"Hehehe, Honey terima kasih atas semuanya," ucap gadis itu manja pada Naruto. Honey?! Hati Hinata semakin hancur tidak karuan. Ternyata Naruto sudah punya pacar. Gadis itu tiba-tiba mengalihka pandangannya pada Hinata. "Kau gadis yang di toilet itu kan?"

.

FIVE'S LOVE STORY

Genre : Romance, Drama, Friendship

Pair : NaruHina, SasuSaku, SaiIno, ShikaTema, NejiTen

.

.

Kisah cinta mereka masih panjang. Setiap pasangan memiliki konflik, tapi konflik terberat adalah konflik NaruHina. Semoga kalian menyukai chapter ini. Terima kasih banyak kalian sudah review FF ini. Maaf aku tidak bisa membalas satu persatu. sekali lagi terima kasih. Happy Reading.

.

.

Hinata tak langsung menjawab pertanyaan gadis itu. ia masih bergumul dengan pikirannya sendiri. "Siapa gadis ini? ada hubungan apa dengan Naruto?" itulah pertanyaan yang berkali-kali ada dibenaknya. Colekan kecil dari Sai membuat lamunan Hinata buyar.

"Oh, iya, senang bisa bertemu denganmu lagi," jawab Hinata singkat.

"Kenalkan namaku Haku," jawab gadis berambut hitam panjang itu dengan tatapan sedikit tak menyenangkan. Haku mengulurkan tangannya kepada Hinata dan mau tidak mau Hinata menjabat tangannya. "Lalu, siapa namamu?"

"Namaku Hyuga Hinata."

Haku adalah sosok gadis cantik yang menjadi idola semua pria di Jepang. Wajah imut dan tubuh seksinya menjadikan Haku sebagai Istri impian pria Jepang disebuah majalah nasional yang terkenal. Hinata merasa dirinya begitu kecil dan tak berarti, kenapa dia harus cemburu kepada artis ternama seperti Haku? Wajar saja jika Naruto menjalin hubungan dengannya. Dia cantik, menawan serta modis sedangkan dirinya biasa saja, berantakan dan hanya seorang office girl. Haku dan dirinya beda jauh. Hinata menggigit bibirnya ketika bola matanya tanpa sengaja melihat Haku menggandeng mesra tangan Naruto.

"Kenapa kau bisa mengenal mereka? Apa kau juga kenal baik dengan kekasihku, Naruto?" tanya Haku penasaran.

"Oh, itu… terlalu panjang jika di ceritakan," jawab Hinata dengan senyuman yang dipaksakan.

Ingin rasanya Hinata cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Naruto dari tadi melihat Hinata dengan tatapan penuh arti. Hinata segera mengalihkan pandangannya. Ia tak mau melihat Naruto, ia takut jika melihat Naruto air matanya tak tertahankan lagi. Hinata tidak mau melihatnya, sedangkan Sasuke dar tadi mengawasinya, Sasuke mengerti bagaimana perasaan Hinata. Kali ini Hinata ingin sekali berteriak dan menangis sepuasnya. Baru pertama kali ini, ia jatuh cinta, tetapi kenapa ia harus menglami hal seperti ini? Hinata menghela napas panjang mencoba menenangkan hatinya yang berontak. Ia berusaha mencari alasan bagaimana caranya agar ia bisa pergi dari ruang neraka ini. Tapi syukurlah ia mengingat janjinya dengan Toneri.

"Ehmm aku harus pergi, Toneri sudah menungguku," pamit Hinata.

"Toneri?" gumam Naruto.

"Hinata, tinggalah sebentar. Aku masih ingin berbincang denganmu," buju Shikamaru.

"Maaf aku harus bertemu dengan Toneri. Dia pasti sudah menungguku."

"Ada hubungan apa kau dengan Toneri?' tanya Sasuke penasaran namun Hinata tak menjawab. Gadis itu hanya membalas pertanyaan Sasuke dengan sebuah senyuman.

Hinata membungkukan badan. Tanpa sengaja kalung pemberian Naruto keluar dari kerah bajunya. Naruto sedikit terkejut melihatnya. Hinata segera memasukkan kalung itu dibalik baju Hinata kemudian keluar ruangan. Hinata terpaku di depan pintu, ia menunudukan kepala dan menangis. Rasa kecewa yang ia rasakan begitu dalam. Kenapa Naruto tidak mengatakan sebelumnya kalau dia punya pacar? Lalu kenapa Naruto memberi kalung ini untuknya? apa juga arti ciuman itu?

Hinata berpikir, mungkin dia saja yang bodoh karena beranggapan Naruto menykainya. Mana mungkin Naruto menyukai gadis biasa seperti dirinya. Jelas-jelas Haku jau lebih cantik dan seorang artis terkenal. Selangkah demi selangkah Hinata berjalan gontai. Entah mengapa rasanya hari ini berat sekali. Hinata terus berjalan sambil menghapus air matanya. Dia tidak tahu harus kemana.

Kakinya membawa dirinya ke atap gedung. Terpaan angin terasa begitu kencang atau kencangnya angin yang ia rasakan hanya karena dia yang tidak punya tenaga dan tidak sanggup menerima kenyataan ini. Hinata terus berjalan dan berjalan, kedua tangannya menggenggam sebuah benda, kalau maju selangkah lagi, dia pasti akan jatuh. Tiba-tiba seseorang menarik bajunya dan membuatnya jatuh.

"Hai, Kau ini mau mati ya? Kenapa kau berpikir untuk bunuh diri? Hidup hanya sekali gunakanlah waktu hidupmu dengan hal-hal yang bermanfaat," omel seorang pria yang bernama Toneri.

"Siapa yang akan bunuh diri?" tanya Hinata dengan wajah polosnya yang berusaha berdiri. Dasar orang ini. aku tidak punya pikiran untuk bunuh diri hanya karena seorang pria. Batinnya.

"Ehh, kalau bukan bunuh diri apa itu namanya?"

"Makanya jangan menyimpulkan sesuatu sembarangan. Aku hanya ingin membuang kalung ini." Hinata melepas kalung itu dari lehernya dan membuangnya begitu saja.

"Hei, Semua orang saat melihatmu seperti itu, pasti mereka berpikir kau akan bunuh diri. Lagipula aku melihatmu berjalan sambil menangis."

"Jadi kau mengikutiku?" tanya Hinata penasaran.

"Ah sudahlah. Sekarang kembalikan kaosku," perintah Toneri. Hinata melemparkan kaos itu kepadanya lalu pergi. "Apa-apaan ini? ini masih terlihat kotor. Assh gadis itu? Hei, kau ini mencucinya atau tidak? lihat kotor sekali."

"Kau ini cerewet sekali, seharusnya kau berterima kasih padaku?" teriak Hinata. Ia tidak peduli dengan Toneri. Yang terpenting ia sudah mencuci kaosnya.

"Siapa namamu?" teriak Toneri.

"Itu tidak penting. Aku akan bekerja dan satu hal, jangan suka berteriak padaku. Mengerti!"

ooOOoo

Dimalam yang sunyi, terlihat lima member FoxNine asyik bersantai di dorm mereka. Mereka bahagia karena malam ini tidak ada jadwal. Hal seperti ini jarang sekali mereka rasakan. Di ruang tamu Neji terbaring santai di sofa, sedangkan Sasuke dan Shikamaru asyik berbiasa Main Playstation. Sai dan Naruto duduk diam sembari melihat permainan Sasuke dan Shikamaru. Selama ini Shikamaru tak pernah menang melawan Sasuke. Dari dalam layar tim Shikamaru mulai mendekati gawang tim Sasuke.

"Shikamaru, tekan L1," perintah Sasuke.

"Apa? Memangnya kenapa?" tanya Shikamaru dengan wajah polosnya.

"Sudahlah ikuti saja apa yang aku katakan. Tekan L1". Alhasil Shikamaru mengikuti apa yang Sasuke katakan. Tiba-tiba bola lepas dari kaki pemain, jika ia tak mengikuti saran Sasuke, Shikamaru berhasil meraih satu gol. Karena kepolosannya, Sasuke dengan mudah merebut kembali bolanya.

"Hai, kau ini curang," protes Shikamaru.

"Ahahaha, kau saja yang terlalu polos," ejek Sasuke.

"Shikamaru, kau ini benar-benar bodoh," ucap Neji heran melihat tingkah polos Shikamaru.

"Oya, besok kita perform music station," ucap Sai sambil mengingatkan.

"Terus satu bulan setelah itu, kita di undang untuk menghadiri acara ulang tahun putri Presiden," sahut Naruto.

"Entah kenapa aku sedikt gugup," ujar Neji khawatir. Beberapa detik kemudian Ponsel Naruto berbunyi begitu keras. Ia sedikit malas mengangkat telfon itu. Ia bosan setiap hari harus menerima telfon dari Haku. Tapi mau tak mau ia harus mengangkatnya daripada harus mendengar kecerewetan Haku.

"Halo, iya ada apa? untuk apa kau datang kesini? tidak usah, kami sudah makan-terserah kau saja." Naruto menutup telfonnya begitu saja dengan perasaan jengkel.

"Siapa, Haku?" tanya Neji, Naruto pun mengangguk. "Jujur aku tidak begitu suka dengan gadis itu."

"Aku juga, kenapa kau bisa pacaran dengannya? aku pikir kau mecintai Hinata," Shikamaru bersusah payah mengeluarkan pendapatnya sambil bermain playstation.

"Dia akan kesini?" tanya Sai.

"Iya, katanya dia membawa bekal makan malam untuk kita."

"Naruto, kau ini sebenarnya mencintai Hinata atau Haku? Benar apa kata Shikamaru, kita semua mengira kalau kau mencintai Hinata. Karena saat kita masih dirumahnya, kau sngat perhatian pada Hinata. Dan bolehkah aku jujur padamu?" Sasuke terus berbicara tapi matanya masih focus dengan permainannya.

"Apa?" tanya Naruto penasaran.

"Malam sebelum kita pulang, aku melihat kau menciumnya," ucap Sasuke datar.

"Apa?! yang benar saja?!" Neji tampak Shock dan bangun dari posisi tidurnya.

"Apa itu benar Naruto?" Sai juga tampak tak percaya.

"Naruto, apa kau mencintai Hinata ?" tanya Shikamaru penasaran.

"Aku memang mencintainya," jawab Naruto dengan ekspresi sedih.

"Jika kau mencintai Hinata, kenapa kau berpacaran dengan Haku?" tanya Sai bingung.

"Ada alasan besar kenapa aku harus pacaran dengannya."

"Alasan apa?" tanya Sasuke.

"Halo apa kabar?" sapa Haku tiba-tiba.

Gadis itu bisa sesuka hatinya datang ke dorm FoxNine. Dia mengetahui password dorm mereka. Selain itu, Haku adalah artis kesayangan K.H Entertaiment setelah FoxNine. Kepopulerannya membuat Direktur K.H entertainment bernama Jiraiya selalu memanjakan Haku dan menuruti semua keinginannya. Terlebih lagi Haku adalah putri kandungnya. Neji, Tatsuya, Naruto, Sai dan Sasuke khawatir apakah Haku mendengar percakapan mereka? Mereka semua berharap Haku tidak mendengarnya. Haku berjalan menuju ke arah mereka penuh dengan senyuman. Ia menata bekal makanan yang dia bawa.

"Aku membawakan bekal untuk kalian, aku harap kalian suka." Neji, Sai, Shikamaru, Naruto dan Sasuke memgawasi Haku penuh perasaan was-was. Haku merasa pandangan mereka begitu aneh. "Kenapa kalian memandangku seperti itu?"

"Apa kau mendengar pembicraan kami?" tanya Shikamaru polos. Dasar Shikamaru bodoh kenapa dia bertanya seperti itu, gerutu Naruto.

"Pembicaraan apa?" Haku bertanya balik kepada Shikamaru dengan wajah polos sembari menata bekal yang di bawanya. Semua terdiam dan tak ada satu pun yang menjawab.

"Ah, Haku, suapin aku..aaa….'. Naruto membuka mulutnya. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Haku tersenyum senang melihat Naruto bertingkah manja kepadanya. Tanpa berat hati, Haku menyuapi Naruto dengan penuh kasih sayang.

"Wuah, masakanmu sepertinya enak sekali. Apa kau juga memasak ayam?" tanya Neji tak tahu malu.

"Hei, Neji, kau ini, bukannya berterima kasih kepada Haku tapi malah mencari ayam. Kau memang penggila ayam level dewa."

"Hanya orang bodoh yang tidak menyukai ayam," sahut Neji.

Mereka semua memakan bekal makanan buatan Haku dengan lahap. Sebenarnya Naruto berbohong, mereka belum makan malam. Ia hanya tidak ingin Haku datang ke dorm mereka. Selama lima member FoxNine makan, Haku terdiam dan memikirkan sesuatu.

ooOOoo

"Aku pulang dulu. Permisi, sampai jumpa," ucap Haku ramah dan melambaikan tangannya.

"Hati-hati di jalan," ucap Sai ramah, sedangkan Naruto hanya melihat Haku tanpa ekspresi.

"Tentu." Senyum Haku di paksakan. Pintu dorm FoxNine tertutup tapi Haku masih berdiri dan tak beranjak pergi. "Ternyata Naruto mencintai Hinata. Pantas saja Naruto sama sekali tak tertarik padaku. Memang apa istimewanya gadis itu?"

Tanpa sengaja Haku mendengar pembicaraan mereka. Sebenarnya Haku sudah mendengar percakapan mereka semuanya. Namun dia pura-pura diam dan tidak tahu apa-apa. Dia tak mengerti kenapa Naruto bisa mencintai gadis seperti Hinata. Dasar Naruto bodoh batinnya.

ooOOoo

Hari demi hari mereka lewati. Baik FoxNine maupun Hinata dan lainnya sibuk dengan urusan masing-masing. Sejak awal comeback, jadwal FoxNine lebih padat daripada sebelumnya. Sering kali Hinata melihat Naruto bersama yang lainn. Tapi dia selalu bersembunyi jika mereka akan berpapasan dengannya. Hatinya masih terasa sakit, terkadang ia menangis jika mengingat Naruto dan Haku. Walaupun pikirannya kalut, Hinata masih melakukan pekerjaannya secara professional. Mengepel lantai adalah makananya sehari-hari, terkadang Hinata merasa bosan dengan pekerjaannya ini. Dari kejauhan Hinata melihat Toneri berlari. Pria itu menarik Hinata dan membawanya ke sebuah ruang kecil yang berada dibawah tangga. Hinata memberontak, bahkan berteriak.

"Hei, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku," teriak Hinata.

"Aku mohon diamlah," ucap Toneri memohon.

"Lepaskan aku!" Hinata tak peduli, ia terus berteriak.

Toneri terpaksa membekap mulut Hinata. Namun usahanya sia-sia, Hinata menggigit Jari telunjuk Toneri. Pria berambut putih itu kesakitan dan mengibas-ngibaskan tangannya. Tak puas dengan itu, Hinata masih saja berteriak. Ini sudah tak bisa ditolelir lagi, Toneri membekap Hinata dengan cara lain, membekap mulut Hinata dengan bibirnya. Cara ini berhasil, Hinata tak lagi bergerak dan berteriak. Ia tampak shock. Tubuhnya sedikit terasa lemas. Jantungnya pun berdegup kencang.

"Hah, akhirnya kau diam juga," ucap Toneri enteng. Hinata masih tak bergerak. Matanya hanya berkedip beberapa kali. "Apa nenek sihir itu sudah pergi?" Toneri sedikit membuka pintu dan mengintip keadaan sekitar. Aman, gadis yang bernama Kurosutchi itu telah pergi.

"Kyaaaaaaa!" Hinata tiba-tiba berteriak kencang, ia memukuli Toneri bertubi-tubi. Bahkan ia juga menggigit dua jari Toneri.

"Hai, apa yang kau lakukan!" ucap Toneri gusar.

ooOOoo

At Music Station.

Semua member FoxNine sibuk dimake up oleh make up artis masing-masing. Naruto terlihat semakin tampan dengan berpaduan merah dan hitam pada pakaiannya. Selain FoxNine, banyak band dan penyanyi yang perform. Kemanapun FoxNine pergi disana pasti ada Haku. Bahkan beberapa wartawan mengikuti dan mewancarai Haku saat menemani Naruto. Wartawan itu selalu bertanya perihal kehidupan pribadinya. Namun seperti biasa, ia tak peduli dengan Haku.

"Naruto, apa kau tidak merasa gugup? entah mengapa aku gugup sekali," ucap Shikamaru.

"Hei, Shikamaru, kita sudah sering tampil di Music Station. Kau ini ada-ada aja," celetuk Naruto.

"Aku, juga tidak tahu, sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi padaku."

"Sebentar lagi giliran kita, kalian cepatlah," perintah Neji yang sibuk dengan ponselnya.

"Oh, apa kita akan diiringi oleh dancer, karena aku dengar dari Manajer ada dancer yang mengiringi kita di panggung."

"Benarkah itu bagus. Agar penampilan kita lebih berwarna."

"Kalian, cepat siap-siap di belakang panggung. Ayo cepat," perintah manajer tiba-tiba.

Kelima member FoxNine bergegas menuju panggung. Tak jauh dari mereka, ada beberapa dancer yang sudah siap mengiringi mereka. Ada sekitar 5 dancer dua cewek dan tiga cowok. Mereka memakai kostum yang warnanya serba hitam. Maklumlah di susun seperti judul lagu yang FoxNine bawakan. Sekarang FoxNine dan dancer itu berdiri beriringan. Shikamaru memperhatikan satu-persatu wajah para Dancernya. Shikamaru tampak terkejut ketika melihat seorang gadis yang lagi sibuk membenahi kostumnya.

Temari merasa gugup tak hanya itu, jantungnya berdetak abnormal. Terlalu cepat jantungnya bergerak. Ini adalah penampilan pertamanya di TV Nasional. Tidak hanya itu, Temari tahu jika hari ini adalah hari dimana ia harus menjadi penari pengiring band FoxNine. Tentunya ia akan bertemu dengan Shikamaru, lelaki pujaan hatinya. Temari tak tahu apa yang harus ia bicarakan jika ia bertemu dengan Shikamaru.

"Temari,"suasana yang ramai berubah Hening.

"Shikamaru?" mata Temari melihat semua member FoxNine yang lain.

"Astaga, Temari ternyata kau ,"ujar Sai tak percaya.

Belum selesai Sai berbicara, MC sudah memanggil nama mereka. Kelima member FoxNine mulai naik ke atas panggung. Shikamaru berjalan mengikuti temannya namun matanya tak bisa lepas dari Temari. Kali ini lagu yang dibawakan FoxNine adalah lagu terbaru mereka yang berjudul "Smile" musiknya yang begitu catchy dan easy listening membuat lagu ini memuncaki Oricorn Chart. Shikamaru tak begitu fokus, matanya terus melihat Temari. Walaupun begitu, Shikamaru tak pernah salah memainkan kunci gitarnya. Shikamaru jauh lebih semangat di atas panggung karena ada Temari di sisinya. Temari juga begitu bahagia bisa bertemu dengan Shikamaru. Gadis itu menari sambil menangis karena terharu. Ternyata Tuhan mengabulkan doanya selama ini.

ooOOoo

Usai penampilan mereka, Temari dan Shikamaru duduk berdua di suatu tempat yang agak jauh dengan keramaian namun masih disekitar studio. Kecanggungan begitu terasa diantara mereka. Shikamaru membawakan sebuah minuman kaleng rasa jeruk kepada gadis pujaannya. Shikamaru mendekatkan posisi duduknya. Temari tersipu malu melihat tingkah Shikamaru. Untuk menghilangkan panas di tubuhnya karena api asmara, ia meminum habis minuman kaleng pemerian Shikamari sekali teguk.

"Ah, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Temari, apa kau tahu seberapa besar aku merindukanmu?" Temari tak percaya Shikamaru mengatakan hal seperti itu padanya. "Apa kau juga merindukanku?"

Temari tak bisa mengatakan apapun karena terlalu shock. Ternyata rasa rindu ini bukan ia pikul sendirian tapi Shikamaru juga merasakan hal yang sama. Seperti di Negeri dongeng, seorang pangeran tampan dan terkenal mengucapkan kata rindu padanya. Temari tersenyum kecil sambil membenarkan rambutnya. Temari mengangguk pelan, tanda kalau dia juga merindukan Shikamaru.

"Maaf, dulu aku berbohong tentang jati diriku padamu."

"Aku tidak masalah dan mengerti," ucap Temari. Shikamaru terus memandang Temari. Hah, ingin sekali ia memeluk gadis dihadapannya. Dia begitu cantik dan menggemaskan jika sifat malunya keluar.

"Hah, aku tidak mau menundanya lagi. Kesempatan tidak datang dua kali, dan jujur aku menyesal tidak mengatakan padamu sebelum aku kembali ke Tokyo."

"Apa itu?" tanya Temari penasaran.

"Aku mencintaimu," ucap Shikamaru.

"A… apa?"

"Aku mencintaimu, apa kau tidak mengerti?"

Lagi-lagi Temari tak menjawab ungkapan hati Shikamaru. Mungkin Temari tak yakin dengan ucpannya. Shikamaru meraih kepala Temari dan mendekatkan ke arahnya. Ia mengecup lembut bibir Temari dengan segenap perasaannya. Ini diluar dugaan Temari, ia tak membayangkan seperti ini akan terjadi. Temari seakan melayang ke langit ketujuh. Perlahan Temari memejamkan matanya, ia pun membalas ciuman Shikamaru seperti ia membalas hati Shikamaru.

ooOOoo

Usai perform FoxNine, Neji, Sai, Naruto, Sasuke kembali lagi ke ruangan mereka. Kecuali Shikamaru yang pergi begitu saja. Naruto asyik minum teh, Sasuke tertidur diatas Sofa. Sedangkan Sai asyik bercanda dengan salah satu wanita yang ada di ruang itu. Neji merasa bosan, ia membuka sebuah majalah fashion terbaru yang ada dihadapannya. Mata Neji tanpa sengaja seorang model yang ada dalam majalah itu.

"Tenten….?" kata Neji.

Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Neji mencari-cari sesuatu di dalam artikel itu. Ternyata photographer yang majalah ini adalah photographer yang selalu menangani pemotretan band FoxNine. Neji menutup majalahnya dan pergi. Ia bahagia, akhirnya ia bisa bertemu dengan Tenten. Ia tak mau membendung perasaannya terlalu lama. Ia menyesal tidak mengatakan hal itu sebelumnya. Jika perasaan ini terus terpendam dihati maka semua itu akan terasa begitu sakit.

"Neji, kau mau kemana?" tanya Naruto.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kemana manajer?" tanya Neji terlihat gugup.

"Ada di lu….". ucap Naruto sambil menunjuk pintu.

"Terima kasih," Neji langsung pergi dan mencari manajernya. Tak lama ia menemukan manajernya berbincang dengan seseorang. "Manajer, bolehkah aku pinjam kunci mobilmu?"

"Ini, memangnya ada apa? " katanya sambil melihatkan kunci itu kepada Neji. Neji mengambil kunci itu begitu saja.

"Aku pinjam sebentar".

"Hei, Neji kau mau kemana?!"

Teriakan manajer tak membuatnya bergeming. Ia terus berlari, di pikirannya hanya ada Tenten. Ia tak peduli jika manajer marah padanya. Neji akan pergi ke sebuah studio pemotretan. Ia menambah laju kecepatan mobilnya. Batinnya bergemuruh, jantungnya berpacu cepat. Tak pernah Neji merasakan hal seperti ini sebelumnya. Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga puluh menit sampailah ia disebuah studio pemotretan. Studio berlantai dua ini tampak ramai. Seberapapun anak tangga yang menghalangi langkahnya, Neji tidak menyerah. Saat ia tiba di studio utama, dari jauh ia melihat sosok Tenten yang berpose layaknya putri cantik. Ia tak langsung memanggil Tenten karena ia belum istirahat. Saat istirahat tiba, Neji memberanikan diri untuk menyapa dan mendekati Tenten.

"Tenten!" nadsanya sedikit ragu.

"Neji?" pekik Tenten tak percaya

ooOOoo

Neji mengajak Tenten ke sebuah tempat yang sepi. Ia mengajak Tenten ke sebuah terowongan cahaya yang sering disebut Nabana No Sato. Terowongan ini dihiasi oleh ribuan lampu kecil bercahaya kekuningan. Banyak muda mudi yang datang kemari, karena menurut mereka tempat ini adalah tempat yang paling romantis. Untunglah tidak ada pengunjung hari ini. Di lihat dari raut wajahnya, Tenten terlihat begitu bahagia. Mereka berdua menyusuri terowongan penuh dengan perasaan berbunga-bunga, Sesekali Neji melirik Tenten, lalu kemudian tersenyum. Neji meraih tangan kiri Tenten dan mengenggamnya. Sontak hal ini membuat Tenten terkejut. Wajah putihnya semakin memerah karena malu. Dadanya terasa hangat dan sedikit nyeri

"Neji, darimana kau tahu aku ada di Tokyo?" tanya Tenten mencoba membuka pembicaraan.

"Tadi aku tidak sengaja membaca sebuah majala. Disana melihat fotomu. Ketika aku melihat nama photographernya, ternyata photographer yang memotretmu adalah photographer yang menangani FoxNine disetiap pemotretan. Awalnya aku hanya ingin meminta alamatmu. Tapi ternyata kau sudah ada disana.".

"Oh, jadi seperti itu. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu."

"Benarkah," tanya Neji senang. Mereka berdua tersenyum malu lalu diam sejenak.

"Tenten," "Neji," Panggil mereka bersamaan.

"Ah, kau dulu yang bicara," pinta Neji.

"Tidak, kau dulu," tolak Tenten sembari tersipu malu.

"Sebelumnya aku minta maaf telah menyembunyikan identitasku padamu sebelumnya. Dan aku ingin mengatakan hal yang ingin aku katakan. Aku tak mau menyesal dua kalu. Tenten dengarkan aku baik-baik," Neji menarik nafas panjang, ia memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya. "Aku mencintaimu."

"Apa?" Tenten tak percaya dengan apa yang ia dengar. Neji mencintainya benarkah itu. Tenten terpaku, ia masih tak percaya.

Cup, Neji mencium bibir Tenten. Secepat kiliat Neji bergerak sehingga Tenten tak meyadari apa yang akan dilakukan Neji padanya. Gadis dengan dua cepol itu terbelalak, ia tak percaya seorang public figure dan menjadi pujaan para wanita di Tokyo menciumnya dengan penuh kasih. Sesaat Neji melepaskan ciumannya.

"Apa kau bisa merasakannya?" tanya Neji dengan wajah memerah.

Tenten tak menjawab, ia melihat Neji begitu dalam. Pria tampan ini benar-benar membuatnya gila. Selama enam bulan terakhir batinnya tersiksa dan sekarang tiba-tiba pria ini menagatakan mencintainya bahkan menciumnya. Iya Tenten tak mau jual mahal, karena dia juga mencintai pria ini. Tenten merangkul leher Neji. Kakinya sedikit berjinjit, sesaat kemudian ia mencium bibir Neji. Ciuman Tenten lebih liar dibandingkan ciuman Neji. Sekarang pria tampan itu tahu jika Tenten juga mencintainya. Ribuan lampu di terowongan Nabana No Sato menjadi saksi kisah cinta mereka. Ciuman itu adalah jawaban dari Tenten.

oooOOoo

Di sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk rekaman, terlihat seorang gadis yang memperban dua jari seorang pria berambut putih. Jari Toneri terluka parah karena ulah Hinata. Hinata memperban tangan Toneri setengah hati. Toneri adalah pria paling menyebalkan yang pernah ia temui. Kebenciannya semakin membara karena seenaknya saja pria ini menciumanya. Memang siapa dia? Pacar bukan. Kalau bukan seorang penyanyi, pasti sudah Hinata habisi.

"Hei, pelan-pelan. Kau mau aku melaporkanmu atas tuduhan penganiayaan," ucap Toneri seenaknya.

"Apa, setelah menciumku kau sekarang mengancamku? Hah benar-benar tak bisa dipercaya. Pria macam apa kau ini. Kalau bukan seorang artis, aku pasti sudah membuatmu babak belur," ancam balik Hinata.

"Sugoi, kau benar-benar tipe wanita idolaku," ucap Toneri polos.

"Dasar pria gila," gumam Hinata.

"Apa kau bilang? Hei kau sudah membuatku terluka seharusnya kau meminta maaf padaku bukan malah memaki. Lihat, jariku ini asset berharga untuk K.H entertainment. Petikan melankolis gitar dariku membuat semua wanita tergila-gila padaku. Walaupun aku penyanyi solo, tapi aku selalu memainkan gitar saat perform. Kau sudah menghancurkan asset berharga perusahaan ini."

"Lalu apa yang kau inginkan dariku?!" teriak tak bisa sabar menghadapi Toneri.

"Mulai besok kau harus menjadi asisten pribadiku."

"Apa? Aku tidak mau."

"Kalau begitu aku akan melaporkanmu ke polisi. Apa kau tak tahu bagaimana menyeramkannya fansku?"

"Baiklah!"

"Kalau begitu lanjutkan perbannya," ucap Toneri sambil tersenyum senang.

ooOOoo

Dari music station, Naruto tak langsung pulang ke dorm. Ia mengambil buku yang berisi karangan lagunya di tempat rekaman. Namun dari kejauhan ia mendengar suara perempuan dan seorang pria. Mereka sepertinya bertengkar. Naruto mengintip ruang rekaman dari balik pintu. Mata safirnya menangkap sosok Hinata dengan Toneri. Ia juga melihat Hinata memperban tangan Toneri yang terluka. Banyak pertanyaan yang bersemayam dipikirannya. Sebenarnya sejauh mana hubungan mereka? Sejak kapan mereka saling mengenal? Naruto mengurungkan niatnya untuk mengambil buku. Ia kemudian berbalik keluar. Melihat Hinata dan Toneri hatinya begitu sakit. Ia sudah tak tahan, ia ingin tahu ada hubungan apa mereka sebenarnya. Naruto menunggu Hinata diluar gedung. Ia ingin memastikan sesuatu. Lima belas menit kemudian Hinata keluar dari gedung. Naruto mendekat dan memanggilnya pelan.

"Hinata," panggil Naruto.

"Naruto?"

TO BE CONTINUE