
Mereka terdiam, pemuda berwajah pucat itu sudah tidak tahan lagi. Ada sedikit rasa kecewa disana dan sebuah luka karena tidak sejalan dengan yang lainnya. Tapi dia yakin yang dia lakukan adal sebuah awal dari revolusi mutan.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan berdiri sendiri! Aku bukan muridmu lagi, dan kau tidak bisa menahanku." Orochimaru pergi dari ruangan itu.
"Orochimaru!" teriak Jiraiya.
"Biarkan...biarkan dia memilih jalannya sendiri." Ucap Profesor Sarutobi.
Kenangan itu berhenti dan Profesor Sarutobi mendapatkan kembali kesadarannya, dan yang ia lihat di hadapannya adalah Orochimaru dewasa yang setelah sekian tahun tak pernah dia lihat.
"Aku kembali untuk membuktikan semua perkataanku." Ujar Orochimaru. Profesor Sarutobi menghela napas lelah.
"Aku hanya seorang orang tua yang sudah sangat lelah dan aku sudah melakukan kesalahan yang besar dengan membiarkanmu pergi, karena tidak memberitahumu dan menghargai semua hasil kerja keras mu." Kata Profesor Sarutobi, kerutan diwajahnya sangat terlihat jelas menandakan sesudah begitu banyak yang ia lalui.
Matanya yang tegas terlihat sangat lelah, sehebat apapun Profesor Sarutobi, dia tetaplah pria tua. Merindukan ketiga muridnya, mengharapkan kehidupan yang tenang. Dia sudah terlalu lelah.
"Lelah Profesor? Sudah seharusnya kau berisrtirahat. Kau hanya perlu menyerahkan Sakura padaku dan aku tidak akan pernah menganggumu atau muncul dihadapanmu lagi."
Orochimaru mengangkat tangan kirinya dan sebuah pusaran angin besar terbentuk di sekitar mereka. Bukan sebuah pusaran angin biasa tapi begitu pusaran angin itu mendekati Profesor Sarutobi, angin itu menyayat tangannya.
"PROFESOR !"
Sakura muncul tepat pada waktunya, sebuah sayatan besar melintang menganga di tangan kanannya.
"Ugh!"
"Brengsek kau Orochimaru!" teriak Sakura.
"Kebetulan kau datang padaku, jadi aku tidak perlu repot-repot menangkapmu." Ujar Orochimaru.
"Profesor, ada apa denganmu? Profesor!" jerit Sakura.
"Kau akan menjadi milikku." Kata Orochimaru.
Mata Sakura dan mata ular Orochimaru bertemu dan seketika itu sebuah suara melengking dikepalanya. Sakit luar biasa sampai Sakura tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.
"ARRGGGHHHHH!" teriak Sakura.
"Hanya perlu membuatmu tidur Sakura." Gumam Orochimaru.
"ARRGGGHHHHH! HENTIKAN!"
Sakura ingin memecahkan kepalanya saat itu juga. Semua kenangan pahit yang terjadi selama hidupnya kembali berputar dikepalanya. Rasa takut saat melihat kedua orang tuanya dibunuh dan rasa takut saat terombang-ambing di jalanan entah berantah itu kembali. Dia merasa kembali menjadi gadis kecil seperti lima tahun yang lalu. Dia takut sekali, sampai tubuhnya lemas.
Sakura mendengar suara teriakan dimana-mana. Sakura melihat temannya berdiri mengelilinginya.
'Ini semua salahmu!' kata Naruto
'Tak seharusnya kau berada disini!' kata Neji.
'Kau adalah biang masalah!' ujar Ino.
'Tak ada tempat untukmu disini!' ucap Sasuke
"Tidak...tidak..."
Sakura terus berguman sambil terus berusaha mengendalikan pikirannya, sementara darah terus mengalir dari lukanya. Hampir ia mendapatkan fokusnya, sebuah pisau tak kasat mata menyayat beberapa bagian tubuhnya. Membuat Sakura berteriak.
"Masih belum menyerah juga?" ujar Orochimaru, bibirnya menyeringai puas.
Sasuke yang menyadari kalau Sakura sedang diserang langsung berlari ke arahnya. Sebuah bola api besar muncul di tangannya dan melemparkannya pada Orochimaru. Membuatnya kehilangan kontak mata dengan Sakura.
Teriakan Sakura berhenti dan Sasuke berusaha mencapai Sakura dan Profesor Sarutobi. Tapi tubuhnya terhempas ketika hampir meraih tangan Sakura. Dia terlempar jauh. Orochimaru tidak membiarkan siapapun mendekati Sakura.
"Amatir!" komentarnya "Kekuatan semesta yang dikurung di dalam tubuh rapuh! Sungguh ironi.."
Orochimaru mengangkat tangannya lagi hendak mengambil Sakura yang masih gemetaran. Namun mata tegas Profesor Sarutobi berkilat dan perisai yang luar biasa kuat muncul diantara mereka.
Keduanya saling mempertahankan koneksinya masing-masing.
Sakura berusaha mendapatkan kesadarannya meski tubuhnya belum berhenti bergetar, meski kepalanya masih terasa mau pecah. Dia bisa melihat Profesor Sarutobi sedang melindunginya. Dia memandang berkeliling. Naruto, Sasuke, Kakashi dan juga beberapa orang lainnya sedang berusaha untuk membantu mereka.
Namun efeknya terlalu kuat. Orochimaru benar-benar tidak membiarkan orang lain mengganggu pertarungannya dengan Profesor Sarutobi. Merekapun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Berhenti Orochimaru, kau tidak akan bisa mengambilnya kau tahu itu.! Masih ada waktu untuk berubah." Ujar Profesor Sarutobi.
Tanah disekitar mereka bergetar. Orang tua itu memperkuat kontak mata mereka. Jauh di dalam sana mereka sedang berperang melawan satu sama lain dan itu jauh lebih menyakitkan dan melelahkan daripada luka fisik.
"Biarkan aku masuk, Orochimaru!" ujar Profesor Sarutobi setengah berbisik.
"Sudah terlambat, kau adalah dinding yang harus kuhancurkan." Balas Orochimaru.
Seketika itu cahaya di mata tegas sang Profesor meredup. Dia mengedipkan matanya. Tidak menyerah, tapi dia sudah tidak kuat lagi, sudah tidak sanggup lagi, dia lelah.
Sebuah gelombang kuat menjurus kearah Profesor Sarutobi.
"Selamanya kau adalah muridku."
Itulah kata terakhir dari Profesor Sarutobi sebelum tubuhnya hilang begitu saja menjadi debu dan menyatu dengan udara malam yang dingin, menyisakan sebuah kursi roda kosong tak bertuan.
"PROFESOR!" mereka semua berteriak bersamaan.
Mata Sakura terbelalak.
"Tidak mungkin...tidak mungkin...tidak..." gadis itu terus berkomat-kamit seraya bangkit dari tanah.
Ini hanya mimpi—dia meyakinkan dirinya sendiri. Tidak mungkin nyata. Sakura melangkah maju menyentuh kursi roda itu memastikan semuanya baik-baik saja. Tapi tidak, sosok itu tidak ada disana. Sosok pria tua yang membawanya kemari telah hilang, sosok yang selalu berbicara hangat padanya telah lenyap.
"Kau..." Sakura hanya sanggup menatap Orochimaru.
Orochimaru berjalan perlahan mendekati Sakura.
"JANGAN DEKATI DIA!" Sasuke berusaha menerbos masuk tapi percuma, dia tidak bisa mendekat.
Semakin dekat jarak antara Sakura dan Orochimaru, angin berpusar semakin kencang di sekiling Sakura. Hingga akhirnya mereka saling berhadapan. Gadis itu hanya menatap Orochimaru tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Apa sulitnya Sakura? Ikutlah denganku, jika kau memberikannya padaku. Akan ku pastikan bahwa kau akan hidup layak seperti yang lainnya, kau akan hidup normal seperti yang kau ingin kan. Akan ku wujudkan semua mimpimu." Bisiknya.
Sesuatu berputar dikepala Sakura, dia bisa melihat dirinya dengan jelas sedang tertawa. Dia sedang bekerja disebuah perusahaan besar, mendapatkan uang, berbelanja, mempunyai kekasih, kehidupan yang selalu dia inginkan. Begitu nyata dan begitu memikat.
Orochimaru mengeggam kedua tangan Sakura.
"Ayo.." ujak Orochimaru mencoba menarik tangan Sakura. Tapi gadis itu menahannya. Orochimaru terkejut.
Semua benda yang ada disekeliling mereka melayang dan mulai bergetar tak beraturan. Sisa genangan air dari kolam yang sudah hancur berantakan itu naik melawan garavitasi dan membentuk bulir-bulir kecil di ketinggian. Tanah yang mereka pijak mulai bergetar. Mata Sakura menghitam dan suaranya terdengar tidak jelas seperti suara teriakan seekor binatang liar.
"Kau sangat menyedihkan dan kau tak pantas hidup!"
Tangan Orochimaru yang menyentuh lengan Sakura tiba-tiba saja berubah berubah warna dan mendadak keriput serta membusuk. Mata Sakura yang menghitam tak lepas dari Orochimaru. Sebuah pedang tak kasat mata menyayat-nyayat dan menguliti tubuh Orochimaru, dalam sekejap tubuhnya penuh dengan luka. Mata pria itu membulat.
Tak hanya itu tapi mutan-mutan yang dibawa oleh Orochimaru juga mengalami hal yang sama. Tubuh mereka mulai tersayat perlahan membuat pekarangan X mansion tiba-tiba saja diramaikan dengan suara teriakan. Tak lama kemudian tubuh mereka mulai berterbangan ke angkasa dan terkikis seperti abu kertas yang dibakar. Para mutan itu menggeliat kesakitan merasakan tubuh mereka seolah dicincang.
Sang Phoenix sedang kehausan dengan kematian Orochimaru. Dia bukanlah Sakura, tapi Phoenix yang sedang mengamuk.
"ARGGHHHHH..."
"HENTIKANN..."
"ARRGGGHHH..!"
Orochimaru sadar saat tanah yang ia pijak bergetar semakin keras, malaikat pencabut nyawa sudah bersiap mencabut nyawanya. Dia harus segera pergi.
'KABUTO!'
Kabuto muncul tiba-tiba menyentuh bahu Orochimaru dan mereka hilang begitu saja. Tepat sebelum para mutan jahat yang lain itu meledak menjadi abu diangkasa seperti yang terjadi pada Profesor Sarutobi.
Seketika jeritan-jeritan maut itu berhenti dan menyisakan malam yang sunyi seolah waktu telah menelan kejadian barusan hingga tak berbekas.
Hal terakkhir yang Sakura lihat adalah ketika Sasuke dan yang lain berlari kearahnya lalu semuanya menjadi gelap.
A/N : Wow, ini chapter yang panjang Guys, ya bisa dibilang disini titik baliknya. Mungkin next chapter malam minggu nanti.. So, Ada komentar? Keep review guys :) salam Author..
