Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe

X-MEN : THE OMEGA

©LONGLIVE AUTHOR

chapter 20


Hening. Mereka semua sangat berduka. Pertama Profesor Sarutobi, sekarang Asuma.

"Aku...masih...hidup..."

Mereka semua tersentak dan menoleh kearah sumber suara.

"Asuma?! Bagaimana mungkin..." kata Yamato. "Aku sudah memeriksamu dan jantungmu benar-benar berhenti."

Asuma bangkit dari tidurnya, Kurenai membantunya.

"Sakura...dia yang melindungiku."


Sakura masuk kedalam kamarnya yang sama kelamnya seperti biasa. Itachi masih berada disana tapi di sudah terbangun, dia sedang bersandar di punggung ranjang. Baru saja dia menutup pintu tubuhnya ambruk. Hal itu membuat Itachi kaget dan bangun dari tempat tidurnya.

"Ada apa denganmu Sakura?" tanya Itachi. Sakura memegangi kepalanya, reaksinya sama seperti waktu setelah mereka menyerang kantor dewan waktu itu. Itachi meraih bahu Sakura dan menuntunnya perlahan untuk duduk di ranjang.

"Apa kau melakukan sesuatu lagi?" tanya Itachi ketika Sakura menegadah dan mendapati hidungnya sudah mengeluarkan darah dan luka kecil di bibirnya. "Aku mendengar suara teriakan Hidan dibawah."

"Aku harus segera menyelesaikannya. Mereka semua..."

Suara sakura terdengar sangat aneh dan ekspresinya sangat menyeramkan, ekspresinya sangat jahat seperti seorang psikopat. Itachi baru sadar kalau wajah Sakura sangat pucat dan juga terlihat sangat letih. Lingkarang hitam terlihat jelas disekeliling matanya dan kedua bola matanya pun mulai menghitam, memakan semua warna emerald disana. Satu hal yang pasti, kalau saat ini Sakura mulai kehilangan kendalinya...lagi.

"Sakura, lihat aku...Sakura!"

Itachi menangkap kedua sisi wajah Sakura, memaksanya untuk menatapnya. Kedua mata yang hampir menghitam itu beradu dengan mata Itachi yang sudah berubah merah.

"Tenanglah..."

Perlahan-lahan kedua mata Sakura kembali cerah dan dia mendapatkan kembali fokusnya. Namun begitu ia sadar ia malah terkulai lemas. Kepala Sakura menunduk di bahu Itachi. Mata pria itu kembali seperti semula.

"Apa yang terjadi? Apa mereka kesini? Para X Men?" Sakura mengangguk lemah.

Itachi menatap puncak kepala yang tertunduk di bahunya itu. Kasihan. Itachi sangat kasihan padanya. Sepanjang waktu Sakura mengontrol pikirannya. Dia memainkan peran yang sangat sulit. Menjadi seorang gadis Omega yang tak punya hati dan berdarah dingin. Dia memanipulasi pikiran semua orang dan tidak membiarkan seorangpun membaca hatinya. Seperti harus memerankan tokoh antagonis di film yang ia sukai. Itu adalah hal yang sulit. Sama halnya seperti Itachi. Sebenarnya Sakura adalah agen ganda yang memikul semuanya sendirian dan mengorbankan hidupnya setiap hari. Itulah kenapa Itachi sangat mengerti perasaan Sakura.

Itachi mengangkat tubuh Sakura ke tempat tidur. Ia sudah memejamkan matanya. Bekas darah dihidungnya masih terlihat. Perlahan-lahan tubuh Sakura rusak karena menanggung banyak tekanan mental dan beban fisik. Dia semakin sering kehilangan kendali saat emosinya tersulut.

Setelah memastikan Sakura benar-benar tertidur, Itachi keluar dari kamarnya.

Sementara itu di X mansion semua orang masih bertanya-tanya bagaimana Asuma masih hidup setelah diserang oleh Hidan. Mereka sangat gembira tentu saja, tapi mereka tetap tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi sementara mereka melihat Asuma ambruk didepan mata mereka.

"Bagaimana bisa Asuma?" tanya Kakashi.

Pria itu terdiam sebentar tampak berpikir.

"Dia, Sakura...saat Hidan mulai mencengkram tanganku Sakura tidak pernah melepaskan pandanganya dariku. Dia seperti sedang melakukan sesuatu, tapi aku tidak yakin dengan yang dilakukannya dan ketika Hidan menusukkan pisaunya pada dirinya sendiri aku memang merasakan sesuatu..." Asuma memegang dada kirinya.

"...aku merasa sesuatu menekan dadaku tapi tidak terasa sakit, seperti ada sesuatu yang menahannya. Tubuhku terjatuh begitu saja tanpa perintah, dan saat Hidan mencabut pisau itu dari tubuhnya darah keluar begitu saja. Tapi tak terjadi apa-apa padaku. Lalu aku terjatuh, aku sangat sadar tapi tak bisa membuka mataku dan menggerakkan tubuhku. Bahkan aku bisa merasakan ketika kita berpindah dengan teleportasi atau ketika Yamato memeriksa denyut nadiku." Ia menghela napas. " Aku masih hidup dan baik-baik saja."

Hening kemudian. Ruangan itu diliputi dengan kesunyian, tak perlu diberitahu karena mereka semua sedang memikirkan hal yang sama.

"Dia memanipulasi pikiran Hidan dan Kakuzu, dan juga kita semua agar mengira aku sudah mati." Asuma menegaskan kalimatnya.

Sepertinya mereka semua mendapatkan titik terang dari apa yang telah terjadi. Kelegaan luar biasa muncul diwajah Kakashi.

"Apa ini berarti selama ini Sakura masih berada di pihak kita?" ujar Kakashi. Tidak ada yang menjawab, tapi mereka semua tahu jawabannya. "Aku harus bertemu dengan Naruto."

Kakashi berjalan cepat keluar dari ruangan itu dan menuju ruang isolasi yang tak jauh dari ruang perawatan. Menurut petugas yang berjaga Naruto sudah tidak mengamuk lagi tapi ia harus berhati-hati jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Naruto?" Kakashi masuk melewati pintu besi setebal 10 inci itu dengan tenang. Naruto terlihat sedang tertunduk di pojok ruangan sambil menjambak rambutnya sendiri.

"Bagaimana dengan Asuma?" tanya Naruto datar. Ternyata saat Asuma diserang oleh Hidan ia masih sadar.

"Dia hidup, dan baik-baik saja." jawab Kakashi.

Pemuda itu mendongak dan mendapati Kakashi tengah tersenyum kearahnya.

"Sakura telah menyelamatkan nyawa Asuma" dan Kakashipun menceritakan apa yang terjadi pada Naruto. Sebuah senyuman yang sudah lama tidak ia lihat diwajah Narutopun muncul. Pemuda itu terlihat sangat gembira sehingga wajahnya yang terlihat kusut kembali cerah.

"Sudah kuduga, aku sudah bilang kalau Sakura tidak akan pernah mengkhianati kita. Aku tahu itu." kata Naruto. "Seharusnya jika dia mau membuatku menyerah dia tinggal memanipulasi pikiranku, tapi dia tidak pernah melakukan itu. Selain itu ketika aku memukulnya tadi seharusnya dia sudah tahu, tapi dia menerima pukulan itu." Ujarnya menggebu-gebu

"Kau benar Naruto, maaf kami meragukan mu." ujar Kakashi.

"Tapi Kakashi..." Kakashi mendongak "...aku punya firasat buruk."


Malam harinya ketika Naruto tidur dia bermimpi Sakura mendatanginya. Wajahnya pucat dan tubuhnya kurus. Tapi kedua matanya sama seperti dulu. Masih cerah meski terlihat sangat lelah.

"Sakura?" tanya Naruto, dalam keadaan setengah sadar dia tahu kalau dia sedang bermimpi.

"Aku merindukanmu Naruto." gadis itu tersenyum, sekilas dia mendekat dan memeluknya. Naruto membalas pelukannya. Mereka berpelukan seolah tidak bertemu selama bertahun-tahun.

"Aku tahu, aku tahu kalau kau tidak akan pernah mengkhianati kami." Ujar Naruto lagi.

"Kalian sudah tahu semuanya. Aku mohon jangan bertindak gegabah. Tetaplah bersikaplah seperti biasa." kata Sakura.

"Apa maksudmu Sakura?" tanya Naruto.

"Seharusnya tidak seperti ini Naruto, seharusnya kau mengerti semuanya." Kata Sakura.

"Apa yang tidak aku mengerti?" tanya Naruto yang memang benar tidak mengerti. Sakura memandagi sahabatnya itu. Pandangannya melembut.

"Dasar bodoh!" katanya. "Kau sama sekali tidak berubah."

"Apa maksudmu?" tanya Naruto lagi.

"Untuk apa aku melemparmu sampai kau kehilangan kesadaranmu tadi siang? Untuk apa aku menyembunyikan kematian Asuma? Aku sedang merencanakan sesuatu Naruto." Ujar Sakura tidak sabar. Naruto masih terdiam tapi nampaknya dia menemukan sesuatu.

"Jadi, selama ini kau sengaja menipu kami semua dengan menjadi bagian dari Akatsuki, untuk melakukan rancanamu?" tanya Naruto. Gadis itu mengangguk pelan.

"Tapi Sakura,"

"Naruto!" potong Sakura. "Ini satu-satunya cara. Aku tahu kau pasti akan melarangku, tapi kau harus tau kalau ini adalah rencana yang sempurna. Aku tidak akan membiarkan rencanaku itu gagal meskipun aku harus manipulasi pikiran kalian."

Naruto sudah membuka mulutnya tapi tak ada satupun kata yang keluar. Dia bingung, adu mulut dengan Sakura selalu membuatnya kehabisan akal.

"Dengar Naruto, aku tahu kalian terutama kau akan menentang rencana ku ini. Maka dari itu aku datang kemari untuk memberitahumu secara langsung, dan memang harus begitu. Aku tidak bisa membohongi teman-temanku. Mengertilah Naruto!" Pinta Sakura. Melihat raut wajahnya yang memelas dan juga kesungguhan hatinya Naruto tidak bisa mengelak. Jika benar rencana yang dilakukan oleh Sakura benar-benar akan berhasil dia harus bisa menerima rencana dari Sakura itu. Sekarang hatinya terbagi pada dua pilihan antara sahabatnya dan kepentingan negara.

"Tapi," suara Naruto menjadi rendah "..seharusnya kau tidak menanggungnya sendirian." Naruto tahu kalau mereka berdua sama-sama keras kepala, jadi tidak ada gunanya menolak rencana Sakura karena itu akan menimbulkan perdebatan. Ia bingung harus bagaimana.

"Hei..." gumam Sakura. "Mana Naruto-ku yang selalu optimis? Apa yang kau takutkan?" Sakura menatap lekat-lekat wajah Naruto yang tertunduk. Gadis itu tersenyum, "Kalian terlalu yakin dengan hal yang belum tentu terjadi." Pemuda itu mendongak membalas tatapan Sakura. Itu adalah kata-katanya yang dia ucapkan sebelum pergi mendatangi markas Akatsuki.

"Kau adalah orang yang paling mempercayaiku disaat semua orang menganggapku penjahat dan sekarang aku butuhkau untuk mempercayaiku sekali lagi. Percayalah kalau ini memang satu-satunya jalan dan percayalah kalau aku juga akan baik-baik saja."

Pemuda itu terdiam untuk kesekian kalinya. Dia tidak tahu harus bicara apa atau menanggapi apa, yang ia inginkan hanya membantu Sakura. Tapi rasanya jika seperti ini caranya akan sulit. Ia mengecam dalam hati. Kenapa dia bisa begitu kekakanak-kanakan?.

"Baiklah jika itu bisa membantumu. Aku tidak akan menentang." Balas Naruto akhirnya. Gadis itu tersenyum cerah.

"Itu Naruto-ku. Terima kasih..." Kata Sakura mengenggam tangan Naruto. "Berjanjilah untuk tidak pernah membantuku dalam keadaan apapun." Kalimat Sakura membuat Naruto menjadi tidak karuan, ini benar-benar permintaan yang berat.

"Ya, aku berjanji."

Sakura tersenyum lagi dan sebelum mereka berpisah ia memeluk Naruto singkat. Lalu dia bangkit dari ranjang Naruto.

"Satu hal lagi," katanya "Sasuke telah bergabung dengan Brotherhood untuk membunuh Itachi Uchiha. Dia berada di sebuah markas bawah tanah di dekat bendungan Konoha. Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Aku akan melindungi kalian. Hanya untuk kali ini Naruto..." Ujarnya sebelum bayangan Sakura kabur.

Naruto tersentak terbangun dari tidurnya.

"Sakura..."lirihnya.

Naruto sudah siap-siap pagi sekali. Dia menuju ruang tengah namun masih belum ada siapapun disana. Iapun mencari Kakashi ke kamarnya namun tak menemukannya. Saat ia melewati ruangan Profesor Sarutobi ia melihat pintu ruangannya terbuka dan menemukan Kakashi disana sedang memandangi foto-foto lama yang tergantung di dinding.

"Ah, ada apa Naruto. Kenapa pagi-pagi sekali sudah bangun?" tanya Kakashi begitu dia menyadari keberadaan Naruto. Naruto mendekati Kakashi.

"Ada hal yang harus ku bicarakan denganmu."


Dalam waktu dekat perang akan pecah. Umat manusia sudah siap untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Pemerintah dari juga sudah menyiapkan pasukan yang sangat besar untuk perang ini. Konoha telah dievakuasi, sebisa mungkin mereka memindahkan orang-orang untuk mengungsi ke negara lain. Negara itu telah dikosongkan seolah ada sebuah wabah yang menyebar sehingga menyebabkan negara itu mati. Dewan memang telah runtuh dibawah kepemimpinan Danzou. Tapi Dewan tetap ada dan mereka mempercayakan kepemimpinannya pada Kakashi yang merupakan tangan kanan dari mendiang Profesor Sarutobi.

Para Dewan yang tersisa, Kakashi sebagai pemimpin, Gaara, Killer Bee, Mei Terumi, dan juga yang lainnya membentuk organisasi darurat dan mengadakan rapat rahasia dengan pemerintah.

"Kami sudah memberitahu semua yang kami tahu dan kami menunggu keputasan anda Tuan Presiden." Ujar Kakashi pada rapat rahasia negara yang saat ini berlangsung.

Sang presiden tampak sedang berpikir.

"Buatlah keputusan yang bijak, untuk kepentingan semua orang. Untuk kepentingan mutan dan manusia..." lanjut Kakashi.

"Baiklah. Kita akan bergabung. Apa rencana kalian?" dan akhirnya mereka membentuk kerja sama.

Sementara Akatsuki sudah memprediksi hal ini sejak awal. Mereka tahu kalau pada akhirnya para X Men, Dewan, dan juga pemerintah akan bersatu untuk melawan mereka. Pain sudah tahu kalau cepat-atau lambat mereka akan berkoalisi. Sedangkan untuk sekarang Sakura masih belum sadar dari tidurnya sejak pertempuran melawan Naruto dan Asuma kala itu. Dia masih terbaring lemah. Beberapa anggota Akatsuki mulai mengkhawatirkan keadaan Sakura. Namun dengan tegas Itachi menjawab bahwa Sakura tidak apa-apa.

"Dia sedang bersiap untuk pertarungan yang besar." Katanya.

Itachi tak pernah beranjak dari kamar Sakura siang dan malam. Dia terus menungguinya, dan para anggota Akatsuki percaya kalau hanya dia yang mampu menjinakkan Phoenix yang liar dalam tubuh Sakura. Mereka sama sekali tidak curiga. Namun keadaan yang sebenarnya adalah bahwa Sakura tengah sekarat karena terlalu banyak menggunakan kemampuannya. Kini otaknya sedang dalam fase mengistirahatkan diri. Kemampuan psikokinesis tidak menggunakan perantara fisik sebagai media. Namun Psikokinesis adalah kemampuan dimana manusia yang menggunakan kemampuan otaknya lebih daripada manusia lain. Jika biasanya orang biasa hanya menggunakan kemampuan otaknya 2-8%. Seorang Telepath seperti Sakura bisa menggunakan kemampuan otakanya hingga 20-30%, maka dari itu dia bisa menggerakan benda-benda atau memanipulasi otak lawan hanya dengan menatapnya saja. Namun disisi lain kemampuan seorang telepath adalah pedang bermata dua. Disatu sisi sangat luar biasa dan satu sisi membunuh si penggunanya sendiri.

Sakura sedang dalam keadaan sekarat karena ia tak henti-hentinya menggunakan pikirannya demi menjalankan rencananya itu. Itachi adalah orang yang paling tahu dan mengerti. Tubuh Sakura semakin kurus dan wajahnya yang cantik tampak sangat mengenaskan. Seolah paras Sakura yang anggun itu memudar perlahan-lahan. Ia tak ayalnya seperti boneka manekin menyeramkan dengan cekungan hitam dimatanya.

"Sebentar lagi Sakura..." lirih Itachi.

Hari itu para X Men bergerak menuju bendungan yang diberitahu Naruto. Mereka akan mengintai terlebih dahulu sebelum menyerang. Kakashi beserta robongan juga disertai dengan sekelompok penembak jitu dari satuan militer pemerintah untuk berjaga-jaga. Mereka mengintai tak jauh dari jalanan dalam radius satu kilo meter. Beberapa puluh meter dari bendungan ada sebuah gedung kecil seperti sebuah gedung penelitian lama yang dijaga beberapa orang disana. Sudah jelas kalau itu adalah pintu masuknya. Gedung itu terhubung dengan terowongan bawah tanah yang didalamnya pasti ada para Brotherhood.

"Apa menurutmu mereka tahu?" tanya Kiba pada Kakashi.

"Kurasa tidak, karena jika mereka tahu seharusnya mereka sudah menyerang kita lebih dulu." Jawabnya. "Tapi kita tetap harus berhati-hati karena Orochimaru mempunyai telepati yang sama dengan Sakura."

"Naruto, apa kau yakin Sasuke berada disana?" tanya Sai.

"Ya, dia ada disana. Bagaimanapun kita harus melakukan ini. Dia sudah buta dengan dendamnya."

Sementara itu didalam markas Brotherhood...

Gadis berambut merah muda itu muncul begitu saja dari permukaan lantai bersama seorang pria yang memiliki dua warna di tubuhnya.

"Kita sudah sampai Sakura." Kata pria itu.

"Bagus Zetsu, sekarang tunggulah di tempat yang aman samapi aku memanggilmu." Balas gadis itu.

"Tapi kenapa kau datang sekarang? sekarang bukanlah saatnya. Pain tidak tahu kau disini." Ujar Zetsu.

"Hanya melakukan sedikit hal. Aku tidak membutuhkan persetujuan Pain untuk pergi kemanapun. Aku bisa saja menghabisi semuanya dalam sekejap. Tapi untuk apa bersusah payah kalau kita bisa melakukan hal yang lebih mudah?" Gadis itu menyeringai menyeramkan sampai Zetsu kembali tenggelam ke permukaan lantai.

"Aku datang Orochimaru..." gumamnya.

Gadis itu berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dan lembap itu. Dua jam yang lalu di terbangun dari tidurnya dan orang pertama yang ia temukan adalah Itachi.

"Sakura akhirnya kau sadar." Ujar Itachi. Sakura berusaha bangkit dari tempat tidurnya dan mencoba untuk berdiri meski badannya sedikit limbung. Alhasil Itachi menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

"Kau mau kemana Sakura?" tanya Pria dewasa itu.

"Aku harus melakukan beberapa hal." Jawab Sakura.

"Hal apa? Kau baru saja siuman." Itachi menatapnya serius.

"Aku harus pergi ke tempat Orochimaru. Jangan halangi aku Itachi!"

Ada beberapa hal yang harus di lakukan sebelum perang ini terjadi. Mereka tidak pernah menang jika Orochimaru masih mempunyai kemampuan telepatinya. Maka dari itu Sakura datang untuk menemui Orochimaru.

Sakura masih berajalan disana. Beberapa mutan yang berpapasan dengannya tidak menyadari kehadiran Sakura karena Sakura telah memanipulasi pikiran mereka. Sekarang dia memasuki sebuah lorong yang depenuhi dengan sel dan beberapa pintu besi di kanan-kirinya. Terdapat banyak suara disana. Seperti suara orang memukul tembok atau suara-suara rintihan dari dalam sel. Sakura menduga kalau mereka adalah para mutan hasil percobaan Orochimaru yang gagal dan terlalu berbahaya untuk di lepaskan, maka dari itu mereka di tahan disini.

Kedua tangannya mengepal erat. Orochimaru memperlakukan mereka seperti binatang. Dia benar-benar tidak bisa dimaafkan.

"Hei kau!" Tiba-tiba saja Sakura mendengar sebuah suara berat dari salah satu sel yang membuatnya menghentikan langkahnya.

"Hei kau Nona, tolonglah aku." Ujar suara itu lagi.

Bagaimana bisa? seharusnya tidak ada yang bisa mengetahui keberadaanya. Sakura berajalan kearah sumber suara. Sebuah sel besi yang terdapat goresan besar disana-sini. Sepertinya penghuninya berusaha keras untuk keluar dari sel ini dengan menggunakan benda tajam. Sakura berhenti tepat di depan sel itu. Sel itu cukup gelap namun Sakura masih bisa melihat bagaimana wujud dari penghuninya itu.

Di pojokan sel sedang meringkuk seorang pemuda yang keadaannya sangat mengenaskan. Dia berambut putih dan tubuhnya sangat kurus. Tidak. Sebenarnya tubuhnya kekar namun seperti orang yang tidak diberi makan oleh berhari-hari. Ada lingkaran merah disekeliling matanya. Wajahnya cukup tampan, tapi sangat kusut dan dekil. Lehernya dibelenggu oleh kalung besi yang terhubung langsung ke dinding.

"Tolong berikan air yang ada disana, aku tidak bisa mencapainya." Kata pemuda itu parau. Sakura menunduk, ternyata ada sebuah baki berisi makanan dan air yang berada di dekat sel. Kelihatannya makanan itu sudah berhari-hari disana. Pemuda itu meminta Sakura untuk menggesernya agar pemuda itu bisa mencapainya.

"Kenapa kau bisa tahu kalau lewat?" Tanya Sakura.

"Aku tidak tahu siapa kau, aku hanya meminta tolong." Katanya.

"Seharusnya kau tidak bisa mengetahui keberadaanku." Balas Sakura lagi.

Tanpa diduga sebuah benda seperti tombak melesat kearah Sakura. Namun tombok itu berhenti tepat beberapa senti di depan wajah Sakura. Laki-laki itu terperangah kaget. Ternyata benda itu bukanlah tombak melainkan sebuah tulang yang keluar dari lengan sang pemuda. Gadis itu diam untuk beberapa saat.

"Kenapa? Kenapa kau bisa menahannya? Siapa kau?" tanya laki-laki itu. Sakura tidak menjawabnya.

"Namamu Kimimaro?" tanya Sakura, "banyak hal yang tidak kau ketahui diluar. Jika ada kesempatan untuk keluar pergilah sejauh mungkin, carilah kehidupan yang lebih baik. Jadilah orang yang baik!" Sakura beranjak pergi. Sampai menghilang dari pandangan. Sedangkan baki makanan yang tadinya ada di dekat sel bergeser sendiri sampai sang pemuda bisa mengambilnya dengan mudah.

Sementara itu Orochimaru sedang duduk diam di ruangannya. Saat dia sedang merasakan hawa mutan yang berada disekelilingnya dia merasakan hawa mutan yang tak biasa. Mutan dengan kekuatan yang sangat tinggi tengah mendekat ke arahya.

"Lama tak jumpa Orochimaru? Bagaimana keadaan lenganmu?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya. Suara itu begitu meremehkan dan sangat dan menyebalkan bagi siapapun yang mendengarnya. Orochimaru berbalik dan menemukan gadis berambut merah jambu yang sama pucatnya dengan dirinya. Gadis itu menyeringai.

"Oh jadi Akatsuki sudah mulai menyerang markasku ini? Aku tidak heran. Meski kau sudah memblokir pikiranmu dariku aku sudah bisa menebaknya jauh-jauh hari." Kata Orochimaru menantang. Dia membalas seringaian sang gadis dengan senyuman kemenangan. Sang gadis masih diam di tempatnya dan masih menyeringai seakan kata-kata Orochimaru tadi sama sekali tak berpengaruh.

"Aku tidak peduli bahkan jika kau mengetahui semua rencanaku. Karena bukan hal itulah yang aku sembunyikan darimu." Jawab sang gadis. Senyuman itu hilang dari bibir Orochiamaru.

"Orochimaru..." gumam Sakura begitu lembut seolah berkata pada seorang anak kecil. "Sampai saat ini bahkan kau sama sekali tidak tahu berhadapan dengan siapa? Akulah monster yang sebenarnya, akulah kehancuranmu. Orochimaru...akulah kehancuranmu!"

Orochimaru terdiam tak mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya menatap ke arah Sakura, entah apa yang sedang ia pikirkan.

Sasuke Uchiha!

Beberapa detik kemudian pintu ruangan terbuka lebar dengan suara berdebam dengan sangat keras. Seorang pemuda berambut hitam masuk kedalam ruangan itu. Ya, itu adalah Sasuke Uchiha. Mata kelam itu melebar ketika ia menemukan Sakura Haruno sedang berdiri di ruangan itu. Gadis itu, gadis yang selalu menghantui malamnya, yang selalu mengaggu tidurnya. Gadis itu yang selalu membuatnya...ragu. Namun seketika rasa sesak menyeruak di dadanya menjalar ke perutnya dan membuat sang pemuda itu menjadi mual. Rasa benci muncul ketika ia sadar kalau sang gadis mengenakan jubah hitam dengan corak awan merah yang tidak akan pernah dia lupakan. Yang berarti Sakura satu komplotan dengannya, dengan Itachi Uchiha. Manusia yang paling dia benci. Manusia yang selalu ia kutuk setiap detiknya.

Sementara itu Sakura yang sedari tadi menatap Orochimaru tak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya. Bahkan ketika Sasuke datang. Sakura sama sekali tak menggubris atau bereaksi seakan ia menyadari kehadiaran Sasuka.

"Senjatamu itu tidak akan berpengaruh padaku Orochimaru. Aku akan mengambil apa yang seharusnya tidak kau miliki!" Sakura mendekati Orochimaru. Sedangkan Pria paruh baya tuba-tiba saja ambruk dan sekarang tengah berlutut tak jauh dari hadapan Sakura. Ia bersusah payah untuk menggerakkan tubuhnya namun sama sekali tak berhasil. Semakin dia menggerakan badannya semakin sesak dadanya seolah ada tali tak kasat mata yang menjerat tubuhnya. Tinggal beberapa langkah lagi Sakura mendekati Orochimaru. Saat itu juga sebuah tangan kekar mencengkram leher Sakura dan siap untuk membunuhnya kapanpun.

BUMMM!

Terdengar dentuman keras di luar. Permukaan lantai sedikit bergetar ketika dentuman itu terdengar. Sepertinya telah terjadi sesuatu di luar.

"Tunggu apa lagi Sasuke? Bukankah kau ingin membunuhku?" Ujar Sakura tanpa memandangnya. Wajah sang pemuda mengeras. Dia merasa diremehkan dan dia tidak suka itu.

"Kau pikir aku tidak akan berani menghabisimu Sakura?" tanya Sasuke tajam. Cengkraman di leher Sakura semakin mengeras dan Sakura masih tetap membiarkannya.

"...dan apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan berhenti?" balas Sakura tak kalah tajam meski sangat jelas suara sedikit terputus karena kekurangan napas. Gadis itu melangkahkan kakinya untuk mendekati Orochimaru yang sudah panik. Ia tidak peduli meski ia sudah tidak bernapas lagi, yang pasti dia tidak akan mati sekarang. Sasuke tidak mengerti kenapa Sakura masih bisa berjalan padahal ia sudah menahannya dengan sekuat tenaga belum lagi sekarang ia tengah mencekiknya. Apa ini kekuatan mutan Omega yang sesungguhnya.

Tangan Sakura meraih kepala Orochimaru. Ketika jemari Sakura menyentuh kepala Orochimaru sebuah aliran listrik mengalir dari tangan Sasuke dan mengenai tepat leher Sakura. Sedetik kemudian Sasuke terpental begitu saja. Ia sedikit meringis kesakitan. Cengkraman Sasuke meninggalkan bekas hitam di leher jenjang Sakura.

"AARRGGGHHH!" Orochimaru berteriak begitu keras ketika Sakura menekan kepalanya. Kedua bola mata Sakura berkilat keemasan seiring dengan lolongan Orochimaru yang semakin keras. Tak butuh waktu lama sampai para Brotherhood berdatangan.

"Tuan Orochimaru!" Pekik Kabuto begitu ia memasuki ruangan. Sakura melepaskan cengkramannya dan Orochimaru ambruk seketika. Tak lama setelah itu Zetsu muncul di sebelah Sakura. Mata gadis itu menatap tajam ke arah Sasuke seakan sedang mengatakan sesuatu. Namun mereka menghilang sebelum siapapun bisa menyerang mereka.

"Tuan.." Kabuto menghampiri Orochimaru yang terkulai lemas.

"Mereka disini!" kata Orochimaru.

"BUNUH MEREKA! BUNUH MEREKA SEMUA!"


A/N : Ampuni saya karena updetnya luar biasa lama. Tapi ya, ada beberapa urusan dunia yang harus di kerjakan terlebih dahulu jadi saya benar-benar minta maaf. Jadi inilah chapter 20. Keep follow, review, and fav :) salam Author.