.

.

.

FIVE'S LOVE STORY

Genre : Romance, Drama, Friendship

Pair : NaruHina, SasuSaku, SaiIno, ShikaTema, NejiTen

.

.

Izanagi Isao = Uzumaki Naruto

Hitoshi Isamu = Uchiha Sasuke

Aoyama Sato = Sai

Fujiwara Tatsuya = Nara Shikamaru

Ishihara Yujiro = Hyuga Neji

.

.

Maaf FF ini menunjukan ke OOC'an karakter mereka sebenarnya. FF ini bukan FF barru, FF yang aku tulis selama beberapa tahun yang lalu dan alhamdulilah FF ini sudah tamat di Laptop. Insyallah FF ini tidak gantung.

.

TANGGAL LAHIR PARA MEMBER BUKAN TANGGAL LAHIR ASLI

.

HAPPY READING

.

"Aneh sekali, untuk apa Tenten menyuruhku malam-malam datang ke taman yang sepi seperti ini," ucap Neji, ia menghela nafas panjang mencoba meringankan beban yang ada dipundaknya. "Mana cuacanya dingin," gerutunya.

Neji berdiri di tengah-tengah taman. Dari kejauhan, ia melihat cahaya terang di bagian timur taman. Di sana terdapat banyak orang. Jepretan sinar kamera begitu mencolok mata, "Sepertinya ada pemotetan disini," batin Neji. Karena penasaran, Neji berjalan menuju sumber cahaya. "Ah, ternyata benar ada pemotretan," batin Neji. Sembari menunggu Tenten, dia duduk disebuah bangku panjang yang lokasinya tepat di depan tempat pemotretan. Dengan seksama, Neji memperhatikan pemotretan itu. Matanya yang setengah mengantuk mendadak terbuka kembali melihat Model pemotretan yang begitu cantik. Tiba-tiba model itu melambaikan tangannya. Neji merasa tak yakin gadis itu melambaikan tangan padanya, dia tidak yakin namun disana tidak ada orang selain dia.

"Aku… ," kata Neji sambil menunjuk dirinya sendiri. Model itu mengangguk. Neji berjalan mendekat dengan perasaan ragu. Ia terkejut, ternyata model cantik itu adalah Tenten. "Tenten ternyata kau ini model?"

"Iya, bisa dibilang begitu. Paman kemari!" Tenten memanggil seorang laki-laki setengah baya. "Paman, ini model yang aku ceritakan tadi namanya Ishihara Yujiro."

"Ternyata pilihanmu hebat juga Tenten, dia tampan berbadan bagus dan tinggi. Baiklah kalau begitu suruh dia ganti baju," ucap Paman itu enteng.

"Hai, Tenten apa maksudnya ini? Paman aku tidak mau."

"Yujiro, sudah terima saja tawaranku," rayu Tenten tanpa rasa bersalah.

"Aku tidak mau titik."

"Kau benar-benar tidak mau. Ya sudah kalau begitu, padahal aku membayarmu lumayan mahal," Paman itu berusaha membujuk Neji dengan segepok uang.

"Paman itu membayarku mahal. Bagaimana ini? tapi lumayan juga bisa menambah uang untuk pulang ke Tokyo. Baiklah aku menerimanya," gumam Neji.

"Baiklah Paman, aku mau. "

Tenten kegirangan karena Yujiro bersedia. Tema kali ini adalah pernikahan. Tenten dan Neji memakai gaun dan jas berwarna putih. Mereka terlihat begitu serasi. Karena ini bertema pernikahan, maka keduanya harus berfoto mesra. Terkadang Neji memeluk Tenten baik dari belakang maupun samping bahkan ada adegan Neji mencium pipi Tenten begitu juga sebaliknya. Tapi jauh dari lubuk hatinya, Neji juga merasa sangat bahagia karena bisa memeluk Tenten seperti ini. Tenten juga sangat bahagia karena dipeluk oleh orang yang dia sukai. Tak terasa Jam pun berlalu, pemotretan pun berakhir.

"Yujiro, terimakasih kau mau jadi partnerku hari ini."

"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, karena kau aku mendapat banyak uang."

"Yujiro, apa kau sudah makan? Ayo kita pergi makan."

"Sudah malam Tenten, lagipula cuaca begitu dingin, nanti kau sakit . Ayo pulang,," Neji tersenyum pada Tenten dan mengacak-ngacak rambut gadis itu. Pria berambut hitam itu berjalan meninggalkan Tenten. Gadis itu Tenten merasa ini adalah hari terindah yang pernah dia rasakan.

"Yujiro…tunggu…!" Neji berhenti. Tenten berlari ke arah Neji dan memeluknya dari belakang. "Yujiro, aku sangat bahagia sekali bisa bertemu denganmu. Selama satu bulan ini kau menemani hari-hariku baik aku senang maupun sedih. Aku ingin sekali kau menemaniku seperti ini selamanya."

Neji merasa melayang mendengar ucapan lisan Tenten. "Tenten, aku juga ingin selalu bersamamu sampai kapan pun tapi sekarang itu tidak mungkin. Karena kami harus pulang," ucap Neji dalam hati. Namun tak ada tanggapan dari Neji "Kenapa diam aja?"

"Iya, aku akan menemanimu kalau aku punya banyak waktu," jawab Neji.

"Arigatou, aku bahagia mendengarnya." Neji tersenyum dan memegang tangan Tenten yang melingkar di perutnya.

ooOOoo

Hinata masih membuka mata di malam buta seperti ini. Dia tampak gelisah. Sering kali dia merubah posisi tidurnya, agar dia bisa tidur nyenyak namun semuanya percuma. Dia masih terjaga. Hinata tidak bisa tidur karena dia selalu mengingat kejadian di lapangan ice skeating bersama Naruto. Perasaan Aneh, bahagi, dan nyeri di dada, adalah perasaan yang pertama kali ia rasakan. "Tuhan, apa aku mencintainya, aku tidak bisa berhenti memandangnya dan selalu memikirkannya setiap waktu. Apa Naruto merasakan apa yang aku rasakan sekarang? batin Hinata. Sudah tiga jam lebih ia berbaring namun matanya masih tak mau terpejam. Hinata memutuskan mencari udara di luar rumah karena di dalam kamar begitu panas. Hinata duduk termenung di teras rumah dan melihat pemandangan di sekitar rumah. Tak lama kemudian dari jauh terdengar suara derapan kaki. Ternyata itu suara langkah kaki Neji yang menghampirinya.

"Hinata kau belum tidur?" tanya Neji ramah. Hinata hanya menggangguk dan tersenyum. "Aku dengar kemarin kau menggigil kedinginan?"

"Dari mana kau tahu?" tanya Hinata kaget.

"Naruto yang memberitahuku, dia khawatir sekali padamu".

"Benarkah?" Tanya balik Hinata dengan perasaan gembira.

"Kau ini kenapa senyum-senyum sendiri? apa yang sudah terjadi antara kau dan Naruto?"

"Apa? Tidak terjadi apa-apa antara aku dan Naruto," ucap Hinata tersipu malu.

"Ternyata kalian disini," ucap seseorang.

Sai, Shikamaru, dan Sasuke ikut bercengkrama di teras. Mereka hanya duduk bersama tanpa mengatakan apapun tapi Hinata kembali mengingat hal yang terjadi antara dia dan Naruto. Hinata juga tahu, jika Neji dan lainnya pergi berkencan dengan gadis yang mereka cintai.

"Kalau boleh tahu, bagaimana kencan kalian?" tanya Hinata penasaran.

"Great, " kata Sasuke

"Amazing," ucap Neji

"Wonderful," sahut Shikamaru

"Cool," gumam Sai.

"Apa kalian sudah mengungkapkan perasaan kalian?" sekali lagi Hinata bertanya dan mengorek informasi. Rasa penasarannya begitu besar.

"Sebenarnya aku ingin sekali mengatakannya, tapi keadaan yang memaksa kita untuk tidak mengatakannya," ungkap Sai yang terlihat sangat sedih.

"Benar, karena kita selamanya tidak akan berada di sini, dan kita harus cepat pulang," timpal Sasuke dengan ekspresi datar tapi menyakitkan bagi yang melihat.

"Kita hanya tidak ingin mereka menunggu kami yang tidak jelas kapan bisa kesini lagi," Sekarang Neji mengeluarkan pendapatnya. Wajahnya juga tampak sedih seperti yang lain.

"Iya benar Hinata, lebih baik kita memendamnya dalam hati. Kita tidak ingin mereka terluka karena kita tidak bisa menemani mereka setiap saat karena kita berada di Tokyo, benarkan?" ucap Shikamaru.

Mereka semua mengangguk. Yang di katakan Shikamaru benar. Hinata teringat mereka tidak akan lama disini. Ia lagi-lagi teringat wajah Naruto yang tampan. Tuhan kalau mereka pulang dan tidak ada di sini lagi. Apakah aku bisa melihatnya lagi? Bisa berbicara dengannya, bisa mendengar tawanya yang khas. Aku benar-benar tidak ingin dia pergi. Tanpa sadar Hinata meneteskan air mata. Karena tidak ingin semua tahu, ia buru-buru mengusap air matanya. Suasana terlihat suram dan begitu gelap. Pandangan Hinata terpaku pada bola basket yang sudah usang dan kempes. Dia masih ingat, dulu bola itu sering ia gunakan untuk bermain basket dengan Sakura. Berbicara tentang Sakura, Hinata teringat janjinya kepada Sakura untuk menginap di rumahnya malam ini.

"Wuah, gawat aku memliki janji dengan Sakura menginap dirumahnya malam ini."

"Kau mau pergi sekarang?" tanya Naruto tiba-tiba. Entah darimana pria berambut pirang itu datang. Keberadaan Naruto membuat jantungnya berdetak abnormal.

"Iya, aku yakin Sakura marah padaku." Hinata berlari kedalam rumah dan mulai bersiap-siap. Walaupun cuaca dingin, Hinata keluar hanya mengenakan baju panjang. Dia tergesa-gesa, sampai-sampai ia tidak peduli dengan kesehatannya sendiri. Ia lupa bahwa tubuhnya tidak kebal dengan cuaca dingin. Saat Hinata mendekati pintu, tiba-tiba pria tampan bermata safir itu kembali memanggilnya.

"Hinata pakai jaket dulu," saran Naruto sembari melepas jaketnya untuk Hinata.

"Tidak usah Naruto, aku akan baik-baik aja," kata Hinata yang sibuk menali sepatunya.

"Tapi di luar dingin Hinata."

"Tidak usah, Sakura pasti sudah menungguku lama".

"HEI! HINATA, AKU BILANG PAKAI JAKETMU," bentak Naruto dengan suara keras.

Hinata dan lainnya terkejut mendengar teriakan Naruto seperti ini dan baru pertama kali ini Hinata melihat Naruto marah. Suara Naruto begitu keras sehingga Sasuke, Neji, Sai dan Shikamaru yang berada disamping rumah berjalan menuju ke arah mereka.

"Kalau kau kedinginan di jalan bagaimana? siapa yang akan menolongmu kalau aku tidak ada disana. Apa kau mau mati kedinginan? Tolong Hinata jangan buat aku khawatir." Hinata terdiam, ia tidak bisa bicara apapun. Neji dan kawan-kawan juga terkejut melihat hal ini. Hinata mengangguk pelan dan mengambil jaket dari tangan Naruto secara perlahan lalu kemudian memakainya. Tatapan Naruto begitu tajam kepadanya. Gadis bermata lavender itu menelan ludah. Tatapan itu terasa menusuk hatinya.

"Teman-teman aku pergi dulu, bye," katanya pelan karena shock.

ooOOoo

Malam hari yang begitu gelap dan dingin, Hinata terpaku melihat sebuah film romantis di rumah Sakura. Mereka berdua terlihat begitu asyik melihat film romantis ini. Mereka menonton film sambil memakan popcorn. Ada sebuah adengan sang pria memeluk si gadis di saat gadis pujaannya kedinginan. Sontak hal ini membuat Hinata teringat kembali dengan kejdian kemarin malam. "Hah, knapa aku terus memikirkan Naruto."

"Hinata, film ini romantis sekali, ya," puji Sakura.

"Iya, sangat romantis," ujar Hinata menimpali. Pikiran Hinata lagi-lagi mengingat pria berambut pirang itu, Ia heran kenapa Naruto begitu marah padanya hanya karena dia tidak mau memakai jaket. Sebenarnya perasaannya padaku seperti apa? "Sakura, aku ingin bertanya sesuatu padamu?"

"Tanya saja," jawab Sakura.

"Ada seorang gadis yang akan pegi ke rumah temannya. Saat berangkat, dia tidak memakai jaket. Tiba-tiba ada seorang pria marah-marah pada sang gadis. Pria itu berkata, Jangan buat aku khawatir lagi. Menurutmu kenapa pria itu begitu marah?"

"Maksudmu Isao?" ucap Sakura enteng, matanya terus terpaku melihat layar televisi.

"Eeh, bagaimana kau bisa tahu?"

"Isamu banyak cerita tentang kau dan Isao. Tapi aku rasa Isao menyukaimu. Aku yakin."

Mendengar ucapan Sakura, Hinata berpikir, apa benar Naruto menyukaiknya. terkadang sifatnya acuh padanya, kadang juga begitu peduli padanya.

"Oh, begitu. Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Isamu?"

"Aku tidak tahu, yang jelas aku menyukainya. Tapi, aku akan menunggunya untuk mengatakan perasaanya padaku. Aku akan selalu menunggunya mengatakan hal itu," ucap Sakura.

Hinata tidak tega memberitahu Sakura bahwa sampai kapanpun Sasuke tidak akan mengatakan cinta padanya karena dia tidak ingin suatu saat Sakura terluka karena dirinya.

ooOOoo

Mentari bersinar cerah dibalik sang fajar. Pagi ini Hinata membantu Sakura membersihkan rumah. Gadis imut itu membersihkan perabotan baik lemari, guci, dan segala benda yang terbuat dari keramik. Hinata juga menata buku-buku yang ada di atas meja. Banyak majalah yang berserakan, karena lelah Hinata memutuskan untuk istirahat sejenak sembari membaca majalah terbaru. Hinata membalik Halaman per halaman majalah. Matanya terpaku pada sebuah halaman. Disana terpampang foto lima pria tampan yang wajahnya mirip sekali dengan lima pria yang ada di rumahnya. Hinata menemukan kata "FoxNine" disana.

"FoxNine, sepertinya aku pernah mendengarnya." Hinata berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah mendengarnya. "Ah, aku ingat, Paman di Pom pernah bilang kalau Sasuke dan Naruto itu mirip dengan member FoxNine. Ah itu tidak mungkin."

Hinata membaca artikel itu lagi, disana tertera biodata masing-masing member. Gadis berambut panjang hitam pekat itu tampak semakin shock dan tercengang ketika membaca nama tiap-tiap membernya. Naruto, Sai, Sasuke, Neji dan Shikamaru. Ternyata mereka itu artis. Hinata mengerti kenapa mereka harus memakai nama samaran Isao, Isamu, Sato, Tatsuya dan Yujiro. Ternyata alasan mereka ini, menyamarkan identitas asli mereka dengan cara merubah nama. Mereka mencari uang agar bisa pulang ke. Tidak bisa di percaya.

"Hei, kenapa kau melamun Hinata?" Sakura melihat majalah yang dibaca oleh Sahabatnya. "Oh, ternyata kau juga menyukai FoxNine. Ah lihatlah, Isamu mirip sekali dengan Sasuke. Bagai pinang di belah dua," gumam Sakura.

"Bagai pinang di belah lima," ucap Hinata pelan.

"Apa katamu tadi?" tanya Sakura

"Sakura, apa aku boleh meminjam majalahmu sebentar?"

"Tentu saja."

"Wuaa, terima kasih." Hinata mencubit pipi Sakura dan pergi begitu saja.

"Hinata kau mau pergi kemana?"

"Aku harus pulang, ada urusan penting."

Hinata berlari secepat mungkin, ia ingin meminta penjelasan dari mereka. Apa benar mereka artis? Selain menyamarkan nama mereka, Hinata juga tahu kenapa Neji, Sai, Shikamaru dan Sasuke tidak bisa menyatakan cinta mereka kepada gadis yang mereka cintai. Alasannya karena mereka harus kembali menjadi FoxNine bukan Tatsuya dan Sato yang bekerja pengantar Susu, bukan Yujiro tukang loper koran, bukan juga Isamu dan Isao yang menjadi pegawai POM. Tapi mereka harus kembali menjadi Neji - Ichibi, Shikamaru – Nibi, Sai – Sanbi, Sasuke – Yonbi, dan Naruto – Kyuubi. Hinata terus berlari, dia tak ingin cepat pulang dan meyakinkan dugaannya. Braaak, pintu rumah terbuka keras.

"Hinata kau sudah pulang. Pagi sekali," ucap Shikamaru. Hinata tidak menghiraukan pria berambut nyentrik itu. Dia langsung menuju dapur dan mengambil segelas air penuh.

"Hinata, kau kenapa? Di kejar hantu?" Neji heran melihat Hinata yang ngos-ngosan. Sasuke, Sai dan Naruto bingung juga diliputi perasaan bingung.

"Hinata, kau tidak apa-apa?" Hinata mengangguk cepat.

"Ka…kalian…ini…," ucap Hinata terbata-bata.

"Hinata duduklah dulu baru bicara," saran Sai.

Hinata dan lima makhluk tampan duduk melingkar mengitari meja berbentuk bundar mengkilat. Hinata membuka majalah. Mata lavendernya bergantian antara melihat majalah dan melihat wajah mereka. Namun Hinata masih tidak yakin apakah benar itu mereka? Lima pria tampan itu makin bingung melihat tingkah Hinata yang aneh.

"Sai, kau lahir tanggal berapa?" tanya Hinata penasaran.

"08 April 1990," ucap Sai. Pikiran Hinata semakin tak karuan ketika ia mengetahui tanggal lahir Sai sama dengan tanggal lahir orang yang mirip dengan pria ini.

"Kalau Neji ?"

"14 desember 1989," ucap Sai santai.

"Aku, 18 Juli 1994," jawab Shikamaru.

"Kalau aku 09 desember 1991," ujar Sasuke.

"Aku 23 september 1991," ucap Naruto.

"Apa?! Tidak bias dipercaya?!"

Kata Hinata sambil meletakkan Majalah di atas meja tanpa tenaga. Ternyata mereka adalah artis. Mereka benar-benar FoxNine. Neji dan yang lainnya penasaran dan mengambil majalah yang tergeletak di meja. Beberapa detik kemudian mereka tertawa keras.

"Ahahaha, ternyata kau sudah tahu siapa kami," selidik Naruto.

"Kenapa kalian tidak memberitahuku?" protes Hinata.

"Untuk apa kami memberitahumu, biar kau tahu sendiri," sahut Neji.

"Syukurlah kau sudah tahu siapa kami sebenarnya? tapi Hinat,a tolong jangan kasih tahu siapa-siapa, oke," ucap Neji mewanti-wanti. Hinata mengangguk cepat.

"Akhirnya kau tahu siapa kami di saat terakhir kami disini," oceh Sasuke dengan ekspresi sedih.

"Saat terakhir, maksudnya apa?" tanya Hinata bingung.

"Kami memutuskan untuk pulang besok pagi, karena uang kami sudah cukup untuk pulang. Kita masih punya banyak pekerjaan yang harus kami lakukan. Banyak juga kontrak yang kami harus tanda tangani."

Mendengar penjelasan seperti itu, bagaikan petir di siang hari. Mereka besok akan pulang. Hinata akan kesepian lagi, bekerja sendiri seperti dulu. Dan yang membuatnya sakit adalah dia tidak bisa bertemu lagi dengan Naruto. Hinata tak yakin apa dia bisa hidup tanpa Naruto? Apa dia bisa berhenti memikirannya. Berat sekali rasanya melepas mereka dalam kehidupannya? Kapan Tuhan akan memberinya kesempatan bertemu dengan Naruto.

"Apa kalian serius?" tanya Hinata.

Mereka semua mengangguk. Hinata memandang Naruto sejenak, pria tampan itu juga memandangnya. Namun baru beberapa detik berpandangan, Naruto cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Hinata pasti sangat kehilangan mereka apalagi Naruto. Neji dan yang lain tahu jika Hinata sedih. Gaids itu juga tahu, mereka merasakan hal yang sama. Adakah kesempatan untuknya bertemu dengan mereka terutama Naruto?

ooOOoo

Sebelum pergi mereka menyiapkan beberapa bingkisan dan surat untuk gadis yang mereka cintai. Mereka ingin mengatakan siapa mereka sebenarnya. Namun sayang mereka tidak bisa bertemu langsung, mereka hanya bisa memberinya surat untuk gadis yang mereka sayangi. Kebahagiaan mereka kemarin malam adalah kebahgiaan terakhir termasuk Hinata. Malam ini, lagi-lagi Hinata tidak bisa tidur. Hinata masih tidak percaya mereka akan pergi. Hinata keluar dari kamar dan duduk sendirian di teras. Hinata bingung untuk dia malam-malam duduk di teras? apa pikirannya sudah tidak waras? dia benar-benar tidak sanggup melepas kepergian Naruto dalam hidupnya.

"Hinata, kau belum tidur?" tanya Naruto tiba-tiba. Hinata terkejut mendengar suara tenor Naruto, ternyata pria itu juga belum tidur dan menemaninya duduk. Hinata tidak menjawab namun hanya tersenyum. "Apa kau baik-baik saja ?"

"Tentu, aku baik-baik saja. Aku hanya tidak bisa tidur. Kau sendiri untuk apa malam-malam kesini?" tanya Hinata balik.

"Aku juga tidak bisa tidur," jawab Naruto singkat.

"Mulai besok, setelah kepergian kalian. Rumahku pasti terasa sepi. Walau kalian hanya tinggal dirumahku selama dua bulan tapi aku merasa kalian sudah menjadi keluargaku. Terkadang aku lupa siapa kalian."

"Hinata, jika aku tidak disini, tolong saat cuaca dingin pakailah pakian yang tebal. Apa kau mengerti? Karena sudah tidak ada yang cerewet lagi padamu. Rumah juga harus di bersihkan setiap hari," ujar Naruto mencoba menasehati Hinata dari kebiasaan buruknya.

"Iya, aku mengerti."

"Hinata, bisakah kau menghadapku sebentar dan pejamkan matamu?"

"Untuk apa aku memejamkan mata?"

"Sudahlah kau turuti saja perkataanku." Hinata menuruti apa yang Naruto katakan. Hinata merasakan dia memakaikan sesuatu di lehernya. "Sekarang bukalah matamu."

Hinata membuka mata, ternyata Naruto memberinya sebuah kalung. Kalung yang bergantung kunci. Kunci adalah suatu benda yang digunakan untuk menutup dan membuka sesuatu yang dijaga. Dan tidak sembarang kunci yang bisa membuka sesuatu itu. Iya benar, dia adalah Naruto, Naruto yang hanya bisa membuka hatinya dan menutupnya kembali. Tidak bisa sembarang kunci yang membuka hatinya kecuali Uzumaki Naruto.

"Apa kau menyukainya?" tanya Naruto ramah.

"Iya, aku sangat menyukainya, terimakasih. Gantungannya lucu."

"Aku memang sengaja memilih itu, agar kau selalu mengingatku."

Hinata tersenyum tapi entah mengapa dia juga menangis. Ia sudah berusaha menahannya tapi air mata itu menetes juga di pipinya yang lembut. Hinata bingung, apakah ini tangis kebahagiaan atau tangis kesedihan karena hari ini adalah hari terakhir dia bersama Naruto. Bersama orang yang ia cintai.. Naruto memandangnya dalam diam dan terus memandang Hinata penuh arti.

"Naruto…aku…aku…".

Belum selesai Hinata bicara, Naruto menempelkan bibirnya ke bibir Hinata yang mungil. Gadis itu terkejut tapi hati kecilnya memang sangat menyukainya lebih dari apapun. Hinata merasakan apa yang Naruto lakukan terhadapnya. Mereka berdua terhanyut dalam sebuah ciuman dan bibir Hinata pun basah karena airmata yang terus menetes di pipinya. Ciuman itu tidak membuat Hinata berhenti menangis tapi tangisan tanpa suaranya itu semakin menjadi. Apa maksud dari ciuman ini? Apa Naruto juga merasakan hal yang ia rasakan? Hinata tidak tahu atau mungkin Naruto hanya terbawa suasana, lagi-lagi Hinata tak tahu. Gadis itu hanya tak ingin Naruto pergi.

ooOOoo

Pukul tujuh pagi, hari yang biasanya tampak cerah sekarang tampak terlihat suram. Sepertinya matahari enggan untuk memencarkan sinarnya. Pagi yang mendung, semendung hati Hinata. Dengan perasaan sedih Hinata mengantar member FoxNine ke statsiun kereta api terdekat. Seperti sebelum-sebelumnya mereka kembali dengan penyamarannya. Hinata sudah tidak pernah menganggap mereka aneh karena penyamaran itu. Dia mengerti posisi mereka. Suasana stasiun sangat ramai. Sudah sekitar tiga puluh menit mereka menunggu kereta berangkat. Selama menunggu, Naruto tak sekalipun menyapa Hinata bahkan memandang pun enggan. Mata lavender Hinata memperhatikan Naruto dari Jauh. Ia penasaran apa yang ada dipikiran pria tampan itu. Ia juga bingung dengan sikap Naruto hari ini yang tak seperti biasanya. Pria itu terkesan tak peduli, tapi kenapa tadi malam ia mencium Hinata? Itulah yang Hinata pikirkan tentang maksud ciuman itu. Suara lonceng menggema di seluruh stasiun tanda kereta api tujuan Tokyo sudah datang.

"Hinata, kami pulang. Kau baik-baik ya," ucap Shikamaru penuh perhatian. Hinata hanya mengangguk dan tersenyum. Shikamaru memeluk Hinata lembut sebagai tanda perpisahan. "Kalau ada waktu kami pasti akan kesini," gumam Shikamru sembari melepas pelukannya.

"Hinata, jaga dirimu, jangan terlalu lelah bekerja," saran Neji dengan ekspresi ramahnya.

"Iya, aku mengerti," jawab Hinata tersenyum. Sai tidak mengatakan apapun kepada Hinata, ia hanya tersenyum dan mengelus-elus pundak gadis itu dengan tatapan menyedihkan.

"Hinata, hati-hati dan tolong jaga Sakura untukku," pesan Sasuke.

"Tentu, jadi jangan Khawatir."

Naruto hanya diam dan sekalipun tidak memandang Hinata. Sebagai seorang gadis ia tak mau memulai dulu. Saat kereta sudah berhenti, perlahan mereka masuk kedalam. Hinata merasa sangat sedih, ingin rasanya dia menangis tapi Hinata berudaha menahan itu semua. Seluruh member FoxNine melambaikan tangannya kepada Hinata dari dalam kereta. Hinata juga melambaikan tangannya sambil tersenyum. Pandangannya mengarah ke Naruto. Ini adalah terakhir kalinya ia bisa memandang Naruto, pria pujaan hatinya. Tanpa terasa air matanya jatuh dan Naruto pun melihat itu. Dalam hitungan menit, kereta api sudah menjauh dan beberapa detik kemudian menghilang. Hinata hanya berdiri terpaku, tangannya yang mulus memegang kalung pemberian Naruto dengan perasaan sedih.

"Aku akan menutup hatiku dengan kunci ini, Naruto."

ooOOoo

Dua gadis cantik berambut pirang panjang dan pendek mengayuh sepeda dengan perasaan luar biasa bahagia. Pagi hari adalah waktu favorit mereka karena baik Ino maupun Temari akan segera bertemu pujaan hatinya, Sato dan Tatsuya. Sejak kehadiran dua pria tampan yang mirip artis itu ditempat kerjanya, semangat kerja mereka bertambah seribu kali lipat. Sato dan Tatsuya adalah semangat baru bagi mereka dalam menjalani kehidupan yang keras ini.

"Bibi, selamat pagi," sapa temari girang.

"Pagi juga," balas bibi.

"Bibi, apa Tatsuya Sato sudah datang ?" tanya Ino.

"Tatsuya dan Sato sudah tidak bekerja disini lagi, tadi malam mereka berdua kemari dan menitipkan surat serta bingkisan ini untuk kalian." Bibi memberika beberapa bingkisan titipan dari Shikamaru dan Sai kepada mereka tanpa beban. Temari dan Ino mengambil surat dan bingkisan itu dengan perasaan ragu. Perasaan mereka tidak enak, walaupun belum membuka bingkisannya tapi ini adalah suatu hal yang buruk. Ino dan Temari mulai membuka surat masing-masing. Suratnya tidak panjang hanya beberapa kalimat saja.

Inoe, ini aku Tatsuya mungkin saat kau membaca surat ini. Aku sudah tidak ada di sini lagi. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Sebenarnya aku bukanlah Aoyama Sato tapi aku adalah Sai. Kau pernah bilang kalau aku mirip dengan Sai. Bukan mirip tapi itu memang aku, Sai FoxNine. Ada suatu alasan kenapa aku harus tetap tinggal disini. Aku harap kau bisa memainkan piano lagi untukku. Oh, ya aku membelikanmu sesuatu pakailah.

Ino hanya bisa menangis, perasaannya hancur ketika cinta meninggalkannya pergi. "Kau jahat sekali Sai. Aku tak menyangka kalau kau adalah Sai FoxNine," batinnya. Matanya melirik sebuah bingkisan berbalut kertas merah jambu. Jari-jemari lentiknya membuka bingkisan pemrberian dari Sai, ternyata itu adalah baju yang Ino suka saat jalan-jalan di kota sewaktu membenarkan sepeda. Dia kemudian tertawa dan menangis.

"Dasar menyebalkan!" gerutu Ino.

ooOOoo

Temari membuang nafas panjang sebeum membuka bingkisan dari Shikamaru. Ia memberanikan diri membuka surat beramplop jingga itu Dari luar amplop terdapat sebuah gambar emoticon smile. Temari tersenyum kecil melihatnya, memang baginya orang yang ia kenal sebagai Tatsuya itu lucu. Mata indahnya satu persatu mulai membaca setiap huruf yang sudah tertulis di kertas.

Temari apa kabar? aku akan memberitahumu, kalau aku tidak bekerja lagi disini. Aku harus pulang ke Tokyo. Aku pasti sangat merindukanmu. Aku juga akan membuat pengakuan, aku bukanlah Tatsuya tapi aku adalah Shikamaru FoxNine. Aku senang saat kau bilang member FoxNine favoritmu adalah aku. Selama liburan kami tersesat dan tidak bisa pulang karena tidak punya uang. Jadi kami bekerja di tempat kalian. Maaf aku sudah membohongimu. Aku juga terkejut ketika kau hafal semua gerakan dance ciptaanku. Kapan-kapan, aku ingin sekali menari denganmu. Oh ya, aku membelikan sesuatu untukmu. Semoga kau suka.

Temari membuka bingkisan yang lebih kecil daripada milik Ino. Saat ia membukanya, isi bingkisan itu adalah album terbaru FoxNine. Di sana juga terdapat tanda tangan Shikamaru beserta selembar foto.

"Jika tahu seperti ini, lebih baik aku mencincangmu!" teriak Temari. Ia menangis tanpa suara, hatinya terasa pilu dan sakit karena Shikamaru.

TO BE CONTINUE
Terima kasih sudah membaca, mereview dan Fav/Foll FF ini