Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe

X-MEN : THE OMEGA

©LONGLIVE AUTHOR

Chapter18


"Siapa kau? Siapa kita?"

"Kita hanya manusia yang berusaha jadi lebih kuat."

Mata mereka bekerja dengan baik, masih sehat, dan mereka masih waras. Sama sekali tidak kehilangan kesadaran mereka. Tapi meski begitu apa yang mereka lihat dihadapan mereka begitu membuat mereka tidak percaya. Lebih tepatnya tidak ingin percaya. Mereka sadar, tapi logikanya mengingkari itu.

"Tidak mungkin...Tidak mungkin..."

Mulutnya terus bergumam melafalkan kata yang sama. Ini hanya mimpi—batinnya. Tapi tidak, rambutnya yang berwarna cerah seperti bunga musim semi, kedua maniknya yang berwarna senada dengan rumput hijau yang segar kini tampak begitu kelam tak memancarkan kemilau seperti sebelumnya dan sekarang sepasang mata itu menatap mereka dingin.

"Sakura, apa yang kau lakukan?" tanya Naruto masih tidak percaya. Gadis itu tidak menjawabnya.

"Tidak...kau bukan...kau bukan Sakura!" teriaknya.

Terlihat yang lainnya juga terkejut dengan pemandangan yang ada di depan mereka. Sakura berdiri bersama dua buronan paling diburu dan dia memakai jubah Akatsuki dengan mayat Danzou tergeletak di depannya. Bahkan Ino yang menganggap Sakura sebagai pengacau tidak menyangka kalau Sakura akan bergabung dengan Akatsuki.

Disisi lain Sakura masih memandang mereka dengan dingin. Mata kiri Kakashi yang biasanya tertutup rapat kini telah terbuka dan menampakan iris matanya yang berwarna merah. Mata kiri Kakashi menatap tepat kearah mata Sakura begitu intens.

"Kakashi apa dia benar-benar Sakura?" tanya Sai. Kakashi diam sejanak.

"Ya, dia benar-benar Sakura." Jawab Kakashi, ia sendiri tidak percaya kalau Sakura bersama Akatsuki. Kenapa? Ia bertanya. Semua orang juga bertanya seperti itu. Ia tidak seperti Sakura yang Kakashi kenal selama ini. Mungkin dulu ia hitam karena kehidupannya yang sangat berat dijalanan. Tapi selama di Mansion ia menjadi gadis normal yang menyenangkan, perhatian, dan penuh kasih sayang. Itu terlihat jelas, bahkan di saat-saat terakhirnya bersama Naruto. Ia masih punya hati, Kakashi yakin itu. Tapi sekarang binar mata penuh keyakinan itu sudah hilang, bahkan Kakashi tidak tahu kalau Sakura bisa menatap mereka sedingin itu.

'Kenapa? Tidak ada keraguan sama sekali dimatanya.' batin Kakashi.

"Kakashi dia pasti bukan Sakura, kan?" tanya Naruto.

"Aku juga berharap begitu, tapi dia benar-benar Sakura." jawab Kakashi.

Setelah dua menit ketegangan itu, akhirnya Sasori maju kedepan dan berdiri disamping Sakura.

"Ah, teman-teman lamamu rupanya." gumam Sasori tanpa dibalas oleh Sakura.

"Haha, kebetulan sekali. Padahal aku ingin bertemu dengan Profesor Sarutobi yang katanya terkenal itu. Tapi sayang..." ujar Deidara dengan nada sedih. Hal itu membuat Naruto menjadi geram.

"DIAM KAU, KEPARAT!" teriak Naruto.

"Wah...wah dia emosian juga ya." komentar Deidara. "Ayo Sakura bicaralah sedikit, mereka pasti merindukanmu."

"Kita sudah membunuh Danzou, kan? Kurasa kita sudah tidak ada urusan lagi disini." ujar Sakura.

Kata-kata itu begitu menusuk terutama bagi Naruto. Seolah Sakura tidak mau bertemu dengan mereka lagi.

"Sakura apa yang kau lakukan? Kau pasti sudah dipengaruhi oleh mereka!" teriak Naruto, "Sakura, ayo kita pulang!" Naruto hendak berlari untuk menghampiri Sakura.

"NARUTO!"

Rantai besi milik Sasori melesat dengan sendirinya untuk menghalangi Naruto mendekati Sakura.

"Kalau kau tidak mau rantaiku ini meremukkan tulangmu lebih baik kau mundur." Sasori memperingatkan.

Sementara yang lain juga untuk saat ini tidak bisa berbuat apa-apa. Terlalu berbahaya jika saat ini mereka menyerang tanpa mempunyai strategi. Satu anggota Akatsuki saja sudah membuat mereka kerepotan, apalagi ada tiga dan salah satunya adalah mutan kelas Omega. Segala pergerakan mereka akan diketahui oleh Sakura bahkan sebelum mereka melakukan apapun.

"Jangan gegabah Naruto! Saat ini kita tidak mempunyai rencana apapun." ujar Kakashi. "Tak ada pilihan lain selain membiarkan mereka pergi." tambah Kakashi.

"APA KAU GILA! SAKURA ADA DISANA!" teriak Naruto. "Aku tidak akan membiarkan Sakura pergi apapun yang terjadi."

Selang beberapa detik, pupil mata Naruto berubah menjadi satu garis dan kukunya bertambah panjang secara drastis. Ia bersiap melesat kearah Sakura. Tapi Sasori dan Deidara dengan cekatan hendak menghalangi Naruto. Namun sayang gerakan mereka terbaca oleh Shikamaru yang langsung menghentikan mereka. Shikamaru telah mengikat bayangan mereka dan bayangannya sendiri sehingga mereka tidak bisa bergerak. Naruto tiba-tiba saja ada dihadapan Sakura dan mencapai lehernya. Kuku tajam Naruto menusuk leher putih Sakura sehigga menimbulkan luka disana. Naruto menatapnya dengan tatapan marah dan kecewa. Sedangkan Sakura tak menunjukan ekspresi yang berarti, atau mengedipkan matanya. Ia membiarkannya.

"Apa yang kau lakukan? Kau harus kembali ke Mansion Sakura." geramnya.

"Naruto hentikan!" teriak Yamato. Semua orang tahu kalau sebenarnya Naruto sama sekali tidak berniat mencelakakan Sakura. Tapi kini tindakkan Naruto diluar kendalinya sendiri.

Tangan Sakura begerak menggenggam tangan Naruto yang mencekiknya. Perlahan Sakura melepaskan cengkraman Naruto yang kuat. Tapi sepertinya Naruto tidak mau mengalah.

"Kau kehilangan dirimu sendiri." Ujar Sakura singkat sebelum melempar Naruto. Pemuda pirang itu menghantam dinding sehingga menimbulkan retakan. Bayangan Shikamaru yang menahan Sasori dan Deidara juga terlepas. Kedua anggota Akatsuki itu menyeringai puas. Dia detik kemudian terdengar suara sirine berdatangan. Sepertinya para polisi sudah tiba. Akan rumit urusannya jika lawan mereka bertambah.

Sakura berbalik meninggalkan mereka diikuti dengan dua pria lainnya. Namun Naruto kembali berdiri dan kembali mengejar Sakura. Namun tanpa ia duga Sakura berbalik mengangkat kedua tangannya dan tubuh Naruto secara mendadak berhenti dan tak bisa digerakkan.

Masih dalam keadaan menahan Naruto, Sakura mengangkat tangannya yang lain. Ia menghempaskan tangannya dan...

BRUAKKKK!

Bagian kanan ruangan hancur, Sakura melubangi dinding itu dan langsung menampakkan jalan raya yang sepi. Karena memang itu adalah bagian belakang gedung.

Naruto masih tidak bisa bergerak saat Sakura, Sasori, dan Deidara mulai berjalan keluar dari sana. Sementara yang lain memang tidak bisa melakukan apapun.

"Sakura..." ujar Naruto begitu lirih. Tapi Sakura sama sekali tidak menghentikan langkahnya.

"Sampai jumpa lagi..Haha." Teriak Deidara sebelum mereka benar-benar hilang dari pandangan dan saat itu juga keadaan kembali seperti semula.


Sakura masuk kedalam kamarnya. Masih jelas terdengar suara tawa Deidara yang sedang menceritakan kematian Danzou pada semuanya. Ia terlalu lelah untuk bergabung dengan mereka semua. Sakura nemegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Namun dibandingkan sakit kepalanya, ia tersiksa jauh lebih dalam yang tidak pernah bisa orang lain rasakan. Beku, dan mati rasa.

Terdengar helaan napas tak jauh dari tempatnya berdiri, Sakura tersadar kalau ada orang lain di kamarnya. Itachi ada disana. Bagaimana ia tidak menyadarinya? Mungkin ia terlalu lelah. Sakura membuang napas berat, wajah putih yang hampir kehilangan warnanya itu menampakkan suatu ekspresi yang sulit diartikan. Namun hal itu terlihat jelas didepan Itachi. Gadis yang ia bawa kemari semenjak sebulan yang lalu, wajah yang semakin pucat dan semakin kurus setiap harinya. Satu hal yang dapat Itachi simpulkan. Gadis itu begitu...terluka.

"Tolong bunuh aku Itachi!" Pintanya. Pandangannya menatap kosong salah satu sudut ruangan. Mati-matian dia menahan kedua kakinya agar cukup kuat menopang berat tubuhnya. Sekuat tenaga dia menahan bibir dan kedua tangannya agar tidak bergetar.

"Akan kulakukan dengan senang hati," jawab Itachi mendekati Sakura. "...jika semua tujuanmu sudah tercapai." Lanjutnya.

Gelas yang ada di atas meja mulai bergerak, menyusul dengan perabot lain yang ikut bergerak.

"Sakura!" bentak Itachi sebelum Sakura kehilangan kontrolnya. Kedua manik Jade itu bertemu pandang dengan mata kelam Itachi.

"Bagaimana kau melewati semua ini?"


-Flashback-

Pertama kali Sakura bertemu dengan Itachi Uchiha di ruangan Profesor Sarutobi dia sedang duduk begitu tenang di sofa. Sedang menikmati hangatnya ruangan itu. Sakura bahkan bisa melihat mata Itachi terpejam begitu damai sambil menyandarkan tubuhnya.

"Ruangan ini masih sama hangatnya seperti ketika pertama kali kesini," Suara beratnya begitu tenang. "Akan sangat menyenangkan jika tinggal disini." Sambungnya. Itachi jujur mengatakan itu semua. Sakura tahu itu dan saat itu juga ia tahu kalau pria ini tidak itu bukanlah mengada-ngada, Itachi tidak akan menyakitinya

Tapi kenapa? Seharusnya Itachi adalah musuhnya dan seharunya Itachi melakukan sesuatu pada Sakura. Tak lama kemudian Sasuke datang dan Sasuke menyerang Itachi disana. Sebenarnya saat itu juga ia ingin menghentikan Itachi yang melawan Sasuke. Tapi ada suatu hal yang menghentikannya. Suara Itachi seperti berdengung dikepalanya.

'Tidak, Sakura. Jangan hentikan kami, aku mohon!'

Sakura hampir saja tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun itu benar-benar suara Itachi, dia berkomunikasi dengan Sakura lewat pikirannya karena Itachi tahu kalau Sakura bisa mendengarnya. Seorang Itachi Uchiha, mutan kelas Alpha yang setara dengan Profesor Sarutobi, buronan negara dan seorang anggota Akatsuki...memohon padanya. Ia tidak ingin menduga tapi perasaannya tidak bisa menyangkal itu.

Ketika iris merah Itachi memandangnya, Sakura seolah tertarik, ia merasa diberitahu oleh Itachi, dan saat itu juga ia tahu kalau Itachi adalah orang yang baik.

Sasuke terluka, dan semunya menyalahkan Itachi Uchiha atas hal ini. Kakashi bertanya pada Sakura untuk apa dia datang ke Mansion.

"...Hanya berkunjung." Itulah yang Sakura jawab. Meski begitu, setengah hatinya masih ragu. Tapi ia yakin kalau ia harus menyimpan hal ini sendiri. Semalaman Sakura berpikir keras, dalam diam dia memejamkan matanya dan dia tersadar akan sesuatu. Kalau malam dimana Orochimaru menyerang mereka Itachi Uchiha juga ada disana. Dia yang membangunkan Sakura dan menuntun Sakura untuk menggunakan Cerebro agar ia tahu kalau Orochimaru sedang menuju Mansion.

Tak lama kemudian Sasuke pergi dari mansion, menyisakan luka di hati Sakura dan Naruto dan keadaan di Mansion juga semakin kacau. Keselamatan mereka terancam karena keberadaan Sakura yang semakin lama semakin diincar. Akhirnya ia memutuskan pergi dari sana dan ia tahu kalau Itachi Uchiha adalah tempatnya untuk pergi. Begitu berat memang meninggalkan semuanya tapi dia harus melakukan hal ini. Kala ia melihat Itachi menunggunya di ujung jalan, dia tahu seperti inilah takdirnya. Mulai saat itu dia akan mengorbankan dirinya sendiri. Mulai saat itu.

Pada hari itu ia memutuskan untuk menjadi anggota Akatsuki.

Pernah suatu ketika mereka berbincang. Itachi mengajaknya minum kopi di sebuah kedai kecil tak jauh dari markas Akatsuki. Setelah Sakura yakin kalau tidak ada siapapun mengawasinya ia mulai membuka pembicaraan.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Sakura menatap sosok yang begitu mirip dengan Sasuke.

"Aku adalah seperti yang kau lihat saat ini. Tak ada yang bisa ku sembunyikan darimu." Itachi terlihat sangat dewasa. Sesekali ia menyesap kopinya dan memejamkan matanya begitu menikmati acara minum kopinya. Sebenarnya Sakura tidak perlu melakukan semua ini untuk mencari tahu tujuan Itachi, tapi rasanya lebih mudah jika seperti ini. Lagipula sudah lama sejak terakhir kali ia duduk santai seperti ini.

"Kenapa kau mau membantuku?" tanya Sakura langsung ke intinya. Sedangkan lawan bicaranya tak langsung menjawabnya melainkan dia menutup matanya sejenak, menghirup aroma kopi yang dia pegang.

"Karena aku ingin tujuanmu terwujud."Matanya terbuka dan menampakan pandangan yang sulit diartikan. Begitu banyak emosi disana, begitu banyak makna dalam ucapannya. "Karena aku tahu hanya kau yang bisa membantuku." Itachi mengucapkannya begitu tenang tapi Sakura bisa merasa kepiluan di balik ketenangannya itu sejelas saat Sakura menatap sepasang mata kelam milik Itachi.

"Aku bisa menjadi pendengar yang baik untuk saat ini." Ujar Sakura yang sebenarnya memaksa Itachi untuk bicara. Pria itu lagi-lagi diam, namun tidak menyesap kopinya lagi. Ucapan Sakura mau tak mau memaksanya membuka kembali kenangan kelam yang sangat ingin Itachi lupakan.

"Ayah kami adalah seorang mutan kelas Alpha, sebelum Danzou menjabat menjadi ketua Dewan Tinggi Mutan ayah kamilah yang berada diposisi itu Danzou adalah wakil ketuanya. Kericuhan dua belas tahun yang lalu adalah sejarah hitam untuk semua negara aliansi. Banyak korban tewas akibat pertentangan antara pemerintah manusia dan mutan. Manusia yang bersikeras tidak mau menerima keberadaan mutan dan para mutan yang menuntut keadilan dan kesetaraan hak. Itu adalah peristiwa yang sangat tragis." Itachi menggoyangkan cangkirnya perlahan, lalu memandang ke luar jendela.

"Hampir semua negara mengalami krisis dan kerusakan akibat dari kericuhan besar-besaran itu. Saat itu aku adalah muridnya Profesor Sarutobi, aku tinggal di mansion. Peperangan membuat anak-anak menjadi trauma, semua teman-temanku kehilangan orang tuanya, itulah adalah masa paling buruk yang pernah ku alami dan satu-satunya yang bisa menolong hanyalah Profesor Sarutobi. Dia mendirikan X Men dan juga mendukung persamaan hak tanpa adanya peperangan. Profesor Sarutobi berhasil mewujudkan perdamaian dengan membuat perjanjian tertulis dengan Presiden saat itu. Tapi, Ayah kami tidak menyetujuinya dan dia berniat untuk membunuh presiden." Air muka Itachi mengeras dan dia masih memandang keluar jendela.

"Profesor Sarutobi dan aku adalah orang yang pertama Sarutobi langsung memberitahuku. Aku sendiri sadar kalau tindakan Ayahku itu adalah kesalahan yang sangat besar, ia tidak bisa dihentikan karena bagaimanapun dia sangat sulit untuk dikalahkan, satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah membunuhnya," Suara Itachi terdengar bergetar kali ini.

"Apa? Apa Profesor menyuruhmu untuk membunuhnya?" tanya Sakura.

"Tidak, dia tidak mungkin melakukan itu. Itu adalah keputusanku sendiri."

"...dan akhirnya malam itu aku membunuh Ayah dan Ibuku, tapi aku sama sekali tidak bisa melukai Sasuke..."

Penyesalan luar biasa terlihat jelas diwajah pria dewasa itu. Sakura bisa merasakan saat tangan Itachi bergetar ketika ia membunuh Ayah dan Ibunya. Ketika dia berbisik meminta maaf di telinga Ibunya dan Ibunya membalasnya dengan senyuman, ketika ibunya bilang kalau Itachi melakukan hal yang benar. Sakura bisa merasakan Itachi hancur ketika Sasuke melihat kejadian tragis itu. Ia mengerti betapa Itachi ingin mati dengan cara yang paling buruk malam itu juga karena sudah menghancurkan keluarganya untuk melindungi sesuatu yang jauh lebih penting.

"...aku harus melakukan itu, jika tidak perang akan pecah dan semuanya akan jauh lebih buruk. Aku harus mengorbankan segalanya."

Mau tak mau air mata Sakura mengalir deras meski kedua mata dan hatinya mengecam keras untuk menahan tangisannya. Membuka kenangan hitam Itachi membuatnya ikut merasakan setiap kesakitan yang dialaminya, itulah kenapa kenapa seorang Telekinesis seperti Sakura dan Profesor Sarutobi adalah orang yang paling mengerti perasaan orang lain. Karena mereka dapat merasakan hal yang sama dengan sangat jelas.

"Aku menitipkan Sasuke pada Profesor Sarutobi, satu-satunya orang yang bisa kupercaya untuk menjaga Sasuke dan aku sendiri bergabung dengan Akatsuki. Dengan ini aku bisa terus memberikan informasi pada Profesor Sarutobi dan memantau adikku."Beban yang Itachi pikul sangatlah berat menjadi agen ganda disaat yang bersamaan dengan mempertaruhkan nyawanya setiap hari.

"Aku mendengar Sasuke tumbuh dengan dendam dihatinya, aku tidak keberatan soal itu. Aku menerimanya." Sakura merasa hatinya di peras kuat-kuat, begitu perih, begitu—nyeri.

"Profesor Sarutobi telah menjaganya untuk ku, Sasuke tumbuh menjadi anak yang jenius dan hebat. Lalu kau datang..." Itachi menatap Sakura, pandangannya sekarang melembut. "...dan semuanya terjadi."

"Kenapa kau ingin impianku terwujud?" tanya Sakura akhirnya setelah sekian lama.

"Kau mempunyai hati yang baik Sakura, Profesor Sarutobi telah mengamatimu sejak lama. Dia yakin jika ada yang bisa merubah dunia ini, kaulah orangnya. Kau adalah satu dari milyaran dan kau adalan satu dari banyak masa. Bahkan Profesor telah mengorbankan nyawanya untukmu. Hanya kau atau tidak selamanya." Jawab Itachi.

"Kau ingin semua orang yang kau cintai bahagia, kan? Kau ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Inilah caranya Sakura! Dan aku terkejut saat kau memutuskan datang padaku." Lanjut Itachi. Kini giliran Sakura yang terdiam, dia yang kini berpikir. Hanya ini, memang hanya ini caranya.

"Apa ada pilihan yang lain? Tidak ada kan" Sakura tersenyum kecut, meratapi takdirnya. "Itachi, Sasuke akan datang untuk menuntut balas! Apa kau tidak masalah dengan itu? Kenapa, hidup begitu kejam?Apa kau tidak hancur? Aku sudah merasakan tubuhku hancur pelan-pelan, Itachi!"

"Aku tahu itu, jika kau tanya apakah aku hancur? Aku sudah hancur sehingga tidak bisa dihancurkan lagi." Jawab Itachi. Sakura kembali menangis, dia sudah berjanji untuk tidak menangis tapi merasakan apa yang Itachi rasakan jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Melihat wajahnya yang selalu tenang, dan sikapnya yang selalu tegar membuat Sakura tidak tahu mahkluk apa yang ada di hadapannya ini. Apakah manusia yang ingin jadi malaikat atau malaikat yang sedang menyamar menjadi manusia.

"Siapa kau? Siapa kita?" pertanyaan ini meluncur begitu saja dari mulutnya.

"Kita hanya manusia yang berusaha jadi lebih kuat."

-Flashback off-


"Kau mengalami hari yang berat." Itachi memngisyaratkan Sakura untuk duduk. "Beristirahatlah."

Sakura berjalan ke tepi ranjang dan mendudukan diri disana. Ia melepas jubah Aktsukinya dengan kasar dan kembali lagi ia memegang kepalanya yang pening.

"Aku merasa sangat kotor dan sangat jahat." Ujar Sakura tanpa menatap Itachi. "Aku benar-benar ingin mati saat itu juga." Itachi hanya terdiam mendengarkan Sakura.

"Apa lagi Naruto," lanjutnya "dia sudah kehilangan Sasuke, dan aku yakin dia sangat kecewa padaku." Itachi mengerti, dia sangat mengerti hal itu dan sekarang perasaan yang pernah ia alami terjadi pada Sakura. Tak lama kemudian terdengar isakan teredam dari bibir Sakura. Itachi berjalan menuju hadapan Sakura dan berdiri didepannya.

"Berhenti, Pain bisa mendengarmu!" Itachi memberinya waktu selama beberapa detik dan setelah itu Sakura mengangkat kepalanya menghadap Itachi. Jejak-jejak air mata masih terlihat dipipinya, tapi dengan cekatan Sakura menghapusnya dan menampakan ekspresi datar seperti Sakura yang biasa dia tunjukan didepan anggota Akatsuki lainnya.

"Aku tahu." Katanya. Seulas senyum tipis terukir di bibir Itachi selama beberapa detik.

"UHUKK!" Namun tiba-tiba saja Itachi terbatuk.

"Itachi, apa kau tidak apa-apa?" tanya Sakura sambil memegangi dada Itachi. Sakura meraasakan sesuatu, dia merasa ada yang salah dengan tubuh Itachi.

Setelah beberapa lama batuknya berhenti.

"Itachi," Sakura menatap Itachi khawatir.

"Kau sakit!"


Sasuke terlelap begitu pulas. Hangat, lembut, ia begitu damai saat ini. Lalu tiba-tiba Sasuke tersadar dari tidurnya. Dia merasaka sebuah tangan halus memegangi lengannya saat ini. Akan tetapi Sasuke belum mau membuka matanya sekarang. Tangan itu membelainya lembut, sentuhannya begitu hangat dan akan membuat semua orang kecanduan. Pemuda itu menghirup aroma tubuh seseorang disampingnya. Aroma yang sangat menenangkan dan begitu ia rindukan. Ia sudah tak tahan untuk tidak membuka matanya.

"Sakura?" gumamnya.

"Kau tidur begitu pulas Sasuke." Tampak Sakura sedang berbaring disebelahnya sambil menghadap kearanganya. Tangan Sakura bergerak memainkan jari-jari tangan Sasuke. Pemuda itu tersenyum, rasanya ia sangat rindu sekali pada perempuan ini. Sasuke menarik Sakura kedalam dekapannya, menghirup aroma tubuh gadis ini. Sakura menegadah dan diapun mengecup bibir Sasuke singkat.

"Jangan diteruskan Sasuke, berhentilah dan kembali sekarang juga." Ujar Sakura.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke.

"Jangan teruskan niat balas dendammu. Itu takkan merubah apapun." Jawab Sakura.

Entah kenapa amarahnya tersulut mendengar pernyataan Sakura. Sasukepun bangkit dari tidurnya, suasana hatinya sudah berubah. Ia marah. Ia merasakan tangan Sakura melingkar diperutnya.

"Aku merindukanmu Sasuke, kembalilah." Ujar Sakura memeluk Sasuke dengan erat.

"Tidak!"

"Jangan pergi, Sasuke. Hentikan semua ini."

"TIDAK!"

Sasuke terbangun dari tidurnya dengan listrik menyala di tangan kirinya.

"Sasuke!" Pekik seorang wanita lain disebelahnya. Sasuke menoleh dan menemukan perempuan berambut merah dengan pakaian minim duduk disebelahnya. Untuk apa Karin berada diranjangnya.

"Kenapa kau disini?" tanya Sasuke geram. Karin yang ketakutan sekaligus terkejutpun tidak berani menjawabnya.

"Pergi!" teriak Sasuke.

"T-tapi..."

"PERGI!"

Sebelum Karin bisa menurunkan kakinya dari ranjang Sasuke terdegar teriakan lain dari luar kamar.

"KARIN! SASUKE!"

Mereka berdua bergegas keluar dari kamar menuju ruang tamu, dan menemukan Suigetsu berdiri di depan layar televisi dengan tegang.

"Ada apa?" tanya Karin.

"Lihat!" Suigetsu menunjuk layar televisi. "Beritanya muncul pagi ini, dia...dia Mutan Omega...telah bergabung dengan Akatsuki."

Sebuah video berputar dilayar TV menampakkan tiga sosok berjubah Akatsuki yang berdiri ditengah kerumunan massa saat Danzou selesai mengumumkan kebijakan baru untuk seluruh mutan kemarin. Sepertinya gambar itu di ambil diam-diam oleh wartawan karena keadaan yang sangat tegang dan berbahaya. Ketiga mutan itu telah menyerang salah satu petugas Dewan dan juga meledakkan gedung Dewan. Namun bukan itu yang menarik perhatian Sasuke. Melainkan matanya tertuju pada salah satu anggota Akatsuki berambut merah muda yang terlibat disana.

"Tidak mungkin!"


A/N : H-3 UN sempet update...AKU AUTHOOR HEBATT...! Thanks buat komentarnya . Keep fav, review, & follow :) salam Author.