De Bloemetje

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Kise Ryouta/Momoi Satsuki. Genre: Romance. Rating: K+.

(Kise sedang dalam perjalanan untuk berlibur, dan dia duduk di samping seorang perempuan cuek. Tetapi liburan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan.)


Momoi terpaksa datang menemui Kise ke rumahnya karena ponsel laki-laki itu sama sekali tidak bisa dihubungi. Ya, dia paham Kise melakukan itu karena dia pasti sedang menghindari banyak hal di dalam cutinya—tapi dia akan membuat Kise membayar untuk kedatangannya kali ini. Perempuan, datang ke rumah laki-laki, halo? siapa yang perlu manajer? Siapa yang perlu siapa, sebenarnya?

"Ha, Momocchi, kau diizinkan? Oke, aku tidak salah dengar, 'kan?"

Momoi memutar matanya bosan. Kurang lantangkah suaranya barusan? Atau mungkin Kise harus dia bawa ke dokter THT pula? Kecelakaan di bus waktu itu cukup mengusik kesehatan pendengarannyakah?

"Yes! Akhirnya! Aaaah, aku tidak perlu memikirkan tentang ini lebih lama lagi! Aku tidak perlu mencari manajer baru yang merepotkan—aku tidak perlu menerima saran manajer dari agensi yang merepotkan itu," Kise menggosokkan tangannya, "Dan aku akhirnya bisa dapat uang lagi karena aku akhirnya bisa berhenti cuti~ terima kasih Momocchi!" Kise melonjak gembira dan lantas mengakhiri ceramah kelegaannya dengan memeluk Momoi.

Momoi tak menanggapi pelukan itu. Tak sempat dia bertanya-tanya dalam hatinya mengapa para penggemar jadi begitu ingin dipeluk oleh Kise seperti ini, Kise sudah melepaskan pelukannya.

"Jadi kau cuti cuma gara-gara masalah manajer? Kukira kau memang capek dan butuh istirahat."

"Yah, dua-duanya, sih," Kise yang meletakkan tangannya di masing-masing pundak Momoi pun mengangkat bahunya, "Akan kuajak kau ke kantor agensiku. Malam ini juga. Kita bereskan urusan kita, jadi lusa kau sudah bisa bekerja denganku. Yes!"

Momoi hanya bisa memijat kepalanya. Pekerjaan akan semakin bertambah. Selamat datang, kesibukan hidup. Selamat datang, fans Kise—Momoi berucap dalam hatinya—inilah manajer baru idola kalian, jangan lempari aku dengan apapun itu, baik sayuran, benda logam atau botol bekas, karena aku pun melakukannya bukan karena aku menyukai dirinya.

Bukan karena menyukainya.

Bukan, bukan itu.

Ya, sampai Kise mengundangnya masuk untuk minum teh, Momoi meyakinkan bahwa tiga kata itu melekat kuat di dalam hatinya dan terpasang besar-besar dalam pikirannya.


"Manajer biasanya diajukan oleh agensi. Itu yang biasa terjadi di agensiku, sih. Ada beberapa agensi yang menerapkan aturan yang berbeda," Kise mengemudikan mobilnya dengan pelan menembus jalan raya yang mulai gelap. Tak banyak orang yang menggunakan mobil di jalanan yang mereka lewati. Banyak yang hanya berjalan kaki atau bersepeda—dan Momoi mulai merasa berbeda dengan mereka. Dia harus benar-benar sadar diri bahwa dia sudah tak lagi bebas seperti mereka, menempuh perjalanan senja yang ramai bersama angin sepoi-sepoi dan napas orang-orang yang juga terburu-buru, serta menikmati indahnya menapaki trotoar tanpa merasa diawasi.

Perhatian Momoi berganti ke dalam mobil yang dinaikinya. Mobil ini jauh lebih mewah daripada mobil milik keluarganya. Namun Kise menerapkan pengamanan penuh pada sedan hitam ini. Ada tirai kecil di masing-masing jendela di bangku penumpang belakang. Kacanya dibuat gelap seluruhnya.

Ada banyak barang berupa sepatu dan baju yang terlipat ala kadarnya di belakang. Momoi merasa itulah PR nomor satu yang harus dia bereskan tepat di detik setelah dia menandatangani kontrak.

Akan seperti apa dunia hiburan? Dia agak menyesal mengapa dia—saking antinya—dulu menolak hasrat ingin tahu tentang dunia ini? Padahal, mungkin dia bisa mendapat referensi.

"Biasanya, agensi bahkan mengadakan training atau ... mmm, semacam bimbingan? Begitulah kurang lebihnya—untuk memastikan bahwa manajer baru siap untuk mengurusi artis. Apalagi kalau orang itu bukan berlatarbelakang pendidikan manajerial, mereka akan menambah waktu pelatihannya."

"Jadi aku harus ikut prosedur itu juga?"

"Karena aku percaya padamu, kurasa tidak," Kise tersenyum seperti bocah. "Itu akan merepotkan untukmu. Lagipula, kau sudah pengalaman. Kau sudah pernah jadi manajer. Pengalaman lebih penting daripada sekadar sertifikat bahwa kau sudah lulus sekolah bidang manajerial."

"Haaah, oke. Akan kusetujui itu. Asalkan kau jangan banyak protes kalau pekerjaanku ada yang kurang beres dan banyak cacat di awal mula prakteknya."

"Biasanya, manajerlah yang menegur artis, lho," Kise menurunkan volume lagu yang sedari awal dia putarkan, namun tak disadari Momoi. Disetelnya hingga benar-benar turun drastis, nyaris tak terdengar.

Momoi memalingkan wajah. Dia memainkan tombol pembuka kaca, namun sepertinya Kise menguncinya otomatis hingga Momoi tak bisa membukanya. Gedung-gedung tinggi mulai bermunculan, mereka keluar menuju jalan yang lebih besar. Momoi menduga, tempat yang mereka tuju telah dekat.

Benar. Kise mebelokkan mobilnya menuju sebuah basement setelah memberi isyarat pada seorang penjaga yang duduk-duduk di dekat pintu gerbang. Penjaga itu pasti telah hafal dengan mobil Kise berikut nomornya, mereka bisa mausk dengan mudah.

Momoi mulai memperhatikan eksterior bangunan yang dia datangi. Tak heran bahwa ini adalah agensi model-model besar, aktris-aktor film yang booming, serta beberapa idol grup dan bahkan seiyuu. Gedungnya amat besar dan mencolok. Nama yang disertai logo dipamerkan jelas di bagian luar, jendela-jendela kaca bersusun di sekitarnya dengan rapi. Beberapa mobil mewah sudah ada di bawah tanah.

"Kita sudah sampai. Turun, Nona."

Ketika memasukinya, Momoi merasa kerdil. Banyak artis yang dia tahu pernah muncul di baliho elektronik di daerah pusat perbelanjaan dan iklan-iklan televisi bisa ditemukan dengan mudah di sini. Beberapa dari mereka berpapasan ketika Kise berjalan dan tersenyum pada mereka. Momoi turut membalasnya, tetapi dia merasa senyumnya kaku, dia merasa seperti batu berjalan. Tidak layak berada di samping Kise.

Kise harus mengibaskan tangan di depan wajahnya atau jika tidak dia akan tertinggal. Momoi terkesiap kaget di depan lift ketika melihat lima orang gadis keluar di sana—Tuhan, mereka adalah idol yang baru naik daun belakangan ini! Momoi tahu karena tetangganya begitu sering memutar lagu-lagu mereka.

"Kenapa?" Kise hendak tertawa melihat Momoi yang sedang menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Tidak percaya kau sedang berada di mana sekarang? Hei, ayolah, tegakkan punggungmu, jangan jadi anak cupu kalau mau bertemu dengan orang yang harus kita temui setelah ini."

"Diam, cerewet. Aku sedang mencoba memperbaiki mood-ku."

"Ow. Aku sudah dihakimi bahkan sebelum aku resmi menjadi bawahannya. Aku takut," Kise berjengit, menjauh sedikit dari Momoi namun tetap tertawa.

Momoi menggembungkan pipinya, tetap mencueki Kise sampai mereka memasuki ruangan yang dimaksud Kise.

"Selamat petang."

"Selamat ... petang," Momoi meyakinkan dirinya. Dia mulai berpikir bahwa dia telah memberikan citra yang kurang pas dalam pertemuan pertama. Namun orang yang dimaksud Kise sebagai kepala divisi manajemen artis itu menanggapinya dengan senyuman yang baik. Momoi membungkuk sebentar sebagai tanda penghormatan.

"Silahkan duduk. Kise, siapa namanya? Padahal aku sudah memilah-milah daftar pelamar kerja yang datang padaku, lho. Soalnya kau selalu menunda permintaanku untuk segera mengganti manajer lamamu itu."

"Momoi Satsuki," dengan ringan Kise mengucapkan nama itu seakan sudah amat sangat familiar di lidahnya—padahal, marilah menghitung seberapa lama mereka berkenalan. "Dia kenalan yang kutemui waktu aku liburan. Dia mahasiswi. Tapi—sesuai kesepakatan yang kita buat di telepon, dia akan langsung bekerja."

"Ini kejadian yang jarang, memang, tapi bukannya tidak boleh di dalam perusahaan," dia menyingkirkan beberapa map dari atas mejanya, memasukkannya ke dalam laci besar di bawah permukaan mejanya. Momoi menebak bahwa itu adalah daftar para pelamar yang berhasil dia gugurkan hanya karena sebuah perkenalan di sebuah kecelakaan di waktu libur.

Momoi merasa takjub pada dirinya sendiri yang bisa mengalahkan bahkan sebelum bertanding. Ow, sehebat itukah dirinya? Mm, iya, hebat. Hebat pula tantangan di depan sana. Momoi jadi iri dengan kandidat yang tak lolos itu. Mereka masih bisa hidup bebas tanpa tabel-tabel jadwal dan bepergian ke banyak tempat dalam satu hari.

"Asalkan dia bisa mengurus hal yang kautinggalkan selama liburan. Ada banyak tawaran pekerjaan, dan kuharap kau tidak menolak satu pun di antara mereka karena kau sudah cukup lama absen dari duniamu. Dunia mencarimu, uang menunggumu. Aku pun melakukan ini padanya karena kau adalah salah satu artis terawet di agensi ini, Kise, yang telah bersama kami sejak kau kecil."

Momoi tahu ini sedikit berbau nepotisme.

"Baik, Momoi-san," dia menarik satu map dari tumpukan paperwork yang memenuhi sisi kanan mejanya. Dibukanya perlahan dan dikeluarkannya dua tumpuk kertas yang disatukan dengan klip yang berbeda. "Ini adalah kopi dari peraturan yang harus kau setujui dan tandatangani di kertas kontrak. Kaubisa membawanya pulang untuk dibaca. Isinya sama persis dengan yang di sini," dia menunjukkan beberapa kertas yang tampak rapi dan amat bersih, dan mengkilat. "Bacalah dulu, pertimbangkan, jangan lewatkan satu hal pun, dan kembalilah ke sini besok pagi untuk menyelesaikan semuanya."

Momoi memindai isi peraturan yang lebih dari dua lembar itu. Dia mengangguk. "Baik. Tapi tunggu sebentar. Tidak ada prosedur berupa interview?"

"Prosedur itu ada bagi para pelamar. Tapi karena kau sudah diterima, kurasa kami tidak butuh lagi uraian esai motivasi yang kauhafalkan di luar kepala. Yang kami butuhkan adalah persetujuanmu, dan penerapan kemampuanmu agar kita sama-sama diuntungkan. Terlalu lama untuk hal itu. Kise harus segera mengakhiri masa cutinya. CEO juga sudah setuju dengan hal ini."

Momoi tak mengira akan semudah ini. Padahal dia sudah menyiapkan konsep dan berpakaian rapi demi prosedur wawancara. Lucu sekali. Semulus inikah?

"Ada yang kurang jelas?"

Momoi menggeleng.

"Berarti kau dipersilahkan pulang. Kise, jangan lupa membawa dia besok pagi. Aku mengharapkan berita baik dari kalian."

Setelah berpamitan dengan mengucapkan terima kasih dengan sopan, mereka segera pulang. Momoi tidak melewatkan kesempatan untuk menyapa singkat atau sekadar tersenyum pada orang-orang yang dia temui di sepanjang perjalanan kembali menuju basement. Sembilan puluh sembilan persen dia dipastikan akan jadi bagian dari mereka, dan dia harus bersikap ramah setidaknya dari detik ini juga.

Momoi memeluk kertas yang barusan diterimanya ketika mereka menuju mobil. "Ki-chan, mereka tampaknya agak buru-buru menyuruhku, ya. Sampai mengabaikan prosedur resmi segala."

"Ya," Kise menekan tombol pengaman pada piranti yang tergabung bersama kunci mobilnya, mobil itu berbunyi dan lampunya menyala. Kise setengah berbisik, "Inilah duniaku. Uang, uang, uang. Aku didesak agar segera mengakhiri cuti agar perputaran uang mereka tidak macet."

"Tapi kau tetap berada di dunia ini."

Mereka semakin dekat ke mobil.

"Aku sudah telanjur tercebur," Kise membuka pintu mobil. "Makanya, aku butuh seorang manajer yang bisa mengendalikanku agar aku tidak keluar batas."


"Baiklah, selamat bergabung dengan kami, Momoi Satsuki," dia menarik kertas yang baru saja dibubuhi tanda tangan oleh Momoi. Dia tersenyum, gerakannya dalam menarik memang pelan tapi bahasa tubuh yang terlihat lewat matanya menunjukkan bahwa ia amat tak sabar. "Besok Kise sudah bisa bekerja. Artinya, hari ini kau harus selesai menyusun jadwal dia untuk dua minggu ke depan. Jangan khawatir soal pembagian uang honor. Pihak pengontrak mentransfer langsung ke perusahaan, dan agensi akan memotongnya sesuai kesepakatan antara Kise dan agensi—seperempat jatah Kise akan diberikan untuknya sebelum dia menjalankan tugas, sisanya setelah selesai. Waktu pemberian honormu juga sama dengan Kise, oke?"

Sebenarnya kau tidak perlu menegaskannya lagi, oceh Momoi. Dia telah membacanya di kertas kemarin.

"Ini adalah kopi dari surat-surat kontrak kerja Kise yang harus dia penuhi dalam waktu dekat. Tolong susun jadwalnya. Kalau berbenturan, prioritaskan mana yang honornya lebih besar. Tolak saja beberapa kalau tidak sesuai dengan keinginan Kise atau bertabrakan. Selamat bekerja."

Momoi mengembuskan napas panjang ketika keluar dari ruangan. Kise terkekeh melihatnya, namun dia segera menutup mulutnya karena dua orang model senior berpapasan dengannya. Dia membungkuk hormat. Momoi pun melakukan hal sama meski agak kikuk.

"Jangan lelah sebelum berjuang," Kise berkata ketika dia memastikan tidak ada seorang pun di dalam lift.

"Apa yang harus kita lakukan setelah ini?"

"Kita ke rumahku. Susun jadwalnya. Soal makanan, aku yang sediakan."

Momoi memandang indikator angka di dalam lift yang menyala bergantian, tanpa dia sadari dia menahan napasnya lama-lama.

Dan Kise mengemudikan mobil dengan cepat. Momoi tak menyadari bahwa mereka telah sampai begitu dia memejamkan mata sebentar. Mungkin Kise terlalu tidak sabar.

Momoi menumpuk kertas yang harus dia baca untuk menentukan pekerjaan Kise.

"Ki-chan, carikan aku kertas kosong!" perintahnya sebelum Kise sempat melenyapkan dirinya di dapur.

"Iya, iya, Bu Manajer."

Momoi mendelik tajam, "Peraturan pertama: aku masih mahasiswi, jangan pernah memanggilku itu, oke?" Momoi mengetukkan pulpennya ke atas meja. "Kertasnya mana?"

"Ah—iya!" Kise menghilang ke dalam kamarnya. Satu lembar kertas HVS diserahkannya kepada Momoi sebelum dia benar-benar pergi ke dapur.

Ketika Kise mengintip sedikit dari pintu dapur, sebelum mengambil beberapa makanan untuk Momoi, dia melihat Momoi tengah sibuk seakan dunia adalah miliknya sendiri. Tangannya mencorat-coret kertas dengan tangkas.

Kise tidak menyesali apapun.


"Aku sudah menemukan jadwal yang cocok untukmu," Momoi melipat tangannya di atas meja. Kertas-kertas surat berserakan. Makanan yang dibawakan Kise beberapa menit lalu sudah ada yang terbuka dan remah-remahnya ada di sana-sini.

"Ki-chan."

"Ki-chan."

Kening Momoi mengerut.

"Ki-chaaan!" dia melambaikan tangan di depan wajah Kise. Wajah Kise mengarah padanya, dengan senyum tak berubah walau sekian menit berlalu. Salah satu tangannya berada di pipinya, dan Momoi tidak mendeteksi adanya kedipan yang terjadi di mata Kise.

"Ki-chaaaan!" Momoi gemas, memainkan tangannya dengan lebih cepat lagi di depan wajah Kise. Dia memandang kesal sambil menggembungkan pipi.

"Hehehehehe," Kise tertawa jahil, dan dia menelungkupkan kepalanya di atas tangan dia atas meja. Sejurus kemudian, dia mengangkat matanya untuk memandang Momoi dari balik lipatan tangan.

"Kau kenapa?" Momoi menyipitkan mata rendah-rendah.

Tawa Kise masih bersisa. Momoi tambah kesal. Kise masih menatapnya dengan menyembunyikan separuh wajah.

"Momocchi lucu dan manis, ya."

"Kuanggap pujian itu sebagai gaji pertamaku."

Kise makin keras tertawanya. Momoi mulai berpikir untuk memukulkan vas bunga di meja ruang tamu ini ke kepala Kise.

"Sepertinya Momocchi antusias sekali dengan pekerjaan pertamanya," Kise menegakkan diri dan kemudian mengacak rambut Momoi. Dia mendekat dan menanamkan kecupan pada kening Momoi. "Ayo, lanjutkan saja."

Hah.

Apa?

Kening Momoi dikecupnya?

Momoi terkesiap, dan dia segera menutupi keningnya dengan kedua tangan seraya beringsut mundur, "Apa yang kau lakukan?!"

"Aku mencium Momocchi."

Momoi menatap horor, "Ke-keluar kau!"

"Heee? Ini rumahku," Kise mengedipkan mata, iseng.

Momoi ingin mengeluarkan kembali makanan yang barusan dia telan.

"Tenang Momocchi, aku tahu batas, kok. Aku juga tahu sopan santun."

"Apa yang tadi bisa disebut sopan?!"

"Hanya mencium—oh. Aku minta maaf. Mungkin kau tidak terbiasa, tapi percayalah, aku tidak pernah lebih dari mencium perempuan yang kukenal. Aku tidak akan melakukan hal yang di luar batas karena ... mmm, aku percaya indahnya ikatan pernikahan."

Walau masih cemberut, Momoi akhirnya maju lagi ke posisinya semula. Dia hanya menyimpulkan satu hal: Kise masih belum punya pacar. Selamat, wahai penggemar-penggemar Kise.

"Asal Momocchi tahu, aku ini laki-laki yang berbeda dari yang biasa, lho."

Pulpen Momoi yang membantu gadis itu menyilang dan mencentang hal-hal tertentu di atas kertas berhenti bergerak. Otot kening Momoi terangkat, kemudian dia menarik napasnya cepat; terkejut. "Kau homoseksual?! Atau transgender?!"

"HAH? Oi, bukan seperti itu maksudnya!"

"Oh, siapa tahu saja kau benar-benar homo. 'Kan itu artinya memegang rahasia terbesarmu, yang bisa jadi gosip luar biasa di media. Mungkin uang akan lebih banyak mengalir padamu."

Kise menggosok-gosok lengannya, bereaksi seperti orang merinding, "Terima kasih, Momocchi, aku masih normal."

Momoi menyelesaikan sentuhan terakhir pada jadwal yang dibuatnya secara kasar di atas kertas. Kise masih memandanginya tanpa dia sadari. Dan pelan-pelan—masa bodoh Kise memperhatikan atau tidak, dia menyentuh keningnya. Bekas kecupan Kise.

Cara menyembunyikan reaksi diri atas detak jantung yang tak beraturan mungkin masih bisa dilakukan. Tapi bagaimana dengan wajah yang memerah? Momoi telah siap malu di hadapan Kise. Semoga saja ronanya tidak kelihatan jelas.

Dia berdehem sesaat, menetralkan keadaan dirinya. Semoga merah di pipinya sudah terhapus. Dan, semoga pembicaraan ini mampu mengalihkan pikirannya, "Ada sebelas jadwal yang kaumiliki mulai besok sampai dua minggu ke depan. Biar kujelaskan. Dua di antaranya syuting iklan televisi, tiga adalah endorsement makanan instan—yang iklannya akan dipajang di gedung-gedung, empat di yang lain photoshoot untuk majalah, dan sisanya adalah runway. Tidak ada jadwal yang berbenturan, dan kuputuskan bahwa kau akan menerima semua job itu."

Kise memperhatikan dengan saksama ketika Momoi membalik kertas itu dan memperlihatkan tabel yang dibuat ala kadarnya.

"Ini adalah jadwalnya. Selama dua minggu, hanya ada dua hari yang punya jadwal tiga kali sehari. Dan dua hari yang punya jadwal dua pemotretan. Tapi jangan berharap banyak libur dulu, karena satu iklan televisi yang harus kau bintangi punya tiga sesi recording karena ada tiga tipe iklan yang akan mereka lempar ke media."

Kise mengangguk.

"Oh, tambahan, satu pemotretan akan diadakan di salah satu desa di dekat Gunung Fuji. Padahal, di hari sebelumnya kau punya jadwal dua kali sehari. Tetapi, serahkan semua persiapan padaku."

Ujung rambut Momoi, meskipun terikat dengan rapi di atas kepalanya, ada bagian yang tersampir ke atas meja. Kise menyentuhnya, memainkannya sambil tersenyum kecil, "Baru sebentar menanganinya, kau sudah bisa melakukannya sedetil itu. Aku terkesan."

"Aku terbiasa menyusun menu latihan anak-anak klub sepak bola. Dan menyusun jadwal pertandingan persahabatan mereka," Momoi termenung memandang kertasnya sekarang. "Kurasa aku harus mengundurkan diri dari sana. Jadwal ini mengerikan. Aku tidak bisa membagi waktu. Kalaupun bisa—mungkin tidak akan maksimal."

"Aku turut berduka."

"Ini semua karena kau," Momoi mengerucutkan bibirnya dan lagi-lagi jawaban Kise adalah tawa. "Nah, pinjam laptopmu. Aku mau menyusun jadwal ini dengan lebih rapi."

Kise berdiri dan memasuki kamar. Laptop putih yang tipis kemudian dibawanya keluar, yang langsung disambut Momoi untuk segera dibuka dan digunakan untuk menyusun.

"Oh iya, Ki-chan—habis ini temani aku belanja. Aku butuh buku khusus dan alat tulis untuk menampung semua data pekerjaanmu. Zaman sekarang memang bisa pakai smartphone atau tablet—tapi menggunakan pulpen lebih efisien. Aku lebih suka mencorat-coret jadwal di atas kertas. Kalau sudah fix, baru kuketik dan kucetak untuk kutempelkan di bukunya. Kau harus mengerti kerumitan pekerjaan seorang manajer."

"Siap. Semua bisa diatur, Nona Manajer. Mau naik mobil atau kendaraan umum?"

Momoi mengetukkan pulpennya di dagu. "Kalau memperhitungkan kemungkinan bahwa akan memakan waktu jauh lebih lama dibanding naik mobil—kita jangan naik kendaraan umum. Susah membuatmu tidak mencolok."

"Baik!"

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kise benar-benar menantikan untuk bekerja.


Pemotretan hari pertama, di hari pertama Kise bekerja lagi setelah sekian lama mengurung dirinya di rumah dan hanya makan-tidur-main game belaka, dimulai jam sembilan pagi. Momoi meneliti Kise yang sedang menyetir, setengah jam sebelum jadwal mereka sudah menempuh perjalanan.

"Selama kau cuti, aku bertaruh, pasti kau terlalu banyak makan, Ki-chan," dia memandang dari samping dengan pandangan menyelidik yang cenderung mengintimidasi. Hidungnya kembang-kempis dengan cepat. Dia mengelus dagu dengan dua jarinya. Kemudian dia mencubit lengan Kise. "Aku harus mengatur pola makanmu setelah ini."

"... Aku terlihat gendut?"

"Kelihatannya begitu," Momoi berpaling, mengambil tasnya di tempat duduk belakang, "Kelihatannya saja begitu. Apalagi waktu kau menimbangnya," dia pun mengeluarkan tablet dari ransel yang baru saja dibelikan Kise kemarin. Momoi sudah berniat untuk menggunakan tas kuliahnya saja yang serupa dengan ini, tetapi Kise menyanggahnya, yang buat kerja harus beda, kau wanita karir sungguhan sekarang.

"Iya, aku akan dieeet~"

"Aku tidak percaya dengan program diet yang kau susun sendiri."

Momoi mengetikkan sesuatu di tabletnya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Mencari referensi menu diet yang baik, tapi kau tetap makan dengan teratur. Kau model yang punya banyak pekerjaan, tidak makan adalah pilihan yang bodoh. Kau harus tetap makan, tapi dengan menu yang sehat."

"Kau akan memasakkan untukku?" Kise menoleh dengan binar antusias pada matanya.

"Aku tidak bisa memasak," Momoi mengibaskan tangannya. "Kau model. Gampang. Katering. Aku akan menyerahkan menu yang kususun setelah ini pada mereka. Alihkan biaya-biaya untuk makanan ringanmu untuk membayar katering itu. Aku akan menghentikan pesanan katering itu sampai kau mencapai berat badan ideal lagi, lalu aku akan mengawasi makanmu agar kau tidak kembali ke keadaan ini. Kau tetap boleh makan makanan cepat saji, soda, keripik, atau makanan tinggi kalori lain, tapi tidak boleh dari dua kali seminggu. Tidak dalam hari yang berturut-turut."

Kise hanya terperangah mendengarkan penjelasan Momoi yang teramat detil. Bahkan dia menurunkan kecepatan mobilnya. Dia menggeleng dan berdecak sambil melirik lagi ke arah Momoi. Dia mengangkat alisnya karena sebuah pertanyaan tiba-tiba menyeruak di benaknya, "Momocchi, kenapa tidak memakai ponselmu saja? Kau jarang menggunakan itu untuk sekadar mencari informasi sederhana."

"Ponselku mati."

"Rusak?"

"Baterai."

"Kau bisa mengecasnya di mobil."

"Aku tidak punya aksesori itu."

"Pinjam punyaku."

"Ponsel kita beda jenis, Ki-chan."

"Nanti kau harus beli ponsel baru khusus untuk pekerjaan. Lihat saja, kau butuh itu nanti. Yang sama denganku, biar kita bisa berbagi banyak hal."

"Ponselmu mahal. Aku tidak sanggup beli yang seperti itu."

"Akan kusubsidi itu."

"Hah—"

"Akan kubagi gajiku, tenang saja," Kise membelokkan mobil ke sebuah jalan yang lebih besar. Dia mengemudi dengan hati-hati, jalanan sana agak padat. Sepertinya ada syuting lain di sekitar sana.

"Kita pikirkan itu nanti," Momoi mengangkat bahu.

"Oh, iya, Momocchi. Kau bisa menyetir?"

"Sedikit-sedikit. Tapi sudah ... berapa lama ya? Mungkin setengah tahun sejak terakhir kali aku memegang setir mobil. Mungkin aku harus belajar dari awal lagi. Kenapa memangnya?"

"Kau harus buat SIM segera."

"Aku sudah punya SIM. Ayahku sudah menyuruhku habis-habisan untuk membuatnya sejak pertama kali aku bisa mengendarai mobil di jalan raya. Tapi kemampuanku menurun drastis. Ada apa, sih?" Momoi belum bisa menangkap kode dari Kise.

"Di hari luangku nanti, aku akan mengajarkanmu naik mobil lagi."

"Memangnya kenapa? Katakan, cepat."

"Biasanya, di mana-mana, manajer yang menyetir mobil untuk artisnya."

"Hei, yang laki-laki di sini siapa—"

"Yang artis siapa?" Kise mengedipkan mata dengan jahil, satu telunjuk menempel di bibirnya.

"Tidak—" Momoi ingin menyanggah, tapi dia dihinggapi rasa tidak enak yang mendadak menyerang. Kalau Kise dia biarkan menyetir terus dengan jadwalnya yang seperti ini, yang direpotkan adalah Kise sendiri. Kise yang bekerja, Kise sendiri juga yang menyetir. Dia pasti akan kelelahan. Momoi mengembuskan napas panjang. "Oke, aku akan belajar lagi," dia membuka buku kecil yang telah berada di pangkuannya sejak awal perjalanan, "Kau tidak perlu repot-repot menyisihkan waktu istirahatmu. Aku akan belajar dengan ayah lagi. Hari ini kau cuma punya satu jadwal, aku bisa pulang lebih cepat, dan ayah juga hari ini hanya bekerja setengah hari karena malam ini dia punya jadwal jamuan makan dengan relasi kerjanya."

"Tidak mau aku yang mengajarimu?"

Momoi mengetikkan beberapa kalimat dulu sementara menunda jawabannya, "Kau istirahat saja. Besok adalah hari yang padat. Tiga jadwal. Jam delapan pagi, lanjut jam dua, dan tujuh malam. Kita bisa pulang larut."

Kise tertawa, "Aku harus mengakuinya, kau ini seperti tabel jadwal berjalan. Aku kagum dengan kemampuanmu menentukan banyak hal, termasuk manajemen waktu. Sepertinya kau juga bisa menghafal dengan cepat."

"Aku bergolongan darah A. A adalah pengatur yang handal, katanya. Dan—oh, yang tadi kuanggap pujian, Ki-chan, terima kasih."

"Heeei, kita sama! Aku juga A! Tapi aku tidak bisa sehandal kau, sungguh."

"Mungkin karena ... kebiasaan? Aku sudah mencoba jadi manajer sejak SMP."

"Berarti jalan hidupmu memang untuk itu," Kise terkekeh. "Hei, kita hampir sampai. Surat kontraknya kaubawa, 'kan?"

"Semua beres."


Kalau Kise memuji Momoi dalam hal manajerisasi sewaktu di dalam mobil tadi, sekarang giliran Momoi-lah yang memuji Kise dalam hal pemotretan. Seakan, kamera itu adalah magnet untuk segala pesonanya. Begitu lensa kamera diarahkan padanya, dia bisa langsung menyesuaikan diri dan cocok dengan segala keinginan fotografer. Pesonanya langsung memancar dengan pose-posenya yang sederhana namun bisa mengundang decak.

Mau tak mau, akhirnya Momoi mengakuinya—Kise memang keren. Ini artinya hal positif, 'kan? Dia normal. Dia perempuan normal yang akhirnya mengerti bagaimana pesona seorang laki-laki. Model, pula. Akhirnya dia paham mengapa segerombolan perempuan di luar sana amat memuja Kise dan bahkan memajang posternya di kamar mereka.

Momoi hanya duduk di kursi kecil, agak jauh dari fotografer dan segala perangkat pemotretnya. Kise terlihat begitu segar dengan penampilan santainya, cocok dengan aura musim panas.

Mungkin—jika dia tidak berada di sini, dia akan sedang berpanas-panasan bersama tim sepakbola, duduk-duduk dengan kawan-kawannya, atau berlibur ke pantai dengan mereka. Oh, mungkin juga diajak ayahnya membeli gaun agar dia bisa diikutsertakan dalam acara jamuan malam ini.

Namun di sinilah dia sekarang, tenggelam di dunia gemerlap blitz kamera dan perangkap berupa jadwal ketat.

Ketika dia melamun memikirkan kira-kira apa saja yang bisa dia lakukan jika dia tidak sedang berada di sini, rupanya Kise telah selesai dengan sesi pertamanya. Dia baru sadar ketika terdengar bunyi derit kursi yang ditarik ke arahnya. Beberapa anggota tim make up mengikuti Kise yang kemudian duduk di sampingnya.

Momoi mengangsurkan botol minuman dingin yang baru dibelinya di luar untuk Kise. Para perias hanya menunggu di sekitar Kise sambil memperhatikan bagian mana yang harus dipoles ulang dari pemuda itu. Tampaknya mereka tidak sedang mengalami kesulitan dan Kise juga tak perlu polesan tambahan.

Beberapa kru pemotretan juga mereka kenal dengan Kise. Satu orang di antaranya langsung berbicara dengan akrab bersama Kise. Momoi kemudian baru ingat cerita singkat Kise di perjalanan mereka, bahwa dia sudah berkali-kali memperpanjang kontrak sebagai endorser produk ini.

"Kise-kun, membawa pacar ke sini?" godanya sambil mengulum tawa.

Kise tertawa lepas, Momoi melepaskan napas lelah. Sudah diduganya.

"Dia manajerku," Kise tersenyum, sikunya menyenggol tangan Momoi dengan sengaja. "Kenalan baru yang jadi manajer baru. Tenang, dia bisa dipercaya. Dia orang baik, bisa diandalkan."

"Wah, senang mendengar Kise-kun punya manajer baru yang menjanjikan," rekan Kise itu mengulurkan tangan, "Aku Yuka."

"Momoi. Momoi Satsuki. Salam kenal, mohon bantuannya," mencoba tersenyum manis, Momoi menjabat balik tangan si kenalan baru.

Perkenalan dipotong dengan Kise yang langsung membicarakan beberapa hal tentang perusahaan minuman isotonik yang dia iklankan ini. Momoi hanya diam mendengarkan dan sesekali menyahut jika dia paham apa yang dibicarakan dan dia memang diundang untuk berbicara dengan tatapan mereka yang terarah padanya.

"Kise! Ayo lanjut lagi!"

Kise pun berdiri, dia menoleh pada Momoi, tersenyum. "Aku lanjut lagi, ya."

Tanpa dia rasa sepenuhnya, dia tersenyum membalas tawa Kise, dan Kise pun mengacak rambut Momoi. Momoi meletakkan tangannya di atas tangan Kise, kemudian ketika tangan Kise jatuh, mereka masih menggenggam satu sama lain. Baru lepas ketika Kise sudah beranjak meninggalkannya.

Momoi mulai cinta pekerjaannya; dia sadari itu saat melihat Kise begitu serius berpose di depan kamera dan ketika jeda, mereka lagi-lagi bertukar senyuman.

tbc.