"Ahhnn... Aominecchii... pelan-pelan.. hmhh..."
"Kise... sakit kah?"
Kise mengangguk. Air matanya membanjiri pipi manisnya. "berhentii..." dengan wajah memohon, Kise berkata pada Aomine di atasnya. Ah, sungguh manis.
"Kise..."
"Aominecchi.. nggh ..."
"Aominecchi!"
"Aominecchi!"
"SENPAI, BANGUN!" suara cempreng tiba-tiba muncul, mengentakkan Aomine dari mimpi indahnya. Aomine membuka matanya perlahan, dan di hadapannya tampak Kise, pacar barunya, merajuk manis sambil menggembungkan pipi.
"Aominecchi kita kan mau makan siang bareng. Kenapa malah tidur disini-ssu?" Tanya Kise kesal. Aomine memandang sekeliling. Ah ya, ia sedang menunggu Kise di atap sekolah dan tampqqaknya ia tidak sengaja tertidur.
"Ah, sori Kise. Mana bentoku?" Tanya Aomine tanpa basa basi. Kise hanya gekeng-geleng kepala, namun tetap menyerahkan bento yang dibawanya tadi.
"Nih." Kise menyodorkan bento jatah Aomine sambil tersenyum.
"Kau buat sendiri?"
"Hehe... iya Aominecchi. Aku buat tadi pagi di dapur umum saat Aominecchi masih tidur. Aominecchi sudah pagi banGun telat, siang tidur lagi, huff" Kise menggembungkan pipinya, membuat Aomine bersikeras untuk tidak meraih pipi dan mencubitnya gemas. "Aominecchi tadi mimpi apa?"
"Huh?"
"Ya, tadi Aominecchi sepertinya mimpiin aku, ya?"
"Oh, iya, aku mimpi kau meringis kesakitan gara-gara kakimu terluka atau apalah..." sahut Aomine sambil memalingkan muka.
Kise terdiam, kemudian tersenyum padanya.
"Apa?" Sungut Aomine. Cara Kise menatapnya aneh.
"Tidak, Aominecchi. Ne, Aominecchi, hari ini latihan ya?" Pinta Kise.
"Tidak, ah. Malas." Ucapnya pendek.
"Mou, ayolah. Nanti aku dibunuh Akashicchi kalau Aominecchi tidak datang. Aominecchi kan, sekamar denganku." Rengek Kise.
"Pokoknya tidak mau. Tch, jangan ganggu aku, Kise. Aku mau tidur nanti."
"Uuh! Baka Aominecchi! Ya sudah, nanti malam jangan tidur di kasurku lagi!" Kise merengut dan membuka bentonya. Ia mulai melahap makanannya tanpa menoleh pada Aomine lagi.
"Tidak bisa. Itu kan deal one-on-one kita." Protes Aomine. Kise tampaknya tidak peduli dan mengacuhkan Aomine. "Hmph. Iya deh. Aku latihan nanti." Gerutu Aomine menyerah.
"Sungguh? Yaay~~ Aominecchi is the best!" Seru Kise riang dan menanamkan kecupan singkat di pipi tan Aomine. Aomine memalingkan muka, menyembunyikan rona yang mulai menyebar di wajahnya.
Mereka makan siang dengan ocehan Kise sekali-kali membuyarkan keheningan di atap. Aomine hanya membalasnya dengan ucapan-ucapan pendek, sekadar memberitahu bahwa ia mendengarkan keluh kesah sang pacar. Tentang modelling, basket, kelas, dan banyak lagi, Aomine merasa heran dari mana si pirang ini punya energi untuk berbicara sebanyak itu. Beberapa menit kemudian bel berbunyi menandakan kelas sudah akan dimulai lagi.
Kise beranjak dari duduknya, merapikan kotak makan siangnya. "Ok, Aominecchi, sampai jumpa di gedung olahraga nanti sore!" Seru Kise dan ia tergopoh-gopoh menuju kelas meninggalkan Aomine. Aomine hanya mengangguk malas. Ia pun beranjak dan turun menuju kelasnya.
~*-*-*-0v0-*-*-*~
"Kise-kun." Panggil salah satu teman sekelasnya, Kuroko Tetsuya. Kise menoleh dan tersenyum riang. Mereka sedang ada di halaman sekolah.
"Kurokocchi!" Sahutnya dan memeluk temannya yang imut itu.
"Hey Kise, jangan peluk-peluk Kuroko!" Gertak Kagami, yang tiba-tiba muncul dari kelas sebelah, berusaha memisahkan Kise dan Kuroko. Kise akhirnya menyerah dan melepaskan pelukan mautnya.
"Ada apa Kurokocchi?" Tanya Kise, masih tersenyum cerah.
"Kise-kun. Kudengar kamu sekarang pacaran dengan Aomine-senpai?"
"Eeeh!? Aomine? Si Ahomine itu!?" Kagami nimbrung. Entah mengapa ia merasa sangat sebal dengan berita ini.
"Kagami-kun, Aomine senpai kita. Nanti kamu bisa dilabrak kalau sembarangan." Tegur Kuroko.
"Tapi kan, masa kamu pacaran sama orang yang gak jelas seperti Aomine!? Kise, ada yang salah sepertinya dengan matamu. Atau mungkin kepalamu."
"Mouu... hidoissu. Aominecchi baik dan ganteng kok, jago basket pula, apa ada yang salah dengan itu? Hmph." Kise merengut. Ia tidak rela pacarnya dijelek-jelekkan oleh orang lain, walaupun mereka teman dekatnya.
"Ya, tapi Kise-kun tentu sudah tahu perangai Aomine-senpai yang sangat buruk. Dia terkenal suka selingkuh dan playboy, Kise-kun. Aku hanya tidak mau kise-kun sakit hati dan menangis." Jawab Kuroko. Kise tersenyum sendu. Tentu saja ia tahu benar hal itu. Sebelum ia menembak pun ia sudah tahu. Dirinya memang aneh, nekat menembak orang yang jelas-jelas suka perempuan berdada besar, tapi toh Aomine menerimanya. Bukankah ada sedikit harapan? Setidaknya itu yang Kise inginkan.
"Hehe, aku tahu kok, Kurokocchi. Aku tahu. Tapi aku sangat suka Aominecchi... jadi, mungkin aku harus bertahan dan membuat Aominecchi suka padaku? Aku tak tahu. Lagipula, pasti Aominecchi punya sedikit rasa suka, kalau tidak, mana mungkin dia menerima perasaanku... bahkan pacaran denganku." Ujar Kise. "Walau aku juga ragu... apakah Aominecchi bisa menyukaiku..."
"Ragu?" Tanya Kuroko.
"Aominecchi selalu memalingkan muka kalau aku menciumnya... apa ia tidak suka, ya?"
"Eeehhh!? Kalian ciuman? Akan kubunuh si brengsek Ahomine itu!" Teriak Kagami. Beraninya si menyebalkan arogan itu merusak 'kehormatan' Kise, pikirnya.
"Kagami-kun, berisik. Dan yang menciumnya itu Kise-kun, jadi bukannya Aomine-senpai yang merusak kehormatan Kise-kun atau apapun yang kamu pikirkan." Gerutu Kuroko.
"Eehh? Kehormatan... apa, Kagamicchi!? Aku cuma menciumnya, di pipi pula! Aku belum sejauh itu, Kagamicchi hentai!" Jerit Kise sambil menggebuki punggung lebar Kagami. Kagami hanya meringis kesakitan. Kuroko hanya tersenyum simpul melihat kelakuan dua sahabatnya itu. Akhir-akhir ini, Kise jadi terlihat lebih ceria, namun di saat yang sama ia terlihat lebih sering melamun. Karena itu Kuroko khawatir padanya.
"Aku tidak apa Kurokocchi..." ujar Kise tersenyum, menangkap tatapan khawatir Kuroko terhadapnya. Kuroko hanya mengangguk dengan wajah datarnya, dan kembali menyesap vanilla shake di tangannya.
~*-*-*-0v0-*-*-*~
Aomine melihat Kise dari koridor sekolah, dan bermaksud memanggilnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat orang lain bersamanya. Mungkin anak kelas satu juga, pikir Aomine, walau ia heran karena anak yang berambut merah itu berbadan tegap dan cukup kekar. Tingginya sedikit lebih dari Kise, tetapi sepertinya Aomine lebih tinggi.
Kise terlihat senang dan memeluk... seseorang? Sejak kapan orang lain ada di sana? Tadi ia hanya melihat Kise dan temannya. Ah, sudah lah. Mungkin badan kecil memang terhalang Kise atau si rambut merah. Ah, ya, Aomine jadi penasaran. Apa yang mereka bicarakan?
"Kise, Aomine itu playboy. Jangan sampai kau sedih kalau nanti disakiti dia. Ah, tentu akan kuhajar!"
Deg.
Ah, iya, sedari dulu ia memang playboy. Apa yang salah dengan itu? Semua yang berpacaran dengannya punya satu tujuan yang sama: ingin bercinta dengan ace klub basket sekolah yang gagah dan terkenal hebat di ranjang. Jadi bukan salahnya ia playboy, kan, toh wanita-wanita itu pula yang mengajaknya. Ia tak pernah begitu peduli dengan mereka.
"Heehee... aku yakin pasti ada rasa suka Aominecchi untukku, mungkin aku masih harus berharap, Kurokocchi..."
Aomine mendengarkan percakapan mereka, hingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan koridor menuju gym. Entah mengapa ia begitu resah, ia butuh bola basket dan bermain basket.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bersalah.
~*-*-*-0v0-*-*-*~
Kise menemukan Aomine tengah memasukkan bola basket ke dalam ring. Berkali-kali. Keren, memang, tapi bukan Aomine yang biasanya. Ia tersenyum, berencana menghibur Aomine dari apapun yang mengganggu pikirannya.
"Aominecchi! One on one!" Seru Kise riang. Ia menangkap salah satu bola basket yang tercecer di lantai. Aomine menoleh, namun kembali memalingkan muka. Kise terus merengek tetapi Aomine hanya diam saja. Seakan menghindarinya. Ia tampak begitu lega saat Akasji datang dan memulai latihan sore itu.
Saat pulang, Aomine masih mendiamkannya, walau mereka berjalan beriringan ke kamar asrama mereka.
Sesampainya di kamar, Kise memberanikan diri bertanya. "Ada apa, Aominecchi? Kok murung?" Tanya Kise. Kise benar-benar terlihat mengkhawatirkan dirinya. Aomine merasa canggung.
"Kise, apa benar kau menyukaiku?"
Mata Kise membulat. "Èehh? Mochiron, Aominecchi, tentu saja. Kan aku yang menembakmu..." sahutnya.
"Uh... kalau begitu... ah, sudahlah. Lupakan."
"Aominecchi, apa kau masih belum bisa menerimaku?" Mata Kise tampak bening. Mulai berkaca-kaca. Aomine jadi panik dibuatnya.
"Uh, bukan begitu Kise.. aku... bagaimana mengatakannya... sudah, Kise, jangan dipikirkan, ok?" Jawab Aomine hati-hati. Ia belum pernah menghadapi Kise yang seperti ini. Yang terlihat rapuh dan tangisannya bisa pecah jika tersentuh Aomine sedikitpun. Aomine biasa menghadapi Kise yang riang, yang menyebalkan, yang bersinar. Aomine membawa Kise ke pelukannya, mencoba meredakan kesedihan si pirang.
"Gomen, Aominecchi, aku... kalau saja aku perempuan, Aominecchi mungkin bisa menyukaiku..."
"Tidak, Kise. Bukan itu. Aku tidak peduli kau lelaki atau perempuan, tapi ini masalahku... kau tidak seharusnya menyukaiku, Kise.."
"Dan mengapa? Aku menyukai Aominecchi. Sangat suka. Kenapa tidak boleh?"
"Aku... aku sudah terlalu sering melukaimu, Kise."
Kise semakin bingung. Kapan Aomine melukainya?
"Seingatku kau belum pernah melukaiku. Apa maksudnya?"
Aomine menghela nafas. "Aku menguping percakapanmu dengan dua temanmu tadi di halaman sekolah."
Kise mengingat-ngingat percakapan mereka tadi siang. Seingatnya tidak ada hal yang aneh. Ah, mungkin karena Kagami bilang Aomine orang yang buruk?
"Apa kata temanmu benar, Kise. Aku.. tidak pantas, aku ini playboy. Aku takut melukaimu."
Kise tertawa, membuat Aomine bergidik.
"Kenapa tertawa?"
"Ahaha... Aominecchi itu bodoh," ujarnya di sela-sela tawanya, membuat Aomine berteriak protes. "Aku tahu Aominecchi tidak akan melukaiku. Aku tahu Aominecchi tidak akan selingkuh. Karena aku akan membuat Aominecchi menyukaiku." Seru Kise percaya diri. "Nah, sudah kukatakan itu, jadi Aominecchi tidak perlu khawatir akan mencampakkanku. Karena sebelum itu terjadi Aominecchi akan cinta buta padaku. Hehe.." lanjut Kise, diiringi dengan kecupan lembut di pipi Aomine yang merona merah sedikit.
"Kenapa kau bisa ya-" Aomine berpikir lagi. Mungkin selama ini ia sudah menyukai Kise. Kalau tidak, mana mungkin ia mau repot-repot memikirkan perasaan pacarnya, jika Kise sama dengan pacar-pacarnya yang dulu?
"Kise." Kise menoleh, tersenyum. "Aku mau menciummu." Ujar Aomine. Kise mengerjap.
"Tentu, Aominecchi." Kise menutup matanya. Menunggu Aomine menciumnya untuk pertama kalinya. Karena ciuman pertamanya dengan Aomine tidak dihitung, berhubung itu permintaan Kise, dan Kise tahu Aomine melakukannya tidak lebih dari kewaJiban semata.
Aomine memandang wajah porselen itu lekat, sebelum akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir plum berwarna pink milik si pirang. Ah, lembut, rupanya, dan terasa menyenangkan. Seperti kembali ke peraduan. Aomine merasa mencium Kise seperti pulang ke rumahnya, dan itu terasa nyaman. Seakan dari awal ia memang berawal dari sini.
"Aku menyukaimu, Kise." Bisik Aomine. Membuat pipi Kise memerah seperti ranumnya buah apel masak.
"Tuh, kan, benar kataku. Sungguh Aominecchi, aku tidak peduli masa lalu Aominecchi. Aku hanya ingin Aominecchi tetap bersamaku."
Aomine mengangguk, membanjiri wajah Kise dengan kecupan-kecupan lembut.
"Kise. Jangan lupa taruhan kita, ya." Ia menarik tubuh Kise berbaring di sampingnya di tempat tidurnya dan merengkuh guling barunya.
"Aominecchi baka. Aku tidak keberatan kali ini," ia terkekeh, memandangi senpainya yang kini telah terlelap.
.
End
.
.
Yattaa udah beres nih chap terakhir 3shots AoKise yang geje ini. Semoga ga terlalu sinetron ya, cheesy gitu. Haha. I would like to spoil you all rotten with AoKise uwu tunggu yah mumpung lagi libur hihi
review ditunggu guys~
