Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe

X-MEN : THE OMEGA

©LONGLIVE AUTHOR

chapter 19


"Itachi, buka jubahmu dan berbaringlah!" titah Sakura.

"Tidak perlu." Tolak Itachi.

"Kau harus, ada yang salah dengan tubuhmu. Tubuhmu sangat kacau! Apa yang kau lakukan sampai membuat tubuhmu rusak seperti ini?" tanya Sakura masih memaksa Itachi.

"Tidak perlu Sakura!" balas Itachi. Sakura terdiam dia menatap pria itu lekat-lekat.

"Keras kepala," ujarnya. "Kau jarang tidur, kan? Setidaknya kali ini kau harus tidur." Kata Sakura. Akhrinya Itachipun menyerah dan melepaskan jubahnya menyisakan kaus hitam panjang yang agak tipis.

"Kau keras kepala seperti Sasuke!" Ujar Sakura lagi. Gadis itu duduk di sebelah Itachi yang sudah berbaring di ranjang Sakura. Mendengar itu Itachi malah tersenyum.

"Sejauh apa hubunganmu dengan adikku?" tanya Itachi. Sakura sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.

"Seharusnya Profesor Sarutobi sudah memberitahumu bukan?" balas Sakura, wajahnya melembut meski tidak tersenyum.

"Ya, dia memberitahuku kalau kau adalah orang yang paling dekat dengannya setelah pemuda pirang itu. Tapi seberapa dekat aku tidak tahu." Jawab Itachi.

"Yah...dia egois, dan menyebalkan." Sakura menggelengkan kepalanya.

"Kau menyukainya?" tanya Itachi. Sakura tidak menjawabnya sama sekali, bahkan ia tidak menatap mata Itachi seolah takut kalau pikirannya terbaca oleh pria yang berada dihadapannya.

"Cara kau menatapnya, dan cara kau mengkhawatirkannya." Ujar Itachi. "Kau bisa mengakuinya padaku."

"Tidurlah!" Balas Sakura tanpa membalas Itachi . Itachi tersenyum dan menyentuh puncak kepala Sakura sekilas.

"Kau membuatku merasa mempunyai adik." Kata Itachi. Sakura tersenyum tipis, ia mengulurkan lengannya dan menyentuh pelipis Itachi. Perlahan-lahan pria itu memejamkan kedua matanya dan tak butuh waktu lama untuknya terlelap.

Tok...tok...tok...

"Itachi apa kau didalam?" ujar seseorang dari luar. Dari suaranya dia adalah Kisame. Sakura berjalan ke pintu, tapi tidak membukanya.

"Ada apa?" suaranya kembali dingin.

"Ah, Sakura apa Itachi ada di dalam?" tanya Kisame.

"Dia...sedang tidur." Jawab Sakura.

"Ou, jika dia bangun, bilang padanya kalau Pain mencarinya."

"Aku mengerti."

Terdengar suara langkah kaki menjauh dari pintu.

"Pain..." gumam Sakura.


Sehari setelah itu, pemberitaan tentang penyerangan yang terjadi dan runtuhnya kekuasaan Dewan Tinggi Mutan sudah menjadi perbincangan semua orang. Bahkan Presiden telah mengerahkan semua polisi dan tentara untuk menjaga keamanan rakyat. Saat ini keselamatan mereka telah terancam. Perang antar mutan bisa pecah kapan saja. Akatsuki telah menunjukan keberadaan mereka setelah sekian lama bergerak dalam diam dengan penyerangan yang terjadi tempo hari. Kini Brotherhood tidak diketahui kabarnya, tapi tanpa mereka ketahui bahwa Brotherhood juga telah bersiap untuk menyerang. Perang akan pecah tak lama lagi.

"Karin? Apa kau benar-benar berniat untuk membawa kita padanya?" tanya Suigetsu.

"Ya, aku sudah memutuskannya. Kita harus bergabung disalah satu pihak dan tak ada yang lain selain dia." Jawab Karin tajam.

Mereka berdua berjalan di sebuah lorong gelap diikuti puluhan mutan lainnya yang berjalan di belakang mereka. Tak jauh di belakang Karin dan Suigetsu, Sasuke dan seorang laki-laki tinggi besar berambut pirang berjalan tanpa suara. Lorong itu begitu gelap dan juga lembab. Beberapa genangan air memenuhi lorong itu, karena dindingnya juga terlihat basah dan rembesan air menetes dari pipa-pipa sepannjang lorong. Lorong sunyi itu kini hanya dipenuhi dengan puluhan pasang kaki yang melangkah suatu tempat.

Setelah mereka berjalan cukup jauh, lorong gelap itu mulai diterangi oleh nyala lampu dan mereka mulai menemukan mutan-mutan lain yang sedang berjaga di sisi lorong tersebut. Diantara mereka banyak yang berwujud aneh. Seperti berwajah menyerupai anjing, atau laki-laki yang memiliki delapan lengan, atau dua kepala yang tumbuh dibadan mereka dan itu terlihat menjijikan.

Mereka sampai didepan sebuah pintu besi dan seorang mutan tinggi besar dan berambut panjang menghadang mereka.

"Biarkan kami masuk, kami sudah ada janji." Ujar Karin.

'Biarkan mereka masuk!'

Tanpa tunggu lama dia membuka pintunya dan nampaklah sebuah ruangan besar yang kosong. Hanya ada dua orang disana. Mereka adalah Orochimaru dan Kabuto.

"Ah...Karin...sudah lama aku tidak melihatmu. Kemana saja kau?" tanya Orochimaru seperti seorang paman yang menyapa keponakannnya. Itu sedikit menyeramkan sebenarnya karena wajah itu tidak memancarkan kehangatan sama sekali.

Karin tidak menjawabnya sama sekali karena ia sendiri harus bicara apa pada Orochimaru.

"Karin...Karin, lihat siapa yang kau bawa?" tanya Orochimaru, pandangannya tertuju pada Sasuke yang tertunduk di belakang mereka. "Kau membawa sesuatu yang bagus."

Sasuke mengangkat kepalanya dan mata mereka bertemu. Sedetik kemudian Sasuke melangkahkan kakiknya dan berjalan menuju Orochimaru. Dengan cepat Karin mengulurkan tangannya menggapai tangan Sasuke .

"Sasuke...Aww.." Karin melepaskan tangannya dari lengan Sasuke. Lengan itu terasa sangat panas, rasanya ia telah menyentuh lempengan besi yang dibakar. Bahkan panasnya tubuh Sasuke terasa sampai radius dua meter, mereka seperti berada di dekat api unggun. Entah apa yang menyebabkan Sasuke bereaksi seperti itu, yang pasti wajahnya datar seperti biasa tapi aura tidak menyenangkan menguar dari tubuhnya.

"Selamat bergabung dengan Brotherhood." Ujar Orochimaru sambil sedikit terkekeh. "Karena kau sudah mau bergabung denganku, akan kuberi imbalannya. Aku akan membukakan jalanmu untuk membunuh Itachi Uchiha."


Sementara itu Di X Mansion keadaan juga sedang sangat tidak karuan. Berita tentang Sakura yang bergabung dengan Akatsuki juga berimbas pada para X Men. Beberapa hari ini wartawan terus mendatangi X Mansion untuk dimintai keterangan karena sebelumnya Sakura Haruno, sang Mutan kelas Omega berada ditangan para X Men namun sekarang malah berpindah mendukung Akatsuki. Kakashi bahkan harus mengunci gerbang X Mansion dan tidak memperbolehkan seorangpun keluar dari sekolah selama keadaan ini masih terus berlangsung.

"Aku tidak percaya." Ujar Naruto sambil menatap layar televisi yang menampilkan berita tentang keruntuhan Dewan. Sudah puluhan kali dia melihat rekaman saat Akatsuki meledakkan gedung Dewan. Namun rasanya ia juga belum juga percaya tentang apa yang dia lihat.

"Naruto makanlah dulu, sudah dua hari ini kau tidak menyentuh makanan. Setidaknya minumlah ini." Kata Hinata yang menyodorkan segelas susu. Namun sayang sekali Naruto sama sekali tidak menggubrisnya.

"Sakura tidak mungkin bergabung dengan Akatsuki begitu saja, pasti ada yang salah." Kata Naruto lagi. Sejak penyerangan itu Naruto masih yakin kalau Sakura tidak jahat, sebuah kenyataan miris yang harus dihadapinya. Sekarang hilang sudah Naruto yang ceria dan ramah. Kecewa? Tentu saja Naruto kecewa dengan apa yang dia lihat, tapi dia sering terlihat sedang berpikir keras. Dia seperti orang lain sekarang. Tatapannya, ekspresinya, cara bicaranya, Naruto yang dulu sudah lenyap. Sekarang hanya ada Naruto yang berusaha mencari cara agar Sakura dan Sasuke bisa kembali lagi.

"Naruto, kau harus terima kenyataanya." Ujar Ino memecahkan lamunannya. "Kau tidak bisa terus menerus berpura-pura kalau Sakura adalah orang baik." Pemuda itu menegadah, Hinata langsung memegang tangan Naruto takut kalau ia meledak.

"Ini bukan tentangku Ino, dia bisa menjadi ancaman yang besar untuk semua orang." Balas Naruto. "Apa kau tahu seberapa berbahayanya dia?"

Semua orang terdiam, mereka semua tahu kalau Sakura sangat berbahaya jika berada di pihak yang salah. Kakashi sendiri sadar betul dengan hal itu, dia sudah tidak tahu lagi bagaimana menenangkan Naruto.

Tak lama kemudian Kiba dan juga Kurenai datang, semua orang mendongak kearah mereka.

"Keberadaan Sakura sudah ditemukan, dia berada di Distrik delapan. Di kawasan pabrik terpencil dekat perbatasan Konoha-Kirigakure. Kemungkinan besar markas Akatsuki juga berada disana." Kata Kurenai.

"Kerja yang bagus Kiba." Kata Asuma. Sehari setelah penyerangan Kiba segera mencari keberadaan Sakura dan baru hari ini dia menemukannya. Tiba-tiba saja Naruto bangkit dari kursinya hendak berjalan keluar ruangan dengan terburu-buru.

"Mau kemana kau Naruto?" dengan cepat Kakashi menahan bahu Naruto.

"Aku akan menemui Sakura." Balasnya.

"Jangan gegabah!" Bentak Kakashi "Kita semua menghadapi Sakura sendirian saja tidak mungkin menang, apalagi jika kau pergi kesana sendiri. Apa kau mau mati?"

"Kalian terlalu yakin dengan hal yang belum tentu terjadi." Naruto memalingkan wajahnya, satu taringnya sudah terlihat menandakan kalau dia tengah marah dan berusaha untuk tidak meledak.

"Sakura sudah memilih, Naruto." Ino angkat bicara lagi. "Jangan bawa perasaanmu dalam hal ini Naruto. Akuilah kau menyukainya,kan?" Naruto diam, tak menjawab dan tak pula pergi dari sana.

"Aku tidak mau kehilangan teman lagi. Aku akan membuatnya sadar."

Naruto menghempaskan tangan Kakashi dengan keras dan pergi dari sana.

"Bagaimana sekarang?" tanya Neji.

"Naruto juga seorang mutan yang kuat, tapi aku khawatir dengannya. Kukira Akatsuki tidak akan menyerang dalam waktu yang dekat. Ikuti dia, jika ada apa-apa segera pergi dari sana." Ujar Kakashi

Naruto benar-benar pergi dari mansion sore itu. Setelah membawa beberapa barang dia pergi dengan motor besar miliknya. Asuma, Shikamaru, Ino, dan Chouji mengikutinya. Sepertinya Naruto benar-benar bernafsu untuk pergi menemui Sakura karena dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Butuh waktu dua jam untuk sampai disana.

Sementara itu Sakura yang sedang berada dikamarnya menunggu Itachi yang sedang beristirahat mulai sadar kalau ada Naruto sedang dalam perjalanan ke markas Akatsuki.

"Bodoh!" Umpat Sakura. Gadis itu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju balkon. Ia hendak bertemu Pain. Benar saja, Pain ada disana sedang memperhatikan keadaan kota dari kejauhan.

"Ada yang ingin kau bicarakan dengan Itachi?" tanya Sakura. Pain menoleh dan mendapati Sakura berdiri dibelakangnya.

"Sebenarnya aku hendak menemuimu, tapi berhubung kau sudah berada disini aku akan langsung memintamu." Ujar Pain, dia berjalan mendekati Sakura. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk ku." Ia berhenti lagi.

"Cari tahu apa yang sedang direncanakan Brotherhood!" Bisiknya.

Mudah saja bagi Sakura untuk melakukan hal itu. Dia memfokuskan pikirannya dan menjadikannya sebagai transmitter yang menghubungkan pikirannya dengan semua orang.

Daun, air, pepohonan, dan bebatuan. Pipa...Sebuah bendungan. Markas rahasia tak jauh dari bendungan dari tepian muara samudra yang tenang. Ribuan mutan berada di markas dibawah tanah, mereka sedang menunggu perintah dari Orochimaru. Sebuah rombongan yang lumayan besar baru saja datang dan menyerahkan diri untuk bergabung pada Brotherhood. Diantaranya, diantara mereka, Sakura melihat Sasuke—SASUKE?!

Sakura mengedipkan matanya. Wajahnya masih terlihat datar meski ada emosi lain dimatanya.

"Dimana mereka?" tanya Pain.

"Disuatu tempat tak jauh dari bendungan." Jawab Sakura. Sang Pain pun tersenyum.

"Kerja bagus."

Naruto telah menghentikan motornya jauh disebuah restoran kecil sebelum ia mencapai markas Akatsuki. Jika benar ini tempatnya, maka saat itu juga dia siap untuk mati. Ia tidak bisa membiarkan Sakura menjadi ancaman untuk semua orang. Naruto mulai berjalan memasuki distrik delapan yang sangat sepi itu. Tidak banyak orang yang tinggal disana karena daerahnya terpencil. Dimana dia harus mulai mencari? Jadi Narutopun menyusuri sepanjang jalan di distrik delapan. Ia memang tidak tahu dimana Sakura tapi Naruto merasakan hawa mutan yang besar tak jauh dari sana. Siapapun akan bisa merasakan keberadaan mereka dan bergidik ngeri jika berada dekat dengan mutan-mutan berbahaya sekelas Akatsuki.

Dimana...?

Dimana...?

Sudah dekat! Ini pasti sudah dekat! Aku bisa merasakannya.

Naruto berbelok di persimpangan dan menemukan gadis itu. Menemukan gadis yang dia cari. Dia menemukan Sakura sedang berdiri sendirian di tengah jalanan sepi.

"Sakura..." Pemuda itu berhenti berlari. Sakura hanya berdiam diri disana seolah sengaja menunggunya.

"Kembali!" Teriak Sakura dari kejauhan. Tak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Dia hanya meneriakan kata itu begitu saja.

kembali? —pikir Naruto.

"Seharusnya aku yang berkata begitu Sakura!" balas Naruto, tubuhnya sudah rileks dan tidak tegang seperti tadi. Entah kenapa ketika melihat sakura kelegaan luar biasa menyeruak keseluruh tubuhnya. "Kali ini aku tidak akan mundur!" teriaknya lantang.

Sementara itu diseberang sana Sakura masih diam menatap Naruto yang sebenarnya dia sangat merindukan wajah itu. Di balik wajahnya yang datar dia sangat merindukan tawa dan gurauan dari sahabatnya itu. Tapi yang dilakukan Naruto itu salah! Sangat salah! Datang kemari sendirian, berarti dia telah mendatangi kematiannya sediri. Sakura sendiri tahu kalau Naruto sudah sangat menderita dan kali ini dia tidak akan mudur. Sorot matanya yang penuh dengan keyakinan bahkan bisa dilihat tanpa menggunakan cenayang.

"Aku yakin kalau aku belum kehilangan Sakura yang selama ini ku kenal." Ujarnya.

Hati Sakura mencelos, sebegitu yakinnya Naruto kalau dia tidak jahat disaat semua orang sudah menganggap Sakura sebagai musuh semua Negara.

"Pergilah! Aku tidak ingin melihat wajahmu!" Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Sakura.

Nyeri! Sakit luar biasa. Naruto tersentak, ia tidak menyangka kalau Sakura akan mengatakan hal itu padanya. Sekuat tenaga Naruto berusaha menelan ludahnya sendiri mencoba untuk mengucapkan sesuatu.

"Ini bukan tentang kau Sakura! Ini bukan tentang ku! Ini tentang sesuatu yang lebih besar. Jika kau terus seperti ini kau akan membahayakan semua orang!" Teriak Naruto terengah-engah. Seolah butuh tenaga yang besar untuk mengucapkan semua kalimat itu.

"Kau pernah bilang kalau kau tidak ingin menyakiti siapapun, kemana Sakura yang ku kenal?" Ujar Naruto lagi. "Profesor Sarutobi menaruh harapan terbesarnya padamu!"

Hentikan!

"Dia membawamu ke Mansion berharap kalau kau bisa memperbaiki semuanya..."

Hentikan! Kumohon!

"...berharap kalau kau bisa membuka era baru bagi para mutan..."

Hentikan!

"...berharap yang terbaik untukmu..."

"HENTIKAN! AKU BENAR-BENAR SUDAH MUAK DENGANMU NARUTO!" Mata sakura berkilat dan Naruto terlempar seketika menabrak sebuah tiang lampu jalanan.

'Tolong Naruto, pergilah dari sini dan biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri!'

Namun sebuah reaksi yang tidak pernah dibayangkan Sakura. Naruto tertawa, dia tertawa. Seolah barusan Sakura sedang bergurau dengannya.

"Aku tahu, kalau aku tidak kehilangan dirimu...Sakura." Ucapnya tenang. Sosok itu berusaha bangkit setelah tubuhnya menghantam tiang. Ketika ia telah sepenuhnya berdiri Naruto kembali menatap Sakura.

"Tidak perlu kembali ke Mansion jika kau memang tidak mau, kau boleh pergi ke tempat yang lain. Memulai hidup baru hidup yang jauh lebih baik seperti yang kau inginkan... Yang aku butuhkan hanya kau keluar dari Akatsuki."

Bibir Sakura sedikit bergetar, lebih baik dia mati dari pada berada diposisinya sekarang ini. Sekuat tenaga dia mempertahankan ekspresi dan segala bahasa tubuhnya. Tidak boleh, dia tidak boleh terlihat sedih. Dia adalah anggota Akatsuki. Semua orang harus percaya kalau dia adalah pembawa kehancuran dunia. Semua orang harus percaya kalau Sakura adalah mutan tak berperasaan.

Sakura harus melakukan sesuatu, dia harus membuatnya pergi dari sini sekarang juga dan membuatnya menyerah untuk menyadarkannya.

"Apa aku harus membunuhmu sekarang juga Naruto?" tanya Sakura dingin. Mata Naruto membulat sempurna. Sebelum dia bisa mengatakan sesuatu tubuhnya sudah terangkat dan sedetik kemudian ia sudah terlempar kembali. Tubuhnya terseret beberapa meter namun berhenti secara tiba-tiba. Pandangan Sakura menyipit melihat Naruto lebih jelas. Ternyata Naruto menancapkan kukunya ke aspal untuk menghentikan tubuhnya. Ketika dia mendongak, Sakura bisa melihat jelas kedua taringnya yang sudah muncul. Tak lama kemudian angin besar membentuk sebuah pusaran berkumpul di sekitar Naruto.

"Jika itu maumu Sakura, lakukan!"

Naruto melesat dengan cepat ke arah Sakura, mungkin jika orang biasa mereka tidak akan bisa melihat Naruto yang sedang berlari saking cepatnya. Tapi tidak bagi Sakura, dia menyadarinya dan tidak akan dia biarkan Naruto mendekat. Naruto harus pergi dari sana sebelum anggota Akatsuki yang lain tahu kalau dia ada disini.

Dengan cekatan Sakura menahan Naruto yang sekarang tinggal beberapa meter darinya. Naruto tertahan dan tidak bergerak ditempatnya. Tapi angin yang begitu kencang disekitar mereka membuat rambut dan jubah Sakura tersibak kemana-mana. Gadis itu merasa kalau ada hawa mutan yang lain yang mendekat kearah mereka. Sakura menatap kedua iris Naruto yang sudah memerah. Sekali lagi dan untuk yang terakhir Sakura mengangkat tubuh Naruto tinggi-tinggi dan melemparkannya. Sakura yakin kalau Naruto akan terluka parah kali ini. Tapi sebelum tubuh Naruto menyentuh tanah sebuah tangan besar menangkapnya.

Mereka datang di saat yang tepat. Shikamaru, Chouji, Ino, dan Asuma muncul dari persimpangan jalan.

"Naruto, apa kau tidak apa-apa?" Shikamaru berlari paling cepat diantara mereka dan meraih bahu Naruto. Pakaian Naruto sobek disana-sini karena bertabrakan dengan aspal ketika Sakura melemparnya tadi.

Asuma menatap Sakura yang masih berada ditempatnya.

"Apa disini markas Akatsuki?" tanya Asuma.

"Ya, sepertinya tidak jauh dari sini." Jawab Naruto.

Sakura menatap mereka dingin. Tidak ada cara lain untuk membuat mereka pergi selain dengan memanipulasi pikiran mereka. Jujur hal itu adalah cara terakhir yang diinginkan Sakura. Karena memang dia tidak pernah mau memanipulasi pikiran teman-temannya sendiri dan untuk memanipulasi pikiran orang lain membutuhkan tenaga yang sangat besar. Jika Sakura terus melakukan itu maka semakin lama tubuhnya akan benar-benar rusak.

Sakura sudah bersiap mengangkat tangannya untuk memanipulasi pikiran mereka. Sedangkan mereka yang berada diseberang sana sudah waswas dengan apa yang akan dilakukan Sakura selanjutnya.

"Ah...ada apa ini?"

Sakura tersentak. Terlambat, sudah terlambat. Hidan dan Kakuzu muncul dari sebuah gang kecil tak jauh di belakang Sakura. Sakura menurunkan tangannya.

"Lihat siapa yang datang?" ujar Kakuzu menatap Naruto, Shikamaru, Ino, Chouji,dan Asuma.

"Whoaa...kau mau melewatkannya sendiri Sakura? Seharusnya jika kau mau bersenang-senang beritahu aku." Ujar Hidan terlihat kegirangan. "Mau apa mereka datang kemari?" tanya Hidan masih dengan cengirannya yang menyeramkan.

Sakura tidak menjawabnya. Untuk beberapa saat mereka terjebak ditengah-tengah suasana yang menegangkan.

"Asuma, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Shikamaru. Pria itu tampak berpikir, memutuskan langkah yang paling tepat.

"Kita harus pergi dari sini, Kakashi memerintahkan kita untuk tidak gagabah. Tahan mereka sebisa mungkin agar kita bisa pergi." Kata Asuma.

"Bagaimana caranya? Apa kau berpikir pergi dari sini dengan berlari?" tanya Shikamaru ketus.

"Aku akan mengirim sinyal bahaya, dan Yamato akan menjemput kita dengan teleportasinya." Bisik Asuma. Lalu ia pun menekan tombol merah yang ada di arloji miliknya yang tak lain adalah properti yang digunakan oleh para X Men untuk mengirimkan sinyal bantuan.

"Tunggu..." gumam Naruto. "...urusanku belum selesai." Dia berdiri dan balas menatap Hidan juga Kakuzu. Kedua taringnya masih terlihat dan kedua iris mata Naruto masih memerah menandakan kalau dia benar-benar belum ingin pergi dari tempat itu. Semua luka-lukanya juga sudah mulai menutup.

"Apa yang akan kau lakukan Naruto?" tanya Ino.

Tanpa menjawab pertanyaan Ino, entah bagaimana caranya dengan cepat sekali Naruto kembali melesat ke arah Sakura dan menonjoknya tepat dirahang mulusnya. Membuat sebuah goresan yang cukup dalam dibibir Sakura. Kecepatannya bertambah puluhan kali lipat. Bahkan Hidan dan Kakuzupun tidak melihat Naruto mendekat.

Sakura sedikit terhuyung, dia bukan tidak menyadarinya tapi Sakura sengaja menerima tinju Naruto karena setidaknya itu membuat perasaan bersalahnya berkurang.

"Apa-apaan itu?" Hidan menatap Naruto yang sudah berada didekat mereka. Tanpa mengulur waktu Hidan mencekik leher Naruto dan mengangkatnya sampai kakinya tidak menyentuh tanah. Naruto seperti anak kucing yang diangkat dari permukaan. Kuku-kuku Hidan yang panjang mencengkramnya begitu kuat. Sebelum kuku-kuku itu menembus kulit Naruto, tiba-tiba cengkaraman Hidan berhenti dan tubuhnya menegang. Sedetik kemudian Naruto telah terjatuh ke tanah.

"Oi, ada apa denganmu Hidan?" tanya Kakuzu.

"Ino!" jerit Shikamaru.

Seketika pandangan Kakuzu menjadi kosong. Tubuhnya seperti dikuasai orang lain. Ternyata Shikamaru telah mengikat tubuh Hidan dengan bayangan sehingga apapun yang dilakukan Shikamaru Hidan akan menirunya. Sedangkan tubuh Kakuzu sudah dikuasai oleh Ino.

Asuma berlari untuk menghentikan Naruto, sementara Ino dan Shikamaru masih menahan Kakuzu dan Hidan.

"Naruto?" Asuma menyentuh bahu Naruto. Tapi ketika Naruto menoleh ekspresinya sudah berubah. Matanya telah memerah sempurna, dan beberapa urat halus menonjol keluar disekitar keningnya. Naruto sudah kehilangan dirinya sendiri. Alih-alih menuruti perintah Asuma, dia malah menyerang Hidan. Sebuah sayatan melintang tertoreh di dada Hidan akibat dari cakaran Naruto. Hidan tidak bisa bergerak dan wajahnya menunjukan keterkejutan. Tapi tak ada ekspresi kesakitan sama sekali.

"Itu sakit sekali..." Komentarnya ringan. Hidan berusaha menggerakan tangannya dan di sisi lain Shikamaru hampir tidak kuat menahan bayangannya.

"Cepat Asuma!"

Asuma melempar Naruto dan langsung ditangkap oleh Chouji namun Naruto tak sadarkan diri. Ia sudah tak kuat lagi, bayangan Shikamaru terlepas membuat Hidan bisa bergerak leluasa. Dengan sigap dia mencengkram lengan Asuma sehingga meninggalakan bekas cakaran yang berdarah, tapi Asuma menghindar dan mundur menuju Shikamaru. Tak lama kemudian Yamato muncul begitu saja diantara mereka.

"Shikamaru, ada apa?" tanya Yamato.

"Nanti saja."

Asuma berlari menuju yang langkahnya terhenti.

"Ada apa? Kenapa Asuma berhenti?" tanya Chouji.

Asuma mencengkram dada kirinya dan berbalik menghadap para Akatsuki. Terlihat Hidan menusuk dadanya sendiri dengan sebilah pisau besar sambil menjilat jari-jarinya. Dia sedang menjilati darah yang berada ditangannya. Darah itu darah Asuma yang tertinggal ketika dia mencakarnya tadi.

Perlahan-lahan tubuh asuma roboh meninggalkannya tengah berlutut.

"Bagaimana Sakit,kan?" tanya Hidan menyeringai. Dia mencabut pisau itu dengan kasar dan Asuma menyemburkan darah dari mulutnya .

"ASUMA!" teriak Shikamaru.

"Kadang menjadi boneka Voodoo itu menyenangkan juga." Ujar Hidan menoleh pada Kakuzu, tapi tubuh Kakuzu masih dikuasai oleh Ino.

Asuma masih bisa bernapas meski di sudah yakin kalau ajal benar-benar sudah didepan mata. Dia tidak yakin kalau dia akan selamat kali ini. Detak jantungnya sudah benar-benar lambat dan tinggal menunggu berhenti berdetak. Sorot mata itu tertuju pada Sakura yang berada di belakang Hidan dan Kakuzu. Asuma bisa melihat kalau pandangan Sakura sama sekali tidak terlepas darinya atau tangan Sakura yang terkepal erat. Asuma kembali menatap mata Sakura sambil mendengarkan teriakan Shikamaru dan Chouji dibelakangnya dengan seksama.

"Yah, kalau begitu selamat tinggal..." Kata Hidan, dan sekali lagi dia menusuk dirinya sendiri dengan pisau itu. Asuma-pun ambruk.

"ASUMA!"

Mereka semua berlari kearah Asuma dan menyentuh Yamato. Seketika mereka hilang dari pandangan.

Kakuzu mulai bisa mengendalikan tubuhnya lagi.

"Bocah sialan!" umpat Kakuzu.

"Kau seharusnya lebih cepat, haha! Teleportasi ya, aku tidak suka teleportasi. Hei Sakura mau kemana kau?" tanya Hidan yang melihat Sakura sudah berbalik.

"Aku mau menemui Pain."

Dia bergerak cepat menuju markas Akatsuki. Diapun bergegas ke balkon dimana biasa Pain berada disana.

"X Men? Mereka pasti menyusahkanmu." Ujar Pain.

"Orochimaru akan bergerak, mereka sudah menyiapkan pasukan. Tak lama lagi mereka akan menampakkan diri mereka." Ujar Sakura.

"Kalau begitu kita akan berada disana, sebagai orang pertama yang menyambut mereka."


Lima belas menit yang lalu Yamato telah kembali dengan Shikamaru, Ino, Chouji, Naruto, dan...mayat Asuma. Asuma dibawa ke ruang unit gawat darurat mansion. Dia terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.

"Cepat pasangkan semua alatnya.." seru Kakashi.

"Percuma, Kakashi. Dia sudah tak ada, aku sudah memeriksanya berkali-kali. Hidan menusuknya tepat di jantungnya." Uar Yamato.

"Tapi tak ada bekas luka disini." Ujar Kurenai yang suaranya bergetar hebat.

"Memang tidak ada, karena dia, Hidan mempunyai kekuatan menyerupai boneka Voodoo. Dia menusuk dirinya sendiri dan efeknya dialami Asuma setelah dia menjilat darahnya." Jawab Yamato.

Ino sudah sesenggukan sejak tadi, sementara Chouji dan Shikamaru sekuat tenaga menahan tangisan mereka. Sai dan yang lainnya baru saja datang.

"Ini semua gara-gara Naruto..." geram Shikamaru. Dia hendak berbalik tapi tangannya dihentikan oleh Sai.

"Jangan, dia baru siuman dan dia sedang mengamuk di ruang isolasi. Dia sedang kehilangan kendali saat ini kau bisa mati jika menemuinya." Ujar Sai.

Hening. Mereka semua sangat berduka. Pertama Profesor Sarutobi, sekarang Asuma.

"Aku...masih...hidup..."

Mereka semua tersentak dan menoleh kearah sumber suara.

"Asuma?! Bagaimana mungkin..." kata Yamato. "Aku sudah memeriksamu dan jantungmu benar-benar berhenti."

Asuma bangkit dari tidurnya, Kurenai membantunya.

"Sakura...dia yang melindungiku."


A/N : Akhirnya ... setelah UN berlalu. Makasih buat do'anya. Chapter ini agak pajang karena saya updatenya lama. So thanks..keep review, follow, and fav :) salam Author..