.

.

.

FIVE'S LOVE STORY

Genre : Romance, Drama, Friendship

Pair : NaruHina, SasuSaku, SaiIno, ShikaTema, NejiTen

.

.

Izanagi Isao = Uzumaki Naruto

Hitoshi Isamu = Uchiha Sasuke

Aoyama Sato = Sai

Fujiwara Tatsuya = Nara Shikamaru

Ishihara Yujiro = Hyuga Neji

.

.

Maaf FF ini menunjukan ke OOC'an karakter mereka sebenarnya. FF ini bukan FF barru, FF yang aku tulis selama beberapa tahun yang lalu dan alhamdulilah FF ini sudah tamat di Laptop. Insyallah FF ini tidak gantung.

HAPPY READING

.

"Arigatou, kau sudah melindungiku tadi. Tapi, kenapa kau mau menolongku?"

"Jangan salah paham, aku menolongmu karena aku muak melihat tingkah paman itu."

"Sebagai tanda terima kasih, aku akan mentraktirmu ayam goreng sepuasnya," rayu Tenten.

"Hah, serius." Mendengar kata ayam goreng, Neji seperti terbang ke angkasa. Melayang bersama bidadari bersayap putih. "Wah, kebetulan sekali aku sudah lapar," katanya sambil menggandeng Tenten tanpa sadar. Saat itu juga Tenten merasakan getaran-getaran yang aneh dihatinya. Getaran dada yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tangan Neji yang hangat, membuat wajah Tenten bersemu merah. Sesampainya di restoran, mereka duduk diudut restoran. Tenten sibuk memesan makanan sedangkan Neji, asyik duduk sendirian dipojok ruangan sembari melihat jalan raya diluar kaca jendela restoran. Sepuluh menit kemudian, Tenten datang bersama ayam goreng yang dibawanya.

"Wuah, banyak sekali terimakasih ya," Neji cepat-cepat memakan dua daging ayam yang ada dihadapannya. "Kalau boleh tahu, siapa namamu?"

"Panggil saja aku Tenten. kalau kau?"

"Aku Ne… eh maksudku Ishihara Yujiro".

"Kau ini mirip sekali dengan member FoxNine yang aku suka. Namanya Neji"

"Benarkah, tapi aku namaku Yujiro," Neji terus saja memakan ayamnya begitu lahap. Tenten melihat sisa-sisa makanan di bibir kanan Neji. Kalau seperti ini Neji terlihat sangat lucu.

"Hahahah…makanmu belepotan sekali. sini biar aku bersihkan," ucap Tenten ramah.

Tenten membersihkan kotoran sisa makanan di wajah Neji dengan hati-hati. Mata mereka bertatapan, hati Tenten bergemuruh hebat. Bahkan detak jantungnya sudah tak bisa ia kendalikan. Tenten merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tak hanya Tenten yang merasakan hal seperti itu, Neji juga merasakan hal yang sama. Keindahan mata Tenten dan kecantikan gadis itu membuat mata Neji enggan untuk berkedip. "Dia benar-benar cantik," batin Neji

ooOOoo

Malam ini Hinata, Naruto dan Sasuke tidak masuk kerja karena setiap dua hari dalam seminggu mereka mendapat jatah libur. Walaupun sekarang hari libur baik Hinata dan Sasuke tidak bisa menikmati liburan karena Naruto sakit, badannya panas dan sedikit flu. Hinata dan Sasuke keluar membeli obat untuk Naruto. Berjalan berduaan dengan Sasuke, Hinata lebih banyak diam daripada bicara, hal ini wajar terjadi karena Sasuke pendiam daripada empat pria lainnya. Sepulangnya dari apotek, Hinata dan Sasuke melewati sebuah lapangan basket. Disana terlihat seorang gadis asyik bermain basket sendirian. Saat mata lavendernya memperhatikan sedikit lebih teliti, seulas senyuman menghiasi bibir mungilnya. Ia mengenal gadis itu. Gadis bersurai merah jambu itu adalah sahabatnya Haruno Sakura.

"Hinata!" gadis itu melambaikan tangan dan berlari mendekati Hinata.

"Oh, Sakura. Sedang apa kau disini?" tanya Hinata.

"Bermain basket, aku bosan dirumah," jawab Sakura. Mata hijaunya beralih memandang sosok pria tampan yang berdiri tegak di samping Hinata. Ehm, Hinata siapa dia, pacarmu?"

"Heh, bukan, dia temanku, kenalkan namanya Sasu... aish, maksudku Isamu."

Sakura dan Sasuke berjabat tangan. Sesaat mata mereka saling beradu namun kemudan masing-masing mangalihkan pandangan. Haruno Sakura adalah teman kecil Hinata. Umur mereka sama tetapi akhir-akhir ini mereka jarang bertemu. Hinata sibuk bekerja sedangkan Sakura sibuk kuliah. Kalau dilihat dari status ekonomi dan sosial, Sakura lebih segalanya daripada Hinata namun hal itu sama sekali tak membuat mereka saling menjauh satu sama lain. Sakura belajar hemat dari Hinata.

"Hinata, ayo kita bermain basket, sudah lama kita tidak bermain bersama," ajaknya.

"Maaf Sakura tapi aku harus..."

"Ayolah..". Sakura menarik Hinata ke tengah lapangan. Hinata spontan menarik Sasuke ke lapangan. Sasuke diam, dia tidak tau harus berbicara apa.

"Ah, Sakura bukannya aku tidak mau tapi aku harus memberikan obat ini kepada temanku. Lebih baik kau bermain dengan Sasuke, oke. Aku pergi dulu, bye." Hinata melarikan diri dari Sakura. Sakura menghela nafas panjang, ia sedikit kecewa dengan sikap Hinata kali ini. Tapi mau bagaimana lagi. Untuk kedua kalinya mata Sakura melirik seorang pria berparas tampan berambut raven hitam.

"Kau temannya Hinata?" tanya Sakura sembari mendrible bola. Sasuke hanya mengangguk. "Kau bisa bermain basket?" tanya Sakura santai

"Bermain basket jenis apa saja aku bisa," jawab Sasuke enteng. Ia tiba-tiba merebut bola dari Sakura. Sasuke mendrible bola, ia berlari lalu memasukkan bola ke dalam ring dengan Lay Up. Sasuke kembali mengambil bola, ia berlari agak menjauh dari ring. Kedua kakinya berada diluar garis ring, tangannya melempar bola dan three point. Ia berhasil memasukan bola dari jarak jauh. Sakura bengong, ia takjub melihat permainan basket Sasuke yang begitu luar biasa.

"Kenapa kau diam saja. Ayo main," ajak Sasuke.

Tanpa berpikir panjang, Sakura mengiyakan ajakan Sasuke dengan bahasa tubuhnya. Dia berusaha merebut bola dari tangan Sasuke namun selalu gagal. Menurut Sakura, Sasuke itu teralu tinggi badannya bagus, gagah dan tampan. Lagi-lagi usaha Sakura gagal, untuk kesekian kalinya Sasuke berhasil memasukan bola kedalam ring. Menit demi menit berlalu, mereka bermain basket dengan santai tanpa beban, bahkan terkadang terkesan asal-asalan. Sakura merasa lelah karena meladeni permainan Sauke yang begitu luar biasa. Sakura berhenti bermain, ia terkapar di lapangan.

"Hosh..hoshh melelahkan sekali. Ternyata kau ini pintar bermain Basket ya," puji Sakura.

"Kau juga Hebat." Puji balik Sasuke. Mata Sakura terus memperhatikan Sasuke sedari tadi.

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu?" Mendengar perkataan Sakura, Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah Sakura. "Apa namamu benar-benar Isamu?"

"Apa maksud pertanyaanmu itu?"

"Kau mirip sekali dengan Sasuke. Sasuke FoxNine."

"FoxNine? sepertinya aku pernah dengar kata-kata itu tapi aku tidak tahu mereka."

"Apa? kau tidak tahu siapa mereka? ah..kau ini kuno sekali," celetuk Sakura. Sasuke tersenyum mendengar ucapan Sakura. Sendainya Sakura tahu kalau Isamu itu adalah Sasuke.

"Malam ini dingin sekali. Sakura, apa kau tidak kedinginan?" tanya Sasuke.

"Tidak, tubuhku selalu hangat. Kalau kau tidak percaya pengang saja tanganku." Sakura menyodorkan telapak tangannya. Sasuke penasaran namun pada akhirnya dia memegang tangan Sakura dan memang benar tubuh Sakura hangat sekali. "Kau kedinginan? Sini, aku hangatkan". Sakura perlahan mendekati Sasuke.

"Hei, apa yang kau lakukan?"

"Sudahlah, kau diam saja." Sakura duduk di depan Sasuke dan meletakkan kedua tangannya yang hangat itu di kedua pipi pria tampan itu. "Bagaimana, tidak terlalu dingin kan?".

Sasuke mengangguk pelan, ia terlihat sedikit shock dan malu. Baru pertama kali ini wajahnya di sentuh oleh seorang gadis. Jantungnya serasa mau keluar dari dadanya. Detak jantungnya makin lama makin cepat. "Apa-apaan ini," batin Sasuke. Sedangkan Sakura terus memandang Sasuke tanpa henti.

ooOOOoo

Hinata pulang ke rumah sendirian. Di rumah tidak ada siapa-siapa, kasihan jika Naruto sendirian dirumah. Naruto terbaring lemah di tempat tidur. Hinata mengambil segelas air putih dan berjalan menuju kamar Naruto atau kamarnya sendiri. Saat Hinata membuka pintunya, ia melihat Naruto tidur. Gadis cantik itu meletakkan gelas berisi air putih disebuah meja kecil yang berada dekat dengan ranjang Naruto. Saat tidur begini wajah Naruto terlihat imut sekali. Dia benar-benar tampan. . Aish, Hinata apa yang kau pikirkan cepat bangunkan dia dan suruh Minum obat. Batinnya.

"Naruto, ayo bangun minum obat dulu," perintah Hinata.

"Oh...kau Hinata." Naruto bangun sambil mengucek matanya yang tidak gatal. Hinata memberikan air segelas beserta obat untuk Naruto minum. Perlahan Naruto meminum obat-obatan yang sudah dibeli Hinata. "Yack!" ucapnya sambil menjulur ludah.

"Kenapa Naruto?" tanya Hinata polos

"Obatnya pahit sekali."

"Namanya juga obat, tentu saja pahit."

"Tapi, ada obat yang bentuknya cair dan rasanya manis sekali. kenapa kau tidak membeli itu saja Hinata?" Protes Naruto sambil meneguk segelas air.

"Maksudmu obat sirup, Itu untuk anak kecil. Kau ini sudah sembilan belas tahun." Naruto diam mendengar ucapan Hinata. Gadis itu menyentuh kening Naruto dan suhu tubuh Naruto tidak menurun "Badanmu panas sekali. Tunggu aku ambilkan kau air es." Hinata mengambil bak yang sudah berisi air serta handuk untuk mengompres agar panasnya turun. Hinata meletakkan handuk basah di kening Naruto yang panas.

"Biasanya aku akan sembuh tanpa di kompres."

"Sudahlah, kau jangan cerewet."

Setelah selesai mengompres, Hinata meletakkan bak air di meja depan tempat tidur. Mungkin dia kurang berhati-hati, saat berbalik Hinata terpeleset. Tanpa diduga dan disangka Hinata mendarat dengan mulus di atas tempat tidur. Dia jatuh tepat diatas Naruto. Hinata melihat jelas mata Naruto memandangnya tanpa henti. Gadis itu gugup. Bagaimana tidak, tepat didepan diwajahnya adalah wajah Naruto. Tubuh Hinata tidak bisa di gerakan, matanya terpaku memandang mata Naruto. Hinata berusaha mengalihkan pandangannya namun sayang itu sama sekali tidak berhasil. Seperti ada magnet di mata biru itu. Aku harus bisa mnghindari situasi ini. Batin Hinata. Gadis itu segera berdiri.

"Maafkan aku. Ini tidak sengaja..ak...aku..keluar dulu."

Naruto mengangguk dengan ekspresi linglung dan sedikit shock. Hinata keluar secepat mungkin. Di balik pintu Hinata memegang dadanya. Dia bisa merasakan detak jantungnya yang tidak normal. Baru pertama kali ia merasakan hal seperti ini. Di dalam kamar, Hinata melihat Naruto dari balik pintu, pria itu sedang memegang dadanya. Ia mengira Naruto kesakitan karena ia jatuh tepat di atas tubuhnya.. "Assh… Hinata baka," Gumamnya sambil memukul kepalanya sendiri.

ooOOoo

Tak terasa satu bulan sudah berlalu. Hinata menghabiskan semua hari-harinya dengan lima pangeran tampan yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya. Banyak sekali peristiwa seru yang mereka alami. Mereka juga sudah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Hari ini mereka melakukan aktivitas masing-masing seperti biasa tapi ada hal yang berbeda dari hari-hari yang dulu. Empat pria tampan itu masing-masing dekat dengan seorang gadis. Hinata tahu apa yang mereka rasakan karena empat orang yang lain terkadang curhat kepadanya. Mereka benar-benar jatuh cinta. Untuk Naruto, pria itu tidak pernah curhat padanya. Malam ini, untuk petama kalinya mereka berkumpul bersama, kebetulan semuanya pulang lebih awal kerjanya. Dan sampai saat ini aku tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Neji, Sasuke, Sai dan Shikamaru duduk berderet di teras, matanya memandang bintang. Terkadang mereka senyum-senyum sendiri. Hinata penasaran dengan tingkah mereka.

"Dia sungguh cantik," ujar Shikamaru tiba-tiba.

"Kalau marah, dia terlihat lebih cantik dari biasanya." Neji juga ikut membicarakan sosok makhluk yang dinamakan waita. .

"Kalau bermain basket, dia juga terlihat sangat manis." Sekarang Sasuke juga ikut menggila.

"Aku ingin selalu ada di sampingnya," ucap Sai. Semakin lama Hinata semakin tak tahan dengan tingkah aneh mereka.

"Hei, kalian ini kenapa?" tanya Hinata penuh amarah.

"Sudahlah, mereka sedang kasmaran, jangan ganggu. Ayo kita jalan-jalan," celetuk Naruto tiba-tiba.

"Eh, kita jalan-jalan kemana?" tanya Hinata penasaran.

"Sudahlah kau ikut saja."

Naruto menarik tangan Hinata begitu saja tanpa menunggu jawaban Hinata. Sedangkan empat orang lainnya masih duduk diam , tersenyum sambil terus memandang langit malam yang penuh dengan awan hitam dan cahaya bulan.

oooOOOooo

Hinata tak tahu kemana Naruto membawanya pergi. Ia menyadari sesuatu, bahwa sedari tadi Naruto menggandeng tangannya. Perasaan aneh dan degupan jantung yang pernah Hinata rasakan terhadap Naruto kemarin muncul, kembali hari ini. Hinata tidak tahu perasaan seperti apa yang ia alami sekarang namun satu hal yang jelas ia rasakan, jika hari ini dia sangat bahagia bisa sedekat ini dengan Naruto. Gadis itu sedikit demi sedikit mulai berpikir, mungkinkah dia mulai mencintai Naruto? sejak dua bulan yang lalu, pria berambut kuning itu membuatnya memiliki perasaan aneh untuk pertama kalinya. Hinata terlarut dalam lamunannya, tangan Naruto semakin lama terasa erat mengenggam tangannya.

Tak terasa mereka sudah sampai di pusat kota. Pemandangan kota di malam hari sangatlah indah. Banyak lampu yang menghiasinya. Di sebuah lapangan berwarna putih, terdapat banyak sekali orang-orang berseluncur dan menari-nari dengan riang. Hinata tahu kalau Naruto membawanya di arena ice skeating. Pemandangan di sekitar lapangan es sangat lah romantis. Pohon-pohon melingkari lapangan berhiaskan lampu-lampu yang menyala terang.

"Apa kau mau bermain ice skeating?" ucap Naruto pada Hinata tiba-tiba.

"Tapi aku tidak bisa bermain ice skeating," ucap Hinata santai, mata lavendernya melihat orang-orang yang ada di sekitar. Banyak sekali pasangan muda-mudi berkencan disini.

"Jangan khawatir nanti aku akan mengajarimu. Kita akan bersenang-senang disini" Naruto tersenyum pada Hinata sambil meraih tangan kanannya. Hinata tak bisa berkutiik lagi, senyuman Naruto membuatnya luluh dan lupa akan ketakutannya.

Pada akhirnya mereka mengganti alas kaki dengan sepatu ice skeating. Menit kemudian, mereka berdua mulai menginjakan kaki di lapangan es yang licin. Hinata tertatih dan hampir terjatuh, tapi untunglah Naruto mengenggam erat tangannya. Naruto begitu telaten dan penuh kesabaran melatih Hinata yang sudah jatu beberapa kali. Kadang Naruto tertawa melihat Hinata terjatuh, tapi dia juga khawatir. Sebaliknya, Hinata merasa malu sekali karena ia terlihat bodoh di depan Naruto. Sudah puluhan kali Hinata jatuh..

"Hei, Hinata, kakimu itu terlalu kaku, rilekslah sedikit," protes Naruto.

"Sudah aku bilang aku tidak bisa. aku takut jatuh, lagi pula udara disini terlalu dingin," bantah Hinata

Sudah sekitar satu jam Hinata berlatih namun sama sekali tidak ada kemajuan, akhirnya mereka berdua memtuskan berhenti berlatih bermain ice skeating. Hinata benar-benar takut. Usai mengganti sepatu ice skeating dengan alas kaki, Naruto meninggalkan Hinata begitu saja dan membeli sesuatu di ujung jalan. Gadis itu merapat ke tepian dan berdiri di luar pagar yang membatasi lapangan. Matanya melihat orang-orang yang tertawa riang dan bahagia, hal seperti ini membuat dirinya merasa damai. Brrrrr…cuaca benar-benar dingin. Badan Hinata menggigil. Dia tipe orang yang tidak tahan dengan cuaca dingin. Tiba-tiba segelas kopi ada di depan mata Hinata. Dia menerima kopi hangat itu dengan senang hati dan langsung menyeruputnya. Hinata menoleh dan ingin tahu darimana kopi itu berasal, ternyata itu dari Naruto.

"Cuaca hari ini begitu dingin, jadi kita harus minum yang hangat-hangat," ucap Naruto santai sambil meneguk kopinya secara perlahan.

"Kau tahu saja apa yang sedang aku pikirkan hehe," canda Hinata.

Nampaknya kopi masih belum bisa menghangatkan tubuh Hinata. Tubuh gadis itu terus mengigil. Naruto melihat heran ke arah Hinata. Mulutnya bergetar dan semua tubuhnya bergerak. Naruto mulai menyadari jika Hinata menggigil karena kedinginan.

"Hinata, kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada cemas.

"Ak…aku…ti..tidak apa-apa," ujar Hinata terus mengigil.

"Kau kedinginan, jadi pakai jaketku." Naruto memkaikan jaketnya pada Hinata. Tapi Hinata masih merasa dingin dan terus menggigil. Naruto melihat ke arah Hinata, ia berfikir bahwa Hinata tidak menggigil namun ternyata tak ada perubahan sedikitpun. "Aish..bagaimana ini. Terpaksa tidak ada cara lain kalau tidak cara yang ini," gumamnya dalam hati.

Naruto menggeser tubuhnya tepat di belakang Hinata, tangannya perlahan merangkul tubuh mungil itu menuju dekapan hangatnya . Hinata terkejut setengah mati. Naruto memeluknya dari belakang dan mendekapnya erat sekali. Pipi Naruto menyentuh pipinya. Sensasi sentuhan kulit mulus Naruto membuat tubuhnya terasa semakin hangat. Memang ini terasa lebih hangat daripada sekedar kopi yang panas. Darah Hinata rasanya naik dari ujung kaki ke kepala. Jujur di dalam lubuk hati yang paling dalam Hinata malu sekali begitupun juga dengan Naruto. Hinata bisa merasakan setiap hembusan nafas Naruto dari pipi dan telinganya.

"Naruto, kau tidak perlu seperti ini," kata Hinata penuh malu.

"Sudahlah diam, apa kau mau mati kedinginan saat ini. Apa kau merasa hangat?" tanya Naruto penuh rasa khawatir. Hinata mengannguk malu. Naruto,kalau kau berbicara dengan posisi seperti ini kau makin membuatku merinding. Batin Hinata

ooOOOoo

Di jalan yang lumayan sepi, terlihat seorang gadis dengan rambut ekor kudanya berdri dan menunggu gelisah di bawah pohon sakura. Gadis itu tak lain adalah Temari. Dia berdiri sembari menganyunkan kakinya tanpa alasan. Malam minggu ini adalah malam minggu yang istimewa untuk semua member FoxNine karena mereka mengajak orang special keluar dan menghabiskan malam bersama. Tak lama kemudian, wajah gadis cerah dan tersenyum puas serta melambaikan tangannya. Dia merasa puas karena orang yang ditunggunya sudah datang. Orang yang di tunggu oleh Temari adalah Shikamaru. Dari jauh Shikamaru juga tersenyum senang dan segera berlari menghampiri Temari yang telah lumayan lama menunggunya. Sebenarnya Shikamaru tidak tahu kemana Temari akan mengajaknya pergi.

"Temari , kau sudah lama menungguku?" tanya Shikamaru polos

"Tidak," ajak Temari dengan senyum manisnya.

"Kemana kita akan pergi?"

"Sudahlah nanti juga kau akan tahu," jawab Temari singkat.

Shikamaru benar-benar tidak tahu Temari akan membawanya kemana. Tapi dia tidak peduli , yang terpenting dia ada di dekat Temari dan bersenang-senang bersamanya. Selang beberapa menit dengan berjalan kaki. Tibalah Temari di suatu tempat yang tidak luas, kalau di lihat sekilas tempat ini seperti tempat latihan menari namun untuk malam ini tidak ada satupun orang yang berkunjung.

"Temari, bukankah ini tempat latihan menari?" tanya Shikamaru.

"Iya, ini tempat latihan menari. Aku biasanya berlatih disini," jawab Temari.

"Kau bisa menari? Benarkah ?" Temari mengangguk malu pada Shikamaru.

Shikamaru terperangah ketika musik yang digunakan untuk mengiringi dance Temari adalah lagu FoxNine yang berjudul The One. Shikamaru makin terpesona gadis berambut kuning itu. Temari begitu lincah menari. Ternyata dia hebat juga, ucap Shikamaru dalam hati. Tanpa rasa malu Shikamaru segera bergabung dengan Temari. Gadis itu tersenyum senang karena Shikamaru ikut bergabung dengannya. Mereka berdua begitu kompak. Tawa bahagia terpancar dari dalam diri mereka.

"Tatsuya, kau memang hebat. Kau hafal semua gerakan tari ciptaan Shikamaru, " kata Temari.

"Iya, aku juga suka Shikamaru jadi terkadang aku mengikuti gerakannya hehe," bohong Shikamaru.

Temari memandang Shikamaru penuh arti. Ia semakin hari semakin menyayangi Tatsuya, tapi sayangnya dia adalah seorang wanita. Rasanya tak pantas jika menyatakan cinta terlebih lagi pada seorang pria. Bagi Temari itu sangatlah tabu. Dia ingin sekali selalu ada di samping Shikamaru. Semburat merah terpancar jelas di pipi Shikamaru, ia malu karena Temari terus memandangnya. .

"Temari, ada apa?" tanya Shikamaru bingung

Tiba-tiba Temari memeluk erat Shikamaru. Pria dengan kunciran dirambutnya itu tercengang dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tertegun, ingin sekali Shikamru membalas pelukan itu tapi ia ragu. Tangannya juga ingin sekali merangkul pinggang kecil Temari. Dengan penuh keberanian, Shikamaru membalas itu semakin lama semakin erat.

"Tatsuya, aku sangat senang bisa bertemu denganmu."

"Aku lebih dari senang Temari," ucap Shikamaru lembut. Seulas senyum terbesit di wajah mereka masing-masing.

ooOOoo

Sasuke berjalan sendirian di tengah malam yang dingin. Sesekali dia melihat secarik kertas dan melihat tiap nomer yang tertera di pagar rumah. Iya, dia sekarang sedang mencari rumah Sakura. Sudah hampir tiga puluh menit Sasuke mencari dan pada akhirnya ia bisa menemukan rumah Sakura. Sasuke menekan bel berkali-kali namun sayangnya tidak ada satu orang pun yang membuka pintu. Tak lama kemudian Sakura keluar.

"Ah, Isamu kau rupanya. Maaf aku tadi di kamar mandi Silahkan masuk."

"Rumahmu sepi sekali Sakura. Dimana orang tuamu?"

"Mereka tinggal di luar negeri, jadi aku disini sendirian, yah aku memang selalu seperti ini."

Di saat Sakura menjelaskan perihal kedua orang tuanya, Sasuke asik melihat-lihat rumah Sakura. Ia begitu terkejut melihat banyak sekali piala yang tertata rapi di tiap sudut lemari kayu yang berada di ruang tengah rumah Sakura. Sasuke terkagum-kagum dengan apa yang dia lihat. Dipiala itu tertera tulisan "Haruno Sakura juara I olimpide MIPA se-asia Pasifik."Ternyata Sakura adalah seorang gadis yang pintar. Ia banyak menjuarai olimpiade tingkat dunia. Batin Sasuke. Selain piala, ada banyak medali yang di pajang di dalam pigura yang terpampang indah di dinding.

"Isamu-san, kau mendengarkanku tidak?" protes Sakura karena merasa Sasuke lebih memilih untuk melihat-lihat piala itu dari pada ceritanya.

"Heh, apa? Maaf jika aku tertarik dengan piala-piala yang kau peroleh. Kau pintar sekali."

"Biasa saja. Isamu-san, ayo kita memasak bersama." Sakura menarik Sasuke dan memakaikan celemek yang warnanya pink.

"Apa? Aku tidak bisa memasak. Sakura kenapa kau memakaikanku benda yang seperti ini".

"Sudah kau diam saja. Kau hanya perlu mengaduk-ngaduk masakan itu."

Kata Sakura yang sekarang sibuk memotong wortel. Sakura curi-curi pandang ke arah Sasuke. Dia tersenyum memandang Sasuke yang tampan dan memakai celemek berwarna pink. Tiba-tiba Sakura punya ide gila. Entah dari mana datangnya ide itu. Sakura mengambil saus tomat yang berada di sampingnya dan menuangkan saus itu di jari telunjuknya.

"Auw, aduh sakit sekali. Jariku," Kata Sakura melas.

"Kau, kenapa? jarimu berdarah, bagaimana ini?". Sasuke memegang tangan Sakura, ia panik

"Jangan di sentuh sakit. Ambilkan tisu." Bentak Sakura sambil berpura-pura menangis. Sasuke gugup tidak karuan bahkan batinnya pun menangis. Dimanapun dia mencari tisu, namun haslnya nol. Tak ada tisu satupun di tempat yang dia cari.

"Sakura, tissunya dimana?" tanya Sasuke namun Sakura tidak jawab. "Hei! Sakura kau ini ditanya diam saja. Dimana Tisunya, aku tidak bisa menemukannya!" Nada Sasuke sedikit berteriak dan terbawa emosi.

Sakura berdiri di samping Sasuke, pria itu terlalu konsentrasi dan tertuju pada sebuah tissue sehingga dia tidak menyadari kalau Sakura sedari tadi ada disampingnya. Sasuke masih saja terus mencari tisu di laci-laci meja. Tapi kejadian tak terduga terjadi, tiba-tiba Sakura mencium pipi Sasuke. Tubuhnya membatu, tidak bisa bergerak dan shock. Tapi ada sebuah luapan kegembiraan tak tertahankan dibatinnya.

"Isamu, tissunya ada di sini," Sakura melihatkan tissue yang ada di tangannya. "Dan sebenarnya jariku tidak apa-apa." Dia menunjukan jarinya pada Sasuke. Pria berambut raven itu sontak memeluk Sakura. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan itu.

"Jangan buat aku khawatir lagi Sakura," ucap Sasuke pelan.

"Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji."

Sakura hari ini begitu bahagia karena bisa menghabiskan waktunya bersama Sasuke orang yang telah membuatnya Jatuh cinta. Belum pernah dia sebahagia ini dengan seseorang.

ooOOoo

Sai dan Ino sekarang berada di suatu bangunan yang luas seperti sebuah gedung. Sai sama sekali tidak tahu tahu sekarang dia ada dimana. Yang jelas gedung ini terlihatn begitu sepi. Jika ia perhatikan lagi, ini seperti tempat teater atau orchestra.

"Ino, sebenarnya kita ini dimana?"

Nanti kau juga akan tahu. ayo masuk."

Sai dan Ino memasuki gedung itu. Gedung ini terlihat sangatlah megah. Ino membuka pintu yang berada tepat di depan mereka.. Ruangan itu gelap dan luas. Ino menarik Sai ke dalam ruangan itu. Secara perlahan Sai memasuki ruangan yang megah itu, ini adalah ruangan yang digunakan untuk konser musik klasik atau yang sering disebut orchestra. Di ruangan ini terdapat tirai merah yang mengelilingi panggung. Gedung ini benar-benar gelap, hanya ada satu cahaya yang berasal dari panggung. Cahaya itu hanya menyinari tepat di atas piano yang berada di tengah-tengah panggung yang luas.

"Sai, kau disini saja, aku ingin memainkan sebuah lagu untukmu," perintah Inoe

Ino duduk, jari jemarinya mulai memainkan piano. Ternyata lagu yang di nyanyikan Ino adalah lagu yang berjudul "Only hope-Mandy Moore". Ino menekan tiap note piano penuh dengan perasaan. Ia menyanyikan lagu itu sepenuh hati dengan jiwa yang tulus. Sai, adalah sosok pria yang membuatnya bahagia dan memberi warna dalam hidupnya. Sai melihat Ino penuh rasa sayang. Ingin sekali dia mengatakan kalau dia mencintainya. Tapi ini semua tidak mungkin karena dia disini hanya sementara dan mungkin dia tidak akan pernah kesini lagi. Sai terus memandang Ino sampai selesai bernyanyi untuknya. Ino menundukan badannya karena malu, tanpa pikir panjang Sai memberi tepuk tangan dan menghampiri Ino di atas panggung.

"Jadi kau bisa main piano juga Ino?" Tanya Sai kagum.

"Iya, tapi aku tidak mahir main piano," jawab Ino singkat. Sai sekarang duduk disamping Ino dan bersiap untuk memainkan sebuah lagu untuknya.

"Apa kau mau bermain piano denganku dan bernyanyi bersama?".

"Apa?" Inoe terkejut dengan ajakan Sai.

"Apa kau bisa menyanyikan lagu Christina Perry - A thousand Years?"

"Tentu saja bisa aku suka sekali dengan lagu itu."

"Kalau begitu ayo mainkan."

Ino dan Sai memainkan lagu itu dengan harmonisasi yang sangat indah. Keduanya berjejer dan bermain piano bersama. Mereka saling pandang dan tersenyum satu sama lain. Lagu ini adalah lagu kesukaan Ino, benar setiap melihat Sai, jantungnya berdegup kencang. Ia akan menunggu Sai sampai kapanpun. Dia sangat bahagia bisa lebih dekat lagi dengan Sai. Baik Sai maupun Ino sebenarnya mereka saling mencintai hanya saja waktu dan keadaan yang tidak bisa membuat mereka bersatu.

"Ino, apa kau bahagia hari ini?" tanya Sai yang ingin sekali tahu reaksi Ino.

"Iya aku sungguh bahagia. Apa kau akan selalu menemaniku seperti ini?" Ino menyandarkan kepalanya di bahu Sai.

"Aku tidak tahu, karena kami berlima harus segera pulang."

"Kami berlima? memangnya selain adikmu Tatsuya, kau dengan siapa lagi? memangnya kau akan kemana?"

"Ah..sudahlah jangan di bahas."

"Aku mohon tetaplah bersamaku," rengek Ino. Sai hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya diatas kepala Ino

TO BE CONTINUE