"...Aominecchi..."

"Ngggg..."

"Senpai!"

"..."

Kise meringis. Ia ingin ke toilet dan tubuhnya terhalang oleh tangan Aomine yang mendekap erat dirinya. Kise melirik jam dinding di seberang ranjangnya. Pukul 3 pagi. Seriusan, sejak kapan Aominecchi pindah kasur seperti ini, pikir Kise.

Kise memutuskan mengangkat tangan Aomine dari tubuhnya secara paksa. Sejak hubungan senpai-kouhai mereka naik tingkat menjadi pacaran, namun rasanya hubungan mereka masih seperti yang dulu. Teman sekamar asrama dan setim basket. Kecuali, sekarang Aomine punya hobi baru, yaitu memeluk Kise dalam tidurnya, dan otomatis hanya kasur Kise yang terpakai. Entah, Kise pun tak mengerti apakah Aomine sengaja atau hanya sleepwalking dalam tidurnya tanpa sadar.

Setelah keluar dari toilet, Kise semakin bingung. Kasurnya ditempati Aomine dan pada akhirnya Kise memilih kasur Aomine yang kosong walau sedikit kesal.

~*-*-*-0v0-*-*-*~

Kise terbangun saat sinar matahari yang hangat menyorot wajahnya. Ah, pasti ia lupa menutup tirainya semalam. Kise mendapati ia berada di kasur yang bukan miliknya. Kasur Aomine. Dan kasurnya sendiri masih berantakan tanpa ada penghuninya.

Kise bergegas membereskan kasur Aomine seperti sedia kala. Setelah itu ia berjalan, hendak membereskan tempat tidurnya sendiri.

"Kise!"

"Gyaaa!" Kise menoleh, Aomine rupanya. Baru mandi, dan ia hanya berbalutkan handuk mandi berwarna putih di pinggulnya sampai di atas lutut.

"Kenapa kau seperti orang kesetanan begitu." gerutu Aomine.

"Mou Aominecchi! Pakai baju!"

"iya iya." Aomine bergegas menghampiri lemari pakaiannya.

"Aominecchi jangan mengigau terus pindah ke tempat tidurku-ssu... Kan sempit..." ujar Kise seraya membereskan kasurnya.

"Aku tidak mengigau. Sengaja, kok!"

"Eeh?"

"Karena punyamu lebih hangat."

"Sama aja, Aominecchi." Kise mendengus. "Aominecchi beli comforter baru sana. Atau dakimakura yang ada penghangatnya." usulnya.

"Ah, repot. Mending peluk kau, gulingnya selalu hangat." ujar Aomine santai.

"H-hentai!"

Sebenarnya bukannya Kise tidak mau bersentuhan dengan Aomine, apalagi dipeluk. Kenyataannya ia sangat senang, walaupun tempatnya jadi sempit. Tapi ini menyangkut harga dirinya. Kise menyukai Aomine, tetapi ia masih belum tahu apakah Aomine menyukainya. Ia bertekad tidak akan membuat Aomine memperoleh keuntungan atas dirinya sebelum ia berkata suka padanya.

Ah, repot, bukan? Mengingat Aomine terkadang bebal dan tidak sensitif. Tapi Kise tidak mau senpainya itu membalas perasaannya hanya karena mereka telah memasuki tahap selanjutnya. Kise akan menunggu Aomine menyadari perasaannya sendiri. Ia akan membuat Aomine menyukainya tanpa menggunakan cara-cara curang seperti menggodanya.

"Hari ini latihan basket?" tanya Aomine sambil meneguk susu sapi tawar dari kulkas. Hal itu merupakan kebiasaan sejak kecil yang terbawa hingga sekarang, sehingga di kulkas pasti ada persediaan susu. Hal yang membuat Kise tersenyum simpul, menurutnya itu hal manis dari Aomine. Siapa sangka wajah sangar sang ace idolanya hobi minum susu?

"Akashicchi-senpai bilang tidak ada. Katanya senpai dan pelatih ada acara ke sekolah di luar kota." Kise mulai mengemasi barangnya dan masuk ke kamar mandi. Aomine meliriknya sejenak sampai bayangannya tertutup pintu kamar mandi, dan kembali meneguk susunya.

~*-*-*-0v0-*-*-*~

"Kise." panggil Aomine saat jam sekolah berakhir. Kise menoleh, mendapati pacarnya sudah menunggu di depan pintu kelasnya. Pipinya sedikit merona, namun ia dengan cepat menepisnya.

"Ada apa Aominecchi? Hari ini tidak ada latihan, kan?" tanya Kise seraya membereskan buku-bukunya.

"Kau tidak ada pemotretan hari ini?" Aomine menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kalau tidak ada, one-on-one?"

"Mauuu! Tunggu sebentar, Aominecchi!"

"Iya, iya. Jangan terburu-buru, ada banyak waktu kok."

Kise cekikikan senang. Biasanya ia yang meminta jatah one-on-one pada sang ace. Tumben Aomine mengajak one-on-one. Akhir-akhir ini Aomine lebih sering bermain bersama Kagami, kadang Kise hanya menonton di bangku bersama Kuroko. Kise akui Kagami mempunyai gaya bermain yang mirip dengan Aomine sehingga keduanya cocok, walau di luar lapangan mereka seperti anjing dan kucing yang tak henti-hentinya berdebat.

Setekah mengemasi bukunya, Kise bersama Aomine memutuskan untuk bermain di lapang dekat asrama mereka. Selain jarang yang bermain di sana, lapang itu juga cukup dekat dengan Maji Burger dan konbini, sehingga habis bermain mereka bisa langsung makan malam.

Beberapa saat kemudian, decit sepatu dari dua orang tinggi mulai terdengar, menandakan suasana semakin panas.

"Kise, aku ada ide."

"Huh?" ujar Kise bingung sambil tetap bergerak mengejar bola yang kini dipegang Aomine.

"Bagaimana kalau yang kalah melakukan sesuatu untuk yang menang? Sesuai perintah pemenang tentu saja." Aomine memasukkan bola ke dalam basket, memimpin pertandingan kecil ini. Aomine melirik Kise yang hanya melongo.

"Eeh?"

"Bagaimana? Jangan cuma bilang 'Eeh?'."

Bukannya Kise mau mengaku kalah, tapi entah mengapa ia punya firasat buruk kali ini (walaupun setiap one-on-one ia selalu kalah, tapi tetap optimis).

"Tidak mau!"

"Hmmm? Kau sudah menyerah, Kise?"

Tidak boleh. Kise tidak akan terpancing.

"Kau akhirnya mengaku kalah? Bahkan kita belum selesai main."

"Argh! Iyaaa! Baiklah!" entah setan apa yang merasukinya berteriak seperti itu, tapi Kise merasakan bahwa ia akan menyesali ini kemudian.

Aomine menyeringai, dan tiba-tiba Kise merasa dalam bahaya.

~*-*-*-0v0-*-*-*~

"Uwaaaahhhh! Aominecchi baka!" tangis Kise saat dirinya kalah. Seperti biasa. Aomine hanya tertawa..

"Yang bisa mengalahkanku, hanya aku sendiri!"

"Baka! Uhhh... Seharusnya aku tidak menerima taruhan itu-ssu..."

"Oke! Sesuai janji kau harus mengikuti apa kataku."

"Uuhh... Ya sudah. Aominecchi mau apa? Jangan yang aneh-aneh-ssu!"

"Ehem" Aomine berdehem. "Aku ingin kau, Kise Ryouta, menjadi gulingku untuk satu bulan."

Kise melongo.

"Eeeh!?" Guling? Maksudnya?

"Iya, guling. Akhir-akhir ini aku suka kedinginan tengah malam. Dari pada aku masuk angin, mending aku peluk yang hangat."

"Tapi kenapa aku-ssu? Kasurnya jadi sempit pula..."

"Ya bagus. Jadi tambah hangat. Plus aku sudah pernah memelukmu tadi malam, dan rasanya menyenangkan juga. Jadi aku ingin lagi. Wangimu juga enak, badanmu ukurannya pas di tanganku. Jadi, pilihan bagus kan?" terang Aomine panjang lebar, berusaha menyakinkan Kise.

"Haaaah..." desah Kise panjang. "Kau tidak mengerti, Aominecchi..." gerutunya pelan. Namun tidak cukup pelan untuk luput dari pendengaran Aomine.

"Aku tidak mengerti apanya?"

"Tidak." Kise tersenyum. "Ya sudahlah. Kau keras kepala sekali. Ayo makan, Aominecchi."

Aomine tersenyum riang, sampai Kise mengucek matanya tak percaya. "Oke. Kau yang bayar."

"Apa!? Kenapa aku yang bayar?"

"Kan kau kalah."

"Tidak mau! Aominecchi yang bayar. Kalau tidak, tidak ada guling!"

"Tsk. Ya sudah. Tapi jangan banyak-banyak!"

"Yayyy!" Kise mengalunkan tangannya di lengan Aomine, menyeretnya pergi dengan senang.

~*-*-*-0v0-*-*-*~

Hello! Finally ch 2! Sekadar penjelasan, guys. Jadi ini settingnya Teiko versi SMA, terus Aomine, Akashi, Midorima, Momoi, dan Murasakibara kelas 2, sedangkan, Kise, Kagami, Kuroko freshman. Mereka tinggal di asrama yang tak jauh dari sekolahnya.

Review y4cH! :*