.

.

FIVE'S LOVE STORY

Genre : Romance, Drama, Friendship

Pair : NaruHina, SasuSaku, SaiIno, ShikaTema, NejiTen

.

Maaf FF ini menunjukan ke OOC'an karakter mereka sebenarnya. FF ini bukan FF barru, FF yang aku tulis selama beberapa tahun yang lalu dan alhamdulilah FF ini sudah tamat di Laptop. Insyallah FF ini tidak gantung.

HAPPY READING

.

.

"Siapa namamu?" tanya Naruto tiba-tiba

"Hah, ooh namaku Hinata, Hyuga Hinata. Kau sendiri?" tanya Hinata balik.

"Namaku Kyuubi," jawabnya singkat, padat dan jelas.

Naruto sibuk menyiapkan semua piring untuk makan malam. Sedangkan Hinata, tak ada hal lain yang bisa ia kerjakan kecuali memandang Naruto dari detik ke detik. Kedua alis Hinata bertaut ketika mendengar nama pria tampan berambut pirang ini. Kyuubi, bukankah itu adalah nama dari salah satu sembilan legenda monster jaman dulu. Nama band lima pria tampan itu memang terinspirasi dari nama salah satu legenda sembilan monster. Setiap member memiliki nama panggung sendiri, Neji - Ichibi, Shikamaru – Nibi, Sai – Sanbi, Sasuke – Yonbi. Jika dilihat semua nama panggung itu berurutan tapi entah kenapa Naruto di beri nama Kyuubi bukan Gobi yang artinya monster berekor lima. Band FoxNine memang memiliki konsep yang sedikit nyentrik dan aneh.

"Kyuubi? Bukankah kyuubi adalah rubah berekor sembilan? Itu benar-benar nama aslimu. Aneh sekalih," ujar Hinata heran dan tak percaya.

"Ahahah, itu bukan nama asli. Nama asliku Uzumaki Naruto. Itu cuma nama panggung."

"Apa maksudnya nama panggung aku tidak mengerti?"

"Kau tidak tahu siapa kami?" Naruto tercengang dan shock. Bagaimana mungkin, jaman sekarang masih ada orang di Jepang yang tidak mengenal mereka. Jika orang lanjut usia, tak mengenal mereka tidak masalah tapi orang di depannya ini adalah seorang gadis remaja yang seharusnya tergila-gila pada mereka.

"Memangnya kalian siapa?" Orang terkenalkah?" tanya Hinata polos. Naruto ingin sekali menjelaskan siapa mereka sebenarnya tapi percuma walaupun dijelaskan panjang lebar sepertinya Hinata tidak akan mengerti.

"Sudahlah, lupakan saja. Ini makanan sudah siap, lebih baik kau menyiapkan nasi ."

Sepuluh menit kemudian makan malam sudah siap. Suasana makan malam kali ini bagi Hinata adalah makan malam yang sangat menyenangkan dan penuh dengan tawa. Hinata benar-benar bahagia, dia sudah lama tidak merasakan kehangatan makan malam seperti ini. Mereka saling berkenalan dan bercanda bersama. Tentunya member FoxNine berkenalan dengan menggunakan nama asli mereka. Pria dengan rambut sebahu dengan nilai ketampanan 8.5, ia bernama Neji, Pria yang suka tersenyum dengan rambut cepaknya, yang memiliki nilai ketampanan 8.4 bernama Sai, sedangkan pria yang memiliki kesan angkuh, dingin dan tak pedulu, serta standar ketampanan 8.9 ia adalah Sasuke. Pria berwajah manis bahkan terlihat sedikit cantik dengan kuncir rambutnya dan ketampanan 8.3 ia adalah Shikamaru. Mata Hinata kemudian melirik Naruto yang asyik menyeruput mie ke dalam mulutnya, bagi Hinata ia adalah pria tertampan diantara empat temannya. 9.0 itu adalah nilai ketampanan Naruto.

"Wuaaah, kenyang sekali," celetuk Naruto.

Pada akhirnya Hinata tidur di luar, kamar tidurnya di tempati oleh empat tamu asingnya. Banyak sekali nyamuk yang memakan darahnya dengan rakus,. Karena nyamuk-nyamuk kelaparan ini Hinata tidak bisa tidur serta keinginan untuk buang air kecil menambah kekuatan insomnianya. Sempoyongan Hinata berjalan menuju kamar mandi sambil menggaruk kepala. Dari luar samar-samar terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, seperti ada orang di dalam tapi dia tidak mempedulikannya. Hinata membuka pintu kamar mandi secara perlahan, dengan mata sedikit terbuka ia melihat sosok tinggi dengan rambut pirang, asyik berdiri menyamping sambil bersiul. Hinata sadar, orang itu adalah Naruto. Sialnya lagi sebelum ia menyadari itu Naruto, Hinata melihat semua dari atas sampai bawah.

"Kiaaaaaaaaaa! " Hinata berteriak sambil menutup mata.

"Kiaaaaaa! Hei, apa yang sedang kau lakukan disini," tanya Naruto, cepat-cepat ia membenahi resleting celananya. "Kau sengaja mengintipku ya?"

"Apa? aku tidak punya niat untuk mengintipmu. Aku hanya ingin buang air kecil," jawab Hinata

"Apa kau melihat sesuatu?" Naruto merasa dirinya telah ternoda.

"A..a ti..tidak aku tidak melihat apapun," wajah Hinata memerah menjawab pertanyaan Naruto.

"Apa kau berkata jujur? Katakan padaku apa kau melihatnya?" tanya Naruto sedikit merengek.

"Melihat a... apa? Sungguh aku tidak melihat apapun. Sekarang cepatlah kau keluar," Hinata menarik tangan Naruto keluar dan masuk ke dalam kamar mandi. Ini sangat memalukan. Benar-benar memalukan. "Aku melihatnya, aku benar-benar meihatnya," gerutu Hinata sambil mengacak-acak rambutnya.

ooOOoo

Pagi-pagi sekali, Hinata mencium bau wangi bumbu yang menyengat hidungnya. Bau harumnya mengundang air liur dan ingin segera memakan masakan itu. Karena bau sedap ini membuat Hinata terbangun. Gadis itu berjalan lunglai menuju ruang tengah. Dia begitu terkejut melihat banyak makanan yang sudah terhidang di meja makan. Disana sudah ada Sasuke, Sai, Shikamaru dan Neji hanya Naruto yang tidak ada. Kemana perginya anak itu? batin Hinata.

"Pagi Hinata. Bagaimana, apa tidurmu nyenyak?" tanya Neji sambil mempersiapkan air putih didalam gelas sebanyak enam orang. Hinata hanya mengangguk dan melihat makanan yang ada di meja.

"Kalau boleh tahu, siapa yang memasak ini semua?" tanya Hinata penasaran.

"Ini Naruto mom yang memasak"

"Naruto mom?" Hinata bingung sedangkan Neji mengangguk.

"Ini semua yang memasak adalah Naruto. kami sering memanggilnya Mom karena diantara kita dia yang paling pintar memasak dan yang paling cerewet," jelas Sai.

" Iya, Naruto juga sering menyetrikakan baju setiap pagi," senyum Shikamaru

" TARADA, sarapan sudah siap. Saatnya sarapan," ucap Naruto tiba-tiba.

Ya Tuhan. Dia sungguh mempesona. Dengan celemek warna biru membuat Naruto semakin tampan, Mereka berenam duduk melingkari meja makan. Masakan hari ini sebenarnya biasa saja tapi karena Naruto bisa mengolah bahan makanan yang sederhana dengan baik, sarapan ini terlihat sangat mewah. Tiba-tiba sekelebat kejadian tadi malam terulang dibenak Hinata. Blush, ia begitu malu, seketika wajahnya memerah. Ia tak berani melihat Naruto, begitu pula dengan Naruto.

"Ayo kita makan," kata Neji.

Sedikit demi sedikit Hinata memakan masakan Naruto. Empat orang lain sibuk berceloteh kesana kemari, hanya dua orang yang tak mengatakan apa pun. Hinata dan Naruto, biasanya Naruto adalah member yang paling cerewet namun dimata yang lain sikapnya pagi ini sedikit aneh. Sasuke memicingkan mata elangnya ke arah Hinata dan Naruto. Wajah keduanya pun sedikit memerah.

"Apa kalian berdua sakit? Kenapa wajah kalian sedikit memerah?" tanya Sasuke.

"Tidak?!" jawab mereka berdua bersamaan. Hening, ke empat orang lainnya terdiam melihat reaksi Hinata dan Naruto secara bersamaan bahkan terkesan berlebihan. Hinata sadar, suasana ini bisa memancing pertanyaan-pertanyaan aneh dari mereka,

"Wuah Enak sekali. Ternyata Naruto pintar sekali memasak," puji Hinata mengalihkan pembicaraan. Naruto hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka berenam begitu menikmati sarapan pagi ini. "Oh ya…. hari ini kalian akan melanjutkan perjalanan kemana?" Semua terdiam, tak ada satupun orang yang mencoba menjawab pertanyaan Hinata. Ekspresi kebahagiaan mereka perlahan memudar dihembus angin.

"Hinata, sebenarnya kita tidak tahu mau kemana. Awalnya kita mau berlibur di Shirou tapi karena ada sedikit masalah. Kita tersesat disini dan tidak tahu harus bagaimana jadi..."

"Langsung saja ke intinya," kata Hinata sambil makan.

"Hinata, Kita tidak punya uang sama sekali. Jadi mana mungkin kita bisa pulang. Bolehkah kita menginap beberapa hari lagi?" tanya Naruto blak-blakan.

"Apa? yang benar saja. Mana mungkin aku bisa menghidupi kalian disini. Uangku tidak akan cukup untuk makan kalian."

"Oke… kita buat perjanjian. Selama kita disini, kita akan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Bagaimana?"ucap Sai. Sedangkan Hinata terdiam sejenak untuk berfikir, apakah perjanjian ini menguntngkan baginya atau tidak.

"Selain itu kita juga akan membantumu mencari uang, Setuju?" ujar Sasuke. Neji, Sai, Shikamaru dan Naruto mengangguk tanda setuju.

"Baiklah kalau begitu aku setuju," ucap Hinata.

ooOOoo

Hinata berangkat "Bekerja" namun ia melakukan pekerjaan yang berbeda dengan hari biasanya. Hinata ditemani oleh Shikamaru. Sepanjang perjajalan, mereka berdua banyak sekali bercerita dan bersendau gurau bersama. Perjalanan menuju pusat kota lumayan jauh. Karena rumah Hinata jauh dari keramaian kota. Mereka harus dua kali naik bis untuk menuju ke pusat kota. Ada yang aneh dengan Shikamaru hari ini. Dia selalu memakai penutup kepalanya ketika berada di tempat-tempat umum. Ia juga selalu mendudukan kepalanya. Hinata merasa ada yang aneh dengan tingkah lakunya, Shikamaru terkesan tak mau dilihat wajahnya oleh orang lain. Benar-benar aneh, batin Hinata.

"Hinata, apa perjalanan masih jauh?" tanya Shikamaru namun Hinata tak menjawab pertanyaan pemuda tampan yang ada disampingnya.

Hinata berdiri, dan dia berdiri di tengah-tengah seorang bibi. Shikamaru diam dan melihat Hinata dengan tatapan aneh. Secara hati-hati dan pelan Hinata mengambil dompet yang nerada di saku jaket si paman. Shikamaru shock, melihat Hinata melakukan hal itu.

"Hinata apa yang kau… "

"Ssssst ... ," Hinata meletakkan jari telunjuk diatas bibirnya. Itu adalah kode agar Shikamaru diam.

Tak lama Hinata berhasil mengambil dompet itu dan memasukkan ke dalam jaketnya. Gadis itu menarik tangan Shikamaru. Mereka berdua keluar begitu saja dari bis saat ada pemberhentian.

"Hinata, apa yang kau lakukan?" komentar Shikamaru dengan nada sedikit tinggi.

"Shikamaru, kalau aku tidak melakukan ini aku tidak akan makan."

"Tapi bagaimanapun juga itu perbuaan tercela ….".

Hinata diam mendengar ucapa Shikamaru. Ia tahu bahwa perbuatannya ini merugikan orang lain tapi dia juga harus mempertahankan hidup. Gadis itu tak menggubris Shikamaru yang terus mengoceh karena kelakuannya. Hinata terus berjalan, langkahnya terhenti disebuah kedai mie ramen. Siang ini, entah mengapa Hinata merasa begitu lapar. Hinata menawari Shikamaru semangkok mie ramen tapi pia itu tida mau karena itu di belikan makanan dengan uang curian. Hinata sedikit kecewa, namun dia yakin Shimarau juga lapar. KRUUUUKKKKKK…..

Hei, Shikamaru itu suara perutmu?"

"Ti... tidak," elaknya.

"Sudahlah Shikamaru cepatlah pesan makanan, aku janji padamu tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi."

"Baiklah…tapi kau benar-benar janji ya!" Hinata mengangguk dan pada akhirnya Shikamaru memesan semangkok mie ramen.

ooOOoo

Sementara itu di rumah Hinata…..

Sasuke, Sai, Neji dan Naruto sibuk beres-beres rumah. Memang selama ini rumah Hinata tidak pernah ia bersihkan. Ia tidak sempat membersihkan rumah. Sesmpainya pulang, Hinata merasa lelah. Dalam sehari Hinata melakukan tiga pekerjaan, saat pagi sekali Hinata bekerja sebagai loper Koran, saat siang ia bekerja sebagai pengantar, lalu malamnya Hinata bekerja di POM bensin. Karena terlalu sibuk bekerja, Hinata tidak ada waktu untuk merawat dirinya sendiri. Tiga pemuda tampan bekerja bakti tanpa mengenal lelah dan penuh semangat.

"Ahhh…. gadis macam apa dia, lihatlah kamarnya berantakan sekali," gerutu Naruto.

"Apa kau tidak memperhatikan kalau Hinata itu lain dari gadis lainnya, dia tomboy dan tidak peduli dengan penampilannya, bisa bela diri, dan sedikit jorok," ucap Sai sembari menggelengkan kepalanya karena ia baru pertama kali melihat rumah seorang gadis sejorok ini.

"Menurutku dia itu gadis yang aneh," seru Naruto.

"Tapi kalau kau melihat Hinata dengan seksama dia manis sekali."

"Hai Sai, jangan mikir macam-macam. ayo bersih-bersih bukan saatnya kau mengangumi seorang wanita disaat seperti ini," omel Naruto. Sementara itu Sasuke dan Neji asyik mencuci seluruh pakaian kotor Hinata yang menumpuk.

"Ahh, Neji bagaimana kita bisa mencuci dengan air yang dinginnya seperti ini?" seru Sasuke yang bergidik kedinginan setelah mencelupkan tangannya ke dalam air.

"Benar juga apa katamu Sasuke, kalau begitu mencucinya jangan menggunakan tangan tapi pakai kayu." Neji clingak-clinguk mencari kayu yang sekiranya bisa di pakai, tak lama dia bisa menemukan kayu yang di maksud.

"Wah…Neji kau ini hebat sekali."

"Kalau tidak hebat mana mungkin aku bisa jadi leader kalian hehehe…." ujar Neji penuh rasa percaya diri. Mendengar hal itu Sasuke tersenyum sinis, bosan setiap hari harus mendengarkan Neji membanggakan diri sendiri.

"Terserahlah, tapi apa Hinata tahu siapa kita?" tanya Sasuke kepada Neji

"Sepertinya dia tidak tahu siapa kita, lagi pula disini tidak ada TV, tidak ada sinyal ponsel. Kadang aku berpikir tempat macam apa ini."

"Sudahlah jangan dipikirkan. ayo cepat cuci."

ooOOoo

Sore hari menjelang malam, mereka berempat asyik duduk bersama depan rumah Hinata. Sai, Neji, Sasuke dan Naruto bingung mau melakukan apa karena semua pekerjaan rumah sudah selesai. Ingin menghilangkan rasa bosan dengan menonton televisi tapi di rumah Hinata tidak ada. Selain itu mereka juga mencari jalan keluar bagaimana caranya mereka kembali bisa kembali ke Tokyo.

"Perutku lapar sekali, Naruto apa kau tidak memasak?" ucap Sai sambil memegangi perutnya.

" Memasak apa? di sini tidak ada bahan makanan lagi. Aku heran kenapa Hinata bisa bertahan dengan keadaan seperti ini."

"Hinata tidak menngenali kami, yang benar saja?" ucap Sasuke tiba-tiba yang melenceng jauh dari pembicaraan Sai dan Naruto.

"Aku rasa juga begitu," ucap Neji.

"Hinata itu memang tidak tahu siapa kita, waktu aku membantunya memasak, dia aneh mendengar namaku. Waktu aku bilang Kyuubi adalah nama stage-ku, dia bertanya apa maksudnya itu?aku tidak habis piker, masih ada orang yang tidak kenal kita."

"Sudahlah itu tidak penting, sekarang cari jalan bagaimana kita mencari uang untuk pulang?" ujar Neji.

"Bagaimana kalo kita meminta bantuan Hinata untuk mencarikan pekerjaan untuk kita?" saran Sai.

"Aku setuju, pekerjaan apa saja yang penting kita bisa pulang," seru Sasuke.

"Hei Shikamaru dan Hinata sudah datang," ucap Naruto.

Hinata dan Shikamaru berjalan sempoyongan karena capek, Hinata membawa banyak sekali makanan dan belanjaan. Hinata tahu bahwa mereka berempat kelaparan. Dengan terpaksa Hinata membelikan makanan dari uang hasil curian. Tapi lebih baik makan daripada tidak sama sekali.

"Kami pulang," sapa Shikamaru.

"Kami membelikan makanan untuk kalian, aku tahu kalian sangat lapar," ucap Hinata. Mereka semua berjalan menuju ruang tamu. Tempat ini adalah tempat multifungsi kadang di gunakan untuk makan dan tempat santai. Hinata mulai menyiapkan makanan dari satu piring ke piring lain.

"Wuah, Hinata kau membeli ayam goreng, enak sekali," seru Neji yang kegirangan karena Hinata membelikan ia makanan favoritnya yaitu ayam goreng.

Hinata sibuk membongkar belanjaan dan makanan. Tapi Neji sudah tidak sabar ingin segera makan paha ayam yang menggoda selera. Sepertinya paha ayam lebih menarik perhatian Neji daripada paha wanita, ucap Hinata dalam hati. Ketika Hinata memindahkan ayam goreng ke piring, tangan Neji berusaha menyambar ayam. PLAAAK, Hinata memukul tangan Neji begitu keras.

"Aduh Hinat, kau ini kasar sekali. aku hanya ingin mengambil ayam."

"Iya, aku tahu. Sabar kita makan sama-sama. Saatnya makan."

Kami berenam makan dengan lahapnya. Sudah lama Hinata tidak merasakan hal seperti ini biasanya dia hanya makan sendiri tapi sekarang Hinata di temani oleh lima malaikat yang begitu tampan. Ia tidak tahu latar belakang mereka. Tapi Hinata tidak peduli yang penting ia sekarang punya teman.

"Hinata, hari ini kau menerima gaji? Banyak sekali makanan yang kau beli."

"Tidak, aku dapat uang banyak karena hasil mencopet," jawab Hinata enteng.

"Uhuk…uhuk, kau mencopet. Yang benar saja," omel Naruto.

Hinata mengangguk dan terlihat tanpa dosa. Aku terus makan sedangkan mereka melihatku, tapi hanya Shikamaru yang terlihat tidak peduli semuanya karena dia sudah tahu dari awal. Mereka berlima menatap Hinata dengan tatapan sangar. Lima member FoxNine seperti ingin memkannya hidup-hidup. Hinata sadar tingkah laku mereka terhadapnya saat ini.

"Kenapa?" tanya Hinata lagi.

"Shikamaru, apa kau juga ikut?" Sasuke mulai menginterogasi Shikamaru. Ia tak mau salah satu saudara seperjuangannya ini akan melakukan tindakan kriminal.

"Tidak, aku hanya melihat Hinata melakukan hal itu," jelas Shikamaru.

"Sudahlah jangan di bahas lagi, yang penting kita makan. Dan kau melakukan ini untuk terkahir kali oke," ujar Sai.

"Iya, aku tahu. Aku juga tidak ingin melakukan hal-hal bodoh seperti ini lagi."

"Hinata kami berlima berniat untuk mencari pekerjaan, kita ingin cepat mengumpulkan uang dan pulang. Bisakah kau mencarikannya untuk kami?" pinta Neji dengan wajah serius.

"Apa kalian mau menggantikan pekerjaanku?" tanya Hinata. Mereka berlima terdiam dan menatap Hinata aneh. Mungkin mereka berpikir, Hinata menyuruh mereka untuk mencopet atau hal-hal kriminal lainnya. "Hei, aku tidak menyuruh kalian untuk mencopet, tapi gantikan pekerjaanku sebagai loper Koran dan pengantar susu apa kalian mau?"

"Baiklah aku mau jadi loper Koran," ucap Neji.

"Pengantar susu juga boleh," ujar Sai.

"Aku juga ingin menjadi pengantar susu," mata Shikamaru terlihat berbinar.

"Kau ini ikut-ikutan saja Shikamaru," omel Sai.

"Lalu, aku dan Naruto bagaimana?" Tanya Sasuke pada Hinata.

"Ehm…ah..kalian bisa ikut aku bekerja di pom bensin bagaimana? kebetulan juga disana sedang lagi mencari pegawai baru."

"Baiklah Hinata terima kasih," ucapnya.

"Hinata, jam kerjanya itu malam, pagi atau siang?"

"Malam."

"Oke, besok kita ke tempat kerja masing-masing."

ooOOoo

Pagi ini Hinata dan kelima orang tampan ini menuju ke tempat kerja masing-masing. Pertama, ia mengantarkan Neji di tempat agen Koran. Setelah selesai mengantar Neji, sekrang Hinata mengantar Sai dan Shikamaru ke agen susu. Ada hal yang membuat Hinata heran, mereka berlima selalu memakai topi jika keluar rumah. Padahal cuaca juga tidak panas. Sekarang Hinata, Sasuke dan Naruto pergi ke tempat kerja tepatnya di POM bensin. Hinata mengenalkan Naruto dan Sasuke kepada kepala POM. Walaupun dia adalah kepala POM tapi Hinata begitu akrab dengannya.

"Paman, selamat pagi," sapa Hinata.

"Selamat pagi Hinata, ada apa pagi-pagi kemari?"

"Aku sudah menemukan karyawan baru, kata paman pegawai malam hari di Pom tidak ada."

"Oh, kau ini baik sekali," kata paman itu mengacak-ngacak rambut panjang Hinata yang ia tali ala ekor kuda. Mata paman itu beralih ke dua pemuda tampan yang berdiri tegak dihadapannya. "Siapa nama kalian?" tanya paman. Naruto dan Sasuke melepas topinya. Mata paman melebar, ia terlihat shock ketika melihat wajah Naruto dan Sasuke.

"Bukannya kalian ini...?" paman mulai mendekat ke arah mereka berdua. Raut wajah paman itu menggambarkan rasa tidak percaya, seperti pernah melihat mereka sebelumnya. Belum sempat paman itu melanjutkan kata-katanya Naruto dan Sasuke angkat bicara.

"Halo salam kenal, namaku Izanagi Isao," Kata Naruto dengan senyum ramah. Hinata terkejut mendengar salam perkenalan dari Naruto. Bukankahnama diasebenarnya Naruto kenapa berubah jadi Isao. Batin Hinata

"Halo salam kenal, Hitoshi Isamu," untuk kedua kalinya Hinata kaget sekali mendengar pengakuan mereka berdua. Ini apa lagi Sasuke juga ikut-ikutan merubah namanya. Sasuke menjadi Isamu. Benar-benar aneh.

"Aku kira kalian ini Anggota FoxNine. Memang di dunia ini banyak sekali orang yang mirip," paman itu tersenyum setelah di landa kebingungan. Ia berjalan menuju meja kerjanya, ia masih dengan memandang Naruto dan Sasuke bergantian. Tidak boleh, ini tidak boleh terjadi. Paman harus tahu nama dia sebenarnya. Batin Hinata.

"Hei, Kalian ini, bukankah nama kalian..." Hinata merasa ada seseorang yang tiba-tiba membekap mulutnya dengan erat. Hinata melirik, ia ingin tahu siapa orang yang membekap mulutnya. Ternyata ia adalah Naruto. Paman memandang heran ke arah mereka bertiga.

"Hehehehe…paman kita sering bercanda seperti ini, jadi kau jangan heran benar kan Hinata?" Naruto melotot kearah Hinata yang tidak mejawabnya. Dia terus memberontak dari bekapan Naruto.

"Iya paman kita berdua begitu sayang dengan Hinata, kadang kami bercandanya keterlaluan. Oh ya paman saatnya kita pergi karena masih ada urusan."

Alhasil Hinata di bawa keluar mereka secara paksa dengan mulut yang masih dibekap. Sampai dia bisa bernafas. Ini sih namanya Tindak kriminal. Setelah jauh dari kantor POM, Naruto dan Sasuke melepaskan bekapan tangannya dari mulut Hinata.

"Kalian ini kenapa, aneh sekali?" protes Hinata.

"Hinata, mulai sekarang kau harus memanggil kami, Isao dan Isamu, mengerti?"

"Memangnya kenapa aku harus kalian memanggil kalian seperti itu, seperti artis saja memakai nama samaran?"

"Memang kita artis," celetuk Sasuke.

"Cih…artis apanya? Mana ada artis yang tidak punya uang dan tidur dirumah orang." Sasuke dan Naruto meninggalkan Hinata begitu saja, mereka tak mau mendengar celotehan Hinata.

"Hei, kalian tunggu aku…..".

TO BE CONTINUE