Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe

X-MEN : THE OMEGA

©LONGLIVE AUTHOR

Chapter 22


Apa kau melihat mereka pergi berjuang?

Anak-anak dari barikade yang tak bertahan malam itu.

Apakah kau melihat mereka terbaring di tempat mereka mati?

Seseorang pernah menggendong dan mencium mereka ketika menangis.

Apakah kau melihat mereka terbaring berdampingan?

-Les Miserables-


Bau anyir bercampur rumput basah tercium begitu kentara malam itu. Sebagian dari mereka yang mati masih terlihat jasadnya meski banyak juga yang sudah tak berbentuk. Sebagian lagi malah telah berubah menjadi butiran debu atau sudah berwujud tanah menjijikan. Kekuatan dari kedua kubu telah jauh berkurang. Namun Orochimaru masih belum menampakkan batang hidungnya.

"Lukamu parah Neji." Ujar Hinata. Ketika Hinata hendak membetulkan beberapa tulang bahu Neji yang bergeser, pemuda itu tersentak.

"Ada yang datang." Wajah Neji nampak pucat. "Akatsuki. Itu Itachi Uchiha dan...Sakura"

Naruto menoleh pada tempat yang ditunjukkan Neji. Tepat di pintu masuk markas yang bentuknya sudah tak beraturan dua sosok berjubah hitam barusaja menghilang dari pandangan. Mungkin tak ada yang menyadari kehadiran mereka.

"Kita harus memberitahu ini pada yang lain!" Kata Hinata. Tapi Naruto menahan lengannya. Pemuda berambut pirang itu menggeleng. Neji menatap Naruto dengan serius.

"Dia tahu apa yang dia lakukan." Katanya. Sakura sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?

Tanpa sepengetahuan mereka sedari tadi pemuda berambut raven yang berdiri jauh dari mereka berhasil menangkap pembicaraan mereka. Wajahnya tampak lebih mengeras dari sebelumnya. Ia sudah tidak tahan lagi, rasanya kemarahan sudah siap meledak dari ujung kepalanya. Dengan kepalan tangan dia pergi dari sana dan masuk kedalam markas untuk mengikuti Sakura dan Itachi, kakaknya.

Sementara itu Sakura dan Itachi masuk kedalam markas Brotherhood. Dinding dan langit-langit disekeliling mereka tampak sudah retak dan terlihat hampir runtuh. Kedua mutan itu berjalan cepat di sepanjang koridor.

"Orochimaru tak ada disana. Dimana dia?" tanya Itachi tanpa menoleh sama sekali.

"Dia telah dikhianati...oleh Kabuto."

Setelah berbelok cukup lama dikoridor, akhirnya mereka menemukan sebuah pintu besi bundar yang sangat besar. Pintu itu mirip seperti pintu masuk bunker untuk menahan serangan nuklir. Permukaannya sangat kokoh walaupun ada beberapa bagian yang sudah berkarat. Sebuah kenop berbentuk bulat seperti kemudi nahkoda. Orang awam pasti akan berpikir bahwa tidak mungkin pintu itu bisa dibuka meskipun sudah meledakkan bom di depan pintu. Tapi tidak untuk Sakura. Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke udara kosong. Perlahan tapi pasti sebuah suara berdenging yang keras terdengar dan kenop pintu besi yang luar biasa besar itu mulai bergerak. Beberapa butiran besi berkarat yang sudah rapuh berjatuhan. Tak lama pintu itu berderak dan mulai terbuka.

Sakura dan Itachi masuk kedalam ruangan itu. Sama seperti ruangan-ruangan yang lainnya kotor dan suram. Hanya saja ruangan ini jauh lebih besar dengan beberapa kursi berlengan dan juga beberapa meja. Selain itu ada banyak komputer model lama yang tersimpan disana. Namun yang paling menakjubkan adalah lambang besar Konoha yang berbentuk daun abstrak terpampang di dinding bunker. Serta bertuliskan ' NEGARA API.'. Jelas sekali kalau dulu ruangan ini dugunakan untuk mengungsikan orang-orang penting Konoha.

Entah kenapa ruangan itu jauh lebih mengerikan daripada sekedar bunker tua yang tidak terurus. Hawa dingin menusuk dan membuat siapapun yang masuk kedalam langsung lemas karena auranya yang sangat tidak menyenangkan. Sayup-sayup terdengar sebuah tarikan napas berat dari sudut gelap ruangan. Tak lama setelah mereka melangkah masuk, ruangan itu menjadi terang benderang dengan penerang dari lampu tua yang sepertinya sudah sangat lama tidak digunakan.

Lalu Itachi dan Sakura menemukan sebuah pemandangan menjijikan yang berada di ruangan itu. Seseorang—jika memang bisa disebut seperti itu—sedang berdiri membelakangi mereka. Ia menghadap ke sebuah meja dan tampak seseorang juga tengah terbaring di meja dihadapannya. Mereka hanya bisa melihat kakinya. Kaki itu sangat pucat seperti mayat. Namun yang lebih menjijikan adalah orang yang berdiri membelakangi mereka itu. Tubuhnya juga tak kalah pucat dengan mayat yang berbaring dimeja, bahkan lebih berburuk. Seperti mayat manusia yang membusuk di dalam air.

Ia berbalik, menampakkan sosok pria berkacamata dengan mata ular berwarna kuning. Urat-urat berwarna biru keunguan nampak di sekitar wajah dan tubuhnya yang telanjang dada itu. Begitu ia melihat Sakura dan Itachi, ia menyeringai lebar seakan baru saja mendapat makanan lezat. Pria itu adalah Kabuto Yakushi

"Dua anggota Akatsuki?" tanya Kabuto, "kemana yang lainnya? Apa mereka sedang menunggu waktu yang cepat untuk menyerang Brotherhood?" ejeknya. Mereka berdua bisa melihat kalau mayat yang ada di belakangnya adalah mayat Orochimaru itu sendiri. Sangat mengenaskan, kepala dan badannya tampak terbuka seakan Kabuto mengoyak isinya.

"Menjijikan!" Komentar Itachi dingin.

"Hahaha...meskipun menjijikan tapi percobaanku kini berhasil." Balas Kabuto.

"Kau mengkhianati Orochimaru." Ujar Sakura.

"Dia itu hanya orang yang selalu mengikuti nafsunya saja. Apa yang dia kerjakan sama sekali tak berarti. Semua rencananya tidak matang dan dia tidak mau mendengarkanku. Akibatnya Brotherhood kehilangan banyak pasukan. Dia memang jenius tapi tak cukup cerdik." Katanya. Ia maju beberapa langkah meninggalkan jejak-jejak berlendir di lantai.

"Aku sudah lelah diperintah oleh orang seperti Orochimaru dan lihat aku sekarang, aku berhasil." Ia membanggakan dirinya sendiri. "Tubuhku akan terus beregenerasi setiap ada sel yang rusak dan artinya kalian tidak akan bisa membunuhku. Inilah yang namanya pengembangan dari teknologi Biokinesis. Sekarang semua orang bisa menjadi mutan kelas Omega Sakura."

"Sial!" Umpat Itachi.

"Nah, Nyonya dan Tuan. Sekarang habisi saja para tentara dan pasukan Brotherhood sesuka kalian. Aku tahu sejak awal kalau Akatsuki pasti akan datang kemari. Jadi sepertinya ini bukan waktuku. Selamat bersenang-senang," Tubuh Kabuto hancur dan jatuh menjadi ratusan ular kecil berwarna putih yang bergerak sangat cepat mencari celah untuk kabur dari sana, hingga Itachi dan Sakurapun tidak sempat meghentikannya.

"Kita harus pergi sebelum Pain tahu." Ujar Sakura. Namun ketika mereka berbalik alangkah kagetnya mereka mendapati Sasuke ada disana. Sakura benar-benar tidak menyadarinya karena ia tadi benar-benar hanya fokus pada Kabuto yang sudah bertransformasi sedemikian rupa. Namun alih-alih kaget Itachi nampak tersenyum.

Sakura sangat mengerti dengan apa yang Itachi rasakan saat ini. Dia sangat bahagia sekarang, namun semua itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Sakura saat ini. Tiba-tiba saja detak jantungnya menjadi tidak karuan, dan keringat dingin langsung mengalir dari pelipisnya. Tiba-tiba saja ia sangat takut. Apa sudah saatnya?

"Ah, sudah saatnya ya?" Itachi bergumam seolah menanyakan sesuatu yang indah. Ia berkedip dan kedua mata sewarna darah itu muncul lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Sasuke juga sudah bersiap dengan apa yang akan ia hadapi. Ia sudah menunggu saat ini seumur hidupnya. Sorot matanya begitu dipenuhi dengan kebencian, berbeda dengan Itachi. Mungkin ia sudah lelah untuk bersikap dingin dan kali ini ia melepaskan topengnya untuk yang terakhir kali.

"Hentikan senyuman bodohmu itu, brengsek!" Bentak Sasuke. Itachi menolehkan kepalanya pada Sakura.

'Ini yang terakhir Sakura, terima kasih.'

Sakit, hatinya sangat sakit ketika Itachi mengatakan itu padanya. Ia seperti seperti akan ditinggal oleh Itachi sangat jauh. Kembali ia berpikir apa harus seperti ini? Sempat ia berpikir untuk melanggar janji yang ia buat pada Itachi. Tapi rasanya tubuhnya tak mau bergerak. Ia tidak bisa melanggar janjinya. Itachi dan Sasuke telah lama menantikan saat ini. Tapi kenapa untuk saling membunuh. Hidup itu pahit, dan akan selalu begitu.

"Halo adikku, aku yakin kau sudah jauh lebih kuat dari terakhir kali kita bertemu. Bergabung dengan Orochimaru? Sekarang tidak akan ada yang mengganggu kita." Ujar Itachi dengan seringaiannya.

"Beraninya kau menganggapku adik, tidak akan ada yang sudi menjadi adikmu." Ujarnya. Itachi hanya tersenyum mendengar cacian adiknya. Ia tersenyum sangat tulus, namun sayang Sasuke menganggapnya sebagai ejekan.

"Sebentar lagi ayah dan ibu akan tenang di alam sana karena aku akan membalaskan dendam mereka!" Seketika disekeliling Sasuke muncul sebuah pelindung transparan berwarna keunguan. Pelindung itu samar-samar berbentuk sebuah tubuh dari kepala sampai pinggang. Dengan kecepatan tinggi sebuah tinju dari tangan pelindung milik Sasuke menghempas Itachi sampai terpental menabrak dinding. Hempasannya membuat perabot dan dinding yang ditabrak oleh Itachi hancur dan retak. Memar dan noda darah langsung terlihat di tubuh bagian kiri Itachi.

"Hanya itu?" Tantangnya dan hal itu membuat Sasuke semakin geram. Satu lagi tinju besar mengarah kearah Itachi dan lagi-lagi sang Uchiha sulung tak bergerak. Ia dengan sengaja menerima pukulan itu.

OHOKK!

Darah menyembur keluar dari mulut Itachi. Serangan yang begitu keras membuat beberapa tulang dan organ vital Itachi hancur. Sakura juga tahu kalau Itachi hanya akan bisa bertahan tak lama lagi. Gadis itu menahan mati-matian air mata dan tubuhnya agar ia tidak menghentikan mereka berdua. Sesekali Sasuke juga melirik Sakura kalau-kalau ia menyerangnya saat ia lemah. Dalam hati pemuda itu juga bertanya-tanya kenapa Sakura sama sekali tak membantu Itachi dan hanya memasang wajah dingin disana.

Sekali lagi tinju dari tangan pelindung Sasuke menghantam Itachi, namun kali ini ada sesuatu yang besar yang menhan tinju itu. Ternyata itu adalah pelindung milik Itachi yang jauh lebih besar dan kuat. Pelindung Itachi juga berbentuk tubuh manusia hanya saja pelindung itu berwarna kemerahan.

"Giliranku Sasuke."

Layaknya tangan Itachi sendiri, pelindung itu bertindak sesuai keinginan tuannya. Sebuah tinju yang jauh lebih besar dari milik Sasuke menerjangnya bertubi-tubi hingga membuat Sasuke tak berdaya. Sakura sampai harus muncur beberapa langkah agar ia tidak terkena puing-puing yang berterbangan.

"Tak ada bedanya!" Komentar Itachi. Ia berjalan mendekati adiknya yang sedang bersusah payah untuk bangkit. Itachi sendiri sudah tertatih-tatih dibuatnya. Jelas sekali kalau ekspresinya sedang menahan kesakitan yang luar biasa.

"Kau memang sudah sangat hebat, tapi kau masih melewatkan satu hal yang paling penting dalam proses. Kau masih belum mengerti Sasuke. Kau bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi disini. Kau hanya bertindak apa yang menurutmu benar. Kau masih belum bisa membaca isi hati orang lain." Jelas Itachi.

"Banyak bicara!" teriak Sasuke. Pelindung miliknya muncul lagi dan menerjang Itachi. Ia membalasnya tanpa ampun. Terlihat kalau kepala Itachi membentur dinding dengan sangat keras lalu tangan pelindung Sasuke membanting tubuh Itachi ke lantai sampai lantainya retak.

"Itachi!" lirih Sakura.

Tubuh itu diam tak bergerak. Napas sakura tersengal. Apa dia mati? Sakura sendiri tak mau membayangkan hal itu. Perlahan ia melangkahkan kakinya ke arah Itachi. Sementara itu Sasuke sendiri masih berdiri disana menunggu apa yang akan dilakukan oleh Sakura.

"Itachi?" lirihnya lagi. Matanya masih terbuka menampakkan kedua bola mata yang sudah menghitam. Sangat redup dan hampir kehilangan cahayanya. Namun sangat damai disaat yang bersamaan. Sakura sudah tidak tahu lagi keluar dari mana saja darah yang melekat pada tubuh dan kepala Itachi. Gadis itu turun dan menggapai tubuh Itachi, menidurkannya dalam pangkuannya. Membiarkan darah menetes menodai pakaiannya. Seluruh organ vital Itachi sudah hancur dan sudah tak mungkin lagi untuk disembuhkan meskipun dengan kemampuan Biokinesis-nya.

"A-ak-u bahkan belum sempat mem-beritahunya kalau..." Ucapannya begitu lirih dan terbata "...kalau aku sangat menyayanginya."

Sasuke yang berdiri disana sama sekali tidak mengerti apa masksud dari perkataan tadi. Sakura sendiri tak mampu berkata-kata, pelupuknya sudah dipenuhi air mata. Itachi tersenyum. Lalu ia menangis, air mata itu meluncur dari matanya. Ia belum pernah melihat Itachi menangis seperti ini.

"Terima kasih. Selesaikan tugasmu Sakura. Maaf, ini y-yang terakhir..." Itachi menolehkan kepalanya pada Sasuke. "...Sasuke."

Jantunganya berhenti berdetak.

Sakura tidak tahan lagi. Air matanya tumpah menyisakan isakan tertahan dari bibirnya. Sasuke benar-benar tidak mengerti. Apa ada sesuatu yang ia lewatkan? Ia sangat senang Itachi mati tapi entah kenapa perasaannya tidak karuan, ia gelisah. Kenapa Sakura begitu tersedu saat Itachi mati? Apa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka?

Dengan sisa tenaganya Sakura mengangkat kepalanya. Tangannya yang halus bergerak untuk menutup kedua mata Itachi. Ia bahkan masih ingin melihat Sasuke dikematiannya.

"Selamat malam, dan selamat beristirahat Itachi." Ia mencium kening Itachi.

Sakura bangkit, saatnya ia mengakhiri tugasnya. Ia berjalan menuju pintu keluar. Namun sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti tepat di hadapan Sasuke. Kali ini ia tak berusaha untuk tampak tegar, mata Sakura memancarkan kesedihan yang begitu mendalam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada Sasuke sekarang. Apa ia harus memberitahu semua kebenarannya? Tapi jika ia memberitahunya, ia tidak tahu bagaimana kecewanya Sasuke nantinya. Ia tidak mau Sasuke melakukan hal yang gegabah. Jika ia mati maka percuma saja pengorbanan Itachi.

Sasuke tidak tahu apa yang dipikirkan dan apa yang akan Sakura lakukan. Melihat matanya yang memancarkan kesedihan membuatnya bingung. Setaunya Sakura yang ia kenal sudah berubah sejak ia masuk Akatsuki. Namun tatapannya kini mengingatkannya pada Sakura yang dulu pernah ia peluk, yang dulu pernah ia tinggalkan sambil menangis, Sakura yang selalu menguatkan dirinya.

"Lihatlah dia, Sasuke." Ujar Sakura menoleh pada tubuh Itachi. "Aku tak pernah melihatnya sedamai itu." Lanjutnya.

"Apa maksudmu?" Sasuke tak mengerti.

"Selama ini dialah penjagamu yang sebenarnya, dialah yang diam-diam selalu menyayangimu." Kata Sakura lagi.

"Apa yang kau katakan? Jangan mengatakan omong kosong seperti itu. Dialah yang telah menghancurkan hidupku. Kau seorang telepath, seharusnya kau tahu."

"Karena aku seorang telepath maka dari itu aku tahu, Sasuke." Bentak Sakura.

Hati Sasuke mencelos, sebenarnya apa yang Sakura tahu? Namun dengan satu gerakan Sakura menarik wajah Sasuke lalu menciumnya. Bersamaan dengan itu Sakura memberikan semua ingatnnya tentang Itachi. Ia memberitahu semua pada Sasuke, meskipun itu adalah hal yang paling pahit sekalipun. Sasuke harus tahu, kalau tidak ia tidak akan pernah bisa menghormati pengorbanan Itachi.

Seiring ingatan itu mengalir di benak Sasuke, tubuh pemuda itu menegang tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kecupan Sakura begitu hangat sekaligus dingin dan rasa dingin itu menjalar dihati Sasuke. Sakura menarik wajahnya.

"Pikirkan itu Sasuke. Aku sepenuhnya jujur kepadamu." Iapun meninggalkan Sasuke yang masih mematung.

Sekelebatan kenangan melintas dan berputar-putar dikepalanya. Ingatan Sakura tentang Itachi. Sasuke bisa melihat saat pertama kali Itachi datang ke X Mansion untuk menyerangnya. Ketika Sakura melihatnya, ia tahu kalau Itachi bukanlah orang jahat. Lalu saat Itachi menjemput Sakura dan membawanya ke markas Akatsuki untuk menjadikannya anggota yang baru. Kemudian bagaimana Sakura dan Itachi membuat kesepakatan untuk rencana mereka berdua. Ketika Itachi menceritakan semua kebenarannya pada Sakura dan ketika Itachi dan Sakura bertengkar tentang keputusan Itachi untuk mati di tangan Sasuke sendiri.

"T-tidak." Bantahnya.

Tapi tidak berhenti sampai situ. Sasuke bisa melihat Sakura yang berusaha tergar dan bisa merasakan bagaimana kesedihan yang ia rasakan. Sasuke bisa melihat bagaimana selama ini perlakuan Itachi yang begitu baik kepada Sakura. Sasuke sempat berpikir bahwa ada suatu hubungan istimewa antara Sakura dan Itachi, dan ternyata hubungan itu memang sangat istimewa. Sakura menganggap Itachi sebagai seorang kakak dan pelindung disaat ia menyamar sebagai anggota Akatsuki, Sakura menganggap Itachi sebagai penyangganya disaat ia sendirian. Sementara Itachi menganggap Sakura sebagai seorang adik untuk menggantikan dirinya. Untuk menggantikan Sasuke.

Pemuda berjalan dengan lemas menuju tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Meski tubuhnya dipenuhi dengan noda darah dan juga memar wajah Itachi masih sama tampannya seperti saat mereka masih berkumpul bersama dulu. Wajah itu masih tampak berwibawa dan juga masih memancarkan kasih sayang yang sama. Benar apa yang dikatakan Sakura, wajah itu begitu damai. Jika benar apa yang Sakura beritahu padanya, maka dia benar-benar tidak pantas untuk dimaafkan. Jika benar itu adanya, maka ia manusia paling bodoh yang tidak bisa melihat pengorbanan Itachi.

"Kakak..."


Sakura keluar dari bunker itu dan alangkah terkejutnya ketika ia mendapati anggota Akatsuki yang lain sudah berada disana. Puluhan atau mungkin ratusan Zetsu putih sedang mengepung mereka seperti sebuah pasukan pasukan perompak. Sakura tidak tahu apa yang terjadi di luar, namun yang pasti ada rencana Pain yang tidak ia ketahui.

"Ah, Sakura. Bagaimana dengan urusanmu? Apa...Itachi sudah mati?" Terlihat Pain sedang berjalan ke arahnya dengan penuh kemenangan. Sakura tidak tahu bagaimana Pain tahu soal itu. Iapun mencoba untuk masuk kedalam pikiran Pain, namun entah kenapa seperti ada suatu penghalang yang tidak membiarkannya masuk. Hal ini persis seperti apa yang dilakukan oleh Profesor Sarutobi. Sakura tidak mengerti, ini belum pernah terjadi sebelumnya.

"Tak usah repot-repot Sakura."

Bagaimana bisa Pain tahu kalau Itachi telah mati?

"Kau penasaran Sakura? Seharusnya akulah yang penasaran dengan apa yang kau lakukan. Bagaimana kau bisa menyembunyikan sesuatu yang begitu besar didepan batang hidungku sendiri?"

Sementara itu yang lainnya memperhatikan pemandangan yang begitu langka dihadapan mereka. Dua orang anggota Akatsuki terkuat sedang bersitegang saat ini. Namun diantara mereka yang paling tegang saat ini adalah Naruto. Entah bagaimana Naruto bisa tahu kalau saat ini keadaan Sakura sedang sangat terjepit. Ia tahu kalau Pain mengetahui semua rencana Sakura.

"Tentang Itachi, aku sudah tahu bahkan ketika ia belum masuk Akatsuki. Aku tidak peduli dengan rencananya untuk mati di tangan adiknya, selama dia masih berguna untuk Akatsuki itu tidak masalah. Tapi aku tidak habis pikir kalau bisa-bisanya kau menggunakan kemampuanmu untuk mengelabuhi kami semua dan Itachi membantumu."

Sakura tidak bisa membalas perkataan Pain, saat ini sedang berpikir keras, setidaknya ia harus melakukan sesuatu untuk mengehentikan Pain. Sakura sangat tidak mengerti kenapa? Tidak ada satupun dari anggota Akatsuki yang bisa ia baca saat ini. Sesuatu berubah saat ia meninggalkan markas.

"Sasori, kurasa aku butuh batuanmu." Ujar Pain tenang.

Belum sempat Sakura menoleh sebuah rantai panjang menerjangnya dan melilit seluruh tubuhnya sampai ia tak bisa bergerak sama sekali. Tubuh Sakura ambruk ke tanah menggeliat seperti ulat.

"Sakura!" Terdengar beberapa pekikan diantara pasukan.

Tak lama kemudian tubuh Sakura yang terlilit rantai milik Sasori terangkat keudara dengan sendirinya. Sakura sudah tidak aneh dengan hal ini. Pain memanglah bukan seorang psikokinesis seperti dirinya, dan dia tidak pernah menunjukkan kemampuannya sebelumnya. Tapi Sakura tahu kalau Pain bisa mengendalikan elemen dan sepertinya dia telah bisa mengembangkan kemampuannya itu.

"Aku sudah menemukan kelemahanmu Omega, dan kelemahanmu adalah ini!" Ujar Pain sembari menujuk lempengan-lempengan besi hitam yang tertanam di sekitar wajahnya.

"Besi hitam ini bisa menghalau gelombang otakmu, dan aku sudah menanamkan besi ini pada masing-masing dari mereka hingga kau tidak akan bisa mengendalikan pikiran kami." Katanya.


Sementara itu pos pengawasan yang berada didekat bendungan sibuk memberikan informasi untuk markas pusat.

"Tuan Presiden, Akatsuki telah menyerang."

"Astaga! Lalu bagaimana lagi keadaan disana?"

"Kami tidak bisa mengetahui dengan jelas, tapi yang kami tahu ada sebuah pertikaian diantara anggota Akatsuki. Pain telah menyerang Sakura Haruno. Sepertinya sebentar lagi Pain akan menyerang kita semua." Ujar sang Kolonel.

"..."

"Tuan Presiden?" Tenten dengan was-was mendengarkan percakapan Kolonel dan Presiden. Perasaannya tidak enak.

"Bagaiamana? Apa yang dia katakan?" Tanya Tenten pada sang Kolonel. Pria tegap itu menggeleng bingung. Kemudian mata Tenten membulat. Dengan segera ia merebut telepon itu dari tangan Kolonel.

"Tuan Presiden! Jangan katakan kalau anda akan menghancurkan tempat ini!" teriak Tenten. Tidak hanya sang Kolonel, tapi semua orang yang berada disana ikut terkejut dengan teriakan Tenten. Untuk saat ini, mereka rasa memang keputusan itulah yang akan diambil Presiden.

"Tuan Presiden!" Teriak Tenten lagi, terdengar suara-suara berisik diseberang sana. Sepertinya mereka semua sedang berdebat dengan keputusan ini.

"Maaf," akhirnya. "ini adalah keputusan terbaik, suatu kehormatan bisa bekerja sama dengan kalian."

"Tidak! Tapi, disini masih banyak orang. Kau tak bisa mengorbankan mereka semua!" Tak ada jawaban.

"Tuan Presiden! Tuan Presiden!"

Tenten membanting telepon itu kuat-kuat hingga sisinya terbelah. Sekarang semua mata tertuju padanya.


Jauh dibawah sana, Sakura yang saat ini sudah diambang kehancuran tahu kalau Presiden akan menghancurkan tempat ini. Kemungkinan terbesar mereka akan mengirimkan rudal dari Sunagakure. Jika Akatsuki tidak bisa diberantas, maka mereka tidak akan segan-segan untuk menghancurkan seluruh Konoha sekalipun. Terlihat wajah para pasukan sudah menegang luar biasa, begitu juga dengan para X Men. Sepertinya berita penghancuran itu sudah sampai ke telinga mereka.

Lalu tak lama kemudian Zetsu muncul di sebelah Pain dan membisikan sesuatu ditelinganya.

"Ouh.."Kata Pain. " Jadi Presiden akan menghancurkan tempat ini? Dasar bodoh? Apa dia pikir kita akan mati dengan cara itu. Kalau begitu akan kupercepat kematian kalian!" Teriak Pain.

Seketika tanah yang mereka injak berhamburan meledak-ledak seperti sebuah tanah longsor dan menimpa para pasukan dan Brotherhood yang tersisa. Batuan-batuan yang berada di tanah terangkat dan menghantam mereka semua. Sakura bisa mendengar suara teriakan Ino yang sangat keras. Ia mengintip dari sudut matanya dan bisa melihat kalau teman-temannya sedang berusaha untuk menghindari serang-serang itu. Terihat juga Ino yang kakinya terjepit sebuah batu besar. Lee, Neji, dan yang lainnya sedang berusaha membantu Ino.

Sedangkan Hidan tertawa terbahak-bahak seolah ia sedang menonton sirkus. Begitu juga dengan Deidara yang terlihat sangat puas.

Tidak boleh! Tidak bisa seperti ini!

'Naruto, kau bisa mendengarku.'

Naruto berhenti dari kegiatannya dan diam sejenak.

'Naruto, kau harus bisa membawa semua orang pergi dari sini. Yamato harus bisa menggunakan kemampuan teleportasinya untuk membawa pergi orang sebanyak mungkin."

'Sakura? Tapi tidak mungkin, terlalu banyak orang.'

'Kakashi bisa meniru Yamato dan Sai bisa membawa mereka juga. Lakukan apapun untuk pergi darisini. Aku percaya kalian bisa.'

'Lalu bagaimana denganmu?' Tanya Naruto.

'Aku akan baik-baik saja!'

'Baiklah!'

Naruto yang langsung menangkap maksud dari Sakura langsung memberitahu semuanya. Kakashi meniru kemampuan teleportasi milik Yamato dan mereka berdua bergegas membawa orang-orang pergi darisana. Sai membuat seekor burung raksasa dan juga mengangkut orang-orang sebanyak mungkin. Sedangkan Chouji memperbesar tubuhnya dan memakai punggungnya sebagai tameng dari serangan Pain.

"Ahh...Kerja sama tim ya?" Ujar Pain, namun kemudian serangan itu semakin besar selain itu diikuti oleh ledakan-ledakan keras dari bom milik Deidara. Jeritan-jeritan itu semakin kencang.

Sakura tidak tahan, dia benar-benar tidak tahan.

"BERHENTI! PAIN BERHENTI!" Sakura berteriak sekuat tenaga sampai suaranya serak. Namun Pain sama sekali tak mendengarkannya.

"NAGATO!"

Sang Pain terkejut, ia menolehkan kepalanya pada Sakura.

"Kenapa? Apa kau lupa pada namamu sendiri?" tanya Sakura. Sedangkan Pain melihat Sakura dengan tatapan yang aneh. Perlahan serangan-serangan Pain melemah.

"Nagato? Apa tujuanmu menciptakan Akatsuki? Untuk perdamaian dunia bukan? Apa perdamaian seperti ini yang kau inginkan?" tanya Sakura.

"Aku akan menciptakan keadilan dengan cara apapun juga." Balas Pain.

"Keadilan seperti apa yang kau inginkan? Tak ada yang menginginkan keadilan yang seperti ini."

'Kau tidak mengerti, Sakura.'

'Ada luka? Iya kan?' Pain tersentak kaget bagaimana bisa dia menembus pikirannya?

'Bagian mana yang tidak kumengerti Nagato?Mereka juga membunuh orang tuaku sama seperti mereka membunuh orang tuamu. Mereka juga merenggut hidupku sama seperti mereka merenggut hidupmu. Aku tahu rasanya. Hanya pandangan kita saja yang berbeda tentang perdamaian. Siapa yang akan bahagia dengan perdamaianmu?'

Pain sama sekali tak berkata apapun.

'Aku juga mempunyai luka, tapi aku menutupnya Pain. Bekasnya memang ada tapi itu sudah tidak sakit. Tapi kau membiarkan lukamu terbuka. Apa karena kematiannya?Kematian sahabatmu...Yahiko?'

Kedua mata Pain membulat.

'Bagaimana?'

'Aku tahu sejak pertama kali melihatmu. Aku selalu membaca setiap orang yang baru pertama kali ku temui. Kalau tidak bagaimana aku bisa sampai sejauh ini?'

'Mereka membunuh Yahiko dan menghancurkan mimpinya.' Kedua mata hitam itu menajam.

'Tidak, bukan mereka yang membunuh Yahiko. Tapi dia mengorbankan nyawanya untuk melindungi kalian, untuk melindungi impian kalian. Untuk melindungi impian Akatsuki yang sebenarnya. Sama seperti yang Itachi lakukan saat ia membantai seluruh keluarganya. Tidakkah kau mengerti itu Pain?'

Pria itu terdiam sejenak, namun ia kemudian ia menegadah.

"Mungkin aku akan mengerti..." ujarnya lemah "...mungkin jika kita semua sudah mati!"

Lalu terjadi ledakkan besar. Tanah dan debu berhamburan keudara bahkan ledakan ini lebih besar dari ledakan yang diciptakan Deidara.

"TIDAK!"

Otomatis para X Men yang sedang melakukan penyelamatan ikut terpental dan beberapa diantara mereka terluka parah. Lalu Pain mengangkat kedua tangannya seketika itu tubuh Kakashi, Naruto, Sai, Yamato, Shikamaru, dan yang lainnya berhenti bergerak. Tubuh mereka terperangkap oleh tanah yang membelenggu tangan dan kaki mereka. Sementara itu, rudal telah diluncurkan dari menara tertinggi Sunagakure dan mereka hanya memiliki waktu 16 menit sebelum rudal itu sampai dan meluluhlantakan Konoha.

Yamato berusaha melepaskan tubuhnya dari tanah itu, ia mencoba untuk berteleportasi namun hasilnya nihil. Tak ada yang terjadi. Chouji juga berusaha untuk membesarkan bagian tubuhnya namun tanah yang membelenggu tubuhnya begitu kokoh hingga tak bisa bergeser barang sedikit. Untunglah sudah sebagian besar pasukan mereka bawa pergi darisana.

Kakashi sudah tertunduk ditempatnya, ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Tak ada ekspresi apapun di wajah Pain, dan sepertinya anggota Akatsuki yang lainnya juga sudah menunggu dengan tidak sabar. Sang pemimpin Akaktsuki itu mengangkat kedua tangannya bersiap untuk mengeksekusi para X Men yang menjadi penghalan tujuannya selama ini.

'Tidak!'

'Selamat tinggal.'

"TIDAK!"

BRUAGH! BLARRRR!

Sebuah ledakan besar entah darimana datangnya. Semua orang tanpa terkecuali terhuyung membuat mereka bertahan untuk tidak terlempar, semua belenggu tanah yang menahan tubuh para X Men hancur. Sisa-sisa ledakan dan puing-puing bahkan pohon yang tidak bersalah berserakan terhempas jauh sekali sehingga kini medan perang yang semula berantakan tampak seperti sebuah lapangan bola yang sangat luas. Terlihat Sasuke keluar dari markas dengan wajah yang sangat berantakan. Namun tak menyembunyikan sedikitpun ekspresi keterkejutannya melihat keadaan yang sudah berubah total.

"Sakura?" gumam Sasuke melihat pemandangan didepannya.

Sakura melayang beberapa meter diudara masih dengan rantai yang melilit tubuhnya. Namun pandangannya kosong dan matanya berkilat tajam keemasan.

"SAKURAAA!" teriak Naruto berusaha menyadarkannya. Tapi tidak terjadi apapun. Mereka semua tahu. Inilah salah satu kemungkinan paling buruk. Dia bukanlah Sakura. Dia adalah Phoenix yang siap mengamuk.

Kesadaran Sakura sudah sampai batasnya.

AARRRGGGHHHHHHHH!

Lengkingan panjang membelah langit Konoha malam itu. Angin bertiup kencang secara tiba-tiba dan cahaya bulan menghilang tertutup awan hitam yang bergerak karena pergerakan angin yang sangat cepat.

13.04—13.03—13.02...

Waktu mereka semakin sempit, dan rudal semakin mendekat.

"SAKURAA!"

"Naruto! Kau bisa mati jika kesana!" Teriak Kakashi.

"Kita tidak mungkin meninggalkan Sakura!"

"Kau harus ingat, Akatsuki masih ada disini."

"Aku tidak bisa meninggalkannya."

09.36—09.35—09.34...

Pain mengerahkan seluruh kekuatanya untuk menahan Sakura. Ia membuat sebuah belenggu tinggi dati tanah untuk memasung tubuh Sakura dibantu dengan yang lain, Sasori mengikatkan rantainya pada belenggu itu. Sebelum belenggunya menutup Deidara melemparkan tanah liat bomnya kedalam. Tepat ketika belenggu itu menutup sebuah ledakan teredam terdengar dari dalam. Membuat Naruto dan yang lainnya berteriak kencang sekali.

Namun tak lama kemudian belenggu dari tanah itu meledak dan menampakkan sosok Sakura yang masih tegak berdiri. Sekuruh tubuhnya hampir terbakar dan ia hampir telanjang karena bajunya yang terbakar akibat dari ledakan yang terjadi. Tapi perlahan semua luka ditubuhnya menutup dengan cepat mengembalikannya seperti sediakala.

"ARGGHH!"

Tak lama kemudian satu-persatu dari anggota Akatsuki saling berteriak memegangi kepalanya. Teriakan mereka begitu memilukan seperti orang yang sedang disiksa. Namun teriakan itu tak berlangsung lama beberapa detik kemudian teriakan itu hilang dan semua anggota Akatsuki mulai berjatuhan ketanah. Mereka semua mati dan menyisakan Pain sendirian. Pain sendiri tidak melakukan apapun. Ia hanya membalas pandangan sakura yang juga menatapnya.

"Haruno Sakura." Panggil Pain sangat pelan.

'Selamatkan aku...Haruno Sakura.'

Dialam bawah sadarnya Pain melihat sosok Sakura sedang berjalan sambil tersenyum kearahnya. Perlahan tangannya terulur untuk membantu Pain, dan ketika jemari Pain menyentuh jari Sakura. Ia kembali kekesadarannya. Pain bisa merasakan darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Lalu Ia merasakan sakit yang teramat sangat dikepalanya.

"ARRGGHHH!"

Pain berteriak, dan tak lama kemudian Pain terjatuh. Ia mati.

"SAKURA! SADARLAH!" Teriak Naruto.

Sedangkan Sakura yang masih dalam kendali Phoenix berjalan perlahan menuju mayat Pain. Sisa-sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya berkibar diterpa angin. Semakin ia mendekati tubuh Pain mayat-mayat yang ia lewati tiba-tiba hancur begitu saja seperti abu. Perlahan mayat dari para anggota Akatsuki juga berterbangan seperti debu yang ditiup ke udara. Tepat ketika ia berdiri dihadapan Pain, tubuh Pain hancur tak berbekas melayang keudara.

"Aku tidak bisa meninggalkannya!"

"Naruto, kau bisa mati!" Teriak Kakashi.

"Aku tidak peduli!" Tangannya tergelincir dari tangan Kakashi dan dengan segera Naruto berlari kearah Sakura.

"NARUTO!"

Berbarengan dengan itu Sasuke yang sudah sadar dengan semuanya juga ikut berlari bersama Naruto. Sasuke bukannya tidak melihat nanar Naruto yang seakan berkata 'Baru sadar,eh?', dan dia juga bukannya tidak melihat Naruto yang sedang menahan tangisnya. Saat ini mereka memang tak saling bicara tapi kini mereka memiliki tujuan yang sama yaitu, untuk menyelamatkan Sakura.

Mereka sudah hampir mencapai Sakura namun ketika mereka berlari lebih jauh, tubuh mereka merasakan sakit yang sangat luar biasa. Perlahan-lahan tubuh mereka mulai terluka. Dengan segera Sasuke menahan Naruto untuk bergerak lebih jauh. Hal ini sama persis seperti kejadian ketika malam Profesor Sarutobi meninggal. Sakura tak membiarkan siapapun mendekatinya. Maka Sasukepun mengaktifkan pelindungnya, ia dan Naruto terus mendekati Sakura dari balik pelindung milik Sasuke.

KRRAAKKK!

Sautu hal yang tidak terduga, sebuah retakan besar muncul dari dinding bendungan. Sebuah pancuran air yang luar biasa besar mulai menembus dinding dan membuat banjir dimana-mana.

KRRAAKKK!

Retakan lain kini muncul namun kali ini berasal dari pelindung milik Sasuke. Bahkan pelindung milik Sasukepun hampir tidak mampu menahan kekuatan Sakura.

"SAKURA! SADARLAH!" Teriak Naruto. Mereka hampir mencapai Sakura.

'Apa sampai disini Sakura? Setelah kau memberitahuku semuanya, kau akan pergi begitu saja?'

Kedua pemuda itu terus berusaha untuk menyadarkan Sakura dengan cara mereka sendiri, sampai akhirnya mereka mencapai tubuh Sakura. Begitu pelindung milik Sasuke menyentuh bagian tubuh Sakura, gadis itu ambruk ke tanah. Dengan cekatan kedua pemuda itu menangkap tubuh sang gadis. Meski begitu angin yang bertiup kencang dan juga retakan-retakan di sekitar bendungan belum berhenti.

Pelahan-lahan kilatan di mata Sakura menghilang menampakan kedua iris mata Sakura yang sewarna daun di musim semi namun mata itu kembali menghitam. Sakura sedang mati-matian melawan dirinya sendiri. Ia sedang berusaha meraih kesadaranya, tapi Phoenix dalam dirinya juga tidak mau kalah. Kini ia berada di pangkuan Sasuke dan Naruto. Kedua pemudanya.

"Sakura? Apa kau mendengarku? Sadarlah Sakura, aku mohon." Pinta Naruto.

"Naruto...?" Sakura menoleh.

"Sasuke...?"

Kedua iris mata itu masih berubah-rubah tak beraturan berusaha untuk memperebutkan kesadaran Saskura.

'Selamatkan aku...'

ARRGGHHH!

Sakura meronta kesakitan dalam pangkuan mereka berdua. Angin disekeliling mereka semakin kencang dan retakan di bendungan semakin besar, dalam hitungan detik mereka akan tenggelam.

"LAKUKAN SESUATU SASUKE!" jerit Naruto.

Saat ini pikiran Sasuke melayang ke hari dimana untuk pertama kalinya ia memeluk Sakura. Saat itu Sakura meminta Sasuke untuk menyelamatkanya, walaupun harus membunuhnya.

'Berjanjilah untuk menyelamatkanku jika itu terjadi...sekalipun harus mengambil nyawaku.'

'Apa hal ini yang kau maksud? Apa sekarang?'—batin Sasuke.

Sasuke menolehkan kepalanya pada Naruto, meminta sebuah jawaban. Awalnya Naruto tidak mengerti, kemudian kedua mata itu tampak kaget. Mulutnya terbuka berusaha untuk menolak keputusan Sasuke. Tapi ia sendiri tahu kalau tak ada pilihan lagi selain...membunuh Sakura.

Naruto memalingkan wajahnya, ia tidak mau melihat apapun itu yang akan Sasuke lakukan pada Sakura. Tak lama kemudian sebuah listrik bertegangan tinggi muncul di tangan Sasuke. Mata onyx-nya sangat enggan, namun tangan itu bergerak cepat menembus dada kiri Sakura. Tepat dijantungnya.

Masih ada beberapa detakan lemah saat Sasuke dan Naruto melihat mulut Sakura sudah dipenuhi darah itu tersenyum damai.

Naruto dan Sasuke merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh bahu mereka dan sedetik kemudian mereka menghilang dari sana.

'Terima kasih.'


A/N : This is Very Loooooong chapter... Maaf karena lama ga update. Urusan masuk universitas bikin penat..ampun deh. Yah, this is the last. Sangat banyak kesalahan dan juga kekurangan di fic ini. Tapi guys saya sangat suka sama fict ini. Thaks a lot untuk semua apresiasinya dan saya juga masih harus banyak belajar. Next is Epilogue. Saya sengaja update dua chapter sekaligus. Jadi terima kasih sudah menemani perjalanan saya. :) Salam Author