.

FIVE'S LOVE STORY

Genre : Romance, Drama, Friendship

Pair : NaruHina, SasuSaku, SaiIno, ShikaTema, NejiTen

.

.

Izanagi Isao = Uzumaki Naruto

Hitoshi Isamu = Uchiha Sasuke

Aoyama Sato = Sai

Fujiwara Tatsuya = Nara Shikamaru

Ishihara Yujiro = Hyuga Neji

.

.

Maaf FF ini menunjukan ke OOC'an karakter mereka sebenarnya. FF ini bukan FF barru, FF yang aku tulis selama beberapa tahun yang lalu dan alhamdulilah FF ini sudah tamat di Laptop. Insyallah FF ini tidak gantung.

HAPPY READING

.

Sai dan Shikamaru, berjalan menyusuri jalan beraspal. Beberapa kali Shikamaru bergantian melihat kertas ditangannya dan nomer yang ada dipagar setiap rumah. Hampir tiga puluh menit Sai dan Shikamaru berkutat dengan alamat itu. Mereka sadar bahwa mencari pekerjaan itu ternyata sangat susah. Beda sekali dengan mereka, karena memiliki bakat dalam bermusik dan ketampanan mereka bisa dengan mudah menjadi artis dengan gaji yang menggiurkan setiap kali tampil. Tak lama mereka berhenti disebuah toko yang sekaligus merangkap menjadi agen susu. Sai dan Shikamaru perlahan masuk ke dalam toko. Seorang perempuan paruh baya dengan rambut sedikit beruban, asyik menghitung uang. Sesekali wanita tua itu menjilat jari telunjuknya kemudian menghitung uangnya.

"Selamat bibi," sapa Sai. Wanita itu menatap Sai dan Shikamaru bergantian.

"Siapa kalian? Lepaslah topi itu, aku tidak bisa melihat wajah kalian," pinta bibi. Sai dan Shikamaru perlahan melepas topinya. Wanita tua itu menyipitkan matanya, ia mencoba memperjelas tingkat penglihatannya. "Ini jauh lebih baik. Tapi sepertinya aku pernah melihat kalian di televisi?"

Nafas Sai dan Shikamaru terhenti ketika mendengar pertanyaan wanita itu. Jujur perasaan takut mulai mendera hatinya, bagaimana kalau wanita ini mengetahui jati diri mereka atau bagaimana jika wanita ini tidak mudah ditipu walaupun mereka sudah memalsukan identitas.

"Ah, bibi tidak mungkin kau melihat kami di televisi. Mungkin wajah kami mirip dengan orang itu," ucap Sai mencoba mempengaruhi pikiran wanita itu.

"Ah iya benar juga, ngomong-ngomong siapa nama kalian ?"

"Ehm, namaku.…", Sai dan Shikamaru saling lirik "Namaku Aoyama Sota," aku Sai.

"Kalau kau siapa?" bibi itu mengalihkan pandangannya ke arah Shikamaru.

"Aku…aku... Fujiwara Tatsuya," ucap Shikamaru bohong.

"Baik,pagi-pagi sekali Hinata menghubungiku. Ia mengatakan kalau ada dua temannya yang menggantikan pekerjaannya disini. Dia gadis baik, kadang aku kasihan padanya karena harus hidup seorang diri dan bertahan hidup. Pergilah, antarkan susu-susu ini dan gunakan sepeda kayuh yang ada disana," ucap bibi sambil menunjuk sepeda kayuh yang ada di depan toko.

Bibi itu memberikan secarik kertas kepada Sai dan Shikamaru. Mereka berdua saling berpandangan dan sepertinya mereka bingung, akan diantarkan dimana susu-susu itu karena mereka tidak tahu arah jalan disini. Sialnya lagi, mereka harus berboncengan, jalan didaerah ini juga tidak bagus. Masih sedikit jalan yang sudah beraspal. Maklum sekarang mereka berada disebuah desa yang sedikit terpencil. Sai dan Shikamaru beranjak pergi dan mengambil salah satu sepeda khusus yang digunakan untuk mengantar susu yang sudah terparkir di depan toko agen itu. Selain Shikamaru dan Sai, ada dua gadis pekerja yang baru saja datang.

"Sai, apa kau mengerti jalan menuju alamat ini?" tanya Shikamaru.

"Aku tidak tahu, terus bagaimana ini? Ah, aku akan meminta bantuan mereka." Sai berjalan menghampiri kedua gadis itu. "Selamat pagi, bsakah kalian membantu kami? namaku Sa… ah maksudku Aoyama Sota. kalau kalian siapa?".

"Namaku Yamanaka Inoe, " jawab seorang gadis berambut panjang berwarna pirang.

"Namaku Temari," ucap gadis berambut pendek yang juga memiliki warna rambut pirang.

"Bisakah kalian membantu kami menunjukan jalan," pinta Sai kepada Inoe dan Temari.

Kedua gadis itu tak langsung menjawab, mereka terlihat shock melihat wajah Sai. Ttidak lama kemudian Shikamaru mendakt kearah mereka dan memperkenalkan diri.

"Perkenalkan namaku Fujiwara Tatsuya," ujar Shikamaru.

Inoe dan Temari terlihat semakin aneh, mereka saling berbisik satu sama lain. Dua gadis desa nan cantk itu tampak tak percaya. Gadis yang bernama Temari itu menghampiri Shikamaru, tangannya membelai pipi mulus sosok pria yang memiliki julukan Nibi digrup bandnya. Shikamaru tersentak, agak kemudian menjauh dari jangkauan Temari.

"Mereka berdua terlihat begitu nyata?" ucap Temari tak percaya.

"Hei, kalian ini kenapa?" tanya Shikamaru heran.

"Kalian ini sangat mirip dengan Shikamaru dan Sai, atau kalian benar-benar mereka?" Inoe tak sanggup lagi menahan pertanyaan konyol yang muncul diotaknnya.

"Inoe, mereka ini tidak mungkin membernya FoxNine. FoxNine itu kaya mana mungkin mereka menjadi pengantar susu. Mereka itu cuma mirip," kata Temari.

"Oh benar juga katamu Temari, kalian tadi meminta bantuan apa dari kami?"

"Apakah kalian bisa menunjukan alamat ini pada kami?" tanya Sai.

"Tentu saja, ayo pergi."

Shikamaru dan Sai mengambil sepeda kayuh kemudian berangkat. Di belakang Shikamaru dan Sai, Inoe and Temari asyik membicarakan mereka berdua. Suara mereka begitu keras sehingga Sai dan Shikamaru mendengarnya. Inoe begitu terpesona dengan ketampanan pria yang mengaku bernama Sota dan mirip sekali dengan Sai. Sedangkan Temari, dia begitu terpana dengan pria yang bernama Tatsuya. Menurutnya Tatsuya dan Shikamaru bagai pinah dibelah dua.

"Sai, apa kita tidak ketahuan?"

"Sepertinya tidak, aku yakin," jawab Sai.

Sai dan Shikamaru terus mengayuh sepedanya, nafas mereka tersengal-sengal ketika harus melewati jalan menanjak. Shikamaru mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengayuh, seharusnya orang yang pantas mengayuh sepeda adalah Sai karena dari segi fisik juga tubuh Sai lebih kekar dan kuat. Itulah nasib yang selalu dialami oleh orang penurut. Sudah sekitar satu jam lebih mereka mengantarkan susu dengan panduan Inoe dan Temari. Ternyata jarak yang mereka tempuh lumayan jauh. Semua orang juga memandang kaget ke arah mereka berdua tapi sebelum orang berpikir macam-macam, Sai dan Shikamaru memperkenalkan diri dahulu. Setelah mendengar nama samaran mereka, membuat pikiran semua orang berubah dan menganggap wajah mereka sekedar mirip dengan member FoxNinen. Satu jam, dua jam, pekerjaan mereka selesai dan saatnya untuk pulang. Jalannya yang mereka lalui sekarang adalah jalan menurun. Karena jalan menurun, Shikamaru asyik mempercepat laju sepedanya, ia juga meninggalkan Inoe dan Temari. Tiba-tiba, dari kejauhan ada seorang nenek yang menyebrang, sontak Shikamaru dan Sai terkejut. Walaupun sudah di rem namun kecepatan sepeda tidak berkurang.

"Shikamaru, ayo tekan rem sepedahnya," teriak Sai.

"Sudah aku rem tapi kecepatannya tidak berkurang," jawab Shikamaru sedikit ketakutan.

"Bagaimana ini? Hei nenek tolong minggir. Cepat minggir," teriak Sai, ia melambaik-lambaikan tangannya berharap nenek itu melihat dan mengerti apa maksudnya. Tapi sayangnya nenek itu tidak menghiraukan dan terus jalan.

"Nenek, minggir!" sekarang giliran Shikamaru yang teriak histeris.

Semakin lama mereka jarak mereka dengan nenek itu semakin dekat. Tidak ada jalan lain, bagaimanapun caranya mereka harus menghindari nenek itu. Shikamaru membanting setir ke kanan, itu ia lakukan secara spontan sehingga ia tak menyadari sebuah tiang listik yang berdiri tegak berada tepat disampingnya. BRAAAKKKKKKKKKKKK! Tabarakan dengan tiang listrik tak bisa dihindari lagi. Setir sepeda yang awalnya lurus berubah menjadi bengkok. Inoe dan Temari shock melihat kejadian itu. Mereka bergegas menghampiri Shikamaru dan Sai.

"Astaga, Sota, Tatsuya. apa kau tidak apa-apa?" ucap Temari panik.

"Apa sepedahnya tidak apa-apa? Ya Tuhan, setirnya bengkok!" Inoe mulai meracau, ia sama sekali tak khawatir dengan keadaan dua pemuda tampan itu.

"Hei, kau ini bukannya menanyakan bagaimana keadaan kami, kau malah sibuk mengkhawatirkan sepedahnya," protes Sai. Dia baru tahu jika sepeda kayuh itu lebih berharga dibanding nyawa orang.

"Kau tahu, nanti kita di marahi oleh nenek sihir itu, pasti kita di suruh membenahinya pakai uang sendiri."

"Hei sudahlah jangan bertengkar, bantulah kami," ucap Shikamaru yang meringis kesakitan karena luka didahinya.

ooOOoo

Ditempat yang berbeda namun di waktu yang sama. Neji terus mengayuh sepedanya, musik adalah satu-satunya hal yang menemaninya sekarang. Neji tak bisa hidup tanpa musik. Dengan musik ia bisa mengungkapkan apa yang dirasakan, saat marah, sedih, sebal bahkan saat jatuh cinta. Musik memang bahasa nonverbal terbaik yang ada di dunia. Jika melihat keadaannya yang sekarang, musik yang cocok untuknya saat ini adalah musik balad yang menceritakan tentang kehidupan seorang anak muda yang hidup sebatang kara. Ia berjuang bertahan hidup dengan keringatnya sendiri. Neji merasa dirinya begitu menyedihkan untuk saat ini. Namun ia sedikit lega karena pekerjaannya kali ini sangat mudah.

"Kalau pekerjaan seperti ini, mudah sekali. Apa yang tak bisa aku lakukan? Sebagai leader di FoxNine ia harus tampak kuat. Lagipula bisa berjalan-jalan mengelilingi desa dan cuci mata," gumam Neji.

Neji seperti orang gila bicara sendiri dijalan. Mungkin Neji sang leader mengalami stress berlebihan. Tak lama, tibalah dia di sebuah rumah yang lumayan besar, yang seluruh sekitar rumahnya di kelilingi pagar tinggi. Karena terlalu senang dengan pekerjaannya, Neji melempar satu gulung koran begitu saja ke dalam pagar. "Aduh….". terdengar suara seorang gadis yang kesakitan.

"Astaga, sepertinya ada seseorang yang terkena lemparanku," gumam Neji.

Pintu pagar tiba-tiba terbuka, dari sana keluarlah sosok gadis yang manis dan imut dari balik pagar. Dilihat dari fisiknya dia seumuran dengan Neji namanya Tenten. Gadis itu keluar dengan menggosok-gosokan tangannya diatas kepala akibat lemparan Neji yang terlalu keras.

"Hei, kau... kenapa lempar Koran seenaknya? Lihat-lihat dulu kalau mau melempar," omel Tenten.

"Apanya, yang bisa di lihat, rumahmu di tutupi pagar. Salahkan pagarnya kenapa terlalu tinggi," bantah Neji.

"Kenapa harus kau lempar, disini juga ada tempat Koran." Kemarahan gadis itu semakin memuncak, jari telunjuknya menunjuk sebuah kotak surat yang berfungsi juga sebagai tempat koran.

"Terserah aku, tapi maafkan aku ya."

"Enak saja minta maaf. Ayo tanggung jawab."

"Tanggung Jawab apanya? Terserah, aku mau kerja dulu. Dasar nenek sihir," Neji kabur begitu saja meninggalkan Tenten sendirian.

"Apa? awas saja kalau aku bertemu denganmu." Tenten terus saja mengomel walaupun Neji sudah menjauh. "Anak tadi wajahnya mirip sekali dengan Neji FoxNine," Tenten mulai berpikir lama. "Tapi sudahlah banyak orang mirip disini. Awas saja nanti."

ooOOoo

Malam ini Hinata menjaga POM tak lagi sendirian tapi sekarang dia di temani oleh Naruto dan Sasuke. Menurutnya dia adalah gadis yang sangat beruntung di dunia ini karena selama bekerja dia di temani oleh dua pria tampan. Susana POM kali ini lumayan ramain, dan rata-rata pengunjung yang beli hari ini wanita mungkin karena ada Naruto dan Sasuke. Jadi mereka tertarik. Malam ini memang menyenangkan tapi yang membuat Hinata kesal hari ini adalah ia harus memanggail nama mereka dengan sebutan Isao dan Isamu. Dua makhluk tampan bersamanya itu benar-benar aneh. Selain mereka bertiga, juga di temani oleh paman kepala pom. Beliau begitu baik dan ramah. Hinata istirahat sejenak sambil melihat Naruto dan Sasuke bekerja. Mereka berdua sungguh tampan.

Kalau Hinata perhatikan secara seksama, kerja mereka sangatlah bagus. Hinata melihat Sasuke sibuk melayani gadis yang pakaiannya serba minim dan seksi sekali. Tak hanya itu, belahan dada mereka juga terbuka. Tentu saja Sasuke yang merupakan pria normal agak sedikit salah tingkah dan gadis itu semakin genit pada Sasuke di atas mobilnya. Aku terus memperhatikan Sasuke, siapa tahu saja pria itu tidak fokus karena mendapat godaan seperti itu. Baru beberapa detik, hal semacam itu ada di bayangan Hinata akhirnya terjadi juga. Sasuke tidak sadar kalau bensinnya sudah melebihi tangki mobil. Hinata menghampiri Sasuke dan memukul kepalanya. PLAAAKK!

"Aduh, Hinata kenapa kau memukul kepalaku? kau ini kenapa?" protes Sasuke.

"Hei Sasu... eh maksudku Isamu, lihat kau menumpahkan banyak bensin," omel Hinata.

"Astaga…maaf..maaf…"

"Oh, tidak apa-apa ini uangnya," gadis itu memberikan uangnya kepada Sasuke. Tak hanya itu mereka juga memberikan sebuah kedipan mata nakal kepadanya.

"Apa-apaan gadis ini," gumam Hinata.

"Arigatou," ucap Sasuke.

Hinata berjalan meninggalkan Sasuke dan duduk di posisi semula. Sekarang pelanggan sudah tidak ada, jadi kami berempat dengan paman memutuskan untuk istirahat. Kami berempat duduk di tanah beralaskan tikar. Naruto mengambilkan kopi Hinata dan duduk di sampingnya. Sedangkan Sasuke mengambilkan aman kopi dan untuk dirinya sendiri.

"Hei, Hinata tadi ada apa? aku lihat kau ribut dengan Isamu?" tanya paman penasaran.

"Isamu ini genit sekali, baru lihat gadis dengan pakaian minim kelakuannya sudah seperti itu. Tidak fokus bekerja," lagi-lagi Hinata marah.

"Benar begitu Isamu," tanya paman untuk mengkonfirmasi kebenaran.

"Iya, Paman aku minta maaf," ucap Sasuke tersenyum malu.

"Namanya juga laki-laki normal, aku juga akan bersikap seperti itu hehehe."

"Sebegitu seksikah mereka, sampai membuatmu begitu,"tanya Naruto namun Sasuke hanya senyum.

"Isao apa kau juga pernah mengalami hal seperti itu?"

"Tidak paman, aku tidak suka dengan gadis yang terlalu dandan. Aku suka yang natural saja, apa adanya. Aku suka gadis yang seperti Hinata, apa adanya."

Hinata terkejut mendengar apa yang dikatakan Naruto. "Aku suka gadis yang seperti Hinata." Kata-kata itu selalu tergiang diotaknya. Rasanya seperti bidadari yang bebas melayang ke udara da melewati awan yang berwarna jingga. Baru pertama kali ini Hinata mendengar seorang laki mengatakan menyukai dirinya. Yah, walaupun bukan menyukai yang sebenarnya tapi itu cukup menggembirakan untuk Hinata. Naruto memang aneh, ketika banyak pria yang mengatakan dia bukanlah tipenya, tapi Naruto sebaliknya. Entahlah, mungkin Naruto tidak waras saat ini.

"Kalau aku tidak suka wanita seperti Hinata, dia kasar dan bodinya bodinya kurang seksi."

"Hei, memangnya siapa yang mau denganmu?!" Hinata mengoyak-ngoyak rambut Sasuke yang agak panjang. Naruto dan Paman tertawa melihat ulah Hinata dan Sasuke dihari kerja pertama mereka bekerja.

ooOOoo

Pekerjaan dimalam hari kemarin sangatlah melelahkan. Sepulang bekerja Hinata, Naruto dan Sasuke lansgung tidur tanpa menanyakan kabar yang lain. Semua penghuni rumah sederhana masih tertidur lelap dipagi yang cerah dan indah ini. Hanya ada dua orang pria yang sibuk mengenakan sepatu untuk berangkat kerja dipagi buta. Hinata terlihat berjalan sempoyongan menuju kamar mandi dan tanpa sengaja dia melihat Shikamaru dan Sai yang keningnya penuh dengan luka.

"Ya Tuhan, Sai, Shikamaru kalian kenapa?" Hinata menghampiri mereka berdua serta menyentuh kening yang sudah penuh dengan perban. Shikamaru berteriak kesakitan karena jari-jemari Hinata yang menyentuh lukanya.

"Aduh, Hinata sakit. Saat bekerja kemarin kita berusaha menghindari nenek yang menyebrang Karena terlalu melaju sangat cepat dan tidak bisa mengontrol kecepatan sepedah. Kita berusaha menghindar dan pada akhirnya kita menabrak tiang listri." Neji, Naruto dan Sasuke bangun karena suara berisik. Mereka kaget melihat temannya penuh dengan memar.

"Hei, Sai, Shikamaru kalian kenapa?" tanya Naruto tampak Shock.

"Kami terjatuh dan sekarang kita harus membenahi sepeda. Dan buruknya lagi karena kejadian ini gaji pertama kita dipotong," Jelas Sai.

"Makanya hati-hati, lihat sekarang jadi begini akibatnya. Shikamaru kau itu jangan sembarangan, Sai kau juga harus…".

Sai menutup kedua kupingnya. Dia paling tidak suka jika harus mendengar ocehan Naruto terlalu lama. Lebih baik Sai mendengar lagu-lagu rock daripada harus mendengar ocehan Naruto. Hinata, melihat aneh kearah pria berambut pirang itu. Hinata baru pertama kali ini bertemu dengan seorang pria yang cerwetnya melebihi wanita.

"Apa dengan kondisi seperti ini, kalian harus bekerja?" tanya Neji

"Iya, kita harus membenahi sepeda ini. Kalau tidak kami bisa dipecat," Sai berkata sambil melihat sepeda bersetir bengkok yang berada tepat di depannya. Neji, Naruto, Hinata, Sasuke ikut melihat kearah penglihatan Sai.

"Baiklah kalau begitu hati-hati, kalian pergi sekarang?" untuk kedua kalinya Neji bertanya.

"Iya kami takut kalau nanti nenek sihir itu marah pada kami," jawab Shikamaru. Sai dan Shikamaru beranjak pergi meninggalkan mereka. Terlihat jelas, mereka dalam kondisi yang tidak sehat. Shikamaru berjalan sedikit pincang sedangkan Sai berjalan sembari memegangi kepalanya. Kasihan sekali mereka.

"Hei, kalian hati-hati, kerjanya yang teliti jangan asal-asalan saja. Awas saja kalau kalian jatuh lagi," omel Naruto. Hinata masih terus melihat ke arah Naruto. Dia nyegir melihat Naruto sisilain Naruto. "Kenapa?" tanya Naruto santai.

"Kau ini laki-laki atau perempuan, kenapa cerewet sekali?" ucap Hinata polos.

"Tentu saja aku laki-laki, memangnya kenapa kalau aku cerewet?"

"Tidak ada." Naruto mengamati seluruh penampilan Hinata dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Ahahahaha hei, Hinata lihat rambutmu berantakan sekali."

"Asss ini sungguh memalukan," Kata Hinata seraya membenahi rambutnya lalu berlari menjauh. Naruto tersenyum melihat tingkah gadis yang baru dikenalnya itu. Ia memang suka gadis yang apa adanya seperti Hinata. Melihatkan sisi natural bukan sisi yang di buat-buat.

Dari jauh terlihat dua gadis sedang menunggu seseorang. Gadis berambut pendek bersandar di dinding dengan mengayun-ngayunkan kakinya serta wajah yang cemberut. Sedangkan gadis satunya mondar-mandir tidak jelas sambil meihat jam tangannya. Temari benar-benar terlihat kesal jika harus menunggu. Menunggu adalah aktivitas yang paling dia benci. Sesaat kemudin senyum merekah tersirat di wajah Inoe, ketika ia melihat dua orang pria yang sudah ditunggunya datang sambil menuntun sepedanya.

"Itu mereka sudah datang," ucap Inoe sambil menunjuk mereka.

"Maaf kami terlambat". Kata Sai sambil membungkukan badan.

"Apa kau tahu, kami sudah menunggu kalian lama sekali". Temari terus aja mengomel.

"Sudahlah, Temari, yang terpenting mereka sudah datang. Ayo kita pergi."

Sai dan Inoe berjalan terlebih dahulu. Tapi Temari masih tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri. Sai dan Inoe sudah berjalan jauh dari mereka. Shikamaru tahu kalau Temari marah padanya Jadi dia berinisiatif untuk merayu Temari supaya dia tidak marah lagi.

"Temari, maafkan kami karena terlambat. Sekarang ayo kita pergi," ujarnya

Shikamaru mengulurkan tangannya kepada Temari. Temari terkejut dengan apa yang di lakukan Shikamaru. Dia bingung, apa dia harus menjabat tangan Shikamaru atau tidak. Berhubung Tatsuya (sepengatahuan Temari) mirip sekali dengan Shikamaru, akhirnya dia menerima uluran tangan orang yang ia kenal sebagai Tatsuya. Mereka berdua pun berjalan sambil bergandengan tangan. Sai dan Inoe yang berada jauh di depan tidak tahu kalau temannya asyik bergandengan tangan. Tapi lama kelamaan mereka mengetahuinya.

"Temari, Tatsuya sedang apa kalian? Temari cepatlah," perintah Inoe

"Hei Tatsuya, kau ini asik bergandengan tangan dengan Temari disaat seperti ini, sekarang kau yang menggantikanku membawa sepedanya," ucap Sai kesal.

"Oh, sini biar kugantikan," kata Shikamaru dengan wajah memerah seperti tomat rebus.

Setelah menempuh pejalanan yang panjang. Mereka sampai disebuah bengkel kecil. Inoe dan Temari ikut membenarkan sepeda karena menurut bibi, dua gadis itu juga ikut bertanggung jawab karena mereka lengah mengawasi pegawai baru. Kata si pegawai bengkel, sepeda itu bisa diambil besok pagi. Jadi tidak mungkin mereka menginap disini. Lebih baik mereka pulang tapi jika hari masih pagi seperti ini mereka berempat enggan untuk pulang dan akhirnya mereka memutuskan untuk jalan-jalan di pusat kota.

"Sayang sekali kalau kita harus pulang sekarang, lagipula bibi sudah memberi ijin kepada kita untuk membenarkan sepeda. Berhubung masih pagi, kenapa kita tidak jalan-jalan saja," kata Temari penuh semangat. Tanpa berfikir panjang, tiga orang lainnya mengangguk tanda setuju.

"Ide bagus, baiklah ayo pergi," ujar Sai.

Mereka jalan-jalan di toko yang terletak di pusat kota. Namun pusat kota juga tidak seramai di Tokyo namanya juga kota kecil. Sekarang mereka berada di sebuah toko kaset original. Inoe dan Temari sama sekali tidak punya niat untuk membeli. Tapi untuk Sai dan Shikamaru, ini adalah kesempatan mereka untuk tahu apakah album FoxNine laku atau tidak. Nampaknya Inoe tidak tertarik mengunjungi toko kaset, dia lebih tertarik mengunjungi toko baju dan entah kenapa Sai ingin pergi menemani Inoe. Agar tidak terpisah, mereka membuat kesepakatan, sekitar pukul empat sore mereka harus berkumpul di depan toko kaset original. Mata Temari terpusat pada satu CD yaitu FoxNine. Iseng-iseng dia melihat harganya. Temari terkejut dengan harga yang terpampang di situ.

"Aish, mahal sekali harganya," gumamnya Lirih.

"Temari, kau sedang apa?" tanya Shikamaru.

"Oh, kau Tatsuya. Aku ingin sekali membeli ini tapi harganya mahal sekali." Shikamaru terkejut karena Temari ingin membeli kaset mereka alias FoxNine.

"Kau suka dengan lagu-lagu FoxNine?"

"Suka sekali, lagu mereka itu membuatku semangat setiap hari. FoxNine memang hebat."

"Siapa member FoxNine yang kau suka?"detak jantung Shikamaru berpacu tepat menunggu jawabn Temari

"Aku suka dengan Shikamaru Nara, dia itu pintar sekali memainkan drum dan dia juga pintar sekali dance serta cute." Cute? Ya, lebih baik dianggap cute daripada cantik, Batin Shikamaru yang sedikit uring-uringan dengan pendapat Temari. "Tapi, walaupun cute Shikamaru itu terlihat lebih Manly kalau dia memainkan gitar melodi dan dance." Shikamaru begitu senang mendengar pujian itu, baru pertama kali ini ada orang yang menganggap dia manly . "Aku sangat bersyukur bisa kenal denganmu Tatsuya karena, aku marasa aku bersama dengan Shikamaru hehehe."

"Tentu, aku akan selalu menemanimu Temari," ucap Shikamaru bahagia.

Setelah puas di toko CD Shikamaru dan Temari sekarang berada di pusat permainan. Banyak permainan yang ia mainkan bersama Temari. Hari ini mereka berdua sangat terlihat bahagia. Setelah merasa lelah dan capek, mereka membeli ice cream yang di jual di kedai ice cream . Shikamaru dan Temari duduk di bangku panjang yang letaknya ada di pojok ruangan. Sambil makan ice cream, mereka berbicara banyak sekali. Tanpa sengaja mata Temari melihat rambut Shikamaru yang terlihat kotor.

"Tatasuya, rambutmu kotor sekali," ucap Temari.

"Di sebelah mana?" tanya Shikamaru.

"Di sebelah sini…". Temari menunjukan bagian yang kotor dirambutnya. Shikamaru menyentuh kepalanya sendiri yang letaknya di sebelah kiri tapi Shikamaru tidak berhasil. "Ah..kau ini. Sini biar aku yang bersihkan."

Temari mendekat ke arah Shikamaru dan membersihkan kotoran di rambutnya. Begitu dekat jarak antara wajah Temari dan Shikamaru. Shikamaru melihat wajah Temari secara terus-menerus, mungkin jarak di antara keduanya hanya satu centi. Lebih tepatnya bibir Shikamaru sedikit lagi bisa mencium bibir Temari. Wajah Temari memerah karena jarak yang begitu dekat serta tatapan mata Shikamaru yang tajam. Hal ini membuat jantung Temari berdetak tak beraturan.

"Astaga, kenapa detak jantungku jadi aneh seperti ini," ucap Temari dalam hati.

"Ya ampun, perasaan apa ini. Rasanya ada kupu-kupu di perutku," batin Shikamaru.

"Tatsuya, aku ke toilet dulu."

ooOOoo

"Wuah, lihat baju ini lucu sekali pasti harganya mahal," ujar Inoe.

"Iya harganya memang mahal, kau sangat menyukainya?" tanya Sai

"Sebenarnya iya, tapi mana aku punya uang sebanyak itu." Mata Inoe beralih melirik ke rak topi pria. "Wah, lihat topi ini bagus sekali." Inoe mengambil salah satu topi dan memakaikannya kepada Sai. "Sota, kesini, lihat ini bagus sekali, coba kau pakai. Wuah kau terlihat tampan kalau pakai topi ini".

"Kau ini ada-ada aja, sudahlah kalau hanya lihat-lihat seperti itu lebih kita keluar saja. Lebih baik kita jalan-jalan saja."

"Baiklah, kalau begitu," ucap Inoe.

Akhirnya Sai dan Inoe pergi jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas. Sebenarnya perut keduanya lapar tapi untuk membeli makanan uangnya tak cukup. Kalaupun membawa uang, itu pun untuk membayar biaya perbaikan sepeda. Jalanan trotoar hari ini sangatlah ramai. Mungkin karena hari sabtu jadi orang-orang sibuk berlibur. Banyak anak kecil yang bersepeda dengan ugal-ugalan.

"Sota hari ini menyenangkan sekali entah mengapa aku sangat gembira," ucap Inoe sembari berjalan mundur. Memang dasar Inoe itu ceroboh sekali.

"Aku juga senang sekali hari ini," timpal Sai ramah.

"Sota, apa aku boleh menanyakan seseuatu. Kenapa wajahmu begitu mirip dengan Sai? Apa kalian ini saudara kembar?" ujar Inoe sambil terus berjalan mundur.

"Hei, aku itu tidak punya saudara kembar. Apa lagi saudara kembarku artis. Inoe kalau berjalan jangan begitu nanti kau bisa di tabrak orang."

"Aku sudah terbiasa berjalan seperti ini."

Banyak sekali orang yang berlalu lalang dengan sepedanya. Sai sedikit khawatir dengan Inoe, bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang menabraknya. Dari jarak yang lumayan dekat, Sai melihat anak kecil melaju kencang dengan sepedanya. "Wah gawat kalau dia berjalan seperti it terus," batin Sai

"Inoe awas!" Sai menarik Inoe ke dalam pelukan Sai. Inoe terlihat sangat malu dan terkejut begitupun juga Sai. Perasaan mereka berdua jadi aneh. Lain dari biasanya.

"Ah, Maafkan aku," kata Inoe

" Kalau jalan hati-hati," Omel Sai yang diselimuti rasa khawatir lalu berjalan pergi.

"Ada apa denganku, perasaanku jadi seperti ini," ucap gadis itu dalam hati. "Sai tunggu."

ooOOoo

Pukul lima sore Neji pulang dari kerjanya. Setiap pulang kerja Neji naik bis dan bermain dengan uang koin. Sudah sekitar lima belas menitan dia menunggu, bis pun datang. Penumpang bis ini begitu banyak dan mau tidak mau Neji harus berdiri. Saat sopir bus menginjak rem secara mendadak. Tiba-tiba Neji terjatuh koin yang dibawanya menggelinding jauh dan berada tepat di bawah seorang gadis yang membelakanginya. Neji berjongkok, ia berusaha mengambil koinnya. CIIIITTTTTT….! Lagi-lagi sopir bis menginjak rem secara mendadak dan astaga apa yang terjadi dengan Neji, kepalanya tanpa sengaja menempel dipantat gadis yang berada tepat di depannya. Sontak hal itu membuat si gadis kaget. Gadis itu marah besar. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia ternyata gadis yang tanpa sengaja Neji lempar dengan koran.

"Hei, kau!" kata mereka bersamaan dan saling tunjuk satu sama lain.

"Kenapa kau selalu membuatku sial? kau ini ternyata genit sekali," ujar Tenten.

"Apa kau bilang ? aku genit. Hei, aku tidak sengaja, tadi aku bermaksud mengambil uangku yang jatuh. Kalau kau ingin menyalahkan seseorang jangan salahkan aku, salahkan saja sopirnya," bantah Neji

"Dasar genit!" gerutu Tenten.

"Apa? untuk apa aku genit padamu? Kau sama sekali tidak seksi," suara mereka begitu berisik sekali sehingga menganggu penumpang lainnya.

"Hei, kalian berdua jangan berisik," omel seorang paman

"Maafkan kami," ucap Neji sambil membungkuk. Tenten memetusukan untuk pindah ketempat lain.

Neji mana peduli, memang dasar nenek sihir. Sesekali dia melirik kearah Tenten. Neji merasa sedikit kasihan karena Tenten didesak oleh paman-paman, dan yang lebih parahnya lagi paman itu mencoba meraba pantat Tenten. Neji muak dengan tingkah laku paman yang tak tahu diri. Ia menarik Tenten dan membiarkan Tenten berdiri tepat di hadapannya. Wajah mereka berdekatan. Sejenak mereka saling berpandangan dan sedikit malu-malu tapi kemudian saling mengalihkan pandangan. Selama itu mereka sama sekali tak bicara apapun. Tiga puluh menit kemudian Neji turun dan kebetulan Tenten juga turun di jalan yang sama.

"Hei, kau tunggu!" teriak Tenten.

"Apa lagi, kau mau marah? sudah aku bilang aku tidak sengaja."

Neji berjalan dengan cepat dan meninggalkan Tenten. Tapi Tenten masih menghalangi langkah Neji. Dia menghadang Neji dengan merentangkan dua tangannya.

"Ada apa lagi? Apa yang kau inginkan dariku?" ucap Neji dengan nada sinis.

TO BE CONTINUE