"APAAAAA! Hei kenapa tiba-tiba begini?! Kenapa tidak aku saja!"

"Entahlah, jadi kau tak bisa melanggar perjanjian kontrak itu. jika kau melanggar, bibimu akan di penjara. Oh ya ada lagi, ada adegan ciuman antara kau dan aku nanti. Jadi persiapkan dirimu," ucap Toneri tanpa merasa bersalah lalu pergi begitu saja dengan ekspresi puas.

"APA, ADEGAN CIUMAN?! AKU TIDAK MAU! HEI TONERI KEMARI KAU, DASAR BRENGSEK!" Teriak Hinata mencoba meluapkan amarah..

.

.

FIVE'S LOVE STORY

Genre : Romance, Drama, Friendship

Pair : NaruHina, SasuSaku, SaiIno, ShikaTema, NejiTen

.

.

.

.

Maaf FF ini menunjukan ke OOC'an karakter mereka sebenarnya. FF ini bukan FF barru, FF yang aku tulis selama beberapa tahun yang lalu dan alhamdulilah FF ini sudah tamat di Laptop. Insyallah FF ini tidak gantung.

HAPPY READING

.

Siang berlalu menjadi malam. Sinar matahari sudah enggan untuk menampakkan kegagahan sinarnya. Sepanjang perjalanan pulang, Hinata uring-uringan. Toneri beberapa kali berteriak kepadanya karena Hinata menyetir dengan ugal-ugalan. Lihat betapa menderitanya Hinata selama bersama Toneri, entah kenapa pula Toneri selalu mencari gara-gara dengannya. Sekarang pria itu seenaknya saja menjadikan dia sebagai model MV-nya tanpa ijin terlebih dahulu. Memang siapa dia? Kenapa semena-mena terhadapnya?

"Kenapa kau menyetir dengan cara seperti ini? kau mau membunuhku?"

"Iya, aku akan membunuhmu!" teriak Hinata sekeras-kerasnya.

Hinata tak peduli jika Toneri ketakutan. Tingkah Toneri benar-benar berlebihan dan selalu menindasnya. Sesampainya di depan apartemen Toneri, Hinata keluar dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun. Untuk apa dia berpamitan dengan pria menyebalkan seperti Toneri. Hinata meinggalkan Toneri begitu saja di tempat parker apartemen. Ingin sekali Hinata pergi sejauh-jauhnya dari negara ini. Dia ingin hidup di tempat yang nyaman dan damai.

"Hei, Hinata jangan lupa besok kita syuting MV," teriak Toneri dari jauh.

Hinata enggan mendengarkan ocehan Toner yang tak bermanfaat. Terserah pria beruban itu mau mengoceh apapun karena bisa dipastikan besok Hinata tidak akan datang. Hinata hanya mengangkat tangannya dan menunjukan jari tengahnya kepada Toneri. Sontak hal itu mendapat reaksi keras dari Toneri. Pria itu berteriak memanggil Hinata bahkan sesekali mengumpat.

oooOOoo

Dorm FoxNine tampak ramai dengan kehadiran kelima anggota Malam ini mereka tak ada jadwal, Setidaknya hari ini mereka bisa bersantai sejenak dirumah. Kelima anggota FoxNine asyik melahap makan malamnya yang begitu sederhana yaitu ramen. Ini adalah makanan favorit Naruto sepanjang massa. Bahkan makanan mahal ala eropa kalah enaknya dengan ramen buatan paman Ichiraku langganannya. Ketika semua anggota FoxNine kenyang dengan satu mangkok ramen namun tidak dengan Naruto. Ia sekarang menghabiskan mangkok ketiganya. Semua anggota FoxNine menatap Naruto tak percaya.

"Hei Naruto, apa kau sudah gila? apa kau berniat menghabiskan sepuluh mangkok mie ramen?" tanya Sai heran. Naruto tak menjawab, ia asyik dengan makanannya.

"Apa kau seperti ini karena frustasi melihat kedekatan Hinata dan Toneri?" tanya Sasuke asal. Sontak ekspresi Naruto berubah setelah mendengar nama Toneri. Hatinya bergemuruh seakan tubuhnya memanas karena api cemburu.

"Hah, aku benci sekali pria itu," ucap Naruto emosi.

"Kau ini sebenarnya menyukai siapa? Hinata atau Haku?" tanya Neji bingung.

"Sudah aku bilang aku mencintai Hinata," jawab Naruto.

"Kalau begitu kenapa kau tidak mengungkapkan perasaanmu?" sekarang giliran Shikamaru yang bertanya. Naruto diam sejenak dan menghela nafas.

"Aku sudah berniat mengungkapkan perasaanku sebenarnya tapi aku kecewa karena Hinata membuang kalung pemberianku. Waktu kita masih di desa terpencil, aku menyisihkan uang kerjaku hanya untuk membeli kalung itu padanya. Tapi dia membuangnya begitu saja," jelas Naruto panjang lebar.

"Jadi kau marah dan kecewa pada Hinata. Pada akhirnya kau tak mengajaknya bicara selama satu bulan ini? kekanak-kanakkan sekali kau ini," omel Neji.

"Membeli kalung itu penuh perjuangan. Selain itu aku juga berusaha melindungi kalian. Aku tak mau kalian terlibat dan aku juga tak mau FoxNine bubar begitu saja," ucap Naruto.

"Melindungi kami? Apa maksudmu?" tanya Sai.

"Hah baiklah aku akan memberi tahu kalian, aku juga tidak tahan memendamnya sendiri," ucap Naruto. Sasuke, Sai, Shikamaru dan Neji. Duduk melingkar, mereka melebarkan telinganya masing-masing. Mendengarkan secara seksama setiap kata yang keluar dari mulut Naruto.

"APA?!" ucap keempat anggota FoxNine secara bersamaan.

"Aku tak menyangka Haku selicik itu demi mendapatkan dirimu Naruto," ucap Sasuke tak percaya.

"Tapi bagaimana bisa hal seperti itu terjadi? Ini benar-benar rumit," gerutu Shikamaru.

"Dia mengancam akan melihatkan hal itu kepada Jiraiya dan membeberkan ke media. Kau tahu sendiri Jiraiya adalah ayah Haku. Kalian tahu sendiri kan, kalau dia sangat menyayangi Haku. Siapa yang menyakiti putrinya maka tamatlah riwayatnya. Aku yakin dia tak segan-segan mendepak kita dari agensi," jelas Naruto.

"Kenapa kau tidak menghapusnya atau menghilangkannya saja?" celetuk Sai dengan wajah polos. Semua keempat member FoxNine menatap Sai dengan wajah berbinar.

"Hah benar sekali, kita harus menghilangkan jejaknya. Tapi bagaimana caranya?" tanya Sasuke.

"Kita pikirkan nanti dan mengatur strategi mulai sekarang," ucap Shikamaru.

Alunan lagu Shayne Wards – Breathless tiba-tiba menggema. Sai, Naruto, Sasuke, Shikamaru menatap Neji tajam. Siapa lagi kalau bukan suara ponsel Neji. Neji merogoh ponselnya disaku hoodienya. Senyum mengembang dibibir pria berambut panjang itu. Ekspresi ini selalu ia tunjukkan setiap Tenten menghubunginya. Neji terus saja tersenyum sembari membalas pesan singkat dari Tenten.

"Neji kau bertingkah kekanak-kanakkan setiap kali Tenten menghubungimu," ledek Naruto.

"Tidak, aku pikrr ini hal wajar," sanggah Neji.

"Hah sejak kalian memiliki kekasih, tingkah kalian berubah kekanak-kanakkan. Kalian tidak asyik lagi. Sibuk dengan perempuan-perempuan itu. Terkadang kau lebih mementingkan kekasih kalian daripada aku," protes Naruto kepada keempat sahabatnya.

"Ajak saja Haku pergi," ucap Sai enteng.

"Mana mungkin aku mengajaknya. Aku tidak mencintainya dan sangat membencinya. Kalau tidak karena terpaksa aku tidak akan pura-pura pacaran dengannya."

"Kami janji akan membantumu memecahkan masalah ini," ucap Shikamaru.

"Kalau kau tidak mau kesepian, kejarlah Hinata. Hilangkan egomu itu," saran Sai.

"Ahh benar aku baru ingat. Saat tadi pagi aku pergi ke kantor agensi, tanpa sengaja aku mendengat pembicaraan manajer Toneri dengan bibi Hinata, Mereka membicarakan kontrak, karena penasaran aku menguping pembicaraan mereka. Ternyata Hinata akan menjadi model MV baru Toneri. Parahnya lagi, ada kiss scene diantara mereka," jelas Shikamaru panjang lebar.

"Apa, adegan ciuman?!" tanya Naruto yang tampak shock. Shikamaru mengangguk.

"Naruto cegahlah Hinata," ujar Neji.

"Untuk apa? dia tidak lagi peduli padaku. Lihat, dia membuang begitu saja kalung pemberianku. Entah apapun yang dilakukannya dengan Toneri aku tidak peduli," ucap Naruto emosi lalu berjalan pergi menuju kamarnya.

"Lokasi shooting pembuatan MV baru Toneri di Pantai Nishihama. Mereka akan berangkat dari kantor agensi jam empat pagi," teriak Shikamaru. Naruto tak menjawab, hanya terdengar suara gebrakan pintu yang begitu keras.

"Ashhh, anak itu keras kepala sekali," gerutu Sai,

ooOOoo

"Bibi…. Bibi," teriak Hinata sesampainya dirumah. Hinata perlu mengkonfirmasi ini, apakah benar bibinya yang tanda tangan surat kontrak itu. Bibi Haruka bergegas keluar mendengar teriakan Hinata. Ia begitu terkejut karena sebelumnya Hinata tak pernah seperti ini.

"Ada apa Hinata? Kenapa kau berteriak?" tanya bibi Haruka bingung.

"Apa benar bibi yang menandatangani kontrak dengan manajer Toneri?" tanya Hinata dengan wajah frustasi.

"Oh itu, iya aku yang menandatangani kontrak itu. Hinata kau sebentar lagi akan menjadi model dari artis tampan dan terkenal seperti Toneri. Pekerjaan ini jauh lebih baik daripada kau menjadi seorang asisten. Benarkan?" ucap bibi Haruka dengan wajah yang berbinar.

"Aaaah, bibi kenapa kau menandatangani kontrak itu?" Hinata merengek dilantai. Ia menggesek-gesekkan kedua kakinya diatas lantai. Matanya berkaca-kaca. "Seharusnya bibi bertanya dulu padaku?"

"Kenapa, apa yang salah? Bukankah ini kesempatan bagus untukmu? Besok kan, pembuatan MVnya?"

Mendengar ucapan dari bibinya membuat tanngisan Hinata pecah. Ia semakin meraung-raung. Dia begitu benci dengan segala macam yang berkaitan dengan Toneri. Pria beruban itu membuat hidupnya bertambah berat. Awal kedatangannya ke Tokyo dengan harapan akan bahagia bersama Naruto tapi takdir Tuhan berkata lain. Dia malah menderita bersama Toneri.

ooOOoo

Sinar bulan menembus kamar Naruto dan keempat member FoxNine. Jam menunjukan pukul setengah empat pagi. Naruto mengendap-endap, ia mengambil jaket di dalam lemari. Naruto berusaha sepelan mungkin menutup lemari. Ia tak mau membuat kebisingan dan membuat keempat temannya bangun. Suasana kamar begitu gelap, Naruto juga tak mau menyalakan cahaya. Lagi-lagi ia takut temannya terbangun.

Glodak

Tanpa sengaja Naruto menyenggol sebuah botol mineral yang terletak diatas meja. Naruto tampak shock, ia mencoba tak bergerak selama beberapa detik. Matanya melirik keempat temannya. Ia menahan nafas ketika mengetahui Sasuke bergerak membenarkan selimutnya. Ia lega ketika melihat Sasuke tertidur kembali. Naruto semakin memantapkan langkahnya menuju agensi. Shikamaru mengatakan bahwa mereka berangkat dari kantor agensi bersama para staf. Dari bawah selimut Sasuke terseyum lebar melihat tingkah sahabatnya yang seperti maling. Mengendap-endap di dorm sendiri.

"Dasar Naruto bodoh," ucap Sasuke sambil tersenyum.

ooOOoo

Naruto mengendarai mobilnya dengan perasaan yang campur aduk. Antara marah, cemburu dan kesal. Ia tak terima jika Toneri benar-benar mencium Hinata dan ia tak akan tinggal diam. Benar kata Sai, ia harus menghilangkan egonya dan menghilangkan rasa kecewa pada Hinata. Jika ia seperti ini terus, kemungkinan besar Hinata akan menjadi milik orang lain. Masalah Haku, bisa ia urus belakangan. Cinta yang ia rasakan itu lebih penting daripada emosinya. Sesampainya di dekat kantor agensi, Naruto menghentikan mobilnya dari jarak jauh dan memantau mereka dari sana. Dari kejauhan ia melihat Hinata berdiri diantara hiruk pikuk para staf. Hinata tampak kedinginan, gadis itu mengusap-usapkan kedua telapak tangan ke bahunya. Naruto merasa kasihan melihat Hinata seperti itu, ingin sekali ia memeluk gadis itu serta memberinya kehangatan. Lamunannya buyar ketika melihat Toneri mendekati Hinata. Pria berambut putih itu meletakkan jaket tebalnya ke pundak Hinata. Naruto kembali uring-uringan.

"Apa-apaaan dia itu? caranya menggaet wanita kuno sekali," gerutu Naruto.

Sepuluh menit berlalu para staf dan yang lainnya mulai berangkat menuju pantai Nishima. Pantai ini adalah salah satu pantai terindah di Jepang. Pasir putihnya yang luas, warna lautnya yang biru kehijauan serta ombaknya yang indah membuat pantai ini menjadi salah satu tempat rekerasi alam favorit di Jepang. Naruto membuntuti mereka dari jarak sepuluh meter. Ia tak ingin kepergok disaat seperti ini, itu pasti memalukan. Dua jam berlalu, sampailah mereka di pantai Nishihima yang menawan dan mempesona. Naruto puas karena misi menguntitnya tidak ada yang tahu. Sekarang ia akan melakukan strategi selanjutnya. Bagaimanapun caranya ia harus menggagalkan adengan ciuman itu.

Para staf, sutradara, make up artis dan kameramen sibuk menata setting video klip yang sudah mereka rencanakan. Mereka bekerja dengan giat, sedangkan Naruto sibuk mengintip kegiatan mereka dibalik semak-semak. Kaca mata hitam serta slayer panjang yang menutupi kepalanya membuat penampilan Naruto begitu aneh bahkan terkesan seperti pria mesum pencuri celana dalam. Hinata tampak begitu cantik dengan rambut yang sedikit bergelombang, bergaun putih, serta bando bunga krisan yang melingkar dikepalanya. Hari ini Hinata begitu sempurna. Kisah dari cerita MV Toneri adalah seorang pria yang melamar kekasihnya kemudian melaksanakan pernikahan di tepi pantai. Beruntung sekali Toneri, ia begitu iri bahkan cemburu berat pada seniornya itu.

Beberapa lama kemudian, shooting dimulai. Naruto menjalankan strategi keduanya. Ia berpura-pura berlibur ke pantai Nishihima seorang diri dan nanti tanpa sengaja dia melewati proses pengambilan video klip. Dengan rambut yang mencolok seperti itu anggota staf pasti menyadari kehadirannya dan mengenalnya sekali lihat. Ternyata strateginya berjalan dengan mulus, salah satu staf memanggilnya.

"Naruto-san," teriak salah satu staf. Naruto tersenyum puas, ia kemudian beracting pura-pura tak tahu keberadaan mereka. Semua orang, khususnya Hinata terkejut melihat kedatangan Naruto yang tiba-tiba.

"Sedang apa kau disini Naruto?" tanya Toneri ramah.

"Aku ingin berlibur sejenak karena terlalu stress menjalankan pekerjaan," jawab Naruto tak kalah ramah.

"Dimana anggota FoxNine yang lain?"

"Mereka tidak ikut. Biasa karena mereka malas bangun pagi. Apa aku boleh bergabung dengan kalian. Rasanya tidak enak jika aku sendirian disini. Boleh kan aku melihat proses pembuatan MV Toneri-san?" tanya Naruto dengan tampang polosnya.

"Tentu saja, duduklah." Toneri mempersilahkan Naruto duduk disebuah kursi kosong yang berada disamping sutradara. Naruto tersenyum, mata safirnya melihat Hinata sejenak. Kedua mata dua sejoli saling bertemu. Melihat Naruto dihadapannya, seperti ada kupu-kupu terbang diperut Hinata.

Hati Naruto bahagia luar biasa, strategi keduanya berhasil. Tinggal melaksanakan strategi ketiga sekaligus strategi akhir untuk mengagaalkan adegan ciuman Toneri dengan gadis pujaannya. Naruto melihat acting mereka berdua. Awal adegan masih terlihat biasa hanya sekedar pelukan dan bergandengan tangan. Walaupun begitu Naruto sudah terbakar api cemburu yang begitu luar biasa. Ia tak menyangka Hinata bisa berakting semesra itu dengan Toneri. Jika perasaan Naruto tak menentu karena cemburu berbeda dengan Hinata yang begitu kesal dan marah kepada Toneri. Hinata berpikir ingin segera mengakhiri shooting ini, jika tidak bisa seharian dia bersama Toneri. Maka dari itu Hinata berusaha acting sebagus dan senatural mungkin agar penderitaannya segera berakhir. Kalau bukan untuk melindungi bibinya, Hinata akan sudi melakukan ini.

Kali ini adalah adegan paling klimaks diantara adegan-adegan mesra yang lainnya. Adegan ciuman , lebih panasnya lagi adegan ini dilakukan dengan berbasah-basahan diair laut. Sekujur tubuh Hinata dan Toneri basah, kain yang tipis memperlihatkan tubuh seksi Toneri. Untunglah kain gaun Hinata berbahan tebal. Jadi tidak memperlihat keindahan tubuhnya. Toneri memulai aktingnya, ia menatap Hinata dengan sepenuh hati. Jari-jemarinya merengkuh kedua pipi Hinata yang basah. Perlahan dan perlahan Toneri mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Hinata. Sedikit lagi ….

"Hallo, iya Sasuke ada apa?" teriak Naruto tiba-tiba.

"Cut... cut…. ," ucap sutradara., Toneri dan Hinata menghentingkan aktingnya. Naruto menoleh ke arah sutradara, ia sedikit mengangguk sebagai tanda permintaan maaf.

"Ahh-aku sekarang sibuk diluar-terserah kau saja-aku tutup," ujar Naruto lalu menutup ponselnya. Wajah semua staff tampak tak senang, karena Hinata dan Toneri bagus sekali aktingnya. "Maaf kalian boleh melanjutkannya lagi."

Sebenarnya Sasuke tak menghubunginya. Ia hanya berpura-pura agar adegan ciuman ini gagal. Namun ia baru sadar, sampai kapan ia harus mengagalkan adegan ini. Harus berapa kali lagi. Sutradara mulai memerintahkan Hinata dan Toneri untuk melanjutkan adegan mesranya. Melihat mereka bermesraan membuat suhu tubuh Naruto meningkat drastis. Ia meminum sebotol air mineral lalu meneguknya cepat-cepay. Air yang seharusnya menuju ke arah kerongkongan malah menuju ke arah saluran pernafasan.

"Uhuk… uhuk… uhuk… uhuk…. ," Naruto tersedak. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.

"Ada apa lagi Naruto?!" tanya sutradara dengan nada tinggi.

"Maaf aku tidak sengaja. Sekali lagi maaf. Ini benar-benar tak sengaja."

"Aku mohon kau jangan berisik lagi. Jika kau terus seperti ini chemistry antara Hinata dan Toneri akan hilang. Membangun chemistry itu tak semudah yang kau kira. Ayo kita lanjutkan lagi," perintah sang sutradara.

Naruto tak bisa berkutik, ia tak ingin lagi membuat perkara dengan mereka. Semua anggota staf khususnya Toneri tampak gusar. Pemandangan mereka menakutkan terkecuali Hinata. Gadis itu merasa senang karena Naruto seperti membantu menggagalkan adegan ciuman itu. Naruto diam dan tak mau berbuat ulah lagi. Untuk ke sekian kalinya Toneri kembali melaksanakan aktingnya. Sedetik, dua detik, tiga detik, bibir Toneri semakin dekat dengan bibir gadis pujaanya. Hinata memejamkan mata bukan karena ia akan menikmati semuanya tapi ia berusaha menghindar.

"HENTIKAN!" teriak Naruto tiba-tiba.

Hinata kembali membuka matanya saat mendengar teriakan Naruto. Semua orang melihat kearahnya. Naruto tak peduli dengan tatapan membunuhnya mereka. Ia berjalan mendekati Hinata tanpa menghiraukan himbauan sang sutradara. Pria berambut pirang itu dengan gagah menarik tangan kanan Hinata dan membawanya pergi.

"Naruto, apa yang kau lakukan?!" tanya sutradara.

"Maaf aku pinjam Hinata sebentar. Lebih baik Toneri-san mencari model lain saja untuk adegan seperti ini. Hinata masih polos jadi tidak cocok jika harus berakting dengan pria mesum seperti Toneri-san," ucap Naruto asal-asalan.

"Naruto apa yang kau lakukan? Lepaskan aku," ucap Hinata yang berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Naruto. Namun sayang Naruto tak menggubris ocehan Hinata. Ia membawa Hinata pergi begitu saja tanpa menghiraukan kerugian yang lain.

ooOOoo

Naruto membawa pergi Hinata tak jauh dari lokasi shooting. Disebuah hamparan bukit padang rumput yang luas yang tepat berada didepan pantai berwarna biru kehijauan. Hinata terdiam, ia kemudian keluar dari mobil tanpa sepatah katapun. Tak peduli dengan tubuh Hinata yang basah kuyup, ia tetap membawa gadis itu pergi. Mata lavendernya memandang pilu hamparan laut yang luas. Hinata merasakan Naruto berjalan mendekatinya.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya Hinata menahan emosinya.

"Aku hanya mengikuti kata hatiku. Aku tak suka melihat Toneri menciummu walaupun itu hanya acting," jawab Naruto singkat.

"Kata hati apa? kenapa kau tak suka, kau ingin mempermainkanku lagi?" tanya Hinata dengan nada tak bersahabat.

"Mempermainkanmu? Apa maksudmu Hinata," tanya Naruto bingung.

"Kau masih tak sadar juga. Aku bingung, kenapa kau menciumku begitu mesra sebelum kau kembali ke Tokyo? Aku juga tak mengerti kenapa kau memberikan kalung padaku?" tanya Hinata sambil menahan amarahnya.

"Apa kau tak mengerti maksud dari ciuman itu? apa kau juga tak bisa merasakannya ketika aku tak suka melihat Toneri menciummu. Apa kau benar-benar tak mengerti?"

"Aku sempat berpikir bahwa kau mencintaiku. Tapi setibanya aku di Tokyo dan tanpa sengaja aku bertemu denganmu. Kau menjalin hubungan dengan Haku. Iya kalian memang pasangan serasi, sama-sama terpandang, kaya dan terkenal. Haku adalah pujaan para pria dan kau pujaan para gadis Jepang. Ini benar-benar luar biasa," ucap Hinata panjang lebar.

"Hinata, aku tak pernah aku tak pernah mencintai Haku!" teriak Naruto sedikit frustasi.

"Lalu siapa perempuan yang kau cintai itu?! apa kau tahu bagaimana sakitnya hatiku melihat kalian berdua bergandengan tangan dan bercanda bersama. Apa kau tahu itu? kau mencintai Haku bukan aku," teriak Hinata balik pada Naruto sambil menangis.

"Aku mencintaimu Hinata. Aku benar-benar mencintaimu!" teriakan Naruto semakin tak terkontrol. "Baik aku akan jujur padamu kenapa aku harus seperti itu dengan Haku. Aku hanya ingin melindungi FoxNine dan juga diriku sendiri. Haku terlalu terobsesi padaku, sehingga ia akan melakukan apapun demi mendapatkan aku. Aku terjebak dalam posisi yang sulit. Jika aku menolaknya dia akan menghancurkan kami," jelas Naruto.

"Itu hanya alasanmu saja, kau tidak pernah …. ."

Cup

Untuk kedua kalinya Naruto mencium mesra bibir tipis Hinata yang merah merekah. Awalnya Hinata memberontak, namun Naruto terus memaksa untuk menciumnya. Tenaga Naruto sangat kuat, sampai akhirnya ia menyerah dan membiarkan Naruto mengecup bibirnya. Perlahan Hinata memejamkan matanya, ia mulai menikmati ciuman panas Naruto. Pria ini membuat kedua pipi dan tubuhnya memanas. Keduanya terlarut dalam sebuah ikatan gairah yang begitu kuat.

Ciuman panas Naruto dibibir Hinata perlahan berpindah ke leher jenjang Hinata yang putih. Entah setan apa yang merasuki mereka berdua sehingga lupa dimana mereka sebenarnya. Hinata meremas rambut pirang Naruto, bahkan sebuah desahan lembut keluar dari bibir Hinata.

"Na… Naruto… kun … Hen… ti…kan..ahh," desah Hinata. Sayang, Naruto tak menggubris peringatan dari Hinata. Dering ponsel tiba-tiba terdengar disaku jaket Naruto. Suara ponsel ini menyadarkan Naruto dari nafsu liar yang mencengkramnya. Tertulis nama Sasuke dilayar, Naruto tak mengangkat ponselnya. Ia menutupnya begitu saja. Untung saja Sasuke menghentikan tingkah konyolnya jika tidak, Hinata dan dirinya akan berakhir dalam suatu perasaan yang tak bisa mereka bendung lagi. Hah memang rasanya tak enak sekali setelah tegangan tinggi tiba-tiba lampu mati. Tapi lebih baik seperti itu daripada nanti ia dan Hinata mengalami konsleting.

"Hi… Hinata, maafkan perbuatanku tadi. Aku tak sadar kalau aku… ," ucap Naruto terbata-bata dengan rambut yang acak-acakan.

"Ti.. tidak apa-apa Naruto," jawab Hinata dengan wajah memerah.

"Sekali lagi aku minta maaf. Apa kau percaya jika aku mencintaimu. Hinata mulai sekarang dan selamanya kau adalah kekasihku yang sebenarnya. Jangan pedulikan Haku. Aku akan mengurusnya, jadi jangan khawatir. Aku dan yang lain sudah mencari strategi untuk menghapus jejak yang Haku miliki," ujar Naruto. Hinata mengangguk bahagia. "Ayo kita pulang, aku ingin tahu dimana tempat tinggalmu."

"Iya aku mengerti," ucap Hinata.

"Apa besok kau ada waktu? Aku ingin pergi nonton film. Aku ingin kita berkencan seperti anak muda pada umumnya."

TO BE CONTINUE

Huaaa minna gomen jika dichapter ini ada adegan hot antara Hinata dan Naruto. #EfekMalamHari wkaka :v