Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : THE OMEGA
©LONGLIVE AUTHOR
Chapter 13
Samar-samar. Semuanya samar-samar
Tubuh ini begitu hangat, siapa yang menyentuhnya? Harum ini, siapa yang sedang memeluknya? Kenapa dia memeluknya begitu kuat.
"Bawa dia...cepat!"
"Ya ampun!"
"Dia kehilangan banyak darah.."
Kenapa semua orang berteriak. Dia lelah tolong jangan berisik, dia ingin tidur, dia hanya ingin berbaring. Kenpa lampu-lampu itu berkedip-kedip? Atau mungkin dialah yang setengah sadar?
Gadis itu menggerakkan jarinya, meraba-raba tangan yang menyentuhnya. Tangan itu tampak sadar akan sentuhan dari gadis itu.
"Sakura.." bisiknya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.
Sasuke? Gadis itu membuka matanya. Ia melihat onyx itu begitu memancarkan kekhawatiran. Sasuke sedang menggendongnya ke suatu tempat. Begitu juga dengan yang lain, mereka mengikutinya ke suatu tempat. Mereka memasuki sebuah ruangan yang begitu terang sehingga membuat mata Sakura sakit.
Sasuke membaringkannya di sebuah kasur keras. Semuanya mengelilinginya. Sasuke, Kakashi, Naruto, Asuma, Kurenai, dan para X-Men yang lain. Sakura ingat, ini adalah tempat saat dia pertama kali terbangun.
"Ambilkan obat bius!" Ujar Kurenai. Sebuah jarum hampir saja menembus kulitnya ketika Sakura mulai memberontak.
"Ada apa? Aku tidak apa-apa. Kalian tidak perlu melakukan ini." Ujar Sakura berusaha bangkit dari tidurnya.
"Tenang Sakura, ini hanya biusan kecil. Kau harus beristirahat." Jawab Kakashi.
"Kenapa kalian semua berada disini, ada apa? Apa yang terjadi denganku? Lepas!" teriak Sakura. Dia mulai menjerit. Semuanya harus segera diselesaikan sebelum Sakura kembali kehilangan kesadarannya dan mengamuk seperti tadi.
"Tidak!"
Jarum itu menembus kulitnya, ia menjadi lemas dan tidak bisa bergerak. Perlahan dia mulai menutup kedua matanya. Semua yang berada di ruangan itu merasa lega.
Dua sosok berjubah itu muncul begitu saja dari lantai dan mulai masuk ke sebuah ruangan gelap di Hotel terbengkalai yang merupakan markas Akatsuki.
"Bagaimana?" tanya Pain.
"Hampir saja, tapi kami berhasil memberitahu gadis itu," kata Zetsu. "Itachi bekerja dengan baik, dia menyadari kalau ada mutan asing masuk kedalam X mansion, dia hampi saja menyerang kami."
"Sudah kubilang dia bukan mutan sembarangan, meski kau tidak bisa dirasakan oleh mutan yang lain tapi dia bisa menyadari kehadiranmu." Ujar Pain. Matanya yang berwarna ungu itu beralih pada Itachi.
"Profesor Sarutobi meninggal, dia dibunuh oleh Orochimaru." Itachi memberitahu. Pain tampak sedikit terkejut dengan pernyataan Itachi.
"Wah...wah...sampai mana kemampuan si Orochimaru itu? Tak kusangka dia bisa melenyapkan Profesor Sarutobi." Komentar Pain.
"Tapi, Haruno Sakura telah mengalahkan Orochimaru, semua pasukannya terbunuh dengan sekali serang dan itu membuat Orochimaru kehilangan sebagian besar pengikutnya. Belum lagi, sepertinya ia terluka parah." Jelas Itachi lagi.
"Sudah kuduga." Ujar Pain penuh kemenangan.
"Itachi, sekarang semuanya bergantung padamu." Pain melanjutkan dan dibalas oleh tatapan Itachi.
"Aku tahu, tapi aku harus melakukan beberapa hal lain terlebih dahulu." Balas Itachi sambil berlalu pergi dari ruangan.
Pagi itu menjadi pagi yang berbeda diantara pagi-pagi yang lain. Langitpun sepertinya ikut merasakan atmosfir perbedaannya. Pagi ini seperti masuk kedalam alam mimpi yang paling suram dalam tidur mereka. Bukan karena mimpi buruk atau sesuatu yang menyeramkan. Seperti terbangun dipagi buta namun tidak ada matahari yang menyambut. Saat melihat ke jendela hanya awan hitam menutupi angkasa dan perlahan-lahan mulai hujan. Tidak deras, hanya rintik-rintik kecil hampir menyerupai salju di awal musim dingin. Begitu lembut, sehingga kau tidak merasakan kalau ada air hujan yang menyentuh kulit. Mungkin seperti inilah suasana yang pantas untuk kematian seseorang yang paling disayangi. Cuacanya tidak cerah karena sama sekali tidak pantas untuk yang berduka, akan tetapi juga tidak hujan deras seolah tidak menerima kepergian yang disayangi. Pagi ini mendung, dan hujan begitu lembut. Mereka semua bersedih karena ditinggalkan, namun hujan ini juga meninggalkan perasaan yang nyaman seolah mengingatkan mereka akan kenangan bersama orang yang disayangi. Bersama Profesor Sarutobi.
"...dan selamanya akan selalu berada di hati kita. Selalu menjadi pengingat tentang sosok yang lembut dan juga bijaksana."
Sudah seeminggu berlalu sejak kejadian itu. Semua kerusakan sudah diperbaiki meskipun masih terlihat sisa-sia pertempuran disana. Sebuah monumen kecil dibangun di halaman X mansion sebagai penghormatan terakhir dan setinggi-tingginya untuk Profesor Sarutobi. Tak ada yang tak bersedih. Masing-masing dari mereka meletakkan karangan bunga di monumen itu. Sekarang Profesor Sarutobi yang ramah telah tenang di alam sana. Takdir tidak bisa di tipu, mungkin lebih baik seperti itu.
Gadis bersurai merah muda itu memandangi kerumunan orang itu dari balik pepohonan. Gadis itu merasakan hal yang sama, mungkin lebih menyakitkan daripada yang mereka rasakan. Karena kehadirannyalah membuat Profesor Sarutobi harus mengorbankannya. Tapi entah kenapa dia tidak mau menangis. Pengorbanan Profesor Sarutobi terlau berharga untuk ditangisi—atau mungkin dia sudah terlalu muak dengan semua kesakitannya.
"Naruto...ayo." Ajak seorang perempuan berambut lavender itu. Namun yang di ajak tak menggubrisnya sama sekali. Dia hanya diam disana memandangi monumen itu. Seorang gadis yang lain baru saja tiba dan menyentuh bahu Hinata. Ia berbalik dan gadis bermahkota pink itu menggelengkan kepalanya. Hinata mengerti diapun pergi meninggalkan Naruto berdua dengan Sakura.
Sakura melangkahkan kakinya dan dia menyimpan beberapa kelopak bunga melati kecil disana. Naruto sedikit terkejut dengan kehadiaran Sakura.
"Sakura, apa yang kau lakukan disini? Lukamu ..."
"Tidak penting, ini tidak cukup sakit dibandingkan dengan kehilangan kakek tua itu, kan?" potong Sakura, tampak beberapa luka yang hampir mengering di wajahnya yang pucat. Sakura memandangi Naruto.
"Kenapa?" tanya pemuda itu.
"Seharusnya kau marah padaku, seharusnya kau meluapkan semuanya padaku." Kata Sakura datar.
"Ada beberapa hal yang perlu kau mengerti Sakura, aku tahu kalau Profesor Sarutobi tidak mengorbankan nyawanya percuma untuk mu. Dia tahu apa yang dia lakukan." Jelas Naruto, tatapannya tampak sendu dan iba disaat yang bersamaan. Dia tahu apa yang Sakura rasakan.
Mereka berdua diam memandangi monumen itu seakan masih belum rela akan kehilangan mereka.
"Mau berbagi kesedihan?" tawar Naruto. Tanpa menunggu lama Sakura berhambur memeluk pemuda di sampingnya itu dengan erat.
"Maafkan aku...aku tak pernah berharap siapapun dari kalian berkorban untuk ku." Bisik Sakura. Naruto tidak tahu apa gadis ini menangis atau tidak, mungkin air matanya tersamarkan oleh hujan.
"...dan kami semua tidak pernah keberatan berkorban untukmu. Kita hanya perlu lebih kuat lagi Sakura, hanya itu. Aku tahu ini tidak mudah, kadang masa-masa sulit harus kita lewati agar lebih dewasa." Naruto mengelus lembut punggung Sakura yang gemetar.
"Aku merasa sangat kecil dan sangat tidak pantas berada di tengah kalian." Isak Sakura.
"Sttt... jangan bicara seperti itu. Cukup hari ini kita bersedih, aku yakin Profesor tidak akan suka kalau kepergiannya diiringi dengan kesedihan dan penyesalan terus menerus."
Sakura melepaskan pelukannya.
"Pergilah pada Sasuke, dia membutuhkan mu." Ucap Naruto.
Sakura membuka pintu kayu itu dengan perlahan. Sepi, kamar itu begitu sunyi. Tak ada yang menjawab ketika dia masuk. Begitu ia masuk dia bisa melihat Sasuke sedang duduk di tepi ranjang memunggungunya. Ia menunduk begitu dalam. Sasuke mengenakan pakaian serba hitam, tapi Sakura tidak melihatnya tadi. Sasuke tidak datang.
Ia tahu kalau Sakura datang, tapi dia tidak menoleh atau berbicara sepatah katapun. Sakura naik ke atas ranjang, menghampiri Sasuke dan memeluk lelaki itu dari belakang. Lelaki itu tidak menolaknya, bahkan dia seakan memberi isyarat agar Sakura memeluknya lebih erat lagi dengan menggenggam tangan Sakura. Gadis itu tahu sekali dengan apa yang dirasakan Sasuke. Semua orang disini menganggap Profesor Sarutobi adalah ayah dan keluarga mereka yang paling berharga. Karena hampir semuanya di selamatkan oleh Profesor Sarutobi ketika mereka sudah putus asa dengan hidup mereka yang tak bisa diterima oleh orang lain. Mereka yang tak diberi tempat diluar sana, Profesor Sarutobi memberikan mereka rumah dan keluarga. Sesuatu yang berat dan sangat berharga.
Sakura sengaja sengaja memeluknya dari belakang karena ia tidak mau melihat keadaan Sasuke. Sakura tahu kalau pemuda itu sangat kelelahan dan sangat kacau. Sakura mengecup pundak Sasuke. Berusaha memberikannya kekuatan seperti yang ia lakukan beberapa hari yang lalu padanya. Sakura mengelus tangan Sasuke perlahan. Tak perlu cenayang untuk menenangkan seorang laki-laki yang sedang bersedih. Karena mereka juga sama dengan perempuan. Hanya butuh sandaran dan naungan ketika mereka sedang kacau.
"Sasuke, kau pasti lelah. Aku tahu kau tidak tidur selama berhari-hari. Tidurlah!" Ujar Sakura. Sasuke tidak mau mendengarkannya.
"Istirahatlah, aku disini." Perlahan tapi pasti, Sakura mengarahkan pemuda itu untuk berbaring. Tak sedetikpun Sasuke melepaskan tangan detik kemudian mereka berdua sudah terbaring di ranjang. Sakura menciumi tangan Sasuke.
"Tidurlah," dan iapun membiarkannya terlelap setelah hari-hari yang melelahkan ini. Tak perlu kata-kata bagi Sakura untuk mengerti Sasuke. Meski sangat sulit untuk membaca apa yang dipikirkan pemuda ini tapi sangat mudah untuk mengerti dirinya. Sakura memeluk lembut tubuh tegap itu, lalu tangan kanannya menyentuh pelipis Sasuke. Membiarkannya tenang dalam pelukan Sakura.
Sementara itu di markas Brotherhood, Orochimaru terluka parah, ia telah kehilangan kedua tangannya. Tangannya telah membusuk dan tidak bisa digunakan lagi. Ia mengerang dan mengamuk. Ia menyerang semua orang yang berani mendekatinya. Kabuto selaku orang kepercayaannya dan juga seorang yang ahli dalam medis mencoba untuk menemukan penawar untuk penyembuhan tangan Orochimaru.
"Obat ini hanya akan bekerja sebagai penahan rasa sakit, aku tidak bisa mengembalikan sel-sel ditanganmu yang telah membusuk tapi aku bisa memperbaiki luka-luka yang lainnya." Ujar Kabuto setelah menyuntikan sesuatu kedalam tubuh Orochimaru.
"Apa yang dia lakukan padaku?" tanya Orochimaru.
"Haruno...dia telah mengehentikan regenerasi selmu dan kedua tanganmu tidak akan pernah bisa sembuh." Jawab Kabuto takut-takut.
"ARRRGGGHH!" Dia berteriak marah.
"Perkiraan anda salah Tuan, Haruno mungkin mudah dikalahkan, tapi ternyata mahluk yang ada di dalam tubuhnya, Phoenix, lebih ganas dari yang kita kira." Jelas Kabuto.
Orochimaru terdiam tampak berpikir, sesekali tangannya yang telah menghitam itu gemetar menahan sakit.
"Jika Haruno tidak bisa dimiliki maka dia...harus dihancurkan."
'Lemah...'
'Kau lemah...'
'Kau tidak pantas berada disana, kau tidak bisa melindungi siapapun...'
'Kau lemah...'
"TIDAK!"
Sasuke terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin, dia lupa dia ada dimana dan apa yang terjadi sebelum ia tidur. Yang ia ingat hanya bola mata berwarna semerah darah yang menatapnya dengan tajam. Selang beberapa detik, ia sadar sepenuhnya ketika ia mendengar sebuah tarikan napas teratur di disebelahnya dan dia menemukan Sakura sedang terlelap disampingnya. Gadis itu masih menggenggam tangannya dengan erat
—perempuan ini.
Bahkan luka-lukanya belum mengering sempurna.
"Mimpi buruk?" tanya gadis itu tiba-tiba masih dengan mata tertutup.
"Hn"
"Apa dia? Dia kakakmu?" tanya Sakura mulai membuka matanya.
"Ya," jawab Sasuke singkat. Jelas Sakura dengan mudah tahu apa yang Sasuke impikan barusan.
Sakura bangkit dari tidurnya, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan atau yang harus ia katakan. Dia hanya menyentuh tangan Sasuke mencoba menenangkannya kembali.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Sakura.
"Hn." Sasuke mengangkat tangannya menyentuh puncak kepala Sakura.
"Baguslah." Untuk saat ini sepertinya Sasuke sudah jauh merasa lebih baik, sebenarnya Sakura ingin membicarakan sesuatu tentang Itachi Uchiha dengan Sasuke, tapi sepertinya sekarang bukan saat yang tepat.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Sekali lagi Sakura mengecup pundak Sasuke lalu berlalu pergi dari kamar Sasuke.
Sementara itu sang pemuda yang ditinggalkan kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Semua yang ia alami akhir-akhir ini begitu berat. Kembali dia teringat dengan mimpinya barusan. Kematian Profesor Sarutobi begitu membuat semua orang terpukul, termasuk dirinya. Kalau saja dia bisa melindungi semuanya, hal ini tidak akan terjadi. Apa benar dia masih begitu lemah? Bahkan sama sekali tidak ada bedanya dengan yang dulu. Apa dia sama sekali tidak mendekati kakaknya? Tangan kekar itu mengepal kuat, meluapkan semua kemarahannya.
"Itachi..."
A/N ; Sesuai janji saya Update hari ini, gimana guys moment Sasusaku-nya? engga tau kenapa Pairing ini tuh bikin gereget. Saya tidak ingin membuat Sasusakunya terlalu roman karena saya ingin mengambil suasana aslinya seperti Jean Grey dan Logan dalam film aslinya. Buat contekan chapter depan peran akatsuki mungkin akan lebih banyak, dan buat next chapter juga akan di update mungkin sekitar hari Selasa atau Rabu. Jadi, trims banyak buat commentnya. Keep review,fav, and follow :) Salam Author
