Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : THE OMEGA
©LONGLIVE AUTHOR
Chapter 14
Hampir dua minggu setelah kejadian itu dan berita kematian Profesor Sarutobi telah diketahui oleh Dewan Perwakilan Mutan dan juga semua lima negara aliansi dan itu menjadi sebuah berita yang mengejutkan untuk semua orang. Tapi Kakashi meminta agar kabar ini tidak disebarkan lewat media karena itu akan mengejutkan semua orang atau lebih tepatnya memancing berbagai opini sehingga membuat semua orang panik. Hari itu Danzou datang ke X mansion untuk berbicara secara pribadi denganKakashi dan para anggota X-Men senior.
"Berita kematian Profesor Sarutobi begitu mengejutkan kami semua, tidak kusangka kalau Brotherhood telah berbuat sejauh itu." Ujar Danzou.
"Ya ini memang sangat mengejutkan." Kakashi mengiyakan.
"Kalian tahu apa artinya ini? sekarang siapa yang akan bertanggung jawab atas Konoha Gifted Youngster School? Aku sedang membicarakan tentang pemindahan tanggung jawab sekolah ini terhadap dewan karena kalian bisa lihat sendiri kalau para orang tua murid sudah mulai mencemaskan keamanan mereka terlebih lagi setelah sepeninggalnya Profesor Sarutobi." Ujar Danzou.
Mereka semua tidak dapat memungkiri kalau memang para orang tua mulai mencemaskan keselamatan anak-anak mereka yang bersekolah disini dan tidak bukan mungkin kalau sekolah ini akan ditutup.
"Ya, kami tahu soal itu, tapi jika memikirkan itu sekarang kurasa kau terlalu terburu-buru." Balas Asuma.
"Tapi tidak ada pilihan lain selain memberikan tanggung jawab sekolah ini pada kami." Kata Danzou.
Kakashi terdiam tampak berpikir beberapa saat. Otak jeniusnya sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa menolak tawaran Danzou.
"Dengan memberikanmu tanggung jawab sekolah ini maka kau bisa menggunakan para murid unuk kepentingan negara,kan? Apa kau masih berniat untuk menjadikan Sakura senjata?" tanya Kakashi intens, tatapan itu begitu tajam seperti memberikan satu tatapan skak matt.
"Kau sudah tahu apa yang terjadi pada Orochimaru dan Brotherhood yang lain. Kau tidak akan bisa!" lanjutnya.
Danzou terdiam, sepertinya ia merasa dikalahkan.
"Jadi apa yang akan kalian lakukan kedepannya?" tanya Danzou.
"Kami akan mempertimbangkan tentang kepala sekolah yang baru, kami akan meneruskan apa yang Profesor Sarutobi perjuangkan." Jawab Guy, kali ini pandangannya tampak serius.
"Baiklah jika begitu, sepertinya aku harus pergi sekarang. Semoga berhasil tapi dunia tidak semakin damai di luar sana." Ujar Danzou bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan itu diikuti dengan Kakashi.
Tepat dikoridor mereka berpapasan dengan Sakura, dia sedang berjalan sambil membawa beberapa buku. Danzou menatapnya, begitu juga sebaliknya.
'Kau kalah!'
Sekarang semua orang tahu kalau mutan kelas Omega itu adalah Sakura. Gadis itupun tidak mau memungkirinya atau mencoba menolak itu lagi. Dia adalah mutan kelas Omega dan ia tahu itu. Sejak dia menerima kenyataan itu Sakura sudah tidak memiliki rasa takut terhadap siapapun lagi. Hatinya sudah kebal dengan ketakutan. Hanya satu hal yang paling dia takutkan, ialah keselamatan teman-temannya. Sakura sudah bisa lebih tenang dalam menerima dan mengambil keputusaan atau mengatur emosinya sekarang tapi satu yang selalu terbesit dibenaknya. Adalah bagaimana caranya melindungi teman-temannya ini dari orang lain dan juga dirinya sendiri.
Sakura sadar betul kalau dia bisa melenyapkan satu pasukan Brotherhood begitu saja, ia tidak mau sampai dia menyakiti teman-temannya. Saat ia memikirkan itu tak sengaja dia menabrak seseorang.
"Whoa, Sakura ada apa denganmu?" tanya Kakashi.
"Ou,tidak. Maaf." Ujar Sakura cepat-cepat.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kakashi.
"Tidak," ujar Sakura berdusta. Mata sayu Kakashi menyipit, ia tahu kalau Sakura sedang berbohong, ia harus segera menemukan alasan yang bagus untuk ini.
"Ya, aku sedang berpikir tentang orang yang akan menggantikan Profesor Sarutobi. Kurasa kau orang yang tepat." Tambah Sakura.
"Menurutmu begitu?" tanya Kakashi lagi.
"Siapa lagi? Kau adalah orang yang paling dekat dengan Profesor dan juga paling ia percaya." Jawab Sakura.
"Entahlah, kita semua juga sedang memikirkan itu." Ujar Kakashi menerawang.
"Apapun keputusannya, kuharap kalian tidak pernah berpikir untuk menutup sekolah ini, banyak sekali yang membutuhkan sekolah ini." Kata Sakura.
"Ya, aku tahu."
Malam itu dia pergi ke ruangannya Profesor Sarutobi hanya sekedar untuk menenangkan diri. Seperti biasa ruangan itu selalu hangat. Perapiannya menyala memberikan warna lembut pada ruangan itu. Dia berjalan ke meja Profesor Sarutobi dan memandangi meja ini dengan seksama. Begitu tangan Sakura menyentuhnya dia langsung tahu kalau meja ini sudah berada disini lama sekali. Mungkin semenjak beberapa generasi. Disini Profesor Sarutobi membuat semuanya, memikirkan semuanya.
Benda-benda itu terlihat sama, memang sepertinya tidak ada yang menyentuh benda-benda ini sepeninggal Profesor Sarutobi. Sakura duduk disalah satu kursi disana dan memandangi langit malam lewat jendela besar yang berada diruangan itu. Kalau saja Profesor Sarutobi masih ada dia ingin berbincang panjang lebar dengannya malam ini.
Tiba-tiba saja Sakura tersentak dia merasakan sebuah hawa mutan di ruangan itu. Hawa mutan yang sama seperti di malam sebelum terjadi penyerangan.
"Bernostalgia?" tanya sebuah suara di belakangnya. Sakura bangkit dari kursinya dan berbalik. Dia menemukan seseorang sedang duduk di sofa sambil menyilang kakinya. Seorang pria dengan jubah bercorak awan merah.
—wajah itu..
Mirip sekali dengan Sasuke, dia..
"Itachi Uchiha?"
Sakura harus sangat waspada dengan orang ini. Begitu melihatnya saja Sakura langsung tahu kalau pria ini adalah mutan kelas tinggi, lebih hebat dari Kakashi bahkan juga Kabuto. Dia adalah salah satu dari orang-orang yang mengincarnya.
"Ruangan ini masih sama hangatnya seperti ketika pertama kali kesini," Suara beratnya begitu tenang. "Akan sangat menyenangkan jika tinggal disini." Sambungnya.
Entah kenapa Sakura merasakan hal yang aneh. Seharusnya dia merasa terancam didekat orang ini. Tapi tidak, ia tidak merasa terancam sama sekali. Dia merasa kalau pria ini tidak . . . berbahaya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Sakura.
"Hanya berkunjung, sama seperti yang dilakukan Danzou tadi siang," jawabnya. "Kenapa? Lagipula aku juga ingin mengunjungi adik ku?"
Mata Sakura menyipit dan berkilat keemasan, mencoba menembus pikiran pria dihadapannya. Pria itu menyadarinya.
"Itu tidak sopan Nona, aku memang tidak bisa memblokir pikiranmu, tapi kau tidak perlu melihat-lihat isi kepalaku." Ujar Itachi.
"Kutanya sekali lagi, apa yang kau inginkan?" tanya Sakura.
"Kau akan segera mengetahuinya, Dear..." jawab Itachi. Tak lama kemudian Sakura merasakan hawa mutan yang lain datang dari arah pintu. –ini, dia Sasuke. Sakura hampir saja bisa menahan pintu itu, tapi terlambat. Pintu itu telah terbuka dan menampakkan Sasuke yang sudah dipenuhi dengan aura kemarahan.
"Kau..." ujar Sasuke dengan suara tertahan.
Bagaimana Sasuke bisa tahu kalau Itachi berada disini? Atau semua ini memang sudah direncanakan? Apa mungkin jebakan? Pikir Sakura.
"Ah,.." gumam Itachi.
Tak peru waktu lama, tangan Sasuke sudah dipenuhi dengan listrik bertegangan tinggi. Satu ruangan bersamanya saja sudah membuat bulu kuduk merinding akibat efek dari listriknya. Seketika kedua bola matanya berubah menjadi merah, begitu juga dengan Itachi. Mereka saling menatap tajam satu sama lain.
"Halo, Kakak." Ujar Sasuke yang lebih terdengar seperti sebuah ejekan.
Itachi mendengus, dengan gerakan cepat Sasuke mendekati Itachi dan hampir saja sengatan listrik yang besar itu mengenai Itachi. Sakura sudah mengangkat tangannya hendak menghentikan Itachi tapi.
"JANGAN IKUT CAMPUR SAKURA!" teriak Sasuke.
"Kau masih lemah rupanya." Bisik Itachi.
"Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk saat-saat seperti ini." Balas Sasuke.
Sang kakak hanya menyeringai meremehkan. Dia masih memegangi lengan Sasuke,tangan Itachi sudah sedikit terbakar. Dingin, auranya dingin seketika. Sakura bisa merasakan itu, seketika ia bisa merasakan kalau pria ini sangat berbahaya. Tidak seperti yang tadi, mungkin dia sengaja. Entahlah Sakura tidak mengerti, pria ini sama sulitnya untuk dibaca seperti Sasuke.
Sasuke menyerangnya bertubi-tubi namun Itachi hanya menghindarinya seolah hanya ingin melihat kemampuannya, membuat beberapa perabot jatuh dari tempatnya.
"Cukup...! Kau tetap lemah dan tak akan pernah berubah!"
Tangan Itachi yang dibubuhi cat kuku berwarna hitam itu mencengkram leher Sasuke dengan kuat sehingga ia tak berkutik. Sehingga kini terlihat jelas perbedaan kekuatan mereka berdua.
"Sasuke!" pekik Sakura, ini tidak bisa dibiarkan.
"INI URUSANKU !" teriak Sasuke, bahkan dalam keadaan tercekik seperti itupun dia tetap keras kepala. Sasuke mengerti kalau kemarahan Sasuke tidak bisa dibendung sekarang ini tapi dia sedang ridak berpikir jernih sekarang.
"Sasuke apa yang kau pikirkan?" jerit Sakura, dia harus menghentikannya.
"Kau sudah dengar? Kau jangan ikut campur. Biarkan dia menyelesaikan urusannya." Ujar Itachi.
Tiga titik hitam yang ada di matanya itu berputar perlahan, dan Itachipun mencengkran leher Sasuke semakin kencang sehingga hampir saja Sasuke terangkat dari lantai.
"Dulu kau bilang kalau mataku ini adalah mata yang terkutuk dan sekarang kau sudah berani menggunakan mata ini padaku?" tanyanya mengejek.
"Maaf tapi ini takkan mempan padaku, bercerminlah Sasuke!" katanya lagi. Kedua pasang mata itu bertemu dan kejadiannya begitu cepat. Sasuke berteriak begitu keras. Dia mencengkram tangan Itachi sampai tangan pucat itu berdarah.
"BERHENTI!" Sakura berlari kearah mereka. Seketika tubuh Itachi terlempar begitu saja ke menabrak rak buku. Pakaiannya sudah compang camping terkena serangan listrik dari Sasuke begitu juga dengan tangannya yang sengaja menerima serangan Sasuke itu sudah menghitam karena terbakar. Tapi laki-laki itu tidak tampak kesakitan sedikitpun. Matanya masih sama tajam dan sama dinginnya seperti tadi.
"Sasuke?" Sakura memegangi Sasuke yang sudah terbaring lemas di lantai. Matanya kosong, segera Sakura mencari denyut nadi dari pemuda yang berada dihadapannya ini takut kalau denyutnya itu hilang. Tapi tidak, denyut itu masih ada namun tak beraturan. Berbanding terbalik dengan kedua matanya yang kosong.
"Apa yang kau lakukan?" jerit Sakura.
"Kau akan tahu." Itachi bangkit seiringan dengan terdengarnya suara langkah kaki dari luar.
"Sakura-chan...ada apa?" naruto muncul dari balik pintu bersama Kakashi, Sai, dan Shikamari.
"Aku mendengar terikan dari sini." Sambung Sai.
"Itu tidak penting, sekarang cepat bantu aku membawa Sasuke." Kata Sakura.
Mereka semua menggotong tubuh Sasuke yang tak berdaya menuju rumah sakit sekolah.
"Ada apa sebenarnya ini?" tanya Naruto panik.
"Tenang dulu Naruto, kita dengarkan Sakura dulu." Ujar Shikamaru.
Sakura memandangi tubuh Sasuke yang terbaring di ranjang.
"Apa dia?" tanya Kakashi ragu-ragu.
"Ya, dia datang kemari. Itachi Uchiha." Jawab Sakura.
Mata Kakashi membulat heran. Sedangkan Naruto sudah tersulut lebih dulu emosinya.
"Kenapa orang itu bisa berada disini?" kata Naruto.
"Tenang Naruto." Sai memegangi bahu Naruto.
"Entahlah, aku juga tidak yakin. Dia bilang hanya ingin...berkunjung." Jawab Sakura lagi.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Shikamaru.
"Tidak, dia tidak melakukan apapun padaku. Dia hanya..." Sakura teringat dengan tatapan dingin itu, "...hanya bicara denganku."
Entah kenapa Sakura merasakan firasat buruk tentang hal yang akan terjadi selanjutnya. Tatapannya tak henti berpaling dari Sasuke. Wajah pucat itu bahkan memancarkan aura yang kuat saat ia sedang tak sadarkan diri. Aura apa itu, Sakura sendiri tidak mengerti. Seperti sesuatu yang tertahan dan akan meledak kapanpun dia mau.
"Sakura?" panggil Kakashi. Sakura menoleh.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Kakashi. Pandangannya terlihat tak yakin.
"Tidak, kurasa tidak ada."
Itachi Uchiha telah berhasil masuk kedalam X Mansion tanpa diketahui dan itu membuat penghuni X mansion geger untuk kesekian kalinya. Sudah tiga hari dan Sasuke belum sadar juga. Hari itu Sakura menjenguk Sasuke. Ia melihat Ino, Chouji, dan Lee baru saja keluar dari disana. Ia memasuki ruangan yang itu dan menemukan Sasuke masih menutup matanya. Beberapa luka kecil hampir mengering.
Sakura berdiri disana, Itachi tidak memberikan luka fisik yang berarti pada Sasuke. Tapi dia sudah mengacaukan psikisnya. Sakura ingat bagaimana mata Sasuke tidak menerima respon sama sekali, dan bagaiman ia berteriak saat mereka bertemu pandang. Tangan Sakura bergerak terulur menyentuh kening Sasuke dan gadis itu mulai memejamkan matanya.
Pikirannya telah terhubung dengan Sasuke sekarang. Ia merasa sedang berada diruangan gelap, dingin, dan juga kotor. Sangat menjijikan, Sakura bertanya-tanya mahluk apa yang mau tinggal disini. Ia berjalan di ruangan gelap itu dan menemukan secercah cahaya kecil. Sakura berjalan kesana dan menemukan Sasuke sedang meringkuk disudut ruangan itu dengan seberkas cahaya lilin yang lemah dan hampir padam.
'Sasuke?' panggil Sakura.
Matanya menyala merah di ruangan gelap itu. Wajahnya terlihat menyeramkan dan kacau. Tangannya mengepal keras dan aura kemarah terpancar jelas dari tubuh itu.
'Sasuke!' Kaki Sakura melangkah hendak mendekati Sasuke, tapi seolah ada yang menghalanginya dia tidak bisa mendekati Sasuke sedikitpun.
'Sasuke biarkan aku masuk!' jerit Sakura. Sepasang mata merah itu hanya memandangi Sakura tidak membiarkannya masuk.
'SASUKE DENGARKAN AKU!' Sasuke tidak menggubrisnya, sementara itu nyala lilinya hampir padam.
'Sasuke...?' bisik Sakura.
Tangan kekar itu bergerak dan menggenggam sumbu lilinnya sampai padam, dan semuanya...gelap.
Sakura kembali pada kesadarannya, ia menarik tangannya dari Sasuke dan seketika perasaan tak mengenakan menjalar sampai ke sela-sela jari kakinya. Ini tidak akan bagus.
Malam ini Sakura tidak bisa tidur, dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya sedang tak menentu kali ini. Dalam hati ia berpikir, apakah Profesor Sarutobi juga sering mengalami hal ini. Sudah lama sekali semenjak Sakura tidak bisa tidur dengan nyenyak. Selalu ada saja yang menganggu pikirannya. Tapi perasaanya benar-benar tidak enak saat ini.
Lagi-lagi dan untuk kesekian kalinya Sakura turun dari tempat tidurnya. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan di koridor gela X mansion. Sakura mulai menyadari sesuatu saat ia mendengar suara pintu yang tertutup.
"Tidak mungkin..."
Tanpa menunggu lama Sakura berlari menuju pintu depan X mansion dan saat ia sampai dipekarangan ia melihat sosok itu berjalan hendak keluar melewati gerbang X Mansion yang sudah terlampau jauh dari pintu masuk.
"Tidak mungkin..." Ia berlari ke pintu gerbang, dan untunglah masih sempat terkerjar. Sosok itu sudah berdiri di ambang gerbang.
"Tunggu!" Teriak Sakura.
Sosok itu berhenti namun tak berbalik atau menjawab panggilannya sama sekali. Mereka hanya ditemani oleh sinar rembulan dan juga semilir angin dingin yang menggerakkan surai mereka.
"Mau kemana kau...Sasuke?" tanya suara itu begitu lirih.
"Bukan urusan mu!" suara itu begitu dingin sampai-sampai Sakura merasa telah dijatuhkan kedalam air es dan tidak bisa bernapas.
Mereka masih terdiam dan menikmati udara malam dalam ketegangan.
"Balas dendam...? Apa itu yang kau pikirkan?" tanya Sakura perlahan, " kau tidak akan mendapatkan apapun dengan membalaskan dendammu itu. Apa kau mau membuang semuanya begitu saja?"
Sasuke masih terdiam dan enggan berbalik sedikitpun.
"Apa kau tidak menghormati pengorbanan Profesor Sarutobi?"
"..."
"Kemana kau akan pergi?"
"..."
"Apa yang akan kau dapatkan?"
"..."
"SASUKE JAWAB AKU!" Sakura sudah tidak tahan untuk tidak berteriak. Mau tidak mau sosok itu berbalik dan menatap Sakura yang sudah marah.
"Kau tidak tahu apapa tentangku, kau tidak tahu apa-apa tentang Itachi." lanjutnya.
"Cih, lalu apa-apaan kau waktu itu meyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja. Apa itu hanya omong kosong? Sejak kapan kau menjadi bodoh seperti ini?" tanya Sakura.
"Aku tidak ada waktu untuk berbicara panjang lebar denganmu!" Sasuke kembali berbalik dan mulai melangkahkan kakinya.
—"Hei mau kemana kau, Sasuke?" terdengar suara orang lain di belakang mereka, dan ternyata Naruto muncul. Sasuke kembali menghentikan langkahnya.
"Aku setuju dengan Sakura, sejak kapan kau menjadi orang tolol seperti ini? Kemana perginya Sasuke yang jenius dan sering menyebutku bodoh?" Naruto menatap nanar sahabatnya itu. Kini Sakura dan Naruto sama-sama sedang menunggu jawaban dari Sasuke berharap mereka bisa menghentikan perbuatan bodohnya.
"ADA APA DENGANMU SASUKE?!" teriak pemuda berambut pirang itu frustasi. Sedangkan yang diteriaki kembali terdiam tanpa berbalik menatap mereka berdua.
"Kemana kau akan pergi?" tanya Naruto nadanya telah merendah. "Mungkin Sakura tidak tahu apa-apa tapi dia benar. Kalau kau pergi, kau adalah manusia yang sangat bodoh Sasuke. Aku tahu segalanya tentang dirimu, kau mungkin menyimpan dendam yang besar pada Itachi, tapi dengan meninggalkan kami semua kau tidak akan mendapatkan apapun."
"Kau tidak tahu!" dengan tegas Sasuke menyangkalnya. Terlihat jelas kalau Naruto sedang menahan tinjunya dari kedua tangannya yang mengepal kencang. Naruto dan Sakura tidak tahu setan apa yang sudah meracuni pikiran Sasuke.
"Jangan pergi Sasuke..." pinta Sakura.
Ia tak mengatakan apapun. Kedua kakinya kembali berjalan, keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat dan sepertinya Naruto sudah tidak bisa membendung kekesalannya.
"SASUKE!"
Naruto berlari kearah Sasuke diiringi dengan angin kencang disekelilingnya. Urat-urat ditangan Naruto sudah terlihat. Sasuke berbalik dan tinju yang sangat keras tepat mengenai rahangnya sehingga memunculkan noda darah yang mengalir disana. Naruto mengenggam kerah baju Sasuke dan berniat untuk memukulnya kembali, namun sekali lagi Naruto berusaha untuk menahannya. Sepasang mata biru safir dan sepasang mata kelam itu bertemu. Ia juga mengerti kalau amarah dan keinginan untuk membalas dendamnya itu sudah tak tertahankan, tapi dia tidak bisa membiarkan Sasuke pergi begitu saja.
Tubuh itu tetap tak bergeming seolah memang sengaja menerima pukulan itu, wajah itu juga tetap datar dan sama sekali tak berubah atau menunjukan ekspresi yang berarti. Detik kemudian sebuah petir menyilaukan muncul dan ketika mereka sadar, Sasuke telah memberikan sebuah serangan telak di dada kiri Naruto dan tanpa komando darah muncul begitu saja dari mulut Naruto.
"NARUTO!" jerit Sakura. Naruto jatuh seketika dan tanpa berpikir Sakura berlari kearah Naruto. Dada kirinya terluka parah dan meninggalkan sebuah luka yang masih segar. Sakura merengkuh tubuh Naruto.
"Apa yang kau lakukan?" Mata Sakura membulat sempurna, dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Sasuke. Sebelah tangan Sakura menggenggam tangan Naruto dan yang satunya menekan luka di dadanya.
Sasuke hanya memandangi mereka. Masih dengan wajah datar, tapi bagi Sakura yang terlihat hanyalah sebuah tatapan merasa bersalah dan juga terluka. Namun tak lama kemudian tatapan itu berganti menjadi sebuah tatapan dingin. Nyatanya Sasuke sudah bulat dengan keputusannya. Dia membuang semuanya.
"Aku bisa saja menghentikanmu, atau membunuhmu sekarang juga," wajah Sakura sudah memanas, ia ingin menangis sejadi-jadinya sekarang. "...tapi tidak, silakan jika kau mau pergi. Tapi kau tidak akan bisa bersembunyi... Tidak akan pernah." Rengkuhan Sakura semakin kuat memeluk tubuh lemas Naruto. Merasakan detak jantung Naruto yang semakin melemah, air matanya mulai meleleh.
"Sa...suke..." Bahkan dalam keadaannya yang sekarat dia masih memanggil nama Sasuke.
Pemuda itu berbalik dan melangkah pergi.
"Sial!"
A/N; Ya ampun, maaf karena sudah telat update. Ujian praktek dan waktu kritis menjelang UN bikin enggak fokus. Chapter ini benar-benar menguras isi kepala saya, soalnya menurut saya ini chapter yang susah. Tapi makasih buat segala apresiasinya. Segala komen saya terima, beberapa pertanyaan pasti akan terjawab di cerita selanjutnya. Jadi keep follow, review, and fav :) salam Author..
