Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe

X-MEN : THE OMEGA

©LONGLIVE AUTHOR


Chapter 15

Pria berwajah hiu itu masu ke ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ruangan itu seperti biasa hanya di terangi cahaya temaram yang redup. Membuat ruangan itu begitu lembut sekaligus menyeramkan untuk dihuni. Pria yang lain sedang duduk dan sedang mengamati sebuah lilin kecil.

"Hei Itachi? Apa kau tahu Pain sudah marah-marah karena kau belum memulainya, jadi kapan?" tanya pria itu.

"Aku tidak perlu melakukan apapun Kisame." Jawab Itachi singkat.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

"Sebentar lagi."


Kakashi terbangun dari tidurnya. Entah kenapa ia terbangun begitu saja seolah ada seseorang yang berteriak di kupingnya dan membuatnya terbangun. Ia menegakkan dirinya di ranjang dan memasang telingan baik-baik. Sunyi. Masih sama sunyinya seperti sebelum dia tidur. Semenjak kepergian Profesor Sarutobi entah kenapa ia merasa tidurnya selalu tidak tenang. Mungkin karena ia merasa kalau sekarang tanggung jawabnya untuk menjaga anak-anak lebih besar dari sebelumnya. Ia tidak ingin kejadian seperti saat penyerangan terjadi lagi dan hal itu membuatnya harus lebih waspada lagi.

Tiba-tiba ia mendengar samar-samar sebuah suara dietengah kesunyian. Kakashi sendiri sebenarnya tidak yakin dengan hal itu tapi toh pada akhirnya dia bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya. Ia memperhatikan tidak ada yang aneh dengan koridor dimana dia berdiri sekarang. Kepalanya menegadah ke arah jendela dan juga pintu masuk tapi tidak ada yang terbuka. Akan tetapi saat dia melangkahkan kakinya dia merasa menginjak sesuatu. Seperti sebuah cairan di lantai. Ia tidak bisa melihatnya jelas karena keadaan koridor yang gelap. Namun saat dia menyentuh cairan itu dan menciumnya dia terlonjak kaget.

"Darah?"

Lalu iapun menyalakan semua lampu koridor dan menemukan bercak-bercak kecil berwarna merah sepanjangan koridor. Ia pun bergegas mengikuti bercak-bercak itu dan ternyata darah itu berhenti di ruang perawatan yang pintunya tertutup rapat. Kakashi membuka pintu itu dan dia sesuatu yang sangat mengejutkan.

Dia menemukan Sakura sedang mondar-mandir memasangkan alat-alat ke tubuh Naruto yang terbaring penuh darah dengan sebuah luka menganga besar di dadanya. Sebuah monitor plasma di samping tempat tidur menunjukan detak jantung Naruto yang sangat lemah.

"Sakura? Ada apa dengan Naruto?" tanya Kakashi panik. Gadis itu terlihat sangat kacau sekali. Dia tidak menggubris pertanyaan Kakashi sama sekali. Dia tetap melanjutkan pekerjaannya, terlihat sekarang Sakura sedang merobek kasar sisa-sisa pakaian Naruto sehingga meninggalkannya dengan telanjang dada. Darah di tangan Sakura juga meninggalkan banyak noda darah di banyak tempat.

"Sakura, ada apa dengan Naruto!" ia berteriak.

Terdengar sesekali Naruto merintih lemah.

"Shhh...sshhh. S-sebentar lagi." Jawab Sakura seraya tangannya yang gemetaran terus menekan pendarahan di dada Naruto.

"Bius...obat biusnya, DIMANA OBAT BIUSNYA?!" Teriak Sakura pada Kakashi. Tanpa tunggu lama Kakashi membuka sebuah laci dan mengambil sebuah suntikan yang sudah berisi obat bius. Lalu Kakashi menyutikkannya pada lengan Naruto yang membuat pemuda itu memejamkan matanya seketika.

Sementara detak jantung Naruto semakin melemah Sakura menggerakkan tangan kanannya untuk menyentuh luka di dada Naruto.

"Bertahanlah.." Ia memejamkan kepalanya merasakan semua otot dan urat jantung Naruto yang putus dan hampir berhenti bekerja. Perlahan tapi pasti satu persatu Sakura membuat jaringan-jaringan sel yang sudah terbelah akibat dari serangan Sasuke menyatu kembali. Ia menghentikan pendarahan dan menutup semua luka-luka kecil. Perlahan-lahan semua otot-otot yang hampir putus disekitar jantung kembali tersambung. Tak lama kemudian detak jantung Naruto berangsur-angsur kembali normal. Sakurapun melepaskan tangannya dari dada Naruto. Tubuhnya merosot, ia terduduk begitu saja di samping ranjang Naruto.

"Sakura, Sakura lihat aku!" Kakashi menangkap kepala Sakura dan mengarahkannya untuk menatapnya. "Ada apa dengan Naruto? Siapa yang melakukan ini padanya?" tanyanya lagi. Sulit dielaskan betapa kacaunya Sakura sekarang. Kakashi tahu ini bukanlah saat yang tepat, tapi ia harus tahu kenapa semua ini bisa terjadi.

"Luka itu? Siapa yang melakukannya?" tanya Kakashi lagi. Ia telah mengira tapi tak mau menebak-nebak. Membayangkannyapun tak mau.

"Sasuke." Jawab sakura singkat. Kakashi melepaskan tangannya dari Sakura, ia tidak percaya kalau Sasuke yang melakukan ini. "Kemana dia?" tanya Kakashi. Sakura hanya menggeleng lalu diapun bangkit dan meninggalkan Kakashi dan Naruto diruangan itu.

Sisa malam itu dipakai Kakashi untuk membersihkan semua noda darah ditubuh Naruto dalam diam. Dia membalut lukanya dengan telaten. Sakura sudah menyembuhkan Naruto dengan kemampuan Biokinesisnya dengan sempurna. Setengah hatinya masih tidak percaya kalau Sasuke yang melakukan hal ini. Dia pergi. Untuk membalas dendam. Bohong kalau Kakashi tidak tahu apa permasalahan antara kedua pemuda Uchiha bersaudara itu. Tapi Kakashi telah melihat bagaimana Naruto dan Sasuke tumbuh dan dia mengira kalau balas dendam adalah hal terakhir yang akan dilakukan Sasuke. Tapi ternyata tidak, keingingan membalas dendam itu selalu ada bahkan telah bersarang begitu dalam hingga berkerak hitam tanpa ada seorangpun yang tahu. Ia kira kalau Naruto adalah orang yang bisa mengisi kekosongan di hatinya sebagai seorang sahabat dan juga saudara. Tapi ternyata tidak, keinginan balas dendamnya lebih besar.

Itachi telah membunuh semua anggota keluarga Uchiha yang saat itu adalah anggota penting dari Dewan Perwakilan Mutan. Ia hanya menyisakan Sasuke yang saat itu berusia enam tahun. Tak ada yang tahu pasti apa alasan dibalik pembantaian itu, kecuali mungkin Profesor Sarutobi dan hal itulah yang sampai saat ini tidak Sasuke mengerti. Meskipun sebenarnya memang tidak ada yang tahu tentang hal itu. Kasus itu ditutup dan tak pernah diungkit lagi setelah Itachi pergi. Kini setelah kepergian Profesor Sarutobi, hanya Itachi yang tahu alasan di balik pembantaian itu.

Pikiran Kakashi melayang ke beberapa waktu lalu sesaat setelah Profesor Sarutobi memberitahu Sakura tentang kebenaran bahwa ia adalah mutan kelas Omega yang diincar.

'Kakashi, aku ingin kau menjaga mereka semua. Terutama Sasuke.'

'Kenapa?'

'Kemungkinan besar mereka tidak akan bisa mendapatkan Sakura dan akan mengincar mutan yang lain. Jangan sampai Itachi mempengaruhi Sasuke.'

Kemungkinan besar tindakan Sasuke ini karena pertemuannya dengan Itachi beberapa hari yang lalu, sehingga ia nekat meninggalkan X mansion dan meneruskan niat balas dendamnya. Ia yakin kalau sebenarnya Profesor tahu lebih banyak tentang mereka berdua atau bahkan hal-hal yang memang sengaja tidak diberitahu pada mereka semua.

Sementara itu Sakura menghabiskan waktunya membasuh dirinya dibawah pancuran air selama berjam-jam. Membiarkan semua noda darah mengalir. Ia tidak peduli meski tubuhnya sudah mengigil atau jemarinya sudah mengkriput karena kedinginan. Otaknya berpikir keras tentang apa yang harus dia lakukan. Perasaan ini...

—muncul lagi.

Rasa bersalah ini menggerogoti tubuhnya seperti sebuah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Belum lagi, ia juga sangat terpukul dengan kepergian Sasuke. Malam itu menjadi malam yang panjang untuk mereka yang ditinggalkan.


"Sakura! Dimana Sakura! Aku ingin bertemu dia!"

"Tenanglah Ino, sikapmu ini kekanak-kanakan!"

"Diam Shikamaru! Kalau tidak ada dia semua ini tidak akan terjadi!"

"Shikamaru benar, kau tidak bisa menyalahkannya. Kita semua tahu kalau Sasuke mempunyai urusannya sendiri."

"Tidak, guru Asuma. Ini semua salahnya! Sakura!"

Shikamaru dan Asuma masih berusaha menahan Ino saat Sakura muncul begitu saja didepan mereka sambil membawa segelas air dingin. Sejak pagi Ino berteriak-teriak mencari Sakura dan baru sekarang gadis bersurai merah muda itu terlihat batang hidungnya. Ia tampak kacau, kedua matanya tampak sayu dan ada lingkaran hitam yang jelas sekali disekeliling matanya. Jelas kalau semalaman Sakura tidak tidur.

Gadis itu tidak bereaksi sedikitpun. Dia hanya menatap Ino yang masih ditahan oleh Asuma dan Shikamaru.

"Kau!" Tubuh Ino terlepas dari genggaman kedua pria itu dan melesat dengan cepat kearah Sakura.

PLAKK!

Sebuah tamparan panas mendarat di pipi Sakura. Membuat sedikit noda kemerahan di ujung bibirnya.

"Semua ini gara-gara kau, Sasuke jadi pergi dan Naruto jadi terluka! Ini semua tidak akan pernah terjadi kalau kau tidak pernah datang kemari!" jerit Ino tanpa ampun. Ino meneriaki Sakura di depan semua anggota X Men.

"Ino hentikan.."

"Tidak Shikamaru! Perempuan ini adalah penyebab semua kekacauan yang terjadi. Kematian Profesor Sarutobi, kepergian Sasuke, dan juga Naruto. Semua karena dia!" wajahnya memerah karena marah. "sekarang siapa lagi yang akan kau buat celaka, huh?"

Shikamaru dan Asuma masih mencoba menahan Ino sebelum berbuat lebih jauh. Sedangkan Sakura masih tidak bereaksi apapun.

PRANGG!

Tiba-tiba saja gelas di genggaman Sakura pecah. Kakashi yang sejak tadi memperhatikannya sadar betul kalau Sakura sedang menahan emosinya di balik wajah datarnya itu. Semenjak kejadian akhir-akhir ini Sakura menjadi pintar menyembunyikan emosinya. Kakashi mendekati Sakura dan menyentuh bahunya kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Aku tahu..." Sakura angkat bicara. "...dan aku tidak pernah menginginkan siapapun dari kalian mati atau terluka untuk ku. Tapi jika kalian berpikir ini adalah salahku, aku minta maaf." Lanjutnya. Tak lama kemudian Sakura berbalik dan meninggalkan mereka semua.


Gadis berdiri disamping tubuh Naruto yang masih terbalut perban. X mansion kini begitu sunyi, hanya ada beberapa suara yang berasal dari alat-alat kesehatan yang melekat di badan Naruto. Dia memperhatikan wajah Naruto yang bahkan terlihat sedih dalam tidurnya.

"Sakura..."

Tiba-tiba saja sepasang mata itu terbuka dan menampakkan kedua safir yang redup.

"Mau kemana dengan pakaian seperti itu? Ini kan sudah malam." Suaranya terdengar parau.

Sakura mengencangkan sarung tangannya dan duduk di kursi untuk penunggu. Ia tersenyum.

"Hei, kau ini bagaimana. Jangan banyak bicara! Mau cepat sembuh atau tidak?" Ia berkata dengan nada seperti biasa saat memarahinya. Tapi Naruto merasa ada yang janggal. Sepasang safir itu menatapnya serius.

"Iya-iya...aku tidak akan kemana-mana kok, cuma kedinginan. Jadi aku memakai mantel." Jawab Sakura sedikit tertawa.

"Untuk apa kau memakai sarung tangan?" tanyanya lagi penuh selidik dan sedikit memaksakan suaranya yang parau.

"Sudah kubilang aku ini kedinginan, bodoh!" ejek Sakura. Mereka terdiam cukup lama. Naruto menatap Sakura dengan tatapan serius, sedangkan Sakura hanya membalasnya dengan senyuman.

"Beristirahatlah Naruto, sebentar lagi kau juga akan sembuh." Sakura mulai bicara lagi, "Kalau kau sudah sembuh kau jangan terlalu banyak makan ramen instan, itu tidak baik untuk pencernaanmu."

Ini mulai terasa aneh.

"Kau jangan sering bertengkar dengan Sai, yahh..aku tahu kalau dia sedikit tidak sopan tapi kau harus mengendalikan emosimu. Kau tidak mau kan kalau emosimu mengendalikan dirimu seperti yang terjadi padaku." Sakura menggenggam tangan Naruto. "Kau juga harus bersikap sopan pada Kakashi, dia itu kan gurumu juga meski kadang dia menyebalkan..." Sakura mulai memalingkan wajahnya.

"Sakura..." panggil Naruto.

"Kau harus..." gadis itu tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena tenggorokkannya sudah tercekat dan tangisannya akan pecah jika melanjutkan kalimatnya.

"...menjaga dirimu baik-baik."

Air mata itu tumpah. Gadis itu menarik napasnya menguatkan diri.

"Kita akan menjadi kuat, aku yakin itu." Katanya masih menggenggam tangan Naruto. Naruto bukannya tidak mengerti, dia sangat mengerti situsainya saat ini. Tentang dirinya, tentang Sakura, dan tentang semua yang terjadi. Dia sangat mengerti keadaan ini. Tak terasa air mata Naruto juga tiba-tiba saja memberontak ingin tumpah saat itu juga.

"Mau berbagi kesedihan?" tawar Naruto, dan tak lama kemudian tangisanpun pecah diruangan itu. Tangisan dari dua orang yang kehilangan. Dua orang yang ditinggalkan. Untuk beberapa menit mereka dalam keadaan seperti itu. Menumpahkan segala emosinya, meluapkan segalanya.

"A-aku tidak menghentikannya, kalau saat itu aku menghentikanya semuanya percuma." Dia terisak, "...aku bisa saja membuat Sasuke melupakan dendamnya, ta-tapi kita akan hidup dalam kebohongan. Maafkan aku jika keputusanku salah, maafkan aku karena sudah membiarkannya pergi."

"Ini bukan salahmu, Sakura-chan." Naruto menghapus air mata Sakura. "kita memang tidak bisa membolak-balik hati manusia begitu saja, aku mengerti. Mungkin memang harus seperti ini." Kini Naruto mencoba menguatkan Sakura. Gadis itu mengangkat kepalanya.

"Berjanjilah untuk membawa Sasuke kembali, hanya kau yang bisa melakukan itu."

"Aku berjanji." Naruto mengangguk. Sakura bangkit dari kursinya dan mengencangkan mantelnya.

"Kau mau kemana?" tanya Naruto dan lagi-lagi Sakura tersenyum. "Aku hanya mau jalan-jalan." Jawab Sakura.

"Kau mau membohongiku ya?" Naruto memalingkan wajahnya marah. "Setelah Sasuke, kau juga mau meninggalkan aku?" suaranya berubah dingin.

"Aku mau memberikan sebuah hadiah untukmu. Kuharap kau bisa terhibur dan memaafkanku karena ... aku harus pergi dari sini." Sakura kembali mendekap tangan Naruto dan seketika itu sebuah kenangan muncul di benak Naruto. Seorang wanita berambut merah panjang sedang tersenyum kearahnya sambil menyanyikan sebuah lagu tidur lalu di sebelahnya ada seorang pria berambut kuning tampan sangat mirip dengannya juga sedang tersenyum padanya seolah sedang menimang.

Setelah beberapa menit Sakura melepaskan koneksinya. Setetes air mata kembali mengalir dari pelupuk mata Naruto.

"Kau belum pernah melihat kedua orang tuamu kan? Sekarang kau tahu. Otakmu yang kadang susah berpikir itu mempunyai ingatan tentang orang tuamu meskipun kau tidak mengingatnya." Ujar Sakura.

"Waktuku tidak banyak Naruto, aku harus segera pergi." Kata Sakura lagi tapi tiba-tiba saja Naruto mengenggam lengannya begitu kuat.

"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi Sakura!" Balas Naruto dingin. Sakura menghela napas.

"Baiklah, kalau begitu. Sekarang kau lebih baik tidur, dan saat kau bangun besok semuanya akan baik-baik saja." Ujar Sakura. Tak lama kemudian Naruto mulai menutup matanya dan mulai tertidur.

"Maaf Naruto...Sampai jumpa lagi." Sakura melepaskan tangan Naruto dari lengannya.

Untuk terakhir ia menatap lekat wajah Naruto yang tertidur sebelum dia melenggang pergi. Namun baru saja dia keluar dari klinik dia menemukan Kakashi sedang bersandar pada salah satu dinding. Sakura kembali berhenti.

"Apa kau yakin?" tanya Kakashi.

"Aku hanya mencoba menjadi lebih kuat." Jawab Sakura.

"Dengan pergi dari sini?" tanya Kakashi lagi.

"Ya, untuk melindungi kalian semua. Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi keputusanku sudah bulat kau tidak bisa menghalangiku!" Ujar Sakura tegas. Kakashi hanya menatap lekat Sakura yang sudah siap dengan mantel berpergiannya. " Tenang saja, aku berjanji akan menjadi anak baik. Menjadi bagian dari kalian tidak akan pernah aku lupakan."

"Aku tidak tahu apa yang harus ku perbuat." Kata Kakashi, mutan elit itu tidak berdaya jika berhadapan dengan Sakura karena dia yakin Sakura tidak akan membiarkan Kakashi menghalanginya.

"Aku sangat bersyukur karena kalian yang menemukanku...dan berjanjilah jika ada kesempatan lain aku ingin kau yang menemukanku." Sakura berjalan menghampiri Kakashi dan memeluknya dengan erat, perlahan Kakashi membalasnya.

"Maaf untuk semuanya," dia berbisik "Aku menyayangimu...Guru Kakashi." Sakura melepaskan pelukannya " sebaiknya kau mulai mencari wanita, menikah dan memiliki anak. Itu akan sangat menyenangkan...Sampai jumpa." dan melenggang pergi dengan senyuman meninggalkan Kakashi.

"Sakura..." pria itu hendak berlari menyusul Sakura tapi tubuhnya mati rasa dan tidak bisa digerakkan. Jelas kalau Sakura yang membuatnya begitu.

"Semoga kau menemukan hidup yang lebih baik."

Dan Sakurapun pergi dari X mansion. Tapi berbeda dengan Sasuke dia pergi namun tidak membuang semuanya. Dia pergi untuk melindungi semuanya. Hanya untuk sekarang Sakura tidak mau menghapus air matanya. Ia ingin membiarkan air matanya terhapus angin malam. Mulai detik ini dia akan menjadi lebih kuat. Ia akan menetukan jalan hidupnya sendiri. Seperti seharusnya.


Pria itu telah menunggu Sakura dalam keremangan sudut kota yang temaram dengan sepasang mata merahnya yang menyala.

Sang gadis Omega datang dari kejauhan.

"Mulai saat ini?" tanya pria itu.

"Mulai saat ini." Jawab sang gadis dengan dingin

"Selamat datang di rumah baru mu."


A/N : haloo, terima kasih reviewnya. Maaf updatenya agak lama. Chapter ini menguras sedikit emosi saya. Oh ya, Banyak banget yang penasaran sama Itachi ya.

Itachi disini sama seperti Itachi yang kalian kenal.

Jadi gimana? ditunggu reviewnya..keep follow oke:) Salam Author.