Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : THE OMEGA
©LONGLIVE AUTHOR
Chapter 16
Pemuda itu berjalan melewati malam yang dingin, ini sudah hari kelima dia mengembara masih tanpa tujuan. Malam ini dia berencana menghabiskan malam di sebuah bar kecil di salah satu sudut distrik tertinggal.
Duk!
Gelas beer ke sembilan yang ia minum. Seorang laki-laki kurus di meja bar melihat pemuda itu dan memperhatikannya sejak tadi. Akhirnya laki-laki kurus itu menghampiri sang pemuda.
"Ini sudah hampir pagi, apa kau tak berniat pulang?" tanya laki-laki kurus dengan gigi setajam hiu itu. Pemuda yang ditanya hanya menatapnya sinis, menimbulkan aura tidak menyenangkan.
"Aku tidak ada tempat untuk kembali." Ujar sang pemuda. Laki-laki kurus itu tampak berpikir.
"Mmm...kalau begitu ikutlah denganku. Aku akan membawamu pada seseorang, mungkin kami bisa membantumu." Kata si pria kurus dengan tatapan yang meyakinkan.
"Siapa namamu?" tanya sang pemuda.
"Suigetsu." Jawabnya. "Kau?"
"Uchiha Sasuke"
Naruto bangun keesokan harinya. Saat itu matahari sudah berada diatas menunjukan bahwa hari sudah siang. Begitu ia membuka mata ingatannya langsung kembali ke memori tadi malam. Ia bangkit dari posisi tidurnya. Ia sendiri lupa bagaimana ia bisa tertidur, tapi satu hal yang ia yakini. Kalau Sakura Haruno telah pergi. Gadis yang baru-baru ini menempati sebuah ruang khusus di hatinya sebagai seorang sahabat perempuan yang paling pengertian. Yang memberinya sebuah pengalaman dan hadiah paling barharga dalam hidupnya. Sakura telah memberikan kesempatan kepada Naruto untuk bisa melihat wajah orang tuanya yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Tapi sebuah harga mahal untuk membayarnya yaitu dengan kepergian Sakura sendiri.
Setelah kepergian Sasuke kini Sakura juga meninggalkannya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kalian tega sekali meninggalkanku seperti ini." Gumamnya sedih.
Naruto meraba dada kirinya yang sekarang telah ditambah lebih dari sekedar luka fisik. Bekasnya masih ada disana tapi anehnya luka itu sudah tidak sakit sama sekali. Sepertinya Sakura juga menyembuhkannya tadi malam.
Sekarang pemuda itu terdiam, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Semua kejadian ini membuatnya tidak bisa berpikir.
'...Semuanya akan baik-baik saja.'
Kata-kata itu terngiang di kepalanya seperti sebuah dentuman keras. Meski sangat berat, inilah kenyataan yang harus dihadapi. Dia tidak mau membuat Sakura kecewa. Maka Narutopun bangkit dari tempat tidurnya, melepaskan semua peralatan yang ada ditubuhnya dengan sedikit kasar dan pergi meninggalkan klinik.
Sementara itu diruangan lain Kakashi memaksakan diri untuk memberitahu para anggota X-Men yang lain tentang kepergian Sakura dari X mansion.
"...tapi kenapa?" tanya Kurenai.
Kakashi menggeleng. "Aku tidak bisa menghentikannya." Jawab Kakashi.
"Bagaimanapun Sakura bukan lawan kita." Kata Guy realistis.
"Kuharap dia benar-benar bisa menjaga dirinya dari mutan yang lain. Itu sangat berbahaya." Komentar Asuma. Kakashi mengangguk.
"Aku tidak percaya Sakura pergi dari sini? Dia mau pergi kemana?" tanya Rock Lee yang tampak sangat kecewa.
"Entahlah, dia tidak bisa melawan takdir." Jawab Neji.
"Baguslah, semuanya lebih baik jika dia tidak ada disini." Ujar Ino pedas sehingga menyita seluruh perhatian.
"Ino..." tahan Shikamaru. Sepertinya Ino sangat puas dengan kepergian Sakura. Keadaannya semakin memburuk setelah Ino dengan terang-terangan memarahi Sakura kemarin.
"Sakura sudah pergi. Aku kira dia akan menjadi teman baik denganmu." Naruto muncul dengan pakaian lengkap.
"Naruto badanmu masih..."
"Aku sudah sembuh!." Kakashi hendak bicara "Sakura yang menyembuhkanku. Hei Ino, kau puas? Aku mendengarmu berteriak kemarin..." pandangannya beralih pada gadis berambut pirang itu. "Sebenarnya Sakura sangat ingin menjadi teman baikmu." Dia memberi tahu.
"Apa kau bodoh? Karena dia semua kekacauan ini terjadi. Profesor Sarutobi dan Sasuke..."
"KEMATIAN PROFESOR SARUTOBI DAN KEPERGIAN SASUKE BUKAN SALAHNYA!" jerit Naruto. Ia sangat marah dan serius, mereka belum pernah melihat Naruto semarah ini. "Sakura pergi karena dia tidak mau seorangpun dari kita celaka! Dan selama ini Profesor Sarutobi melindunginya. Profesor melindungi sesuatu yang sangat besar sampai dia mengorbankan nyawanya. Apa kalian tidak mengerti itu? Dan sekarang Sakura pergi."
Semuanya hening, reaksi Naruto yang tidak pernah diduga ini membuat semuanya bungkam.
"Lebih baik kalian semua bersiap, setelah ini pasti akan banyak sekali yang terjadi." Naruto berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Tidak berguna!" Itulah kata terakhir yang terdengar sebelum Naruto benar-benar menghilang dari pandangan.
Kakashi yang sejak tadi memperhatikan Naruto merasa iba, tersirat rasa kecewa, marah, dan kesedihan yang dalam di mata Naruto. Mungkin Kakashi adalah satu-satunya orang yang mengerti itu. Tapi disisi lain dia merasa kalau Naruto sedang menata dirinya untuk menjadi lebih kuat lagi seakan Sakura telah memberikan sebuah kekuatan lewat perpisahannya. Tapi bagaimanapun mereka semua hanya bisa mengikuti skenario yang memang harus mereka jalankan. Tidak ada yang tahu pasti.
KANTOR DEWAN TINGI MUTAN
Tok...tok...tok...
"Masuk."
"Tuan Danzou, aku ingin memberikan kabar pada anda." Ujar seorang staff yang diketahui bernama Iruka itu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kami baru saja mendapat kabar dari X Men kalau Sakura Haruno telah meninggalkan X mansion."
Pria paruh baya itu terbelalak tak percaya.
"Ini...aku ingin semua penjagaan dan semua petugas tetap bersiap dan perketat semuanya. Aku tidak ingin tidak ada kesalahan sama sekali." Bentak Danzou tegas.
"Baik, Tuan." Dia pergi meninggalkan ruangan.
"Ini buruk, Profesor Sarutobi sudah tiada. Masalah ini benar-benar serius."
Danzou menghubungi semua dewan perwakilan dari semua negara aliansi untuk segera memberitahukan kabar ini. Semuanya kaget dengan berita kepergian Sakura Haruno dari X mansion karena berarti ini adalah sebuah berita buruk. Mereka semua menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari Sakura Haruno yang hilang agar tidak ada yang menyalahgunakan kekuatannya, dan itu berhasil dilakukan oleh Profesor Sarutobi. Tapi sekarang Profesor Sarutobi telah tiada dan Sakura meninggalkan X mansion, tempat teraman yang bisa dia temukan. Berarti kemungkinan besar jika berita ini bocor keluar akan terjadi kehebohan dan mutan-mutan akan mulai melakukan pemberontakan lagi karena tahu Mutan Omega tidak lagi berada di tangan pemerintah.
Hal yang sama juga terjadi di X mansion. Di tengah suasana yang masih tidak sangat menyenangkan mereka juga harus bersiap karena mereka tahu kalau sesuatu yang buruk cepat atau lambat pasti akan datang. Sementara itu Naruto lebih sering terlihat melamun.
"Menurutmu apa yang akan dilakukan Profesor Sarutobi jika dia masih hidup?" tanya Sai pada suatu ketika pada Naruto.
"Dia akan percaya pada kita semua." Jawab Naruto.
"Aku punya perasaan buruk tentang apa yang terjadi." Ujar Sai.
"Hal yang buruk akan selalu datang Sai yang penting kita harus siap."
Dewan Tinggi Mutan telah menyembunyikan semua kabar tentang kepergian Sakura dari dunia luar. Tapi ternyata itu tak berhasil, isu tentang mutan Omega yang sudah tidak berada di tangan Dewan telah sampai ke telinga masyarakat. Hal itu menimbulkan kekecauan terjadi dimana-mana. Para kaum mutan yang menuntut kesetaraan kini mulai bertindak kembali. Berita ini juga sudah sampai ke telinga Orochimaru.
"...Tuan?" tanya Kabuto setelah dia menyampaikan berita itu.
"Aku sudah tahu." Jawabnya.
"Apa anda tahu kemana dia?" tanya Kabuto.
"Tidak, dia telah memblokir pikiranku. Kita hanya perlu bersiap, tapi tidak sekarang. Belum saatnya." Jawab Orochimaru. "Bagaimanapun dia harus membayar apa yang telah dia lakukan pada tanganku. Kita akan temukan cara untuk menghancurkan gadis Omega itu. Pasti!." Orochimaru menatap kedua lengannya yang terbalut perban.
Di tempat lain yang diketahui markas Akatsuki, semuanya sedang dalam suasana yang berbeda dengan orang lain diluar sana. Mereka juga sedang bersiap-siap tapi tidak diliputi rasa cemas tentang sesuatu yang akan terjadi, karena merekalah pihak yang paling kuat saat ini.
"Aku terkesan." Ujar Pain. "Aku tidak tahu kalau kedua matamu itu bisa membuat gadis Omega itu takluk."
"Itu tidak penting, dia sudah ditangan kita sekarang. Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Itachi.
"Tak perlu terburu-buru, kita lakukan perlahan." Jawab Pain. Sementara itu Itachi hanya menatapnya dan sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi ada satu hal," katanya menatap serius pemimpin organisasi itu "Aku harus terus mengawasi Sakura, aku tidak tahu ini akan bertahan sampai kapan."
"Lakukan yang harus kau lakukan."
Terlihat Pain keluar dari sebuah ruangan bersama Itachi. Mereka bergabung dengan anggota Akatsuki yang lain di ruangan yang terlihat lebih bersih dan nyaman dari sebelumnya.
"Hei Itachi! Sampai kapan kau mau menyembunyikan gadis Omega itu, aku juga ingin melihatnya !" Seru seorang pria dengan rambut yang tersisir rapi.
Sepertinya semua anggota Akatsuki sangat tertarik dengan Sakura.
"Hidan benar, kau jangan serakah Itachi." Deidara menyetujui.
"Aku akan membawa dia kemari." Itachi bergegas keluar dari sana. Beberapa saat kemudian Itachi datang serta merta sang gadis Omega turut mengekor di belakangnya. Dia memakai sweater berwarna hitam dan celana hitam senada. Rambut merah mudanya yang sudah terlanjur memanjang dia biarkan terurai berantakan, dia menyelipkan beberapa helai rambutnya ke telinga. Wajahnya yang putih dan tirus tidak menunjukan ekspresi apapun, persis seperti Itachi yang berjalan didepannya. Mereka sudah tidak aneh dengan ekspresi itu karena bahkan lebih banyak anggota Akatsuki yang jarang berekspresi. Akan tetapi badan mereka sedikir menegang kala iris hijau Sakura menatap mereka satu persatu seolah sedang membaca pikiran mereka.
Pain maju selangkah. Dialah orang pertama yang berani membalas tatapan Sakura.
"Selamat datang, Sakura." Sapanya. Sakura tidak menjawab. "Bagaimana? Kurasa kau tidur cukup nyenyak disini."
"Cukup nyenyak." Jawab Sakura masih tetap datar.
"Sudah saatnya kau keuar dari duniamu dan mengenal kami," ujarnya. " Oh, aku lupa. Kau pasti sudah mengenal kamu lebih dulu, apalagi kau dulu bersama Profesor Sarutobi."
"Aku tahu kalian semua." Balas Sakura.
"Hahaha..." Hidan bangkit dari tempat duduknya. " Aku suka sekali dengan gadis ini, buatlah dirimu senyaman mungki, Dear!" Hidan berjalan kehadapan Sakura dan menyentuh dagu tirusnya. "Kau sangat menggemaskan." Tambahnya lagi dengan wajah nakal.
"Hentikan Hidan!" seru Kakuzu. "Kau jangan menggoda anak kecil!"
"Dasar pemarah!" balas Hidan menjauh dari Sakura. Suasana masih terasa canggung karena mungkin ini adalah efek berhadapan dengan mutan kelas Omega. Meski dalam tubuh gadis berumur sembilan belas tahun tapi tetap saja aura berbahaya menguar dari tubuh Sakura begitu kental. Pembantaian beberapa waktu lalu yang dilakukan Orochimaru telah membuat Sakura kehilangan kendali saat itu dan Orochimaru berakhir dengan kehilang pasukannya dan kedua tangannya. Sakura melihat Zetsu yang sedang duduk di salah satu sudut ruangan.
"Kau yang malam itu datang ke mansion." Ujar Sakura. Zetsu hanya menelan ludahnya ketika menerima tatapan tajam dari Sakura, semnetara itu yang lainnya juga masih memperhatikan Sakura.
"Kenapa kau bersedia untuk bergabung dengan kami?" tanya satu-satu wanita didalam anggota Akatsuki. Semuanya tampak lebih tegang sekarang karena Konan telah menanyakan pertanyaan yang sangat berbahaya untuk ditanyakan. Tapi baik Sakura, Itachi, atau Pain tidak menunjukan perubahan ekspresi sedikitpun.
"Karena, aku sudah tidak punya urusan lagi disana." Ujar Sakura mantap. Beberapa dari mereka menyeringai puas.
"Baiklah kalau begitu." Pain hendak berbalik tapi Sakura menahan lengannya.
"Pain," panggilnya. Semuanya menahan napas, karena baru kali ini ada yang berani memanggil Pain begitu dingin dan menantang seperti itu. "Sebenarnya apa tujuan kalian? Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu."
Anggota yang lainnya mulai berdiri dari tempat duduknya masing-masing, takut kalau-kalau sesuatu yang tidak dihaharapkan terjadi. Pain masih terdiam, namun perlahan dia berbalik dan mendekatkan tubuhnya yang tinggi pada Sakura.
"Tujuannya untuk," ia menjawab dengan perlahan, "mengatur peperangan. Kita tidak perlu para penegak hukum itu karena semuanya sama saja, mereka tidak berguna. Tidak akan lagi para kaum Ekualis yang menuntut kesetaraan atau Dewan yang ingin mengendalikan para mutan. Kita tidak perlu mereka semua.
"Lalu setelah itu..." Pain mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura seolah ingin memastikan kalau Sakura bisa mendengarnya dengan jelas. "Jika mereka sudah tunduk pada kita, kitalah yang akan mengatur semuanya. Di tangan kita. Bayangkan itu Sakura !" Pain mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura.
"Hanya kita."
A/N : Maaf updatenya lama, dan mungkin beberapa minggu kedepan updatenya juga bakalan telat karena ini waktu kritis menjelang ujian Nasional. Untuk beberapa request, akan saya pertimbangkan lagi. Makasih buat apresiasinya. Keep review, fav, and follow :) salam Author.
