.

.

FIVE'S LOVE STORY

Genre : Romance, Drama, Friendship

Pair : NaruHina, SasuSaku, SaiIno, ShikaTema, NejiTen

.

.

Izanagi Isao = Uzumaki Naruto

Hitoshi Isamu = Uchiha Sasuke

Aoyama Sato = Sai

Fujiwara Tatsuya = Nara Shikamaru

Ishihara Yujiro = Hyuga Neji

.

.

Maaf FF ini menunjukan ke OOC'an karakter mereka sebenarnya. FF ini bukan FF barru, FF yang aku tulis selama beberapa tahun yang lalu dan alhamdulilah FF ini sudah tamat di Laptop. Insyallah FF ini tidak gantung.

.

Pagi hari merupakan waktu yang menyenangkan bagi Tenten, karena setiap pagi dia bisa bertemu dengan Yujiro alias Neji. Tenten sudah menunggu Neji di depan pagar dengan perasaan bahagia. Telinganya yang ditutupi oleh headset tak henti-hentinya mendengar lagu Christina Perrie – A thousand years. Kebiasaan ini sudah ia lakukan selama dua bulan yang lalu sejak mengenal Neji, kadang Tenten juga membantu Neji bekerja. Memberikan Koran-koran itu ke rumah pelanggan. Senyum dibibirnya mengembang ketika melihat sosok pria berhodie hitam serta memakai topi mendekat ke arahnya. Namun tak lama senyum itu memudar ketika ia sadar bahwa pria itu bukanlah Neji. Pria itu memberikan Koran padanya.

"Oh, ya ada titipan dari Yujiro untukmu," ucap pria itu.

"Titipan?" loper Koran itu mengangguk. "Lalu, kemana Yujiro?"

"Tadi malam dia datang ke rumahku dan menitipkan surat ini untukmu. Katanya dia akan kembali ke Tokyo,"

"Ke Tokyo?" tanya Tenten bingung.

"Iya, aku pergi dulu."

Loper Koran itu pergi meninggalkan Tenten sendirian dengan perasaan gamang. Dia masih tak percaya jika Yujiro pergi begitu saja. Tenten tidak sabar ingin membuka isi surat itu. Entah mengapa ia menangis sebelum membaca suratnya. Tangannya gemetar.

Selamat pagi Tenten, pasti kau sudah menungguku di depan rumah. Hehehe, maklum aku pria tampan jadi tidak heran jika kau selalu menungguku. Tenten maaf aku tidak bisa lama-lama tinggal disini. Aku harus kembali ke Tokyo. Tenten, mungkin setelah kau membaca surat ini, kau akan membenciku. Aku bukanlah Yujiro, tapi aku adalah Neji FoxNine. kecurigaanmu benar. Kami semua tersesat di sini dan tak punya uang speserpun, jadi kami bekerja disini. Maafkan aku Tente, aku akan selalu mengingatmu..

Tenten menangis, pikirannya kalut, dia masih tidak percaya dengan apa yang singkat ini begitu menyakitkan. Sesingkat ia jatuh cinta pada Yujiro dan sesingkat itu pula ia patah hati. Tapi apa yang harus ia perbuat, tidak ada. Tenten menerima dengan lapang dada. Ketika gadis berambut hitam itu akan memasukkan surat ke dalam amplop. Ada sesuatu di dalamnya. Tangisan Tenten semakin kencang, ketika tahu itu adalah foto dimana dia terakhir bertemu dengan Neji. Foto dimana dia dan Neji memakai baju pengantin saat pemotretan. Dalam foto itu, Neji memeluknya begitu erat. Tenten membalikan fotonya, disana ada beberapa kalimat singkat dari Neji.

Tenten, kemarin aku datang ke rumah photografer untuk meminta foto ini. tolong simpan foto ini baik-baik. Siapa tahu saja kalau takdir mengatakan kau menjadi istriku, kita tidak usah foto lagi…hehehe.

Tenten tertawa membaca catatan Neji.

"Dasar Bodoh," gumam Tenten.

ooOOoo

Seperti biasa, Sakura bangun lebih awal dan membersihkan halaman rumah yang penuh dengan daun kering. Sakura mengerjakan apapun sendiri karena ia tak memiliki asisten rumah tangga untuk mengerjakan semua pekerjaan rumahnya. Saat membersihkan halaman rumah, tanpa sengaja ia melihat sebuah amplop berwarna merah jambu yang tergeletak begitu saja. Amplop itu tak bernama, karena penasaran dia membuka surat itu.

Sakura, apa kau sedang bersih-bersih rumah sekarang? Ini aku Isamu. Maaf mulai hari ini aku tidak bisa menemani kau bermain basket lagi. Aku harus pulang ke Tokyo. Oh ya, namaku sebenarnya bukan Isamu tapi Sasuke. Ya, Sasuke FoxNine. Sebenarnya bukan aku saja tapi Neji, Sai, Shikamaru dan Naruto ada di sini. Kami bisa berada di sini karena saat liburan, kami tersesat, parahnya lagi uang kami dicuri preman. Untunglah kami di beri tumpangan oleh Hinata dan mencarikan uang buat kami. Asal kau tahu saja, Hinata juga tidak tahu kalau kami adalah FoxNine. Saat membaca Majalahmu, barulah dia tahu. Maafkan aku Sakura sudah membohongimu, aku harap kau mengerti kenapa aku melakukan ini. Oh ya, aku membelikan bola basket untukmu. Sakura aku tidak akan pernah melupakanmu.

Hati Sakura bagaikan tersayat-sayat oleh pisau. Sungguh sakit dan perih. Kenapa Sasuke harus pergi. Kenapa? padahal hanya dia yang selalu menemaninya disaat Sakura sedih maupun senang. "Kenapa kau meninggalkanku" tanya Sakura dalam hati. Sakura hanya bisa menangis. Tidak ada lagi hal yang dia lakukan kecuali menangis dan terus menangis. Bisakah aku bertemu dengannya lagi ?

ooOOoo

Lima kisah cinta yang begitu singkat. Dan tak ada satupun dari Hinata, Tenten, Temari, Sakura dan Ino yang tahu apakah lima pria yang mereka cintai juga memiliki perasaan yang sama dengan apa yang mereka rasakan. Tak ada yang ingin mereka pertahankan dan inginkan, lima gadis itu hanya pasrah dengan kisah cinta mereka. Mereka hanya bepfikir bahwa pria yang mereka cintai bukanlah jodoh yang Tuhan kirimkan untuk mereka. Enam bulan sudah berlalu dan selama itu juga mereka masih belum bisa menghilangkan rasa cinta kepada pria yang pernah mengisi hati mereka dalam waktu singkat. Walaupun patah hati itu menyakitkan tapi mereka tak ingin terlarut lebih dalam. Lima wanita hebat itu ingin berjuang mendapatkan hidup yang layak di kota besar yaitu Tokyo. Mereka memiliki tujuan sendiri-sendiri.

"Hinata, apa kau sudah siap?" tanya Sakura.

"Tentu saja. Tokyo Im coming," teriak Hinata senang.

Hinata dan Sakura pergi ke Tokyo bukan untuk liburan. Sakura pergi ke Tokyo untuk kuliah. Sakura adalah mahasiswi universitas teknologi unggulan di Tokyo. Tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Kau harus pintar dan kaya agar bisa kuliah disana. Sedangkan Hinata, tanpa diduga sebelumnya, beberapa hari yang lalu ia mendapat kunjungan dari seorang bibi yang bernama Haruka. Wanita separuh baya itu mengatakan jika selama ini ia masih memiliki keluarga, dia juga meminta maaf kepada Hinata karena baru kali ini bibI Haruka bisa mengunjunginya. Bibi mengajak Hinata untuk tinggal bersamanya di Tokyo, karena beliau sendirian. Anak semata wayangnya sudah menikah dan tinggal di Osaka bersama suaminya. Hinata dan Sakura sudah sampai di stasiun Kereta api. Mereka memilih jalur kereta api karena kereta api adalah jalur darat yang paling cepat dan murah.

"Hinata duduk sini saja semua sudah penuh," ajak Sakura. Kereta ini memiliki dua tempat duduk yang panjang dan berhadapan. "Hinata, aku punya sesuatu untukmu," Sakura memberikan sebuah bingkisan kepada Hinata.

"Sakur apa ini? kenapa kau memberiku Ponsel."

"Ini adalah hadiah dariku karena selama ini kau menjadi sahabatku. Lagi pula ini adalah pemberian dari ayahku untukmu."Hinata tak bisa berkata apa-apa.

"Terima kasih banyak Sakura," Hinata tersenyum dan memeluk Sakura penuh kasih saying.

Perasaan Hinala lebih baik dari pada dulu saat ia berpisah dengan Naruto. Satu bulan awal Hinata masih tidak bisa melupakannya. Jika Tuhan memberi kesempatan padanya, saat di Tokyo Hinata ingin sekali bertemu dengan Naruto. Selama perjalanan, Hinata terus memegang kalung pemberian Naruto kadang dia juga masih mengingat ciuman itu. Begitu pula dengan Sakura, ia pun sama sampai saat ini masih mencintai Sasuke, dia juga berharap di Tokyo nanti ia bisa bertemu kembali dengan Sasuke.

"Permisi, bolehkah kami ikut duduk disini?" tanya gadis dengan rambut pirangnya.

"Tentu saja," jawab Hinata ramah.

"Kalau boleh tahu kemana kalian akan pergi ?" tanya gadis berambut pendek serta pirang.

"Ah, kami akan pergi Ke Tokyo," jawab Sakura.

"Sama, kami juga akan Tokyo. Kenalkan namaku Ino."

"Aku Temari. Senang bisa bertemu kalian." Hinata dan Sakura memperkenalkan diri dan menjabat tangan mereka.

"Kalau boleh tahu, kalian ke Tokyo untuk liburan?" tanya Sakura.

"Kalau aku memang liburan kerumah nenek, karena sekarang lagi masa libur sekolah," jawab Temari.

"Kalau aku, ke Tokyo untuk mendalami permainan pianoku. Kalian sendiri?" tanya Ino.

"Aku tinggal bersama bibiku dan membantunya bekerja," jawab Hinata.

"Aku juga melanjutkan kuliah," ujar Sakura.

Hinata berpikir sejenak, Temari, Ino seperti nama gadis yangsering dibacarakan Sai dan Shikamaru. Tapi apa benar itu mereka. Mungkin saja bukan. Nama seperti itu banyak sekali di Jepang. Entah mengapa Hinata enggan bertanya kepada mereka tentang Sai dan Shikamaru. Selama perjalanan mereka berempat semakin akrab dan becanda bersama. Mereka tidak menyadari jika sebentar lagi mereka akan turun.

"Terima kasih sudah menemani kami mengobrol," ucap Ino ramah.

"Ah, sama-sama. Semoga kita bisa bertemu lagi,"

"Kami pergi dulu, bye."

"Iya, hati-hati ya."

Hinata dan Sakura memiliki tujuan yang berbeda jadi mereka berlawanan arah. Mereka akan berpisah di stasiun. Sakura memberi Hinata peta agar aku tidak tersesat. "Hinata, berhati-hatilah. Maaf aku hanya bisa menemnimu sampai disini. Nanti kalau terjadi sesuatu beritahu aku." Hinata mengangguk. "Hinata Ganbate."

Sakura berpamitan kemudian berlalu pergi. Sekarang Hinata sendirian. Hinata silih berganti melihat lingkungan sekitarnya. Ia tak menyangka kota Tokyo seramai ini dan banyak orang-orang berlalu lalang disini. Semua orang terlihat modis, khususnya gadis seumurannya. Hinata merasa tak ada apa-apanya dengan mereka. Selain itu juga banyak sekali makanan di Tokyo. Gedung-gedung menjulang tinggi, terkadang dibeberapa gedung ada sebuah layar besar. Layar besar itu menyiarkan beberapan iklan dan juga siaran berita televisi. Hinata memperhatikan salah satu layar besar disebuah gedung. Hinata terkejut, shock namun senang. Persaannya kala itu campur aduk. CF FoxNine terlihat jelas di layar.

"Ternyata itu benar mereka. Mereka sebenarnya lebih tampan daripada di Televisi."

Dan tentu saja pandangan Hinata tak lepas dari Naruto. Hinata jadi ingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Hinata tak mau berpikir macam-macam dulu. Sekarang yang ia pikirkan bagaimana cara menemukan rumah bibi. Hinata berdiri menunggu taksi. Saat taksi datang tanpa ragu Hinata masuk dan mulai menunjukan alamat ke sopir taksi. Baru beberapa menit taksi berjalan, tiba-tiba seorang gadis menghentikan taksi secara mendadak. Sopir taksi marah luar biasa..

"Tolong bukakan pintunya," ucapnya tanpa rasa malu. Ia mengetok kaca jendela disebelah Hinata. Hinata menyuruh sopir untuk membuka kacanya. "Bisakah kau menolongku, aku buru-buru sekali. Apa boleh aku menumpang?" Hinta hanya bisa mengangguk pasrah. "Terima kasih," ucap gadis itu sambil tersenyum dan masuk.

"Kau … kau, ini siapa?" tanya Hinata.

"Kenalkan namaku Tenten," jawab berambut hitam pekat itu.

"Aku Hinata."

"Pak bisa lebih cepat tidak jalannya, aku sudah terlambat untuk pemotretan," celetuk Tenten.

"Pemotretan?" tanya Hinata penasaran.

"Iya, aku adalah seorang model. Tolong lebih cepat sedikit. Belok kiri pak."

Anehnya sopir mengikuti semua perintah Tenten padahal dari awal Hinatalah penumpang disini dan dialah yang membayar biaya taksi ini. Hinata melihat keluar jendela, ia bingung melihat banyak jalan bercabang di Tokyo. Hinata melebarkan matanya dan melihat plang-plang yang tertera diatas jalan. Sebuah plang bertulisakan kamimeguro sudah ia lewati. Kamimeguro adalah daerah tempat tinggal bibi Haruka.

"Berhenti," perintah Tenten. Lagi-lagi sopir menuruti perintah Tenten. Setelah taksi berhenti, gadis itu keluar dari taksi. "Hinata terima kasih," ucap Tenten tanpa rasa sungkan.

"Hei, hei, kau….," Hinata mencoba mencegah Tenten yang pergi begitu saja. Namun usahanya sia-sia, gadis itu sudah menjauh. api di sudah jauh. "Ashh gadis itu aneh sekali, jadi ini aku yang bayar."

Mau tidak mau Hinata yang membayar. Jantungnya dag dig dug tak karuan melihat mesin total pembayaran. gara-gara gadis itu, jalan yang dilalui Hinata berputar jauh. Bagaimana jika uangnya tidak cukup untuk membayar taksi? Apa ia harus berjalan kaki ke rumah bibi ? Dan ternyata apa yang Hinata khawatirkan benar. Uangnya memang tak cukup jika ia lanjutkan perjalanan. Daripada dia dimarahi seseorang lebih baik ia turun. Uangnya habis, ia berjalan kaki ke rumah bibinya tanpa uang sepeser pun. Perjalanan ke rumah bibi lumayan jauh. Lebih dari satu jam, Hinata berjalan kaki. Tak lama, sampailah ia di rumah bibi Haruka.

"Ya Tuhan, Hinata," bibi melihat Hinata terkapar didepan pagar rumahnya. Wanita setengah baya itu kemudian mebopong dan mambawanya ke ruang tamu lalu memijit kakinya. "Hinata, kenapa kau tidak naik taksi?"

"Aku tadi naik taksi, tapi gara-gara aku bertemu dengan gadis aneh, jadi aku harus berjalan kaki."

"Astaga, kalau begitu istirahatlah."

Bibi mengantar Hinata ke kamar bekas kakak sepupunya. Tanpa ganti baju terlebih dahulu, Hinata berbaring di ranjang, mungkin karena ia terlalu lelah membuaat Hinata tertidur pulas.

ooOOoo

Hinata terbangun di pagi buta. Dalam keadaan setengah sadar, ia mengucek-ucek matanya sambil turun ke bawah. Dari jauh ia melihat bibi berpakaian rapi. Meja makan juga sudah penuh dengan sarapan. Sebenarnya ini masih pagi tapi semuanya sudah siap. Ia penasaran jam berapa bibi bangun.

"Oh, Hinata kau sudah bangun, sarapannya sudah siap," sapa bibi ramah.

"Bibi mau berangkat kerja ya?"

"Iya, bibimu ini bekerja sebagai office girl di sebuah kantor stasiun TV terkenal, hanya pekerjaan ini yang bisa bibi lakukan."

"Bibi, apa aku boleh ikut kerja denganmu?"

"Kau ini ada-ada saja Hinata, aku menyuruhmu ke sini bukan untuk membantuku bekerja, tapi tinggal denganku."

"Bibi, aku tidak suka di rumah sendirian. Jadi, please, bibi boleh ya?" mohon Hinata dengan wajah memelas. .

"Baiklah, kalau begitu cepatlah mandi dan sarapan."

"Baik, " Hinata bahagia karena bibi mengizinkan aku untuk ikut kerja dengannya.

ooOOoo

Sekarang Hinata sudah berada di kantor tempat bibi bekerja. Banyak sekali orang disana. Kantornya begitu besar dan pegawainya pun banyak. Bibi membawa Hinata ke atasan office girl dan memperkenalkan Hinata padanya. Tanpa harus menunggu waktu lama, Hinata sudah bisa bekerja hari ini. Ia begitu gembira. Penampilannya juga sedikit berubah, ia sudah mulai memakai seragam officegirl. Saat di dalam toilet, Hinata mendengar suara gadis yang asyik telfon dengan pacarnya. Di lihat dari obrolan mereka sepertinya lagi bertengkar. Usai ganti baju Hinata keluar dari toilet kemudian berkaca untuk sedikit merapikan rambut. Tiba-tiba seorang gadis muncul dari salah satu toilet. Gadis itu sangatlah cantik. Hinata sampai tak berkedip memandangnya. Betapa malunya Hinata ketika gadis itu menyadari jika sedari tadi Hinata melihatnya.

"Hai," sapa gadis itu.

"Heh, hai… ," jawab Hinata sedikit menunduk karena malu.

"Kyaaaaa!" teriak histeris gadis itu secara tiba-tiba. "Tolong ambilkan cicak dari pundakku."

Hinata tanpa rasa takut sekali pun mengambil cicak dari pundak gadis cantik itu. Hinata heran, kenapa setiap wanita cantik di bumi ini selalu takut dengan hal-hal yang sama sekali tak menakutkan. Apa mereka suka berlagak manja?

"Terima kasih banyak," ucap gadis bersurai pirang itu.

"Sama-sama."

ooOOoo

Hari ini hari Hinata bekerja, ia membersihkan semua sudut kantor. Kantor agensi ini adalah salah satu kantor agensi yang terkenal di Jepang, namanya Konoha Entertaiment. Kantor yang terkenal dengan artis-artis yang mereka bimbing lalu kemudian menjadi sukses dan terkenal. Bekerja menjadi office girl cukup melelahkan. Tapi demi membantu menambah penghasilan bibi Haruka, ia harus bersemangat. Hinata sekarang sibuk membersihkan dan mengepel kantor yang letaknya di lantai dua. Ruangan ini biasanya digunakan untuk rapat. Hanya ada sebuah meja panjang yang melingkar serta kursi. Hinata sangat leluasa bekerja. Entah sudah berapa hari ruangan ini tidak dibersihkan, Air perasan dari pel lantai terlihat begitu kotor. Sudah saatnya air diganti. Tersirat ide gila benak Hinata, kesempatan tidak ada orang ini ia gunakan untuk membuang air kotor melalui jendela. Namun tak lama kemudian, ia mendengar teriakan seorang pria.

"Hei, kau yang disana, mengapa kau buang air kotor di sembarang tempat?!"

"Ya Tuhan, bagaimana ini?" gumam Hinata panik.

Pria itu tiba-tiba berlari. Perasaan Hinata tidak enak, pasti pria itu akan menghampirinya kemudian memarahinya. Braak! Tiba-tiba pintu terbuka. Ternyata benar pria itu menghampiri Hinata dengan wajah yang tak begitu menyenangkan. Pria berambut putih itu mendekatkan wajahnya tepat didepan Hinata, hal ini membuat Hinata malu. Walaupun dalam keadaan terhimpit, Hinata masih sempat memuji ketampanan pria berambut putih ini dalam hati.

"Hei, tanggung jawab padaku. Kau membuatku kotor?" gertak pria berambutih itu.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Hinata polos.

Pria tampan itu menarik Hinata dan membawanya ke suatu tempat. Pegangan sang pria yang memiliki wajah bak pangeran itu begitu kuat, sampai-sampai, pergelangan tangan Hinata terasa sakit. Dia membawa Hinata ke sebuah ruangan yang banyak orang, mereka sedang asyik berlatih musik dan semuanya adalah pria. Para pria itu tak berpakain dengan rapi, ada yang memakai atasan ada juga yang tidak memakai atasan. Hinata begitu malu melihat hal yang demikian.

"Itachi, apa kau bawa kaos lagi?" tanya pria misterius itu.

"Iya aku membawanya, kenapa Toneri?"

Itachi melempar kaos miliknya pada Toneri. Ternyata nama pria tampan berambut putih itu adalah Toneri. Lalu pria tampan berambut hitam pekat ini adalah Itachi. Hinata bingung, dimana dia sekarang, apa dia berada disurga sehingga banyak pangeran tampan disekitarnya. Semua pria disana memandang ke arahnya. Toneri melepaskan kaosnya, lalu kemudian ia melemparkan kaosnya kea rah Hinata. Kesan pertama terhadap Toneri tidaklah baik, dia sudah mencap Toneri sebagai pria sombong, arogan dan kasar.

"Sekarang, kau bawa pulang kaosku dan cuci sampai bersih. Jangan lupa berikan padaku besok pagi. Apa kau mengerti? Sekarang kau boleh keluar." Hinata tak bergeming, ia terdiam dan terus memandang Toneri "Kenapa diam saja, ayo Keluar!"

Hinata tak menyangka ada seorang pria tak dikenal yang berani membentaknya. Kalau seandainya sikap bukanlah salah satu criteria pekerjaan, tamatlah riwayatnya. Dengan perasaan campur aduk dan amarah yang membara terpaksa ia keluar. Kenapa kesialan menimpaku dihari pertama aku kerja? Belum apa-apa dia sudah disuruh mencuci baju orang. Hinata tak yakin, kaos berwarna putih ini bisa bersih total atau tidak. Tuhan cobaan apa lagi ini.? baru sehari di Tokyo aku sudah ketemu orang yang mengerikan.

ooOOoo

Temari berjalan sendirian menuju tempat latihan tarinya. Gadis itu sudah hafal seluk beluk kota Tokyo dan jalan-jalan yang ada di kota Tokyo. Sampailah dia di suatu tempat penuh dengan banyak orang yang memiliki hobi yang sama. Temari perlahan masuk ke dalam dan memperhatikan gerakan-gerakan para dancer. Tidak lama kemudian, seorang pria datang menghampirinya. Orang itu sepertinya pelatih dance di tempat ini.

"Hai, ada yang bisa aku bantu?"

"Ah, aku ingin berlatih menari di akademi tari ini, bisakah aku bergabung?"

Kursus dance ini sangatlah terkenal. Tidak sembarang orang yang bisa bergabung dengan Treejie academy dance. Orang yang akan bergabung harus melalui beberapa tahap test. Para pelatih ingin melihat semua kemampuan calon penari mereka.

"Hei, kalian istirahatlah sebentar, kita akan mendapat anggota baru." Mendengar seruan pelatih, semua murid berhenti beraktivitas dan fokus melihat kearah Temari. "Tapi sebelumnya bisakah menunujukan kemampuan dance kamu padaku."

"Tentu," jawab Temari tanpa ragu.

Pelatih mulai memutarkan musik untuk Temari. Kebetulan sekali ini adalah lagu kesukaan Temari. Blue – get down on it, dia sering sekali belajar dance dengan lagu ini. Mungkin hari ini Dewi Fortuna begitu berpihak padanya. Dia mulai mengikuti hitungan dan alunan musik dalam setiap gerakannya. Temari menari dengan penuh percaya diri. Semua mata tertuju padanya. Mereka kagum dengan kelincahan dan keindahan gerakan tubuh yang di perlihatkan oleh Temari saat menari. Tiga menit kemudian pelatih itu mematikan musiknya. Semua murid bertepuk tangan dengan riuh bakan ada yang bersiul.

"Aku rasa cukup dan kau bisa gabung dengan kami."

"Benarkah, arigatou."

"Sekarang perkenalkan dirimu."

" Hallo semua, perkenalkan namaku Temari. Mohon bimbingan kalian," kata Temari sembari menundukan badannya. Dia terseyum melihat teman-teman barunya. Sebenarnya hanya satu yang diharapkan Temari di Tokyo, dia ingin melihat Shikamaru.

ooOOoo

"Aduh, bagaimana ini aku sudah terlambat," ucap Ino yang terlohat gelisah.

Ino berlari secepat mungkin. Ino ternyata bukan hanya sekedar mendalami permainan pianonya tetapi ia juga bergabung dengan grup orchestra terkenal di Tokyo. Tentunya dia harus mengikuti audisi yang begitu ketat. Diantara seratus pianis yang mendaftar, hanya dia yang terpilih. Hari ini adalah hari pertama Ino bergabung dengan grup ini. Ia menyesal karena dihari pertama ini ia sudah datang terlambat.

"Selamat pagi, maaf aku terlambat," sapa Ino penuh penyesalan.

"Hah, kau ini bagaimana? Kami sudah lama menunggumu. Kalau kau begini terus, aku akan mengeluarkanmu," ucap seorang pria yang bekerja sebagai konduktor.

"Baik, aku tidak akan terlambat lagi."

"Sudahlah, kau cepatlah duduk, kita akan memulai latihannya."

Latihan ini sangat tergantung pada Ino. Karena dalam lagu ini piano adalah peran utama. Ino berlatih dengan sungguh-sungguh. Tapi hari ini pikirannya agak kacau. Banyak sekali not-not yang salah.

"Berhenti, berhenti. Hei, Inoe konsentrasilah."

"Iya, maafkan aku."

Kenapa aku jadi begini. Sai tolong aku.

ooOOoo

Sebenarnya hari ini Sakura tidak ada kuliah. Tapi berhubung dia adalah ketua tim basket wanita di kampusnya, tetap masuk untuk mengasah kemampuannya. Di bawah terik sinar matahari. Sakura terus berlatih dan berlatih, dia tidak peduli dengan apa yang ia rasakan. Hanya dengan basket pula dia merasakan, seolah-olah Sasuke ada di sampingnya. Dia rindu sekali pada Sasuke walaupun sekarang Sakura berada di Tokyo, tapi entah mengapa dia merasa tidak akan bertemu dengan Sasuke lagi. Sakura duduk sebentar untuk istirahat, ia meneguk sebotol air di bawah rindangnya pohon.

"Sasuke, apa kau tahu kalau aku sangat mencintaimu." Sakura melamun, ia mengenang masa-masa indahnya bersama Sasuke enam bulan yang lalu. Terkadang dia tertawa sendiri jika mengingat itu semua. Lamunan Sakura buyar karena suara seseorang yang memanggilnya.

"Sakura, sudah siang ayo pulang," ajak salah satu temannya.

"Iya." Sakura mengambil tas beserta bola basket pemberian Sasuke dan berlari kearah temannya.

ooOOoo

Sebuah ruangan terliaht agak gelap. Terkadang sinar kamera yang menerangi ruangan ini. Tenten berpose sedemikian rupa sesuai dengan perintah sang photographer. Tenten sangatlah mencintai dunia model, orang tuanya mengenalkan dia dunia model sudah sejak kecil. Tema hari ini adalah vampire. Yang menceritakan seorang gadis yang di hisap darahnya oleh seorang pangeran vampire yang tampan. Jadi hari ini Tenten berdandanan agak acak-acakan. Partner model pria bersama Tenten lumayan tampan.

"Yup, bagus kita istrirahat dulu." Tenten dan Model lainnya pun istirahat. Menurut nya pemotretan hari ini sangatlah melelahkan.

"Tenten, walaupun kau masih kecil tapi kau sangat hebat," puji Hidan.

"Hehehe, tidak kak, kau terlalu memuji," ucap Tenten tersipu malu.

Yah Nama model itu adalah Hidan. Umurnya sudah dua puluh dua tahun sedangkan Tenten dua puluh tahun. Hanya terpaut dua tahun. Walaupun mereka baru kenal tapi hubungan mereka sangatlah dekat.

"Kakak, aku ke toilet dulu," pamit Tenten.

Tenten ke toilet untuk buang air kecil. Ia juga membasahi bibirnya yang agak kering. Ketika Tenten mengambil tisu dalam dompetnya. Dia melihat fotonya bersama Neji memakai baju pengantin. Entah mengapa hatinya terasa sakit setiap kali melihat foto itu.

"Neji, bisa kah aku bertemu denganmu. Aku benar-benar membutuhkanmu."

ooOOoo

Seperti biasanya Hinata dan bibi rutin berangkat pagi untuk bekerja. Hari ini Hinata mempunyai janji kepada seseorang untuk mengembalikan kaos kepada pria yangmengerikan itu. Ah mimpi apa aku semalam sehingga bisa bertemu dengan orang seperti itu. Kemarin Toneri menyruhnya datang ke tempat latihan menari Konoha Entertaiment. Hinata langsung pergi ke tempat yang dimaksud. Tapi setelah sampai sana, Toneri masih belum datang. Sambil menunggu pria temperamental itu, Hinata ingin sekali selfie. Baru dua kali jepretan, tiba-tiba ada seseorang yang memegangi ponselnya dan menurunkannya dari depan wajah Hinata dengan tangannya. Hinata terkejut melihatnya. Apa matanya ini tidak salah lihat Apa karena Hinata terlalu rindu dengan mereka sehingga berhalusinasi seperti ini.

"Neji," ucap Hinata tak percaya.

"Hinata, apa ini benar-benar kau? Sedang apa kau disini?" Neji melihat Hinata sinis dari ujung kepala sampai kaki. "Kau bekerja disini?"

"Iya, aku bekerja disini bersama bibi, kau sendiri sedang apa disini?".

"Kita sedang rekaman untuk persiapan album baru kami. Apa kau tahu tempat ini adalah tempat yang menaungi kami selama kami jadi artis. Hinata aku rindu sekali padamu." ujar Neji tanpa basa-basi ia memeluk Hinata. Hinata senang sekali. Ia juga memeluk Neji. Gadis itu menangis saking terharunya. "Hinata ayo ikut aku."

"Kemana?" tanyanya bingung.

"Sudahlah ikuti saja aku."

Neji menarik tangan Hinata begitu saja. Apakah Neji akan mempertemukanku degan Shikamaru, Sasuke, Sai dan Naruto. Benarkah, Hinata bisa bertemu dengan Naruto lagi. Tersirat senyuman bahagia dari bibir Hinata. Ia memang sangat merindukannya. Hinata ingin sekali menyapa dan berbicara dengan Naruto. Tanpa sadar, Hinata memegang kalung dari Naruto yang selalu ia pakai. Sampailah mereka di sebuah ruangan. Samar-samar Hinata mendengar suara Sasuke dan Shikamaru dari kejauhan.

"Hinata, kau tunggu sini sebentar." Hinata mengangguk. Neji perlahan membuka pintu. Jantung Hinata semakin tak karuan.. "Teman-teman, aku membawa seorang yang special buat kalian, tarada." Hinata pun muncul. Semua mata tertuju padanya. Hinata melihat-lihat lingkungan di sekitar mereka tapi tidak ada Naruto. memangnya kemana dia. Entah kenapa Hinata merasa kecewa sekali.

"Ya Tuhan, Hinata," Shikamaru lari kearah Hinata dan memeluknya. Hari ini sudah dua artis terkenal yang memeluknya. "Sedang apa kau disini?".

"Seperti yang kau lihat, aku officegirl di sini."

"Hinata akhirnya kita bertemu lagi," ucap Sai.

"Iya," Hinata tersenyum padanya.

"Hinata, bagaimana kabarmu? Dan bagaimana kabar Sakura, apa dia baik-baik saja?" tanya Sasuke.

"Aku dan Sakura baik-baik saja. Sekarang dia ada di Tokyo untuk kuliah."

"Benarkah," Sasuke terlihat bahagia mendengar jawaban Hinata.

"Aku jadi teringat Temari, kapan dia ke Tokyo dan bisa bertemu lagi," tanya Shikamaru pada dirinya sendiri.

"Aku juga rindu sekali pada Ino," ujar Sai.

"Aku jadi teringat Tenten," sekarang Neji yang merasakan kegalauan di relung hatinya.

"Kemarin waktu aku ke Tokyo, aku bertemu dengan dua gadis di kereta api, namanya Ino dan Temari. Tapi aku tidak tahu, apakah itu Temari dan Ino yang kalian maksud. Lalu waktu aku naik Taksi. Aku juga bertemu dengan gadis yang bernama Tenten. Tapi lagi-lagi aku tidak tahu apa dia gadis yang Neji maksud."

Tiba-tiba terdengar seseorang yang membuka pintu dan masuk ke ruangan ini. Hinata melihatnya. Ia tertegun dengan apa yang ia lihat. Apa maksud dari semua ini? apakah aku hanya mimpi? Tapi jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin segera bangun dari mimpi burukku ini? Hinata melihat Naruto sedang bergandengan tangan dengan seorang gadis. Karena begitu asyik mereka becanda, sampai-sampai mereka tidak sadar kalau Hinata berada disini. Dan yang lebih mengejutkan lagi, gadis yang bersama Naruto itu adalah gadis yang Hinata temui di toilet kemarin. Hinata memandang mereka penuh arti. Untuk saat ini ia tidak boleh menangis. Kau harus kuat Hinata.

"Hehehe, Honey terima kasih atas semuanya," ucap gadis itu manja pada Naruto. Honey?! Hati Hinata semakin hancur tidak karuan. Ternyata Naruto sudah punya pacar. Gadis itu tiba-tiba mengalihka pandangannya pada Hinata. "Kau gadis yang di toilet itu kan?"

TO BE CONTINUE