Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : THE OMEGA
©LONGLIVE AUTHOR
Chapter 17
'Tetap waspada!'
'Aku tahu.'
Kedua pemuda itu sedang duduk bersantai disebuah lounge di hotel berbintang dipinggiran kota. Tempat itu cukup nyaman untuk bersantai namun teralu sepi untuk sebuah hotel berbintang. Mungkin karena memang letaknya yang berada di tempat terpencil. Lima jam yang lalu Sasuke dan Suigetsu sampai di hotel ini. Sebagian besar yang menginap di hotel ini adalah mutan. Suigetsu sudah memperkenalkan sebagian besar dari para penghuni hotel ini, tapi dia belum melihat batang hidung dari orang yang akan membantu Sasuke.
"Mana dia?" tanya Sasuke tak sabar.
"Tunggu saja Sasuke," dia menenggak gelas vodkanya yang ke dua. "Perempuan itu memang sedikit manja, tapi dia bisa membantumu."
Dua menit kemudian seseorang muncul dari lift. Sesosok gadis seksi berkacamata datang dari sana dan mendekati mereka.
"Ouh, jadi ini orang baru itu?" tanyanya. Sasuke menoleh dan menatap wanita seksi berbaju merah itu. Mendapat tatapan dari pemuda tampan sepeti Sasuke Uchiha membuat perempuan itu sedikit terkejut dan tentu saja ia terpesona pada pandangan pertama. Semburat merah tipis muncul dipipi putih perempuan itu.
"Aku Karin. Siapa namamu?" tanyanya tersenyum nakal.
"Sasuke." Jawabnya dingin. Karin tersentak ketika ia mendapatkan tatapan tajam dan aura yang kuat dari pemuda yang berada dihadapannya. Hal itu membuat jantungnya berdegup kencang.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Karin lagi dia ragu tetapi tatapannya ikut tertantang. Sasuke berdiri dari bangkunya dan mendekatkan bibirnya pada telinga Karin.
"Aku ingin kekuatan. Beri aku kekuatan." Bisiknya. Seringaian terukir dibibir si perempuan. Bisikan itu seperti angin segar yang datang menghembusnya. Jadi tanpa pikir panjang Karin mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Sasuke. Pemuda itu sedikit enggan tapi dia menerima uluran itu dan lagi-lagi senyuman merekah dibibir sang gadis.
Karin mengajak Sasuke menaiki lift, Mereka berhenti di lantai delapan belas dan memasuki sebuah kamar mewah. Kamar itu sangat luas dan dipenuhi dengan barang-barang yang berkelas. Sepertinya perempuan ini adalah salah satu mutan yang menggunakan kemampuannya untuk berbuat jahat. Sasuke berspekulasi seperti itu, tapi dia tidak peduli.
"Ini akan sedikit sakit." Bisik Karin masih dengan nada menggoda.
"Lakukan saja!" Ujar Sasuke tidak sabar.
"Kenapa kau begitu terburu-buru?" dia membenarkan kaca matanya yang merosot. Perlahan dia berjalan mengitari tubuh Sasuke dan menyentuh bahunya manja. Pandangannya menyipit mengerling wajah tampan Sasuke. "Apa kau tidak mau tahu siapa aku? Darimana asalku? Apa kekuatanku?" bujuknya. Gelagatnya menunjukan kalau ia tertarik pada Sasuke.
Mata itu kembali memandang Karin dengan tajam. Sepertinya Sasuke tidak merasakan hal yang sama. Tapi entah kenapa Karin malah tidak mau kalah darinya.
"Aku adalah salah satu percobaan yang berhasil dari Orochimaru,"ujarnya bangga, tapi justru yang dikatakan perempuan itu malah membuat Sasuke terkejut. Sekilas matanya membulat. "Aku menyerap energi dan mengubahnya menjadi apapun yang kumau. Jika kau ingin, aku akan membuatmu menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Aku bisa melipat gandakan kemampuan seseorang."
"Lakukan saja!"
"Baik, kau boleh menggigitku sekarang." Titanhnya, Sasuke sedikit heran dengan pernyataan itu. Tapi rasa herannya itu terjawab ketika Karin membuka sarung tangannya yang panjang dan memperlihatkan lengan putihnya yang di penuhi beberapa bekas gigitan disana. Jadi, persyaratannya adalah menggigit bagian tubuh Karin agar bisa mentransfer energi yang ada dalam tubuhnya.
"Kenapa? Jika kau tidak mau menggigit lenganku, kau boleh menggigit leherku." Seringainya tanpa digubris oleh Sasuke. Tak lama kemudia Sasuke menggenggam lengan Karin dan mengarahkannya ke mulutnya.
"Bersiaplah, kau akan merasa tersiksa selama beberapa waktu." Ujarnya. Lalu Sasuke menggigit lengan Karin.
1...
2...
7...
12...
37...
"Ugh !"
Sasuke melepaskan gigitannya, dia sudah tidak tahan. Tenggorokannya terasa panas, tiba-tiba saja tangannya bergetar tak karuan juga degup jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak lebih cepat dari biasanya. Kulitnya panas, sangat perih dan kakinya tak sanggup lagi menopang bobot tubuhnya sendiri. Seperti ada yang mengalir begitu cepat dalam darahnya.
"Arrgghh!"
Teriakan Sasuke terdengar sampai keluar kamarnya. Menimbulkan beberapa kepala keluar dari kamar mereka masing-masing untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Huh, selalu mencari kesempatan! Dasar jalang!" gumam Suigetsu yang sejak tadi berdiri di depan kamar Karin, dan tak lama kemudian terdengar...
"SUIGETSU!"
Pagi itu cuaca jauh lebih dingin dari sebelumnya dan matahari enggan menampakkan sinarnya sehingga seluruh kota dinaungi oleh langit gelap diawal musim dingin. Jelas saja karena sudah beberapa hari ini memasuki awal bulan Desember. Semalam salju turun dan pagi ini jalanan sudah dihiasi beberapa gumpalan putih. Tapi di ruangan itu begitu hangat oleh api perapian yang sudah membara sejak semalam.
Sakura duduk disalah satu sofa disana. Seseorang memberikan teh panas dipagi hari, tapi Sakura sama sekali tidak menyentuhnya. Tak lama kemudian anggota Akatsuki masuk satu persatu dan yang pertama kali masuk adalah Konan dan Zetsu. Mereka duduk tak jauh dari Sakura.
"Rambutmu yang cerah sedikit membuatku risih," kata Konan. Sakura anggap itu adalah ucapan selamat pagi, Sakura mulai terbiasa dengan perlakuan dari mereka yang tidak membedakan satu sama lain. "Berbanding terbalik dengan matamu, padahal warna matamu indah. Tapi sayang..." wanita itu tak melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah, itu tidak penting."Tukas Zetsu. Tapi toh nyatanya Sakura mengikat rambutnya yang terurai. Dia mengikatnya sedikit berantakan seperti biasa yang dia lakukan seperti saat di mansion. Zetsu menyalakan televisi dan ternyata saat itu telah disiarkan berita nasional pagi ini. Seketika itu semua anggota Akatsuki masuk kedalam ruangan dan mendengarkan berita itu dengan seksama.
Saat ini Danzou telah mengumumkan sesuatu secara langsung di depan gedung Dewan yang sekarang sudah dipenuhi oleh massa dan juga wartawan dari luar dan dalam negeri.
"Pagi ini aku akan mengumumkan, kalau Dewan akan memperketat keamanan negara. Kebijakan ini diambil atas keputusan dari semua perwakilan Dewan Mutan dari seluruh negara aliansi. Bagi mereka, mutan yang tidak memiliki tanda pengenal dan data yang lengkap akan kami periksa lebih lanjut!"
"WUUU!"
"Omong kosong!"
"Peraturan tersebut akan diberlakukan mulai hari ini...dan bagi kalian yang hendak menentang Dewan, kami ingatkan sekali lagi. Kalau Dewan Perwakilan Tinggi bisa menahan kalian dan akan memberikan sanksi yang berat. Dewan masih memiliki pertahanan yang kuat !"
Danzou mengakhiri pengumumannya dan berbalik meninggalkan mimbar dan juga massa yang mulai mengamuk karena tidak setuju dengan kebijakan itu.
"Apa-apaan ini?" Ketus Kiba setelah melihat tayangan berita Nasional tersebut. Hari itu orang-orang di X mansion dekejutkan dengan kebijakan baru dari Dewan Tinggi yang begitu mendadak.
"Danzou telah membuat tindakan yang salah," komentar Kakashi. Dia mengusap dagunya berpikir. "dengan mengumumkan hal itu dia dengan terang-terangan telah menyatakan perang pada mereka yang menentang dewan. Itu akan memicu kemarahan dimana-mana."
"Dia mempunyai dukungan dari semua perwakilan negara aliansi." Kata Kurenai.
"Sepertinya Dewan benar-benar tidak menganggap X Men lagi seteleh kematian Profesor Sarutobi." Sambung Guy.
"Kita harus segara bertindak, secepatnya." Saran Asuma, yang bahkan kali ini tidak menghisap rokok seperti biasanya.
Naruto yang berada disanapun tidak bisa berbuat apa-apa dia tahu kalau cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Sudah lewat satu bulan Sakura pergi dari X mansion terkadang dia bertanya-tanya dimana Sakura dan Sasuke sekarang?
"Naruto?" Sai menyadarkan lamunannya. Ia menoleh.
"Sudah saatnya." Ujar Sai. Naruto memandang Kakashi.
"Aku dan Guy akan pergi ke Kantor Dewan, kalian bersiaplah disini. Kemungkinan perundingan ini tidak akan berjalan dengan mulus. Kami akan menghubungi kalian jika kami membutuhkan bantuan." Ujar Kakashi.
Sementara itu Akatsukipun sepertinya akan melakukan hal yang sama.
"Ha? Orang tua itu mulai sombong! Pain, kita benar-benar harus memberinya pelajaran." Kata Deidara yang nampaknya sudah naik pitam.
"Kenapa dia dengan tolol menyatakan hal seperti itu? Dia pikir dia siapa?" sambung Hidan.
"Pain, biarkan aku dan Deidara pergi kesana. Bukankah sudah saatnya?" Tanya Sasori sedang memainkan sebuah boneka kayu menyeramkan ditangannya. Pain tampak berpikir sejenak.
"Baiklah." Jawab Pain akhirnya.
"Kenapa? Aku juga ingin kesana, akan kuberi pelajaran si keparat itu! Seenaknya saja!" tukas Hidan.
"Hidan! Tenanglah. Kita akan bergerak perlahan, biarkan mereka yang pergi." Tahan Kakuzu dan seperti biasa Hidan hanya mendengus sebal karena lagi-lagi permintaannya tidak dituruti.
"Aku ikut." Kata Sakura tiba-tiba, membuat semua orang mengernyitkan keningnya heran. Itachi sudah bergerak untuk menyentuh bahu Sakura tapi Pain menahannya.
"Tidak Itachi, biarkan dia pergi." Pain merangkul leher Sakura dari belakang dan berbisik ditelinganya. "Pergilah, dan sampaikan pada mereka kalau kau berada disini. Akatsuki tidak perlu lagi bergerak diam-diam."
"Akan kupastikan mereka semua tahu kalau aku berada disini." Ujar Sakura lantang. Pain menyeringai senang.
"Pakai ini, kau adalah bagian dari kami sekarang." Kisame melemparkan jubah hitam bercorak awan merah khas yang menjadi ciri anggota Akatsuki. Ia sudah benar-benar diakui sekarang.
"Ayo, Dear kita pergi." Ujar Sasori pada Sakura. Sekilas gadis itu menatap Itachi lalu melenggang pergi dari ruangan itu bersama Sasori dan Deidara.
Kakashi dan Guy sudah hampir di depan gedung Kantor Dewan. Massa yang berunjuk rasa masih ramai berkumpul disana untuk menentang kebijkan dari Dewan. Bahkan untuk berjalan ke pintu masuk saja sangat sulit.
"Tuan, Tuan, apa anda akan masuk kesana? Tolong tuan jangan biarkan mereka melakukan itu, kami tidak mau ditangkap. Kami mohon, kami tidak bersalah." Ujar seorang wanita yang menggendong bayinya pada Kakashi. Sebelah matanya berwarna kuning cerah dan satunya berwarna hitam. Kemungkinan besar dia adalah mutan kelas rendah. Kakashi tahu betul, banyak sekali mutan pelarian yang tidak memiliki data yang lengkap di Konoha. Itu kerena sebagian besar mereka semua tidak diterima dilingkungannya masing-masing dan mereka mengadu nasib untuk mendapatkan kesejahteraan di Konoha yang menjunjung tinggi kesetaraan hak asasi disini. Akan tetapi kebijakan baru yang dibuat Dewan sangat memberatkan mereka dan secara tak langsung mengatakan kalau mereka adalah mutan yang berbahaya.
Kakashi dan Guy sekarang berada di pusat informasi dan sedang meminta izin untuk bertemu Danzou.
"Maaf Tuan, tapi saat ini Tuan Danzou sedang tidak bisa diganggu. Ia sedang bersama perwakilan Dewan yang lain." Kata petugas yang berjaga disana. Kebijakan baru ini membuat mereka menjadi sibuk rupanya. Karena sejak tadi Pusat informasi diramaikan dengan dering telepon.
"Apa kau bilang?" Guy menggebrak meja informasi dengan keras sehingga menyebabkan sedikit retakan disana. "Apa kau tidak lihat?! didepan sana orang-orang sedang berdemo dan kalian masih mengatakan kalau Danzou sedang sibuk!"
"Tapi Tuan,"
"Bilang padanya kalau perwakilan dari X Men ingin bertemu. Atas nama Profesor Sarutobi." Ujar Kakashi tegas.
Sang petugas mengangguk dan dia melakukan panggilan langsung ke ruangan Danzou untuk mememberitahukan hal ini.
"Baik, Tuan," katanya si petugas menutup teleponnya. Lalu ia menegadah ke arah Guy dan Kakashi. "Anda bisa bertemu dengan Tuan Danzou."
Mereka menysuri kantor besar itu dan naik ke lantai atas tepat dimana Danzou dan semua perwakilan dari Negara.
"Ah...Kakashi, Guy. Apa kalian mau menentangku juga seperti yang mereka lakukan dibawah?" tanya Danzou. Terlihat di ruangan bundar itu sudah ada lima orang Wakil Dewan dan pengawalnya, yang sedikit mengherankan adalah wajah dari semua anggota Dewan terlihat begitu pasrah. Tentu saja karena keadaan ini sangat genting, sepertinya mereka juga sudah putus karena kedudukan Dewan tidak lagi kuat. Sementara kekacauan diluar sana semakin merajalela
"Ya, keputusan kalian mengenai kebijakan baru itu salah! Kalian telah menantang para pemberontak dengan mengeluarkan kebijakan itu, lagipula itu tidak objektif sama sekali. Kalian akan memenjarakan banyak mutan yang sama sekali tidak bersalah hanya karena mereka tidak memiliki data yang lengkap." Cerocos Guy tak sabar.
"Tapi Guy, ini untuk kepentingan kita semua. Dengan ini tidak akan ada yang bisa melawan Dewan." Balas Danzou.
"Kau hanya ketakutan Danzou. Kau ketakutan karena Mutan kelas Omega kini sudah tidak lagi berada ditanganmu. Kau takut kalau kekuasaanmu diruntuhkan." Tukas Kakashi tajam. "Sudah cukup perdebatan mutan dan manusia yang terjadi selama bertahun-tahun. Kita semua sudah mencapai kesetaraan meski sangat sulit dan sekarang kau mau memecah belahkan para mutan juga? Dimana pikiranmu? Ini akan memicu perang antar mutan!" tatapnya sengit.
"Harus selalu ada resiko yang ditanggung, Kakashi. Kami yakin kalau ini adalah keputusan yang paling tepat." Balas Danzou tak kalah tajam.
"Tapi kebijakan ini sama sekali tidak sah, karena kami tidak mengetahui peraturan baru ini. Kau harus ingat Danzou kalau X Men juga masih mempunyai peran yang penting dilembaga ini." Ucap Guy tajam.
"Setelah kematian Profesor Sarutobi? Bahkan aku tidak tahu bagaimana keadaan sekolah kalian. Lagipula ini adalah keputusan bersama." Seru Danzou tak mau kalah.
Tiba-tiba saja seorang laki-laki berambut merah berdiri dari kursinya.
"Kurasa kau salah Tuan Danzou, keputusan ini sebenarnya di ambil oleh kau sendiri," ujar pemuda itu dengan tatapan datar tapi penuh keyakinan. "Kau terlalu memaksakan kehendakmu sendiri, dan mungkin kau tidak berpikir jernih sama sekali."
"Gaara?!" Danzou menatapnya heran. "Apa yang kau katakan?"
"Apa aku kurang jelas? kau memutuskan keputusan ini sendiri. Karena kita semua tidak tahu apa yang harus kita lakukan sekarang ini dan kau mengatas namakan semua negara aliansi. Terima saja, kalau sekarang Dewan sedang diambang keruntuhan." Katanya sangat tegas. "Setelah mendengar mereka," Gaara menatap Guy dan Kakashi. "...aku sadar kalau akibatnya tidak hanya terjadi di Konoha tapi hal ini juga akan berimbas pada seluruh negara."
"Aku akan mendukung X Men!" Kata Gaara.
Sedang berada ditengah ketegangan seperti ini, seseorang mengetuk pintu dengan kencang dan tanpa menunggu jawaban ia langsung membuka pintunya.
"Tuan! Para mutan mulai mengamuk diluar !" Ujar Pria itu. Semua orang yang ada berada disana terkejut. Mereka tidak menduga kalau reaksinya akan secepat ini. Danzou berjalan ke jendela dan memandang ke depan gedung kantor Dewan. Kemarahan massa semakin menjadi dan bahkan kerumunan semakin banyak sehingga menutupi sebagian besar badan jalan. Diantara mereka ada yang hanya melempari gedung dengan bebatuan atau merusak pagar pintu masuk, dan yang sebagian lagi ada yang berusuaha menutupi gedung dengan menumbuhkan tumbuhan menjalar di sekitar area gedung.
"Kau sudah lihat Danzou? Kau harus mencabut kebijakan ini. Kalau tidak mereka akan semakin mengamuk!" ujar Kakashi.
"Tidak, tidak akan ada yang diubah sama sekali! Mereka harus merasakan akibatnya karena menentang dewan!" Pikiran Danzou sudah tertutup ternyata. "URUS MEREKA SEMUA! JIKA TETAP MELAWAN PAKAI KEKERASAN!" Titah Danzou pata petugas.
"Danzou !"
"Apa kau akan berencana melakukan kekerasan pada warga sipil?! Kau sudah kelewatan Danzou!" Gaara angkat bicara.
Sementara itu diluar kadaan semakin ricuh, petugas menyemprot massa dengan air yang sangat besar agar mereka bisa mundur dan hal itu menyebabkan wanita dan anak-anak menjadi terinjak dan terseret kerumunan.
"MUNDUR KALIAN SEMUA! KALAU TIDAK KAMI AKAN MEMAKAI KEKERASAN!" Teriak salah seorang petugas dengan pengeras suara.
Tapi tiba-tiba saja sebuah rantai besi panjang dan memiliki ujung seperti tombak melesat begitu saja melewati para kerumunan. Benda itu melesat dan menancap tepat di leher petugas yang tadi berteriak. Seketika itu suasana menjadi hening, dan orang-orangpun mulai menoleh mencari tahu darimana rantai besi itu berasal. Ternyata tiga sosok tengah berdiri di barisan kerumunan paling belakang. Salah satunya berambut pirang, mata kirinya ditutupi oleh sebuah alat seperti kamera. Ia menyembunyikan kedua telapak tangannya di balik jubah dan dia sedang menyeringai begitu puas. Di yang paling kanan ada seorang pria berambut merah dari balik jubah tangan kananya keluar rantai yang terhubung ke depan. Dialah yang telah menyerang petugas Dewan.
Sedangkan yang berada ditengah terlihat lebih pendek di antara dua orang yang mengapitnya. Dia menurunkan tudungnya dan terlihatlah seorang perempuan cantik berambut merah muda tapi pandangannya paling dingin diantara dua orang disebelahnya. Satu hal lagi yang menjadi penyebab mereka menahan napas mereka saat itu juga. Mereka memakai jubah bercorak awan merah. Mereka adalah Akatsuki
"SIAPA YANG MAU MENGHAJAR KETUA DEWAN YANG SOMBONG ITU?" teriak Deidara penuh semangat. Lalu dia mengangkat sebelah tangannya.
"Yang mau menghajarnya, kalian boleh ikut aku!" Ia menjentikan jarinya.
DUARRR!
Bagian depan gedung meledak seolah ada bom yang sengaja disimpan disana, membuat petugas yang berjaga didepan ikut terkena ledakan dan seketika itu massa menjadi ricuh dan membuat bagian depan gedung porak poranda. Sebagian ada yang melarikan diri dan sebagian lagi ada yang bertahan disana dan mendukung penyerangan yang dilakukan Akatsuki. Para wartawan menyembunyikan diri mereka di tempat paling aman dan strategis untuk merekam peristiwa ini.
Deidara, Sasori, dan Sakura berjalan melewati badan jalan dan menuju kentor Dewan. Sakura menyingkirkan puing-puing yang menghalangi mereka tanpa menggerakkan tangannya sama sekali.
Sementara itu mendengar keributan para anggota Dewan yang sedang berdebat di ruagan atas mengintip dari jendela dan mereka begitu terkejut karena mendapat serangan yang begitu besar.
"Ada apa ini? Siapa yang melakukan ini?" tanya Killer Bee.
Tiba-tiba seorang petugas membuka pintu ruangan begitu kasar. Telinga kanannya sudah berdarah dan pakaiannya tampak kotor. Napasnya juga tersengal.
"Mereka datang ! Akatsuki! Ada tiga orang, mereka dibawah." Katanya.
"Akatsuki?" Seisi ruangan menjadi panik.
"Guy!" Teriak Kakashi. Guy yang sudah mengerti segera mengirim sinyal bantuan kepada para X Men.
"Cepat ! Cepat semuanya, Dewan telah diserang!" Teriak Kurenai.
Mereka bergegas ke sebuah garasi yang sangat besar di salah satu ruangan rahasia X mansion. Disana terparkir sebuah pesawat jet yang sangat besar.
"Apa kita akan pergi dengan Supersonik?" tanya Chouji.
"Ya, itu berarti keadaannya sangat genting disana." Jawab Shikamaru.
Merekapun masuk ke pesawat. Asuma, Kurenai, dan Yamato memegang kendali pesawat dan anggota yang lain juga sudah siap di tempat duduknya masing-masing.
"Semuanya Siap? Kita berangkat sekarang!" Yamato memberi aba-aba dan Pesawat mulai bergerak keluar dari sarangnya. Kecepatan yang luar biasa dalam waktu sepuluh menit mereka sudah bisa melihat gedung kantor Dewan yang sudah berantakkan.
"Siapa yang melakukan ini semua?" tanya Naruto.
"Yang melakukan ini adalah Akatsuki, mereka sudah mulai bergerak terang-terangan!" Jawab Asuma memicu kekagetan semua orang.
Pesawat Supersonik mendarat dengan mulus di tengah jalan dan semua anggota X Men segera keluar untuk memberikan bala bantuan pada Kakashi dan Guy.
Sementara itu keadaan diruang pertemuan semakin tidak terkendali. Masing-masing dari anggora Dewan segera pergi menyelamatkan diri mereka masing-masing.
"Aku akan membantu kalian!" Ujar Gaara.
"Aku juga." Sambung Killer Bee.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kita harus menyelamatkan semua orang yang berada di gedung ini." Ujar Kakashi. Tanpa tunggu lama mereka langsung bergerak mengevakuasi semua orang yang ada di dalam gedung. Sedangkan Kakashi dan Guy, mereka mencari tiga orang Akatsuki yang sudah memasuki gedung. Ketika sampai di lobby mereka berdua menemukan anggota X Men yang sudah datang.
"Kakashi bagaimana keadaanya?" tanya Yamato.
"Orang-orang sedang dievakuasi, mereka ada tiga orang. Tapi aku belum tahu siapa saja. Kemungkinan besar dari ledakan besar yang terjadi tadi salah satunya adalah Deidara." Jawab Kakashi.
"Siapa yang mereka incar?" Naruto.
"Sepertinya Danzou." Jawab Guy.
"Kiba, aku ingin kau menuntun kami untuk mencari mereka. Untuk sekarang kita tidak boleh berpencar. Mereka bukan mutan biasa, kalau berpencar kemungkinan kita yang akan kalah." Kata Kakashi.
Lalu Kibapun mulai mengendus keberadaan para Anggota Akatsuki.
Sementara itu Danzou sedang berada di sebuah ruangan meeting yang besar dan diiringi oleh banyak mutan penjaga. Mereka hendak pergi darisana melewati jalan rahasia yang ada di dalam ruangan meeting itu. Namun saat mereka memasuki ruangan, alangkah terkejutnya karena Deidara dan juga Sasori sudah berada disana menunggu mereka.
"Akhirnya kau bisa bertemu denganmu yang katanya terkenal itu!." Deidara menyeringai sangat lebar, saking lebarnya membuat wajahnya menjadi menyeramkan.
"B-bagaimana?" tanyanya heran.
"Kau tidak perlu repot-repot membawa pengawal, itu tak akan berpengaruh." Kata Sasori. Satu persatu pengawal Danzou menyerang mereka. Salahsatunya melemparkan akar pohon tajam dari tubuhnya. Namun dengan mudah dihalau oleh rantai besi yang secara otomatis melindugi Sasori. Salah satu akar tajam itu mengenai jubah Deidara sampai sobek.
"Beraninya kau merusak pakaianku! Tak akan ku ampuni! Sasori bawa dia padaku!" teriak Deidara.
Rantai milik Sasori melilit salah satu pengawal Danzou dan melemparkannya pada Deidara. Di kedua telapak tangan Deidara terdapat sebuah mulut tambahan dan tak lama kemudiam dari mulut ditelapak tangannnya itu muncul sesuatu yang kenyal berwarna putih. Ia memainkan tangannya dan benda putih itu berubah bentuk menjadi seperti apel.
"Hei lihat, aku punya apel untuk mu! Sekarang makanlah!" Dia tersenyum lalu memaksa pengawal itu untuk menelan benda putih yang tadi di buatnya. Sedangkan si pengawal menggeliat karena tidak bisa bernapas. Deidara mundur beberapa langkah dan tak lama kemudian tubuh pengawal yang tadi meledak dan menyisakan tubuh yang hancur berserakan dimana-mana.
"Hahaha...ada yang mau apel buatanku?" Dia tertawa begitu puas seolah itu adalah sesuatu yang tidak penting. Kini ekspresi horror sudah terukir jelas dimasing-masing pengawal Danzou. Satu persatu dari mereka berbalik untuk pergi meninggalkan Danzou.
"A-ah.. sudah terlambat." Sasori berkata pelan. Rantai yang terulur dari balik jubah Sasori melesat menangkap semua pengawal yang hendak melarikan diri. Rantai itu tampak seperti cambuk raksasa yang melempar semua pengawal itu hingga sekarat dan yang terakhir Sasori melilitkan rantainya pada pengawal Danzou yang tersisa seperti ular yang melilit mangsanya. Darah tak henti-hentinya mengalir dari mulut orang itu sampai akhirnya dia mati. Bisa dipastikan kalau lilitan itu membuat sekujur tulangnya remuk.
"Sekarang tinggal kau sendiri? Danzou." Deidara mulai melangkah maju diantara ruangan meeting yang sekarang sudah berantakan.
"Teroris seperti kalian tidak berguna bagi negara!" ujar Danzou yang berusaha memberanikan diri.
"Kau juga tidak berguna bagi kami!" Balas Deidara.
Danzou mengulurkan tangannya dan tiba-tiba saja suhu diruangan itu menjadi dingin sekali. Perlahan-lahan benda-benda disana memutih tertutup oleh butiran es. Lalu tak lama kemudian sebuah sosok raksasa terbuat dari es muncul. Sosok itu berlari hendak menyerang mereka. Tapi ternyata rantai milik Sasori jauh lebih kuat sehingga bisa menghancurkan raksasa itu dengan mudah.
Tap...tap...tap...
Anggota Akatsuki yang lain akhirnya muncul dan bergabung dengan Deidara dan Sasori.
"Kukira kau akan melewatkan bagian yang seru." Ujar Deidara.
Mata Danzou membelalak tak percaya. Gadis itu...
"Sakura Haruno?" katanya. "Tidak mungkin"
"Ayo kita lakukan sekarang!" Rantai besi milik Sasori melilit tubuh Danzou seperti pengawalnya tadi. Tapi sepertinya ia ingin menyiksa Danzou terlebih dulu. Ujung rantai besinya yang tajam menusuk bahu kanan Danzou sangat perlahan seolah ingin Danzou merasakan sakit yang teramat sangat.
"ARRRGGGHHH!" Teriak Danzou.
"PENGHIANAT!" jeritnya lagi.
"Bukankah kau juga ingin menjadikanku senjata Danzou?" ujar Sakura datar meski dia menyaksikan penyiksakan yang terjadi di depan matanya ini. Rantai itu bergerak semakin dalam. Sedangkan Sakura berjalan medekati Danzou.
"Apa itu sakit?" tanya Sakura pada Danzou yang sekarat. "Akan kubuat penderitaanmu berakhir." Bisiknya. Sakura mengarahkan tangannya ke dada kiri Danzou dan membuat gerakan solah menggenggam jantungnya. Ketika Sakura mengepalkan tangannya. Saat itu juga detak jantung Danzou ikut berhenti. Dia sudah berhenti bernapas.
"MEREKA DISINI!" teriak seseorang dari luar.
Sasori menjatuhkan Danzou.
Para X Men masuk kedalam ruangan meeting yang sudah hancur itu. Bau amis mulai memenuhi ruangan meskipun lantai, dinding, dan benda-benda disana ditutupi oleh es. Namun ternyata yang mereka temukan disana lebih mengejutkan dari apapun.
"Sakura?"
A/N : Chapter ini panjang bangeeettt...Do'ain ya saya mau UN, uyuhan ini juga udah update. Tapi thanks buat reviewnya, saya gak janji update cepet. keep fav, follow, and review :) salam Author.
