De Bloemetje

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Kise Ryouta/Momoi Satsuki. Genre: Romance. Rating: K+.

(Kise sedang dalam perjalanan untuk berlibur, dan dia duduk di samping seorang perempuan cuek. Tetapi liburan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan.)


"Satsuki!"

"Sa-chan!"

Momoi membuka matanya dengan cepat. Seolah baru dikejutkan. Pandangannya langsung liar bergerak-gerak ke kanan dan kiri, ke atas, dan hidungnya bisa dengan cepat membaui aroma yang memenuhi ruangan. Sekali tebak, dia bisa tahu dia sedang berada di mana.

Dia merasa tubuhnya tidak sakit, dan segera bangkit duduk seperti didesak oleh rasa terburu-buru yang sembrono. "Liburannya bagaimana?"

Ayah ibunya ada di kedua sisi tempat tidur, dan mereka berdua sama-sama melongo. Mungkin mereka mulai mendeteksi kemungkinan bahwa anaknya dirasuki hantu.

"Sayang, liburanmu batal."

"—Ah, ya, begitu. Maaf, aku terbawa mimpi ... kenapa aku bisa ada di rumah sakit?"

Begitu dia sadar sepenuhnya—tidak lagi masih dalam pengaruh kantuk jangka panjang, barulah Momoi menyadari kenyataan.

"Kau jadi korban kecelakaan, Satsuki."

Kakinya digips. Dia baru memperhatikannya detik ini. Dia pun melepaskan embusan napas berat. Dia mencoba mengingat-ingat, memang agak sukar, tapi dia masih bisa menyaksikan beberapa rangkaian kejadian yang agak kabur di dalam kepalanya sendiri. Perlahan, dia mampu menjemput kembali memori yang sempat hibernasi, dan melihat mereka dengan lebih jelas. Bus, siang hari, terjepit, dan ledakan.

"Kakiku kenapa ...?"

"Katanya ada bagian yang retak dan patah karena terjepit. Kau beruntung, bus yang kau naiki meledak tak lama setelah kecelakaan."

"Siapa yang menyelamatkanku?"

"Laki-laki yang barusan pulang mengunjungimu mengakui bahwa dialah yang menggendongmu keluar dari bus sebelum ledakan terjadi."

Momoi tersanjung. Pipinya panas. Bayangan akan cerita-cerita manis seperti kisah pangeran berbaju zirah yang menyelamatkan seorang tuan putri, atau ksatria pemberani yang membawa seorang gadis jelata keluar dari sebuah bencana—mulai terpikirkan olehnya. Jangan-jangan dia diberkahi kisah cinta berupa pertemuan tak terduga dengan seorang pangerannya melalui kecelakaan yang sesungguhnya mematahkan kakinya itu?

Momoi merasa bahwa dia harus segera mengetahui jati diri si pangeran. Um, mungkin setelah kakinya sembuh.

Tapi tunggu, tunggu—bagaimana kalau ternyata laki-laki itu adalah orang tua? Oh, tidak. Momoi segera menghapus semua harapannya. Dia sudah besar, dia sudah kuliah, dia sudah bukan lagi anak SMP yang lugu dan berharap soal cinta dari keberuntungan belaka. Dia bukan lagi seorang gadis kecil yang cuma bisa naif dan terlalu terpengaruh pada kisah di komik atau dongeng putri kerajaan yang manisnya kelewatan.

"Kau melamunkan apa?"

"—Eh, tidaaak, tidak. Hehe."

"Orang yang mengaku menyelamatkanmu itu ... sebentar. Ibu agak lupa namanya. Tapi rasanya ibu sering melihatnya di acara TV."

Acara TV? Semoga bukan acara berita kriminal—celetuk Momoi dalam hati.

"Dia bintang iklan," ibunya menjentikkan jari, nampaknya baru mengingat sesuatu. "Model juga! Rambutnya pirang. Namanya ... namanya ..."

"Ryoushi?" ayahnya menyambung. "Oh, sepertinya bukan. Bukan itu. Ryouka—"

"Kise Ryouta?" sahut Momoi asal-asalan. Hanya nama itu yang ada di kepalanya, yang langsung diingat otaknya, karena dia cukup mengenal orang itu. Banyak orang sering membicarakannya di kampus, seringkali mau tak mau terdengar olehnya.

"Nah, itu dia!"

"... Apa?"

"Iya, Kise Ryouta. Dia yang menyelamatkanmu."

Rahang Momoi hampir jatuh.

"Dia mengunjungimu satu jam tadi. Katanya dia duduk di sampingmu waktu di bus. Dia ingin memastikan keadaanmu—katanya sih dia tidak dirawat karena dia cuma terluka sedikit. Salam untukmu, dia bilang."

Momoi masih diam.

"Kau harus berterima kasih padanya. Nanti kalau sembuh, datanglah padanya dan bicara baik-baik, ucapkan terima kasih karena kalau tanpa dia, entah bagaimana nasibmu sekarang."

Oh, berterimakasih?

Momoi semakin bungkam ketika merenungi arti kata-kata itu.

Bukan, bukan dia tak suka diselamatkan oleh seseorang yang luar biasa—apalagi orang itu ternyata adalah seorang artis—tetapi, dia memikirkan hal antara semua laki-laki yang ingin dia kenali lebih dekat, dijadikan kawan akrab (ehm, mungkin pacar juga), seorang idola, model, penyanyi, superstar, adalah kualifikasi yang paling dia jauhi. Dia kurang suka lelaki yang menjadi artis bukan karena apa-apa; hanya saja laki-laki seperti itu susah dijangkau. Hidupnya bebas. Susah diajak kompromi karena kegiatan yang banyak pasti mempengaruhi keadaan mood-nya dalam berteman. Kalau dijadikan pacar, susah menjaganya. Kalau dijadikan teman, susah dipercaya karena dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Dia sebisa mungkin menghindari laki-laki yang menjadi model—bahkan yang satu jurusan kuliah sekalipun.

Tapi, masalahnya, kali ini dia berhutang pada seorang artis.

Dan mau tak mau harus membayarnya.

Wow. Bahkan dia sendiri tidak meminta penolong berupa seorang artis. Dia mulai berpikir akan hal-hal yang merepotkan.

"Sa-chan, kau masih sadar?"

Momoi menganggukkan kepala. "Hm, yeah. Aku baik-baik saja. Aku akan menemuinya ... nanti. Apa dia meninggalkan nomor telepon?"

"... Sayangnya tidak. Ibu dan ayah juga lupa menanyakannya. Dia datang sebentar saja dan sembunyi-sembunyi, Sa-chan."

Momoi mulai membayangkan sebuah petualangan merepotkan untuk mengejar seorang artis demi sepasang kata yang berbunyi "terima kasih". Kedengarannya merepotkan. Atau hanya ketakutannya saja yang berlebihan?

"Mau makan apel? Akan Ibu potongkan untukmu," ibunya bangkit dari kursi. Momoi memutuskan untuk melupakan hal-hal merepotkan yang belum tentu terjadi itu karena rasa lapar mulai mengusiknya. Berapa lama dia tidur, dia juga tidak tahu. Mungkin hal itulah yang membuat rasa laparnya menggila.

Siapa tahu, dia beruntung, 'kan? Laki-laki itu akan datang lagi esok hari jadi dia tak perlu repot-repot mencari—dan urusan bisa segera selesai semudah membalikkan telapak tangan.

Semoga saja.


Tidak, ternyata. Bahkan untuk hari berikutnya, setelahnya, sehabis itu, hari lainnya lagi, dan yang setelahnya lagi. Momoi akhirnya menyerahkan harapannya pada logika. Ketika teman-temannya datang pun, dia memutuskan untuk tidak lagi menjadikannya rahasia antara dia dan orangtuanya. Dia menyembunyikannya dari kawan-kawannya yang berkunjung beberapa hari belakangan hanya karena malas ditanyai macam-macam atau malah salah-salah, dia akan jadi sasaran kedengkian para kawan palsu yang berharap keberuntungannya bisa jatuh ke mereka. Tapi sekarang, dia rasa dia butuh beberapa dari mereka untuk membantunya.

Ya, membantunya melunasi utang agar dia bisa melepas diri dari urusan dengan orang itu.

"Apa? Kise? Kise Ryouta yang itu? Kise-kun yang itu?"

"Sssh, jangan keras-keras."

"Ternyata jatah keberuntunganmu dihabiskan di situ. Biasanya kau adalah orang yang jarang dapat hoki. Ternyata ..."

"Bagiku itu bukan keberuntungan," Momoi menggeleng sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Pelan. Hanya mencoba melemaskan. Dia sebenarnya sudah merasa cukup sembuh, tapi dokter dan orangtuanya masih melarang dia berdili lama-lama atau berjalan agak jauh meski dia sudah terbiasa memakai tongkat.

"Bagi orang lain, itu termasuk hoki. Bahkan untukku—walau aku bukan fansnya, kurasa aku akan merasa cukup bahagia kalau ditolong olehnya. Uh, apalagi digendong dengan cara bridal style begitu ... mungkin aku akan langsung berubah jadi fansnya."

"Kourin-chan, tolong jangan diulangi lagi."

"Kau tidak berminat jadi fansnya?"

"Kurasa tidak. Apa kalau kau berada di posisiku, kau akan melakukan hal yang sama dengan Kourin, hn, Arina?"

Arina menggeraikan rambut hitam panjangnya yang terikat tinggi di puncak kepala, kemudian kembali mengikatnya di bawah. Dia pun duduk di samping Kourin sambil menopangkan dagu, memandang Momoi masih dengan tatapan yang datar. "Mungkin aku jadi akan lebih bersimpati padanya. Dan sedikit lebih peduli."

"... Kenapa kalian berdua sama?" Momoi memijit keningnya.

"Ayolah, harusnya kau bersyukur karena telah ditolong oleh orang seperti dia," Kourin bersuara, sampai memainkan tangannya di udara untuk meyakinkan Momoi—sekaligus menggambarkan betapa gemasnya dia pada sikap kawannya yang begitu masa bodoh dengan keberuntungan yang baru saja dikaruniakan padanya.

"Iya, aku bersyukur, tapi ... coba pikir, jadinya aku harus berhutang padanya dan membayar itu padanya. Aku malas berurusan dengan artis. Aku tidak mau repot. Bagaimana kalau misalnya aku jadi punya antifans kalau orang-orang tahu aku berurusan dengannya? Bagaimana kalau ternyata dia menunjukkan sifat aslinya yang aneh padaku dan membuatku jadi bawahannya karena dia sudah menyelamatkanku? Bagaimana kalau—"

"Hello, golongan darah A, kau mencemaskan seribu satu hal yang bahkan di luar dugaanku. Ya, tidak, Arina?"

Arina hanya mengangguk, namun cukup membuat Momoi terpuruk karena tidak ada yang berpihak padanya.

"Ya, aku tahu bahwa itulah yang akan dikatakan seorang golongan darah O," Momoi melirik ke arah Arina setelah menanggapi ucapan Kourin barusan. Dia lihat Arina mengangguk ke arah Kourin, dan dia pun mengembuskan napas kecewa, "Dan si golongan B. Arina-chan, akuilah bahwa kau juga ingin membuatku mengakui kata-kata Kourin -chan."

"Seharusnya memang begitu."

Kourin tertawa lepas menyambut kemenangannya. Momoi mememberengut sebal. Arina sampai harus menutup mulut Kourin agar dia tidak membuat suasana rumah sakit menjadi horor mendadak di pagi hari.

"Yah, tidak usah memikirkan hal yang merepotkan. Tinggal cari jadwal Kise-kun, lalu temui dia di jadwal itu, akuilah bahwa kau adalah orang yang dia selamatkan tempo hari, urusan selesai. Langsung pulang setelahnya. Bicaranya yang singkat saja, tapi bawa hadiah sebagai tanda. Apa yang merepotkan kalau begitu?"

"Banyak—"

"Abaikan dulu dominansi alel A pada darahmu dan pakailah sifat dari alel O yang masih tersisa di dalam genmu. Santai. Cuek. Jalani dengan enteng. Datang, bicara, pergi, apa yang sukar dari menemui seorang Kise Ryouta? Kadang, di situs resmi dari agensinya, juga dicantumkan nomor telepon manajernya supaya kita bisa mengatur jadwal pertemuan dengan si artis."

Momoi menyerah lagi pada Kourin. Tidak dia percaya bahwa sahabatnya yang ribut dan suka mengacaukan suasana dengan suara kerasnya, ternyata bisa membuatnya takluk dengan sedikit kedewasaan yang diselipkan di tengah omelannya.

"Aku bawa tablet. Mungkin akan lebih mudah kalau kita mencarinya lewat sini."

"Mencari apa?" Momoi mengedipkan matanya lebih cepat saat Kourin mengeluarkan gadget tersebut dari tasnya dan lantas duduk di sisinya, di tepian ranjang.

"Apalagi? Mengecek jadwal Kise Ryouta-chan yang tersayang, dong!"

"... Aku merinding."

"Jangan bertingkah seolah kau adalah antifans," komentar Arina. "Siapa tahu dia akan jadi bagian hidupmu."

"Kau kira aku mau menjadi orang dekatnya?" Momoi menggaruk kepalanya dengan cepat. Rambutnya langsung berantakan, kusut di beberapa bagian.

"Karma itu ada," Kourin menyikut rusuk Momoi. "Nih, lihat, sudah ada. Ini situs resmi dari agensi Kise-kun. Ayo cek jadwalnya."

"Aku baru boleh keluar dari rumah sakit lusa."

"Apa kau sudah boleh jalan-jalan di hari itu?"

"Kurasa tidak," Momoi menggeleng, ada sedikit rasa putus asa terpancar dari matanya yang tiba-tiba terlihat sayu. "Mungkin seminggu setelahnya baru boleh jalan-jalan. Bukan karena akunya yang tidak sanggup. Orangtuaku pasti punya sejuta alasan untuk tidak membiarkanku bebas dulu sampai aku dilihat mereka benar-benar sembuh."

"Oke, kalau begitu kita lihat jadwal Kise-kun mulai minggu depan," Kourin memilih opsi jadwal yang diperlihatkan secara publik di salah satu bagian halaman. Arina bergabung dengan mereka. Dan disenggolnya Momoi ketika dia mendapati sahabatnya itu agak lama memandangi potret Kise dengan pakaian kasual dan topi fedora di header halaman.

"Hah?"

Momoi dan Arina lekas-lekas menunduk mendekati layar karena Kourin kelihatannya kaget akan sesuatu. "Kenapa?"

"Tabel jadwalnya kosong," Kourin menggeser sampai ke bawah, tapi dia telah sampai pada dasar halaman dan tidak ada lagi yang bisa ditampilkan. "Kenapa ini? Biasanya ada. Adik sepupuku sering membuka laman artis-artis yang ada di agensi sini, tapi biasanya jadwalnya selalu bisa diakses. Bahkan kadang-kadang mereka menyertakan tanggal-tanggal libur si artis biar beberapa fans bisa menemuinya di hari-hari itu. Aneh."

"Statusnya ..." Arina buka suara, menunjuk pada sisi kanan halaman yang memuat profil singkat Kise Ryouta.

"... Cuti?" Momoi membacanya keras-keras.

"Sampai waktu yang tidak ditentukan. Mungkin lebih dari seminggu," simpul Arina singkat. "Dilihat dari jadwalnya yang dikosongkan begini. Coba buka jadwal artis lain," dia menunjuk pada salah satu bagian di halaman, dan Kourin segera mengklik salah satu artis yang muncul menjadi sugesti di halaman tersebut. Tanpa aba-aba, dia buka jadwal model laki-laki yang kelihatannya sebaya dengan Kise tersebut. Arina meminta Kourin untuk melakukannya pada halaman artis yang lain.

"Rata-rata, jadwal para artis ditampilkan sampai yang dua minggu ke depan," Arina menyimpulkan. "Berarti dia cuti lebih dari dua minggu."

"Apa ini artinya berita buruk untukku?" Momoi mendelik.

"Kontak manajernya saja," Kourin segera mengembalikan tampilan ke halaman milik Kise. Diceknya hati-hati ke seluruh bagian, dan menemukannya di sudut kanan atas.

Contact Person: Manager: —

"Apa maksudnya ini?" dia mengomel sendiri.

"Yang lain dicantumkan. Cuma milik Kise yang tidak ada," Arina membuat dua kawannya heran. Mereka berdua memandangi si pendiam dengan mulut hampir terbuka. Dia menanggapi. "Apa? Aku sempat memperhatikan halaman yang lain tadi."

"Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk mencarinya. Ya sudah, aku akan mampir ke microblog punya Kise-kun dan mengucapkan terima kasih lewat sana. Di situ dicantumkan alamatnya, 'kan? Dan oh—biasanya di situs resmi agensi itu disediakan fanboard, ya 'kan? Aku pernah dengan dari sepupuku. Tulis di sana saja—"

"Itukah balasan yang pantas untuk seseorang yang sudah menghindarkanmu dari gegar otak karena tertimpa reruntuhan bus yang meledak?" Kourin menghardik tanpa basa-basi.

"Aaa, baiklah, baiklah ..." Momoi menyerah dan napasnya lepas dengan berat dengan suara yang dibuat-buat. "Nanti kucari caranya. Biarkan aku sembuh dulu."

"Oh!" mood Kourin langsung berubah. "Hei, saudaraku ada yang menjadi penggemar berat Kise-kun. Kurasa dia tahu alamat rumah Kise-kun yang sebenarnya," Kourin langsung menutup jendela halaman yang tadi mereka jelajahi, langsung meluncur ke menu kontak.

"Eh—hei, kau gila? Aku harus datang ke rumahnya?"

"Aa, halo, Ri-chan? Kau tahu alamat rumah Kise Ryouta? Temanku ada keperluan dengannya."

Terlambat sudah. Momoi menutup wajahnya.


Kalau tadi malam Kourin tidak meneleponnya sambil berteriak-teriak mendesak, mungkin hari ini Momoi takkan berada di sini. Dan kalau Kourin juga tidak menyertakan ancaman bahwa dia tidak akan mau menemani Momoi berbelanja rutin untuk keperluan klub sepakbola kampus yang Momoi bawahi, mungkin Momoi juga tak akan bersedia bertindak seperti penguntit begini.

Ya. Dia datang ke komplek perumahan Kise. Setelah dia diperbolehkan untuk berjalan-jalan dengan bebas, sekian hari setelah gipsnya dibuka.

Di balik tembok besar dia mengintip. Rumah Kise memang tak sebesar hunian-hunian yang lain yang terdapat di sekitar sana, tapi cukup bagus dan mewah untuk ditinggali sendiri—menurut gosip, memang begitu adanya. Kise sudah bisa membeli rumah sendiri dan tinggal terpisah dari orangtua serta kakak-kakaknya.

Momoi memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan sekarang. Tidak mungkin dia berdiri di sini setengah hari untuk menunggu Kise menampakkan diri, bukan? Aksi apa yang harus dilakukan? Maju menekan bel? Oh, nyali Momoi belum sampai di situ. Um, nyali apa rasa gengsi? Entahlah—Momoi merasa batas antara dua definisi istilah itu mengabur dalam dunianya sekarang.

Pengundang ide baginya adalah toko kecil di samping rumah Kise. Kecil, tapi lengkap, sepertinya. Ada dua vending machine di dekatnya. Mungkin menjadikan sekaleng minuman dingin sebagai alasan untuk menanyai si pemilik toko adalah gagasan yang tidak buruk.

Satu kaleng cola berwarna biru diambilnya. Beruntung, si pemilik toko di samping dia berdiri itu sedang duduk di kursi santai di depan tokonya.

"Um, maaf, Bibi, apa rumah ini milik Kise Ryouta—model terkenal itu?"

"Iya, benar," satu senyuman diberikan gratis. "Kau penggemarnya? Ah, Kise-kun sedang cuti belakangan ini. Dia jarang keluar rumah. Kalaupun keluar, biasanya menyamar."

"... Apa Bibi tahu hal itu karena apa?"

"Aku juga tidak tahu," wanita itu mengangkat bahu, indikasi ketidaktahuan. "Mungkin dia cuma kelelahan dan ingin istirahat? Dia tidak pernah cerita padaku."

"Dia sering belanja di sini?"

Dengan bangga si bibi menyatakan, "Dia termasuk langgananku yang paling setia," dia terkekeh sebentar. "Dia anak baik yang seringkali mencoba memasak sendiri dengan membeli daging dan ikan mentah dan sayur segar, tapi satu jam kemudian dia akan datang untuk membeli ramen instan, hahaha."

"Dia sering memasak?"

"Sepertinya begitu. Belakangan ini dia makin sering belanja ke sini pagi-pagi, sebelum orang-orang ramai. Biasanya manajernya datang pagi hari dan membawa makanan, tapi itu tidak terjadi lagi belakangan ini."

"Manajernya perempuan atau laki-laki?"

Momoi merasa ingin menelan kata-katanya lagi. Tunggu, kenapa dia jadi peduli begini?

"Oh—abaikan saja pertanyaan barusan—"

Lagi-lagi, si bibi tersenyum menahan geli, "Ah, penggemar memang biasa begitu, jangan malu-malu."

"Aku bukan penggemarnya—"

"Manajernya laki-laki, kok. Katanya sih sepupu dua kali dari sisi ibunya."

Momoi mengabaikannya, karena sudah terlanjur dongkol disangka penggemar. Tapi dia simpan semua, dia coba menahan naaps untuk menghilangkan kesal, dan tersenyum sebagai topeng seolah dia baik-baik saja. "Mm, begitu, ya. Aa, Bi, aku mau keripik kentang itu. Dua, ya," dia mengalihkan pembicaraan dengan membeli barang lain. Sekadar alat bantu penyamaran aksinya yang sebenarnya: mengintai.

Adalah dering ponsel yang mengusik dia yang telah siap-siap untuk kembali ke tempat persembunyian untuk menanti munculnya batang hidung Kise Ryouta.

"Apa?"

"Sepupuku tahu di mana tempat Kise Ryouta biasa menghabiskan waktunya di akhir minggu!"

Momoi harus menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Dia kemungkinan sedang berada di tempat itu dalam waktu sekitar ... satu jam lagi. Oh, sebentar, sebentar, ada telepon dari sepupuku di tab. Tunggu dulu, jangan ditutup, kemungkinan ada info penting, nih."

Momoi menanti. Suara Kourin terdengar sedikit, masih cukup memekakkan telinga, tetapi Momoi masih belum dapat menangkap apa isi pembicaraan di sana. Dia menanti dengan tidak sabar. Dua-tiga kali soda yang dia beli disesapnya dengan cepat dalam waktu singkat sebab dia kehabisan cara untuk menenangkan dirinya.

"Satsuki! Berita bagus! Sepupuku sedang berada di daerah dekat Akihabara, di sana ada satu cake shop yang katanya bercat ungu, Kise sedang berada di sana sekarang dan dia sedang terjebak karena para penggemarnya sedang berada di sana. Cepat ke sana sebelum dia pergi! Ini kesempatanmu!"

"Apa? Aku harus ikut berdesakan dengan para fans yang brutal itu? Aku sedang ada di depan rumahnya sekarang! Untuk apa aku ikut merubung seperti orang bodoh begitu?"

"Memangnya kautahu bahwa dia akan segera ke rumah setelah itu? Lebih baik kau menyusul begitu tahu dia di mana ketimbang menunggu hal yang tidak pasti seperti orang bodoh begitu!"

"Kourin-chan—"

"Selamat berjuang!"

Momoi mendesis kesal. Kekesalan yang bercampur dengan kecewa. Dia mengantongi ponselnya kembali dengan menahan dongkol yang menyesakkan tenggorokannya. Dia menoleh sebentar ke arah rumah Kise di balik pundaknya, berpikir sesaat. Sesaat berganti status menjadi 'lama'. Dia terlihat seperti melamun. Akhirnya dia tiba pada suatu keputusan.

Kalau dia pergi ke tempat yang dimaksud Kourin, maka akan mempersingkat waktu untuk menemui Kise, dan semua akan lebih cepat selesai pula.

Momoi meninggalkan komplek yang sepi itu, dan seorang bibi yang terkekeh sambil menggeleng setelah memperhatikan dirinya lama-lama.


Dari luar, kafe itu memang terlihat wajar.

Begitu melangkah ke dalamnya, Momoi langsung ingin keluar. Tapi sayang, dia sudah terjebak di tengah-tengah keriuhan para fans yang menggelegar.

Mereka semua merubung di meja konter. Momoi hanya mampu melihat sekilas bahwa ada helai-helai warna kuning di sela-sela para wanita seusia dirinya (sepertinya lebih banyak yang lebih muda, usia sekolah). Pemandangan itu timbul-tenggelam karena banyak sekali orang yang berkumpul di sekelilingnya, bergantian mengambil posisi terdekat dengannya, dan melancarkan suara-suara histeris di dekat telinganya.

Berada di tengah-tengah suasana seperti ini ada di prioritas bawah di bucket list Momoi tentang apa-apa saja yang ingin dia lakukan di waktu luangnya. Lebih baik menangani laki-laki yang berkeringat saat bermain sepakbola, dia pikir.

Tapi, mau apalagi?

Momoi mencoba masuk ke gerombolan ribut itu.

"Permisi, permisi—"

Dia terbawa arus ke kiri.

"Permisi, aku mau lewat—"

Seseorang menyikutnya dan dia tergeser ke belakang lagi, agak ke kanan dari posisi sebelumnya.

"Aku mau ke depan—"

"Tunggu giliranmu!"

Momoi dipaksa mundur.

"Permis—"

"Kami juga ingin bertemu Kise-kun! Kami daatng lebih dulu!"

Momoi meringis.

Dia mencari-cari alasan, "Aku mau pesan—aduh!" kakinya diinjak. Kaki kanan pula, kaki yang sebelumnya cedera, memaksanya benar-benar mundur kali ini. Tapi, kata menyerah masih ditolaknya. Dia menunggu di atas salah satu kursi yang mejanya pun masih berantakan. Masih tersisa beberapa piring dan kertas-kertas burger yang kumal. Remah-remah kentang goreng Prancis pun masih ada. Memandangnya, Momoi merasa lapar. Dia baru ingat bahwa dia meninggalkan plastik berisi keripik kentang yang dia beli tadi di bangku kereta. Oh Tuhan, rezekinya melayang cuma gara-gara hal ini?

"Maaf, maaf, aku harus pulang!"

Momoi tersentak dari lamunannya ketika keramaian itu bergera dan tambah ribut. Kise telah beranjak dari tempatnya terjebak namun kerumunan itu masih mengelilinginya seolah Kise adalah ratu lebah.

"Tunggu!" Momoi mencoba bangkit. Kakinya nyeri, sebenarnya. Dia berjalan dengan perlahan dan tertatih-tatih—ups, seseorang memepetnya. Seorang lagi. Seorang lagi. Banyak orang lagi. Semuanya menyingkirkannya dan membuat dia harus melipir ke tepian jika tidak ingin kakinya terlindas lagi.

Selamat, dia tertinggal jauh. Kise sudah pergi. Beberapa orang dari kumpulan lebah pekerja itu tidak bertanggung jawab terhadapnya, terhadap kakinya yang makin berdenyut-denyut sekarang.

Lepaslah napas berat dari paru-parunya yang sesak akan rasa kesal.

"Halo, taksi?"

Momoi memutuskan untuk menunda misinya. Kakinya bahkan tidak bisa diajak kompromi untuk berjalan menuju stasiun terdekat.


Momoi hanya mempercayakan obat maag sebagai penawar rasa sakitnya di apotek rumah sakit itu. Orangtuanya sedang pergi keluar kota, jadinya dia begitu ceroboh dalam mengatur jadwal makannya. Terpaksalah, dia pergi ke apotek sana sendirian walau kakinya sedang bermasalah gara-gara kejadian kemarin.

"Iya, obat merah yang itu. Hn, iya. Plester luka yang itu juga. Lima. Dan Obat maagnya. Aku juga butuh obat batuk sirup yang itu. Dan tablet."

Momoi mendengarnya ketika dia sedang bosan menunggu kembalian dari petugas apotek yang sibuk. Dia mendelik sekadarnya. Orang ini belanja obat banyak sekali. Bahkan plastiknya sudah besar, penuh pula.

Eh, sebentar.

Momoi terkesiap, apalagi ternyata orang itu menyadari bahwa dia juga sedang diperhatikan, hingga mata mereka pun beradu.

"Kise Ryouta-kun—"

Mata cokelat yang tersembunyi di bawah topi itu juga membulat dengan waktu yang nyaris bersamaan dengan Momoi. Seperti kilat, tangannya menyambar tangan Momoi dan segera menyeretnya pergi menjauh dari meja pembelian.

"Eh, tunggu, tunggu, aku belum mengambil kembalianku!"

"Nanti kuganti," suara Kise tipis dan seperti desis. Dibawanya Momoi menjauh dari sana dengan genggaman tangan yang begitu erat, mencegah Momoi untuk berontak—namun memang gadis itu tidak benar-benar melakukannya. Dia melangkah memasuki koridor rumah sakit, berbelok ke kiri, melewati beberapa bangsal kelas II dan berbelok lagi ke kanan, ke area sayap kanan rumah sakit yang mempunyai taman kecil namun sepi. Hanya ada beberapa ruang rawat kelas I di dekatnya, dan semua pintunya tertutup.

"Haaah, akhirnya," Kise duduk di tengah-tengah bangku. Dia melepas topinya dan mengibaskan rambutnya. Momoi bisa mencium bau parfum yang asing namun khas. Kise menatapnya sambil nyengir. "Maaf menyeretmu ke sini."

Harusnya akulah yang melakukannya. Momoi pun berpikir cepat tentang apa yang harus dia lakukan. Oke, dia tidak boleh menyia-nyiakan waktu lagi. Tak salah lagi, pemuda itu menyeretnya ke sini untuk menagih sesuatu. Momoi yakin itu. ya, itu pasti. Dengan determinasi yang dipacu untuk sampai ke level tertinggi, dia pun berdiri, membungkuk dalam-dalam di depan Kise.

"Aku sangat-sangat berterima kasih, Kise-kun. Terima kasih sudah membawaku keluar dari bus itu. Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku. Maaf karena aku tidak tahu apa yang harus kubawakan sebagai hadiah balasan atas hal itu—aku hanya bisa mendoakanmu agar mendapat berkah yang luar biasa karena sudah memberikan kebaikan yang teramat besar untukku."

Agak lama tak terdengar jawaban. Momoi pun mencoba mendongak.

Kise sedang menopangkan dagu. Tersenyum. Namun ketika mereka berpandangan, tawanya lepas. Lepas dengan bebas.

"A-a, maaf kalau aku terlihat bodoh—"

"Hahahaha," Kise tergelak sambil memegangi perutnya. "Maaf, maaf. Aku hanya ... yeah, kau lucu dan polos. Menarik. Kau begitu berterima kasih seolah yang kulakukan adalah hal besar. Ayolah, santai saja. Tidak perlu berterima kasih sampai seperti itu."

"Tapi kaulah yang menyelamatkan nyawaku—"

"Salah," Kise kembali menopangkan dagunya. Tatapannya meneduh. "Aku tidak menyelamatkan nyawamu. Nyawa itu tidak bisa diselamatkan. Kalau masa berlakunya habis di dunia, diselamatkan pun percuma. Kau selamat karena usiamu masih panjang. Aku hanya menghindarkanmu dari beberapa luka serius. Tapi sepertinya—aku juga gagal. Kakimu patah dan retak, 'kan? Aku yang harusnya minta maaf."

Momoi tertegun. Lama. Tersentuh karena kalimat Kise seolah mendobrak pemahaman yang dipajang di dalam kepalanya, meruntuhkannya dan menggantinya menjadi sebuah teori baru sesuai yang dia jabarkan barusan.

"Duduklah," Kise menarik lengan Momoi dan mengembalikan tubuhnya ke bangku.

"Err—jadi, aku harus apa?"

Kise terkekeh. "Kita belum kenalan dengan resmi. Aku Kise Ryouta," dia menjabat tangan Momoi.

"Aku ... Momoi Satsuki."

Kise mengguncang tangan Momoi. "Salam kenal, dan mari menikah!"

Apa.

Ha.

"A-apa? Me-menikah? Ha—aku belum—"

Kise tergelak, kali ini benar-benar nyaring tawanya. Bahkan dia sampai membungkuk memegangi perutnya karena dia tidak bisa lagi menahan rasa geli itu dengan duduk tegak. "Hahaha, ternyata kau memang bukan fansku. aku hanya mengetes. Kalau kau seorang penggemar, pasti kau akan mengangguk cepat dan langsung mengatakan iya."

Momoi melepaskan tangan mereka, kemudian menyilangkan tangannya di depan dada. Pipinya menggembung. "Tidak semua wanita adalah penggemarmu, Kise-kun."

"Wah, sayang, aku tidak digemari oleh si wanita cantik ini."

"Hii, kau hobi menggombal? Kau mengajak soal menikah itu pada setiap penggemar yang kau temui?"

Satu kesimpulan: artis semakin tidak bisa dipercaya oleh Momoi.

"Eh, maaf, ya, yang tadi itu baru satu kali kupraktekkan. Itu pun hanya ide mendadak yang tiba-tiba terlintas karena aku ingin mengetesmu. Ah, soal menggombal—tuntutan peran. Itu hanya topeng. Aku sering melakukannya di drama yang kumainkan atau iklan yang sering kubintangi. Tapi ya ... sebenarnya aku tidak terlalu suka melakukan itu kalau aku sedang serius."

Momoi sebenarnya ingin menghardiknya sebagai pembohong, tapi sopankah kelakuan itu ditampilkan pada seseorang yang sudah membantunya? Lagipula, Kise melakukannya bukan untuk penipuan yang merugikan orang lain. Itu semua demi uang, 'kan?

"Boleh aku memanggilmu Momocchi?" Kise menengok ke wajah Momoi yang sedang kosong karena melamun.

"Ah—apa itu artinya kita sudah menjadi kenalan dekat?"

"Tentu saja. Kau boleh memanggilku sesukamu."

"... Kenapa kau mau menjadikanku temanmu?"

"Oh, apa itu tidak boleh?" Kise mengubah caranya memandang. Dia seolah mengiba, membuat Momoi melongo.

"Bukan—hanya saja ... yah, kita beda dunia."

"Aku bukan hantu, Momocchi."

"Bukan begituuuu!" Momoi mengacak rambutnya. "Duh, ternyata Kise Ryouta yang di televisi itu ... seperti ini ya aslinya?"

"Hahaha, yaaa, begitulah. Aku itu begini. Bebas. Aku senang berteman dengan siapa saja. Aku suka punya lebih banyak teman dan kenalan karena itu bisa menyehatkan," dia terkekeh. "Dan lagi ... aku sedang merindukan hubungan yang 'ideal' dengan seseorang. Sepertinya berinteraksi denganmu menyenangkan. Sebab apa? Kau bukan penggemarku. Kalau kau mau jadi temanku, itu artinya kau menerimaku apa adanya. Kau pasti mengerti kehidupanku sebagai artis."

"Penuh kepalsuan?"

"Tidak juga," Kise mengipasi diri dengan topinya. "Cuma saja ... orang-orang mendekatiku hanya karena salah satu sisi yang kupunya. Misalnya, karena aku tampan, para perempuan memujaku. Tapi begitu tahu sisi cerobohku, beberapa dari mereka pergi. Beberapa orang mendekatiku karena uang. Ketika aku mengaku tidak sedang memegang uang banyak, maka mereka akan menjauh."

Daun-daun kecil yang memiliki bunga-bunga mungil merah bergoyang, dan mata Momoi mengikuti geraknya sambil membayangkan bagaimana hidup Kise. Pasti sulit, karena tak semua orang bisa jadi teman sejati. Dia pasti butuh orang yang bisa berinteraksi dengannya secara natural.

"Tambah lagi. Kurasa ... aku butuh pertolonganmu, Momocchi."

"Hah?"

"Hahaha, bukannya aku pamrih, sih. Aku—mmm, hanya sedang memerlukan bantuan dari salah satu teman yang baik. Yang tidak bermaksud memanfaatkan ketenaran dan uangku."

Naluri untuk menolong ternyata tak perlu dipanggil. Dia datang sendiri. Secara alami. Tanpa kehendak. Bisa muncul begitu saja dan membuat seseorang setuju akan sesuatu meski sepasang manusia belum mengenal lama. Sifat putih manusia yang itu memang dititipkan secara cuma-cuma dengan sedikit misteri di baliknya. Tapi, siapa yang merasa perlu untuk menyelidik misterinya jika sifat itu sendiri bisa digunakan untuk menyenangkan hidup sesama?

"Pertolongan apa?"

"Aku butuh seorang manajer."

tbc.


A/N: terima kasih banyak buat yang sudah membaca chapter sebelumnya! o/

.

.

ah, ini shoujo sekali O(—(