De Bloemetje
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Kise Ryouta/Momoi Satsuki. Genre: Romance. Rating: K+.
(Kise sedang dalam perjalanan untuk berlibur, dan dia duduk di samping seorang perempuan cuek. Tetapi liburan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan.)
"... Tidak mau."
"Haaa? Ayolah Momocchi, mau ya, ya, ya?"
Momoi beraksi seperti patung sejenak. Napasnya berhenti di setengah jalan, bibirnya membentuk garis lurus yang rapat dan matanya sedikit merendah. Ketika suasana hening, mendadak dia terhenyak dalam jebakan batinnya sendiri. Tunggu, apa jawabannya tepat? Apa dia mengatakan hal yang akan membuatnya menjadi pendosa di hadapan malaikat penolongnya sendiri? Uh, mungkinkah dia akan segera dikirim ke neraka setelah ini?
"Kumohon Momocchi~" Kise bangkit dari bangku, berdiri di hadapannya sambil menangkupkan kedua tangan dan sedikit membungkuk.
Tapi kemudian, dia membayangkan, dia terjun ke dalam dunia yang sangat dijauhinya sejak dulu, ikut sibuk, ikut mengurusi hal-hal merepotkan, ikut terlibat dalam pergaulan yang tidak sehat, dan sederet konsekuensi lainnya ...
Momoi sedari dulu mendambakan hidup yang setidaknya mendekati sempurna menurut idealismenya sendiri. Ya, setidaknya yang menurutnya damai dan sesuai dengan rencananya. Tipikal A sekali. Tetapi kalau terpaksa membelot dari hidup saat ini yang sudah dia anggap sebagai jalannya dan membuatnya nyaman ... Momoi berpikir dua kali.
Spontan, tanpa koordinasi yang baik antara rasa empati dan egonya, Momoi menggeleng, "Tidak."
"Please?" Kise mengedipkan kedua matanya dengan cepat, tangkupan tangannya telah berada tepat di depan wajahnya.
"Aku tidak berbakat dalam hal itu—"
"—Lalu itu artinya orangtuamu berbohong kalau kau adalah manajer klub sepak bola di kampusmu?"
Momoi terkesiap, mulutnya terbuka lebar seperti ikan menagih oksigen, "Apa? Kautahu soal itu—"
"Aku sempat mengobrol tentang beberapa hal dengan orang tuamu, Nona," Kise tersenyum penuh kemenangan, seolah dia berhasil membuat Momoi skakmat satu ronde. "Jadi, tolong aku, ya?"
Momoi berdiri. Menggeleng lagi. Langkahnya meninggalkan Kise pun dimulai, dia mengabaikan tangan Kise yang menyentuh bahunya. "Maaf tapi yang kali ini, aku terpaksa harus menolak. Aku tidak bisa melakukannya karena—yah, begitulah, itu bukan duniaku. Maaf, Ki-chan," adalah kalimat terakhir yang disampaikan Momoi sebelum dia menuruti egonya untuk berjalan cepat menjauhi Kise dan memutuskan untuk tidak menoleh lagi.
Kise mengelus dagunya, mengetukkan jarinya sebentar di sana, kemudian terkekeh sambil mengipaskan topinya ke wajah.
"Ah, iya, aku paham. Oke, besok akan kubereskan. Datang satu setengah jam sebelum jam kuliah dimulai, oke? Akan kutambah materinya. Atau kalau kau mau cepat beres biar bisa berlatih pagi-pagi, datang ke rumahku malam ini juga. Hn. Tidak apa-apa, hn, iya, aku sudah di rumah. Baru selesai urusan klub tadi. Oh, begitu? Ya sudah, datang tepat waktu, ya."
Momoi menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Setelah sekian lama absen dan beristirahat serta menjadi tuan putri yang dilarang untuk ke sana-ke mari hanya karena urusan kesehatan kaki, akhirnya dia kembali seperti biasa. Menjadi mahasiswi semester tiga yang kena bombardir tugas setiap hari, manajer klub yang sering dikerjai, dan anggota organisasi yang kerap disuruh ke sana dan ke sini.
Lelah, memang benar. Tapi selama kata lelah itu didapat dari aktivitas yang masih berada di lingkup zona aman, kenapa dielakkan?
Momoi bergulung sambil memeluk gulingnya. Sambil memandangi boneka kelinci dan memainkan telinganya, Momoi menatap mata si kelinci buatan seakan sebuah film pendek terputarkan di bola hitam itu. Oh, wajah Kise yang muncul. Empat hari yang lalu dia berlaku kurang ajar pada seseorang—yah, dia menyadarinya, tapi dia juga punya hak, 'kan?
Tunggu. Penyebutan kata 'hak' dalam konteks seperti ini sepertinya kurang tepat.
Hak dan kewajiban itu setimbang. Yang manapun dulu yang dilakukan, terserah, asalkan dua-duanya ada. Boleh hak dituntut duluan tapi kewajiban jangan dibuat jadi seperti yang terabaikan. Ah, Momoi sudah mendapatkan haknya dengan pertolongan di kecelakaan tempo hari, sekarang, berdosakah dia menolak untuk menyuguhkan kemurahan hatinya sebagai kewajiban membalas kebaikan hati Kise?
Momoi membenamkan kepalanya di guling setelah melemparkan boneka kelinci tersebut. Andai ada cara lain untuk membalas itu, pastilah dia akan dengan senang hati melakukannya. Membayar pun mau dia lakukan—tapi yakinlah, Kise bukan tipe yang akan memeras uang karena Momoi yakin rekening Kise pun sudah cukup untuk membeli sebuah pulau di perairan terpencil di Afrika sana.
Dia merasa agak bersalah.
Tetapi, tunggu dulu. Kise pun menolak disebut sebagai penolong nyawa Momoi. Momoi masih ingat deret kata yang disebutkan Kise waktu itu. Dia tidak merasa melakukan hal yang benar-benar besar waktu itu. Berarti mungkin sekarang Kise tidak terlalu marah padanya, ya?
Momoi masih belum bisa bergerak dalam alur yang gelisah ketika mengusap-usap kepalanya yang terasa lengket karena dia belum mandi sama sekali setelah tiba di rumah sepuluh menit lalu. Dia menghidupkan kotak musik untuk menenangkan diri—tetapi sepertinya kerak-kerak pikiran tidak jua luruh dengan gampang hanya dengan mendengarkan melodi penenang.
Dia harus menyelesaikan ini sesegera mungkin. Dengan cara apa, tapinya? Melupakan Kise begitu saja atau bicara baik-baik, merundingkan cara lain untuk membayar kewajibannya pada Kise selain dengan menjadi manajer?
Ketika pindah tempat ke kamar mandi pun, Momoi masih memikirkannya. Bahkan saat membiarkan shower membasuh wajahnya dengan air dingin pun, dia belum merasa tenang. Kesibukan seharian memang membuatnya lupa sejenak, namun ketika terpikir kembali, semua rasa kesal pada diri sendiri, malas, membenci keadaan dan kekhawatiran menggunung hanya dalam kurun sekian kali kejap mata.
Momoi, setelah selesai mandi, lantas berencana untuk menghubungi salah satu sahabatnya.
Dia baru saja meraih ponselnya di atas lemari ketika benda itu berbunyi. Dia terlalu percaya diri, mengira bahwa itu adalah dari sahabatnya yang baru saja dia pikirkan, sehingga dia langsung mengangkatnya tanpa melihat ke layar. Momoi termasuk satu dari sekian individu penghuni bumi yang percaya akan kekuatan ikatan batin antarsahabat.
"Hei—"
"Momocchi!"
"..."
"Buka jendela kamarmu, dong."
"A-apa yang kaulakukan?" Momoi dengan cepat mengancingkan piyamanya, kadang-kadang gagal pada percobaan pertama sebab dia terlalu gemetar dan terburu-buru. "Kau sekarang sudah jadi stalker?"
"Sesekali, dong, artisnya yang jadi penguntit si penggemar."
"—Aku bukan penggemarmu!"
"Kalau bukan, bukalah jendelamu."
Momoi sebenarnya juga bosan menjadi orang ketus untuk Kise. Menjadi orang yang sedikit sarkastis juga bukan jalan hidupnya, menurutnya. Ya sudahlah, menuruti permintaan sederhana sekiranya tidak akan mengurangi hartanya dan catatan kebaikannya, mungkin.
"Ada apa?" desis Momoi melewati telepon setelah menyibakkan tirai dan melebarkan daun jendelanya. Kise di bawah melambai-lambaikan tangan. Kenapa kelihatannya seperti orang kampung—Momoi hampir tersedak salivanya sendiri ketika mencoba menekan tawa.
"Hei," tambah Momoi lagi, "Ayahku belum pulang. Kalau dia pulang dan mendapatimu di sana—"
"Justru dari ayah dan ibumulah aku dapat restu untuk berkunjung ke sini semauku. 'Kan aku tahu tahu alamatmu dari mereka," Kise seperti ingin menyaingi si bulan sabit di lazuardi sana—dengan cara tertawa sampai bibirnya terangkat setengah pipi.
Kelopak mata Momoi jatuh menutup seiring napasnya yang diembuskan keluar dari paru-paru dengan berat. Dia angkat bendera putih. Sudah sejauh apa pembicaraan Kise dan orangtuanya di rumah sakit waktu itu?
"Apa maumu?"
"Cuma mau melihatmu."
Sebenarnya tanpa ditanya pun, Momoi sudah tahu apa yang ingin disampaikan Kise lewat kode berupa senyumannya itu.
"Baiklah, akan kupikirkan lagi."
"Benar? Yang serius, lho."
"Iya. Iiiyaaa."
Kise mengangguk, Momoi jadi bertanya-tanya, apakah lelaki itu tidak kehabisan energi terus karena tersenyum tanpa henti?
"Kutunggu."
"... Iya."
"Um, Momocchi, satu hal lagi dong."
"Apa?"
"Aku mau mendengar caramu memanggilku."
"Haaa? Untuk apa? Memangnya penting? Duh, kau ini—"
"Hei, kita calon manajer dan bawahan, harusnya ada lebih banyak interaksi antara kita dan kita harus saling mengakrabkan diri. Kau jarang memanggil namaku jadi—"
"Oke, oke, Ki-chan, puas? Bisakah kau pulang sekarang? Aku baru pulang dari kampus, baru selesai urusan klub dan organisasi, jadi aku mau istirahat."
Perempuan memang makhluk yang pintar mengimplisitkan perihal. Sengaja dia katakan kesibukannya di depan Kise agar pemuda itu tahu kalau dia bukanlah pengangguran yang kurang pekerjaan. Dia sibuk, dan dia harap Kise mengerti.
Semoga saja anak itu bisa mengubah pikirannya, harapan Momoi hanya terucap dalam batin ketika dia menutup jendela lagi.
Kise melambaikan tangan pada siluet Momoi di jendela, dan dia pulang dengan langkah ringan tanpa sepintas pun niat untuk menyamarkan tawanya.
"Momoi-chan, ada minuman?"
"Oh, ada," Momoi menunjuk loker yang tak jauh darinya menggunakan pulpen merah jambunya. "Maaf bukan yang dingin. Yang ada di vending machine habis. Aku beli di kantin."
"Momoi, tahu di mana bola tambahan?"
"Di lemari warna silver di gudang, yang tasnya hitam!" teriak Momoi, tak peduli siapa dan di mana yang bertanya. Konsentrasinya dalam menyusun data grafik analisis pun mulai meretak—
"Momoi, handukku di mana?"
—dan pecahlah itu sekarang.
"Tidak tahu."
Kata siapa jadi manajer itu mudah?
"Momoi, lawan kita di pembukaan pertandingan antarprefektur nanti siapa?"
Ayolah, kata siapa gampang?
Momoi akhirnya melepaskan papan dan pulpennya. Ditaruhnya di atas tas begitu saja. Sepertinya dia memang harus turun tangan membantu seluruh persiapan latihan bergilir ini. Menganalisa harus dilakukan di saat tenang—saat di rumah, misalnya.
"Apalagi yang bisa kulakukan untuk kalian? Ada yang perlu minum lagi? Handuk? Bola tambahan?"
"Bola, satu lagi."
"Oke. Ada lagi? Katakan saja semua agar sekalian kuambil, tidak perlu bolak-balik lagi."
Tidak ada jawaban. Momoi sudah biasa. Menjadi perempuan satu-satunya di tengah para lelaki adalah suatu momen di mana seseorang harus siap menjadi kacang kecil yang terkucilkan di tengah para raksasa.
Dia mengabaikan keramaian para pemain bola itu dan langsung pergi begitu saja begitu dicueki. Dia akan menghukum mereka dengan menyuruh mereka mengambil sendiri jika ada yang kurang nanti.
"Momoi-chan!"
Momoi berhenti sambil mengepalkan tangan. Oh, kesabarannya masih belum keluar batas. Masih bisa ditolerir. Momoi belum mau menghukum mereka.
"Ya, Miyaji-kun?"
"Ada yang mencarimu di luar," dia mengelap wajahnya sambil menunjuk ke gerbang masuk lapangan bagian belakang kampus itu.
"Siapa?" sambil bertanya, dia mencari tahu dengan melongok ke arah pintu masuk. Hanya ada gerombolan orang di sana.
Tunggu. Gerombolan.
Firasat Momoi mulai mengarah pada keyakinan yang buruk.
"Kata teman-teman perempuan yang ada di sana, sih, dia itu artis."
Nah, 'kan.
"Miyaji-kun—ambilkan bola tambahan di gudang. Tahu di mana dan yang mana, 'kan? Tolong, ya, aku sedang ada keperluan yang penting dengan orang itu. Terima kasih!"
Miyaji cuma mengangkat bahu, meredamkan keheranannya sendiri akan perempuan yang selalu terburu-buru dan seperti dikejar waktu saat dihadapkan dengan yang namanya artis.
Yang Momoi temukan di depan gerbang adalah hal yang dejavu. Sama dengan yang terjadi di restoran ketika itu. Seakan menerima sinyal trauma dari otak, kakinya berdenyut sakit sebentar. Dia mundur beberapa langkah.
"Kise-kun, Kise-kun!"
"Giliranku sekarang! Kise-kun ayo tanda tangan di topiku! Kumohon!"
Momoi memijat kepalanya seraya bersandar di pagar. Kalau Kise adalah bunga, mungkin nektarnya sudah habis bertahun-tahun yang lalu karena terlampau sering dihinggapi kumbang-kumbang haus perhatian itu.
Hebat, pikirnya. Kise sampai nekat menyusulnya ke kampus. Kise tahu tentang dirinya hingga ke detil ini. Momoi curiga; jangan-jangan Kise sudah punya nomor telepon orangtuanya. Kenapa Tuhan tidak membangunkannya lebih awal saja waktu di rumah sakit itu,jadi dia sempat bertemu Kise dan membungkam mulut orangtuanya? Dan semuanya pasti tak akan jadi seperti ini!
"Kise-kuuun!"
Telinga Momoi berdenging. Dia beranjak dan memutuskan untuk menunggu di dalam saja.
Oh tunggu. Kemungkinan ini semua tidak akan ada akhirnya kalau dia menunggu saja. Kise harus dipanggil agar semua penggemar ini minggir dan urusannya bisa selesai.
"Ki-chaaaan!"
Benar saja. Semua gadis itu langsung menoleh secara serempak. Pertanyaan yang muncul di benak pasti seragam: siapa gadis ini bagi Kise sampai berani-berani memanggil dengan panggilan imut begitu?
Kepala Kise menyembul dari kerumunan, "Aa, Momocchi!"
"Haa, Kise-kun, dia siapa?"
"Kise-kun, kenapa bisa kenal dia?"
"Permisi, permisi," Kise menyibakkan kerumunan dan mencoba melangkah pelan-pelan. "Maaf, permisi, lain kali lagi, ya. Iya, maaf—dia tawananku," Kise memandang mereka semua bergiliran sambil meletakkan telunjuk di bibirnya dan mengedipkan salah satu matanya genit. "Aku ada urusan sebentar dengannya, mohon jangan diganggu dulu, ya. Aku sayang kalian!"
Momoi menyesal mengapa tadi dia tidak mengambil bola. Kalau iya, mungkin dia bisa menggunakannya sekarang untuk menghentikan kegilaan Kise yang dianggap momen dewa oleh para pengagumnya. Sasarannya? Wajah Kise, barangkali.
"Momocchi, bawa aku, tolong, bawa supaya aku bisa menghindari ini semua," Kise mendesis begitu mencapai Momoi.
Momoi menggeleng sambil mengembuskan napas. Rambutnya yang terikat pada satu bentuk ekor kuda bergoyang lucu.
"Ikut aku," kata Momoi sambil berbalik, dan mulai lari.
"Oi, Momocchi, tunggu!"
Momoi berlari masuk ke dalam stadion kampus itu. Dia mendengar derap kaki yang cukup ramai di belakang. Mungkin ada penggemar Kise yang nekat? Maka dia, sebagai orang yang cukup sering mondar-mandir di sini, merencanakan sebuah trik.
Dia keluar dari salah satu pintu stadion menuju tepi lapangan. Tepian itu dia susuri dengan cepat, kemudian naik ke deretan tempat duduk. Dia menemukan pintu di sela antara dua deret bangku penonton dan segera mendorongnya. Di dalamnya hanya ada lorong kecil dan tangga. Dituruninya tangga, lantas berbelok ke kiri. Dia kembali ke jalur lorong yang sama seperti sebelumnya, sebenarnya, hanya menggunakan trik untuk mengecoh orang-orang. Dia pastikan Kise ada di belakang.
Momoi keluar lagi dari pintu lorong stadium dan menemukan tepian lapangan, menyusurinya, dan sampailah pada pintu besar lain yang menyajikan ruangan besar yang menghadap lapangan.
Gudang. Momoi menarik tangan Kise dan langsung menutupnya serta menguncinya kembali. Momoi lantas menuju samping ruangan, membuka jendela besarnya. Sedikit, hanya sekadar membiarkan udara berganti.
"Oh, gudang, ya," Kise memandangi sekeliling.
Momoi mempersilakan Kise duduk di bangku kayu yang melintang di depan lemari. "Ha, kukira kau mau membawaku ke mana, tahunya kita cuma memutar-mutar seperti orang hilang."
"Hanya trik," Momoi mengangkat bahu. "Kalau tidak, mereka yang nekat itu akan gampang menemukan kita."
"Kau ternyata hafal stadion ini, ya."
"Titelku sebagai manajer akan sia-sia kalau tidak."
Kise mengangkat plastik yang tidak Momoi sadari ada di tangan pemuda itu sedari awal. "Nih, untukmu."
Sekaleng soda rasa strawberry menjadi salam pembuka pembicaraan mereka.
"Bagaimana, Momocchi?"
"Memangnya manajer lamamu ke mana?"
"Dia sebenarnya kenalan ibuku. Katanya, dia sepupu jauhku. Jauh lebih tua dariku. Laki-laki. Dia sering libur mengurusku. Dia sering keteteran dalam mengatur jadwal. Pada akhirnya, setelah aku menjadi salah satu korban kecelakaan itu—dia mengundurkan diri seenaknya."
Momoi menenggak dua kali, "Kenapa harus aku?"
Kise terkekeh, "Sebutlah aku jahat padamu, Momocchi. Aku penyelamatmu, dan aku ingin kau membalasnya dengan ini."
Momoi memandang lantai seakan di sanalah dia temukan ketenangan. Sudah dia duga. Tak ada manusia yang benar-benar baik di muka bumi.
"Tapi kumohon, Momocchi, mengertilah posisiku. Susah untuk menemukan orang yang benar-benar dipercaya di duniaku," Kise menghadap Momoi sambil—lagi-lagi—menangkupkan tangannya di depan wajah.
"Keluargamu yang lain? Apa kau punya kakak? Tante? Paman? Sepupu yang lain?"
"Aku punya dua kakak. Tapi yang satu sedang kuliah di Amerika dan yang satunya jadi pramugari. Aku berasal dari keluarga kecil, ayahku anak tunggal dan ibuku cuma dua bersaudara—tante dari saudara kakekku ada, tapi aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Ah, perlukah kujelaskan lebih jauh?"
Momoi menggaruk pipi, "Aku paham. Jadi ..."
"Tapi kurasa aku tidak boleh juga terlalu memaksamu, ya 'kan? Hehe. Harusnya aku tidak boleh menjadikan pertolonganku pada Momocchi sebagai senjata atau kalau tidak—kebaikanku sia-sia. Hehehe," dia menggaruk kepalanya dan tersenyum penuh rasa bersalah pada Momoi. "Kalau Momocchi ternyata tidak bisa—tidak apa-apa. Aku bisa memaklumi dan mencari orang lain ..."
Momoi menoleh, bertemulah matanya dengan pandangan Kise yang menjadi percampuran rasa harap dan bersalah, yang dipadukan dengan memelas. Dia tidak tega. Sejahat itukah dia untuk memenangkan egonya sendiri ketimbang berempati dengan kesulitan si penolong?
"Kurasa aku bisa mempertimbangkannya. Aku bersedia, asalkan ada dua hal. Satu," Momoi mengangkat telunjuknya, "Orangtuaku harus setuju. Dua, kita harus membicarakan prosedur pekerjaanku dan apa saja rencanamu ke depan. Oh, ya, tambahan. Baru ingat. Kau juga harus menemaniku datang ke perusahaan agensimu untuk membicarakan hal-hal tertentu. Aku masih asing dengan hal ini ..."
"Tentu saja!" Kise bangkit, dan berlutut di depan Momoi, menggenggam kedua tangannya, "Terima kasih, Momocchi!"
Momoi membiarkan Kise keluar lebih dahulu, menghindari timbulnya spekulasi di luar batas karena sepasang manusia itu baru keluar dari ruang tertutup yang mencurigakan. Alasan lainnya: Momoi merasa bahwa gudang ini butuh tangannya. Beberapa bagian amat berantakan!
Begitu Momoi kembali keluar untuk mengurusi klub, dia melihat Kise yang berlari menjauh dari pintu gerbang. Beberapa fans masih mengekor. Bertaruh: dia pasti baru berhasil kabur dari para peminta tanda tangan.
Momoi tahu sebentar lagi dia akan terlibat urusan kabur dan melarikan diri macam begitu. Menjadi manajernya, juga berarti siap pasang badan untuk menghalau ngerinya serangan fans, bukan?
Ah, itu pun kalau orangtuanya setuju.
Makan malam memang waktu yang paling tepat untuk membicarakan hal-hal penting. Beruntung, ayahnya tidak pulang terlambat dan ibunya juga tidak sedang terburu-buru untuk pergi meninggalkan meja makan demi tugas kantor. Momoi mengeluarkan batuk buatan untuk memecahkan atmosfer keheningan yang cuma sesekali disela benturan sumpit dan mangkuk porselen.
"Ayah, Ibu. Ada yang ingin kubicarakan. Tentang pekerjaan."
"Mm, silahkan."
"Aku ..." Momoi mencengkeram sumpitnya. Matanya melirik takut-takut pada kedua orangtuanya, ibunya di seberang dan ayahnya di sisi kirinya. Dengan satu tarikan napas sebagai pemicu api keberanian untuk menyala kembali, dia lantas mengucapkan, "Aku diminta untuk jadi manajer Kise Ryouta."
Kata-kata Momoi diserap udara, sepertinya. Suasana langsung senyap. Ayahnya memandangnya dengan kedua alis terangkat dan sumpit yang dipegang di udara. Ibunya berhenti mengunyah.
Momoi melirik ke kiri dan kanan dengan cepat. Bolehkah dia berharap akan ada lubang teleportasi di kanannya agar dia bisa kembali ke masa lalu dan terhindar dari suasana tak mengenakkan ini?
"Kau menerimanya?"
Momoi menggigit ujung bibirnya, "Belum. Aku masih ingin tahu pendapat kalian. Apakah aku boleh—"
Ibunya berdiri, kedua telapak tangannya menapak di meja dan bunyi efeknya amat keras. Momoi tersentak. Bolehkah dia lari?
"Kenapa tidak terima saja? Cepat terima dan katakan iya!"
"... Apa?!"
"Iya! Kenapa tidak? Ya Tuhan, jadi seorang manajer dari artis itu adalah cita-cita ibu dulu! Kenapa kau malah ragu mau meneruskan cita-citaku? Cepat, telepon dia—oh, kau sudah punya nomor ponselnya? Ibu punya, anak itu begitu baik hati memberikan nomor teleponnya. Sini-sini, kuberikan!"
Kalaupun rahang adalah sebuah piranti yang dapat terlepas dan dipasang kembali dengan mudah, pasti sejak awal kalimat sang ibu, rahangnya telah menghantam lantai.
"Kami mengizinkanmu. Ibumu, sebelum menikah dulu, begitu terobsesi untuk menjadi manajer dari teman perempuannya yang menjadi model sekolah. Kau harus tahu betapa senangnya dia mengekori temannya dan selalu ikut merembukkan jadwal untuk si kawan."
"Hei—jangan diumbar seenaknya begitu!"
"Ini bukan hal yang buruk," ayah Momoi menghirup kuah dari mangkuknya lalu kepalanya mendongak, "Berjuanglah, Satsuki."
"Ya, Sayang! Jadilah manajer yang baik untuknya. Pintar-pintar membagi waktu, ya! Jangan terlalu banyak ambil job untuk dia, tapi jangan juga biarkan dia terlalu santai. Dia tipe pekerja keras, jadi kurasa satu-dua pekerjaan di akhir minggu tidak apa-apa untuknya. Toh, kau juga akan mendapat komisi yang lebih banyak darinya, 'kan? Jangan kasar-kasar pada fansnya, tapi kau perlu ketegasan. Kau sudah berpengalaman jaid manajer klub sejak SMP, jadi kurasa kau tidak perlu dapat wejangan khusus dariku—"
"—Serius aku diperbolehkan? Tidak bercanda?"
Giliran ibunya yang menatap Momoi heran. "Kenapa harus bercanda?"
"Ma-maksudku ... aku sudah sibuk organisasi, klub sepak bola, kuliah, lalu ditambah ini—"
"Kau bisa mengorbankan salah satunya," ayahnya memainkan sumpit di udara, menunjuk-nunjukkannya ke arah putrinya. "Mana yang berada di prioritas terbawahmu? Mana yang kau rasa kurang nyaman untukmu? Mana yang atmosfernya membuatmu kurang betah?"
"Hn ..." Momoi mengetukkan sumpit di ujung mangkuknya, membentuk melodi yang agak kurang selaras. "Aku tidak mendapat posisi yang baik di organisasi kampus. Tapi teman-teman yang baik—aku punya di sana. Kalau di klub sepak bola, memang cukup menyenangkan, tapi menyita waktu dan kadang-kadang aku dicueki," dia mengulum bagian dalam pipinya.
"Kau bisa membicarakannya dengan Kise-kun. Yang jelas, setujui saja dia, oke? Kau akan mendapatkan uang kalau jadi manajernya. Banyak, lagi. Kau akan kenal lebih banyak orang. Kau bisa dapat lebih banyak pengalaman."
Pembicaraan ini ujung-ujungnya menjadi rute yang tidak diperhitungkan oleh Momoi. Dia menggaruk keningnya, merasa bahwa inilah jalan hidup yang harus dia tuliskan di buku jurnal kehidupannya.
tbc.
A/N: selamat tahun baru! ^^ thanks for those we share in 2014 ;)
